MAKALAH ebp (2)

Report
MAKALAH SEMINAR
PENGARUH TEKNIK RELAKSASI DAN TEKNIK DISTRAKSI
TERHADAP PERUBAHAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST
OPERASI DIRUANG OK RSUD KARAWANG
Disusun Oleh Kelompok 8 :
Ahmad nursugara
Deden joyo suparjo
Dian nitasari
Ratnasari dewi
PRODI STUDI NERS
STIKES KHARISMA KARAWANG
Jln. Pangkal Perjuangan Km. 1 By Pass Karawang 413116
KARAWANG 2017
i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama allah swt yang maha pengasih lagi maha panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang pengaruh TEKNIK RELAKSASI DAN TEKNIK
DISTRAKSI TERHADAP PERUBAHAN INTENSITAS NYERI PADA
PASIEN POST OPERASI DIRUANG OK RSUD KARAWANG dan manfaatnya
untuk menambah pengetahuan mahasiswa.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.
Karawang,
Oktober 2017
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ........................................................................ 2
BAB II MATERI
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
Pengertian Hernia ....................................................................... 3
Etiologi ...................................................................................... 3
Tanda dan Gejala ....................................................................... 3
Komplikasi ................................................................................ 4
Pemeriksaan Penunjang ............................................................ 4
Penatalaksanaan ........................................................................ 4
Distraksi .................................................................................... 6
Jenis Tehnik Distraksi antara .................................................... 6
Cara menggunakan Distraksi ..................................................... 8
Relaksasi .................................................................................... 9
Langkah-Langkah Teknik Relaksasi Pernafasan ....................... 12
BAB III PEMBAHASAN
A. Pembahasan............................................................................... 15
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN............................................... 20
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang
menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian
tubuh yang akan ditangani dan pada umumnya dilakukan dengan membuat
sayatan serta diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka. Sayatan atau
luka yang dihasilkan merupakan suatu trauma bagi penderita dan ini bisa
menimbulkan berbagai keluhan dan gejala. Akibat dari prosedur
pembedahan pasien akan mengalami gangguan rasa nyaman nyeri. Nyeri
sebagai suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak
menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi
kerusakan. (Perry & Potter, 2005).
Data World Health Organization (WHO) Diperkirakan setiap tahun ada
230 juta operasi utama dilakukan di seluruh dunia, satu untuk setiap 25
orang hidup (Haynes, et al. 2009). Penelitian di 56 negara dari 192 negara
anggota WHO tahun 2004 diperkirakan 234,2 juta prosedur pembedahan
dilakukan setiap tahun berpotensi komplikasi dan kematian (Weiser, et al.
2008). (WHO, 2009).
Hasil survey awal di BLU RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado,
didapatkan informasi bahwa pada bulan April 2014 terdapat 50 pasien
pasca operasi. Umumnya perawat tidak melakukan teknik relaksasi dan
teknik distraksi pada pasien yang mengalami nyeri khususnya pasien post
operasi karena perawat hanya melaksanakan instruksi dokter berupa
pemberian analgetik.
iv
B. TUJUAN
1.
Tujuan umum
Menjelaskan konsep dan proses teknik relaksasi dan teknik distraksi.
2.
Tujuan khusus
a.
Mengidentifikasi distraksi
b. mengidentifikasi jenis tehnik distraksi
c.
mengidentifikasi cara menggunakan distraksi
d. mengidentifikasi relaksasi
e.
mengidentifikasi langkah-langkah teknik relaksasi pernafasan
v
BAB II
MATERI
A. pengertian
Hernia adalah protusi (penonjolan) ruas organ , isi organ ataupun jaringan
melalui bagian lemah dari dindingrongga yang bersangkutan atau lubang
abnormal (Nada, 2007)
Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersan
B. Etiologi
a. Konginetal atau primer
b. Sekunder akibat peningkatan tekanan intra abdomen, misal disebabkan
karena konstipasi, kehamilan, penyumbatan jalan keluar kandung
kemih, masa abdomen yang terlalu besar, pengangkatan beban berat.
C. Tanda dan gejala

Berupa benjolan keluar masuk/ keras dan yang tersering tampak
benjolan lipat paha

Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan bila isinya terjepit disertai
perasaan mual

Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada
komplikasi

Bila terjadi hernia inguinalis strangulata perasaan sakit akan
bertambah hebat serta kulit diatasnya menjadi merah dan panas

Hernia femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing
sehingga menimbulkan sakit kencing (disuria) di sertai hematuria
(kencing darah ) disamping benjolan dibawah sela paha

Hernia diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut
disertai sesak nafas
vi

Bila pasien mengedan atau batuk
maka benjolan hernia akan
bertambah besar.
