PEMBAHASAN PENGERTIAN EJAAN Ejaan adalah keseluruhan

Report
PEMBAHASAN
PENGERTIAN EJAAN
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi
ujaran, bagaimana menempatkan tanda-tanda baca, bagaimana memotongmotong suatu kata, dan bagaimana menggabungkan kata-kata.
Ejaan adalah aturan tulis menulis. Secara lengkap dapat dikatakan bahwa
ejaan adalah keseluruhan peraturan tentang bagaimana melambangkan bunyibunyi ujaran dan bagaimana hubungan antarlambang tersebut (pemisahan dan
penggabungan dalam suatu bahasa). Secara teknis ejaan adalah aturan tulismenulis dalam suatu bahasa yang berhubungan dengan penulisan huruf,
pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian
tanda baca.
Masalah ejaan adalah masalah tulis-menulis dalam bahasa Indonesia. Dalam
usaha memodernkan bahasa Indonesia, cara menulis atau aturan tulis-menulis
dalam bahasa Indonesia sangat perlu diutamakan karena tulisan merupakan
tempat pencurahan konsep pikir para penulis itu sendiri. Dalam hubungan itu,
suatu komunikasi yang dilakukan dengan tulis-menulis (dalam arti komunikasi
jarak jauh dengan surat, umpamanya) harus menerapkan ejaan. Oleh sebab
itu, materi ejaan akan dipakai oleh semua sasaran pembina bahasa Indonesia.
Bagi masyarakat umum, masalah ejaan barangkali saja masih berkutat pada
masalah keniraksaraan sehingga masyarakat tersebut harus dibina dalam hal
pengenalan aksara latin.
SEJARAH PERKEMBANGAN EJAAN DI INDONESIA
Kalau kita melihat perkembangan bahasa Indonesia sejak dulu sampai sekarang, tidak terlepas
dari perkembangan ejaannya. Kita ketahui bahwa beberapa ratus tahun yang lalu bahasa
Indonesia belum disebut bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Nama Indonesia itu baru
datang kemudian.
Kita masih ingat pada masa kerajaan Sriwijaya, Ada beberapa prasasti yang bertuliskan bahasa
Melayu Kuno dengan memakai huruf Pallawa (India) yang banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta,
seperti juga halnya bahasa Jawa Kuno. Jadi bahasa pada waktu itu belum menggunakan huruf
Latin. Bahasa Melayu Kuno ini kemudian berkembang pada berbagai tempat di Indonesia,
terutama pada masa Hindu dan masa awal kedatangan Islam (abad ke-13). Pedagang-pedagang
Melayu yang berkekeliling di Indonesia memakai bahasa Melayu sebagai lingua franca , yakni
bahasa komunikasi dalam perdagangan, pengajaran agama, serta hubungan antarnegara dalam
bidang ekonomi dan politik.
Lingua franca ini secara merata berkembang di kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat lalu
lintas perdagangan. Banyak pedagang asing yang berusaha untuk mengetahui bahasa Melayu
untuk kepentingan mereka. Bahasa Melayu ini mengalami pula penulisannya dengan huruf Arab
yang juga berkembang menjadi huruf Arab-Melayu. Banyak karya sastra dan buku agama yang
ditulis dengan huruf Arab-Melayu. Huruf ini juga dijadikan sebagai ejaan resmi bahasa Melayu
sebelum mulai digunakannya huruf Latin atau huruf Romawi untuk penulisan bahasa Melayu,
walaupun masih secara sangat terbatas.
Ejaan latin untuk bahasa Melayu mulai ditulis oleh Pigafetta, selanjutnya oleh de Houtman,
Casper Wiltens, Sebastianus Dancaert, dan Joannes Roman. Setelah tiga abad kemudian ejaan ini
baru mendapat perhatian dengan ditetapkannya Ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1901.
Keinginan untuk menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen terdengar dalam Kongres Bahasa
Indonesia I, tahun 1938 di Solo, yang sembilan tahun kemudian terwujud dalam sebuah Putusan
Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan, 15 April 1947, tentang perubahan ejaan baru.
Perubahan tersebut terlihat, antara lain, seperti di bawah ini.Â
Keinginan untuk menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen terdengar dalam Kongres Bahasa
Indonesia I, tahun 1938 di Solo, yang sembilan tahun kemudian terwujud dalam sebuah Putusan
Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan, 15 April 1947, tentang perubahan ejaan baru.
Perubahan tersebut terlihat, antara lain, seperti di bawah ini.Â
Van Ophuijsen 1901
Soewandi 1947
Boekoe
buku
ma’lum
maklum
’adil
adil
mulai
mulai
masalah
masalah
tida’
tidak
pende’
pendek
Perubahan Ejaan bahasa Indonesia ini berlaku sejak ditetapkan pada tahun 1947. Waktu
perubahan ejaan itu ditetapkan rakyat Indonesia sedang berjuang menentang kembalinya
penjajahan Belanda. Penggunaan Ejaan 1947 ini yang lebih dikenal sebagai Ejaan Soewandi atau
Ejaan Republik, sebenarnya memancing reaksi yang muncul setelah pemulihan kedaulatan (1949).
