PENGUKURAN DAN EVALUASI

Report
PENGUKURAN DAN
EVALUASI
Yusuf Hilmi Adisendjaja
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FPMIPA –UPI
2012
PENDAHULUAN



Evaluasi merupakan bagian integral dari proses
pendidikan
Untuk belajar efektif, siswa harus mengetahui
bagaimana mereka bekerja
Untuk menjadi guru yang efektif, guru harus
mengetahui apa yang perlu siswa ketahui,
rasakan dan kerjakan sehingga guru mampu
membangun keterampilan, pengetahuan, dan
sikap yang harus dimiliki siswa.



Oleh karena itu guru perlu memperoleh
masukan/balikan yang terus menerus untuk
mengetahui kemajuan siswa dan masalah agar
mampu membuat perencanaan kegiatan
alternatif (jika rendah) dan mengeliminasi hal
yang tidak penting jika hasil masukkan sudah
baik.
Jadi evaluasi menjadi kunci untuk pembelajaran
dan belajar yang efektif.
Agar tahu evaluasi yang terus menerus, perlu
tahu: prinsip dan teknik evaluasi dan
pengukuran.
PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.
Tujuan yang ingin dicapai?
Dimana posisi kita sekarang?
Bagaimana kita dapat sampai ke tujuan?
Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah sampai
tujuan?
SIKLUS PROSES BELAJAR
Tujuan
pembelajaran
Evaluasi
kontinu
Preasesmen
Aktivitas
pembelajaran
EVALUASI DAN PENGUKURAN
Evaluasi dan pengukuran saling berkaitan
 Pengukuran mengacu kepada data yang dapat
dikuantifikasi dan berkaitan dengan perilaku
spesifik.
 Pengukuran menggunakan tes dan prosedur
statistika untuk menganalisis hasil pengukuran.
 Evaluasi menyangkut data pengukuran
ditambah tipe informasi lain seperti: catatan
anekdot, penyekalaan lisan dan tulisan dan juga
menyangkut faktor pertimbangan nilai (value).
 Pengukuran adalah deskriptif dan objektif,
sedangkan evaluasi melibatkan informasi dari
berbagai sumber termasuk input nilai subyektif.

ALAT-ALAT PENGUKURAN
Terdapat empat pendekatan yang umum untuk
melakukan asesmen
1. Ujian lisan
2. Observasi kinerja
3. Pengujian contoh produk kegiatan siswa.
4. Ujian tertulis
PAP (PENILAIAN ACUAN PATOKAN) DAN
PAN (PENILAIAN ACUAN NORMA)
PAP disebut juga tes penguasaan (mastery test),
dirancang untuk memeriksa apakah siswa telah
memenuhi tujuan pembelajaran.
 Apakah siswa telah mampu menampilkan
seperangkat standar, bukan untuk melihat
apakah siswa terbaik, diatas atau dibawah ratarata.
 Jika siswa belum memenuhi standar (kriteria),
siswa harus diberi kesempatan untuk belajar
lagi konsep atau keterampilan atau gagal.
 Perlu diingat bahwa siswa untuk menguasai
tingkat tertentu dari sesuatu dalam kecepatan
yang berbeda.

PENILAIAN ACUAN NORMA (PAN)
PAN dirancang untuk membandingkan seorang
siswa dengan siswa lainnya dan menentukan
kedudukan siswa.
 PAN berguna terutama saat berkomunikasi
dengan orangtua, kolega atau agen pekerjaan
tentang kedudukan siswa di kelas.
 PAN mencerminkan aspek struktur persaingan
sosial di kelas.
 PAN memperlancar proses pemilihan seorang
atau beberapa siswa untuk menentukan
tingkatan tertentu misal, kecepatan membaca,
kemampuan dalam mata pelajaran tertentu.

