MANASIK - Umrah Haji

Report
MANASIK
UMRAH
HAJI
UMRAH
•
•
•
•
•
•
Ihram
Miqat
Talbiyah
Thawaf
Sa’I
Tahallul
UMRAH
Niat Umrah :
Labbaikkallahumma ‘umratan
Artinya : “Aku sambut panggilan-Mu Ya Allah untuk berumrah”.
IHRAM
• Disunnahkan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk haji
atau umrah.
• Laki-laki mengenakan baju Ihram dengan syarat tidak berjahit,
serta sandal yang tidak menutupi mata kaki.
• Laki-laki tidak boleh mengenakan peci atau sejenisnya yang
langsung menutupi kepala. Sedangkan wanita, mengenakan
semua pakaian (termasuk jilbab), tetapi tidak boleh
mengenakan sarung tangan dan cadar (niqab) atau sejenisnya.
• Boleh mengenakan pakaian ihram sebelum Miqat sekalipun
dari rumahnya.
• Memakai minyak wangi dengan syarat tidak meninggalkan
warna, kecuali kaum wanita, mereka hanya boleh
mengoleskan minyak olesan tapi tidak wangi.
Pakaian Ihram untuk Laki - laki
Pakaian Ihram untuk Wanita
Doa Ihram
Allahumma inni uharrimu nafsi min kulli ma harramta ‘alal
muhrimi farhamni ya arhamarrahimin
Artinya :
“Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan diriku dari segala apa
yang Engkau haramkan kepada orang yang berihram karena itu
rahmatilah aku ya Allah yang Maha Pemberi rahmat”
MIQAT (Tempat Ihram)
• Dzulhulaifah adalah miqat penduduk Madinah ( dan orang-orang
yang melewatinya).
• Al-Juhfah adalah miqat penduduk Syam, Mesir, dan juga Madinah
apabila menempuh jalan lain.
• Qarna al-Manazil adalah miqat penduduk Najed.
• Yalamlam adalah miqat penduduk Yaman.
• Dzatu Irq adalah miqat penduduk Irak.
Biasanya jamaah Haji dari Indonesia melewati dua miqat. Kloter
awal lewat Madinah, maka miqatnya adalah Dzulhulaifah.
Sedangkan kloter akhir biasanya langsung ke Jeddah, maka untuk
mereka ini wajib niat ihram dari Yamlamlam, sebelum masuk
daerah Jeddah.
Lokasi Miqat (Tempat Ihram)
Dibuat seperti animasi di
http://www.drkhalid.co.uk/hajj/Umrah.html
TALBIYAH
• Menghadap Kiblat sambil berdiri, kemudian bertalbiyah dengan
Umrah (untuk Haji Tamattu) atau dengan Haji dan Umrah (untuk
Haji Qiran bagi mereka yang menggiring binatang kurban).
• Kemudian bertalbiyah dengan talbiyah Nabi
"Labbaik Allahumma Labbaik,Labbaik laa syarikka laka labbaik,
Innal haamda wanni'mata laka wal mulk Laa syariika laka."
Artinya : "Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku datang
memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya, Ya Allah aku
penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran
untukMu semata-mata. Segenap kerajaan untukMu. Tidak ada
sekutu bagiMu“.
• Kosisten dengan talbiyah Nabi terus menerus adalah lebih utama,
sekalipun boleh menambah talbiyah beliau tersebut.
• Orang yang bertalbiyah diperintahkan untuk mengeraskan suara ketika
bertalbiyah, berdasarkan sabda Nabi, “Aku didatangi oleh Jibril dan
memerintahkanku agar aku memerintahkan para sahabatku dan semua
orang yang bersamaku untuk mengeraskan suara mereka dengan
talbiyah”.
• Kaum wanita juga sama dengan laki-laki dalam hal mengangkat suara
ketika bertalbiyah, karena keumuman hadits di atas tadi.
• Hendaklah terus menerus mengumandangkan talbiyah, karena itu
termasuk di antara Syi’ar Haji.
• Boleh menyelinginya dengan takbir dan Tahlil.
• Apabila telah sampai Masjidil Haram dan lihat Ka’bah, orang yang
bertalbiyah berhenti bertalbiyah, untuk berkonsentrasi dengan amalamal berikut.
THAWAF
•
•
•
Thawaf ialah mengelilingi sekitar Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Tiga putaran
pertama dilakukan dengan berlari-lari kecil, dan empat putaran berikutnya
dengan berjalan.
Syarat Thawaf
- Suci dari Hadas dan Kotoran
- Menutup Aurat
- Thawaf harus di dalam Masjidil Haram
- Baitullah harus berada di samping kiri orang yang thawaf
- Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan
berakhir di Hajar Aswad
- Putaran thawaf dilakukan tanpa jeda, kecuali karena keadaan
darurat. Jika terdapat jeda tanpa ada uzur, thawaf tidak sah dan harus diulang.
Sunnah Thawaf
– Al-Idhthiba, yaitu membuka ketiak kanan. Hanya disunnahkan bagi lakilaki.
– Mencium Hajar Aswad ketika mulai thawaf, jika memungkinkan. Jika tidak
cukup menyentuh dengan tangan atau memberi isyarat.
