PresentasiChapter_6_..

Report
THE IMPACT OF SOCIOCULTURAL FACTORS ON
BREASTFEEDING AND SEXUAL BEHAVIOR
DAMPAK DARI FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA
TERHADAP PEMBERIAN ASI DAN PERILAKU SEKSUAL
Oleh :
Dahlia Triyanti
TIGA KOMPONEN KESUBURAN ALAMI :
1. PEMBERIAN ASI (MENYUSUI)
2. PANTANG SUKARELA (TERUTAMA SETELAH MELAHIRKAN)
3. FREKUENSI HUBUNGAN SEKSUAL
Faktor-faktor sosial budaya
diyakini mempengaruhi tiga
komponen kesuburan alami
PEMBERIAN ASI (MENYUSUI)
Tujuan
utama pemberian ASI adalah memberikan makanan untuk bayi
Menyusui salah satu cara untuk mencegah kehamilan/pengurangan
kesuburan (Simpson-Hebert dan Huffman, 1981)

Faktor sosial budaya yang mempengaruhi pemberian ASI antara lain :
pendidikan, urbanisasi, pendapatan, pekerjaan perempuan, ketersediaan susu
formula dan pelayanan kesehatan modern


Lamanya pemberian ASI diduga tergantung pada tiga faktor utama :
- persepsi orang tua dan masyarakat tentang yang terbaik bagi
kesehatan/ tumbuh kembang anak
- ketersediaan barang pengganti ASI (susu formula) dan kemampuan
orang tua untuk membelinya
- kenyamanan menyusui bagi ibu
PENDIDIKAN

Terdapat hubungan yang negatif antara pendidikan dan
lama pemberian ASI (Jain dan Bongaarts,1981)
Tabel 1. Lamanya pemberian ASI (dalam bulan) menurut
pendidikan dan tempat tinggal ibu, di 8 negara.
Pendidikan ibu
lama
menyusui
Jumlah
wanita
Bangladesh
2660
Indonesia
Negara
Tempat Tinggal
Tidak
sekolah
SD
SMP Keatas
Desa
Kota
23,6
24
23,4
16,9
24,4
20,9
4064
19
20,5
18,6
10,7
21,4
13,8
Sri Lanka
3399
15,7
17,3
17,2
13
16,7
12,8
Yordania
1521
12,5
14,2
10,8
6,5
15,4
11,2
Peru
2711
11,7
15,5
11,3
5,6
15,5
8,5
Guyana
1276
10
14,3
10,4
7,4
11,2
7,4
Kolombia
1537
8,6
11,7
8,7
4,7
10,7
7,5
Panama
1556
8,3
14,3
9,8
4,3
11
5,8
Sumber : World Fertility Survey (WFS) Oleh Jain dan Bongaarts (1981)
 KEADAAN SERUPA JUGA TERJADI DI THAILAND, KOREA, MALAYSIA,
TAIWAN, ALJAZAIR, DAN SEBAGIAN NEGARA DI AFRIKA (ERA 1970
1981)




Di China wanita yang berpendidikan tinggi cenderung lebih
lama menyusui
Di India, pendidikan ibu hanya mempengaruhi inisiasi dalam
menyusui
Data survey yang ada menunjukkan bahwa di negara-negara
kurang maju, ada hubungan yang negatif antara pendidikan
dan lamanya menyusui. Ibu yang berpendidikan rendah
menyusui lebih lama dibandingkan dengan ibu yang
berpendidikan lebih tinggi, meskipun durasi penurunannya
tidak seragam.
Untuk negara-negara maju (Swedia), pendidikan di tingkat
lebih tinggi cenderung memiliki efek positif pada ASI,
setidaknya dalam beberapa tahun terakhir. Semakin
memahami akan manfaat ASI sehingga cenderung lebih lama
dalam pemberian ASI.
URBANISASI

Ada perbedaan dalam praktek menyusui antara desa – kota untuk negara kurang
berkembang.

