Suku asmat - WordPress.com

Report
Nama : Iskandar Hidayat
Nim : 106032101074
Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan
aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain.Suku-suku tersebut ada yang tinggal
di pesisir pantai, perkotaan bahkan dipedalaman. Salah satu diantaranya Suku
Asmat. Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara
berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya
yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai
dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada
di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan,
kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk
mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara
perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis
demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah
perkampungan satu dengan lainnya.
Suku asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. populasi suku asmat
terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di
bagian pedalaman. kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara
hidup, sturktur sosial dan ritual. populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam
dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin
serta suku simai.
Orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia
gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam
tiap hari. Dalam keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat
di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam keyakinan orang
Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh
di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang
kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan.
Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa
itu namanya Fumeripitsy yang tampan . Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke
arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang
ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat
membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang
mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, desa Syuru sekarang. Untung ada
seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali, kemudian
ia membangun rumah yew dan mengukir dua patug yang sangat indah serta
membuat sebuah genderang em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah ia selesai, ia
mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari
gerakannya itu memberi kehidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama
kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka
kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang
Asmat (Zegwaard 1955)
Sesudah itu datang lagi seekor buaya raksasa yang juga mencoba menyerang
kedua manusia pertama tadi, tetapi Fumeripitsy dapat membunuhnya juga,
kepala buaya itu dipenggalnya dan badannya dipotong-potong menjadi bagianbagian yang kecil, yang dilemparkannya ke semua penjuru mata angin. Potongan
buaya tadi itulah yang menjadi nenek-moyang suku-suku bangsa lain yang
tinggal di sekeliling tempat tinggal orang Asmat dan yang menjadi musuh
mereka. Dengan demikian mite ini menggambarkan tindakan pengayauan
pertama dan penciptaan manusia musuh Asmat oleh Fumeripitsy. Mite itu juga
melambangkan proses daur ulang hidup dan mati(Smith 1970; Schneebaum 1985).
Konsep tradisional orang Asmat tentang hidup didasarkan pada keyakinan akan
adanya suatu daerah di seberang ufuk terurai tadi. Kerena itu apabila nenekmoyang mengendaki kelanjutan keturunan, mereka mengirimkan suatu ruh
tertentu ke bumi melalui seberkas sinar matahari, yang mendarat di atas atap
rumah tempat tinggal wanita. Yang telah ditakdirkan menjadi ibu anak asal ruh
tadi. Wanita itu akan hamil dan kemudian melahirkan bayi. Walaupun orang
Asmat tahu bahwa hubungan seks berkaitan dengan kelahiran bayi, fungsinya
hanya untuk memberi bentuk sebagai manusia kepada ruh yang masuk ke dalam
kandungan ibu itu. Dalam hal ini peranan ayah si bayi sama dengan seorang
pemahat patung yang memberi bentuk kepada kayu yang disediakan oleh alam
kepadanya (Zegwaard 1953).
Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam
berbagai macam ruh yang mereka bagi dalam tiga golongan, yaitu:
- yi-ow ruh nenek moyang yang sifat dasarnya baik, terutama bagi keturunannya.
- Osbopan atau ruh jahat yang membawa penyakit dan bencana.
-dambin-ow auat roh jahat orang yang mati konyol (Zegwaard 1953).
Ruh-ruh yi-ow adalah penjaga hutan-hutan sagu, danau-danau dan sungai-sungai
yang penuh ikan dan hutan-hutan yang penuh binatang buruan. Orang Asmat
berkomunikasi secara simbolis dengan para yi-ow dengan berbagai upacara sajian
berulang yang biasanya dipimpin oleh ndembero, atau pemuka upacara. Ruh-ruh
ozbopan menghuni beberapa jenis pohon tertentu, gua-gua yang dalam, batubatu besar yang mempunyai bentuk khusus, tetapi juga hidup dalam tubuh jenisjenis binatang tertentu. Sakit dan bencana biasanya disebabkan oleh ruh jahat,
yang juga harus dipuaskan oleh manusia dengan berbagai macam upacara sajian.
Berbeda dengan upacara-upacara sajian untuk berkomunikasi dengan para yi-ow,
upacara sajian kepada para osbopan tak dilakukan secara berulang, tetapi hanya
kalau ada orang yang sakit dan bila terjadi bencana. Ruh-ruh itu diupayakan agar
tidak terlampau sering mendekati tempat tinggal manusia, dengan melakukan
serangkaian pantangan, dan kadang-kadang dengan ilmu gaib protektif.
Dalam masyarakat asmat orang mati selalu bersama dengan orang hidup,
sebab hubungan mati dan hidup adalah hal yang tak bisa dipisahkan, meski
menerima pandangan setiap orang akan mati. Orang asmat tidak mengakui
adanya kematian alamiah, apakah karena usia, kecelakaan, sakit, kematian
seseorang itu dianggap sebagai perbuatan musuh. Kematian disebabkan oleh
sebuah kekuatan gaib yang melemahkan tubuh dan roh korban, yang akhirnya
mati.
Jika dendam seseorang yang mati tidak dibalaskan, jiwanya dipercaya akan
menimbulkan kesialan bagi yang masih hidup. Untuk mengingatkan perlunya
membalas dendam, orang asmat mebuat patung yang mewakili pada haluan
perahu, dayung, dan perisai.
Orang mati di kubur di depan rumah kaum laki-laki, dengan kaki mengarah
kearah laut ( tempat alam leluhur ). Mayit orang mati di bungkus daun sagu
hingga kering, di letakan di depan rumah laki-laki sampai membusuk. Dan
keluarga yang hidup menggunakan tengkoraknya sebagai kalung, bantal, agar
rohnya bisa membantu dalam kehidupanya.
orang asmat
mebuat patung
Simbol Untuk
mengingatkan
perlunya membalas
dendam pada perisai
Dendam orang mati dibalas dengan menyerang desa musuh dan mengambil
kepala manusia, kepala manusia untuk menjamin kesejatraan batin dan
kesuburan masyarakat. Jika dendam orang mati tidak di balas, leluhur tidak
senang dan akan menarik kembali perlindungannya. Jadi kepala musuh yang
di hias sebagai perhiasan menjadi bukti balas dendam.
Janji balas dendam adalah upacara pendirian tiang bisj. Bisj ini sebuah
patung yang laki-laki, permpuan , dan anak-anak yang telah mati. Dibuat
setinggi 5 meter sosok teratas tiang berupa benda menonjol berbentuk
bendera yang disebut tsjemen ( penis ), sebagai latihan balas dendam, mereka
membuat bisj , yaitu bentuk tiruan pemenggalan kepala.
Pemahat menghadap ke pohon seolah menghadap musuh dan menepas kulit
pohon hingga getah merah mengalir seolah darah manusia. Lalu pohon dibawa
ke kampung, perempuan menyambutnya seolah musuh telah di bantai.
Perjalanan terakhir orang mati