•
•
•
•
– Ketika memulai putaran pertama thawaf membaca,
“Bismillaahi Wallaahu Akbar”
Artinya : Dengan nama Allah, Allah Mahabesar.
– Mengisi thawaf dengan doa apa saja yang kita inginkan.
– Mengusap Rukhul Yamani pada setiap putaran bila memungkinkan, tetapi
bila tidak memungkinkan lewatkan saja, lalu bacalah doa,
“ Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqinaa
adzaabannar”
Artinya : Ya Tuhan kami, beri kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat
dan jauhkan kami dari siksa neraka.
Berdoa di Multazam usai thawaf, Mulatazam ialah tempat di antara pintu
Baitullah dengan Hajar Aswad.
Shalat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim. Pada rakaat pertama membaca
surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca Al-Ikhlas.
Meminum air zam-zam setelah shalat dua rakaat di makam Ibrahim.
Mencium Hajar Aswad atau istilam (memberi isyarat) lagi sebelum pergi ke
tempat Sa’i.
Tata Cara Thawaf
Animasi di buat seperti di
http://www.drkhalid.co.uk/hajj/Umrah.html
SA’I
•
•
•
(Bila thawaf telah usai), maka seorang yang Haji beranjak untuk melakukan Sa’i
antara Shafa dan Marwah. Jika telah dekat dengan Shafa, dia membaca Firman
Allah, “ Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar
Allah. Barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak
ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barang siapa yang
menngerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah
Maha Mensyukuri ( membalas ) kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (AlBaqarah:158) Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan “ Kami mulai dengan
apa yang Allah mulai dengannya”.
Kemudian dimulai dengan naik ke Bukit Shafa sampai bisa melihat Ka’bah.
Lalu menghadap Ka’bah sambil mentauhidkan Allah dan bertakbir
mengagungkanNya dengan mengucapkan, “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar,
Allah Mahabesar”. (lalu diteruskan dengan mengucapkan) “Tidak ada Tuhan
yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Kerajaan
(semesta) dan segala puji hanya milikNya, Dia menghidupkan (yang mati) dan
mematikan (yang hidup), dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”. (dan
ditambhakan dengan mengucapkan), “ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia telah membuktikan
(kebenaran) janjiNya, Dia telah memenangkan hambaNya (Muhammad), dan
telah mengalahkan pasukan Ahzab sendirian”.
• Kemudian berjalan menurun dan mulai melakukan Sa’I di antara bukit Shafa
dan bukit Marwah.
• Kemudian terus berjalan sampai kepada rambu (lampu) hijau yang dipasang
di kanan dan kiri lorong tempat sa’I, yang dikenal dengan rambu hijau, dan
dari sana berjalan cepat setengah berlari sampai rambu (lampu) hijau
berikutnya. Dan terus berjalan naik sampai mendaki bukit Marwah, dan
kemudian menghadap Kiblat sambil bertakbir, berTahlil dan diselingi doadoa (sebagaimana yang dilakukan pada bukit Shafa tadi).
• Kemudian balik menuju Shafa dan mendaki lagi, dengan berjalan biasa
sampai lampu hijau, lalu berjalan cepat (berlari-lari kecil) sampai lampu
hijau berikutnya. Dan ini adalah putaran kedua.
• Lalu kembali menuju Marwah; dan demikianlah sampai selesai tujuh
putaran pada bukit Marwah.
• Boleh melakukan Sa’I dengan berkendaraan, akan tetapi berjalan lebih
disenangi oleh Nabi.
• Jika seseorang dalam putaran-putaran Sa’I berdoa dengan doa berikut,
maka itu adalah sangat baik karena terdapat riwayat dari sejumlah ulama
Salaf, yaitu : “Ya Rabbi, ampunilah dan sayangilah (aku), sesungguhnya
Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia”.
• Apabila telah selesai dari putaran ketujuh yaitu di bukit Marwah, maka
harus memotong rambut kepala (tahallul ash-Shughra) dan dengan
demikian selesailah dari Umrah. (Setelah itu) maka seseorang telah halal
melakukan apa saja yang dilarang karena ihram, (kecuali yang melakukan
haji qiran, maka ia masih berstatus ihram hingga haji selesai), dan terus
dalam keadaan halal (tahallul), sampai tiba hari Tarwiyah (pada tgl. 8
Dzulhijjah).
• Barang siapa yang telah terlanjur ihram dengan selain ihram Umrah kepada
Haji (selain haji Tamattu’), dan dia tidak menggiring hewan hadyu (baca;
telah terlanjur berniat Haji Ifrad), maka (dengan usainya Thawaf dan Sa’I
tersebut) hendaklah bertahallul (dan merubah Haji Ifradnya tersebut
menjadi Umrah), demi mengikuti perintah Nabi, dan demi menghindari
kemarahan beliau. Sedangkan bagi orang yang menggiring hadyu, maka dia
tetap mempertahankan ihramnya itu dan tidak bertahallul kecuali setelah
melontar jumrah Aqabah pada Hari Penyembelihan hewan hadyu dank
urban nanti (yaitu tgl 10 Dzulhijjah).
TAHALLUL
• Menurut bahasa Tahallul berarti 'menjadi boleh' atau 'diperbolehkan'.