Rata-rata lama menyusui lebih rendah di perkotaan daripada dipedesaan (di 8 negara
kurang berkembang, 1981).Tabel 1

Urbanisasi umumnya memiliki efek negatif di negara-negara kurang berkembang
yaitu pada durasi lamanya menyusui. Hal ini mungkin karena pendidikan dan
kesempatan kerja yang lebih tinggi bagi perempuan diperkotaan, serta ketersediaan
barang pengganti ASI yaitu susu formula, sehingga durasi menyusuinya menjadi
lebih pendek.
WANITA BEKERJA



Beberapa dimensi wanita bekerja yang mempengaruhi pola menyusui : jenis
pekerjaan (pertanian-non pertanian), tempat kerja, hubungan dengan atasan.
Ketidaknyamanan menyusui bagi perempuan bekerja diluar rumah secara umum
diterima sebagai faktor utama dalam penurunan lamanya menyusui ( daerah
perkotaan negara kurang berkembang.)
Wanita bekerja di sektor non pertanian umumnya lebih pendek masa menyusuinya
daripada wanita yang bekerja di sektor pertanian(kasus di Malaysia dan Thailnad
tahun 1980),
Pemberian ASI cenderung menurun bila jarak tempat kerja perempuan dari rumah ke
tempat kerja semakin jauh( Popkin dan Solon, 1976)
PENDAPATAN



Butz dan Davanzo (1981) menemukan hubungan negatif yang signifikan antara
pendapatan rumah tangga dengan lamanya menyusui.
Di Malaysia, Thailand semakin tinggi pendapatan suami/istri (rumahtangga) maka
semakin pendek durasi pemberian ASI nya. (Chandler et al,1977)
Dari data yang ada tahun 1977, dinegara kurang berkembang, wanita yang berasal
dari rumah tangga yang berpenghasilan tinggi umumnya menyususi lebih pendek
daripada rumah tangga berpenghasilan rendah.
KETERSEDIAAN SUSU FORMULA DAN
PELAYANAN KESEHATAN MODERN




Pengenalan susu formula sebagai makanan bayi dan ketersediaan layanan
kesehatan dalam memperpendek durasi pemberian ASI.
Survey WHO (1970), perusahaan-perusahaan susu gencar mendistribusikan
susu formula dan botol susu di rumah sakit bersalin, dan memberikan sebagai
hadiah kepada ibu-ibu yang baru melahirkan.
Di negara kurang berkembang, pelayanan kesehatan sering dilaporkan secara
tidak langsung mencegah menyusui, termasuk diantaranya pemisahan ibu dan
bayi setelah melahirkan, adanya iklan-iklan susu formula di dinding rumah
sakit.
Inisiasi menyusui lebih rendah pada wanita yang melahirkan di klinik bersalin
swasta daripada ditempat lain.
FAKTOR BUDAYA LAINNYA



