Fiscal Sustainability Subsidi Listrik dan BBM

Report
Pertumbuhan yang Tersandera
“Fiscal Sustainability”
A. Tony Prasetiantono, Ph.D.
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM
Ceramah Umum Dies Natalis ke-57
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, 10 September 2012
“Outline” Presentasi
Pendahuluan
• Transmisi krisis zona euro ternyata lebih cepat
• Solusi krisis zona euro menjadi tanda tanya, sehingga
rupiah pun cenderung melemah
‘Update’ Ekonomi
Global
• Krisis utang zona euro
• Krisis utang Amerika Serikat
• Pilihan kebijakan yang terbatas
‘Update’ Ekonomi
Indonesia
• Pertumbuhan ekonomi akan melambat
• Neraca transaksi berjalan tertekan
• Inflasi, BI rate
• Kinerja industri perbankan
Analisis
Kebijakan Publik
Outlook 2012-2013
• Defisit anggaran
• Subsidi BBM
• Kesimpulan
• Proyeksi ekonomi 2012 dan 2013
Pendahuluan





Rupiah dalam beberapa pekan ini terus tertekan menjadi Rp 9.600 per USD.
Pelemahan rupiah merupakan dampak krisis ekonomi global yang tetap tidak
menentu. Ketidakpastian besar menyebabkan investor global lebih suka
“memegang” USD, sepanjang pilihan untuk “memegang” Chinese yuan tidak
cukup tersedia. “Memegang” mata uang euro terasa riskan, karena ketidakpastian
penyelesaian krisis zona euro.
Perekonomian Indonesia Q1-2012 melambat menjadi 6,3%. Ini sangat logis, karena
semua negara juga melambat, misalnya China (7,6%) dan India (5,2%).
Masa depan zona euro tidak menentu. Bailout terhadap Yunani memang sudah
cukup memadai. Namun masalahnya, sejumlah negara lain juga memerlukan
bailout, seperti Spanyol dan Portugal. Menurut The Economist (18-24 Agustus
2012), Grexit saja tidak cukup, pembubaran euro barangkali akan lebih efektif.
Kebijakan yang diharapkan sekarang adalah quantitative easing (QE), baik di AS
maupun zona euro. Sejauh ini, AS sudah melakukan dua kali QE sebesar USD 2,1
triliun. Ke depan USD dan euro diproyeksikan melemah karena QE.
Krisis Zona Euro: Semua Bermula dari “Welfare State”
 Greece € 300 billion
 Ireland € 150 billion
 Portugal € 160 billion
 Spain € 640 billion
 Italy
€ 1,8 trillion
As comparison, in the previous
crisis, total debt of Lehman Brothers
was USD 613 billion in 2008.
Krisis Zona Euro: “Welfare State” yang Overdosis





Krisis zona euro disebabkan oleh welfare
state yang “terlalu baik hati” (Paul Krugman).
Program bailout (talangan) merupakan solusi
jangka pendek.
Selanjutnya, austerity atau disiplin fiskal dan
penghematan fiskal (“mengencangkan ikat
pinggang”) merupakan solusi jangka
menengah dan panjang.
Krugman menyarankan pembubaran euro.
Yunani mesti belajar dari krisis Indonesia
(1998): bailout harus dilakukan tepat waktu
dan tepat dosis. Indonesia harus sacrifice
dengan pelemahan rupiah. Namun ini juga
menjadi opportunity bagi penguatan
competitiveness.
“Yield” Bonds Zona Euro Terus Meningkat
GIIPS 10-yr Government Bond Yield (in %)
18
16
14
Italy
Spain
Portugal
percent
12
10
8
6
4
2
Greece
Ireland
Perekonomian China: Akankah Terjadi “Hard Landing”?