TIPE-TIPE TES
1. Tes pencapaian (achievement test)
 2. Tes yang dibuat guru (teacher-made test):
pretest dan post test
 3. Tes baku (standardized test)
 4. Tes Objektif (objective test).
 5. Tes kecepatan (speed test)
 6. Tes kekuatan (power test)
 7. Tes diagnostik (diagnostic test)
 8. Tes kesiapan (readiness test)
 9. Tes kinerja (performance test): penyekalaan
(rating scale) dan daftar cek (checklists)

TES BAKU (STANDARIZED TESTING)




Berguna untuk menilai kualitas siswa dalam hal:
kemampuan intelektual, prestasi akademik, sikap,
minat, dan bakat.
Digunakan untuk mengukur perbedaan diantara
individu dan menentukan perubahan dalam
pengetahuan, perilaku, minat, emosi dan sejenisnya
dalam periode waktu.
Umumnya merupakan perangkat untuk menentukan
mental, ketahanan dalam pekerjaan, bakat tertentu,
penempatan karir, penyimpangan kepribadian, dsb.
Tes baku umumnya dibagi tiga: Kemampuan umum
dan prestasi; sikap dan tes kepribadian; tes minat
dan bakat.
SYARAT-SYARAT APA SAJA YANG
MEMBUAT SUATU TES ITU BAIK?
1.
2.
3.
4.
5.
Validitas
Reliabilitas
Objektivitas
Kegunaan
Daya pembeda
Validitas mengukur hal yang seharusnya diukur:
1) Apakah tes secara tepat menyangkut konten?
2) Apakah tes menyangkut aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor penting dari unit pelajaran?
3) Apakah tes menyangkut semua tujuan
pembelajaran?
SYARAT TES YANG BAIK (LANJUTAN)


Reliabilitas: konsistensi hasil. Hasil tes dapat
tidak konsisten tergantung atas kondisi tes,
dirancang kurang baik, pertanyaan yang kurang
jelas, kesalahan dalam penyekoran dan sejumlah
variabel lain, termasuk kesalahan manusia
dalam membaca pertanyaan.
Objektivitas: bebas dari pertimbangan subyekti
baik dari guru maupun siswa. Karakteristika ini
perlu perhatian penuh dalam menyusun item
dan pemilihan bentuk item untuk tes.
SYARAT TES YANG BAIK (LANJUTAN)


Kegunaan: mengacu kepada aspek praktis waktu
dan sumber yang diperlukan untuk tes,
dibandingkan dengan nilai informasi yang
didapat. Contoh soal esay mudah dibuatnya tetapi
untuk jumlah siswa yang banyak menjadi tidak
praktis. Sebaliknya dengan tes objektif.
Daya pembeda: kemampuan tes untuk
memisahkan siswa berdasarkan bagaimana
tampilan siswa dalam melaksanakan tes. Daya
pembeda bukan faktor dalam penilaian
berdasarkan patokan (kriteria).
MENYUSUN INSTRUMEN TES
Langkah awal adalah membuat rencana evaluasi:
1. Menguji semua tujuan yang diharapkan.
Tentukan tujuan dalam perilaku spesifik, garis
besar materi, buat tabel spesifikasi (kisi-kisi
soal) yang menunjukkan tujuan, konten, dan
jumlah tes item yang akan dibuat untuk setiap
konsep.
2. Susunlah tes saat menyusun RPP.
3. Yakinkan tes menguji semua tujuan
pembelajaran dengan seimbang.
4. Yakinkan bahwa setiap soal memiliki tingkat
kesukaran yang memadai dengan beberapa soal
mudah. Susun soal mulai dari yang mudah
MEMBUAT TES YANG BAIK (LANJUTAN)
5. Yakinkan semua petunjuk dan informasi dapat
dipahami siswa.
6. Yakinkan semua soal menggunakan kata-kata,
kalimat, istilah, kosakata, dan tata bahasa yang
mudah dan jelas sesuai dengan tujuan tes.
7. Cobalah membuat tes yang baik dan sisihkan
waktu untuk mengkritisi rencana evaluasi.
8. Jangan mencampurkan tipe item tes.
9. Rencanakan membuat penyekoran
Tabel spesifikasi
TABEL SPESIFIKASI SOAL.docx
TES ESSAY ATAU OBYEKTIF
Tes kinerja sering digunakan untuk menilai
keterampilan.
 Tes essay dan obyektif sering digunakan untuk
menilai pengetahuan.
 Tes essay dan obyektif memiliki persamaan dan
perbedaan, kelebihan dan kekurangan

