pajak ibbi ppn fp

Report
FAKTUR PAJAK
Pasal 13 Ayat (1) UU PPN
Objek PPN Yang Harus
Dibuatkan Faktur Pajak
a. penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean
yang dilakukan oleh Pengusaha
b. penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean
yang dilakukan oleh Pengusaha
c. ekspor BKP Berwujud oleh Pengusaha Kena
Pajak
d. ekspor BKP Tidak Berwujud oleh Pengusaha
Kena Pajak
e. ekspor JKP oleh Pengusaha Kena Pajak
f. penyerahan aktiva Pasal 16D
Pasal 13 Ayat (1a) UU PPN
Saat Faktur Pajak Harus
Dibuat
a. saat penyerahan BKP dan/atau penyerahan
JKP
b. saat penerimaan pembayaran dalam hal
penerimaan pembayaran terjadi sebelum
penyerahan
BKP
dan/atau
sebelum
penyerahan JKP
c. saat penerimaan pembayaran termin dalam
hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan,
atau
d. saat lain yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
Pasal 13 Ayat (2) & (2a) UU PPN
Faktur Pajak Gabungan

Pengusaha Kena Pajak dapat membuat
1
Faktur Pajak meliputi seluruh
penyerahan yang dilakukan
 kepada pembeli Barang Kena Pajak atau
penerima Jasa Kena Pajak yang sama
 selama 1 bulan kalender

Faktur Pajak Gabungan harus dibuat
paling
lama
pada
akhir
bulan
penyerahan
Pasal 13 Ayat (9) UU PPN
Persyaratan Faktur Pajak


Memenuhi persyaratan formal
Memenuhi persyaratan material
Persyaratan Formal
Faktur Pajak
Pasal 13 Ayat (5) UU PPN

Paling sedikit harus memuat :
o
o
o
o
o
o
o
nama, alamat, dan NPWP penjual BKP/JKP
nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP/JKP
jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau
Penggantian, dan potongan harga
PPN yang dipungut
PPnBM yang dipungut;
kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur
Pajak, dan
nama dan tanda tangan yang berhak
menandatangani Faktur Pajak
Persyaratan Material
Faktur Pajak
Pasal 13 Ayat (9) UU PPN

Faktur Pajak atau dokumen tertentu yang
kedudukannya dipersamakan dengan Faktur
Pajak memenuhi persyaratan material
apabila berisi keterangan yang sebenarnya
atau sesungguhnya mengenai
o
o
o
o
o
o
penyerahan BKP/JKP
ekspor BKP Berwujud,
ekspor BKP Tidak Berwujud,
ekspor JKP,
impor BKP,
atau pemanfaatan JKP dan pemanfaatan BKP
Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean
Dokumen Tertentu
Pasal 13 Ayat (6) UU PPN

Dirjen Pajak dapat menetapkan dokumen
tertentu yang kedudukannya dipersamakan
dengan Faktur Pajak
Alasan :





dokumen sudah dikenal luas
penjual BKP/JKP berada di luar daerah pabean
terdapat dokumen tertentu dalam hal impor dan
ekspor BKP Berwujud
Ketentuan Pelaksanaan : Per Dirjen No.
10/PJ/2010
Jenis Dokumen Tertentu
Per Dirjen 10/PJ/2010





Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah diberikan
persetujuan ekspor oleh pejabat yang berwenang dari Ditjen
Bea dan Cukai dan dilampiri dengan invoice yang merupakan
satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB tersebut;
Surat
Perintah
Penyerahan
Barang
(SPPB)
yang
dibuat/dikeluarkan oleh Bulog/DOLOG untuk penyaluran tepung
terigu;
Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang
dibuatkan/
dikeluarkan oleh PERTAMINA untuk penyerahan BBM/Non
BBM
Tanda pembayaran atau kuitansi untuk penyerahan jasa
telekomunikasi;
Tiket, tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill), atau Delivery
Bill, yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan
udara dalam negeri;
Jenis Dokumen Tertentu
Per Dirjen 10/PJ/2010





