3. Holing dan kerajaan Melayu

Report
Berita dari Dinasti Tang (618-906), Holing terletak di
pulau Laut Selatan ( kemudian diperkirakan terletak di
Gunung Muria Jawa Tengah)
Raja
• Raja yang terkenal Ratu Sima memerintah 674.
• Terkenal karena adil dan Bijaksana sehingga
musuhpun segan kepadanya
Agama
• Penganut Budha
• Pada jamannya datang pendeta Hwining dari cina
yang menterjemahkan kitab yang dibantu oleh
pendeta kerajaan yang bernama Jnanabadhra.
Mata Pencahariannya
• Pertanian
• Perdagangan.
Kisah Ratu Hsima
• Suatu siang di Keling, Kelet, Jepara, Jawa Tengah,
sekitar tahun 630 M. Saat itu, ratusan warga
Kerajaan Kalingga berkumpul di alun-alun depan
istana. Mereka semua menunduk, merasa bersalah dan
siap menerima hukuman. Pemicunya, sebuah perhiasan
emas yang dihamparkan di tengah alun-alun hilang
pada hari ke 40. Siapakah pencurinya ?
Kejadian tersebut bermula ketika pemimpin negeri,
Ratu Shima menguji kepatuhan rakyatnya terhadap
hukum. Saat itu, Kerajaan Kalingga merupakan
kerajaan yang terhampar sepanjang pantai utara
Jawa dan mencapai puncaknya ketika dipimpin
seorang raja perempuan.
.
• Pengaruh kewibawaan kerajaan dan penegakan hukum
menyebar hingga ke negeri Tiongkok. Menurut
catatan para saudagar Tiongkok, nyaris tak ada
pelanggaran hukum di negeri cikal bakal Kerajaan
Galuh dan Kerajaan Mataram Kuno tersebut.
Hingga tibalah waktu Ratu Shima menguji kepatuhan
hukum rakyatnya. Untuk mengujinya, dia hamparkan
segala perhiasan emas dan barang berharga di alunalun kerajaan. Hari pertama, harta tak ada yang
mengambil. Hari ke dua pun serupa.
Hingga hari ke 39, tak ada satupun warga yang
berani menyentuh perhiasan yang tak ternilai
tersebut. Sampai datang malam ke 40, sebuah
perhiasan emas raib dari tempat semula. Seluruh
rakyat pun gempar.
• Lalu, untuk mengungkap siapakah pelakunya,
dikumpulkanlah seluruh rakyat di alun-alun.
“Siapakah yang mencuri perhiasan ?,” kata Ratu
Shima kepada rakyatnya.
Semua diam dan menunduk. Tak satu pun yang angkat
bicara. Hingga datanglah dari belakang kerumunan,
dengan tergopoh-gopoh, seorang perawat kuda
memberanikan berbicara. ”Maafkan hamba tuanku,
saya siap dihukum mati jika salah. Tapi saya
melihat dengan mata kepala saya sendiri jika putra
makhota yang mengambil perhiasan tersebut,”
ujarnya.
Semua tercekat. Tak terkecuali perempuan nomor
satu di kerajaan tersebut. Seakan tak ada yang
percaya dengan kesaksian seorang perawat kuda
tersebut.
• Guna memastikan, dipanggillah putra makhota. Dan
lagi-lagi, semua seakan tak ada yang percaya, jika
putra makhota mengakui semua perbuatannya.
Mendapat pengakuan ini, Ratu Shima, penguasa
kerajaan, ibu yang membesarkan putra makhkota
sejak kecil langsung bersabda, “Wahai prajurit,
potong tangan putra makhota sebagai hukuman. Hukum
harus ditegakkan dan supaya negeri dijauhkan dari
kutukan sang pencipta,” titah ratu dengan tegas.
Rakyat pun tercekat. Mereka kagum dan takjub atas
keberanian sang raja menghukum orang yang
bersalah, meski anaknya sendiri. Kisah Ratu Shima
yang terkenal dengan kecantikan, kewibawaan serta
ketegasannya kini dapat dilihat di prasasti
Kalingga serta catatan para saudagar Tiongkok.
