Teknik Menulis Cerita Pendek

Report
Oleh :
Titik Wijanarti, S.S.,M.A.
Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah
[email protected]
DEFINISI CERPEN
 Kamus Besar Bahasa Indonesia
menyebutkan batasan cerita pendek sebagai
kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata)
yang memberikan kesan tunggal dan
dominan dengan memusatkan diri pada
satu tokoh dalam satu situasi (2001:210).
CIRI-CIRI CERPEN
 Peristiwa cerita yang ditampilkan tidak
banyak dan rumit, hal ini berkaitan dengan
cerpen yang bersifat pendek dan ringkas.
 Tokoh yang ditampilkan dalam peristiwa
cerita tidak banyak.
 Alur cerita yang ditampilkan umumnya
rapat.
 Rentang waktu peristiwa dalam cerpen tidak
panjang.
SUMBER PENULISAN CERPEN
1. Pengalaman
2. Pengetahuan,
3. Pengamatan
4. Imajinasi
5. Sumber lainnya
HUBUNGAN REALITAS NYATA DENGAN
REALITAS KARYA SASTRA
Pengarang melakukan REAKSI
atas realitas yang terjadi BUKAN
memindahkan realitas nyata ke
dalam karya sastra
Pengarang menciptakan sebuah
“dunia” baru atas apa yang
dilihatnya.
PROSES PENCIPTAAN KARYA SASTRA
PENGALAMAN
/ REALITAS
IMAJINASI
PROSES MENULIS
KARYA SASTRA
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
IMAJINASI?
Imajinasi adalah kekuatan luar biasa yang bisa
menjadikan manusia bisa berada dalam kondisi seperti
sekarang ini. Luapan imajinasi yang dituangkan dalam
bentuk karya sastra seringkali jauh melampaui
zamannya
CONTOH IMAJINASI YANG
MELAMPAUI ZAMAN
Jauh sebelum ada kapal selam dan pesawat terbang, juga
pesawat
luar
angkasa,
Jules
Verne
telah
memproyeksikan penemuan baru itu dalam novelnya,
20.000 Mil di Bawah Permukaan Laut, Mengelilingi
Dunia dalam 80 hari, dan Perjalanan ke Bulan. Pada
tahun 1932, Aldus Huxley menulis sebuah novel
berjudul Brave New World yang sangat menggemparkan
masyarakat Inggris kala itu karena bercerita tentang
rekayasa genetika manusia. Limapuluh tahun setelah
itu lahirlah teknologi medis dalam rekayasa genetika.
Negara yang kini dikenal sebagai negara maju adalah
negara yang sebelumnya telah dikenal dengan khasanah
kesastraannya. Contohnya : Amerika dengan karyakarya Ernest Hemingway, Rusia dengan Anton Chekov,
Jepang dengan Kawabata Yasunari, Perancis dengan
Albert Camus, Inggris dengan T.E.Eliot, India dengan
Rabindranath Tagore.
LANGKAH LANGKAH MENULIS CERITA
PENDEK
IDE CERITA
Ide cerita bisa berasal dari semua yang
dilihat, dialamai, dan dirasakan.
Bagaimana jika kita memiliki ide cerita
yang klise? Ide cerita semacam ini tetap
bisa diangkat menjadi cerita dari sudut
pandang yang berbeda sehingga tetap akan
menarik.
Bagaimana Jika Ide Cerita Berasal
dari Karya Orang Lain?
Ide cerita yang sama tetap bisa kita tulis. Yang
harus kita lakukan adalah menulis dari
sudut pandang kita sehingga berbeda
dengan karya orang lain. Karena
sesungguhnya yang membuat karya sastra
tetap ada bukan ide cerita tetapi adalah
bahasa.
 MENUANGKAN IDE CERITA MENGGUNAKAN
KALIMAT EFEKTIF
KALIMAT EFEKTIF = KALIMAT SEDERHANA
JELAS
HINDARI : Kalimat panjang yang berbelit-belit dan
kalimat majemuk.
CONTOH
Ini benar-benar di luar kebiasaan. Keheningan yang
memantul dalam ruang kamar tidurnya bergetar
sampai ke hatinya.
Sudah menjelang tengah
malam. Berarti sudah sekitar dua jam pula ia
meringkuk di tempat tidurnya tanpa dapat
memicingkan mata (cerita pendek “Semut” karya
Ibnu H.S).