KARAKTERISTIKA TES ESAY &
OBYEKTIF
ESSAY
OBYEKTIF
• Siswa
mengorganisasikan
sendiri jawaban
• Siswa menggunakan
frase, kata-kata dan
ekspresinya dalam
menjawab
• Siswa hanya menjawab
soal yang sedikit
• Sebagian besar
digunakan untuk
berpikir dan menulis
• Siswa mengoperasikan
tugas terstrukturnya
hampir lengkap
• Siswa memilih jawaban
yang benar dari
sejumlah alternatif
jawaban
• Siswa menjawab soal
yang banyak
• Sebagian besar
waktunya untuk
membaca dan berpikir
KARAKTERISTIKA (LANJUTAN)
ESSAY
• Kualitas soal terutama
ditentukan oleh individu
yang menyusun penyekoran
• Mudah disusun
• Sukar menilainya
• Dilakukan dengan tes
tertulis
• Dapat digunakan untuk
mendorong siswa belajar
fakta, konsep prinsip, dsb.
• Dapat digunakan untuk
merangsang berpikir
konvergen dan divergen.
OBYEKTIF
• Kualitas soal ditentukan
oleh penyusun tes
• Sangat sulit dibuat
• Menilainya cepat dan
mudah
• Mendorong untuk menebak
• Dilakukan dengan tes
tertulis
• Dapat digunakan untuk
mendorong siswa belajar
fakta, konsep prinsip, dsb.
• Dapat digunakan untuk
merangsang berpikir
konvergen dan divergen
MENYUSUN TES OBYEKTIF


1.
2.
3.
4.
5.
Tes obyektif jika digunakan secara tepat dapat
mengurangi subyektifitas dan kesalahan
manusia khususnya dalam pemberian skor.
Beberapa tipe tes obyektif adalah sebagai
berikut:
Isian singkat atau melengkapi
Soal Benar-Salah
Menjodohkan
Pilihan ganda
Situasional (jarang digunakan)
SOAL MELENGKAPI ATAU ISIAN SINGKAT
Siswa hanya perlu mengingat jawaban yang
benar, bukan memilih dari jawaban yang
tersedia seperti pada soal pilihan ganda & B-S.
 Keuntungannya: siswa tidak menebak dan
mudah dibuatnya.
 Kekurangannya hanya menekankan aspek
ingatan dari kata spesifik atau fakta yang
mungkin tidak penting; subyektifitas akan
muncul jika ada jawaban yang tidak diantisipasi,
melibatkan ejaan atau penulisan, kurang
menguji perilaku kognitif tingkat tinggi, dan
fokus pada aspek ingatan/menghafal.
 E.g. Siapakah penulis novel di bawah lindungan
kabah? Atau Penulis novel dibawah lindungan
kabah adalah ....

