Jurnalisme Presisi - Ayo Menulis FISIP UAJY

Report
Jurnalisme Presisi
Buku: David Pears Demers dan Suzanne
Nichols, Precision Journalism Penerbit:
Sage Publications, London, 1987)
Mengapa polling penting?
• Sebagai sebuah cara untuk mengukur pendapat
umum.
• teknik termutakhir, akurat dan ilmiah.
• Menjadi barometer untuk mengukur popularitas
seorang presiden, partai yang berkuasa, bahkan
bagi pihak oposisi sekalipun.
• Polling akurat: harus mengindahkan dan
bersandar pada metodologi ilmiah 
menerapkan prinsip-prinsip probabilitas dan
statistic.
Polling dan Media
• Dimulai oleh Tabloid Monitor: “Ini Dia: 50 Tokoh yang
Dikagumi Pembaca Kita”.
• Nama nabi Muhammad ternyata di tempatkan
rangking 11, di bawah tokoh seperti Soeharto, Habibie,
Soekarno, Iwan Fals, bahkan persis di bawah Arswendo
Atmowiloto, Pemimpin Redaksi Monitor.
• Monitor dibredel oleh Harmoko (23/10/1990),
Arswendo dijebloskan ke bui.
• Sekarang dilakukan oleh Kompas, Media Group, dan
media online: Detik.com, Liputan6.com, Republika
Online, Tempo Interaktif.
• Polling media massa, tidak serta-merta
mencerminkan realitas politik.
• Ada tudingan sementara pihak ikhwal
pelaksanaan polling melalui SMS cenderung tidak
memenuhi syarat, karena tidak memiliki
reliabilitas dan validitas (kesahihan) dua syarat
utama yang harus dimiliki dalam metodologi
survey ilmiah.
• Karena dipandang cacat secara ilmiah, hasil
polling dianggap tidak mencerminkan realitas
politik masyarakat.
• Konsumen informasi kini memerlukan laporan pers yang tidak lagi hanya
sepenggal kejadian atau peristiwa straight news yang linear, tetapi
informasi yang lebih jauh dan mendalamdan memuat struktur persoalan
masyarakat yang kian kompleks dalam tiap mekanismenya. Laporan berita
bermodel linear-straight news kurang memadai dalam memenuhi atensi,
kepentingan, dan kebutuhan masyarakat yang telah bersifat urban,
metropolis, dan kompetitif.
• Muatan beritanya mereferensikan dinamika sosio pasar bebas.
Informasinya menjadi alat pembantu yang menguntungkan untuk
kepentingan bertukar barang dan jasa. Koleksi fakta-faktanya dapat
dijadikan bahan analisis dan kalkulasi sosial yang diperlukan.
• Masyarakat membutuhkan pasokan berita yang tidak cuma berurutan 5
W+1 H, dengan bentuk piramida terbalik  dinilai kurang mengompilasi
fenomena peristiwa kemasyarakatan karena permasalahan masyarakat
kian kompleks  Keputusan rasional semakin penting. Kelengkapan dan
keluasan informasi pers menjadi sarana untuk penajaman analisis situasi
lingkungan.
• Hasil polling yang dilakukan sejumlah media
dipandang dapat menyesatkan opini public?
Hasilnya dipandang tidak merepresentasikan
ekspresi mayoritas publik.
• Polling salah kaprah  tidak mengindahkan
prosedur metodologi sampling.
Jurnalisme presisi
• Fokus pada kerja pencarian data.
• Arah kerja jurnalistik membentuk ukuran
ketepatan informasi empirik. Hasil liputan
ditujukan untuk mencapai kredibilitas bagi
penginterpretasian masyarakat.
• Mereka menargetkan akan informasi yang
terukur. Ukuran itu ditetapkan melalui cara kerja
peliputan yang bermetode ilmiah; agar
representatif apabila dijadikan parameter
masyarakat dalam mempersepsi fenomena
sosial.
