Qul Khayran Aw Liyashmut

Report
‫‪‬‬
‫نظام اإلسالم لإلمام تقي الدين النبهاني ‪-‬رحمه هللا‪-‬‬

‫‪‬‬
‫كتاب التيسير في أصول التفسير للعالم الشيخ عطاء بن خليل أبو الرشته‬




“Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu
menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).” (QS. Al-Najm [53]: 3-4)
Nasihat ‘Ali r.a.

‫ أما‬.‫أخوف ما أخاف عليمك اتباع الهوى وطول المل‬
‫اتباع الهوى فيصد عن احلق‬
“Hal yang paling aku takutkan terjadi pada
kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan
terbuai dalam panjang angan-angan. Adapun
dengan mengikuti hawa nafsu, seseorang akan
menolak kebenaran.”
Syi’ir Asy-Syafi’i

‫اذا حار أمرك فـي معنيني‬
‫ومل تدر حيث اخلطا والصواب‬
‫خفالف هواك فان الهوى‬
‫يقود النفس اىل ما يعاب‬
“Jika samar urusanmu pada dua maksud
Dan engkau tak mengetahui mana yang keliru dan yang benar diantaranya
Maka selisihilah hawa nafsumu, karena hawa nafsu
Mengarahkan jiwa pada apa yang tercela (keburukannya)”
Diiwaan al-Imaam al-Syaafi’i, Qaafiyatul Hamzah, subjudul al-Hawaa’ wa al-‘Aql.
Nasihat Al-Mawardi

‫ َولرلْ َع ْق رل ُمضَ ادٌّ؛ ر َلن َّ ُه يُن ْ رت ُج رم ْن الا ْخ َال رق‬،ٌّ‫َو َأ َّما الْه ََوى فَه َُو َع ْن الْ َخ ْ ري َصاد‬
َ ‫ َويُ ْظه ُرر رم ْن الافْ َع رال فَضَ ر‬،‫اِئهَا‬
َ ‫قَ َب ر‬
‫ َو َم ْد َخ َل‬،‫وء رة َمهْ ُتو اًك‬
َ ‫ َو َ َْي َع ُل رس ْ َت الْ ُم ُر‬،‫اِئهَا‬
‫ش َم ْسلُو اًك‬
‫ال َّ ر‬
“Adapun hawa nafsu, ia adalah penolak kebaikan, lawan
dari al-‘aql (akal pikiran); karena hawa nafsu terlahir dari
keburukan akhlak, tampak dalam perbuatan yang buruk,
menyingkap kehormatan, dan pengantar keburukan yang
dilakukan.”
Aadab al-Dunyaa’ wad-Diin, Imam ‘Ali bin Muhammad bin Habib alMawaridi al-Syafi’iy (Imam al-Mawardi).

Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya
melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18)
Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied menjelaskan ayat ini:
‫واختلف العلماء في أنه هل يكتب على اإلنسان جميع ما يلفظ به وإن‬
‫ وإلى‬.‫كان مباحاً أ ًو ًل ُيكتب عليه إ ًل ما فيه الجزاء من ثواب أ ًو عقاب‬
‫ فعلى هذا تكونً اآلية الكريمة‬،‫القولً الثاني ذهب ابن عباس وغيره‬
َ ْ ُ َْ َ
ْ
.‫ن قو ًل} يترتب عليه جزاء‬
ً ‫ظ ِم‬
ً ‫ {ما يل ِف‬:‫مخصوصة أي‬

“Dan para ulama berbeda pendapat, apakah dituliskan (dihisabpen.) seluruh perkataan manusia termasuk perkataan-perkataan
yang mubah atau tidak dituliskan perkataannya kecuali
perkataan yang mengandung balasan kebaikan atau siksa? Ibn
‘Abbas dan selainnya mengambil pendapat yang kedua. Oleh
karena itu, ayat al-Qur’an yang mulia ini bersifat
khusus: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya
melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir.”
Syarh al-Arba’iin al-Nawawiyyah fii al-Ahaadiits al-Shahiihah al-Nawawiyyah,
Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka berkatalah yang baik atau
diam.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad & Malik)
Kalimat “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari
akhir” merupakan indikasi yang menunjukkan hukum
wajib. Al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil menjelaskan:

‫إذا كان الطلب مقترنا باإليمان أ ًو ما يقوم مقامه كأن‬
‫يكونً متبوعا بـ (من كان يرج ًو هللا واليوم اآلخر) فإنها‬
‫قرينة على الوجوب‬
“Jika adanya tuntutan tersebut disertai keterangan
iman atau yang semakna dengannya. Misalnya kalimat
(Barangsiapa yang mengharapkan rahmat Allah dan
(tibanya) hari Akhir) maka sesungguhnya kalimat
tersebut mengindikasikan hukum wajib.”
Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl: Dirâsât fii Ushûl al-Fiqh, Syaikh ‘Atha’ bin Khalil
Abu Rusythah – Dar al-Ummah: Beirut – Cet. III: 1421 H/ 2000.
Lafazh
“qul”
dan
“liyashmut”
pun
termasuk
bentuk mufrad yang memberikan arti perintah. Kata
“liyashmut” merupakan kata kerja mudhaari’ (sekarang
atau yang akan datang) yang disertai laam alamr (laam perintah). Al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil ketika
menjelaskan berbagai ungkapan yang bermakna perintah
mengutarakan:

)‫الفعل املضارع املقترنً بالم األمر (ليفعل‬
“Kata
kerja
al-mudhaari’
huruf laam perintah.”
yang
disertai
Syaikh al-‘Utsaimin menjelaskan shiyaghul amri(lafazhlafazh perintah), diantaranya:
‫املضارع املقرون بالم األمر‬
“Kata kerja al-mudhaari’ yang disertai laam perintah.”
(Ushuul al-Fiqh, al-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin)
Al-Hafizh al-Nawawi menjelaskan hadits di atas:
‫فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب‬
،‫خير يثاب عليه‬
ً ‫يظهر له أنه‬
ً ‫ وإن لم‬. ‫ واجبا أ ًو مندوبا فليتكلم‬،‫عليه‬
ً‫ظهر له أنه حرام أ ًو مكروه أ ًو مباح مستوي‬
ً ‫فليمسك عن الكالم سواء‬
‫ فعلى هذا يكو ًن الكالم املباح مأمورا بتركه مندوبا إلى‬. ‫الطرفين‬
‫ وهذا يقع في‬. ‫اإلمساك عنه مخافة من انجراره إلى املحرم أ ًو املكروه‬
‫العادة كثيرا أ ًو غالبا‬

“Maknanya adalah jika seseorang ingin mengatakan sesuatu,
jika didalamnya mengandung kebaikan dan ganjaran pahala,
sama saja apakah wajib atau sunnah untuk diungkapkan maka
ungkapkanlah. Jika belum jelas kebaikan perkataan tersebut
diganjar dengan pahala maka ia harus menahan diri darinya,
sama saja apakah jelas hukumnya haram, makruh atau mubah.
Dan dalam hal ini perkataan yang mubah dianjurkan untuk
ditinggalkan, disunnahkan untuk menahan diri darinya,
karena khawatir perkataan ini berubah menjadi perkataan yang
diharamkan atau dimakruhkan. Dan kasus kesalahan seperti
ini banyak terjadi.”
Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied (w. 702 H) menjelaskan hadits ini:
‫ “من كان يؤمن باهلل واليوم اآلخر” يعني من كان يؤمن اإليمان الكامل املنجي من عذاب‬:‫قوله‬
‫هللا املوصل إلى رضوان هللا “فليقل خيراً أ ًو ليصمت” ألنً من آمن باهلل حق إيمانه خاف‬
‫ ضبط‬:‫أمر به وترك ما نهي عنه وأهم ما عليه من ذلك‬
ً ‫وعيده ورجا ثوابه واجتهد في فعل ما‬
ُ َ َ ُْ َ َ َ َْ َ َ ْ
ً‫اد كل‬
ً ‫ { ِإنً السم ًع وال ًبص ًر والفؤ‬:‫جوارحه التي هي رعاياه وه ًو مسئولً عنها كما قال تعالى‬
َ
َ َ َ ُ
َ ْ ُ َْ َ
ُ
َ
َ
ْ
ُ
َ
َ
ْ
ْ
ْ
َ
َ
.}ً‫ن ق ًو ًل ِإ ًل لدي ِ ًه ر ِقيبً ع ِتيد‬
ً ‫ظ ِم‬
ً ‫ {ما يل ِف‬:‫ وقال تعالى‬.}ً‫ان عن ًه مسؤول‬
ً ‫كك‬
ً ‫أول ِئ‬

“Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir”
yakni barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna terlindung
dari ‘adzab Allah dan menyampaikan kepada keridhaan-Nya “maka berkatalah
yang baik atau diam” karena barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka di
antara tuntutan keimanannya adalah merasa takut terhadap peringatan-Nya,
mengharapkan pahala dari-Nya, dan bersungguh-sungguh dalam
melaksanakan segala hal yang diperintahkan Allah kepadanya dan
meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya, dan diantara hal yang paling
penting: menjaga apa yang ada pada dirinya yang mesti dijaga (dari
kemaksiatan-pen.) dan ia bertanggungjawab terhadap itu semua sebagaimana
firman Allah SWT: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” Dan firman Allah
SWT: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir.”

“Setiap perkataan anak cucu Adam itu membahayakannya,
tidak berguna baginya kecuali perkataan menyuruh kepada
kebaikan dan melarang kemungkaran, atau berdzikir kepada
Allah.” (HR. al-Tirmidzi & Ibn Majah. Imam alTirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib, kami
tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Muhammad
bin Yazid bin Khunais”)

“Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya
dengan sebiji kurma, kalaulah tidak bisa, lakukanlah
dengan ucapan yang baik.” (HR. Al-Bukhari)
Al-Hafizh al-Nawawi berkata:
َ
َ
ُ‫تظهر‬
ً ً‫يحفظ لسانه عن جميع الكالم إ ًل كالما‬
ً
‫اعلم أنه لكلً مكلف أن‬
ُ ُ
‫ى‬
‫اإلمساك‬
ً
ً ‫ ومتى استو‬،‫املصلحة فيه‬
ِ ‫ فالسنة‬،‫الكالم وتركه في املصلحة‬
‫ بل هذا كث ًير أ ًو‬،‫ينجر الكالم املباح إلى حرام أ ًو مكروه‬
ً ‫ ألنه قد‬،‫عنه‬
‫غالب في العادة‬

“Ketahuilah bahwa setiap mukallaf wajib menjaga lisannya dari
setiap perkataan kecuali perkataan yang jelas mengandung
kemaslahatan, dan ketika memutuskan untuk tidak berbicara
karena lebih bermaslahat, maka disunnahkan untuk menahan
diri darinya, karena terkadang ditemukan perkataan mubah
mengantarkan kepada keharaman atau makruh, bahkan hal ini
merupakan fenomena yang banyak terjadi atau sudah menjadi
kebiasaan.”
Al-Adzkâr Al-Muntakhabah Min Kalaam Sayyid Al-Abraar –Shallallaahu ‘Alayhi
wa Sallam-, Al-Hafizh Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi
(631-676 H) – Al-Dar al-Mishriyyah al-Lubnaniyyah: Mesir.