 Kerajaan Melayu atau bisa
disebut Malayu, Kerajaan
Dharmasraya, atau Kerajaan
Jambi berdiri antara abad ke 7
dan ke 14
• Berita pertama kali yang
menerangkan keberadaan
Kerajaan Melayu di
Sumatra, yaitu dari Dinasti
Tang. Menurut catatan
Dinasti Tang, utusan Negri
Mo – Lo – Yeu ( Melayu )
pernah datang ke Cina
pada tahun 644 dan 645 M.
Berita It-sing
1. Berita tentang Kerajaan Melayu antara lain
diketahui dari dua buah buku karya Pendeta Itsing atau I Ching (634-713, dalam pelayarannya
dari Cina ke India tahun 671, singgah di negeri
Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari
Sabdawidya (tatabahasa Sansekerta). Ketika pulang
dari India tahun 685, I-tsing bertahun-tahun
tinggal di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskahnaskah Buddha dari bahasa Sansekerta ke bahasa
Cina. I-tsing kembali ke Cina dari Sriwijaya
tahun 695. Ia menulis dua buah bukunya yang
termasyhur yaitu Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan
(Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut
Selatan) serta Ta-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng
Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu
di India zaman Dinasti Tang)[7].
Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun
671 diceritakannya sendiri, dengan
terjemahan sebagai berikut
“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami
berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan
.... Setelah lebih kurang dua puluh hari
berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di
sana saya berdiam selama enam bulan untuk
belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik
kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya
ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama
dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan
pelayaran ke Kedah .... Berlayar dari Kedah
menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami
sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar)
.... Dari sini berlayar ke arah barat laut
selama setengah bulan, lalu kami sampai di
Tamralipti (pantai timur India)”
Perjalanan pulang dari India tahun 685
diceritakan oleh I-tsing sebagai beriku
“Tamralipti adalah tempat kami naik kapal
jika akan kembali ke Cina. Berlayar dari
sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami
sampai di Kedah. Tempat ini sekarang
menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal
tiba adalah bulan pertama atau kedua ....
Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin,
lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah
kira-kira sebulan, kami sampai di negeri
Malayu, yang sekarang menjadi bagian
Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba
pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal
itu senantiasa tinggal di Malayu sampai
pertengahan musim panas, lalu mereka
berlayar ke arah utara, dan mencapai
Kanton dalam waktu sebulan.”
. Munculnya Wangsa Mauli
• Setelah Serangan Rajendra cola 102, Prasasti
tertua yang pernah ditemukan atas nama raja Mauli
adalah Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan
Thailand. Prasasti itu berisi perintah Maharaja
Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada
bupati Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai
supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula
dengan nilai emas 10 tamlin. Yang mengerjakan
tugas membuat arca tersebut bernama Mraten Sri
Nano.
• Prasasti kedua berselang lebih dari satu abad
kemudian, yaitu Prasasti Padang Roco tahun 1286.
Prasasti ini menyebut adanya seorang raja bernama
Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Ia
mendapat kiriman arca Amoghapasa dari atasannya,
yaitu Kertanagara raja Singhasari di Pulau Jawa.
Arca tersebut kemudian diletakkan di kota
Dharmasraya.
• Dharmasraya dalam Pararaton disebut dengan nama
Malayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja dapat pula
disebut sebagai raja Malayu. Tribhuwanaraja
sendiri kemungkinan besar adalah keturunan dari
Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja pun
bisa juga dianggap sebagai raja Malayu, meskipun
Prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.
• Yang menarik di sini adalah daerah kekuasaan
Trailokyaraja pada tahun 1183 telah mencapai
Grahi, yang terletak di selatan Thailand (Chaiya
sekarang). Itu artinya, setelah Sriwijaya
mengalami kekalahan, Malayu bangkit kembali
sebagai penguasa Selat Malaka. Namun, kapan
kiranya kebangkitan tersebut dimulai tidak dapat
dipastikan, dari catatan Cina [9] disebutkan bahwa
pada tahun 1082 masih ada utusan dari Chen-pi
(Jambi) sebagai bawahan San-fo-ts'i, dan disaat
bersamaan muncul pula utusan dari Pa-lin-fong
(Palembang) yang masih menjadi bawahan keluarga
Rajendra.
