PEMIKIRAN AHLUL RA*YU EKSTRIM

Report
PEMIKIRAN AHLUL
RA’YU EKSTRIM
ASAL USUL PENGGUNAAN
KATA RA’YU EKSTRIM
• Istilah ahl al-ra’yi digunakan untuk menyebut
kelompok pemikir hukum Islam yang memberi porsi
akal lebih banyak disbanding dengan pemikir lainnya.
Bila kelompok lain dalam menjawab persoalan hukum
tampak terikat oleh teks nas (al-Qur’an dan al-Hadis) ,
maka kelompok ahl al-ra’yi tampak tidak terikat,
leluasa menggunakan pendapat akal.
• Sebenarnya ahl al-ra’yi bukan berarti kelompok yang
meninggalkan hadis. mereka juga menggunakan hadis
sebagai dasar penetapan hukum, hanya mereka dalam
melihat kasus penetapan hukum berpendapat bahwa
nas syar’I mempunyai tujuan tertentu dan nas syar’I
secara kumulatif bertujuan mendatangkan maslahat
manusia (mashalih al-ibad).
PENGERTIAN
• Yang dimaksudkan dengan Ahlu al-Ra’y adalah
aliran ijtihad yang mempunyai pandangan bahwa
hukum Islam itu merupakan ketentuan-ketentuan
doktrial yang mengacu pada kemaslahatan
kehidupan umat manusia.
• Dalam penetapan hukum aliran ini banyak
dipengaruhi oleh cara berfikir ulama-ulama Iraq.
Mereka mengikuti pola pikir Umar bin Khattab
dan Ibnu Mas’ud. Kecenderungan mereka dalam
menetapkan hukum banyak menggunakan akal.
AWAL KEMUNCULAN
• Aliran ini lahir di Irak yang dikenal sebagai daerah yang
terbuka untuk semua kebudayaan dan peradaban lain.
• Disini para fuqaha dihadapkan pada problematika
permasalahan hukum yang komplek, dan untuk
menyelesaikannya secara terpaksa mereka mengerahkan
kemampuannya akalnya (ijtihadnya) yang dasarnya
bersumber pada al-Qur`an dan hadits.
• Aliran ini mendapatkan keistimewaan sendiri, yaitu mereka
bisa memprediksikan suatu peristiwa yang akan terjadi
sekaligus menetapkan hukumnya. Contohnya pada zaman
itu belum ada masalah tentang congkok organ tubuh,
(diantaranya cangkok paru-paru atau yang lainnya) tapi
mereka sudah memberikan rambu-rambu hukum tentang
permasalahan tersebut.
ALASAN MUNCUL DI IRAK
a. Tidak memiliki banyak kumpulan hadis sehingga
dalam berijtihad (memahami ma`na nash dan sebabsebab pembentukan hukum) mereka menggunakan
akal, mengikuti guru mereka Abdullah Ibnu Mas`ud.
b. Adanya fitnah al-Qubra yang berakibat munculnya
hadis palsu, karenanya mereka sangat hati-hati dalam
menerima riwayat hadits.
c. Adanya beberapa warisan budaya, muamalat, adat
istiadat, serta aturan tata tertib dari kerajaan Persia,
maka lapangan ijtihad menjadi demikian luas di Irak.
PERKEMBANGANNYA
• Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat yang
paling memahami nash-nash, paling banyak
melakukan ijtihad dalam memahaminya dan
banyak menggunakan daya akal.
• Dia selalu memperhatikan qarinah, maqashid
syari’ah dan pertimbangan kemaslahatan dalam
menemukan suatu hukum .
• Imam as-Sya’by pernah mengatakan bahwa Umar
telah memutuskan seratus kasus melalui ijtihadnya
(ra’yu) ketika tidak ditemukan pemecahannya
dalam Al-Qur’an dan Hadis.
PERKEMBANGANNYA
• Metode yang digunakan Umar ini banyak
diadopsi Abdullah bin Mas’ud dan mewariskan
metodologi pemikirannya kepada beberapa
muridnya yang sangat apresiatif seperti
Alqamah, Masruq dan Syuraih. Dan dari
Alqamah inilah, pemikiran rasioanlis itu
dikembangkan oleh Ibrahim al-Nakha’ie,
pendiri madrasah ra’yu sekaligus guru Abu
Hanifah
SEBAB MUNCUL DI IRAQ
• Kemuncul madrasah ahl al-ra’y di Irak:
• Pertama : karena pengaruh dari sahabat (Abdullah
bin Mas’ud) yang pernah tinggal dan menetap di
Kufah Iraq, sebagai penerus pola pemikiran Umar
bin Khattab
• Kedua : hadits Nabi tidak banyak ditemukan di
wilayah Iraq, jika dibandingkan dengan wilayah
Madinah, sehingga dalam menetapkan hukum,
mereka menggunakan kekuatan akal pikiran,
mereka berijtihad dalam memahami tujuan nash
dan sebab-sebab ditentukannya hukum tersebut.