D. Komplikasi
a. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia
sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini
disebut hernia inguinalis irreponibilis. Pada keadaan ini belum ada
gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan
keadaan irreponibilis adalah omentum, karena mudah melekat pada
dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi
lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irreponibilis pada usus
halus.
b. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya
usus yang masuk. Keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus
diikuti dengan gangguan vaskuler (proses strangulasi). Keadaan ini
disebut hernia inguinalis strangulata.Pada keadaan strangulata akan
timbul gejala illeus, yaitu perut kembung, muntah dan obstipasi. Pada
strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinyu, daerah
benjolan menjadi merah dan pasien menjadi gelisah
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Sinar x abdomen menunjukan abnormalnya kadar gas dalam usus /
obstruksi usus.
b. 2. Pemeriksaan darah lengkp mencakup Hb, leukosit, eritrosit, hitung
jenis leukosit, CT, BT, golongan darah, trombosit, BUN, kreatinin
serum
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan ada 2 macam :
1. Penatalaksanaan Konservatif ( Townsend CM )
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang
vii
telah di reposisi.Bukan merupakan tindakan definitive sehingga dapat
kambyh kembali. Terdiri atas :
a. Reposisi
Adalah suatu usaha untuk mengembalikan isi hernia ke dalam
cavum peritonii atau abdomen,di lakukan secara bimanual.Reposisi
di lakukan pada pasien
dengan henia reponibilis dengan cara
memakai dua tangan. Reposisi tidak di lakukan pada
hernia
inguinalis strangulata kecuali pada anak - anak.
b. Suntikan
Penyuntikan cairan sklerotik berupa alkohol atau kinin di daerah
sekitar hernia, yang menyebabkan pintu hernia mengalami
sclerosis atau penyempitan sehingga isi hernia keluar dari cavum
peritonii.
c. Sabuk Hernia
Di berikan pada pasien yang hernia masih kecil dan menolak di
lakukan operasi
2. Penatalaksanaan Operatif
Operasi merupakan tindakan paling baik dan dapat di lakukan pada :
a. Hernia Reponibilis
b. Hernia irreponibilis
c. Hernia strangulasi
d. Hernia incarserata
Operasi hernia di lakukan dalam 3 tahap :
a. Herniotomy
Membuka
atau
memotong
kantong
hernia
serta
mengembalikan isi hernia ke cavum abdominalis
b. Hernioraphy
Mulai dari mengikat leher hernia
pada conjoint tendon
viii
dan menggantungkannya
c. Hernioplasty
Menjahitkan conjoint tendon pada ligamentum inguinale agar
LMR hilang / tertutup dan dinding perut jadi lebih kuat karena
tertutup otot. Hernioplasty pada HIL ada bermacam – macam
menurut kebutuhannya.
G. Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara
mengalihkan perhatian pasien pada hal-hal lain sehingga pasien akan lupa
terhadap nyeri yang dialami. Misalnya seorang pasien sehabis operasi
mungkin tidak merasakan nyeri sewaktu melihat pertandingan sepakbola
di televisi. Cara bagaimana distraksi dapat mengurangi nyeri dapat
dijelaskan dengan teori “Gate Control”.Pada spina cord, sel-sel reseptor
yang menerima stimuli nyeri peripheral dihambat oleh stimuli dari
serabut-serabut saraf yang lain. Karena pesan-pesan nyeri menjadi lebih
lambat daripada pesan-pesan nyeri menjadi lebih lambat daripada pesanpesan diversional maka pintu spinal cord yang mengontrol jumlah input ke
otak menutup dan pasien merasa nyerinya berkurang (Cummings 1981).
Beberapa teknik distraksi antara lain: bernafas secara pelan-pelan,
massage sambil bernafas pelan-pelan, mendengar lagu sambil menepuknepukkan jari-jari atau kaki, atau membayangkan hal-hal yang indah
sambil menutup mata.
A. Jenis Tehnik Distraksi antara lain :
1. Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat
pemandangan dan gambar termasuk distraksi visual.
2. Distraksi pendengaran
Diantaranya mendengarkan musik yang disukai atau suara burung
serta gemercik air, individu dianjurkan untuk memilih musik yang
disukai dan musik tenang seperti musik klasik, dan diminta untuk
berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan
ix
untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu seperti
bergoyang, mengetukkan jari atau kaki. (Tamsuri, 2007).