Prof. Justin Lin
Chief Economist Bank Dunia,
Ph.D. dari University of Chicago


China merevisi target pertumbuhan
ekonomi 2012 menjadi 7,5%.
Pertumbuhan ekonomi China 7,6%
pada Q2-2012.
Akankah China mengalami hard
landing?
Perekonomian China menjadi sound
karena liberalisasi dan pembangunan
infrastruktur yang masif.
China tidak membiarkan yuan menjadi
matauang internasional.
Lemahnya yuan membantu
competitiveness produk-produk China.
India: Mulai Rentan terhadap Krisis



Lucknow, Uttar Pradesh, India







Perekonomian India mulai nervous.
Kurs rupee merosot 20% dalam
setahun, terutama dalam 6 bulan
pertama 2012.
Pertumbuhan ekonomi quarter
I/2012 hanya 5,1%, biasanya > 8%.
Inflasi 10,4%.
Pengangguran 9,8%
Defisit APBN 5,7% terhadap PDB
Suku bunga 8,4%
Utang LN korporasi tinggi.
Infrastruktur payah, listrik
blackout. Nuklir ditentang.
Bagaimana prospek India?
Indonesia Rising: Is This True?
 Indonesia dipuji oleh Nouriel



Roubini, profesor dari Stern,
NYU. Katanya, “Goodbye China,
Hello Indonesia”. Benarkah?
Apa persamaan dan (terutama)
perbedaan Indonesia dengan
China?
Hint: leadership Deng Xiaoping
menjadi kunci/faktor pembeda.
Indonesia negara autopilot? Apa
artinya?
Krisis Minyak 2012






Supply dan demand minyak dunia kini amat berimpit di level 80-an juta barrel per
hari. Akibatnya, sedikit insiden saja bisa menimbulkan kenaikan harga minyak.
Arab Saudi adalah produsen terbesar dengan 10 juta barrel/hari.
Terdapat misleading bahwa Indonesia adalah produsen yang besar. Itu dulu,
tahun 1980-an. Kini lifting hanya 900.000 barrel per hari dengan penduduk 240
juta orang. Tahun 1980-an, lifting pernah 1,6 juta barrel per hari dengan penduduk
hanya 140 juta orang.
Harga minyak beberapa pekan terakhir ini menurun drastis, karena demand turun
tajam, seiring dengan kekhawatiran krisis ekonomi zona euro yang segera
tertransmisikan ke seluruh dunia.
Di satu pihak, penurunan harga minyak dunia (Brent dan West Texas Intermediate)
memberi jaminan harga BBM bersubsidi tak akan dinaikkan. Namun ini juga berarti
hilangnya momentum untuk mendorong energi alternatif.
Harga komoditas lain ikut turun, ekspor Indonesia tertekan cukup hebat. Neraca
perdagangan defisit dua bulan terakhir.
Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara, 2011


Perekonomian Indonesia tumbuh paling cepat di Asia Tenggara.
Penyebab: (1) konsumsi domestik yang didukung oleh fenomena middle-class; (2) komoditas
primer menjadi unggulan di saat krisis, sebagaimana krisis 2009; (3) rendahnya ketergantungan
terhadap perekonomian global; (4) sehatnya sektor finansial, terutama perbankan, dibanding
saat the years of living dangerously.
Kebijakan Fiskal yang Berhati-hati