Dengan demikian tahallul ialah diperbolehkan atau dibebaskannya
seseorang dari larangan atau pantangan Ihram. Pembebasan tersebut
ditandai dengan tahallul yaitu dengan mencukur atau memotong rambut
sedikitnya 3 helai rambut. sebagaimana firman Allah dalam surat AL Fath
ayat 27 :
"Lakad shadaqal laahu rasuulahur ru'ya bilhaqqi latadkhulunnal masjidal
haraama in syaa-al laahu aaminiina muhalliqiina ruu-usakum wa muqashshiriina laa takhaafuuna fa'alima maalam ta'lamuu faja'ala min duuni
dzaalika fat-han qariibaa."
Artinya : "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya bahwa
mimpi RasulNya itu akan menjadi kenyataan. Yaitu engkau beserta
penduduk Mekah lainnya akan memasuki kota Mekah Insya Allah dengan
aman, bebas dari rasa takut terhadap kaum musyrik dengan mencukur rata
kepalamu, sedang yang lain mengguntingnya saja. Tuhan mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui itu. Dibalik 'Yang tidak kamu ketahui itu' Tuhan
memberi kemenangan lebih dahulu kepadamu pada waktu dekat".
• Tahallul Awal. Melepaskan diri dari keadaan Ihram, setelah melakukan
dua diantara tiga perbuatan alternatif sebagai berikut :
Melontar Jumrah Aqabah dan Mencukur.
Melontar Jumrah Aqabah dan Tawaf Ifadah,
Tawaf Ifadah, Sa'i dan Mencukur.
• Tahallul Sani/Qubra. Melepaskan diri dari keadaan Ihram setelah
melakukan ketiga ibadah secara Lengkap yaitu sebagai berikut :
Melontar Jumrah Aqabah.
Bercukur dan Tawaf Ifadah,
Sa'i
HAJI
Niat Haji :
Labbaik Allahumma Hajjan
Artinya : “Aku sambut panggilan-Mu Ya Allah untuk berhaji”.
Atau
Nawaitul hajja wa ahromtu bihi lillahi ta’ala
Artinya : “Aku niat haji dengan berihram karena Allah ta’ala”.
HAJI
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Niat dan Ihram
Dzulhulaifah
Thawaf
Sa’I
Tahallul
Menunggu Tarwiyah (8 Dzulhijah)
Wukuf di Padang Arafah
Muzdalifah
Lempar Jumrah Aqobah
Menyembelih Hewan Qurban
Mabit di Muzdalifah (Tahallul, Thawaf, Sa’i)
Mabit di Mina
IHRAM
• Disunnahkan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk haji
atau umrah.
• Laki-laki mengenakan baju Ihram dengan syarat tidak berjahit,
serta sandal yang tidak menutupi mata kaki.
• Laki-laki tidak boleh mengenakan peci atau sejenisnya yang
langsung menutupi kepala. Sedangkan wanita, mengenakan
semua pakaian (termasuk jilbab), tetapi tidak boleh
mengenakan sarung tangan dan cadar (niqab) atau sejenisnya.
• Boleh mengenakan pakaian ihram sebelum Miqat sekalipun
dari rumahnya.
• Memakai minyak wangi dengan syarat tidak meninggalkan
warna, kecuali kaum wanita, mereka hanya boleh
mengoleskan minyak olesan tapi tidak wangi.
Pakaian Ihram untuk Laki - laki
Pakaian Ihram untuk Wanita
Doa Ihram
Allahumma inni uharrimu nafsi min kulli ma harramta ‘alal
muhrimi farhamni ya arhamarrahimin
Artinya :
“Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan diriku dari segala apa
yang Engkau haramkan kepada orang yang berihram karena itu
rahmatilah aku ya Allah yang Maha Pemberi rahmat”
MIQAT (Tempat Ihram)
• Dzulhulaifah adalah miqat penduduk Madinah ( dan orang-orang
yang melewatinya).
• Al-Juhfah adalah miqat penduduk Syam, Mesir, dan juga Madinah
apabila menempuh jalan lain.
• Qarna al-Manazil adalah miqat penduduk Najed.
• Yalamlam adalah miqat penduduk Yaman.
• Dzatu Irq adalah miqat penduduk Irak.
Biasanya jamaah Haji dari Indonesia melewati dua miqat. Kloter
awal lewat Madinah, maka miqatnya adalah Dzulhulaifah.
Sedangkan kloter akhir biasanya langsung ke Jeddah, maka untuk
mereka ini wajib niat ihram dari Yamlamlam, sebelum masuk
daerah Jeddah.
Lokasi Miqat (Tempat Ihram)
Dibuat seperti animasi di
http://www.drkhalid.co.uk/hajj/Umrah.html
THAWAF
•
•
•
Thawaf ialah mengelilingi sekitar Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Tiga putaran
pertama dilakukan dengan berlari-lari kecil, dan empat putaran berikutnya
dengan berjalan.
Syarat Thawaf
- Suci dari Hadas dan Kotoran
- Menutup Aurat
- Thawaf harus di dalam Masjidil Haram
- Baitullah harus berada di samping kiri orang yang thawaf
- Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan
berakhir di Hajar Aswad
- Putaran thawaf dilakukan tanpa jeda, kecuali karena keadaan
darurat. Jika terdapat jeda tanpa ada uzur, thawaf tidak sah dan harus diulang.