Musik klasik salah satunya adalah musik Mozart. Dari sekian
banyak karya musik klasik, sebetulnya ciptaan milik Wolfgang
Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa
penelitian sudah membuktikan, Mengurangi tingkat ketegangan
emosi atau nyeri fisik. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh
Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan
sebagai “Efek Mozart”.
Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi
pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan
daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah
kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Namun,
tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan
(Andreana, 2006)
3. Distraksi pernafasan
Bernafas ritmik, anjurkan klien untuk memandang fokus pada satu
objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan
melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan kemudian
menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan dengan
menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk
berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang
memberi ketenangan, lanjutkan tehnik ini hingga terbentuk pola
pernafasan ritmik.
Bernafas ritmik dan massase, instruksi kan klien untuk melakukan
pernafasan ritmik dan pada saat yang bersamaan lakukan massase
pada bagaian tubuh yang mengalami nyeri dengan melakukan
pijatan atau gerakan memutar di area nyeri.
x
4. Distraksi intelektual
Antara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu,
melakukan kegemaran (di tempat tidur) seperti mengumpulkan
perangko, menulis cerita.
5. Tehnik pernafasan
Seperti bermain, menyanyi, menggambar atau sembayang
6. Imajinasi terbimbing
Adalah
kegiatan
klien
membuat
suatu
bayangan
yang
menyenangkan dan mengonsentrasikan diri pada bayangan tersebut
serta berangsur-angsur membebaskan diri dari dari perhatian
terhadap nyeri
I. Cara menggunakan Distraksi
Setiap kegiatan/aktifitas dimana kita harus fokus dapat digunakan
untuk melakukan distraksi. Distraksi bisa internal, seperti
menghitung, menyanyi untuk diri sendiri, berdoa, atau mengulangi
pernyataan seperti "Saya dapat mengatasinya." Atau Distraksi
dapat eksternal, seperti menjahit, membuat / menggambar lukisan
dll. Bagi anda yang menginginkan kesehatan diri menjadi sehat
secara lahir dan batin, ada baiknya Anda mau melakukan langkahlangkah latihan relaksasi pernafasan. Bagaimana cara relaksasi
tersebut..? Dalam persepsi kebanyakkan orang, kata “relaksasi”
seringkali diidentikkan dengan “kemalasan”, atau suatu cara untuk
bermalas-malasan dengan sah. Relaksasi itu bukan suatu bentuk
kemalasan. Relaksasi adalah suatu cara untuk menenangkan fisik,
pikiran dan jiwa dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Sangat
berbeda dengan “kemalasan”. Sebenarnya, “malas” adalah suatu
masalah di dalam pikiran, bahkan di dalam jiwa; dimana “si
pemalas” secara tidak sadar menganggap bahwa bermalas-malasan
adalah suatu cara terbaik untuk hidup. Pahamilah, bahwa rileks dan
santai dalam hidup tidak berarti malas. Dengan Teknik Relaksasi
xi
Pernafasan ini, kita bisa memakai beberapa postur tubuh untuk
memudahkan kita sampai pada posisi rileks yang dikehendaki;
sekaligus dengan postur tubuh tersebut, kita akan mendapatkan
stimuli yang dibutuhkan syaraf-syaraf tertentu.
Teknik
Relaksasi
ini
sebenarnya
juga
bertujuan
untuk
mengaktifkan kekuatan energi dari otak kanan, yaitu bagian otak
yang mengurusi masalah emosi dan imajinasi manusia.
J. Relaksasi
Relaksasi adalah metode yang efektif terutama pada pasien yang
mengalami nyeri kronis. Ada tiga hal utama yang diperlukan dalam
relaksasi yaitu posis yang tepat, pikiran beristirahat, lingkungan yang
tenang. Posisi pasien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian
tubuh disokong (missal bantal menyokong leher), persendian fleksi,
dan otot-otot tidak tertarik (misal tangan dan kaki tidak disilangkan).
Untuk
menenangkan
pikiran
pasien
dianjurkan
pelan-pelan
memandang sekeliling ruangan misalnya melintasi atap turun ke
dinding , sepanjang jendela, dll. Untuk melestarikan muka, pasien
dianjurkan sedikit tersenyum atau membiarkan geraham bawah
kendor. Steward (1976: 959) menjelaskan teknik relaksasi sebagai
berikut:
1. Pasien menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan
udara
.
xii
2. Perlahan-lahan udara dihembuskan sambil membiarkan tubuh
menjadi kendor dan merasakan betapa nyaman hal tersebut
3. Pasien bernafas beberapa beberapa kali dengan irama normal
4. Pasien menarik nafas dalam lagi dan menghembuskan pelanpelan dan membiarkan hanya kaki dan telapak kaki yang
kendor.Perawat
minta pasien untuk
mengkonsentrasikan
pikiran pasien pada kakinya yang terasa ringan dan hangat.