Nota Penjualan Jasa yang dibuat/dikeluarkan untuk
penyerahan jasa kepelabuhanan,
Tanda pembayaran atau kuitansi listrik,
Pemberitahuan Ekspor JKP/BKP Tidak Berwujud
yang dilampiri dengan invoice yang merupakan satu
kesatuan
yang
tidak
terpisahkan
dengan
Pemberitahuan Ekspor JKP/BKP Tidak Berwujud,
untuk ekspor JKP/BKP Pajak Tidak Berwujud,
Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan dilampiri
dengan SSP, SSPCP, dan/atau bukti pungutan pajak
oleh Ditjen Bea dan Cukai yang merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PIB
tersebut, untuk impor BKP, dan
SSP untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP
tidak berwujud atau JKP dari luar daerah Pabean
Peraturan Pelaksanaan
Pasal 13 Ayat (8) UU PPN


Ketentuan lebih lanjut mengenai tata
cara pembuatan Faktur Pajak dan tata
cara pembetulan atau penggantian
Faktur Pajak diatur dengan atau
berdasarkan
Peraturan
Menteri
Keuangan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
38/PMK.03/2010
Bentuk, Ukuran dan
Pengadaan Faktur Pajak
Per Menkeu 38/PMK.03/2010



Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak
disesuaikan dengan kepentingan PKP dan
dalam hal diperlukan dapat ditambahkan
keterangan lain
Pengadaan formulir Faktur Pajak dilakukan
oleh Pengusaha Kena Pajak
Faktur Penjualan yang memuat keterangan
sesuai Pasal 13 Ayat (5) UU PPN, dan
pengisiannya
sesuai
ketentuan,
dipersamakan dengan Faktur Pajak
Faktur Pajak Pengganti, Hilang
dan Pembatalan Faktur Pajak
Per Menkeu 38/PMK.03/2010



Atas Faktur Pajak yang cacat, rusak, salah
dalam pengisian, atau salah dalam
penulisan, PKP dapat menerbitkan Faktur
Pajak pengganti
Atas Faktur Pajak yang hilang, PKP dapat
membuat copy dari Faktur Pajak dan
dibubuhi stempel dari KPP
Dalam hal terdapat pembatalan transaksi
penyerahan BKP dan/atau JKP yang Faktur
Pajak-nya telah diterbitkan, PKP penerbit
harus melakukan pembatalan Faktur Pajak
Ketentuan Lebih Lanjut
Per Menkeu 38/PMK.03/2010

Diatur oleh Peraturan Dirjen Pajak :






bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak
tata cara pengisian keterangan pada Faktur Pajak
prosedur
pemberitahuan
dalam
rangka
pembuatan Faktur Pajak
tata cara pembetulan atau penggantian Faktur
Pajak, dan
tata cara pembatalan Faktur Pajak
Peraturan Dirjen Pajak Nomor 13/PJ/2010
Peruntukan Faktur Pajak
Per Dirjen No. 13/PJ/2010

Paling sedikit dibuat 2 rangkap :



Lembar 1 untuk pembeli BKP/JKP
Lembar 2 untuk penjual BKP/JKP
Dalam hal Faktur Pajak dibuat lebih dari
yang ditetapkan maka harus dinyatakan
secara jelas peruntukannya dalam
lembar Faktur Pajak yang bersangkutan
Pengisian Faktur Pajak
Per Dirjen No. 13/PJ/2010