Indonesia termasuk sangat prudent dalam pengelolaan fiskal, terutama dalam hal utang.
Yunani bangkrut karena rasio utang pemerintah terhadap PDB mencapai 170%. Indonesia cuma
25,7%.
Meski rasio Jepang tinggi (200%), namun perekonomian Jepang stabil. Mungkin hal ini
disebabkan Gross National Product (GNP) Jepang lebih tinggi daripada Gross Domestic Product
(GDP). Indonesia sebaliknya.
Indikator Ekonomi Makro Utama
( %)
8
7
6.9
6.3
6.5
6.3
6
5.2
5
INFLATION RATE (% )
( %)
16
GDP GROWTH
12.1
12
5.8
4.5
8.2
8
4
7.0
4.0
3
2
5.1
3.7
4
5.8
3.4
6.65
5.54
4.61
3.79 3.65
4.5
3.56
2.8
1
3.97
2008
2009
2010
2011
LOAN GROWTH
2009
250%
2,000
200%
1,500
150%
1,000
100%
2011
2012
BI RATE
9.3
9
500
8.5
8
8.0
7.8
7
7.0
5.75
Apr
2008
2009
2010
2011
2012
May
Apr
Mar
Feb
Jan
Q.4
Q.3
Q.2
Q.1
Q.4
Q.3
Q.2
Q.1
Q.4
Q.3
Q.2
5
Q.1
Jan
Mar
2012
Q.4
Growth PB
Feb
Q4
Q3
Q2
Q1
2011
Q.3
Growth all
Q4
Q3
Q2
Q1
2010
Q.2
All
Q4
Q3
Q1
Q2
2009
6
6
Q.1
2008
Q4
Q3
Q2
0%
Q1
0
6.75
6.5
50%
Apr
Mar
Feb
Jan
Q.4
Q.3
Q.2
Q.1
Q.4
Q.3
Q.2
2010
( %)
10
2,500
Q.1
Q.4
Q.3
Q.2
Q.1
Q.4
2008
2012
RH % grow th
since Jan 08
All & PB
LH o/s in IDR-T
Q.3
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
Q.2
Q.1
0
0
Harga Komoditas Primer Dunia Makro Utama
UNEMPLOYMENT RATE
10%
IDR EXCHANGE RATE AGAINST USD
13,500
12,000
9%
8.39%
8.46%
11,555
10,500
9,665
8.14%
9,100
9,065 9,010
8%
7.87%
9,000
7.41%
9,205
8,925
7.14%
7%
9,191
9,068
9,144
8,576
7,500
6.80%
6.56%
6.32%
Feb'08 Aug'08 Feb'09 Aug'09 Feb'10 Aug'10 Feb'11 Aug'11 Feb'12
2008
2009
STOCK INDEX
4,500
4,181
3,889 3,822
4,000
3,501
3,500
3,985
4,122
3,549
3,000
2,500
2,447
2,443
2,349
2,000
2,027
1,846
1,500
2,913
1,434
1,355
1,000
2008
2009
2010
2011
2012
Apr
Mar
Feb
Jan
Q4
Q3
Q2
Q1
Q4
Q3
Q2
Q1
Q4
Q3
Q2
Q1
Q4
Q3
Q2
Q1
500
2010
2011
2012
Apr
Mar
Feb
Jan
Q4
Q3
Q2
Q1
Q4
Q3
Q2
Q1
Q4
Q3
Q2
Q1
Q4
Q3
6%
Q2
Q1
6,000
Indikator Ekonomi Makro Utama
US$/barrel
120
Crude Oil Price
113.93
107.1
110
100.59
96.77
100
91.16
103.02
99.56
104.93
93.32
95.7
90
98.83
Coal Price Reference (HBA)
85.37
125
122.0
79.2
80
119.0 118.2
120
70
115
117.2
117.6
Apr-11 May-11 Jun-11 Jul-11 Aug-11 Sep-11 Oct-11 Nov-11 Dec-11 Jan-12 Feb-12 Mar-12 Apr-12
116.3
116.7
119.2
112.7
111.6 112.9
109.3
110
Source: Nasdaq
105.6
105
CPO Price
1,400
100
1,300
1,200
1,100
1,000
95
1,124
1,157
1,143
1,106
1,076
1,034
1,048
1,021
995
986
1,048
969
914
900
800
Apr-11 May-11 Jun-11 Jul-11 Aug-11 Sep-11 Oct-11 Nov-11 Dec-11 Jan-12 Feb-12 Mar-12 Apr-12
Apr-11 May- Jun-11 Jul-11 Aug11
11
Sep- Oct-11 Nov-11 Dec- Jan-12 Feb11
11
12
Mar- Apr-12
12
BI Rate and Headline Inflation
Inflasi Masih Rendah karena Subsidi BBM Besar

Inflasi terkendali, hingga akhir Agustus inflasi year on year 4,56%. Sampai akhir tahun, inflasi
diperkirakan 5%. Namun hal ini terjadi karena pengorbanan subsidi BBM yang sangat besar
diperkirakan mencapai Rp 200 triliun sampai akhir 2012.
17
Pola Inflasi Bulanan
%

