Tipe Yang Mengalami Krisis

Report
Materi II
1. Pengertian krisis
2. Penyebab krisis
3. Elemen krisis
4.Faktor balancing
5. Ciri-ciri orang yang mengalami krisis
6.Kebutuhan orang yang mengalami krisi
7. Titik utama penanganan kasus krisis
Adhyatman Prabowo, M.Psi
• SOLO,20011 KOMPAS.com — Beberapa korban bom bunuh diri yang terjadi
di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, mengaku masih
mengalami trauma.
• Korban masih merasa takut terhadap hal-hal tertentu, seperti dialami
Ferdianta. Ia mengaku merasa ketakutan jika ada orang datang
membawa bungkusan atau kado. "Saya takut bungkusan atau kado
itu bom," kata Ferdianta, Rabu (28/9/2011).
• Ia juga mengaku masih merasa takut untuk datang ke gereja, terutama
gereja-gereja besar, karena khawatir akan terulang kejadian yang sama.
• Trauma juga dialami Belarmin Boris. Menurut dia, jika mencium bau
hangus, ia akan teringat kejadian bom bunuh diri di GBIS Kepunton.
Rambut Belarmin terbakar dan kepalanya terluka karena terkena serpihan
material bom yang meledak.
• Menurut Direktur Rumah Sakit Dr Oen, Solo, Willy Handoko, pihaknya telah
membentuk tim psikologi untuk mendampingi pasien. Pada saat pasien baru
datang, pihaknya memang masih berkonsentrasi untuk penanganan kondisi
fisik.
• "Aspek psikologi di awal memang belum digarap karena kami masih fokus pada
perbaikan fisik dulu," kata Willy.
DR. H. Norman Wright :
Krisis merupakan suatu titik balik yang
memungkinkan individu untuk tumbuh dan
berkembang, atau menyebabkan dirinya merasa
tidak puas, gagal, dan kehidupannya kacau balau.
Krisis dapat terjadi ketika mekanisme coping
individu tidak dapat berfungsi dengan baik atau
tidak mendapat dukungan dari orang lain saat ia
membutuhkannya.
Webster :
• Krisis merupakan peristiwa tidak terduga yang
terjadi pada diri individu saat menghadapi
bahaya eksternal. Hal ini dapat menyebabkan
individu merasa tidak berfungsi secara optimal,
kehidupan
yang
tidak
seimbang,
dan
kecemasan, depresi, serta tekanan darahnya
meningkat.
• Krisis juga terkait dengan ketidak mampuan
mekanisme
coping
individu
dan
ketidakmatangan emosi dirinya.
Caplan (1964) :
• Mendifinisikan krisis terjadi ketika individu menghadapi
masalah yang tidak dapat diselesaikan. Sehingga timbul
ketegangan, tanda-tanda kecemasan, keadaan emosional
dan disfungsi sosial untuk waktu yang lama.
• Demikian pula, Roberts (2000) mendefinisikan krisis
sebagai "periode ketidakseimbangan kondisi psikologis
seseorang, sebagai akibat dari peristiwa berbahaya atau
situasi yang sangat kacau yang tidak dapat diperbaiki
dengan menggunakan mekanisme copingnya.
• James dan Gilliland (2005) mendefinisikan krisis sebagai
peristiwa atau situasi yang sulit dianggap sebagai kondisi
yang sang sangat berat melebihi sumber daya yang
tersedia individu dan mekanisme copingnya.
internal distress :
kehilangan harapan,
putus asa, depresi,
stress posttraumatic,
reaksi drugs, dorongan
bunuh diri
kehilangan yang
hebat : loss job, death,
tragedy, operasi, cacat,
perang, terorisme,
kondisi transisional :
pensiun / mutasi, relokasi,
anggota keluarga baru,
konflik keluarga, tidak ada
keluarga, penyakit
Penyebab Krisis
Empat fase dari periode krisis
Caplan (1964).
1. Awal ketegangan telah dialami yang membangkitkan responrespon kebiasaan yang adaptif.
2. Tegangan meningkat di bawah stimulasi yang terusmenerus dan kurangnya keberhasilan yang dialami dalam
mengatasi masalah dan pengurangan ketegangan.
3. Ketegangan meningkat sampai sumber-sumber darurat,
internal dan eksternal, dikerahkan.
