BJH_ITS_PP - Dies Natalis ITS ke 52

Report
Orasi Ilmiah
Membangun Benua
Maritim Indonesia
Bacharuddin Jusuf Habibie
Dies Natalis ke 52,
Institut Teknologi Sepuluh
November (ITS)
Surabaya, 10 November 2012




luas: 9.804.443 km2
daratan 20%, lautan 80%
> 17.000 pulau
> 300 etnik
Reformasi & Peningkatan
Produktivitas Bangsa
Sejak era Kabinet Reformasi Pembangunan secara sistematis dan
berkelanjutan dimulai proses reformasi di segala aspek
kehidupan & lapisan Masyarakat Madani Indonesia
Produktivitas suatu masyarakat hanya mekar berkembang di atas
KEMERDEKAAN dan KEBEBASAN yg bertanggung jawab dari
suatu bangsa BERBUDAYA
Sejak reformasi syarat tsb terpenuhi  sehingga produktivitas
Masyarakat Madani Indonesia dipercepat, karena peningkatan
proses-proses:
Proses Pembudayaan,
Proses Pendidikan, dan
Proses Pengembangan Wahana Jam Kerja
Proyeksi
Perkembangan Masyarakat Madani sbg
Penggerak Utama Pembangunan
(2045)
(2023)
(1998)
PRASYARAT
Pertumbuhan 7-8% per tahun
Pemerataan kesempatan kerja
Pemerataan pendapatan
Pengangguran minimun (<2%)
Stabilitas politik
Wahana jam kerja:
 ketimpangan UKM vs UB
Data statistik
Lapangan kerja:
Usaha Kecil & Menengah (UKM)  99,46 %
Usaha Besar (UB)
 0,54%
Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
Usaha Besar
 44,9%
Usaha Kecil & Menengah  55,1%
LAPANGAN KERJA
yang disediakan
ketimpangan
PDB yang
dihasilkan
mencerminkan:
Kesenjangan kualitas sumberdaya manusia
kesenjangan pendidikan
kesenjangan produktivitas
kesenjangan penguasaan Iptek
Industri yang mengandalkan SDA (1)
 tantangan peningkatan produktivitas & daya saing
Kondisi saat ini usaha
Usaha masih terpusat pada kegiatan hulu
 nilai tambah relatif rendah
Tantangan ke depan:
meningkatkan nilai tambah & daya saing komoditas pertanian
melalui industrialisasi pertanian terutama agroindustri di
pedesaan.
Meningkatkan jumlah unit usaha agroindustri (yg baru sktr,52%
per tahun)
Pertanyaan kita:
 Mengapa unit usaha agroindustri rata-rata meningkat hanya 5,52%
tiap tahun?
 Bagaiman meningkatkan produktivitas dan daya saing unit usaha
agroindustri?
Industri yang mengandalkan SDA (2)
 esensi pengembangan agroindustri
Pengembangan agroindustri:
tidak hanya untuk peningkatan jumlah dan jenis produk
pangan
yang lebih penting adalah untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat  peningkatan ekonomi daerah
Untuk itu upaya pengembangan agroindustri dapat bersenergi
positip dengan usaha mikro, kecil dan menengah
Kenyataan: penyerapan tenaga kerja sektor pertanian memiliki
kontribusi 33%, (= 36,54 juta tenaga kerja)
Industri yang mengandalkan SDA (3)
 pertanyaan kita utk peningkatan agroindustri
Perlu kita kaji:
Apakah pendapatan petani sudah dapat mengeluarkan keluarga mereka
dari kehidupan di bawah garis kemiskinan?
Dapatkah pendapatan petani berkembang menjadi stabil di atas garis
kemiskinan?
Apa kontribusi sektor pertanian terhadap neraca perdagangan, neraca
pembayaran dan neraca jam kerja?
Komoditas apa saja yang perlu diperhatikan? teknologi tepat guna apa
saja yang perlu dikembangkan?