Inflasi Juli dan Agustus 2012 sebesar 0,7% dan 0,95% masih normal. Diperkirakan menjadi puncak
inflasi 2012. Rendahnya inflasi 2012 mestinya bisa menjadi modal untuk mengantisipasi kondisi
terburuk 2013, karena harga BBM dan TDL perlu dinaikkan.
18
Neraca Perdagangan Tertekan Sangat Hebat
250
203.5
200
157.73
136.66
125.34
113.63
115.82
93.25
73.87
150
100.36
100
135.61
117.44113.11112.78
60.55
50
0
2006
2007
2008
2009
Ekspor

2010
Impor
2011
Juli
2012
Untuk pertama kalinya neraca perdagangan mengalami defisit USD 600 juta (April), dan USD 486
juta (Mei) dan USD 1,32 miliar (Juni). Penyebabnya: penurunan harga komoditas primer dan
kenaikan impor barang modal dan impor minyak.
Impor Membesar karena “Overheating”?

Indonesia harus mencari pasar global baru, misalnya Afrika yang sekarang juga tengah mengalami
booming kelas menengah baru. Upaya mengerem kredit bank juga merupakan salah satu upaya
menghindari overheating.
Rasio Elektrifikasi 2011 (Data PLN)
NAD
87,21%
Sumut
80,11%
Kepri
71,35%
Riau
54,98%
Kalteng
52,97%
Sulbar
33,56%
Jakarta Kalsel
106,47% 73,95%
Bengkulu
64,48 %
DIY
77,43%
Papua Barat 46,28 %
Sultra
51,08%
Bali
68,63%
Sulsel
71,97%
Banten
74,07%
Jabar Jateng
70,47% 78,91%
Malut
53,48%
Sulteng
62,03%
Babel
66,18%
Jambi
58,85%
Sulut
77,99%
Gorontalo
67,38%
Sumsel
56,90%
Sumbar
71,44 %
Lampung
61,88%
Kalbar
64,86%
Kaltim
58,75%
Maluku
61,73%
NTT
34,52%
Jatim
NTB
73,65% 47,20%
REALISASI (Tahun)
Rasio Elektrifikasi
2009
2010
2011
63.75%
67.63%
71.17%
Papua
33,52%
Target Rasio Elektrifikasi 2012 (Kementerian ESDM)
Category :
NAD
89,79
%
Sumut
87,01%
Kaltim
64,02%
Kepri
91,68%
Riau
79,09%
Kalteng
Kalbar 69,20%
67,87%
> 60 %
Gorontalo
55,88%
Sulut
75,68%
41 - 60 %
Malut
71,68%
20 - 40 %
Papua Barat
60,78%
Sumsel
74,83%
Sumbar
80,19%
Sulbar
65,26%
Sulteng
66,60%
Babel
83,39%
Jambi
78,17%
Jakarta Kalsel
99,99% 77,70%
Bengkulu
73,23%
Lampung
72,88%
Sultra
57,90%
Bali
71,56%
Banten
69,53%
Sulsel
76,86%
REALISASI (Tahun)
Rasio
Elektrifikasi
63%
2007
2008
2009
2010
Papua
35,89%
NTT
44,49%
Jatim NTB
Jabar Jateng DIY
72,77% 80,74% 77,96% 74,98% 54,77%
2006
Maluku
72,01%
RENCANA (Tahun)
2011
2012
2013
2014
64.3% 65.1% 65.8% 67.2% 72.95% 75.30% 77.65% 80.0%
Perkembangan “Energy Mix”, 2008-2015
100%
80%
60%
40%
20%
0%
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
BBM
36%
25%
22%
23.0%
13.8%
9.7%
7.2%
5.5%
Bio Diesel & EBT Lainnya
0%
0%
0%
0.1%
0.5%
0.5%
0.5%
0.5%
Hydro
9%
8%
12%
6.8%
6.3%
6.2%
5.8%
5.3%
Panas Bumi
3%
3%
3%
5.1%
4.8%
4.8%
4.5%
5.3%
Gas
17%
25%
25%
21.0%
23.2%
22.1%
24.5%
24.0%
Batubara
35%
39%
38%
44.1%
51.4%
56.7%
57.6%
58.8%
Harga Minyak dan Batubara, 2005-2013
(Rp/kg)
(Rp/Liter)
10000.0
1000
9153
900
9000.0
8356
800
8000.0
792
792
700
7000.0
600
6000.0
500
5000.0
400
4000.0
300
3000.0
200
2000.0
100
1000.0
Batubara
BBM (HSD)
0
.0
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
