pendidikan multikulturalisme perspektif, karakteristik sebagai

Report
PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME
PERSPEKTIF, KARAKTERISTIK SEBAGAI MASYARAKAT
MULTIKULTUR, DAN SEJARAH PERKEMBANGAN
MULTIKULTURAL MENJADI WACANA PENDIDIKAN
Oleh:
1. ASSA MIRIN
NIM. 0100360009
2. MUHAMMAD ALI
NIM. 0100360018
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
- Perkembangan pembangunan nasional dalam era
industrialisasi telah memunculkan side effect yang tidak
terhindarkan dalam masyarakat.
- Konglomerasi dan kapitalisme telah menumbuhkan
bibit-bibit masalah dalam masyarakat seperti
ketimpangan antara kaya dan miskin, masalah pemilik
modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan SDA dsb.
- Kebijakan yang sentralistik dan pengawalan yang ketat
terhadap isu perbedaan telah menghilangkan
kemampuan masyarakat untuk memikirkan dan
memecahkan persoalan yang muncul dari perbedaan
secara terbuka, rasional dan damai.
LANJUTAN…
kondisi masyarakat yang sangat plural baik dari aspek
suku, ras, agama serta status sosial memberikan
kontribusi terhadap perkembangan dan dinamika dalam
masyarakat, hal ini dapat menjadi pemersatu (integrating
force) tapi juga dapat menjadi pemicu disintegrasi bangsa
-
- Untuk itu dipandang sangat penting memberikan porsi
pendidikan multikultural sebagai wacana baru dalam sistem
pendidikan di Indonesia terutama peserta didik memiliki
kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah
sosial yang berakar pada perbedaan karena suku, ras, agama
dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakat.
2. TUJUAN
a.
b.
Sebagai bahan kajian bagi pengembangan pendidikan
multikulturalisme;
Guna memenuhi tugas dari mata kuliah pendidikan
multikulturalisme.
3. RUANG LINGKUP
Pembahasan tentang multikulturalisme sangat luas
dimensinya, oleh karena itu saat ini pembahasan dibatasi
pada perpektif karakteristik sebagai masyarakat multikultural
dan sejarah perkembangan multikultural menjadi wacana
pendidikan
APA DAN MENGAPA MULTIKULTURALISME
menurut “kamus sosiologi” kata multikultural berarti
berkenaan dengan lebih dari dua kebudayaan;
 multikulturalism berarti adanya lebih dari dua kebudayaan
dalam suatu komuniti
 jadi masyarakat multikultur adalah masyarakat yang
memiliki struktur budaya lebih dari satu.
 Multikulturalisme secara etimologis marak digunakan pada
tahun 1950-an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary
istilah “multiculturalism” merupakan deviasi dari kata
“multicultural”, Kamus ini menyitir kalimat dari surat kabar
Kanada, Montreal Times yang menggambarkan masyarakat
Montreal sebagai masyarakat “multicultural dan multilingual”.