Sunnah Thawaf
– Al-Idhthiba, yaitu membuka ketiak kanan. Hanya disunnahkan bagi lakilaki.
– Mencium Hajar Aswad ketika mulai thawaf, jika memungkinkan. Jika tidak
cukup menyentuh dengan tangan atau memberi isyarat.
•
•
•
•
– Ketika memulai putaran pertama thawaf membaca,
“Bismillaahi Wallaahu Akbar”
Artinya : Dengan nama Allah, Allah Mahabesar.
– Mengisi thawaf dengan doa apa saja yang kita inginkan.
– Mengusap Rukhul Yamani pada setiap putaran bila memungkinkan, tetapi
bila tidak memungkinkan lewatkan saja, lalu bacalah doa,
“ Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqinaa
adzaabannar”
Artinya : Ya Tuhan kami, beri kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat
dan jauhkan kami dari siksa neraka.
Berdoa di Multazam usai thawaf, Mulatazam ialah tempat di antara pintu
Baitullah dengan Hajar Aswad.
Shalat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim. Pada rakaat pertama membaca
surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca Al-Ikhlas.
Meminum air zam-zam setelah shalat dua rakaat di makam Ibrahim.
Mencium Hajar Aswad atau istilam (memberi isyarat) lagi sebelum pergi ke
tempat Sa’i.
Tata Cara Thawaf
Animasi di buat seperti di
http://www.drkhalid.co.uk/hajj/Umrah.html
SA’I
•
•
•
(Bila thawaf telah usai), maka seorang yang Haji beranjak untuk melakukan Sa’i
antara Shafa dan Marwah. Jika telah dekat dengan Shafa, dia membaca Firman
Allah, “ Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar
Allah. Barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak
ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barang siapa yang
menngerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah
Maha Mensyukuri ( membalas ) kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (AlBaqarah:158) Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan “ Kami mulai dengan
apa yang Allah mulai dengannya”.
Kemudian dimulai dengan naik ke Bukit Shafa sampai bisa melihat Ka’bah.
Lalu menghadap Ka’bah sambil mentauhidkan Allah dan bertakbir
mengagungkanNya dengan mengucapkan, “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar,
Allah Mahabesar”. (lalu diteruskan dengan mengucapkan) “Tidak ada Tuhan
yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Kerajaan
(semesta) dan segala puji hanya milikNya, Dia menghidupkan (yang mati) dan
mematikan (yang hidup), dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”. (dan
ditambhakan dengan mengucapkan), “ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia telah membuktikan
(kebenaran) janjiNya, Dia telah memenangkan hambaNya (Muhammad), dan
telah mengalahkan pasukan Ahzab sendirian”.
• Kemudian berjalan menurun dan mulai melakukan Sa’I di antara bukit Shafa
dan bukit Marwah.
• Kemudian terus berjalan sampai kepada rambu (lampu) hijau yang dipasang
di kanan dan kiri lorong tempat sa’I, yang dikenal dengan rambu hijau, dan
dari sana berjalan cepat setengah berlari sampai rambu (lampu) hijau
berikutnya. Dan terus berjalan naik sampai mendaki bukit Marwah, dan
kemudian menghadap Kiblat sambil bertakbir, berTahlil dan diselingi doadoa (sebagaimana yang dilakukan pada bukit Shafa tadi).
• Kemudian balik menuju Shafa dan mendaki lagi, dengan berjalan biasa
sampai lampu hijau, lalu berjalan cepat (berlari-lari kecil) sampai lampu
hijau berikutnya. Dan ini adalah putaran kedua.
• Lalu kembali menuju Marwah; dan demikianlah sampai selesai tujuh
putaran pada bukit Marwah.
• Boleh melakukan Sa’I dengan berkendaraan, akan tetapi berjalan lebih
disenangi oleh Nabi.
• Jika seseorang dalam putaran-putaran Sa’I berdoa dengan doa berikut,
maka itu adalah sangat baik karena terdapat riwayat dari sejumlah ulama
Salaf, yaitu : “Ya Rabbi, ampunilah dan sayangilah (aku), sesungguhnya
Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia”.
• Apabila telah selesai dari putaran ketujuh yaitu di bukit Marwah, maka
harus memotong rambut kepala (tahallul ash-Shughra) dan dengan
demikian selesailah dari Umrah. (Setelah itu) maka seseorang telah halal
melakukan apa saja yang dilarang karena ihram, (kecuali yang melakukan
haji qiran, maka ia masih berstatus ihram hingga haji selesai), dan terus
dalam keadaan halal (tahallul), sampai tiba hari Tarwiyah (pada tgl. 8
Dzulhijjah).
• Barang siapa yang telah terlanjur ihram dengan selain ihram Umrah kepada
Haji (selain haji Tamattu’), dan dia tidak menggiring hewan hadyu (baca;
telah terlanjur berniat Haji Ifrad), maka (dengan usainya Thawaf dan Sa’I
tersebut) hendaklah bertahallul (dan merubah Haji Ifradnya tersebut
menjadi Umrah), demi mengikuti perintah Nabi, dan demi menghindari
kemarahan beliau. Sedangkan bagi orang yang menggiring hadyu, maka dia
tetap mempertahankan ihramnya itu dan tidak bertahallul kecuali setelah
melontar jumrah Aqabah pada Hari Penyembelihan hewan hadyu dank
urban nanti (yaitu tgl 10 Dzulhijjah).