10 Golongan Tarif Penerima Subsidi Terbesar 2011 (Audit BPK)
Realisasi dan Proyeksi Kebutuhan Listrik 2011-2020
350,000
328 TWh
300,000
250,000
241 TWh
200,000
150,000
100,000
55 TWh
50,000
-
31 TWh
Kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan tumbuh rata-rata 8,46% per tahun
(Jawa-Bali 7.8%, Indonesia Barat 10,2% dan Indonesia Timur 10,8%)
Ketidakadilan Subsidi Energi
Beberapa konsumen bisnis besar memperoleh jumlah subsidi yang signifikan
Bisnis: Fokus pada analisis dampak dari
kenaikan tarif konsumen dengan energi
intensif
Aktivitas dari top 200
pelanggan B3 dari segmen
Bisnis
Pelanggan dan proporsi subsidi
2011, persen
Persen konsumsi
1.98 jt
pelanggan.
B3
0.2%
14.5%
B2
100% =
Top 10 Pelanggan B3 Indonesia
Subsidi1,
Rp Miliar
Angkasapura
5.6 Airport
Rp 9 tn
44.8%
Others
Condo.
10%
8%
Mall
Supermal Karawaci
2.0
Shopping mall
Mulia Inti Pelangi
1.8
Shopping mall
Senayan City
1.6
Shopping mall
45%
HQ 17%
B1
85.3%
25.4%
10%
11%
Publik/ Hotel
airport
29.8%
Pelanggan
Subsidi
Segmen Bisnis
Top 200 pelanggan
memperoleh 34% subsidi
B3
1 Diestimasikan berdasarkan konsumsi bulanan dan tingkat rata-rata subdsidi
SUMBER:
PLN; Analisis tim SLA
27
Gandaria City
1.3
Shopping mall
Metro Kentj
1.3
Shopping mall
Ngurah Rai
1.2
Airport
Artha Gading
1.2
Shopping mall
Senayan Trikarya
1.1
Shopping mall
Pacific Place
1.1
Shopping mall
SUBSIDI LISTRIK
Dalam beberapa tahun terakhir, subsidi aktual berada
di atas perkiraan awal secara signifikan
Perbandingan subsidi rencana dan aktual dari Kementerian Keuangan
Rp Triliun, 2005-2011
+129%
90.8 93.0
APBN
APBN-P
+164%
Hasil Audit BPK
78.6
+52%
60.3
55.1 57.6
53.7
46.0 47.5
31.2 33.9
32.4
25.8
40.7
37.8
37.5
29.8
17.0
2006
07
08 1)
09
10
2011 2)
1) Pada tahun 2008, terjadi kenaikan harga minyak sebesar 65% dari tahun sebelumnya.
2) Pada tahun 2011, terjadi kenaikan harga minyak sebesar 35% dari tahun sebelumnya dan terjadi kenaikan pemakaian
BBM.
SUMBER: Kementerian Keuangan, RUPTL
28
Perkiraan beban subsidi dalam 5 tahun ke depan
berisiko membengkak hingga ~Rp 590 Triliun
Est. subsidi
2012-16
Perkiraan total subsidi yang dibutuhkan PLN untuk mendukung pertumbuhan
industri tenaga listrik
Rp Triliun
590
Rp Tn
140
131
119
120
121
104
102
101
100
118
Skenario
“Pessimistic”
440
93
Rp Tn
87
79
80
74
54
60
58
Di tahun 2012, anggaran subsidi
disetujui hanya Rp 65 Triliun – jika
berkelanjutan akan membahayakan
sustainability PLN juga penjaminan
Pemerintah
37
40
20
0
2005
06
07
08
09
Skenario dasar
PLN
77
10
SUMBER: Proyeksi Finansial PLN (Mei 2012), Analisis tim
11
29
12E
13E
14E
15E
2016E
PDB Dunia (nominal dan PPP), 2011
Source: World Economic Outlook IMF, 2012
PDB Asia Tenggara, 2010
Indonesia
Thailand
Malaysia
Singapore
Vietnam
Myanmar
Brunei D.
Cambodia
Lao Republic
Timor-Leste
0.000
100.000
200.000
300.000
400.000
500.000
600.000
700.000
800.000
Determinan Berbisnis di Indonesia


