xi. klasifikasi iklim

Report
Laboratorium Tanah/Sumberdaya Lahan,
PS Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNSOED
TANAMAN
OPT
TANAH
RADIASI MATAHARI
SUHU
TEKANAN UDARA
PENGUAPAN (ET)
ANGIN
KEL. UDARA
AWAN DAN HUJAN
I. Pendahuluan
II. Cuaca dan Iklim
III. Unsur-unsur cuaca dan pengaruh cuaca terhadap tanaman, tanah, dan OPT
IV. Iklim Indonesia (Tropis)
V. Klasifikasi (pengelompokkan) Ikllim
VI. Pengelolaan Cuaca (iklim)
VII. Pranata Mangsa
VIII. Perubahan iklim dan dampaknya pada bidang pertanian
IX. Peranan pemodelan dalam Pengelolaan Sitem Pertanian




Di atas permukaan bumi ini terdapat banyak sekali macam
iklim, maka sulit (rumit) untuk memahami pola iklim dunia.
Di permukaan bumi tidak ada dua tempat yang mempunyai
iklim yang identik, namun dapat dkelompokkan
Untuk menyederhanakan dan menjelaskan pola iklim yang
rumit itu perlu suatu cara untuk mengatur data iklim yang
sangat beragam dan banyak.
Pengaturan itu dengan cara mengelompokkan data iklim,
menyederhanakan sebaran data iklim, dan akhirnya memahmi
pola iklim dunia.

Masalah utama unsur iklim yang banyak (7 unsur), tetapi akan
dimunculkan 1 hasil pengelompokkan.

Penggunaan hanya 1 unsur iklim untuk mengelompokkan belum
memenuhi syarat definisi iklim.


Penggunaan semua unsur iklim menghasilkan kerumitan yang
berlawanan dengan tujuan pengelompokkan iklim, yakni
kesederhanaan dan kejelasan .
Berapa unsur iklim yang digunakan?
Cukup dipilih unsur iklim yang dianggap penting yang berhubungan dengan tujuan penyupengelompokkan

Unsur iklim yang sering digunakan adalah curah hujan dan suhu
udara.

Metode pengungkapan unsur yang terpilih harus ditentukan
sesuai dengan tujuan .
Misalnya pengungkapan data curah hujan:
1. jumlah hari hujan, 2. CH bulan terkering, 3. CH tahunan.
Selain memilih unsur dan pengungkapan juga menentukan
nilai ambang unsur yang dipilih.



Untuk menghindari permasalahan yang ditimbulkan dari definisi iklim, maka diperlukan indek (penjurus) iklim. Indek
iklim ini erat hubungannya dengan kondisi iklim. Indek yang
sering digunakan adalah tanaman (vegetasi) alami.
Kelemahan menggunakan indek tanaman adalah karena
tanaman dipengaruhi oleh relief, tanah, dan macam kegiatan
manusia (irigasi).
Masalah lain dalam penglompokkan iklim adalahkecukupan
data iklim, baik dari segi luas liputan, lama periode data, dan
kualitas data



Cakupan (wilayah) berlakunya luas.
Biasanya sistem pengelompokkan iklim yang
cakupan wilayahnya luas  kurang teliti
Teliti (=bisa membedakan dengan jelas)
Biasanya sistem pengelompokkan yang teliti 
wilayah cakupannya tidak luas.
Data yang digunakan mudah diukur dan didapatkan
Pendekatan genetik
-Pengelompokkan didasarkan pada penentu iklim, yaitu
faktor yang menentukan iklim berbeda, misalnya sirkulasi
udara, radiasi bersih, dan fluks kelembaban, zona angin,
penerimaan radiasi mathr.
-Cakupan wil. luas tetapi kurang teliti
Pendekatan generik atau empirik
-Pengelompokkan didasarkan unsur iklimnya sendiri
-Cakupan wil. sempit, tetapi lebih teliti
-Pendekatan empirik (1) berdasarkan neraca air (Moisture
budget)
(2) berdasarkan pertumbuhan
vegatasi
Pengukuran penentu iklim (genetik) lebih sulit daripada unsur
iklim (empirik atau generik), sehingga pengelompokkan iklim
menggunakan pendekatan empirik lebih berkembang dari
pada yang genetik, karena data mudah didapatkan.