Menurut Walsleben, teknik-teknik ini akan lebih efektif jika dilakukan
tepat sebelum tidur. Ada baiknya dilakukan di tempat yang tenang dan
nyaman. Berikut beberapa teknik dari Walsleben yang bisa Anda coba:
1. Pernafasan perut
Cobalah bernafas dari perut dan fokuskan pikiran Anda ke setiap
tarikan nafas Anda. Cara ini bisa membantu agar Anda tetap tenang,
baik siang maupun malam hari. Untuk memaksimalkan hasil, Anda
bisa mencoba teknik ini dalam ruangan temaram, dengan menutup
mata atau mendengarkan musik lembut sambil memusatkan perhatian
ke setiap tarikan nafas. Sambil duduk atau berbaring di tempat tidur,
cobalah meletakkan tangan Anda di perut."Saat menarik dan
menghembuskan nafas, tangan akan bergerak perlahan," tutur Doner.
Dengan fokus pada gerakan ini, terang Doner, Anda bisa mengalihkan
perhatian dari pikiran-pikiran ke tubuh Anda. Anda bisa menarik dan
menempatkan diri pada satu situasi yang berbeda.
2. Gambaran indah
Membayangkan situasi yang membuat Anda rileks merupakan salah
satu teknik pilihan. Tidak ada aturan khusus mengenai gambaran yang
Anda pilih, yang penting bisa membuat Anda nyaman. Meskipun
awan, laut dan gunung merupakan pilihan yang umum digunakan,
Anda tetap bisa fokus pada hal-hal lain yang Anda sukai. "Ada pasien
yang suka menggambarkan kantornya, membersihkan dan merapikan
semua yang ada di meja kerja sebelum akhirnya tertidur," terang
xiii
Walsleben, seperti dikutip situs health.com. Ada juga yang
membayangkan sedang meniup balon sabun. Mereka melihat diri
mereka memasukkan tongkat kecil ke dalam kotak sabun, memandangi
gelembung memenuhi halaman, hingga akhirnya air sabunnya habis."
3. Pilihlah tempat yang nyaman menurut Anda
Kemudian gunakan imajinasi Anda, gunakan semua indera untuk
melihat dan merasakan hal yang Anda bayangkan."Otak kadangkadang tidak tahu perbedaan antara bayangan dan kenyataan," tutur
Doner.
4. Meditasi pikiran
Sebelum tidur, cobalah fokus pada setiap aspek dalam hidup Anda.
Fokuskan pikiran pada satu permasalah, kemudian cobalah melepaskan
pikiran tersebut. Lakukan juga pada pikiran yang lain. Anda akan lebih
tenang setelah melepaskan semua beban pikiran yang memenuhi
kepala Anda. Anda bisa mencoba dengan menulis. Sediakan waktu 15
menit dan tuliskan semua pikiran yang ada di kepala. Kemudian
gunakan 15 menit berikutnya untuk memikirkan dan menulis langkahlangkah yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah Anda. Teknik
ini, terang Walsleben, ada baiknya dilakukan di siang hari. Dengan
begitu, pikiran Anda akan jauh lebih tenang saat hendak tidur di
malam hari.
5. Hitung mundur
Saat berbaring di tempat tidur, mulailah dengan melihat ke
atas."Sedikit peregangan mata bisa membuat Anda rileks," terang
Doner. Tarik nafas dari perut dan tahan. Saat mengeluarkan nafas,
biarkan tubuh dan pikiran Anda rileks. Ulangi satu atau dua kali.
Selanjutnya coba bayangkan Anda sedang berjalan dari tangga pesawat
dengan menghitung langkah mulai dari 10 atau 20. Tiap angka
menuntun
xiv
langkah Anda ke anak tangga yang lebih rendah. Hembuskan nafas
setiap Anda melangkah turun.
K. Langkah-Langkah Teknik Relaksasi Pernafasan
Langkah Pertama:
Posisi : duduk tegak, tidak ada gerakan fisik, mata terpejam. Telapak
tangan menutup dan menempel di atas paha.
Nafas : bernafas Teknik gabungan, normal sewajarnya.
Waktu : 5 - 10 menit.