Iklim bisnis di Indonesia terutama ditentukan oleh 3 faktor, yakni: (1) keberadaan
infrastruktur, (2) korupsi, dan (3) birokrasi.
Pemerintah tidak boleh bangga bahwa APBN defisitnya kecil, karena tidak didukung dengan
belanja infrastruktur yang memadai. Idealnya, belanja infrastruktur minimal 5 persen
terhadap PDB.
APBN 2011 dan 2012 (Rp miliar)
A. Pendapatan Negara dan Hibah
I. Penerimaan Dalam Negeri
1. Penerimaan Perpajakan
a. Pajak Dalam Negeri
b. Pajak Perdagangan Internasional
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
II. Hibah
B. Belanja Negara
I. Belanja Pemerintah Pusat
1. K/L
2. Non K/L
II. Transfer ke Daerah
1. Dana Perimbangan
2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
III. Suspen
C. Keseimbangan Primer
D. Surplus/Defisit Anggaran (A-B)
% terhadap PDB
E. Pembiayaan
I. Pembiayaan Dalam Negeri
II. Pembiayaan Luar Negeri (netto)
APBN-P 2011
1.169.914,6
1.165.252,5
878.685,2
831.745,3
46.939,9
286.567,3
4.662,1
1.320.751,3
908.243,4
461.508,0
446.735,4
412.507,9
347.538,6
64.969,3
0,0
(44.252,9)
(150.836,7)
(2,1)
150.836,7
153.613,3
(2.776,6)
RAPBN 2012
1.292.877,7
1.292.052,6
1.019.332,4
976.898,8
42.433,6
272.720,2
825,1
1.418.497,7
954.136,8
476.610,2
477.526,7
464.360,9
394.138,6
70.222,3
0,0
(2.548,1)
(125.620,0)
(1,5)
125.620,0
125.912,3
(292,3)
Absorpsi Belanja APBN Amat Lemah
25
25
Philippines (2009)
Thailand (2008)
India (2007)
Indonesia (2009)
20
20
15
15
10
10
5
5
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Month

Problem besar APBN adalah ketidakberdayaan aparat birokrasi membelanjakan APBN secara
tepat waktu. Akibatnya, stimulus fiskal menjadi lemah. Pertumbuhan ekonomi menjadi tidak
optimal.
Indonesia: Poor Infrastructure Spending
12
10
8
6
4
2
0
Average Year 2005-2009 (%)

Belanja infrastruktur Indonesia hanya 3% terhadap PDB setahun. Jauh di bawah belanja yang
dilakukan China sebesar 10% terhadap PDB setahun.
Fenomena Kelas Menengah Indonesia: Sebuah Peluang
Class
Low
Middle
High