“Seorang muslim itu adalah ia yang
kaum muslimin selamat dari lisan
dan tangannya.”
(HR. Al-Bukhari & Abu Dawud)


َ
ُ
‫الغيبة وإن كانت محرمة فإنها تباح في أحوال‬
ً
ً‫اعلم أن‬
ُ‫ُ ز‬
َ
‫جو ً لها غرض صحيح شرعي ًل يمكن‬
ِ ‫ وامل‬،‫للمصلحة‬
ُ
:‫ وه ًو أحد ستة أسباب‬،‫الوصو ًل إليه إ ًل بها‬
Ketahuilah bahwa ghibah meski pada asalnya
diharamkan, sesungguhnya boleh pada kasus-kasus
untuk mewujudkan kemaslahatan, dan kebolehan ini
harus dilandasi tujuan yang benar dan syar’i yang tidak
mungkin dicapai kecuali dengan mengghibah.
Diantaranya dalam enam sebab-sebab berikut ini:

‫ فيجوزً للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان‬،‫ التظلم‬:‫األو ًل‬
‫والقاض ي وغيرهما ممن له ولية أ ًو له قدرة على إنصافه من‬
،‫فيذكر أن فالناً ظلمني وفعل بي كذا وأخذ لي كذا‬
ًُ
‫ظامله‬
.‫ونح ًو ذلك‬
Sebab Pertama: terzhalimi, maka boleh bagi orang yang
dizhalimi melaporkan kezhaliman (orang yang zhalim)
kepada penguasa, hakim atau kepada selain keduanya
yang memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk
menegakkan keadilan dari orang yang menzhaliminya.
Misalnya ia mengatakan bahwa si fulan telah
menzhalimi aku dan telah melakukan “begini” dan
merampas “ini” dariku, dan lain sebagainya.

،‫املنكر وردً العاص ي إلى الصواب‬
ً
‫تغيير‬
ً
‫ الستعانة على‬:‫الثاني‬
ْ ‫يعمل كذا فاز‬
‫جره‬
ًُ
‫ فالن‬:‫فيقولً ملن يرج ًو قدرته على إزالة املنكر‬
‫ فإن لم‬،‫ ويكونً مقصوده التوسل إلى إزالة املنكر‬،‫عنه ونح ًو ذلك‬
.ً‫يقصد ذلك كان حراما‬
Sebab Kedua: Meminta pertolongan untuk mengubah
kemungkaran dan mendorong orang yang bermaksiat untuk
kembali kepada kebenaran. Misalnya ia berkata kepada
orang yang diharapkan mampu untuk menghilangkan
kemungkaran: si fulan melakukan “begini” maka cegahlah si
fulan dari perbuatan itu, dan perkataan yang semisalnya.
Dan maksudnya untuk memberantas kemungkaran, jika tak
dimaksudkan untuk itu maka hukumnya haram
َ
‫ ظلمني أبي أ ًو أخي أ ًو فالن‬:‫ بأن يقو ًل للمفتي‬،‫ الستفتاء‬:‫الثالث‬
‫ فهل له ذلك أم ل؟ وما طريقي في الخالص منه وتحصيل‬،‫بكذا‬
.‫حقي ودفع الظلم عني؟ ونح ًو ذلك‬
Sebab Ketiga: Meminta fatwa, dengan mengatakan kepada
seorang ahli fatwa: bapakku atau saudaraku atau seseorang
telah menzhalimiku dengan berbuat ‘’begini”, maka apakah
ada solusi untuk mengatasinya atau tidak? Karena aku tidak
memiliki solusi untuk mengatasinya dan mendapatkan
kembali hakku serta menolak kezhalimannya dariku? Dan
perkataan yang semisalnya.
‫ فهذا‬،‫يفعل كذا ونح ًو ذلك‬
ًُ
‫ أ ًو زوجي‬،‫تفعل معي كذا‬
ًُ
‫ زوجتي‬:‫وكذلك قوله‬
‫ أ ًو‬،‫ ما تقو ًُل في رجل كان من أمره كذا‬:ً‫ ولكن األحوط أن يقول‬،‫جائز للحاجة‬
ً
‫غير‬
ً ‫ فإنه يحصل به الغرض من‬،‫ ونح ًو ذلك‬،‫تفعل كذا‬
ًُ
‫في زوج أ ًو زوجة‬
‫جائز لحديث هند الذي سنذكره إن شاء اللًه تعالى‬
ً ‫ ومع ذلك فالتعيين‬،‫تعيين‬
ُ
ًَ
ُ‫ ولم ينهها رسو ًل‬.‫ الحديث‬..‫سفيان رجلً شحيح‬
‫ يا رسولً الله! إن أبا‬:‫وقولها‬
.‫الله صلى الله عليه وسلم‬