• Peliputan presisi: mempergunakan kegiatan
penelitian sistematis dan terencana dilakukan
melalui keteraturan kegiatan. Kegiatan liputan, di
antaranya, menggunakan metode penelitian
seperti perumusan masalah, penetapan tujuan,
identifikasi, pengumpulan dan pengolahan serta
penginterpretasian data. Semua itu dilaksanakan
secara teratur dan konsisten sehingga sampaianpesan jurnalisme mereka memiliki reliabilitas dan
validitas.
• Memakai metoda kegiatan penelitian, dalam
kegiatan liputan untuk meng-cover sebuah isu
masalah sosial, seperti, metode deskriptif,
metode historis dan korelasional dan metode
analisis isi atau content analysis. Metode
kuantitatif sering dipergunakan  terkait dengan
pola masyarakat yang berorientasi pada iptek.
Angka-angka statistik, antara lain, jadi alat
memudahkan pentransferan data-data sosial ke
keringkasan grafik, tabulasi, atau satuan-satuan
angka akumulatif.
Tahapan Jurnalisme presisi
• Proses riset: dilakukan serangkaian kegiatan penelitian
yang meliputi, pendefinisian isu, mengerangka rujukan
teori dan buku kepustakaan, memformulasi desain
liputan, pencarian dan pengumpulan fakta,
pengolahan, dan pembahasan fakta.
• Pelaksanaan kerja penulisan jurnalistik. Berbagai
informasi hasil liputan penelitian sebelumnya diformat
ke dalam wacana pelaporan jurnalistik. Pelaporan
jurnalistik merupakan kerja penyampaian pesan yang
berkaidah penulisan berita.
Tujuan
• Menghindari Bias Politik
• Mengangkat martabat jurnalisme  Obyektifitas.
• Sesuatu menjadi objektif ketika orang banyak merasakan, dan mengakui,
serta menyatakannya di lintasan pendapat umum (Fedler). Objektivitas tak
mungkin didefinisikan, atau didapat oleh pikiran individu. Perbedaan, dalam
pengalaman dan pengetahuan, antarindividu menunjukkan bahwa setiap
jurnalis mengobjektifkan fakta liputannya, secara berbeda.
• Etos profesi jurnalistik  perjuangan melaporkan kebenaran. Kebenaran
yang berguna bagi masyarakat. Kebenaran yang diusakahan presisi, setepat
mungkin, dalam mereplikakan peristiwa demi peristiwa.
• Masyarakat membutuhkan berita untuk melengkapi pengalamannya
berdasarkan frame (kerangka) pengetahuan tertentu. Masyarakat dipenuhi
kepentingannya, saat hendak bercermin pada pelbagai konflik dan dinamika
yang terjadi di dalam perkembangan masyarakat. Jurnalisme presisi ada di
sana.
Jurnalisme Presisi
• Precision journalism atau jurnalisme presisi diintrodusir pertama
kali oleh seorang profesor jurnalisme dari Garnett Center for Media
Studiea, Amerika Serikat (1973). Sebelumnya disebut sebagai new
journalism (jurnalisme baru), computer-assisted journalism
(jurnalisme yang dibantu komputer), scientific journalism
(jurnalisme ilmiah), atau quatitative journalism (jurnalisme
kuantitatif).
• Jurnalisme presisi: cara melakukan reportase (reporting) jurnalistik
dengan memakai metode penelitian sosial sebagai cara
mengumpulkan keterangan dan menggunakan content analysis
sebagai sumber informasinya.
• Mirip reportase investigatif, namun jurnalisme presisi menggunakan
metode ilmiah. Ada dua metode penelitian utama yang umumnya
dipakai yaitu content analysis dan riset survey (survey research).
Sedangkan metode satu lagi yaitu field experiment atau survai
lapangan dan yang terakhir ini jarang dipakai.