TAHALLUL
• Menurut bahasa Tahallul berarti 'menjadi boleh' atau 'diperbolehkan'.
Dengan demikian tahallul ialah diperbolehkan atau dibebaskannya
seseorang dari larangan atau pantangan Ihram. Pembebasan tersebut
ditandai dengan tahallul yaitu dengan mencukur atau memotong rambut
sedikitnya 3 helai rambut. sebagaimana firman Allah dalam surat AL Fath
ayat 27 :
"Lakad shadaqal laahu rasuulahur ru'ya bilhaqqi latadkhulunnal masjidal
haraama in syaa-al laahu aaminiina muhalliqiina ruu-usakum wa muqashshiriina laa takhaafuuna fa'alima maalam ta'lamuu faja'ala min duuni
dzaalika fat-han qariibaa."
Artinya : "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya bahwa
mimpi RasulNya itu akan menjadi kenyataan. Yaitu engkau beserta
penduduk Mekah lainnya akan memasuki kota Mekah Insya Allah dengan
aman, bebas dari rasa takut terhadap kaum musyrik dengan mencukur rata
kepalamu, sedang yang lain mengguntingnya saja. Tuhan mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui itu. Dibalik 'Yang tidak kamu ketahui itu' Tuhan
memberi kemenangan lebih dahulu kepadamu pada waktu dekat".
• Tahallul Awal. Melepaskan diri dari keadaan Ihram, setelah melakukan
dua diantara tiga perbuatan alternatif sebagai berikut :
Melontar Jumrah Aqabah dan Mencukur.
Melontar Jumrah Aqabah dan Tawaf Ifadah,
Tawaf Ifadah, Sa'i dan Mencukur.
• Tahallul Sani/Qubra. Melepaskan diri dari keadaan Ihram setelah
melakukan ketiga ibadah secara Lengkap yaitu sebagai berikut :
Melontar Jumrah Aqabah.
Bercukur dan Tawaf Ifadah,
Sa'i
Cara Mencukur Rambut
TARWIYAH
• Hari Tarwiyah yaitu 8 Dzulhijjah, seseorang melakukan Ihram untuk
Haji dan melakukan segala tata cara yang dianjurkan sebagaimana
pada Ihram Umrah dari miqat (di awal tadi), yaitu mandi dengan
menggunakan wewangian, mengenakan sarung dan pakaian ihram,
lalu bertalbiyah kembali, dan tidak menghentikan talbiyah sampai
menjelang melontar Jumrah Aqabah.
• Ihram haji ini boleh dilakukan dari mana saja, termasuk penduduk
Makkah boleh melakukan ihram dari (rumahnya di) Makkah.
• Kemudian berangkat ke Mina, sehingga dia bisa melaksanakan
Shalat Zhuhur di sana, lalu tinggal di sana (mabit) hingga dapat
melakukan shalat lima waktu dengan mengqashar tapi tidak
menjamak.
WUKUF DI PADANG ARAFAH
• Menuju padang Arafah dan mengambil tempat di sekitar
bebatuan di samping Jabal Rahmah, jika tidak bisa maka
semua Arafah adalah tempat wuquf (asal termasuk dalam
batas padang Arafah).
• Wuquf menghadap Kiblat dengan mengangkat kedua
tangannya; berdoa dan bertalbiyah.
• Disunnahkan untuk memperbanyak membaca Tahlil, karena
itu adalah sebaik-baik doa yang dipanjatkan pada hari Arafah.
• Boleh menambahkan talbiyah.
• Orang wukuf di Arafah disunnahkan tidak berpuasa di hari itu.
• Berdzikir, bertalbiyah, dan berdoa terus menerus.
MUZDALIFAH
• Shalat shubuh harus di Muzdalifah, kecuali bagi orang tua yang
lemah dan para wanita boleh berangkat setelah lewat tengah
malam karena khawatir berdesak-desakan.
• Selesai Shalat Shubuh disunnahkan untuk mendatangi al-Masy’ar alHaram (yaitu bukit kecil di Muzdalifah), kemudian menghadap kiblat
dan bertahmid, bertakbir, bertahlil, bertauhid, dan berdoa terus
sampai pertanda matahari terbit.
• Semua Padang Muzdalifah adalah tempat wukuf; boleh singgah
dimanapun (selama dalam batas Muzdalifah).
• Sebelum matahari terbit, baru berangkat menuju Mina (kembali),
sambil terus bertalbiyah.
• Melewati lembah Muhassir, disunnahkan untuk mempercepat
langkah jika dimungkinkan.
• Masuk ke Mina sebaiknya mengambil jalan tengah yang langsung
mengantarkan ke Jamrah Aqabah (Jamrah al-Kubra).
MELONTAR JAMRAH AQABAH
• Ketika di Mina hendaklah memungut kerikil-kerikil kecil untuk
melontar Jamrah Aqabah.
• Menghadap ke Jamrah Aqabah, dengan memposisikan Makkah
sebelah kiri dan Mina sebelah kanan.