Mekanisme kerja sama apa yg perlukan untuk meningkatkan SINERGI
antara unit usaha agroindustri pedesaan dengan unit usaha perkebunan
(swasta & pemerintah) agar  saling menguntungkan)? `
Industri yang mengandalkan SDA (4)
 terbatasnya lahan hutan
Luas hutan tinggal 130,68 juta hektar, akibat pembalakan liar
(illegal logging) sebesar 4 juta hektar tiap tahun  kerugian
lebih besar dibanding penyelewengan dana BLBI (Rp 600 triliun)
Dalam pengelolaan kawasan hutan keseimbangan antara
kepentingan manusia dan kehidupan flora serta fauna harus
seimbang  kalau terganggu terjadi bencana banjir atau
kelangkaan air
Dari 26,82 juta hektar hutan konservasi dapat dimanfaatkan hasil
hutan 10% kayu dan 90% non-kayu (seperti getah, madu, dan
rotan,dsb).
Dengan hanya memanfaatkan produk nonkayu  menjaga
pohonnya tidak terganggu. Hutan juga dapat dijadikan wahana
wisata alam
Industri yang mengandalkan SDA (5)
 upaya pelestarian hutan (1)
Perlu diperhatikan pelestarian hutan mangrove (bakau), karena
memberi banyak manfaat, antara lain: menahan abrasi,
pemijahan biota laut, mengendapkan material yang hanyut di
sungai, buahnya dapat dijadikan tepung dan sirup
Kerusakan mangrove akibat ketidaktahuan masyarakat dan
kegiatan pertambangan yang tidak bertanggungjawab. Padahal
kerusakan mangrove bersifat irreversibel perlu dilakukan
sosialisasi tentang pelestarian hutan mangrove
Perbaikan kondisi hutan tidak hanya dengan melakukan
penanaman pohon saja, tapi perlu dibarengi perubahan pola
pikir dan budaya masyarakat terhadap keberadaan hutan,
khususnya di daerah yang mempunyai tingkat kerusakan yang
tinggi. Budaya menanam itu harus di tumbuhkan sejak dini.
Industri yang mengandalkan SDA (6)
 upaya pelestarian hutan (2)
Dalam rangka pelestarian hutan perlu diintensifkan
program pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR),
yang baru terlaksana 25% dari luas yang (657.118 hektar),
baru di 37 kabupaten dari 104 kabupaten yang
direncanakan dilakukan HTR
Di Papua, sekitar 200 ribu hektar kawasan hutan tercemar
material sisa pasir tambang – yang berasal dari satu
perusahaan saja – akibat pembuangan 300 ribu ton limbah
per hari ke sungai. Kalau dibiarkan berlangsung  akan
mengancam 30 juta hekter hutan primer di Papua
Adalah wajar dan adil kalau perusahaan tersebut harus
segera meperbaiki dampak kerusakan hutan yang terjadi,
dan wajar kalau Pemerintah (Pusat & Daerah) menuntut
ganti rugi yang sepadan untuk memperbaiki ekosistem
yang rusak
Industri yang mengandalkan SDA (7)
 potensi periknan (1)
Pasar dalam negeri mampu menyerap 85% produksi perikanan,
a.l. dipasarkan di carrefour. Kedepan, produk UKM ini diharapkan
dapat menembus wahana ritel lain, seperti: alfamart, alfamidi,
lottemart dan indomarket.
Agar dapat menembus pasar ritel tersebut, perlu dilakukan halhal sbb:
Pengembangan dan penyempurnaan mekanisme pembayaran
antara UKM dan riteler agar pendapatan dan kesejahteraan nelayan
dapat lebih meningkat
Pembinaan dalam rangka memperbaiki mutu hasil olahan
perikanan agar produk dapat dengan mudah dipasarkan di ritel
modern
Penerapan sistem sertifikasi kelayakan pengolahan secara bertahap
kepada seluruh UKM
Industri yang mengandalkan SDA (8)
 potensi perikanan (2)
KADIN dapat berperan dalam memberikan pelatihan dan
pendampingan bagi para pelaku usaha di daerah untuk mengangkat
dan memperluas pemasaran produk perikanan
KKP telah menginisiasi program branding produk sebagai upaya
memfasilitasi pemasaran produk ke industri ritel modern (ada 12
produk yang telah lulus program branding), program branding
meliputi cara produksi yang mengikuti standar mutu, perbaikan sisi
kemasan, dan harga yang bersaing
Masuknya produk-produk perikanan lokal ke pasar ritel modern,
merupakan suatu keuntungan bagi pelaku UKM, karena produk
mereka dapat menjangkau masyarakat luas di seluruh kawasan tanah
air.