JP di AS
• Dirintis oleh Majalah Fortune : memakai cara polling atau pengumpulan
pendapat ilmiah untuk menjadi bahan beritanya. Tahun 1935: penelitian
tentang berapa banyak batang sigaret yang dihabiskan masyarakat AS
selama sehari, jenis mobil apa yang mereka sukai, tipe kendaraan apa
yang ingin mereka miliki dan masih banyak lagi.
• Tahun 1939, majalah Reader's Digest penelitian dengan cara mendatangi
tempat-tempat reparasi arloji, mobil dan peralatan rumah tangga lainnya.
Hasilnya: 50% lebih warga AS mengalami kerugian akibat kesalahan
diagnose kerusakan dan terlalu mahal membayar ongkos reparasinya.
• Tahun 1960-an  "jurnalisme bawah tanah" guna membela kepentingan
masyarakat yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya. Untuk
menjaring pendapat publik secara akurat, maka sejumlah perusahaan pers
AS mengadakan polling pendapat, menggunakan metode riset ilmiah
untuk mengekspose dan mengeksplorasi problema sosial.
• Tahun 1973, dua orang wartawan Philadelphia Inquirer, periset masalah
sosial (Donald Barlett dan james Steele) mengumpulkan 100.000 lembar
informasi dari 1.034 terdakwa yang terlibat tindak kejahatan dengan
kekerasan. Penelitian mereka menunjukkan disparitas yang besar dalam
cara penanganan perkara, tergantung pada status sosial, serta ras para
terdakwa. Kesimpulan : terjadi kesalahan dalam sistem peradilan nasional
AS. Laporan itu mendapatkan dua penghargaan jurnalistik.
• Hingga tahun 1970-an, jurnalisme presisi itu masih dianggap banyak
memakan waktu, tenaga, biaya. Dengan kemajuan teknologi komputer,
maka pekerjaan semakin mudah walaupun waktu dan biaya tetap menjadi
problem bagi sebagain perusahaan pers.
• Jurnalisme presisi dianggap lebih obyektif, lebih mewakili masyarakat serta
menghindari sumber berita konvensional seperti pejabat negara, politisi,
petugas humas, tokoh masyarakat maupun selebritas. Dengan jurnalisme
presisi inilah memungkinkan rakyat kebanyakan menjadi sumber berita,
antara lain lewat metode jajak pendapat itu.
Konsep2 yang menjadi pengamatan
jurnalisme presisi
• Karakteristik penduduk (demografi) meliputi jenis kelamin, suku atau
kebangsaan, umur, pendapatan, pendidikan, jenis pekerjaan, status
perkawinan, tempat tinggal dan lain-lainnya.
• Sikap: menyangkut perasaan positif atau negatif seseorang tentang
sesuatu isu atau objek tertentu. Misalnya: “Saya suka Presiden SBY” atau
“Saya tidak suka Presiden SBY”, “Saya menentang PP 37 tahun 2006”, dan
sebagainya.
• Kepercayaan: apa yang dipikirkan seseorang tentang sesuatu obyek atau
isu tertentu. Contohnya, “Kenaikan harga BBM akan menyengsarakan
rakyat kebanyakan”, “Pembangunan mal di daerah Kelapa Gading akan
menyebabkan banjir di musim penghujan”, dan lain-lainnya.
• Tingkah-laku, agak berbeda dengan sikap, tingkah laku atau kebiasaan ini
dapat dilihat langsung oleh reporter, misalnya berapa kali seseorang
anggota DPR RI melakukan interupsi, dan bagaimana ketua sidang
menanggapinya, berapa kali sekelompok masyarakat mengajukan protes
terhadap sebuah tindakan yang tidak mereka sukai dan sebagainya.
• Keakuratan pemberitaan membawa jurnalis untuk lebih dapat mencari,
mengolah maupun menyajikan fakta secara empiris. Jurnalis mengadopsi
cara kerja peneliti-peneliti sosial yaitu dengan mengandalkan metodemetode ilmiah untuk kegiatan jurnalistik mereka.