Reaksi ini kemudian melahirkan ide untuk mengadakan perubahan ejaan lagi dengan berbagai
pertimbangan mengenai sejumlah kekurangan.
Gagasan mengenai perubahan ejaan itu muncul dengan nyata dalam Kongres Bahasa Indonesia II
di Medan (1954). Waktu itu Menteri Pendidikan dan Kebudajaan adalah Mr. Muh. Yamin. Dalam
kongres itu dihasilkan keputusan mengenai ejaan sebagai berikut :
Ejaan sedapat-dapatnya menggambarkan satu fonem dengan satu huruf.
Penetapan ejaan hendaknya dilakukan oleh satu badan yang kompeten.
Ejaan itu hendaknya praktis tetapi ilmiah.
Keputusan kongres ini kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah, yang menghasilkan konsep
sistem ejaan yang disebut Ejaan Pembaharuan. Namun Ejaan ini tidak dapat dilaksanakan karena
adanya beberapa huruf baru yang tidak praktis,yang dapat memengaruhi perkembangan ejaan
bahasa Indonesia.
Terilhami oleh Kongres Bahasa Indonesia II di Medan (1954), diadakan pula kongres bahasa
Indonesia di Singapura (1956) yang menghasilkan suatu resolusi untuk menyatukan ejaan bahasa
Melayu di Semenanjung Melayu dengan ejaan bahasa Indonesia di Indonesia. Perkembangan
selanjutnya dihasilkan suatu konsep ejaan bersama yang diberi nama Ejaan Melindo (Ejaan
Melayu-Indonesia). Namun, rencana untuk meresmikan ejaan ini pada tahun 1962 mengalami
kegagalan karena adanya konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia beberapa tahun kemudian.
Pada tahun 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) membentuk sebuah panitia yang
diketuai oleh Anton M. Moeliono dan mengusulkan konsep baru sebagai ganti konsep Melindo.
Pada tahun 1972, setelah melalui beberapa kali seminar, akhirnya konsep LBKÂ menjadi konsep
bersama Indonesia-Malaysia yang seterusnya menjadi Sistem Ejaan Baru yang disebut Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD). Kalau kita beranalogi dengan Ejaan Van Ophuijsen dan Ejaan Soewandi,
EYD dapat disebut Ejaan Mashuri, karena pada waktu itu Mashuri sebagai Mnteri
Kebudayaan memperjuangkan EYD sampai diresmikan oleh presiden.
Ada empat ejaan yang sudah diresmikan pemakaiannya yaitu :
Ejaan Van Ophuijsen (1901)
Ejaan Soewandi (1947)
Ejaan Yang Disempurnakan (1972)
Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan (1975)
Sistem ejaan yang belum atau tidak sempat diresmikan oleh pemerintah adalah :
Ejaan Pembaharuan (1957)
Ejaan Melindo (1959)
Ejaan LBK (1966)
Ejaan yang diresmikan
Ejaan Van Ophuijsen
Aksara Arab Melayu dipakai secara umum di daerah Melayu dan daerah-daerah yang telah
menggunakan bahasa Melayu. Akan tetapi, karena terjadi kontak budaya dengan dunia Barat,
sebagai akibat dari kedatangan orang Barat dalam menjajah di Tanah Melayu itu, di sekolahsekolah Melayu telah digunakan aksara latin secara tidak terpimpin. Oeh sebab itu, pada tahun
1900, menurut C.A. Mees (1956:30), Van Ophuijsen, seorang ahli bahasa dari Belanda mendapat
perintah untuk merancang suatu ejaan yang dapai dipakai dalam bahasa Melayu, terutama untuk
kepentingan pengajaran. Jika penyususnan ejaan itu tidak cepat-cepat dilakukan, dikhawatirkan
bahwa sekolah-sekolah tersebut akan menyusun dengan cara yang tidak terpimpin sehingga akan
muncul kekacauan dalam ejaan tersebut.
Dalam menyusun ejaan tersebut, Van Ophuijsen dibantu oleh dua orang pakar bahasa dari
Melayu, yaitu Engkoe Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Soetan Ibrahim. Dengan
menggabungkan dasar-dasar ejaan Latin dan Ejaan Belanda, Van Ophuijsen dan teman-teman
berhasil membuat ejaan bahasa Melayu, yang ejaan tersebut lazim disebut sebagai “Ejaan Van
Ophuijsen”. Ejaan tersebut diresmikan pemakaiannya pada tahun 1901. Ejaan van Ophuijsen
dipakai selama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun
Indonesia merdeka.