• Melempar Jamrah Aqabah dengan tujuh kerikil kecil, yang
ukurannya lebih besar sedikit dari biji himshah.
• Sambil bertakbir (mengucapkan, “Allahu Akbar”) dalam setiap
lontaran.
• Dan bersama akhir lontaran, talbiyah dihentikan.
• Melontar Jamrah Aqabah tidak boleh dilakukan kecuali setelah
terbit matahari.
• Boleh melontar setelah matahari condong ke barat sampai malam
hari sekalipun, jika memang mendapat kesulitan melontar sebelum
matahari condong ke barat.
• Apabila telah selesai melontar Jamrah Aqabah, maka segala sesuatu
yang dilarang dengan Ihram menjadi halal, kecuali menggauli istri,
dan itu sekalipun dia belum mencukur rambutnya dan belum
menyembelih hewan hadyunya, maka dia boleh mengenakan baju
biasa dan mengenakan wewangian.
• Akan tetapi dia harus melakukan Thawaf Ifadhah pada hari itu juga
sebelum Maghrib tiba, apabila seseorang ingin terus dengan
tamattu’nya (setelah melontar Jamrah) tersebut, karena jika dia
tidak melakukan Thawaf sampai Maghrib, maka dia kembali menjadi
muhrim (berstatus ihram) seperti sebelum melontar tadi, dan dia
harus mengenakan kembali pakaian Ihramnya.
Berdasarkan sabda Nabi, “Sesungguhnya pada hari ini diberikan
keringanan (rukhshah) bagi kalian apabila kalian telah melontar
Jamrah, untuk bertahallul dari semua yang kalian diharamkan,
kecuali (menggauli) istri, tetapi apabila telah sampai sore hari kalian
belum sempat thawaf di Ka’bah, maka kalian menjadi muhrim
kembali seperti keadaan kalian sebelum kalian melontar Jamrah;
sebelum kalian thawaf”.
Menyembellih Hewan Hadyu
• Disunnahkan mendatangi tempat penyembelihan dan menyembelih
hewan hadyunya sendiri.
• Boleh menyembelih dimanapun di Mina atau di Makkah.
• Yang sunnah adalah menyembelih hadyu (dan kurban) dengan tangan
sendiri, jika dimudahkan (dimungkinkan), tetapi jika tidak, boleh
mewakilkan kepada orang lain.
• Menyembelih hadyu (dan juga kurban) disunnahkan menghadap kiblat;
yaitu dengan membaringkannya di atas lambung kirinya dan (yang
menyembelih) meletakkan kaki kanannya di samping kanan hewan.
• Sedangkan unta disunnahkan menyembelihnya dalam keadaan kaki kiri
terikat dan berdiri dengan sisa kakinya (yang tiga), dan juga
menghadapkannya ke kiblat.
• Menyembelih dengan mengucapkannya, “Dengan Nama Allah, dan Allah
Mahabesar. Ya Allah, (hewan) ini adalah pemberian dariMu dan
(disembelih) karenaMu. Ya Allah, terimalah dariku.
• Waktu menyembelih kurban tanggal 10 Dzulhijah, dan tiga hari tasyriq
(yaitu tgl. 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
• Disunnahkan memakan daging sembelihannya dan boleh dibawa sebagai
bekal perjalanan kembali ke negeri masing-masing.
• Dia harus membagikan sebagian daging hadyunya kepada para fakir miskin
dan orang-orang yang membutuhkan.
• Seekor unta atau sapi boleh disembelih untuk tujuh orang (patungan).
• Bagi mereka yang tidak menemukan hewan kurban (tidak mampu), maka
dia wajib mengganti dengan berpuasa tiga hari dalam waktu Haji dan
ditambah tujuh hari apabila telah pulang.
• Orang bersangkutan boleh berpuasa pada hari-hari Tasyriq yang tiga,
sebagaimana hadits Aisyah dan Ibnu Umar, keduanya berkata,
• “Hari-hari Tasyriq tidak dibolehkan untuk berpuasa, kecuali bagi orang
yang tidak mendapatkan hewan kurban (tidak mampu)”.
TAHALLUL
• Menurut bahasa Tahallul berarti 'menjadi boleh' atau 'diperbolehkan'.
Dengan demikian tahallul ialah diperbolehkan atau dibebaskannya
seseorang dari larangan atau pantangan Ihram. Pembebasan tersebut
ditandai dengan tahallul yaitu dengan mencukur atau memotong rambut
sedikitnya 3 helai rambut. sebagaimana firman Allah dalam surat AL Fath
ayat 27 :
"Lakad shadaqal laahu rasuulahur ru'ya bilhaqqi latadkhulunnal masjidal
haraama in syaa-al laahu aaminiina muhalliqiina ruu-usakum wa muqashshiriina laa takhaafuuna fa'alima maalam ta'lamuu faja'ala min duuni
dzaalika fat-han qariibaa."
Artinya : "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya bahwa
mimpi RasulNya itu akan menjadi kenyataan. Yaitu engkau beserta
penduduk Mekah lainnya akan memasuki kota Mekah Insya Allah dengan
aman, bebas dari rasa takut terhadap kaum musyrik dengan mencukur rata
kepalamu, sedang yang lain mengguntingnya saja. Tuhan mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui itu. Dibalik 'Yang tidak kamu ketahui itu' Tuhan
memberi kemenangan lebih dahulu kepadamu pada waktu dekat".