Bagaimana dengan Pemakaian
Gaya Bahasa ?
...Negara modern dengan jiwa bersahaja.
Lebih dari separuh buminya adalah sahara,
taman Allah sebagaimana legenda Arab
yang tetap terjaga. Menandingi sahara yang
perkasa, pegunungan Atlas membentang
bagai tulang punggung Maroko...(El
Khalieqi : 1)
Contoh lain…
 Seperti namaku, Kejora, akulah Dewi Venus, Ishtar si
ladang minyak global. (El Khalieqi : 31).
 Kamar ini seperti perut ular, penuh racun dan pengap
(El Khalieqi : 91).
 Wajahnya seperti prajurit andalan Amerika yang
gagal memburu Osama (El Khalieqi : 190).
Contoh lain…
 Siapakah perempuan? Barisan kedua yang menyimpan
aroma melati kelas satu? Semesta alam terpesona ingin
meraihnya, memiliki dan mencium wanginya. Tetapi kelas
dua? Siapakah yang menentukan kelas-kelas? Sehingga
laki-laki adalah kelas pertama? Sementara Rabi` ah Al
Adawiyah laksana roket melesat mengatasi rangking dan
kelas. Sebenarnya, kelas berapakah Hitler? George W.
Bush? Mana lebih tinggi rangkingnya, Ariel Sharon atau
Fatima Mernissi? Bukankah selain Abu Jahal, Fir `aun,
Musailamah Al Kadzab, Adam Wizehobart terdapat juga
Maryam al Bathul, Balqis, Aisya dan Fatimah az Zahra? (El
Khalieqi : 60).
MENYUSUN PARAGRAF AWAL
DENGAN MENARIK
Paragraf pertama harus disusun
dengan MENARIK agar pembaca
terus ingin meneruskan proses
pembacaannya.
CONTOH PARAGRAF AWAL
Matahari merangkak tinggi . Hari sudah
semakin dewasa, langit biru yang
membentang indah tetap setia memayungi
bumi.
Pohon-pohon yang berderet di
sepanjang jalan selalu meniupkan kesegaran
hidup. Angin semilir nan sejuk yang selalu
jadi kerinduan para perantau tetap
menyanyikan lagu merdu membelai daundaun kehidupan yang terus bergeliat (Cerita
Pendek ”Pulang ke Bapak” karya Nita Fuji
Lanjutan…..
Ini adalah pohon karet terakhir dari enam
belas batang yang disadap Ni Siti, dan
matahari sudah lebih dari duduk di atas
kepala. Setelah membersihkan pisau
sadapnya, Ni Siti duduk di samping
tangkitan yang diletakkannya tak jauh dari
batang karet terakhir tadi (cerita pendek
”Serpihan di Teras Rumah” karya
Zaidinoor).
MEMBANGUN SUASANA CERITA
Suasana cerita dapat dibangun melalui
penggambaran latar yang tepat.
 ”Suasana” dapat diibaratkan sebagai cahaya
: sesuatu yang sulit untuk dirumuskan tetapi
dapat dirasakan. Begitu pula dengan
suasana cerita adalah bagaimana
membangun cerita hingga pembaca dapat
ikut merasakan cerita dengan baik. Suasana
cerita dapat dibangun dengan menampilkan
latar/ setting secara tepat. Secara sederhana
latar bermakna lokasi atau tempat terjadinya
peristiwa cerita.
Latar dalam Karya Sastra
 Latar material : menunjukkan tempat
dan waktu terjadinya peristiwa cerita
 Latar sosial : segala macam keadaan
sosial budaya masyarakat yang tampak
dalam cerita.
Latar dalam Cerita Pendek
Latar yang ditampilkan adalah latar yang
berhubungan dengan peristiwa cerita.
HINDARI penggambaran latar yang tidak
terlalu penting, yang tidak memiliki
hubungan
dengan
peristiwa
cerita.
SEBAIKNYA latar tidak klise. Misalnya :
Senja…cahaya temaram, kuning keemasan,
rasa rindu.
Contoh Latar
Arjowinangun. Pasar induk di kabupaten Pacitan ini
seakan tak pernah mati. Selalu hidup mendenyutkan
jantung setiap penduduknya yang selalu bergumul
dengan aktivitas tiada henti. Letaknya yang tepat di
jantung kabupaten membuatnya selalu ramai dari
aktivitas perdagangan yang makin hirup pikuk dari
hari ke hari seiring dengan perkembangan sebuah
kabupaten yang kecil yang miskin akan sumber daya,
tapi tetap kaya akan kebersahajaan penduduknya yang
berhartakan bukit-bukit dan gunung-gunung terjal.
