Materi Ajar Bab 8. Manajemen Risiko Bank

Report
Bab 8. Manajemen Risiko
Bank Syariah
Oleh
Gita Danupranata
1
proses identifikasi, pengukuran,
pemantauan, dan pengendali risiko
1. Pemetaan Risiko Bisnis
2. Alat Modeling
3. Teknik mengidentifikasi dan menilai
risiko
4. Peran Internet/Intranet
2
Pemetaan Risiko Bisnis
• Membuat daftar berbagai risiko yang ada, dengan
mengelompokkannya ke dalam sebuah kuadran tergantung
tinggi-rendahnya tingkat kemungkinan terjadi, dan dapat
berdampak kepada rugi yang besar atau kecil.
• Membuat peta yang menyajikan kajian perbandingan antara
Risiko Kredit, Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, dan Risiko
Operasional yang dihadapi Bank. Dengan membandingkan
risiko pada sebuah matriks antara dampak dan
frekuensinya, manajemen akan dapat melihat gambaran
menyeluruh dari semua risiko berikut keterkaitannya satu
sama lain.
3
Alat Modeling
Alat modeling ini akan memudahkan para
manajer untuk mengelola ketidakpastian.
Analisis scenario dan model proyeksi
merupakan model yang paling sering
digunakan.
4
Teknik mengidentifikasi dan menilai risiko
Kelompok teknik ini akan membantu
Manajemen dalam hal menetapkan
focus/memberikan perhatian dan
mengakomodasi seluruh kegiatan
pengelolaan Risiko.
5
Peran Internet/Intranet
Pemakaian Internet/Intranet semakin meningkat
dalam mengelola Risiko. Alat ini digunakan
untuk mempromosikan kewaspadaan dan
pengelolaan Risiko, untuk mendapatkan
informasi mengenai Risiko untuk area tertentu,
berkomunikasi dengan pegawai, berbagai
informasi mengenai Manajemen Risiko dengan
Bank lain, dan mengkomunikasikan tujuan
Manajemen Risiko Bank kepada publik
6
Manajemen Risiko
Bagaimana memperlakukan resiko
EPI FAI UMY
1.
2.
3.
4.
5.
Dihindari, apabila resiko tersebut masih dalam pertimbangan
untuk diambil, misalnya karena tidak masuk kategori Resiko yang
diinginkan Bank atau karena kemungkinan jauh lebih besar
dibandingkan keuntungan yang diharapkan
Diterima dan dipertahankan, apabila resiko berada pada tingkat
yang paling ekonomis
Dinaikkan, diturunkan atau dihilangkan, apabila resiko yang
ada dapat dikendalikan dengan tata kelola yang baik, atau melalui
pengoperasian exit strategy
Dikurangi, misalnya dengan mendiversifikasi portofolio yang ada,
atau membagi (share) resiko dengan pihak lain
Dipagari (hedge), apabila resiko dapat dilindungi secara atificial,
misalnya resiko dinetralisir sampai batas tertentu dengan instrumen
derivatif.
PENGUKURAN RISK-BASED BANK RATING
(RBBR)
Tanggal 5 Januari 2011 Bank Indonesia mengeluarkan
peraturan baru mengenai penilaian tingkat kesehatan bank
umum melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI)
No.13/1/PBI/2011 yang menyebabkan terjadinya perubahan
tata cara penilaian dan pelaporan bank. Munculnya
peraturan ini adalah dalam rangka meningkatkan efektivitas
penilaian tingkat kesehatan bank dengan pendekatan
berdasarkan risiko dan menggunakan 4 faktor pengukuran
yaitu profil risiko (risk profile), good corporate governance
(GCG), rentabilitas (earnings), dan permodalan
(capital). Keempat faktor ini adalah satu kesatuan nilai yang
akan menjadi hasil akhir peringkat tingkat kesehatan bank.
8
Dalam PBI yang mengatur RBBR ini
menyebutkan bahwa bank wajib
memelihara dan/atau meningkatkan
tingkat kesehatan bank dengan
menerapkan prinsip kehati-hatian dan
manajemen risiko dalam melaksanakan
kegiatan usaha.
9
RBBR merupakan integrasi antara 2
sistem rating yg berbeda yaitu CAMELS
dan risk profile dimana sebelumnya
pada risk profile ada 9 item risiko dan 6
poin pada CAMELS yang menjadi 4
faktor penilaian RBBR menjadi single
rating system
10
Pada tataran implementasi, tantangan yang
teridentifikasi baik dari pihak Bank Indonesia
maupun dari pihak bank adalah:
1. Mengubah mindset dari kuantitatif
menjadi analytical thinking yang didasari
oleh analisis atas fakta-fakta
2. Mengubah konsep dan aplikasi risiko
inheren (inherent risk)
3. Konsep analisis dan rasio-rasio baru
4. Metodologi baru untuk mengaitkan modal
dengan risiko
11
12
Konsep Risk Based Bank Rating (RBBR)
Penilaian RBBR mencakup empat faktor
yaitu :
i). Pelaksanaan Good Corporate
Governance (GCG),
ii). Profil Risiko,
iii). Earning (pendapatan) &
iv). Capital (permodalan).
13
14
Pelaksanaan Good Corporate Governance
Pertama, transparansi (transparency), yaitu keterbukaan dalam
mengemukakan informasi informasi yang material dan relevan serta
keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan.
Kedua, akuntabilitas (accountability)yaitu kejelasan fungsi dan
pelaksanaan pertanggungjawaban organ Bank sehingga
pengelolaannya berjalan secara efektif.
Ketiga, pertanggungjawaban (responsibility) yaitu kesesuaian
pengelolaan Bank dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan Bank yang sehat.
Keempat, independensi (independency)yaitu pengelolaan Bank secara
profesional tanpa pengaruh/tekanan dari pihak manapun.
Kelima, kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam
memenuhi hak-hakstakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
15

similar documents