4. Suatu fase akut menyertai jika krisis tidak diredakan pada
tahap ketiga atau dicegah dengan penolakan atau
dihentikan. Puncak ketegangan pada titik di mana disfungsi
mayor dalam perilaku berkembang dan/atau kontrol emosi
ini telah hilang.
Elements Crisis
•
•
•
•
Hazardous Event (peristiwa berbahaya)
The Vulnerable State (Tahap Rentan)
The Precipitating factor (faktor persepsi)
The state of active crisis (tahapan krisis yang
aktif)
–
–
–
–
Mengalami gejala sress fisik dan psikis
Sikap panik dan tidak berdaya
Fokus meminta bantuan pada orang lain
Efisiensi diri yang rendah
Balancing Factors
Adequate
Perception
Limited Duration
Coping
Mechanisms
Adequate
Network
Tipe Yang Mengalami Krisis
• Aktif
– Individu yang menginginkan orang yang kuat untuk mengontrol
dan melindunginya
– Individu yang menginginkan orang membantu dirinya untuk
menata kontak dengan realita
– Individu yang merasakan kekosongan dan membutuhkan cinta
– Individu yang membutuhkan konselor untuk mendapatkan rasa
aman
– Individu yang berusaha mencari cara untuk menghilangkan rasa
bersalahnya
– Individu yang sangat membutuhkan untuk mengeluarkan isi
pikirannya.
Next...
– Individu yang membutuhkan nasehat untuk mengatasi
masalahnya
– Individu yang mencari cara untuk menghadapi konfliknya
– Individu mempunyai keinginan untuk mengatasi masalahnya.
– Individu yang merasa tidaknyaman dengan dirinya secara fisik
– Individu yang membutuh bantuan ekonomi
– Individu yang mengalami kesulitan yang menjalani hubungan
– Individu yang menginginkan informasi dapat memperoleh suber
bantuan
– Individu yang tidak memiliki motivasi dan psikotik
Next...
• Pasif
– Ketidakmatangan emosional
– Kondisi fisik yang lemah
– Menghindari realita yang ada
– Pesimis terhadap masa depan
– Perasaan bersalah yang berlebihan
– Menyalahkan orang lain
– Ketergantungan atau kemandirian yang
berlebihan
– Fanatik terhadap agama yang berlebihan
Memiliki aturan
yg baru
Perubahan fisik
Kebutuhan
dalam
krisis
Perubahan
sosioekonomi
Perubahan
Geografis
Titik utama penanganan Krisis
Kesedihan
Intensif
Dukungan
Harapan dan
keputusan
Dukungan
• Hubungan itu sendiri, di mana helpee
mengalami penerimaan dari helper dan
kehangatan
• Mengarahkan bantuan konseling ke
dalam bentuk penentraman atau
lingkungan yang mendukung
• Menentukan dan mengokohkan
manajemen krisis.
Ciri-ciri kesedian
• reaksi fisik; perasaan kosong, ketegangan, kelelahan yang amat
sangat, kehilangan kehangatan, kesadaran akan jarak dari
orang-orang;
• sekali-sekali asyik dengan bayangan tentang kematian;
• kadang-kadang merasa bersalah terhadap seluruh kegagalan
untuk sesuatu atau tuduhan yang berlebihan pada diri sendiri
pada peristiwa-peristiwa kecil;
• berubah dalam pola aktivitas, tidak dapat beristirahat, tidak
bertujuan, mencari aktivitas, masih belum kekurangan energi
dan motivasi yang mengikutinya.
Next..
BAGIAN DARI KESEDIHAN
• Menerima proses kerja kesedihan;
• Mengekspresikan perasaan kesedihan;
• Menyesuaikan dengan memori tentang kematian;
• Menyesuaikan kembali terhadap lingkungan baru
tanpa orang yang telah meninggal;
•
Membangun hubungan baru. Sebuah elemen
penting dalam proses menolong adalah
membuat yang kehilangan menerima dan
bekerja melalui proses kesedihan.
Harapan Pengambilan Keputusan :
• Secara historis secagai dugaan-dugaan dalam
keabsenan dari fakta-fakta
• Sekarang sebagai pemilihan dan penggerakan ke
arah tujuan yang dapat didefinisikan. Berharap
adalah suatu proses menspesifikkan tujuan bersama
jalur-jalur spesifik dari perencanaan
(Snyder, Chavens, & Scott, 1999).

similar documents