Industri yang mengandalkan SDA (9)
 kesimpulan
usaha mikro, kecil
dan menengah
sinergi
potensi SDA yang
ada
untuk peningkatan
kualitas SDM
untuk memelihara dan
meningkatkan kualitas lingkungan
alam, khususnya hutan tropis sbg
paru-paru dunia yang menentukan
iklim lokal, regional dan global
Industri yang mengandalkan SDM (1)
 ilosofi pembangunan industri
 “Mulai pada akhir dan berakhir pada awal”;  kita memproduksi
barang yg dibutuhkan pasar, kemudian secara bertahap
mengembangkannya sampai dapat menguasai teknologi.
 Investasi proses pendidikan dan pembudayaan “hari ini” baru akan
bermakna 25 tahun yad  peningkatan ketrampilan dan keunggulan
SDM membutuhkan waktu yang cukup lama
 Transformasi & perkembangan industrialisasi dibiayai oleh hasil ekspor
SDA dan energi.
 Tiap kebijakan & keputusan (eksekutif maupun legislatif) wajib
memprioritaskan “jam kerja” nasional.
 Usaha dan investasi pada bidang ilmu terapan dan teknologi tepat
guna untuk produksi barang yang dibutuhkan di pasar nasional saja
yang dibiayai dari hasil ekspor SDA dan energi.
Industri yang mengandalkan SDM (2)
 proyeksi dan harapan
Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi
tercepat kedua setelah China:
Tahun 2020 diperkirakan telah sebanyak 58 % penduduk Indonesia
 masyarakat kelas menengah dengan daya beli hingga Rp 1,8
triliun
Tahun 2025 diharapkan bisa tercapai pendapatan per kapita di atas
US$ 16.000  akan masuk “sepuluh negara besar di dunia yang
memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi“, yang inklusif, berkeadilan
dan berkelanjutan.
Lulusan perguruan tinggi sbd SDM pendukung industrialisasi:
Saat ini baru mencapai sekitar 8% dari jumlah penduduk
Tahun 2020 diharapkan mencapai sekitar 20 %, yang memiliki keahlian
dan keterampilan sesuai kebutuhan pasar dan wahana jam kerja yang
ada
Industri yang mengandalkan SDM (3)
 faktor yang mempengaruhi & harus diperhatikan
Pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh inovasi,
percepatan inovasi dan konektivitas antara pusat dan daerah
 untuk mengatasi masalah pemerataan pembangunan, hal-hal
tersebut perlu mendapat perhatian, perbaikan dan peningkatan
Pasar domestik nasional menjadi penggerak utama
pembangunan Masyarakat Madani Indonesia, dengan
memanfaatkan kelima dasar strategi (filosofi) proses
industrialisasi
Pengangkutan manusia dan barang (melalui darat, laut dan
udara) dan pemberian informasi (yang cepat dan tepat waktu)
adalah produk proses nilai tambah (PNT) yang sangat intensip
jam kerja dan hanya dapat dilaksanakan oleh SDM yang mampu
dan trampil.
Industri yang mengandalkan SDM (4)
 ‘cabotase’ sbg kebijakan perlidungan (1)
Sejarah perkembangan ekonomi membuktikan:
 proses pertumbuhan produk perangkat pemikiran (brainware),
perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) perlu
diberi perlindungan dan mendapat prioritas, sampai SDM dan
produknya mampu bersaing di pasar domestik dan global
 Contoh/ilustrasi:
Pada masa penjajahan, Belanda melakukan kebijakan “Cabotage“,
hak monopoli mengangkut perdagangan hanya oleh kapal-kapal
berbendera Belanda, sehingga praktis barang dari Indonesia hanya
diangkut ke luar negeri dengan kapal KPM (Koningklijke
Pakketvaart Maatschappy) saja
Wilayah Benua Maritim Indonesia tertutup bagi jasaangkutan yang
berbendera negara lain
Industri yang mengandalkan SDM (5)
 ‘cabotase’ sbg kebijakan perlidungan (2)
Contoh/ilustrasi lain:
Praktek cabotage juga pernah dilakukan di USA. Merchant Act 1920
PL66-261 (“Jones Act”)  mengharuskan barang-barang yang dibeli
dari AS atau yang dibiayai pinjaman Exim Bank AS dan PL-480 bantuan
AS hanya dapat diangkut oleh kapal-kapal berbendera AS.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk membuka lapangan kerja bagi warga
AS sebagai pelaut kapal dan pekerja galangan kapal serta industri
pendukung lainnya.