Atas dasar penerimaan radiasi matahari
Iklim
Wilayah
Kutub Utara
66,5 o LU-90 o LU
Sub-tropik Utara
23,5 oLU-66,5 o LU
Tropik
23,5 o LS-23,5 o LU
Sub-tropik Selatan
23,5 o LS-66,5 o LS
Kutub Selatan
66,5 o LS-90 o LS
Keterangan
KU
KS
Atas dasar sirkulasi udara, sistem angin dan CH (Flohn, 1950)
Tipe iklim
Sifat/ciri
Vegetasi
Zona ekuatorial
Selalu basah
Hutan tropis
Zona tropika
Hujan musim panas
Savana
Hutan kering
Zona sub-tropika kering
kering
Stepa, gurun stepa,
gurun
Zona hujan musim dingin
Hujan musim dingin
Pohon berdaun keras
Zona ekstra tropika
Hujan sepanjang tahun
Pohon berdaun lebar
dan hutan campuran
Zopna sub-polar
Hujan sepanjang tahun
terbatas
Hutan koniferus
Zona benua Boreal
Hujan misim panas,
salju musim dingin
terbatas
tundra
Zona Kutub
Hujan musim panas di
awal musim dingin
Gurun es
Dasarnya adalah Evapotranspirasi potensial (Eto). Eto digunakan, karena Eto menyatakan perpindahan energi bahang
dan lengas ke atmosfer dari energi radiasi matahari.
Energi yang digunakan untuk evapotrans. dan jumlah air yang
dievapotranspirsikan pada musim panas > musim dingin.
Demikian pula energi dan jumlah air yang di trans. wilayah
iklim panas > iklim dingin.
Dengan membandingkan antara evapotraspirsi potensial dan
curahan di suatu wilayah dapat ditentukan apakah suatu musim mengalami surplus air atau defisit air, dan apakah suatu
wil. Iklim basah atau kering.
Evapotranspirasi (PE), Curahan (P) dan hubungan kedua unsur
cuaca tersebut digunakan untuk menyususn 4 kriteria dalam
pengelompokkan iklim suatu wilayah.
1. kecukupan kelengasan  dinyatakan dengan indek
kelengasan
2. keefisienan termal  dinyatakan dengan EP
3. agihan musiman dari kecukupan kelengasan
4. konsentrasi musim panas dari keefisienan termal
1. EP = evapotranspiras bulanan =
T = suhu udara bulanan,
1,6 (10T/I)a cm,
I = indek panas (i) selama 12 bulan ; I =
i =1 – 12
Σ (T/5) 1,54,
a= 675. 10-9 x I3 -771.10-7 x I2 + 0,01792 x I +0,4429 
ditabelkan
2. Indek kelengasan Im = {(100 S-100 D)/EP}
direvisi
Im = 100 {(P/EP) -1}
S = surplus air tahunan,
P= CH tahunan,
EP = evapotrans. tahunan, dan
D = defisit air tahunan
Bl
Suhu
Min
Max
EA
EP
CH
(CH-EP)
S
Rataan
D
1
1,6 (10Tjn/I)a cm,
+
2
1,6 (10Tfb/I)a cm,
+
3
1,6 (10Tmt/I)a cm,
+
4
1,6 (10Tap/I)a cm,
+
5
1,6 (10Tmi/I)a cm,
+
6
1,6 (10Tjn/I)a cm,
+
7
1,6 (10Tjl/I)a cm,
-
8
1,6 (10Tag/I)a cm,
-
9
1,6 (10Tse/I)a cm,
-
10
1,6 (10Tok/I)a cm,
-
11
1,6 (10Tno/I)a cm,
+
12
1,6 (10Tde/I)a cm,
+
EP thn.
CH thn.