• Tahallul Awal. Melepaskan diri dari keadaan Ihram, setelah melakukan
dua diantara tiga perbuatan alternatif sebagai berikut :
Melontar Jumrah Aqabah dan Mencukur.
Melontar Jumrah Aqabah dan Tawaf Ifadah,
Tawaf Ifadah, Sa'i dan Mencukur.
• Tahallul Sani/Qubra. Melepaskan diri dari keadaan Ihram setelah
melakukan ketiga ibadah secara Lengkap yaitu sebagai berikut :
Melontar Jumrah Aqabah.
Bercukur dan Tawaf Ifadah,
Sa'i
THAWAF
•
•
•
Thawaf ialah mengelilingi sekitar Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Tiga putaran
pertama dilakukan dengan berlari-lari kecil, dan empat putaran berikutnya
dengan berjalan.
Syarat Thawaf
- Suci dari Hadas dan Kotoran
- Menutup Aurat
- Thawaf harus di dalam Masjidil Haram
- Baitullah harus berada di samping kiri orang yang thawaf
- Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan
berakhir di Hajar Aswad
- Putaran thawaf dilakukan tanpa jeda, kecuali karena keadaan
darurat. Jika terdapat jeda tanpa ada uzur, thawaf tidak sah dan harus diulang.
Sunnah Thawaf
– Al-Idhthiba, yaitu membuka ketiak kanan. Hanya disunnahkan bagi lakilaki.
– Mencium Hajar Aswad ketika mulai thawaf, jika memungkinkan. Jika tidak
cukup menyentuh dengan tangan atau memberi isyarat.
•
•
•
•
– Ketika memulai putaran pertama thawaf membaca,
“Bismillaahi Wallaahu Akbar”
Artinya : Dengan nama Allah, Allah Mahabesar.
– Mengisi thawaf dengan doa apa saja yang kita inginkan.
– Mengusap Rukhul Yamani pada setiap putaran bila memungkinkan, tetapi
bila tidak memungkinkan lewatkan saja, lalu bacalah doa,
“ Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqinaa
adzaabannar”
Artinya : Ya Tuhan kami, beri kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat
dan jauhkan kami dari siksa neraka.
Berdoa di Multazam usai thawaf, Mulatazam ialah tempat di antara pintu
Baitullah dengan Hajar Aswad.
Shalat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim. Pada rakaat pertama membaca
surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca Al-Ikhlas.
Meminum air zam-zam setelah shalat dua rakaat di makam Ibrahim.
Mencium Hajar Aswad atau istilam (memberi isyarat) lagi sebelum pergi ke
tempat Sa’i.
Tata Cara Thawaf
Animasi di buat seperti di
http://www.drkhalid.co.uk/hajj/Umrah.html
SA’I
•
•
•
(Bila thawaf telah usai), maka seorang yang Haji beranjak untuk melakukan Sa’i
antara Shafa dan Marwah. Jika telah dekat dengan Shafa, dia membaca Firman
Allah, “ Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar
Allah. Barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak
ada dosa baginya mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barang siapa yang
menngerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah
Maha Mensyukuri ( membalas ) kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (AlBaqarah:158) Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan “ Kami mulai dengan
apa yang Allah mulai dengannya”.
Kemudian dimulai dengan naik ke Bukit Shafa sampai bisa melihat Ka’bah.
Lalu menghadap Ka’bah sambil mentauhidkan Allah dan bertakbir
mengagungkanNya dengan mengucapkan, “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar,
Allah Mahabesar”. (lalu diteruskan dengan mengucapkan) “Tidak ada Tuhan
yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Kerajaan
(semesta) dan segala puji hanya milikNya, Dia menghidupkan (yang mati) dan
mematikan (yang hidup), dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”. (dan
ditambhakan dengan mengucapkan), “ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dia telah membuktikan
(kebenaran) janjiNya, Dia telah memenangkan hambaNya (Muhammad), dan
telah mengalahkan pasukan Ahzab sendirian”.
• Kemudian berjalan menurun dan mulai melakukan Sa’I di antara bukit Shafa
dan bukit Marwah.
• Kemudian terus berjalan sampai kepada rambu (lampu) hijau yang dipasang
di kanan dan kiri lorong tempat sa’I, yang dikenal dengan rambu hijau, dan
dari sana berjalan cepat setengah berlari sampai rambu (lampu) hijau
berikutnya. Dan terus berjalan naik sampai mendaki bukit Marwah, dan
kemudian menghadap Kiblat sambil bertakbir, berTahlil dan diselingi doadoa (sebagaimana yang dilakukan pada bukit Shafa tadi).
• Kemudian balik menuju Shafa dan mendaki lagi, dengan berjalan biasa
sampai lampu hijau, lalu berjalan cepat (berlari-lari kecil) sampai lampu
hijau berikutnya. Dan ini adalah putaran kedua.
• Lalu kembali menuju Marwah; dan demikianlah sampai selesai tujuh
putaran pada bukit Marwah.
• Boleh melakukan Sa’I dengan berkendaraan, akan tetapi berjalan lebih
disenangi oleh Nabi.
