peresmian proyek pembangunan storage cng untuk pt pjb unit

Report
BEKASI, 17 MARET 2014
CNG STORAGE
MUARA TAWAR
PERESMIAN
PROYEK PEMBANGUNAN STORAGE CNG
UNTUK PT PJB UNIT PEMBANGKITAN
MUARA TAWAR
BEKASI, 17 MARET 2014
GENERAL LAYOUT
CCR
Tanks
Boiler
Trafo
PRU
Pre
Tube Skid 1
GDU
Tube Skid 2
Tube Skid 3
PT PJB telah membangun Storage
Compressed Natural Gas (CNG) di Unit
Pembangkitan (UP) Muara Tawar,
Bekasi. Dengan pembangunan storage
CNG ini akan dapat menekan
konsumsi bahan bakar minyak pada
saat beban puncak. Dengan
memanfaatkan teknologi gas alam
terkompresi di Muara Tawar, PJB
mampu menekan penggunaan BBM
hingga 203 ribu kiloliter atau setara
penghematan Rp 1,187 triliun per
tahun.
USM
Gas Compressor
Tube Skid 4
Pembangunan Storage CNG (Compressed Natural
Gas) dengan kapasitas 20 MMSCF yang akan
digunakan untuk keperluan suplai bahan bakar
PLTG/PLTGU terutama saat beban puncak (on
peak). Gas umpan CNG Plant ini akan disupply dari
PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
Dasar pembangunan Storage CNG ini adalah untuk
menyimpan sementara kelebihan supply gas pada
waktu beban rendah (low peak). Secara umum,
proses CNG Plant ini adalah untuk memenuhi
kebutuhan gas pada saat beban puncak. Gas di
kompresi selama 10 jam oleh compressor hingga
tekanan mencapai 250 barg kemudian disimpan ke
dalam CNG Storage Cylinder dan kemudian di
dekompresi selama 9 jam untuk keperluan bahan
bakar PLTG/PLTGU UP MuaraTawar.
Equipment utama, yaitu:
1. Plant Inlet Control - 2 unit
2. Gas Pre-Treatment (Scrubber & Dryer) – 2 unit
3. Gas Dryer Unit (GDU) – 4 unit
4. Gas Compressor – 16 unit
5. Tube Skid Storage – 140 unit
6. Pressure Reducing Unit (PRU) – 4 unit
7. Mixing Unit – 1 unit
8. Ultrasonic Metering Unit (USM) – 1 unit
9. Hot Water Boiler – 3 unit
10. Air Receiver Tank – 1 unit
11. Condensate Tank – 1 unit
CNG PLANT
Pada tahap awal, gas yang berasal dari PGN dengan
tekanan normal 24 barg masuk melalui Plant Inlet
Control. Plan Inlet Control ini mempunyai fungsi utama
sebagai Flow Limiter untuk membatasi aliran gas yang
masuk kedalam CNG Plant dengan kapasitas
maksimum aliran gas yaitu 2 MMSCFH. Flow Limiter
ini juga berfungsi sebagai Plant Inlet Control/Shutdown.
Plan Inlet Control ini terdiri dari Shutdown Valve
(Pneumatic operated) yang berfungsi sebagai safety
plant jika terjadi hal yang tidak diinginkan, Orifice Flow
Meter yang berfungsi untuk mengetahui aliran gas
yang masuk kedalam plant dan dapat dimonitor di
DCS, dan Flow Control Valve yang berfungsi untuk
membatasi aliran dengan mengatur bukaan dari
Control Valve tersebut.
Plant Inlet
Kemudian setelah itu gas masuk ke Pre-Treatment
Unit. Pre-Treatment Unit ini terdiri dari dua komponen
utama yaitu Scrubber dan filter, di Pre-Treatment ini
gas akan dibersihkan dari kotoran-kotoran yang
terkandung dalam gas berupa partikel-partikel solid
maupun liquid yang mudah terkondensasi. Gas
keluaran dari Pre-Treatment ini harus dalam fase gas
sepenuhnya, bebas dari komponen solid maupun
liquid, memiliki kadar air rendah sehingga tidak
membahayakan operasional equipment lainnya
terutama pada proses kompresi di CNG Compressor.
Pre-Treatment
GAS COMPRESSOR
Setelah melalui Gas Pre-Treatment Unit, gas
masuk ke Gas Dryer Unit untuk mengurangi
kadar air yang terkandung dalam gas tersebut
sehingga gas yang masuk ke CNG Compressor
benar-benar kering dan mengandung water
content yang rendah. Hal ini dapat diketahui dari
nilai Dew Point Temperature (oC) yang dapat
terbaca di Local Panel GDU maupun di DCS.