SARAN MENYUSUN SOAL JAWABAN
SINGKAT
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Rancang soal sedemikian rupa sehingga ada
informasi yang memadai untuk menunjukkan
ada satu jawaban yang benar.
Hindarkan meng-copy langsung pernyataan
dari buku teks.
Untuk soal melengkapi, letakan kolom kosong
pada akhir atau dekat ke akhir pernyataan.
Kembangkan soal agar siswa mencapai lebih
dari ranah pengetahuan.
Hindarkan pernyataan ambigu.
Sediakan kolom yang cukup untuk menuliskan
jawaban.
SOAL BENAR SALAH (B-S)
Keuntungan:
 Soal B-S memungkinkan contoh konten yang lebar dalam
waktu singkat.
 Pilihan diantara jawaban alternatif merupakan satu tugas
realistik untuk siswa yang sering harus membuat
keputusan seperti itu dalam kehidupan nyata.
 Soal relatif sederhana dan menghemat waktu untuk
menyusunnya.
 Penyekalaan (pemberian skor) mudah
Kerugian:
 Ada kemungkinan menebak 50:50
 Kemungkinan ada penekanan yang cukup mendalam
untuk kognitif tigkat rendah.
 Pernyataan yang singkat dan lengkap sulit untuk dibuat
frasa.
 Tidak cocok untuk konten kontroversi
SARAN MENYUSUN SOAL B-S
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Gunakan pernyataan yang berkaitan dengan tujuan yang
signifikan.
Tuliskan pernyataan secara jelas, tepat dan hindarkan
ambigu.
Gunakan pernyataan positif: hindarkan pernyataan
negatif yang akan membingungkan.
Hindarkan kata-kata: tidak pernah, semua, sering,
selalu, biasanya.
Kembangkan soal yang lebih dari sekedar pengetahuan
Jangan gunakan pernyataan lansung dari buku teks.
Buat pernyataan Benar dan Salah dengan panjang
kalimat yang sama panjang.
Jangan penuhi soal dengan soal B-S
Susun jawaban benar secara acak.
Sediakan metode sederhana untuk menunjukkan
jawaban sehingga penilaian akurat
SOAL MENJODOHKAN (MATCHING)
Soal menjodohkan tersusun atas dua set istilah yang
harus dijodohkan (dipasangkan) sehingga
menunjukkan hubungan. Misal:
1.
Judul novel dan sejenisnya- penulisnya
2.
Definisi – kata atau istilah
3.
Nama geografik – lokasi
4.
Tanggal – peristiwa
5.
Pernyataan atau contoh – prinsip
6.
Orang – identifikasi
7.
Simbol – istilah
8.
Sebab – akibat
9.
Bagian – unit (satuan) dimana bagian termasuk
kedalamnya
10. Pertanyaan pendek - jawaban

CONTOH SOAL MENJODOHKAN
Pada kolom yang kosong, tunjukkan jawaban
yang benar dari persamaan dengan cara
menuliskan huruf dari jawaban yang tersedia.
Setiap huruf hanya digunakan sekali.
 --- 1. 2x + 3 = 7
A. x = 9
 --- 2. 4x = x + 9
B. x = 7
 --- 3. 6x – 7 = x – 2
C. x = 5
 --- 4. 9 – 4x = 2 – 3x
D. x = 4
 --- 5. 2/3x = 6
E. x = 3

F. x = 2

G. x = 1

H. x = jawaban benar
tidak ada di daftar

Setiap pernyataan merupakan kalimat.
Tentukan apakah kalimat sederhana, majemuk,
atau kompleks, atau majemuk-kompleks.
Tuliskan huruf yang merupakan jawaban benar
pada kolom di sebelah kiri.
A. Sederhana; B. Majemuk;
C. Kompleks; D. Majemuk-kompleks
--- 1. Pada akhir tahun, banyak keluarga
merencanakan liburan, dan Taman Nasional
dipenuhi pengunjung.
--- 2. Jika anda menginginkan tempat duduk di
kereta selama bulan Desember, pemesanan
harus satu bulan sebelumnya.
--- 3. Berkemah merupakan cara paling populer
dan ekonomis untuk berlibur

SARAN MENYUSUN SOAL MENJODOHKAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Batasi alternatif dalam setiap set 10-12, jika lebih
akan membingungkan.
Setiap set harus homogen
Lebihkan dua atau tiga pilihan berlebih dari pilihan
yang dapat dipilih. Hal ini untuk menurunkan
kemungkinan menebak.
Susun set secara beraturan misal alfabetis atau
urutan waktu.
Letakan kedua set dalam halaman yang sama.
Buat petunjuk secara jelas dan spesifik. Jelaskan
bagaimana menjodohkan harus dikerjakan dan
apakah jawaban boleh digunakan lebih dari sekali.
Buat jawaban dalam bentuk singkat. Kalau tidak
maka waktu siswa akan digunakan untuk mencari
jawaban.
SOAL PILIHAN GANDA (MULTIPLE CHOICE)
Terdiri atas pernyataan atau pertanyaan dengan
sejumlah resons atau jawaban yang mungkin.
 Siswa memilih jawaban yang paling tepat.
 Sangat mungkin untuk mengukur bukan hanya
pengetahuan, tetapi juga pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis dan evaluasi.
 Menebak dapat dikurangi dengan dengan
menyusun jawaban yang hati-hati (pilihannya
homogen) sehingga tidak ada jawaban yang tidak
dinginkan.