Contoh lain…
Ya, hampir delapan tahun hujan tak kunjung datang.
Tanah sawah mulai retak. Sumur-sumur makin lama
makin dalam. Begitu pun aliran sungai kering. Daundaun layu dan meranggas. Debu-debu beterbangan
di kala angin kencang menerpa. Musim ini panen
gagal. Ternak-ternak mati. Harga beras naik. Harga
bahan bakar dan kebutuhan pokok lain pun melonjak.
Susah pangan, susah air. Singkatnya,susah hidup.
Hujan kini berangsur-angsur reda. Butiran yang
jatuh tinggal beberapa saja. Gunpalan hitam yang
tadi menjangkiti angkasa, kini telah menghilang.
Langit biru mulai menyeruak. Sinar senja sang
mentari menembus awan yang beranjak pergi.
Aku harus lekas pulang, gumannya.
Seekor percil melompat di antara rumputan. Kami sama
terpaku, saling menatap dan tertawa. Elya menunjuknunjuk ke atas, di antara dahan sukun yang rimbun.
Tiga ekor, mungkin empat atau lima ekor kelelawar
menggelantung disana. Tergoda iseng dan bercanda,
kuangkat kerikil untuk melemparinya. Serentak
mereka terbang ngacir, hampir mengenai telinga
kiriku (El Khalieqi : 51)
Rumah itu sunyi.
Bandingkan dengan penggambaran ”sunyi” berikut.
Ketika aku masuki rumah itu, kalender di tembok
bergoyang dan berkeresek di tiup angin yang masuk dari
pintu yang kubuka. Kudengar cericit burung di rimbun
pepohonan di halaman. Tirai tipis di dekat jendela
bergoyang-goyang. Pintu-pintu kamar terbuka membisu.
Dari arah dapur kudengar cericik air dari kran yang
kurang rapat ditutup. Aku rasakan tekanan bisu itu.
Bahkan, bunyi nafasku sendiri kudengar dengan jelas.
SUASANA CERITA HARUS
DIBANGUN DENGAN LOGIS
Februari adalah puncak kemarau di kampung kami.
Kabut yang biasanya turun dari arah Merbabu
mengiringi hujan, tak lagi tampak menuruni
bukit-bukit. Udara panas pada siang dan malam
hari telah membakar ladang-ladang bengkuang—
harta satu-satunya miliki petani dan
menjadikannya semak-semak kering yang pedih.
Panen sudah pasti gagal. Tak akan ada lagi
ratusan burung-burung bangau yang biasanya ikut
berpesta saat panen tiba.
TOKOH, PENOKOHAN, ALUR
 Jumlah tokoh dalam cerpen : tidak banyak.
Penokohan : ditampilkan SEKILAS, hanya
yang diperlukan untuk mendukung cerita.
Alur dalam cerpen sebaiknya bersifat
rapat.
CONTOH CARA MENAMPILKAN TOKOH
Ah...Bapak, seandainya dulu dusun kita sudah bisa ditembus
kendaraan. Kau tak perlu memikul puluhan buah kelapa di
pundakmu. Dengan kaki gemetar kaena beban yang kau
pikul begitu berat. Tanpa ada alas kaki berjalan menembus
hujan jati yang rimbun penuh dengan babi hutan ganas.
Jalanan yang terjal, sempit, berbatu, dan semakin licin jika
hujan datang, dikelilingi jurang curam di sana sini yang kau
tempuh selama berjam-jam. Semua hanya demi sesuap nasi
untuk membesarkan anak-anakmu di tengah pergumulan
hidup yang papa dengan segala keterbatasan sebuah desa
miskin.
Contoh Lain dalam Menampilkan
Tokoh
Sebenarnya ia cuma orang biasa. Laki-laki tiga
puluh tiga tahun yang belum berkeluarga.
Pendidikannya pun cukup sampai tamat es de saja.
Empat tahun lalu ia pergi dari kampung
halamannya. Memilih jadi bagian tak
diperhitungkan uleh struktur kehidupan kota (cerita
pendek ”Wajah dalam Cermin” karya Ibnu H.S.).