Pertimbangan lain adalah menghubungkan kota-kota tepi pantai
sekeliling AS dan sekaligus berfungsi mengawal negara dari ancaman
asing, penyelundupan, dan migrasi gelap.
Walaupun AS -- dan negara maju lain -- memperjuangkan liberalisasi
perdagangan dan keuangan/perbankan, tapi dalam perhubungan laut
mereka memegang ketat kebijakan cabotage.
Industri yang mengandalkan SDM (6)
 ‘cabotase’ sbg kebijakan perlidungan (3)
Pertanyaan untuk direnungkan:
Mengapa di wilayah NKRI Benua Maritim Indonesia kita masih ragu
menerapkan kebijakan Cabotage dan ragu membuat Undang-Undang
yang mengamankan kebijakan Cabotage?
Mengapa kita lebih melaksanakan peraturan WTO yang pernah saya
sebut tidak lain adalah ”baju baru dari VOC”?
Mengapa kita korbankan ”Neraca Jam Kerja” demi kepentingan apa
yang dipelajari pada perguruan tinggi -- yang hanya menonjolkan
”Neraca Perdagangan“ & “Neraca Pembayaran“ saja?
Mengapa kita tidak melaksanakan kajian & penelitian untuk
meningkatkan daya saing masyarakat dengan mengutamakan
„Neraca Jam Kerja“?
Industri yang mengandalkan SDM (7)
 yang kita perlukan untuk pengembangan industri kelautan
Perlu memanfaatkan armada pelayaran (jalur utama, penunjang & perintis) sebagai
wahanan bagi proses nilai tambah pribadi bagi sekolah-sekolah pelayaran, yang
selalu dikembangkan sesuai kebutuhan
Perlu membuka lapangan kerja terampil untuk galangan kapal dan ahli perkapalan
yang mampu mendisain kapal sesuai dengan sifat watak kelautan kita.
Misalnya:
 kapal-kapal didisain mengikuti sifat pasang surut sungai  sehingga di musim
apa pun bisa masuk menelusuri sungai sampai ke pedalaman
 kapal juga harus mampu melewati gelombang besar - di lautan Banda misalnya -karena berstruktur sesuai alur yang dilaluinya.
Dengan teknologi yang semakin maju, perilaku lautan Indonesia sudah bisa
diperhitungkan dalam pembuatan kapal  membuka kesempatan membangun
galangan modern yang pembuatan kapal-kapal sesuai dengan perilaku lautan dan
kebutuhan jejaring angkutan
Galangan kapal harus dijadikan sentra pertumbuhan masyarakat maritim mencakup
pengembangan pelabuhan-pengumpul (hub ports) barang umum, produk hasil rakyat
dan perikanan ditopang oleh fasilitas bungker minyak yang tersebar di pulau-pulau
strategis di NKRI
Industri yang mengandalkan SDM (8)
 strategi pengembangan industri kelkautan
Pengembangan perhubungan laut – yang mencakup pengembangan
sistem jejaring jalur angkutan utama, penunjang, dan perintis -dilaksanakan dengan membangun dan mengembangkan pelabuhan
utama (hub ports).
Perlu dikembangkan dan dibangun jaringan fasilitas galangan kapal
utama yang memproduksi dan memperbaiki kapal-kapal yang sesuai
dengan perilaku lautan kita dan yang mampu memasuki sungaisungai besar.
Perlu difikirkan: apakah di masa depan kita perlu mengembangkan
dan menerapkan kebijakan “cabotage” dengan memanfaatkan Badan
Usaha Jasa dan Badan Usaha Produksi yang dimiliki oleh siapa saja
dan beroperasi di NKRI?
Kebijakan cabotage pada prinsipnya dapat diterapkan untuk semua
produk sarana dan prasarana ekonomi yang dibutuhkan dan
beroperasi di wilayah NKRI, berdasarkan persaingan yang sehat!