Setelah duduk tegak dan memejamkan mata dengan perlahan, mulai
dengan mengendurkan seluruh otot tubuh Anda. Mulai dari otot leher
dan bahu, lemaskan secara perlahan-lahan. Setelah itu cobalah ke
bagian tubuh lain yang masih tegang. Mulailah mengeksplorasi setiap
bagian tubuh dengan visualisasi pikiran, dari ujung jari kaki naik
perlahan ke atas sampai ke ubun-ubun kepala. Mata Anda tetap
terpejam dengan rileks. Setelah seluruh tubuh terasa kendur, lemas dan
nyaman; nikmatilah posisi tersebut beberapa saat dan tenangkan nafas,
lambatkan ritmenya tanpa ada penahanan sama sekali. Usahakan
seluruh tubuh Anda merasa nyaman.
Langkah Ke dua:
Posisi : duduk tegak, tidak ada gerakan fisik, mata terpejam. Telapak
tangan membuka, punggung tangan menempel di atas paha.
Nafas : bernafas Teknik gabungan, normal sewajarnya.
Waktu : 5 - 10 menit.
Posisi seperti yang Anda lakukan di Langkah Pertama, tetapi posisi
telapak tangan membuka ke atas dengan punggung tangan menempel
di paha. Rasakan saja dengan seluruh bagian tubuh Anda; suasana,
situasi ataupun kondisi ruangan tempat Anda sedang berlatih. Setelah
seluruh tubuh Anda merasa nyaman, arahkan perhatian ke pusat
xv
telapak tangan yang terbuka. Rasakan sensasi atau getaran atau apapun
itu, yang terjadi di telapak tangan.
Langkah Ke tiga:
Posisi : berdiri tegak, mata terpejam, kedua tangan di samping tubuh.
Nafas : bernafas Teknik gabungan, normal sewajarnya.
Waktu : 5 - 10 menit.
Setelah posisi berdiri Anda terasa enak dan nyaman, tempatkan
sebagian perhatian anda pada kedua belah tangan, mulai dari bahu
perlahan turun ke lengan atas, siku sampai lengan bawah dan akhirnya
telapak tangan. Arahkan perhatian pada pusat telapak tangan. Setelah
beberapa saat mungkin Anda akan merasakan suatu sensasi di telapak
tangan atau getaran di lengan dan bahu. Ikuti saja bila getaran atau
tenaga tersebut akhirnya mengangkat lengan naik perlahan, kemudian
turun lagi. Ikuti terus getaran atau sensasi lainnya yang mengangkat
lengan Anda tanpa tenaga otot itu. Terangkat dengan sendirinya, bukan
atas kemauan Anda. Bila Anda tergolong orang yang kurang peka
sehingga tidak merasakan apa-apa, tenang dan rileks saja terus. Hal ini
tidak berarti Anda gagal atau tidak mendapatkan manfaat dari latihan
ini. Latihan ini bukan sekedar fisik, tetapi juga olah pikiran dan jiwa.
Langkah Ke empat:
Posisi : berdiri tegak, mata terpejam, telapak tangan saling berhadapan
didepan dada tetapi tidak bersentuhan (ada jarak).
Nafas : bernafas Teknik gabungan, normal sewajarnya.
Waktu : 5 - 10 menit.
Setelah posisi Anda nyaman, tempatkan sebagian perhatian anda pada
kedua tangan, mulai bahu perlahan turun ke lengan, siku sampai
lengan bawah dan kemudian telapak tangan. Arahkan perhatian Anda
pada pusat telapak tangan. Setelah beberapa saat mungkin Anda akan
merasakan sensasi atau getaran tenaga pada telapak tangan. Bila
sensasi atau getaran tenaga pada telapak tangan terasa menggerakkan
tangan anda, ikuti saja gerakannya, jangan dilawan. Ikutilah terus
xvi
gerakan tangan anda tanpa tenaga otot tersebut. Kalau Anda mau
melatih Teknik Relaksasi Pernafasan seperti uraian saya di atas ini,
maka Anda akan merasakan bertambahnya energi dalam diri Anda
semakin hari menjadi semakin besar dan kuat. Sehingga dengan
demikian,
kehidupan
sehari-hari
Anda
akan
selalu
diwarnai
kegembiraan, dan kesehatan yang Luar Biasa Prima.