SARAN MENYUSUN SOAL PILIHAN GANDA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Susun jawaban yang mungkin secara vertikal
sehingga membantu siswa melihat pilihannya.
Berikan empat atau lima pilihan.
Yakinkan semua jawaban tampak sama untuk
siswa yang tidak tahu jawaban benar.
Yakinkan setiap pilihan memiliki tata bahasa
yang konsisten dengan pertanyaan atau
pernyataan yang tidak lengkap.
Susunlah jawaban yang benar dalam frase yang
sama panjang dan tingkat kosakata yang sama
seperti jawaban lainnya.
Nyatakan masalah atau pertanyaan secara
jelas dalam bagian pendahuluan sehingga
pilihannya sesingkat mungkin.
PANDUAN UNTUK MENYUSUN SOAL
OBYEKTIF
1.
2.
3.
4.
Petunjuk harus jelas dan lengkap.
Yakinkan bahwa penekanan soal konsisten
dengan penekanan pembelajaran.
Tes tidak boleh terlalu panjang atau terlalu
pendek. Setiap siswa atau hampir setiap siswa
dapat menyelesaikan.
Susun soal secara sederhana, sistem jawaban
yang jelas, mudah untuk dijawab dan dikoreksi.
PANDUAN UNTUK MENYUSUN SOAL
OBYEKTIF
5. Letakan soal yang mudah di nomor-nomor awal
dan paling sulit di bagian akhir sehingga siswa
tidak akan putus asa atau menyerah sebelum
selesai.
6. Kelompokkan soal berdasarkan tipe soal, jangan
mencampurkan soal B-S dengan P-G dsb.
7. Hanya menanyakan satu pertanyaan dalam satu
soal.
8. Jangan memberikan pilihan: semua siswa harus
mengerjakan tes yang sama.
9. Tanyakan pertanyaan penting, hindarkan
pertanyaan tipuan.
PANDUAN UNTUK MENYUSUN SOAL
OBYEKTIF
10. Jagalah item tetap jelas.
11. Hindarkan istilah yang membingungkan,
istilah kualitatif seperti, kadang-kadang, sering,
sebagian besar, jauh, dekat, kebanyakan, sedikit.
12. Gunakan tata bahasa yang benar
13. Hindarkan kalimat negatif ganda
14. Hindarkan istilah yang sulit, jargon, kosa kata
asing.
15. Pertimbangkan untuk menyediakan soal
dengan campuran tipe soal untuk membuat tes
lebih reliable.
MENYUSUN SOAL ESSAY
o
o
Soal obyektif tidak memberikan peluang kepada
siswa untuk mengorganisasikan gagasan (ide)
atau menunjukkan kreativitasnya, siswa
memiliki keterbatasan untuk secara bebas
menuliskan jawabannya.
Soal essay memberi kesempatan kepada siswa
untuk membuat jawaban dalam bentuk essay
yang bervariasi dari beberapa kalimat sampai
beberapa halaman.
MENYUSUN SOAL ESSAY
Soal essay cocok untuk mengevaluasi hasil
belajar pada ranah kognitif tingkat tinggi dan
afektif.
 Mengurangi kemungkinan menebak, pertanyaan
harus jelas dan spesifik.
 Menuliskan jawaban essay menyita waktu,
sehingga sulit untuk dapat menilai semua
tujuan.
 Menyusun soal essay mudah dibanding soal
obyektif karena hanya membuat beberapa soal.
 Menilai jawaban soal essay perlu waktu yang
banyak dan sulit menjaga konsistensi.