Contoh Penggambaran Fisik Tokoh
 Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah
manusia biasa. Mahasuci Allah. Yang menciptakan
wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat
di seluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah
seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling hebat
pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari
imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah
Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang
Mahakuasa. Aku benar-benar merasakan saat-saat
yang istimewa. Saat-saat untuk pertama kali melihat
wajah Aisha (El Shirazy : 215).
Apakah Setiap Tokoh Harus
Memiliki Nama?
Tokoh yang diciptakan dalam cerita bisa
diberi nama, bisa juga dengan sebutan
tertentu, misalnya : laki-laki itu, tokoh kita,
anak kecil itu,dll.
Pemberian nama tokoh harus disesuaikan
dengan cerita. Contohnya : nama Mentaya
dalam cerpen “Mentaya”
MENCIPTAKAN ENDING CERITA
 Ending sebuah cerpen sebaiknya
memberikan SENTAKAN atau
KEJUTAN. Bisa bersifat terbuka, hingga
membuat pembaca menerka-nerka
sendiri ending cerita.
CONTOH ENDING CERITA
 Gerimis masih setia menderistis menemani malam
ketika laki-laki itu tertatih-tatih menyeret peti mati
anaknya. Dia tak tahu ke mana harus menuju (Cerita
pendek ”Ribuan Gagak Masuk Kota karya Punto
Aditya Wardana).
 Bapak yang selalu menyayangi keluarga dengan
caranya sendiri. Bapaklah pahlawan paling nyata
dalam hidupku. Yang selalu mengistimewakanku.
Walaupun Bapak hanyalah bapak tiriku (Cerita
pendek “Pulang ke Bapak” karya Nita Fuji Astuti)
MEMBERI JUDUL
 Fungsi Judul :
Menentukan ”nasib” apakah cerpen
tersebut akan menarik minat pembaca
atau tidak.
Memberikan informasi tentang isi cerita
kepada pembaca.
TEKNIK MEMBUAT JUDUL
 Judul bisa dibuat hanya dengan satu kata.
Contohnya : Dor, Sepi, Pas, Aut, Fitnah, Bos,
Babu, Merdeka, Suami.
 Judul yang hanya terdiri atas satu kata biasanya
memang langsung menarik perhatian. Apalagi
bila yang terdiri atas satu kata tersebut terlihat
aneh dan unik seperti Dodolidodolipret (Seno
Gumira Ajidarma), Godlob (Danarto), dan
Laluba (Nukila Amal).
Lanjutan….
 Judul cerita bisa dibuat menggunakan kata-kata
yang puitis. Misalnya : Sepotong Senja untuk
Pacarku (Seno Gumira Ajidarma), Bulan Sepotong
Semangka (Danarto), Seribu Kunang-Kunang di
Manhattan (Umar Kayam).
 Judul yang puitis akan membuat pembaca
penasaran karena seakan ada yang ingin
ditafsirkan dari judul tersebut. Pembaca jadi
bertanya-tanya, apa maksud judul itu? Apa
maknanya ? karena penasaran maka mereka pun
jadi ingin membaca ceritanya.
Lanjutan….
 Judul cerita juga bisa dibuat dengan kalimat yang
biasa-biasa saja. Misalnya, Ibu Senang Duduk di
Depan Warung (Jujur Prananto), Suatu Hari di Bulan
Desember 2002 (Sapardi Djoko Damono), Penumpang
Kelas Tiga (A.A. Navis).
 Judul bisa juga memakai nama tokoh cerita. Misalnya
Olenka, Rafillus, Sri Sumarah dan Bawuk, Marni,
Parmin.
 Judul juga bisa menggunakan dua atau tiga kata yang
menarik seperti Kincir Api, Setangkai Sunyi, Rumah
Hujan, Misteri Kota Ningi, Lembah Kematian Ibu,
Rumah yang Terbakar.
Mendiamkan dan Membaca Ulang
 Apakah gaya bahasa yang kita gunakan
dapat diapahami oleh pembaca ? apakah
konfllik yang di bangun dalam cerita
sudah logis ? apakah ending cerita telah
tepat ? apakah ada kesalahan ejaan, salah
ketik dan lain sebagainya?
Teknik Menulis Praktis Khusus Bagi
Pemula
MODAL UTAMA : NIAT dan MEMULAI
menulis
Bisa menggunakan teknik 5W dan 1H
SEKIAN
DAN
SELAMAT BELAJAR MENULIS CERPEN
TERIMA KASIH

similar documents