Problem kesehatan Anda akan menjadi hilang-sirna seketika, begitu
Anda melakukan Latihan Teknik Relaksasi Pernafasan ini. Dan
digantikan dengan kesehatan dan kekuatan lahir-batin Anda yang Luar
Biasa Prima! Selamat mencoba melakukan latihan ini dan Anda akan
merasakan, bangkitnya “energi dalam” atau “inner power” diri Anda
yang selama ini terabaikan karena kesibukan Anda sehari-hari
xvii
BAB III
PEMBAHASAN
Umur mempengaruhi tingkat kesehatan seseorang, semakin tinggi umur seseorang
maka resiko penyakit semakin banyak. Berdasarkan jenis kelamin, diketahui
paling banyak responden adalah laki-laki Semua orang dapat mangalami tindakan
operasi baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan pengalaman operasi,
sebagian besar responden baru pertama kali menjalani operasi. Menurut Aditya
(2012) Seseorang yang belum pernah menjalani operasi dapat diartikan juga
belum pernah mengalami nyeri akibat luka insisi pasca operasi. Individu yang
belum pernah mengalami operasi dapat dimungkinkan koping individu terhadap
nyeri pasca operasi menjadi tidak bagus.
Menurut jenis operasi yang dijalani pasien, kebanyakan pasien menjalani operasi
apendektomi. Pasien dalam penelitian ini selain telah diberikan tindakan relaksasi
dan distraksi juga tetap diberikan terapi farmakologis dengan menggunakan
analgesik. Jenis analgesik yang digunakan adalah ketorolac. Untuk menghindari
kerancuan data hasil relaksasi dan distraksi dengan efek farmakologis pemberian
analgesik, maka tindakan dilakukan 4-6 jam sesudah pemberian obat dan atau 30
menit sebelum pemberian obat.
1. Teknik Relaksasi.
Hasil penelitian terhadap 15 responden sebelum dilakukan teknik relaksasi
didapatkan hasil sebagian besar responden mengalami intensitas nyeri lebih
nyeri yaitu sebanyak 6 orang (40%), intensitas nyeri sedikit lebih nyeri
sebanyak 4 orang (26,7%), intensitas nyeri sangat nyeri 3 orang (20%) dan
intensitas nyeri sedikit nyeri sebanyak 2 orang (13,3%). Setelah dilakukan
teknik relaksasi, sebanyak 2 responden menyatakan tidak mengalami nyeri
dan tidak ada responden yang mengalami intensitas nyeri sangat nyeri dan
intensitas nyeri lebih nyeri.
Penelitian sebelumnya oleh Suhartini (2013) dengan judul pengaruh teknik
relaksasi terhadap intensitas nyeri pada pasien post operasi fraktur di ruang
xviii
irina A BLU RSUP Prof Dr. R. D Kandou Manado didapatkan hasil diketahui
dari 11 orang (55,0 %) dengan intensitas nyeri hebat terkontrol berkurang
menjadi 10 orang dengan intensitas nyeri sedang dan 1 orang dengan
intensitas tidak nyeri. Hal yang sama juga terjadi pada 8 orang (40,0 %)
dengan intensitas nyeri sedang berkurang menjadi intensitas nyeri ringan.
Intensitas nyeri ringan 1 orang (5,0 %) berkurang menjadi tidak nyeri. Serta
terdapat pengaruh teknik relaksasi terhadap intensitas nyeri pada pasien post
operasi fraktur di ruang irina A BLU RSUP Prof Dr. R. D Kandou Manado
dengan nilai P = 0,000.
Terdapat kesamaan hasil penelitian dimana terjadi perubahan intensitas nyeri
setelah dilakukan teknik relaksasi. Kesamaan ini dikarenakan teknik relaksasi
yang dilakukan secara berulang dapat menimbulkan rasa nyaman bagi pasien.
Adanya rasa nyaman inilah yang menyebabkan timbulnya toleransi terhadap
nyeri yang dirasakan. Menarik napas dalam dan mengisi udara dalam paruparu dapat merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang
disebabkan oleh insisi (trauma) jaringan pada saat pembedahan. Relaksasi
otot-otot ini akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami
trauma
sehingga
mempercepat
penyembuhan
dan
menurunkan
(menghilangkan) sensasi nyeri.
Adanya perubahan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik
relaksasi diuji dengan menggunakan uji wilcoxon pada tingkat kemaknaan
95% (α=0,05), dengan nilai P sebesar 0,001atau dengan kata lain nilai P <
0,05. Oleh karena itu maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi, hasil dari
penelitian ini menunjukan bahwa teknik relaksasi dapat menurunkan
intensitas nyeri pasien post operasi secara bermakna.
Penanganan nyeri secara farmakologis memiliki efek yang tidak baik bagi
tubuh, sehingga tindakan non farmakologis dianjurkan dalam penanganan
nyeri. Salah satu tindakan non farmakologis yaitu pemberian teknik relaksasi.
Menurut Smelzer & Bare (2002), Prinsip yang mendasari penurunan nyeri
xix
oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi system syaraf otonom yang
merupakan bagian dari system syaraf perifer yang mempertahankan
homeostatis lingkungan internal individu.