PERSIAPAN MENYUSUN SOAL ESSAY
1.
2.
3.
4.
Diskusikan makna istilah: bandingkan,
pertentangkan, gambarkan.
Susun jawaban yang sesuai dengan pertanyaan.
Tekankan pentingnya membaca pertanyaan secara
hati-hati.
Tekankan merencanakan jawaban.
Contoh
1.
Diskusikan bahwa tes essay mengukur pencapaian
2.
Bandingkan tes essay dan obyektif dalam kaitannya
dengan a. Validitas, b. Reliabilitas, c. Kegunaan, d.
Daya pembeda, e. Obyektivitas.
SARAN UNTUK MENYUSUN SOAL ESSAY
1.
2.
3.
4.
Jawaban siswa yang diharapkan harus
berkaitan dengan konten dan perilaku seperti
telah dibuat dalam tabel spesifikasi.
Frasa soal harus jelas dan spesifik sehingga
siswa memahami apa yang diharpkan dari
mereka.
Jumlah dan pertanyaan harus masuk di akal
untuk waktu yang terbatas sehingga siswa
dapat menunjukkan kemampuannya.
Pertanyaan harus memiliki masalah yang
menarik dan menantang siswwa.
SARAN UNTUK MENYUSUN SOAL ESSAY
5. Jika ejaan, tata bahasa dan gaya penulisan
diberi skor, siswa harus diberitahu tentang hal
tersebut akan memengaruhi pemberian skor.
6. Semua siswa harus menuliskan pertanyaan
yang diberikan. Hal ini akan meningkatkan
reliabilitas.
7. Nilai tiap pertanyaan harus dituliskan.
TES KINERJA, DAFTAR CEK DAN SKALA


Tes kinerja terdiri atas observasi kinerja siswa dalam
perilaku tertentu atau mengevaluasi produk dari
perilaku.
Tes harus meliputi proses dan produk
Untuk menyusun tes kinerja, perlu diperhatikan:
1. Spesifikasi tujuan kinerja.
2. Spesifikasi situasi tes.
3. Susun kriteria untuk mempertimbangkan penilaian
proses dan produk.
4. Buat daftar cek untuk untuk memberi skor.
5. Persiapkan petunjuk dalam menulis, membuat garis
besar situasi dengan petunjuk untuk diikuti siswa.
MENYIAPKAN RATING SCALE
1.
2.
3.
4.
5.
Hanya men-spesifikasi perilaku yang
diharapkan untuk diobservasi.
Mendeskripsikan perilaku sehingga dapat
dipertimbangkan saat memberi nilai.
Pertimbangkan bobot untuk setiap perilaku.
Rancang rating scale. Biasanya yang paling
memuaskan dengan skala 5. jika terlalu banyak
akan membingungkan; jika terlalu sedikit akan
sangat terbatas.
Beri label pada skala agar lebih jelas (Sangat
baik 5; baik 4; cukup 3; kurang 2; buruk 1).
PEMBERIAN SKOR
Tes obyektif memungkinkan siswa menjawab
langsung pada soal tes atau lembar jawaban.
 Pemerikasaan tes dapat menggunakan mesin
atau manual.
 Jika digunakan lembar jawaban harus disusun
sehingga sehingga siswa dapat dengan mudah
berpindah dari soal ke lembar jawaban. Untuk
ini jawaban tes berada dalam satu kolom dengan
soal pada halaman yang sama.
 Hasil tes seharusnya dikembalikan kepada siswa
agar dapat digunakan untuk belajar hal yang
belum dikuasainya.