Industri yang mengandalkan SDM (9)
 perkembangan industri strategis (1)
Kilasan sejarah:
Pada Kongres Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) se Eropa 1958, saya mendapat
kehormatan untuk mempersiapkan suatu seminar yang akan membicarakan
Pembangunan Indonesia.
Sejak itu BJH banyak memikirkan dan berusaha menyusun rencana
pembangunan, khususnya industri dirgantara di Indonesia, karena permintaan
akan pesawat terbang sipil akan meningkat pesat. Ini merupakan alasan utama
mengapa tahun 1965 BJH bekerja di perusahaan pembuat pesawat terbang sipil
HFB (Hamburger Flugzeug Bau) . \
Sejak tahun 1974 secara sistimatik BJH turut aktif melaksanakan pembangunan
di tanah air, khususnya industri dirgantara dan 10 industri strategis lain.
Dengan keyakinan bahwa sekitar 0,1 % - 0,8% dari penduduk Indonesia mampu
menguasai IPTEK secanggih apa pun dalam segala bidang; maka sudah
mencukupi untuk mentransformasi menjadi masyarakat madani Indonesia yang
sejahtera dan tentram.
Industri yang mengandalkan SDM (10)
 perkembangan industri strategis (2)
Industri strategis, yang pada tahun 1995:
memiliki 48.000 karyawan
memiliki omset sekitar US$ 10 milyar/ tahun
 menjadi ujung tombak penggerak utama proses industrialisasi
Proses industrialisasi produk tradisional (industri pertanian kelautan
dan pertambangan):  dimulai dari awal (hulu)
Proses industrialisasi manufaktur:  dimulai dari akhir (hilir)
Pusat-pusat keunggulan pendidikan dan penelitian dalam bidang yang
sudah ada disempurnakan dan yang belum ada didirikan sesuai
kebutuhan.
Sumberdaya manusia berpendidikan rendah, menengah dan tinggi
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Karena Industri dirgantara dengan industri penunjangnya ditentukan di
Bandung, maka pusat keunggulan pendidikan dan penelitian
dipusatkan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PUSPITEK.
Industri yang mengandalkan SDM (11)
 perkembangan industri strategis (3)
Ujung tombak industri maritim -- dengan galangan kapal dan
industri penunjangnya -- ditentukan di Surabaya (PT PAL).
Pusat keunggulan pendidikan dan penelitian industri maritim
dipusatkan di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan
PUSPITEK.
Industri maritim direncanakan pula dikembangkandi Batam,
Makasar dan Ambon, yang semuanya dikoordinasikan dan dibina
oleh Pusat Keunggulan Galangan Kapal (PT. PAL) dan Pusat
Keunggulan Penelitian dan Pendidikan Maritim ITS.
Karya-karya nyata bidang dirgantara -- antara lain seperti CN 235
dan N250 -- dan bidang maritim -- antara lain: Caraka Jaya I, II dan III
(kapal niaga dan penumpang), Mina Jaya (kapal ikan), Palwobuono
(kapal kontainer dan barang di atas 10.000 DWT) dan Kapal Naruta
Jaya (kapal layar container dan barang) -- adalah produk
manufaktur yang telah dimulai dan perlu terus dikembangkan.
Industri yang mengandalkan SDM (12)
 perkembangan industri strategis (4)
Industri manufaktur kereta api oleh PT INKA dibina industri
strategis. Sedangkan industri manufaktur mobil, sepeda motor,
alat pembangkit listrik; dilaksanakan oleh suasta, dalam rangka
kerjasama dengan industri strategis dan pusat unggulan
pendidikan dan penelitian.
Semua jenis industri yang mengandalkan SDM tersebut perlu
terus dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan dan
menjawab kebutuhan benua maritim Indonesia, khususnya di
NKRI.
Di samping itu, keberadaan dan berkembangnya berbagai
industri tersebut adalah merupakan wahana jam kerja tempat
berkarya dan berkembangnya keterampilan dan kualitas SDM
yang dihasilkan oleh proses pembudayaan dan pendidikan.
harapan kepada dosen & mahasiswa
Mari secara aktif kita rajut benang masa depan
bangsa
dengan karya nyata membangun dan
mengembangkan peradaban di benua maritim
Indonesia
berbekal penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi di kampus tercinta:
Institut Teknologi Sepuluh November

similar documents