S
D
Im = [100 (S-D)/EP]
Im = [(CHt/ETp-1) x 100]
Tabel Kecukupan lengas (Im)
Kode
Jenis Kecukupan lengas
Indek kelengasan
Im=100 {(CHt/EP) -1}
A
Perhumid (perlembab)
>100
B4
Humid (lembab)
80-100
B3
Humid (lembab)
60-80
B2
Humid (lembab)
40-60
B1
Humid (lembab)
20-40
C2
Sub-humid lembab
(sub-lembab lembab)
0-20
C1
Sub-humid kering
(sub-lembab kering)
-33,0-0
D
Semi arid (paruh kering)
E
Arid (kering)
-66,7 - -33,3
-100—66,7
Tabel Keefisienan termal
Jenis
Kecukupan lengas
PE (cm/3 bulan musim panas)
A
Megatermal
>114
B4
Mesotermal
99,7-114
B3
Mesotermal
85,5-99,7
B2
Mesotermal
71,2-85,5
B1
Mesotermal
57,0-71,2
C2
Mikrotermal
42,7-57
C1
Mikrotermal
28,5-42,7
D
Tundra
14,2-28,5
E
beku
0-14,2
Tabel konsentrasi musim panas dari keefisienan termal
Konsenrasi = EP 3 bulan musim panas/EP 12 bulan
Jenis konsentarasi musim panas
Konsentrasi (%)
a1
> 48
b14
48-51,9
b13
51,9-56,3
b12
56,3-61,6
b11
61,6-68,0
c 12
68,0-76,3
c 11
76,3-88,0
d1
>88,0
% konsentarsi = persentase dari rata-rata EP kumulatif selama 3 bulan
musim panas
Tabel Kecukupan kelengasan musiman
= [S/EP] x 100
Kode
Iklim lengas(A, B, C2)
Indek kekersanagan
r
Sedikit atau tak ada defisit air
s
Defisit musim panas sedang
10-20
w
Defisit musim dingin sedang
10-20
s2
Defisit musim panas besar
20 ke atas
w2
Defisit musim dingin besar
20 ke atas
Iklim Kering (C, D, E)
0-10
Indeks kelembaban
d
Sedikit atau tiada surplus air
0 - 16,7
s
Surplus musim dingin sedang
16,7 – 33,3
w
Surplus musim dingin sedang
16,7-33,3
s2
Surplus musim dingin besar
>33,3
w2
Surplus musim dingin besar
>33,3
Im
> 100
Kelembaban
(tipeiklim)
PE (cm)
Keefisienan
termal
perhumid
(A)
> 114
megatermal
humid
(B1-B4) 57-114
mesotermal
0-20
Sub-humid
lelmbab
(C2) 28,5-57
mikrotermal
-33-0
Sub-humid
kering
(C1) 14,2-28,5
tundra
Semi arid
(D) < 14
frost
arid
(E)
frost
20-100
-67 - -33
-100 - -67
EA1da1
E = adalah daerah kersang dengan indeks
kelengasan antara -100 dan -66,7
A1 = jenis keefisienannya adalah megatermal
dengan PE > 114 cm
d = tidak surplus air
a1 = konsentrasi musim panas < 48 %
Dasarnya hubungan iantara klim dan pertumbuhan tetumbuhan (vegetasi).
Vegetasi?
Vegetasi alami  iklim tempat tumbuh
Vegetasi tumbuh alami  sesusai dengan CH efektif
Jumlah hujan yang sama akan berbeda gunanya bila jatuh
pada musim yang berbeda
Variabel (data) iklim yang digunakan adalah:
Suhu udara bulanan dan suhu udara tahunan
Curah hujan bulanan dan curah hujan tahunan
Jenis iklim utama
Simbol
Jenis iklim utama
A
Iklim hujan tropis
B
Iklim kering
C
Iklimm hujan sedang panas
D
Iklim hutan salju sejuk
E
Iklim kutub
A
Suhu rata-rata bulan terdingin > 18oC . Isoterm musim dingin 18 oC
adalah kritis untuk hidup tetumbuhan tropis tt. CH tahunan > Et tahunan
B
Evapotranspirasi tahunan rata-rata > curah hujan tahunan rata-rata 
Defisit air
C
Suhu rata-rata bulan terdingin antara -3 dan18 oC. Bulan terpanas >10oC.