Dan juga pernyataan: istriku melakukan “ini” kepadaku, atau suamiku
melakukan “ini” kepadaku atau perkataan yang semisalnya. Maka
perkataan semacam ini diperbolehkan jika memang dibutuhkan, akan
tetapi sebagai bentuk kehati-hatian, maka: jangan engkau sebutkan orang
tertentu dengan perbuatannya “begini”, atau suami/ istri berbuat
“begini” dan yang semisalnya, jika perkataan seperti ini bisa
menyampaikan pada maksud tanpa harus menyebutkan pelakunya
dengan jelas. Disamping kebolehan menyebutkan orang tertentu
berdasarkan hadits dari Hindun yang akan kami sebutkan riwayat
lengkapnya nanti insyaa Allaah, ia mengatakan: “Wahai Rasulullaah,
sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang kikir… (hadits).” Namun
Rasulullaah SAW tidak melarangnya mengatakan demikian (menyebut
nama Abu Sufyan dengan jelas).

،‫الشر ونصيحتهم‬
ً ‫تحذير املسلمين من‬
ً
:‫الرابع‬
:‫وذلك من وجوه‬
Sebab Keempat: Memperingatkan kaum muslimin dari
keburukan sekaligus sebagai nasihat bagi mereka,
dalam hal ini ada beberapa contoh (satu contoh saja
yang ana nukil dan terjemahkan):
ُ
‫ومنها إذا رأيت ْ َمتفقهاً يترد ًد إلى مبتدعً أ ًو فاسقً يأخذ‬
َ ‫ت أن يتضر‬
‫ر‬
‫فعليك‬
،‫ك‬
‫بذل‬
‫ه‬
‫املتفق‬
ً
ً
‫ف‬
‫خ‬
‫العلم‬
‫عنه‬
ِ
َ
َ
ُ
،‫يحة‬
‫النص‬
ً
‫يقصد‬
‫أن‬
‫شترط‬
‫وي‬
،‫حاله‬
‫ببيان‬
‫نصيحته‬
ُ
َ
ُ
ُ،‫تكلم بذلك الحسد‬
ُ
َ‫ وقد ي‬،‫ط فيه‬
ًَ ‫حمل امل‬
ًُ 
ً
‫مما‬
‫وهذا‬
‫غل‬
‫ي‬
َُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ً‫ ويخي ًل إليه أنه نصيحة‬،‫الشيطان عليه ذلك‬
ً
ً ‫أ ًو يل ِب‬
‫س‬
ْ
.‫ن لذلك‬
ً ‫ فليتفط‬،‫وشفقة‬
Diantaranya: jika engkau melihat seorang pelajar menjadi
pengikut ahli bid’ah atau orang fasik dan mengambil ilmu
darinya, dan engkau mengkhawatirkan pelajar tersebut akan
disesatkan olehnya. Maka wajib bagimu menasihatinya
dengan menjelaskan kondisi sebenarnya, dan disyaratkan
harus didasari niat untuk memberikan nasihat, karena ada
orang yang lalai dari hal ini dan berbicara disertai
kedengkian, atau syaithan menghiasi perbuatannya ini
dengan kedengkian dan menimbulkan khayalan seakanakan hal itu merupakan nasihat dan sikap simpatik, maka
timbulah fitnah karenanya.