Setelah yang hidup membalas dendam yang mati jiwanya dapat
melanjutkan perjalanan ke alam leluhur peristiwa ini di rayakan pada eskatologi
pesta jipae

Roh orang mati di undaang kembali kedesa untuk kunjungan terakhir
kali sebelum meninggalkan kelompok untuk selam-lamnya

Pada mulanya jipe di rumah pria secara rahasia dibuat topeng
menyerupai bentuk orangyang terbentuk dari tali (mewakili yang mati)
kemudian di kenalkan kepada orang yang mepunyai hak dan kewajiban
dari orang yang sudah mati seperti orang tua anak yatim yang di
tinggalkan.

Pada pakaian upacara dibuat, persedian makanan di timbun, orang
bernyanyi, memanggil orang mati keluar dari hutan. Disinilah mereka
merayakan perayaan terakhir.

Pada hari kematia yang mewakili si mati memasuki desa, muncul dari
semak, menggunakan pakaian tali, menyebut nama yang mati satu
persatu, lalu bercerita bahwa mereka sedang melakukan perjalanan jauh
dan panjang di barat, mencari makanan, dan tempat berlindung. Hingga
akhirnya setelah mengikuti tarian sepanjang malam di rumah kaum pria,
pada saat fajar buta roh orang mati ini menghilang ke hutan.
Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini
yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat
sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan
Pakaian
Asmat
 Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok
mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai
pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling
pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat
pinggang dari anyaman rotan
 Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam
cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbairumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian
belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai
cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat
semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang
disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar
pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai
oleh istri panglima perang.
Bukan porno
Lookh…………
Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan
status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status
sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang
dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki
makna simbolik
Masyarakat Asmat, pun kebanyakan masyarakat asli Irian
Jaya, konon, sangat mengagumi burung kakatua raja
lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. Maka untuk
bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka,
terutama kaum lelaki, melubangi cuping tengah hidung
mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa
benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada
lubang hidung, agar ujung hidung tertarik sehingga
mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja
Rumah
suku asmat
Anyir aing boga leptop
auy……..?
Kehidupan suku asmat
Sampai baerjum kembali
kaka…
Beta merindukan mu……..

similar documents