PEMBERIAN SKOR SOAL ESSAY

1.
2.
3.
Pemberian skor soal essay lebih sulit,
memerlukan waktu dan melibatkan unsur
subyektivitas. Untuk mengurangi hal ini dapat
dilakukan hal berikut:
Tuliskan model jawaban saat menyusun soal.
Jika saat membuat jawaban ditemukan hal
yang ambigu, perbaiki pertanyaan.
Rancang skor untuk setiap sub-bagian jawaban.
Pertimbangkan berapa poin yang akan
diberikan jika jawabannya luar biasa, dapat
diterima atau ditolak.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Berikan skor untuk setiap tes tanpa nama (misal
gunakan NIS atau no pokok siswa) agar siswa tidak
menjadi faktor subyektif.
Berikan skor untuk pertanyaan yang sama untuk
semua siswa (jangan setiap siswa diberi nilai
berurutan dari nomor soal pertama sampai akhir).
Gunakan pemberian skor dua tahap (sorting dan
skoring)
Baca setiap set tanpa jeda (interupsi) jika
memungkinkan). Fluktuasi dalam perasaan dan
sikap akan berkurang jika tanpa pengaruh
eksternal.
Jangan pertimbangkan faktor yang tidak relevan.
Jika kerapihan atau tulisan tangan bukan
termasuk kriteria penilaian jangan jadikan satu
faktor penilaian.
Jika tes essay digunakan, guru berkewajiban
memenuhi reliabilitas dan obyektivitas.
MENGEVALUASI INSTRUMEN (SOAL)
Evaluasi pendidikan belum lengkap tanpa
mengevaluasi tes dan instrumen lain yang
digunakan.
 Variabel yang digunakan untuk mengevaluasi
suatu instrumen adalah:






Validitas,
Daya pembeda
Tingkat kesukaran
Reliabilitas, dan
Dapat tidaknya digunakan
VALIDITAS
Apakah tes mengukur hal yang akan kita ukur?
 Apakah konten dari tes mengukur konten dari
pembelajaran?
 Apakah tes mencakup semua tujuan
pembelajaran?
 Apakah tes menekankan kepada tujuan
pembelajaran dan proporsional seperti dalam
pembelajaran?

DAYA PEMBEDA
Daya pembeda harus mampu membedakan siswa
yang berkemampuan di atas dan di bawah.
 Prosedurnya dengan menganalisis item sebanyak
25% dari kelompok atas dan 25% dari kelompok
bawah (kepraktisan, biasanya diambil 27%).
 Daya pembeda yang sempurna dari suatu item
berarti bahwa semua siswa dari 25% atas
(pandai) menjawab benar dan semua siswa dari
25% bawah menjawab salah.
 Perbedaan antara jumlah siswa kelompok atas
yang menjawab benar dan jumlah siswa
kelompok bawah yang menjawab benar dibagi
dengan jumlah siswa dari kedua kelompok

DAYA PEMBEDA
Contoh:
 Dari skor 100, 25 siswa kelompok atas yang
menjawab benar item A ada 20 siswa, dan 25 siswa
dari kelompok bawah yang menjawab benar ada 8
siswa untuk item yang sama

DP = 20 – 8 = 12 = 0,24
50




50
Indeks DP antara – 1 sampai + 1
Harga positif menunjukkan perbedaan dengan arah
yang sesuai, sebaliknya harga negatif menunjukkan
arah yang salah (tidak boleh digunakan).
Indeks di atas + 0,40 artinya baik; 0,20-0,40
memuaskan.
Untuk tes yang dibuat guru dengan tipe PAN lebih
dari 50% soal harus memilik IDP 0,40 atau lebih.
TINGKAT KESUKARAN
Pada dasarnya tingkat kesukaran (TK) soal
ditentukan oleh persentase siswa yang
menjawab benar.
 Caranya: hitung jumlah siswa yang menjawab
benar dibagi dengan seluruh siswa kemudian
dikalikan 100.
 Contoh: 19 dari 25 siswa menjawab satu soal
dengan benar.

TK = 19/25 X 100 = 76
Soal yang digunakan disarankan memiliki TK 40
sampai 70
Baik DP maupun TK tidak digunakan dalam tes tipe
Penilaian berbasis kriteria (criterion referenced test)

RELIABILITAS (KONSISTENSI) & DAPAT
TIDAKNYA DIGUNAKAN
Salah satu cara yang mudah adalah dengan meranking kinerja siswa dalam berbagai tes.
 Jika hasil tes yang baru konsisten dengan tes
lainnya, maka diduga tesnya reliabel.

Usable
 Apakah tes terlalu panjang atau terlalu pendek?
 Apakah soal terlalu sukar atau terlalu mudah?
 Apakah mudah untuk memberi skor?
 Apakah petunjuk bagi siswa jelas?


similar documents