Isoterm musim panas 10 oC berkorelasi dengan batas ke arah kutub dari
pertumbuhan pohon dan isoterm -3 oC menujukkan batas ke arah khatulistiwa
D
Suhu rata-rata bulan terdingin di bawah -3 oC dan bulan terpanas mempunyai rata-rata > 10oC.
E
Suhu rata-rata bulan terpanas < 10 oC. Bulan terpanas dari ET mempunyai suhu rata-rata antara 0 dan 10 oC. Bulan terpanas EF mempunyai
suhu rata-rata < 0 oC
A
B
C
Iklim hujan tropis
Af
iklm hutan hujan tropis
Aw
iklm savana
Am
iklim monsun tropis
Iklim kering
BSh
iklim stepe terik
BSk
iklim stepe sejuk
BWh
iklim gurun terik
BWk
iklim gurun sejuk
Iklim hujan sedang panas
Cfa
lengas semua musim, musim panas terik
Cfb
lengas semua musim, musim panas panas
Cfc
lengas semua musim, musim panas pendek, sejuk
Cwa
hujan musim panas, musim panas terik
C
D
E
CWb
hujan musim panas, musim panas panas
Csa
hujan musim dingin, musim panas terik
Csb
hujan musim dingin, musim panas panas
Iklim hutan salju sejuk
Dfa
lengas semua musim, musim panas terik
Dfb
lengas semua musim, musim panas panas
Dfc
lengas semua musim, musim panas sejuk
Dfd
lengas semua musim, musim dingin, luar bisa dingin
Dwa
hujan musim panas, musim panas terik
Dwb
hujan musim panas, musim panas panas
Dwc
hujan musim panas, musim panas sejuk
Dwd
hujan musim panas, musim dingin, luarbiasa dingin
Iklim kutub
ET
tundra
EF
salju es abadi
Distribusi musiman curahan (pengaruh hujan)
f
Tidak ada musim kering, basah sepanjang tahun (A,C,D), CH bul. > 60
mm
m
Monsun, dengan musim kering pendek dan hujan lebat sepanjang sisa
tahun (A)
w
Hujan musim panas (A,C,D)
S
Musim kering pada musim panas (B)
W
Musim kering pada musim dingin (B)
Karakteristik suhu tambahan (pengaruh suhu)
a
Musim panas terik, suhu rata-rata bulan terpanas > 22oC
b
Musim panas panas, suhu rata-rata bulan terpanas < 22oC
c
Musim panas sejuk dan pendek, kurang dari 4 bln. suhu rata-rata > 10 oC
d
Musim dingin sanagat dingin, bulanterdingin bersuhu rata-rata < -38 oC
h
Terik, suhu tahunan rata-rata > 18 oC
k
Sejuk, suhu tahunan rata-rata < 18 oC
Kunci Determinasi Koppen
.
No.
1
2
Deskrisi
Apabila suhu rata-rata bulan terpanas (ttp):
< 10oC
> 10oC
A, C, D berbeda dengan B, apabila
a. CH merata sepanjang tahun (CHt)
CHt < 2 t + 14
CHt > 2 t + 14
b. CH terkosnsentrasi pada musim panas
(CH mp)
CHmp < 2 t + 28
CHmp > 2 t + 28
c. CH terkosnsentrasi pada musim dingin
(CH md)
CHmd < 2 t
CHmd > 2 t
Tipe
iklim
Lajut
ke No.
E
A, C, D
8
2
B
A, C, D
3
5
B
A, C, D
3
5
B
A, C, D
3
5
.
No.