USD
2003
(%)
2003
(%)
< 1.25
21.9
1.25 - 2
40.3
2- 4
32.1
38.5
4-6
3.9
11.7
6 - 10
1.3
10-20
0.3
> 20
0.1
62.2
37.7
2010
(%)
14.0
29.3
5.0
2010
(%)
43.2
56.5
1.3
0.1
0.2
0.2
Kini terdapat 56,5% penduduk middle class (konsumsi USD 2-20/orang/hari) dan 0,2% high
class (konsumsi di atas USD 20/orang/hari).
Penduduk yang konsumsinya > USD 6/orang/hari mencapai 6,5% atau 16 juta orang. Yang
konsumsinya > USD 4/orang/hari mencapai 18,2% atau 45 juta orang.
Loan Growth and Nominal GDP
Cadangan Devisa Indonesia (US$ juta)
Sumber: Bank Indonesia
“Economic Outlook” 2012-2013
Economic
indicators
2011
2012*
2013*
GDP growth (%)
6.5
6.3
6.5
Inflation (%)
3.79
5.0
6.0
8,600-8,800
9,400-9,500
9,200
6.00
5.75
5.50
25
25
26
Exchange rate
(Rp/USD)
BI rate (%)
Loan growth (%)
Indikator Utama Ekonomi Indonesia
Indicator
Total GDP
∞ Rp 7,800 trillion
Population
245 million
Per capita GDP
USD 3,500/person/year
Economic growth
4.5% (2009), 6.1% (2010)
6.5% (2011), 6.3% (projected,2012)
Inflation rate
2.78% (2009), 6.96% (2010)
3.79% (2011), 4.56 (yoy end of July 2012)
Interest rate (BI rate)
5.75% (July 2012)
International reserve
USD 106 billion (September 2012)
Trade surplus (X-M)
USD 22.6 billion (2009); USD 22.12 billion (2010)
USD 23.6 billion (2011)
Government budget 2012
Rp 1,418 trillion (USD 150 billion)
Kesimpulan (1)
 Sampai sekarang, ketidakpastian (uncertainties) tentang krisis zona
euro masih tinggi. Penyebabnya, solusi krisis tetap tidak jelas.
Terutama soal kesediaan Yunani menjalani “diet ketat”, fiscal
austerity/discipline, sacrifice.
 Bailout untuk Yunani, mungkin cukup jelas magnitude-nya. Namun
bagaimana halnya dengan krisis Italia, lalu Spanyol, Portugal, dan
lain-lain?
 Salah satu ide penyelesaian krisis adalah membubarkan euro.
Bisakah ini diterima oleh Jerman dan Perancis? Tampaknya sulit.
 Karena ketidakpastian masa depan ekonomi global inilah maka akan
menyebabkan volatilitas euro, USD, dan akhirnya juga rupiah yang
cenderung melemah.
Kesimpulan (2)
 Pemerintah harus lebih giat mendorong stimulus fiskal. Defisit APBN
bisa dinaikkan menjadi 2-3% terhadap PDB, agar bisa mendorong
aggregate demand.
 Perlu disiplin tinggi untuk merealisasikan belanja fiskal, agar
penyerapan capital expenditure (capex) tinggi.
 Neraca perdagangan dan neraca traksaksi berjalan tertekan hebat.
Harus ada inisiatif untuk menetralisasikannya.
 Bank Indonesia menyerukan pengendalian ekspansi kredit agar tidak
terjadi overheating (perekonomian “kepanasan”).
 Indonesia perlu lebih aktif meninjau kembali kebijakan liberalisasi.
Liberalisasi tidak berarti tanpa batas (limitless). Semuanya ada
batasnya. Sedikit violating peraturan WTO kini menjadi necessary.
Kesimpulan (3)
 Subsidi BBM dan listrik semakin tidak rasional, ketika angkanya
mencapai Rp 200 triliun (BBM) dan Rp 100 triliun (TDL). Ini akan
sangat mengganggu fiscal sustainability. Karena itu, kenaikan harga
BBM bersubsidi dan TDL pada 2013 menjadi sebuah keharusan.
Inilah tahun terakhir dan terbaik, karena 2014 akan riskan secara
politis.
 Kenaikan harga BBM dan TDL harus diformulasikan sedemikian rupa
agar inflasin 2013 masih terkendali pada level 6%.
 Berdasarkan pengalaman selama ini, inflasi 6% masih affordable
(secara ekonomis) dan tolerable (secara politis) bagi masyarakat.
Perekonomian Indonesia saya yakini masih bisa tumbuh 6,5% pada
2013, atau sedikit naik dari 6,3% tahun ini.
©tonyprasetiantono.
©tonyprasetiantono.

similar documents