LANJUTAN…
Menurut Nasikun bhw masyarakat multikultural (majemuk) sebagai suatu
masyarakat yang menganut sistem nilai yang berbeda diantara berbagai
kesatuan sosial yang menjadi anggotanya, shg para anggota
masyarakatnya kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai
suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan atau
bahkan kurang memiliki dasar-dasar untuk saling memahami satu sama
lain.
Secara umum masyarakat multikultural mempunyai ciri-ciri sbb:
a.
Sulit melakukan integrasi budaya dan integrasi sosial budaya;
b.
Memiliki lebih dari satu sistem tata nilai dan sistem budaya;
c.
Sering terjadi perubahan-perubahan, baik dalam kelembagaan
maupun dalam sistem sosial budayanya;
d.
Sering terjadi kompetisi dalam kehidupan bermasyarakat;
e.
Sering terjadi konflik sosial;
f.
Antara satu kelompok dengan kelompok lain tidak saling memberikan
dukungan.
LANJUTAN…
1.
2.
3.
4.
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai
masyarakat multikultural terbentuk melalui
proses yang panjang. Hal ini dipengaruhi oleh
kondisi fisik, psikis dan sosial budaya sbb:
Faktor bentuk wilayah yang terdiri dari banyak
pulau;
Faktor sejarah;
Faktor posisi geografis;
Faktor pencampuran budaya dan ras di antara
masyarakat yang majemuk.
HAKIKAT MULTIKULTURALISME
Menurut Aristoteles bahwa manusia merupakan makhluk sosial (zoon
politicon) ini berarti bahwa secara naluriah manusia tidak dapat hidup
tanpa orang lain. Sehingga menjadi dasar terbentuknya kelompok-kelompok
sosial.
Dalam kelompok sosial terkandung makna bahwa kita tidak hidup dalam
sebuah budaya saja, melainkan beraneka ragam budaya. Dan masingmasing kelompok atau komunitas tercipta suatu pendalaman, terjadi proses
pembatinan, internalisasi, dan disaat yang sama juga menimbulkan
pembatasan, pemisahan, pengkhususan yang memberikan identitas dan
akhirnya membedakan dengan yang lain.
Pada masyarakat tradisional kelompok sosial cenderung terbentuk secara
alamiah (ikatan persamaan darah yang melahirkan suku), sementara pada
masyarakat modern kelompok sosial cenderung terbentuk atas dasar
persamaan kepentingan, sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan yang
mereka miliki (kelompok dagang, kelompok olah raga, dll).
LANJUTAN…
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan kelompok sosial:
a.
Dorongan untuk meneruskan keturunan;
b.
Dorongan untuk bekerja sama;
c.
Dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup;
d.
Dorongan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas
kerja.
LANJUTAN…
Bentuk-bentuk keanekaragaman kelompok
sosial dalam masyarakat multikultural:
1. Keanekaragaman dalam bentuk ras: Ras
Caucasoid, Ras Mongoloid, Ras Negroid,
Ras Austroloid dan Ras-ras khusus (ras
Bushman, ras Vedroid, ras Polinesia dan
ras Aino);
2. Keanekaragaman dalam bentuk suku
bangsa;
3. Keanekaragaman dalam bentuk agama
dan kepercayaan
URGENSI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Multikultural adalah konsep yang mampu menjawab
tantangan perubahan zaman, dengan alasan multikultural
merupakan sebuah pengakuan yang mengedepankan
perbedaan budaya atau sebuah sikap yang mengakui dan
mendorong terwujudnya pluralisme budaya sebagai corak
kehidupan masyarakat.
Multikulturalisme akan menjadi pengikat dan jembatan yang
mengakomodasi perbedaan-perbedaan dalam masyarakat
yang multikultural. Perbedaan-perbedaan itu dapat
terakomodasi di tempat-tempat umum, tempat kerja, pasar dll
serta sistem nasional dalam hal kesetaraan derajat secara
politik, hukum, ekonomi dan sosial.
Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara
hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap
keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah
masyarakat Indonesia.
SEJARAH PERKEMBANGAN
MULTIKULTURAL MENJADI WACANA
PENDIDIKAN
Dalam sejarahnya, pendidikan multikultural sebagai sebuah
konsep atau pemikiran tidak muncul dalam ruang kosong,
namun ada interes politik, sosial, ekonomi dan intelektual
yang mendorong kemunculannya.
Wacana pendidikan multikultural pada awalnya sangat bias
Amerika, karena punya akar sejarah dengan gerakan HAM
dari berbagai kelompok di negeri tersebut.
Tahun 1960-an – 1970-an terjadi gerakan menuntuk
adanya persamaan ras khususnya dalam dunia pendidikan.
LANJUTAN …
Tahun 1980-an agaknya dianggap sebagai kemunculan lembaga
sekolah yang berlandaskan pendidikan multikultural yang didirikan
oleh para peneliti dan aktivis pendidikan progresif, seperti James
Bank. Yang membumikan konsep pendidikan multikultural
menjadi ide persamaan pendidikan.
Tahun 1990-an, tuntutan warga Amerika keturunan Afrika,
Latin/Hispanic, warga pribumi dan kelompok marginal tentang
persamaan pendidikan, menjadikan slogan pendidikan
multikultural semakin berjaya.
Konsep ini diterima sebagai strategi penting dalam
mengembangkan toleransi dan sensivitas terhadap sejarah dan
budaya dari kelompok etnis yang beraneka macam di negara
Amerika
LANJUTAN…
Ide pendidikan multikulturalisme akhirnya menjadi komitmen
global sebagaimana direkomendasikan UNESCO pada bulan
Oktober 1994 di Jenewa, yang memuat 4 rekomendasi yaitu:
1.
Pendidikan mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada
dalam kebhinekaan pribadi, jenis kelamin, masyarakat dan
budaya untuk berkomunikasi, berbagi dan bekerjasama
dengan yang lain;
2.
pendidikan hendaknya mendorong untuk memperkokoh
perdamaian, persaudaraan dan solidaritas antara pribadi
dan masyarakat;
3.
pendidikan hendaknya memiliki kemampuan
menyelesaikan konflik secara damai tanpa kekerasan;
4.
pendidikan dapat meningkatkan pengembangan
kedamaian dalam diri pikiran peserta didik sehingga
mampu membangun kualitas toleransi, kesabaran,
kemauan untuk berbagi dan memelihara.
LANJUTAN…
Konsep pendidikan multikultural dalam perjalanannya
menyebar luas ke luar AS, khususnya negara-negara yang
memiliki keragaman etnis, ras, agama dan budaya seperti
Indonesia.
Konsep pendidikan multikultural semakin memperoleh
momentum pascaruntuhnya rezim otoriter-militeristik Orde
Baru karena hempasan badai reformasi.
LANJUTAN…
Menurut Azyumardi Azra, berakhirnya sentralisme
kekuasaan yang pada masa orde baru memaksakan
“monokulturalisme” yang nyaris seragam, memunculkan
reaksi balik, yang bukan tidak mengandung implikasiimplikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia
yang multikural. Berbarengan dengan era
desentralisasi/otonomisasi memunculkan gejala
“Provinsialisme” yang hampir tumpang tindih dengan
“etnisitas”. Kecenderungan ini harus dikendalikan karena
akan menimbulkan dampak tidak hanya disintegrasi sosiokultural yang amat parah tetapi juga disintegrasi politik.
LANJUTAN…
Dengan melihat kenyataan yang terjadi, dengan begitu
banyaknya peristiwa yang berakar dari keragaman yang ada,
maka dipandang perlu kiranya untuk menerapkan
pendidikan multikultural di Indonesia.
Guna mewujudkannya dipandang bahwa jalan terbaik untuk
mengimplementasikan pandangan multikultural melalui
dunia pendidikan, yang dibangun mulai dari tingkat
pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, baik formal
maupun non formal
KESIMPULAN
Sejarah panjang Bangsa Indonesia dibangun
dengan pondasi keragaman budaya, ras, agama
dan adat istiadat yang berbeda;
 Pendidikan multikultural sebagai wacana baru di
Indonesia dapat diimplementasikan baik melalui
pendidikan formal maupun informal;
 Pendidikan multikultural adalah suatu pendekatan
progresif untuk melakukan transformasi
pendidikan yang secara menyeluruh membongkar
kekurangan, kegagalan dan praktik-praktik
diskriminatif dalam proses pendidikan.


similar documents