• Depth-reporting bukan jurnalisme presisi. Jurnalisme Presisi lebih
memfokuskan pada reporting basis data.
• Reporting basis data: kegiatan jusnalistik dengan melihat data sebagai
sumber atas suatu fakta. Data = data empiris yang benar-benar dapat
dijadikan sebagai suatu “bukti” untuk memecahkan suatu permasalahan
yang nantinya diangkat menjadi suatu pemberitaan.
• Lembaga-lembaga penelitian dan hasil-hasil penelitian menjadi alternatif
bagi seorang jurnalis.
• Media pun akhirnya memberikan porsi yang lebih dalam manajemen
perusahaannya. Maka muncullah “litbang” dalam suatu manajemen
media.
•
Litbang merupakan bagian penelitian dan pengembangan yang dimiliki oleh
perusahaan media. Mereka bertugas untuk melakukan penelitian untuk
menyajikan data terukur dan kuantitatif.
Seiring ekspektasi publik untuk mendapatkan gambaran suatu fenomena sosial
secara akurat, maka seorang jurnalis pun memerlukan “keahlian” seorang peneliti.
Permasalahan yang sering dihadapi jurnalis mungkin kurangnya penguasaan
metodologi dalam menghadapi data, baik pencarian data maupun analisis data.
Penguasan tersebut dirasa penting karena tidak semua penelitian tersebut dapat
menjadi “konsumsi” publik.
•
Oleh karenanya, penguasaan metodologi bagi seorang jurnalis sangat penting.
Hendaknya penguasaan tersebut dapat dimulai sejak dini misal sejak jurnalis
dalam bangku pendidikan. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi khususnya
Konsentrasi Studi Jurnalisme, penguasaan metodologi dapat diibaratkan sebagai
“fatwa”-nya anak Jurnalisme. Untuk itu syarat utama bagi mahasiswa jurnalisme
yaitu memiliki kompetensi tentang metodologi penelitian sebagai bekal masa
depan.
•
Kaidah-kaidah
• Kaidah metodologi: Dapat mengidentifikasi makna data dalam konteks
kepentingan publik, jenis-jenis data yang dapat digunakan sebagai
informasi jurnalisme, penilaian atas data sekunder dan primer, data
aggregat dan data sampel, implikasi dari setiap jenis data, dan cara-cara
analisis data survai dan analisis isi/dokumen.
• Kuantifikasi atas realitas: Dapat mengidentifikasi sifat kuantifikasi atas
realitas, cakupan entitas populasi/sampel, jenis kuantitifikasi dalam data
alam/fisik, demografis, dan sikap/opini/preferensi.
• Teknik pengukuran: Dapat mengidentifikasi kaidah dalam menarik
kesimpulan dalam statistik deskriptif dan inferensial, dalam kaitan dengan
kepentingan publik.
• Penilaian atas fakta: Dapat mengidentifikasi signifikansi data dari fakta
publik konteks politik, ekonomi dan sosial dalam kaitan dengan
newsworthy dalam jurnalisme.
• Penulisan jurnalistik: Dapat mengidentifikasi kaidah dalam
penulisan (struktur tulisan jurnalisme), dan penyuntingan dan
bahasa jurnalistik.
• Analisis data: Dapat menggunakan data sekunder BPS dan sumber
data lainnya mengenai entitas setempat menyangkut data
alam/fisik dan demografis untuk melakukan analisis sifat
kuantifikasi dan inferensi.
• Perencanaan polling: Dapat menyusun desain survai kecil/terbatas
atas suatu populasi untuk sikap, opini atau preferensi tertentu
• Perlakuan data sekunder: Dapat menggunakan bahan data
sekunder untuk menulis berita
• Perlakuan data primer: Dapat melaksanakan dan menulis berita
berdasar data polling

similar documents