Selanjutnya gas di kompresi menggunakan CNG
Compressor yang digerakkan menggunakan
motor listrik hingga tekanan gas mencapai 250
barg. Pada saat proses kompresi, gas yang
berasal dari PGN diturunkan tekanannya
menggunakan pressure regulator yang terdapat
pada kompresor dengan range inlet pressure 1014 bar. Pada tahap kompresi gas akan
mengalami kenaikan temperatur seiring dengan
kenaikan tekanan, sehingga dalam tahap ini
digunakan intercooler di setiap stage proses
kompresi yang terdapat pada kompresor untuk
menjaga temperatur sesuai yang diinginkan.
Setelah itu gas disimpan dalam CNG Storage
Skid untuk digunakan pada saat beban puncak.
GAS DRYER
CNG SKID STORAGE
Pada CNG Plant Muara Tawar ini
terdapat 140 unit CNG Storage
Tube Skid, dimana masing-masing
unit terdiri dari 8 tubes dengan
nominal volume per tube adalah
2.24 m3 atau nominal volume per
skid adalah 17.92 m3 dan range
working temperature -50 ~ 65 oC.
Pengelompokan
CNG
Storage
Tube Skid ini dibagi menjadi 4 blok
(3 blok berisi 36 unit skid dan 1 blok
berisi 32 unit skid) Tube skid ini
seluruhnya disusun dalam 4 tingkat.
CNG Storage Tube Skid ini
dilengkapi dengan peralatan safety
berupa safety valve dan bursting
disk yang akan terbuka jika terjadi
over pressure.
Selain itu juga dilengkapi dengan
indicator berupa pressure gauge
dan temperature gauge untuk
mengetahui
tekanan
dan
temperatur gas yang terdapat pada
skid.
PRESSURE REDUCER
UNIT
Pada saat beban puncak, gas yang
tersimpan dalam CNG Storage Skid
didekompresi melalui Pressure Reducing
Unit (PRU) dengan tekanan keluar
menyesuaikan dengan tekanan di Gas
Receiving Station (GRS) yaitu antara 27-34
Barg dengan mengatur set point Pressure
Control Valve (PCV) dari DCS. Pada tahap
ini, proses dekompresi gas dari 250 barg
hingga tekanan rendah (27-34 barg) melalui
beberapa tahapan penurunan tekanan
Untuk mencegah penurunan temperatur
yang terlalu drastis akibat penurunan
tekanan dan menjaga gas keluaran dari
PRU sesuai kebutuhan Gas Turbin maka
perlu dilakukan proses pemanasan untuk
menghindari freezing. Pada tahapan ini,
pemanasan
pada
PRU
dilakukan
menggunakan Heat Exchanger dengan
media air panas yang berasal dari Hot
Water Boiler. Hot Water Boiler ini
memproduksi air panas untuk disirkulasikan
mrnggunakan circulating pump ke dalam
heat exchanger pada PRU. Hot Water
Boiler sendiri memiliki burner untuk
memanaskan air. Burner tersebut memakai
gas sebagai bahan bakar yang ditapping
dari Pre-Treatment Unit.
Setelah gas keluar dari PRU, kemudian gas masuk
melewati Gas Mixing Unit. Gas Mixing Unit ini terdiri dari
Orifice Flowmeter dan Flow Control Valve yang berfungsi
untuk membatasi aliran dengan mengatur bukaat dari
Control Valve tersebut dari DCS. Setelah itu gas masuk
melewati Gas Metering Unit yang terdiri dari Gas
Chromatograph yang berfungsi untuk memonitor kadar
yang terkandung di dalam gas dan Ultrasonic Flowmeter
(Non-Custody Meter / Process Meter only) untuk
mengetahui kapasitas gas keluar dari CNG Plant. Setelah
itu, gas masuk ke GRS yang kemudian digunakan sebagai
bahan bakar Gas Turbine PLTG/PLTGU Muara Tawar
untuk memproduksi listrik.
BOILER
TRAFO
ELECTRICAL
Secara Garis besar, Sistem kelistrikan di CNG Storage
Plant UP Muara Tawar, terdapat dua buah Plant CNG
yang disebut CNG-A dan CNG-B dengan total daya
mencapai 14MVA. Masing-masing plant membutuhkan
daya kurang lebih 7MVA yang disupply dari Power Bus
19BBA dan 19BBB dari unit Eksisting PJB UP Muara
Tawar. Beban utama dari Plant CNG Storage adalah 16
Unit CNG Compressor dengan kapasitas maksimum
per-unit Compressor sebesar 425kW yang bekerja
pada tegangan 400V LV.