Adanya perbedaan intensitas nyeri responden disebabkan oleh karena
pemberian teknik relaksasi nafas dalam itu sendiri, jika teknik relaksasi nafas
dalam dilakukan secara benar maka akan menimbulkan penurunan nyeri yang
dirasakan sangat berkurang/optimal dan pasien sudah merasa nyaman
dibanding sebelumnya, sebaliknya jika teknik relaksasi nafas dalam
dilakukan dengan tidak benar, maka nyeri yang dirasakan sedikit berkurang
namun masih terasa nyeri dan pasien merasa tidak nyaman dengan
keadaannya. Hal ini dapat mempengaruhi intensitas nyeri, karena jika teknik
relaksasi nafas dalam yang dilakukan secara berulang akan dapat
menimbulkan rasa nyaman yang pada akhirnya akan meningkatkan toleransi
persepsi dalam menurunkan rasa nyeri yang dialami. Jika seseorang mampu
meningkatkan toleransinya terhadap nyeri maka seseorang akan mampu
beradaptasi dengan nyeri, dan juga akan memiliki pertahanan diri yang baik
pula (Lukman 2013).
2. Teknik Distraksi
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 15 responden didapatkan hasil
responden dengan intensitas nyeri sedikit lebih nyeri dan intensitas nyeri
lebih nyeri yaitu berjumlah masing-masing 5 orang atau 33,3%, reponden lain
mengalami intensitas sangat nyeri berjumlah 4 orang (26,7%) dan nyeri
sangat hebat 1 orang(6,7%). Setelah diberikan teknik distraksi terdapat 1
orang (6,7%) menyatakan tidak nyeri. Setelah dilakukan teknik distraksi tidak
terdapat pasien yang mengalami intensitas nyeri sangat nyeri dan nyeri sangat
hebat.
Penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati (2011) dengan judul pengaruh
teknik distraksi relaksasi terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post
operasi laparatomi di PKU Muhammadiyah Gombong menunjukkan
xx
intensitas nyeri sebelum dilakukan teknik distraksi relaksasi dengan
prosentase tertinggi masuk interval nyeri skor 4 - 6 sebanyak 18 responden
(41,86%), dan tidak ada responden (0,00%) dengan interval nyeri skor 0, 1 –
3. Intensitas nyeri setelah dilakukan teknik distraksi relaksasi dengan interval
nyeri skor 4 – 6 sebanyak 25 responden (58,14%), dan tidak ada responden
(0,00%) dengan interval nyeri skor 0. Ada pengaruh teknik distraksi relaksasi
terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi di
PKU Muhammadiyah Gombong dengan p-value=0,000.
Terdapat kesamaan hasil penelitian yang dilakukan Nurhayati dengan hasil
penelitian ini. Kesamaannya yaitu terdapat pengaruh yang bermakna tindakan
teknik distraksi terhadap perubahan intensitas nyeri. Teknik distraksi dapat
menurunkan kewaspadaan pasien terhadap nyeri bahkan meningkatkan
toleransi terhadap nyeri.
Adanya perubahan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik
distraksi diuji dengan menggunakan uji wilcoxon pada tingkat kemaknaan
95% (α=0,05), dengan nilai P sebesar 0,001 atau dengan kata lain nilai P <
0,05. Oleh karena itu maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi, hasil dari
penelitian ini menunjukan bahwa teknik distraksi dapat menurunkan
intensitas nyeri pasien post operasi secara bermakna. Menurut (Smletzer dan
Bare , 2002), distraksi yang mencakup memfokuskan perhatian pasien pada
sesuatu selain pada nyeri, dapat menjadi strategi yang sangat berhasil dan
mungkin merupakan mekanisme yang bertanggung jawab terhadap teknik
kognitif efektif lainnya. Keefektifan distraksi tergantung pada kemampuan
pasien untuk menerima dan membangkitkan input sensori selain nyeri.
Distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori Gate Control, bahwa
impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan
disepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahawa impuls nyeri
dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah
pertahanan ditutup. Salah satu cara menutup mekanisme pertahanan ini
xxi
adalah dengan merangsang sekresi endorfin yang akan menghambat
pelepasan substansi P. Teknik distraksi khususnya distraksi pendengaran
dapat merangsang peningkatan hormon endorfin yang merupakan substansi
sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh. Individu dengan endorfin banyak
lebih sedikit merasakan nyeri dan individu dengan endorfin sedikit merasakan
nyeri lebih besar. Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan perubahan
intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik distraksi.