ُ ‫ أن يكو ًن‬:‫الخامس‬
‫ا‬
‫ر‬
‫جاه‬
‫م‬
‫كاملجاهر بشرب‬
ً
‫بفسقه أ ًو بدعته‬
ً
ُ
،ً‫ وجباية األموال ظلما‬،‫ أ ًو مصادرة الناس وأخذ املكس‬،‫الخمر‬
ُ
‫جاهر به ويحرم ذكره‬
ً ‫ فيجو ًز ذكره بما ي‬،‫وتولي األمو ًر الباطلة‬
.‫آخر مما ذكرناه‬
ً ‫بغيره من العيوب إ ًل أن يكو ًن لجوازه سبب‬
Sebab Kelima: seseorang yang terkenal dengan kefasikan dan
kebid’ahannya, misalnya dikenal sering meminum khamr, atau
merampas hak orang-orang, memalak, dan mengumpulkan
harta secara zhalim, dan melakukan berbagai hal yang batil.
Maka diperbolehkan menyebutkan keburukan-keburukan yang
sudah diketahui secara umum ini, dan dilarang menyebutkan
‘aib-‘aib lainnya, kecuali jika ada faktor lain yang
memperbolehkan ghibah berdasarkan apa yang telah kami
sebutkan.

‫اإلنسان معروفاً بلقب كا ًألعمش‬
ِ ‫ فإذا كان‬،‫ التعريف‬:‫السادس‬
‫ل‬
‫جاز تعريفه‬
ً ،‫واألفطس وغيرهم‬
‫واألعرج واألصمً واألعمى‬
ُ ً ‫واألحو‬
‫ ول ًو‬،‫ويحرم إطالقه على جهة النقص‬
ًُ
،‫بذلك بنية التعريف‬
.‫أمكن التعريف بغيره كان أولى‬
Sebab Keenam: Pengenalan (identifikasi), misalnya ada seseorang yang
dikenal dengan panggilan “si wajah muram”, “si pincang”, “si tuli”, “si
buta”, “si mata juling”, “si hidung pesek”, dan panggilan-panggilan
lainnya. Maka diperbolehkan penyebutan panggilan ini dengan maksud
untuk mengidentifikasinya (misalnya ketika bertanya kepada seseorang
tentang si fulan yang dikenal dengan salah satu panggilan tersebut –pen.),
dan haram secara mutlak jika dimaksudkan untuk melecehkannya. Tapi
jika memungkinkan mengidentifikasi tanpa menyebutkan panggilan
buruk tersebut maka hal itu lebih utama untuk dilakukan.
ُ
‫فهذه ستة أسباب ذكرها العلماء مما تباح بها الغيبة‬
‫اإلمام ُ أب ًو حامد‬
ِ ‫ وممن نصً عليها هكذا‬.‫على ما ذكرناه‬
‫ ودلئلها ظاهرة‬،‫من العلماء‬
‫اإلحياء وآخرون‬