Selain itu terdapat Beban lain (Auxiliarry) meliputi
peralatan penunjang antara lain, Pompa, Boiler, Dryer,
PRU, termasuk peralatan Utilitas untuk Building beserta
Plant Control System (DCS). karena semua sistem
kelistrikan dari CNG Storage Plant berada pada
tegangan rendah (400V) maka disiapkan Trafo
Distribusi 6,3kV/0,4kV sebanyak 6 Unit yang masingmasing terdiri dari 4 Unit Transformer dengan kapasitas
per-unit 3000kVA sebagai supply tegangan untuk
Compressor, 1 Unit Transformer dengan kapasitas
1000kVA dan 1 Unit Transformer dengan kapastias
800kVA untuk supply Auxiliary sebagai Balance of Plant
(BoP) dari CNG Storage Plant
PANELS
CIVIL WORK
CONTROL ROOM
Pada CNG Plant ini dibangun 1 unit Control Building 2
lantai. Pada lantai 1 digunakan untuk penempatan
panel-panel MV dan LV. Bagian dasar digunakan raise
floor untuk mempermudah pemasangan kabel-kabel
dari pembangkit ke panel, trafo atau peralatan lainnya.
Sedangkan lantai 2 digunakan sebagai control room
yang terhubung dengan PC dan DCS.
Gedung ini juga dilengkapi dengan battery room,
workshop dan toilet.
Proyek ini berada pada lahan
yang sangat
terbatas dengan luas hanya sekitar 6000 m2.
Pengaturan letak equipmet, jalan akses, laydown
dan temporary facities adalah hal yang perlu
direncanakan dengan matang.
Dengan kondisi tanah lunak tepi pantai, tidak ada
pilihan lain selain menggunakan tiang pancang
sebagai pondasi. Untuk peralatan utama
digunakan tiang pancang diameter 50 cm dengan
kedalaman rata-rata 30 m. Ketebalan pondasi skid
45 cm.
SAFETY SYSTEM
Berdasarkan regulasi MIGAS mengenai Standar
keamanan yang harus digunakan dalam area
Plant, maka di CNG Plant Muara Tawar
digunakan Safety System berupa Fire Fighting
System dan Gas Detector System dimana kedua
instalasi tersebut terintegrasi dengan system
DCS yang terdapat di CNG Plant Muara Tawar.
Untuk instalasi Fire Fighting System dibagi
menjadi 2 bagian yaitu indoor dan outdoor
installation. Untuk indoor installation digunakan
fire alarm system dimana smoke and heat
detector yang dipasang di area control room
digunakan sebagai alat pendeteksi adanya
kebakaran. Selain itu, tersedia fire extinguisher
untuk pemadaman api secara manual dimana
fire extinguisher ini berisi gas CO2 sehingga
tidak berbahaya dan sangat efektif untuk
dipergunakan pada instalasi kelistrikan.
Sedangkan untuk outdoor installation digunakan
water sprinkler dan water spray yang dipasang di
area CNG Storage Skid dan area transformer
untuk mendeteksi jika terjadi kebakaran di area
tersebut. Selain itu untuk mengantisipasi
terjadinya kebakaran diluar area CNG Storage
Skid dan area transformer, terdapat pula fire
hydrant yang terinstal di area sekeliling plant
yang berjumlah 10 unit. Sebagai indikasi adanya
kebakaran, didalam CNG Plant juga dilengkapi
dengan Horn and strobe yang berfungsi secara
jika terjadi kebaran. Jika terjadi kebakaran
namun horn and strobe tidak aktif maka bisa
dilakukan secara manual dengan menekan
manual call point yang dipasang di area tangga
menuju control room.
Untuk Gas Detector System dibagi menjadi 2
type yaitu Point Gas Detector dan Open Path
dimana system pendeteksian dari dua tipe
tersebut berbeda. Untuk point gas detector
menggunakan catalityc sensor yang mendeteksi
persen LEL (% LEL) sedangkan untuk open path
menggunakan infra red yang mendeteksi LEL
meter (LELm). Didalam CNG plant ini terdapat
16 unit point gas detector dimana dipasang di
area Pre-Treatment, Gas Dryer, PRU, Mixing
Unit, Metering Unit dan Hot Water Boiler. Selain
itu terdapat 1 pasang open path dimana terdiri
dari 2 unit yang berfungsi sebagai transmitter
dan receiver yang dipasang di ujung area skid
blok 2 dan blok 4. Keseluruhan detector tersebut
dihubungkan ke panel yang ada di DCS
sehingga dapat termonitor jika terjadi kebocoran
gas.
DERMAGA JALAN AKSES
Sebagai akses utama dari Unit Pembangkitan,
dibuat jalan akses yang berupa dermaga selebar
4,5 m sepanjang 170 m. Struktur ini terdiri dari
tiang pancang yang dipancangkan disamping
sheet pile eksisting. Jalan Dermaga ini dapat
dilalui oleh kendaraan ringan atau forklift yang
diperlukan pada saat maintenance.
Narasi : ERIANA, RENGGA, Layout : PASHA, Fotografi : SISWANTONO
PT PP (Persero) Tbk
DIVISI EPC
Plaza PP – Lt 3
Jl. TB Simatupang 57 Pasar Rebo Jakarta 13760
Telp. +62 21 840 3902 Fax +62 21 840 3992
www.pt-pp.com

similar documents