3
4
Deskrisi
Iklim A, C, dan D dipisahkan berdasarkan suhu
rata-rata bulan terdingin (ttd):
ttd >18 oC
18 oC <ttd > -3 oC
ttd < -3 oC
Tipe
iklim
A
C
D
Iklim A dibedakan ke Af, Am, Aw dengan:
a. CH tahunan (CHthno) dan CH bulan terkering
(CHbtko)
(Chbtko) > 60 mm
(Chbtko) < 60 mm
Af
Am, Aw
b. Dengan CH bulan terkering rumus (CHbtkr)
(CHbtkr) = [(CH thn-10)/25]
(CHthno) > (CHbtkor)
(CHthno) < (Chbtkor)
Af
Aw
Lajut
ke No.
4
6
7
No.
.
Deskrisi
Tipe
iklim
Iklm B dibedakan menjadi BS dan BW didasarkan
pada CH tahunan (CHthno) dan suhu rata-rata
tahunan (t thno)
a. Bila CH merata sepanjang tahun
(CHthnr) = (tthno +7)
5
(CHthno) < (CHthnr)
(CHthno) > (CHthnr)
b. Bila CH maksimum pada musim panas (CHmakmp)
(CHthnr) = (tthno +14)
BS
BW
(CHmakmp) < (CHthnr)
(CHmakmp) > (CHthnr)
c. Bila CH masimum pada musim dingin (CHmakmd)
(CHthnr) = (tthno)
(CHmakmd) < (CHthnr)
(CHmakmd) > (CHthnr)
BS
BW
BS
BW
Lajut
ke No.
No.
.
6
7
Deskrisi
Iklm C dibedakan menjadi Cf, Cw, Cs didasarkan
pada CH maksimum (CHmak) dan CH bulan
terkering (CHbtk)
a. Bila CH merata sepanjang tahun
(CHbtk) > 30 mm
b. Bila CH maksimum pada musim panas
(CHbtk) ≥10 x CH terkering musim dingin
c. Bila CH maksimum pada musim dingin
(CHbtk) ≥ 3 x CH terkering musim panas
Iklm D dibedakan menjadi Df, dan Dw didasarkan
pada CH maksimum (CHmak) dan CH bulan terkering
(CHbtk)
a. Bila CH merata sepanjang tahun
(CHbtk) > 30 mm
b. Bila CH maksimum pada musim panas
(CHbtk) ≥10 x CH terkering musim dingin
Tipe
iklim
Cf
Cw
Cs
Df
Dw
Lajut
ke No.
No.
.
8
Deskrisi
Iklm E dibedakan menjadi ET dan EF didasarkan
pada suhu udara bulan terpanas (ttpn)
a. Bila
10 oC > (ttpn) > 0oC
Bila
(ttpn) < 0oC
Untuk Indonesia klasifikasi iklim Koppen ?
Suhu terdingin di Indonesia > 18oC  hanya A
Tipe
iklim
ET
EF
Lajut
ke No.
Modifikasi dari pengelompokkan iklim Mohr
Di Indonesia sangat terkenal, lebih teliti dr pada cara Kopen.
Untuk wilayah perkebunan dan hutan tropik humid
Data (variabel) iklim yang digunakan adalah:
1. Curah hujan bulanan, minimum 10 tahun
Type iklim (Q) ditentukan dari perbandingan rata-rata
jumlah bulan kering dengan rata-rata jumlah bulan basah
Q = [rata-rata Σ BK/rata-rata Σ BB] x 100
Curah hujan bulanan dibedakan:
Bulan basah (BB)  bila CH bulanan > 100 mm
Bulan lembab (BL)  bila CH bulanan antara 60 dan 100 mm
Bulan kering (BK)  bila CH bulanan < 60 mm
No.
Tahun
Bulan
Jan.
Feb.
Maret
S-F
-----
Des.
BB
BL
BK
1
Ke 1
-
-
-
-
-
-
-
2
Ke 2
-
-
-
-
-
-
-
3
Ke 3
-
-
-
-
-
-
-
4
Ke 4
-
-
-
-
-
-
-
n
Ke n
-
-
-
-
-
-
-
Σjan
ΣFeb
ΣMrt
ΣDes
ΣBB
ΣBL
ΣBK
Feb̿
Mrt.
