1. Teknologi Biobriket

Report
 Biomassa
adalah sejumlah unsur alam (bahan
organik) yang tersedia yang mengandung baik
secara langsung atau tidak langsung energi
dari cahaya matahari oleh proses fotosintesis
dengan bantuan sinar matahari.
 Dalam pemanfaatannya sebagai bahan bakar,
biomassa dapat dimanfaatkan langsung
sebagai bahan bakar misalnya kayu bakar,
atau diolah terlebih dahulu dalam bentuk
lain dengan memberikan beberapa perlakuan
misalnya diolah menjadi arang kayu atau
bioarang.
 dapat
diperbaharui,
 mudah diperoleh dimana-mana,
 memiliki nilai kalor yang relatif tinggi yaitu kurang
lebih 4.000 Kkal/kg
 harganya relatif lebih murah dibandingkan bahan
bakar lainnya
 Kelompok
biomassa meliputi limbah
pertanian, limbah perhutanan, limbah
agroindustri, kotoran binatang dan tanaman
air. Biomassa merupakan salah satu energi
alternatif yang memiliki sifat dapat
diperbarui (renewable energy) dan banyak
tersedia di alam.
 Beberapa contoh biomassa antara lain kulit
kelapa, ampas tebu, tongkol jagung, sekam
padi, jerami padi, kulit kopi, tempurung
kelapa dan serasah dedaunan misalnya daun
tebu.
 Arang
merupakan bahan padat yang berpori
dan merupakan hasil pengarangan bahan
yang mengandung karbon.
 Sebagian besar pori-pori arang masih
tertutup oleh hidrokarbon, tar, dan senyawa
organik lain yang komponennya terdiri dari
karbon tertambat ( fixed carbon), abu, air,
nitrogen dan sulfur.
 Bioarang
adalah arang (salah satu jenis bahan
bakar) yang dibuat dari aneka macam bahan
hayati atau biomassa, misalnya kayu,
ranting, daun-daunan, rumput, jerami dan
limbah pertanian lainnya.
 Bioarang ini dapat digunakan sebagai bahan
bakar yang tidak kalah dari bahan bakar
sejenis yang lain.
 Briket
adalah bahan bakar padat sebagai
sumber energi alternatif pengganti bahan
bakar minyak yang melalui proses karbonasi
kemudian dicetak dengan tekanan tertentu
baik dengan atau tanpa bahan pengikat
(binder) maupun bahan tambahan lainnya
 Bahan-bahan
utama pembuat briket
umumnya mempunyai ukuran partikel kecil
berbentuk serbuk, sebagai contoh serbuk
batubara muda, serbuk gergaji, sekam,
limbah pertanian, limbah kehutanan, ampas
atau arang, dan sebagainya
Pengelompokan bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan dalam
pembuatan briket dikelompokkan
berdasarkan jenisnya (sersah dedaunan,
ranting kecil, pecahan dahan, sekam,
serbuk gergaji, dan sebagainya)
2. Pengarangan.
Pengarangan atau karbonasi adalah suatu
proses untuk menghilangkan unsur-unsur
yang terdapat dalam briket yang apabila
dibakar akan membentuk asap dan
mengganggu lingkungan.
1.
3. Pencampuran dan penghalusan
 Semua arang dari masing-masing jenis bahan
dicampurkan kemudian dihaluskan dengan
cara dipukul-pukul atau dengan
menggunakan alat sampai hancur. Dalam
pembuatan briket, serbuk arang harus
diperhatikan kehalusannya.
 Biasanya ukuran serbuk antara 40-80 mesh.
4. Pembuatan dan pencampuran perekat
Arang yang sudah hancur kemudian dicampur
dengan sedikit perekat agar bahan campuran
dapat digumpalkan.
Dengan pemakaian perekat maka tekanan
yang diperlukan akan jauh lebih kecil bila
dibandingkan dengan briket tanpa memakai
bahan perekat
5. Pencetakan
Pencetakan briket dilakukan dengan
pemberian tekanan menggunakan alat
kempa. Pemberian tekanan pada briket
dapat mengakibatkan pemadatan atau
pengecilan volume sehingga luas
persinggungan atau luas kontak diperbesar
dan memungkinkan terjadinya ikatan antar
partikel yang lebih baik
6. Pengeringan Suhu dan waktu pengeringan
yang dipergunakan dalam pembuatan briket
tergantung dari kadar jumlah air campuran
dan mesin pengering. Suhu pengeringan yang
umum dilakukan adalah sebesar 60 °C selama
24 jam. Tujuan dari pengeringan adalah agar
briket menjadi kering dan kadar airnya dapat
disesuaikan dengan ketentuan kadar air
briket yang berlaku. Pengeringan dapat
dilakukan dengan bermacam-macam alat
seperti kiln, oven atau penjemuran
Kalori
Nilai kalori briket sangat berpengaruh pada