• Istilah Srimat yang ditemukan di depan nama
Trailokyaraja dan Tribhuwanaraja berasal dari
bahasa Tamil yang bermakna ”tuan pendeta”. Dengan
demikian, kebangkitan kembali Kerajaan Malayu
dipelopori oleh kaum pendeta. Namun, tidak
diketahui dengan jelas apakah pemimpin kebangkitan
tersebut adalah Srimat Trailokyaraja, ataukah raja
sebelum dirinya, karena sampai saat ini belum
ditemukan prasasti Wangsa Mauli yang lebih tua
daripada prasasti Grahi.
• Naskah Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama
menyebutkan pada tahun 1275, Kertanagara mengirimkan
utusan Singhasari dari Jawa ke Sumatera yang dikenal
dengan nama Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh
Kebo Anabrang.
• Prasasti Padang Roco tahun 1286 menyebutkan tentang
pengiriman arca Amoghapasa sebagai tanda persahabatan
antara Singhasari dengan Dharmasraya.
• Pada tahun 1293 tim ini kembali dengan membawa serta
dua orang putri Malayu bernama Dara Jingga dan Dara
Petak. Untuk memperkuat persahabatan antara
Dharmasraya dengan Singhasari, Dara Petak dinikahkan
dengan Raden Wijaya yang telah menjadi raja Kerajaan
Majapahit mengantikan Singhasari. Pernikahan ini
melahirkan Jayanagara, raja kedua Majapahit.
• Sementara itu, Dara Jingga diserahkan kepada
seorang “dewa”. Ia kemudian melahirkan Tuan Janaka
yang kelak menjadi raja Pagaruyung bergelar
Mantrolot Warmadewa. Namun ada kemungkinan lain
bahwa Raden Wijaya juga mengambil Dara Jingga
sebagai istri, karena hal ini lumrah sebab Raden
Wijaya pada waktu itu telah menjadi raja serta
juga memperistri semua anak-anak perempuan
Kertanagara. Dan ini dilakukan untuk menjaga
ketentraman dan kestabilan kerajaan setelah
peralihan kekuasaan di Singhasari.
• Sebagian sumber mengatakan bahwa Mantrolot
Warmadewa identik dengan Adityawarman Mauli
Warmadewa, putra Adwayawarman. Nama Adwayawarman
ini mirip dengan Adwayabrahma, yaitu salah satu
pengawal arca Amoghapasa dalam prasasti Padangroco
tahun 1286
• Saat itu Adwayabrahma menjabat sebagai Rakryan
Mahamantri dalam pemerintahan Kertanagara.
Jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi.
Mungkin yang dimaksud dengan “dewa” dalam
Pararaton adalah tokoh ini. Dengan kata lain,
Raden Wijaya menikahkan Dara Jingga dengan
Adwayabrahma sehingga lahir Adityawarman.
• Adityawarman sendiri nantinya menggunakan gelar
Mauli Warmadewa. Hal ini untuk menunjukkan kalau
ia adalah keturunan Srimat Tribhuwanaraja.
• Nama Adityawarman disebutkan pada arca Manjusri
di Candi Jago, Jawa Timur. Di dalam prasasti
tersebut diterangkan bahwa Adityawarman bersama –
sama Gajah Mada telah berhasil menaklukkan Pulau
Bali 1343

Adityawarman merupakan salah seorang putra
Majapahit keturunan Melayu yaitu putra dari R.
Wijaya dan Dara Jingga (asli Melayu). Sebelum
menjadi raja Melayu ia pernah menjadi menteri
di Majapahit. Setelah menjadi raja Melayu, dia
berhasil mengembangkan kekuasaannya dengan
menguasai daerah Pagaruyung (Minangkabau).
Adityawarman merupakan penganut agama Budha
Tantrayana (kalacakra). Pemerintahan
Adityawarman berakhir pada tahun 1375 M, dan
setelah meninggal dunia diwujudkan dalam patung
Bhairawa. Ia digantikan oleh anaknya yg
bernama Anangwarman (tidak diketahui
ceritanya).

similar documents