Huruf-huruf yang mendukunng Ejaan Van Ophuijsen adalah sebagai
berikut:
Bunyi vocal
A
ẻ
E
i
Bunyi diftong
ai
Au
Oi
oe
Bunyi konsonan
B
P
M
D
T
R
Bunyi hamzah
‘
Bunyi ain
‘
Bunyi trema
..
Bunyi asing
ch
o
u
g
k
ng
N
dj
tj
nj
S
L
j
h
w
Sj
Z
Dengan adanya ejaan tersebut, kita akan mendapatkan penulisan kata dalam bahasa Melayu
sebagai berikut: ajam, elang, ekor, itik, orang, oelar, petai, kerbau, amboi, kapal, galah, tjerah,
djala, tikar, darah, pasar, hilah, rasa, lipat, warna, soedah, habis, singa, njanji, mana, tida’, akal,
mulai. Pemakaian angka dua menyakan perulangan tidak dibenarkan. Pengulangan penyabutan
sebuah kata harus dilakukan dengan menulis secra lengkap kata tersebut.
Ejaan Van Ophuijsen belum dikatakan berhasil karena ia dan teman-temannya mendapat
kesulitan memelayukan tulisan beberapa kata yang diambil dari bahasa Arab, yang mempunyai
warna bunyi bahasa yang khas. Oleh sebab itu, dia memilih bunyi ch, sj, z, f, secara tidak taat asas
karena sudah pula banyak bahasa Arab yang dimelayukan sehingga empat huruf itu tidak terpakai
dengan baik. Kemudian, muncul persoalan warna bunyi dari Arab yang disebut hamza dan ain,
yang dilambangkannya masing-masing dengan tanda apostrof (‘). Kesukaran-kesukaran itu selalu
diperbaiki dan disempurnakan oleh Van Ophuijsen. Ejaan tersebut secara lengkap termuat dalam
buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe. Pada tahun 1926, sistem ejaan mendapat bentuk yang
tetap.
Ejaan Republik (Ejaan Soewandi)
Beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka yakni pada masa pendudukan Jepang, pemerintah
sudah mulai memikirkan keadaan ejaan kita yang sangat tidak mampu mengikuti perkembangan
ejaan internasional. Oleh sebab itu, Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
melakukan pengubahan ejaan untuk menyempurnakan ejaan yang dirasakan sudah tidak sesuai
lagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, pada tahun 1947
muncullah sebuah ejaan yang baru sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen. Ejaan tersebut
diresmikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr.
Soewandi, pada tanggal 19 Maret 1947 yang disebut sebagai Ejaan Republik. Karena Menteri
Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan adalah Dr. Soewandi, ejaan yang diresmikan itu disebut
juga sebagai Ejaan Soewandi.
Hal-hal yang menonjol dalam Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik itu adalah sebagai berikut :
Huruf /oe/ diganti dengan /u/, seperti dalam kata berikut :
goeroe menjadi guru
itoe menjadi itu
oemoer menjadi umur
Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan /k/, seperti dalam kata berikut :
tida’ menjadi tidak
Pa’ menjadi Pak
ma’lum menjadi maklum
ra’yat menjadi rakyat
Angka dua boleh dipakai untuk menyatakan pengulangan, seperti kata berikut :
Beramai-ramai menjadi be-ramai2
Anak-anak menjadi anak2
Berlari-larian menjadi ber-lari-2an
Berjalan-jalan menjadi ber-jalan2
Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti berikut :
diluar (katadepan), dikebun (katadepan), ditulis (awalan),diantara (katadepan), disimpan (awalan), dipimpin (walan),dimuka (katadepan), diti
mpa (awalan), disini (kata depan).
Tanda trema tidak dipakai lagi sehingga tidak ada perbedaan antar suku kata diftong, seperti kata berikut :
Didjoempaϊ menjadi didjumpai
Dihargaϊ menjadi dihargai
Moelaϊ menjadi mulai
Tanda aksen pada huruf e tidak dipakai lagi, seperti pada kata berikut
ẻkor menjadi ekor
hẻran mejadi heran
mẻrah menjadi merah
berbẻda menjadi berbeda
Di hadapan tj dan dj, bunyi sengau ny dituliskan sebagai n untuk mengindahkan cara tulis
Menjtjuri menjadi mentjuri
Menjdjual menjadi mendjual
Ketika memotong kata-kata di ujung baris, awalan dan akhiran dianggap sebagai suku-suku kata yang terpisah
be-rangkat menjadi ber-angkat
atu-ran menjadi atur-an
Huruf-huruf q, x, dan y tidak diatur pemakainnya dalam ejaan. Huruf chanya dipakai dalam hubungannya dengan huruf ch.

similar documents