efisiensi pembakaran briket. Makin tinggi
nilai kalori briket makin bagus kualitas briket
tersebut karena efisiensi pembakarannya
tinggi
 2. Kadar air
Briket yang berkadar air tinggi akan
membutuhkan udara lebih banyak untuk
mengeringkan briket tersebut sehingga briket
sulit terbakar
1.
3. Kandungan zat terbang (volatile matters)
 Volatile matter adalah bagian dari briket
dimana akan berubah menjadi volatile
matter (produk) bila briket tersebut
dipanaskan tanpa udara pada suhu lebih
kurang 950 oC. Untuk kadar volatile matter ±
40% pada pembakaran akan memperoleh
nyala yang panjang dan akan memberikan
asap yang banyak. Sedangkan untuk kadar
volatile matter rendah antara 15 – 25% lebih
disenangi dalam pemakaian karena asap yang
dihasilkan sedikit.
4. Kadar abu
 Semua briket mempunyai kandungan zat
anorganik yang dapat ditentukan jumlahnya
sebagai berat yang tinggal apabila briket
dibakar secara sempurna. Zat yang tinggal ini
disebut abu. Abu briket berasal dari clay,
pasir dan bermacam-macam zat mineral
lainnya. Briket dengan kandungan abu yang
tinggi sangat tidak menguntungkan karena
akan membentuk kerak.
5. Kadar karbon
 Nilai kadar karbon diperoleh melalui
pengurangan angka 100 dengan jumlah kadar
air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat
terbang.
1.
2.
3.
4.
5.
Tidak berasap dan tidak berbau. Dimana asap ini dapat
dikurangi dengan melakukan karbonisasi atau
menggunakan perekat yang tidak berasap dan mampu
menyerap bau.
Mempunyai kekuatan tekan lebih dari 6 kg/cm2 sehingga
tidak mudah pecah saat dipindah atau diangkat.
Mempunyai suhu pembakaran tetap (350 °C) dalam
waktu yang lama (8-10 jam). Lama pembakaran dalam
suhu tetap (350 °C) dapat diusahakan dengan mengatur
pemasukan udara dalam batas tertentu akan
memperlama waktu pembakaran tanpa menurunkan
suhu.
Gas hasil dari proses pembakaran tidak mengandung CO
yang tinggi.
Tidak mengotori tangan, tidak cepat terbakar, dapat
menyala terus tanpa dikipas dan tidak memercik.
 Bahan
perekat organik adalah bahan
pencampur pada pembuatan briket yang
dapat merembes ke dalam permukaan
dengan cara terabsorbsi sebagian ke dalam
pori-pori atau celah yang ada, antara lain
seperti molase dan larutan kanji (pati
tapioka).
 Bahan perekat anorganik adalah bahan
pencampur pada pembuatan briket yang
berfungsi sebagai perekat antar permukaan
partikel-partikel yang tidak reaktif (inert)
dan berfungsi sebagai stabilizer selama
pembakaran, antara lain seperti tanah liat
Tujuan pencampuran perekat adalah untuk
memberikan lapisan tipis dari perekat pada
permukaan partikel bahan. Dengan pemakaian
perekat maka tekanan yang diperlukan akan jauh
lebih kecil bila dibandingkan dengan briket tanpa
memakai bahan perekat
 Semakin besar jumlah pengikat maka semakin
meningkatkan kekuatan dari briket sampai batas
tertentu. Untuk bahan baku yang sudah menjadi
arang, persentase pengikat dalam briket kurang
lebih 5 %. Sedangkan untuk bahan baku yang
masih mentah bisa mencapai 30 %.

Pemberian bahan perekat bertujuan untuk
menarik air dan membentuk tekstur yang padat
atau menggabungkan dua substrat yang akan
direkatkan.
 Kekuatan rekat dipengaruhi oleh sifat perekat,
alat yang digunakan, serta teknik perekatan.
 Pemberian tekanan disamping akan memberikan
kekuatan rekat yang kuat, juga meratakan bahan
pada permukaan dan memasukkan perekat
tersebut dalam pori-pori bahan.
 Faktor yang mempengaruhi pemilihan dan
penggunaan bahan perekat antara lain daya
serap terhadap air, harga, serta kemudahan
mendapatkannya

 Bahan
tambahan adalah bahan pencampur
pada pembuatan briket yang digunakan untuk
tujuan tertentu seperti kapur untuk
menangkap emisi gas SO2
 Penambahan kapur yang optimal pada briket
adalah 2-4%. Briket akan memiliki ketahanan
terhadap kelembaban dan meningkatkan
kekuatan mekanik serta dapat mengikat
senyawa biomassa untuk mempercepat atau
mempermudah proses pembakaran dan
menyerap emisi gas SO2
Terima
Kasih....

similar documents