3. Relaksasi dan Distraksi
Dari hasil uji yang dilakukan, didapatkan nilai Mean sebelum dilakukan
teknik relaksasi yaitu 2,67, sedangkan nilai Mean sebelum dilakukan teknik
distraksi yaitu 3,07. Terdapat perbedaan dari nilai mean sebelum diberikan
teknik relaksasi dan teknik distraksi, dimana nilai mean teknik distraksi lebih
tinggi dibanding teknik distraksi, hal ini disebabkan karena beberapa hal,
diantaranya perbedaan persepsi nyeri oleh masing-masing responden, tidak
homogennya jenis operasi yang dialami responden juga mempengaruhi
intensitas nyeri yang dirasakan oleh responden.
Berdasarkan hasil diatas tidak dapat dipastikan tindakan mana yang lebih
efektif untuk mengatasi nyeri pasien, tetapi dapat dipastikan bahwa
pemberian teknik relaksasi dan teknik distraksi sama-sama efektif untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan oleh pasien post operasi.
xxii
BAB IV
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dan pembahasan tentang pengaruh teknik relaksasi dan
teknik distraksi terhadap perubahan intensitas nyeri pada pasien post operasi di
Irina A Atas RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut: 1.Terdapat pengaruh yang bermakna teknik relaksasi terhadap
perubahan intensitas nyeri pada pasien post operasi di ruangan Irina A Atas
RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, dengan nilai p= 0,001 (p<0,05)
Terdapat pengaruh yang bermakna teknik distraksi terhadap perubahan intensitas
nyeri pada pasien post operasi di ruangan Irina A Atas RSUP. Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado, dengan nilai p=0,001 (p<0,05).
23
Daftar Pustaka
Berman, Audrey et.al. Fundamentals Of Nursing, Concept, Proses And Practice.
Edition. 2008. New jersey: Pearson Education Inc.
Lukman, Trullyen Vista. (2013). Pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap
Intensitas nyeri pada pasien post operasi sectio Caesarea di RSUD. Prof. Dr.
Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Jurnal. Gorontalo: Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo
Mawei, Nikita Mayumi. (2012). Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Perubahan
Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendektomi. Skripsi. Manado:
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sam Ratulangi
Nurdin, Suhartini. (2013). Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Intensitas Nyeri
Pada Pasien Post Operasi Fraktur Di Ruang Irina A BLU RSUP Prof Dr.
R.D Kandou Manado. Jurnal. Manado: Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas
Sam
Ratulangi.
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/view/2243/1800
didownload tanggal 10 April 2014, pukul 22. 12 WITA.
Nurhayati, Herniyatun, & Safrudin ANS.(2011). Pengaruh Teknik Distraksi
Relaksasi Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi
Laparatomi
Di
Pku
Muhammadiyah
Gombong.Jurnal.
Muhammadiyah
STIKES
Gombong
http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/files/disk1/27/jtstikesmuhgo-gdlendahestri-1325-2-hal.35--2.pdf diakses tanggal 22 juli 2014
Potter, Patricia A., & Perry, Anne Griffin.,(Ed. 4.) (2005). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, & Praktik (Vol. 2). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Riyadi, S., & Harmoko. H. (2012). Standard operating procedure dalam praktik
klinik keperawatan dasar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Setiadi (2013). Konsep dan Praktik Penulisan riset keperawatan edisi 2. Surabaya.
Graham Ilmu.
24
Sjamsuhidayat, R dan Jong.W.2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Smeltzer & Bare.(2002). Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Snyder, dkk. (2003). Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb (ed.
5.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sucipto, Aditya Yayang. (2012). Pengaruh Relaksasi Guided Imagery Terhadap
Tingkat Nyeri Pada Pasien Pasca Operasi Sectio Caesarea Di Rumah Sakit
Daerah Dr. Soebandi Jember. Skripsi. Jember: Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Jember
Sumiati, dkk. (2010). pengaruh penggunaan tindakan teknik relaksasi napas
dalam, distraksi, gate kontrol, terhadap penurunan sensasi nyeri ca mammae
di RSUD Labuang Baji Makassar. Jurnal. Makassar: STIKES Nani
Hasanuddin
Makassar.
http://library.stikesnh.ac.id/files/disk1/5/e-
library%20stikes%20nani%20hasanuddin--sumiatiern-201-1-artikel8.pdf
Diakses tanggal 24 juli 2014
Tamsuri, A. (2007) . Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Triyana, Yani Firda.(2012). Teknik prosedural keperawatan. Jogjakarta: DMedika.
World Health Organization. (2005). Pedoman Perawatan Pasien (Moica Ester,
Penerjemah.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
25

similar documents