Lanjutan...
• Ketiga : situasi kondisi di Irak berbeda dengan di
Madinah. Sistem interaksi sosial, muamalah,
tradisi dan tata aturan yang ada di Iraq merupakan
hasil dari benturan beberapa peradaban,
khususnya peradaban Persia. Medan ijtihad di Iraq
lebih luas dan diskursus pelbagai masalah lebih
berwarna. Sehingga terjadi kecenderungan untuk
menggunakan analisis ketika menerapkan hukum
suatu masalah. Ibrahim al-Nakha’ie berkata,”
ketika saya mendengar satu hadits, saya mempu
untuk mengqiyaskan kepadanya seratus
permasalahan”
CIRI-CIRINYA
• Pertama, bagi mereka penggunaan rasio tidak
hanya terbatas pada fenomena yang terjadi pada
masa itu. Bahkan mereka juga memprediksikan
hukum suatu masalah yang belum terjadi.
Ungkapan yang sering mereka kemukakan adalah
araaita lau kadza? (bagaimana pendapatmu
seandainya begini..begitu..). Fikih yang mereka
kembangkan dikenal dengan istilah fiqh iftiradli
atau fiqih pengandaian.
Lanjutan....
• Kedua, sangat selektif dalam penerimaan suatu
hadits dengan membuat persyaratan yang ketat,
sebagaimana metode Umar bin Khattab dan Ibn
Mas’ud dalam penerimaan suatu riwayat hadits,
karena khawatir mereka terjerumus ke dalam
hadits-hadits palsu.
• Hal tersebut menjadikan mereka meremehkan
periwayatan hadits dan sebaliknya, mereka lebih
mengedepankan rasio.
KEISTIMEWAAN
• Pertama:
Banyaknya hukum-hukum furu’ yang mereka tetapkan
termasuk yang bercorak taqdiri yaitu hukum-hukum
yang bersifat kemungkinan, sebab masalahnya belum
muncul ketika itu. Hal ini sangat dimungkinkan karena
banyaknya peristiwa-peristiwa baru yang mereka
temukan terutama yang berasal dari budaya-budaya
lokal yang lebih dahulu maju ketimbang Islam.
Munculnya masalah-masalah baru ini memberikan
dampak terhadap produktifitas kegiatan ilmiah
mereka di bidang fiqh termasuk dalam melahirkan
ketentuan-ketentuan hukum terhadap masalah yang
belum terjadi.
Lanjutan...
• Kedua :
Dalam penetapan hukum, mereka tidak hanya memakai
makna tekstual saja, akan tetapi mereka juga
memperhatikan apa yang menjadi sebab (illat), hikmah dan
relevansi syari’at dengan peristiwa kongkrit. Hal ini
dilakukan karena syari’at dipandang sangat cocok dengan
akal (ma’qul ma’na) dan diturunkan untuk memberikan
maslahat kepada manusia.
• Ketiga:
Dalam menilai suatu hadis mereka memberikan kriteria
yang sangat ketat sehingga hanya sedikit hadis yang diakui
shahih. Hal ini dilakukan agar sunnah nabi dapat terpelihara
dengan baik, sebab pada saat itu banyak sekali munculmuncul hadis da’if dan maudhu’.
TOKOH-TOKOHNYA
• Tokoh inspiratornya: Umar dan Ibnu Mas’ud
1. Abu Hanifah .
Dia berhujjah hanya dengan hadis- hadis
mutawatir dan masyhur.
Beliau tidak merasa wajib menerima rumusan
hukum dari para tabi’in, karena dia memandang
bahwa dirinya setara dengan para tabi’in dan
melakukan atau menetapkan hukum dengan
qiyasnya sendiri
Lanjutan...
2. Alqamah bin Qais an-Nakha’I (w. 62 H).
3. Masruq bin Hajda al-Hamadzani (w. 63).
4. al-Qadi Syuraih bin Haris bin Qais (w.
78).
5. Sa’id bin Jubair (w. 95 H).
6. al-Sya’bi Abu Amr bin Syarhil alHamadzani (w. 114).
METODE HUKKUMNYA
1. Ijma’
2. Qiyas
3.
4.
5.
6.
7.
Istihsan
Maslahah mursalah
Al-’Urf
Syadd az-Zara’iy
Syar’u man Qablana
ALIRAN/KELOMPOK
AHLU RA’YI EKSTRIM
• MU’TAZILAH
• SYI’AH
• LIBERAL

similar documents