Sebagian besar variasi dalam pemberian ASI antara kelompok-kelompok
regional, etnis, dan agama suatu negara tidak dapat dijelaskan dengan
perbedaan karakteristik sosial ekonomi dan demografi individu. Ada faktor
psikologis dan budaya lainnya yang tidak mudah diidentifikasi dan diukur yang
harus dipertimbangkan. Ini meliputi : dukungan psikologis kepada ibu bersalin,
dipengaruhi oleh struktur keluarga atau masyarakat, kepercayaan dan ritual
yang berkaitan dengan pentingnya ASI bagi bayi, konsep payudara wanita
sebagai simbol daya tarik seksual, dan bukan simbol gizi serta emosional
makanan untuk bayi, rasa kesopanan tentang mengekspos payudara wanita
ketika menyusui bayinya, dan sifat dari hubungan ibu –anak yang dipengaruhi
oleh aspek lain dari budaya.
Di Malaysia, para ibu yang tinggal dirumah dengan orang tuanya, mertua, atau
kerabat dewasa lainnya lebih mungkin untuk memulai menyusui dibanding ibu
yang tinggal sendiri. (efek positif dari adanya kerabat), (Butz dan
DaVanzo,1980)
Di India, adik ipar yang mencucikan dada ibu yang baru melahirkan dengan
buttermilk dan rumput sembari membacakan doa, sebagai simnol agar dapat
menyusui dengan lancar.(Anand dan Rao,1962)
PANTANG SUKARELA
Ada empat jenis pantang sukarela posmarital :
1. Pantang Postpartum
2. Terminal pantang (setelah tahap tertentu dari siklus hidup
pasangan)
3. Pantang berhubungan apabila sedang menstruasi
4. Pantang untuk alasan khusus (kehamilan, seremonia,perang, dll)
Masa amenore (tidak menstruasi) sebagian besar dipengaruhi oleh
pemberian ASI, umumnya lebih panjang dibandingkan periode
pantang postpartum di negara-negara kurang berkembang. Namun
ada beberapa masyarakat, terutama di sub Sahara Afrika, dimana
durasi pantang postpartum lebih lama sehingga dapat menunda
konsepsi.
5. Dalam penelitiannya di Indonesia, Singarimbun dan Manning
(1976,1977) menemukan 40 persen wanita yang ditemukan berpikir
bahwa berhubungan seksual ketika menyusui berbahaya bagi
kesehatan bayi dan memberikan efek pada kualitas dan kuantitas
ASI, 17 persen merasa pantang itu diperlukan dalam rangka
mencapai interval kelahran yang lebih memuaskan.
FREKUENSI HUBUNGAN SEKSUAL
o Masa subur dalam siklus ovulasi perempuan cukup singkat, oleh karena
dengan tidak adanya alat kontrasepsi, variasi frekuensi hubungan seksual
diharapkan memiliki efek yang memungkinkan terjadinya konsepsi.( Bongaarts,
dalam volume)
o
o
o
o
Ada contoh di masyarakat dimana frekuensi rata-rata
hubungan seksual cukup rendah yang berkontribusi
terhadap penurunan kesuburan.
Frekuensi hubungan seksual pada umumnya menurun
seiring bertambahnya usia, namun frekuensi rata-rata
maksimum antara pasangan menikah tampaknya terjadi
pada kelompok usia dibawah 20 tahun di negara maju, dan
lebih tinggi di negara kurang berkembang.
Meskipun tidak ada hubungan yang konsisten antara
status sosial ekonomi dan frekuensi hubungan seksual,
perbedaan sikap terhadap seks dapat menjelaskan
setidaknya beberapa variasi dalam frekuensi hubungan seks
di antara kelompok-kelompok agama.
Jenis keluarga dan jenis perkawinan (Burch) adalah variabel
yang dapat mempengaruhi frekuensi hubungan seksual.
o
KESUBURAN TINGGI DI NEGARA-NEGARA KURANG
BERKEMBANG ADALAH KARENA SEBAGIA BESAR
PENDUDUKNYA MISKIN, SEHINGGA FREKUENSI MELAKUKAN
HUBUNGAN SEKSUAL LEBIH TINGGI.
Kinsey et al (1953)
• Pendapatan yang tinggi memberikan kesempatan yang
lebih banyak untuk rekreasi, kepentingan intelektual
lebih bervariasi, dan penyaluran yang lebih luas untuk
energi saraf (dengan olahraga) yang semuanya mungkin
mengakibatkan aktivitas seksual yang jarang
Tabel 2. Frekuensi hubungan seksual setiap minggu oleh
wanita kawin di beberapa negara
Kelompok
Umur
Bengali
Hindus
Bengaku
Sheikh
Muslim
Bengali
American
American
Non-Sheikh
National
Whites
Muslims
Smapl,1965
10-14
0,4
0,3
0,4
-
-
-
15-19
1,5
1,7
2,3
3,7
2,7
2,5
20-24
1,9
2,4
2,6
3
2,1
2,1
25-29
1,8
2,4
2,7
2,6
1,9
1,7
30-34
1,1
1,8
2,1
2,3
1,7
1,3
35-39
0,7
1,4
1,5
2
1,5
1,4
40-44
0,2
1
0,8
1,7
1,3
-
45+
0,3
0,4
0,4
1,3
-
-
British
TERIMA KASIH

similar documents