Faktur Pajak harus diisi secara lengkap, jelas
dan benar sesuai Pasal 13 ayat (5) UU PPN,
serta ditandatangani oleh pejabat/kuasa yang
ditunjuk
PKP dapat menambahkan keterangan lain
Faktur Pajak yang tidak diisi secara lengkap,
jelas, benar, dan/atau tidak ditandatangani
merupakan Faktur Pajak cacat
Faktur Pajak cacat tidak dapat dikreditkan
Tata cara pengisian keterangan pada Faktur
Pajak ditetapkan dalam Lampiran II Per
Dirjen Pajak No. 13/PJ/2010
Per Dirjen No. 13/PJ/2010
Contoh Faktur Pajak
Per Dirjen No. 13/PJ/2010
Kode dan Nomor Seri Faktur
Pajak
Kode dan Nomor Seri
Faktur Pajak
Per Dirjen No. 13/PJ/2010
0 0 0.000–0 0.0 0 0 0 0 0 0 0
Kode Transaksi Kode Cabang
Tahun Penerbitan
Kode Status
Kode FP Standar
Nomor Urut
Nomor Seri FP Standar
Kode Transaksi
Per Dirjen No. 13/PJ/2010
Kode
Penyerahan
01
penyerahan dilakukan kepada selain Pemungut PPN dan bukan
merupakan jenis penyerahan sebagaimana dimaksud pada kode 04
sampai dengan kode 09
02
penyerahan kepada Pemungut PPN Bendahara Pemerintah
03
penyerahan kepada Pemungut PPN Lainnya
04
penyerahan yang menggunakan DPP Nilai Lain kepada selain Pemungut
PPN
05
Kode ini tidak dapat digunakan lagi sejak 1 April 2010
06
penyerahan Lainnya kepada selain Pemungut PPN, dan penyerahan
kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri (turis asing)
07
penyerahan yang PPN atau PPN dan PPn BM-nya Tidak Dipungut,
Ditanggung Pemerintah (DTP), dan penyerahan ke Kawasan
Bebas/Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kepada selain Pemungut PPN
08
penyerahan yang Dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN dan PPn
BM kepada selain Pemungut PPN
09
penyerahan Aktiva Pasal 16D kepada selain Pemungut PPN
Per Dirjen No. 13/PJ/2010
Kode Status
 0 (nol) untuk status normal
 1 (satu) untuk status penggantian
Per Dirjen No. 13/PJ/2010
Nomor Urut
 Nomor Urut pada Nomor Seri Faktur Pajak dan tanggal
Faktur Pajak harus dibuat secara berurutan, tanpa
perlu dibedakan antara Kode Transaksi, Kode Status
Faktur Pajak, Faktur Pajak yang tidak diisi dengan
keterangan identitas pembeli BKP/JKP, atau mata
uang yang digunakan dalam transaksi
 Penerbitan Faktur Pajak dimulai dari Nomor Urut
00000001 pada setiap awal tahun takwim, yaitu mulai
Masa Pajak Januari dan secara berurutan, kecuali bagi
PKP yang baru dikukuhkan, Nomor Urut 00000001
dimulai sejak Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak
dikukuhkan
Blog Pajak Indonesia
Dianggap Tidak Menerbitkan
Faktur Pajak
Per Dirjen No. 13/PJ/2010


PKP yang menerbitkan Faktur Pajak
setelah melewati jangka waktu 3 bulan
sejak saat Faktur Pajak seharusnya
dibuat, dianggap tidak menerbitkan
Faktur Pajak
PKP yang menerima Faktur Pajak tidak
dapat mengkreditkan PPN yang
tercantum di dalamnya
Blog Pajak Indonesia
Sanksi Administrasi
Per Dirjen No. 13/PJ/2010

PKP dikenai sanksi administrasi Pasal
14 ayat (4) KUP dalam hal :


menerbitkan Faktur Pajak tidak sesuai
ketentuan Pasal 13 ayat (5) UU PPN atau
tidak ditandatangani oleh pejabat/kuasa
yang ditunjuk oleh PKP untuk
menandatanganinya, dan/atau
menerbitkan Faktur Pajak tidak sesuai
dengan batas waktu
Blog Pajak Indonesia
Tidak Dikenakan Sanksi
Administrasi
Per Dirjen No. 13/PJ/2010

Dalam hal Faktur Pajak tidak memuat
keterangan mengenai :


Nama, alamat, dan NPWP pembeli
BKP/JKP, atau
Nama, alamat, dan NPWP pembeli
BKP/JKP dan nama dan tandatangan yang
berhak menandatangani Faktur Pajak
untuk PKP Pedagang Eceran
Blog Pajak Indonesia

similar documents