• Jika seseorang dalam putaran-putaran Sa’I berdoa dengan doa berikut,
maka itu adalah sangat baik karena terdapat riwayat dari sejumlah ulama
Salaf, yaitu : “Ya Rabbi, ampunilah dan sayangilah (aku), sesungguhnya
Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia”.
• Apabila telah selesai dari putaran ketujuh yaitu di bukit Marwah, maka
harus memotong rambut kepala (tahallul ash-Shughra) dan dengan
demikian selesailah dari Umrah. (Setelah itu) maka seseorang telah halal
melakukan apa saja yang dilarang karena ihram, (kecuali yang melakukan
haji qiran, maka ia masih berstatus ihram hingga haji selesai), dan terus
dalam keadaan halal (tahallul), sampai tiba hari Tarwiyah (pada tgl. 8
Dzulhijjah).
• Barang siapa yang telah terlanjur ihram dengan selain ihram Umrah kepada
Haji (selain haji Tamattu’), dan dia tidak menggiring hewan hadyu (baca;
telah terlanjur berniat Haji Ifrad), maka (dengan usainya Thawaf dan Sa’I
tersebut) hendaklah bertahallul (dan merubah Haji Ifradnya tersebut
menjadi Umrah), demi mengikuti perintah Nabi, dan demi menghindari
kemarahan beliau. Sedangkan bagi orang yang menggiring hadyu, maka dia
tetap mempertahankan ihramnya itu dan tidak bertahallul kecuali setelah
melontar jumrah Aqabah pada Hari Penyembelihan hewan hadyu dank
urban nanti (yaitu tgl 10 Dzulhijjah).
MABIT DI MINA
• Pada ketiga hari tersebut dia harus melempar ketiga jamrah dengan
tujuh butir untuk setiap jamrah setelah matahari condong ke barat.
• Melontar mulai dari Jamrah ash-Shughra (yang kecil) yaitu yang
paling dekat dengan Masjid Khaif. Selesai melontar Jamrah
pertama, disunnahkan untuk bergeser ke sebelah kanan dan berdiri
tegak dengan menghadap Kiblat sambil terus berdoa dan
mengangkat kedua tangan.
• Kemudian Jamrah al-Wustha (yang pertengahan) dan melakukan
lontaran seperti pada Jamrah yang pertama, lalu bergeser ke
sebelah kiri, berdiri sambil menghadap kiblat dan berdoa dengan
mengangkat kedua tangan.
• Kemudian Jamrah al-Kubra (yang besar) yang dikenal dengan
Jamrah al-Aqabah dan melakukan lontaran, dengan memposisikan
Baitullah di sebelah kirinya dan Mina di sebelah kanannya, tapi
(setelah itu) tidak (disunnahkan) berdiri untuk berdoa.
• Melontar seperti itu dilakukan juga pada hari kedua dan ketiga (dari
hari-hari Tasyriq).
• Diperbolehkan jika seseorang berangkat pulang setelah melontar
pada hari kedua dan tidak melanjutkan bermalam di Mina untuk
hari ketiganya.
• Hanya saja menunda sampai tanggal tiga belas untuk melakukan
lontaran adalah lebih utama, karena itulah yang sunnah.
• Yang sunnah adalah mengikuti urutan sebagaimana yang telah
disebutkan, yaitu : melontar, menyembelih hadyu, menguris
rambut, Thawaf Ifadhah, kemudian Sa’I bagi yang Haji Tamattu’.
Tetapi apabila mendahulukan yang seharusnya didahulukan, maka
itu diperbolehkan.
• Orang-orang memiliki halangan (udzur) dalam kaitan melontar
jamrah, boleh baginya hal-hal berikut ini :
- Tidak mabit (bermalam) di Mina.
- Melakukan lontaran untuk dua hari sekaligus dalam satu hari.
- Melakukan lontaran pada malam hari.
• Pada malam mabit di Mina, disunnahkan berziarah ke Baitullah
(Ka’bah) dan melakukan Thawaf (sunnah) disetiap malam.
• Semua jamaah Haji wajib menjaga Shalat lima waktu dengan
berjamaah, selama hari-hari Mina tersebut, dan lebih utama di
Masjid al-Khaif.
• Selesai melontar, maka usailah semua rangkaian manasik Haji.
• Di Makkah hendaklah melakukan Shalat Jamaah di Masjidil Haram,
karena Rasulullah bersabda, “Shalat di Masjidku sama nilainya
dengan shalat seribu kali di masjid selainnya, kecuali Masjid alHaram (Makkah), dan shalat di Masjid al-Haram (Makkah) lebih
utama dari seratus ribu shalat di masjid lainnya”.
• Dan hendaklah memperbanyak thawaf sunnah dan shalat sunnah.
NAFAR
• Menurut bahasa, nafar berarti rombongan. Sedangkan menurut
istilah, nafar adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina
pada hari Tasyrik. Nafar dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Nafar Awal adalah keberangkatan jamaah haji meninggalkan
Mina lebih awal yaitu pada tanggal 12 Dzulhijjah setelah melontar
jumrah untuk tanggal tersebut.
2. Nafar Tsani (Nafar Akhir) adalah keberangkatan jamaah haji
meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah.

similar documents