ِ ‫الغزالي في‬
‫وأكثر هذه ا ًألسباب‬
ًُ ،‫من األحاديث الصحيحة املشهورة‬
.‫جواز الغيبة بها‬
ً ‫مجمع على‬
Inilah enam sebab yang disebutkan para ulama
mengenai kebolehan ghibah pada hal-hal yang telah
kami sebutkan. Dan diantara ulama yang menjelaskan
hal ini adalah Imam Abu Hamid al-Ghazaaliy dalam
kitab al-Ihyaa’ dan para ulama lainnya. Dalil-dalil
kebolehannya berdasarkan hadits-hadits shahih yang
masyhur. Dan ghibah pada sebagian besar sebab-sebab
diatas telah disepakati kebolehannya (oleh para ulama).
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫‪‬‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ا‬
‫ّ‬
‫‪ 1/897‬روينا في صحيحي البخاري ومسلم‪،‬عن عائشة رض ي الله عنها؛ أن رجل استأذن على النبي صلى الله عليه‬
‫ْ ُ ُ ْ‬
‫ُ‬
‫ّ‬
‫احتج به البخاري على جواز غيبة أهل الفساد وأهل ّ‬
‫الري ِب‪)29( .‬‬
‫”‬
‫ة‬
‫شير‬
‫الع‬
‫و‬
‫أخ‬
‫س‬
‫ئ‬
‫وسلم فقال‪” :‬ائذنوا له ِب‬
‫ِ‬
‫ِ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫‪ 2/898‬وروينا في صحيحي البخاري ومسلم‪ ،‬عن ابن مسعود رض ي الله عنه قال‪:‬قسم رسو ُل الله صلى الله‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ا‬
‫ُ‬
‫عليه وسلم قسمة‪ ،‬فقال رجل من األنصار‪ :‬والله ما أراد محمد ُبهذا وجه الله تعالى‪ ،‬فأتيت رسول الله صلى‬
‫ّ‬
‫َّ‬
‫ْ‬
‫ُ‬
‫فأخبرته‪َّ ،‬‬
‫فتغير ُ‬
‫وجهه وقال‪” :‬ر ِحم الل ُه ُموس ى لق ْد أ ِوذي بأكثر ِم ْن هذا فصبر” وفي بعض رواياته‪:‬‬
‫الله عليه وسلم‬
‫ا‬
‫ُ‬
‫فقلت ل أر ُ‬
‫فع إليه بعد هذا حديثا‪)30( .‬‬
‫قال ابن مسعود‪:‬‬
‫ُ‬
‫ّ‬
‫احتج به البخاري في إخبار الرجل أخاه بما ُيقال فيه‪.‬‬
‫قلت‪:‬‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫‪ 3/899‬وروينا في صحيح البخاري‪ ،‬عن عائشة رض ي الله عنها قالت‪:‬قال رسو ُل الله صلى الله عليه وسلم‪” :‬ما‬
‫ا‬
‫ُ ُ ا ُ ا‬
‫لنا ي ْ‬
‫فان ِم ْن ِدي ِننا ش ْيئا”‪)31(.‬‬
‫ر‬
‫ع‬
‫أظن فلنا وف‬
‫ِ ِ‬
‫قال الليث بن سعد ـ أحد الرواة ـ‪ :‬كانا رجلين من املنافقين‪.‬‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ل‬
‫‪ 4/900‬وروينا في صحيحي البخاري ومسلم‪ ،‬عن زيد بن أرقم رض ي ُالله عنه قال‪:‬خرجنا مع رسو الله صلى الله‬
‫ّ‬
‫ُ ّ‬
‫ّ ُ‬
‫ل‬
‫عليه وسلم في سفر فأصاب الناس فيه شدة‪ ،‬فقال عبد الله بن أبي‪ :‬ل تنفقوا على من عند رسو الله حتى‬
‫ّ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫ُ‬
‫َّ‬
‫َّ‬
‫النبي صلى الله عليه وسلم‬
‫األذل‪ ،‬فأتيت‬
‫املدينة ُليخ ِرج َّن األعز منها‬
‫إلى‬
‫ا‬
‫جعن‬
‫لئن‬
‫‪:‬‬
‫وقال‬
‫حوله‪،‬‬
‫من‬
‫وا‬
‫ض‬
‫ف‬
‫ن‬
‫ي‬
‫ر‬
‫ُ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ُ‬
‫فأخبرته بذلك‪ ،‬فأرسل إلى عبد الله بن أ ّبي‪ .‬وذكر الحديث‪ ،‬وأنزل الله تعالى تصديقه‪{ :‬إذا جاءك‬
‫ُ‬
‫املنا ِفقون} [املنافقون‪)32( .]1:‬‬
‫ّ‬
‫وفي الصحيح حديث هند (‪ )33‬امرأة أبي سفيان وقولها للنبي صلى الله عليه وسلم‪” :‬إن أبا سفيان رجل‬
‫شحيح” إلى آخره‪.‬‬
‫ُ ُ ُ‬
‫ّ‬
‫وحديث فاطمة بنت قيس (‪ )34‬وقول ّ‬
‫ص ْعلوك‪ ،‬و َّأما ُأبو ج ْهم فل‬
‫معاوية ف‬
‫أما‬
‫”‬
‫‪:‬‬
‫لها‬
‫وسلم‬
‫عليه‬
‫ه‬
‫الل‬
‫النبي صلى‬
‫ِ‬
‫يضع العصا ع ْن عا ِت ِق ِه”‪.‬‬
‫‪‬‬



similar documents