Des
BB
BL
BK
Jan̿
------
Jangan dengan ini
S-F  Q = {[(ΣBK/n)/(ΣBB/n)]x 100} atau Q = BK/BB x100
.
12
11
H
Rata-rata jumlh bulan kering
10
9
G
8
Q = {[(ΣBK/n)/(ΣBB/n)]x 100} (%)
F
7
E
6
5
D
4
C
3
2
B
1
0
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata jumlh bulan basah
11
12
1.
Tipe iklim
Deskripsi (candra)
A (0-14,3)
Daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan
tropik
B (14,3-33,3)
Daerah basah dengan vegetasi hutan hujan tropik
C (33,3-60,0)
Daerah agak basah dengan vegetasi hutan rimba, di
antaranya terdapat jenis vegetasi yang daunnya
gugur pada musim kemarau, misalnya Jati
D (60-100)
Daerah sedang dengan vegetasi hutan musiman
E (100-167)
Daerah agak kering dengan vegetasi hutan savana
F (167-300)
Daerah kering dengan vegetasi hutan savana
G (300-700)
Daearh sangat kering dengan vegtasi padang illalang
H (> 700)
Daerah ekstrim kering dengan vegtasi padang
illalang




Di Indonesia tergolong sistem pengelompokkan iklim baru
Cara ini sangat berguna dalam pengembangan lahan pertanian tanaman pangan
Data iklim (variabel) yang digunakan adalah curah hujan
bulanan.
Dasarnya bahwa:
1. Padi sawah membutuhkan 145 mm air perbulan dalam
musim hujan
2. palawija membutuhkan 50 mm air perbulan pada musim kemarau
3. Hujan bulanan yang diharapkan memp peluang kejadian P75 = (0,82 CH-30) mm
4. Hujan efektif untuk padi sawah 100 %
5. Hujan efektif untuk palawija dengan tajuk rapat =75 %
CH bulanan dibedakan menjadi:
1. Bulan basah (BB), bulan dengan CH bulanan rata-rata
>200 mm
2. Bulan lembab (BL) bulan dengan CH bulanan rata-rata
antara 100 dan 200 mm
3. Bulan kering (BK), bulan dengan CH bulanan rata-rata
< 100 mm
Pengelompokkannya menggunakan panjang periode bulan basah
dan bulan kering berturut-turut. Struktur penglompokkan dibuat 5 tipe utama dan 4 subdivisi
Tipe utama dibedakan atas dasar jumlah bulan basah berturutan.
Tipe utama
Σ BB berturutan
A
>9
B
7-9
C
5-6
D
3-4
E
0-2
Subdivisi dibedakan atas dasar jumlah bulan kering
berturutan
Sub-divisis
Σ BK berturutan
1
<2
2
2-3
3
4-6
4
>6
Gabungan antara tipe utama dan subdivisi terdapat 17 daerah
(zona) agroklimat, iaitu A1, A2, B1, B2, B3, C1, C2, C3, C4, D1,
D2, D3, D4, E1, E2, E3, E4.
Segitiga Oldeman
Periode BK
Periode BB
N
o.
Tahun
Bulan
1
Ke 1
J.
F.
Mt.
2
Ke 2
-
-
3
Ke 3
-
4
Ke 4
5
n
D
BB
BL
BK
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Ke 5
-
-
-
-
-
-
-
Ke n
-
-
-
-
-
-
-
ΣJ
ΣF
ΣM
ΣA
ΣM
ΣJn
ΣJl
ΣA
ΣS
ΣO
ΣN
ΣD
ΣB
ΣL
ΣK
J
F̿
M
A
Mi
Jn
Jl
A
S
O
N
D
BB
BL
BK
Cari BB dan BK yang berturutan
A.
Mi
Jn
Jl
S-F
A
S
O
N
Tipe
Pejabaran
A1, A2
Sesuai untuk padi terus menerus
Produksi kurang, karena kerapatan (flux) radiasi matahari
rendah sepanjang tahun
B1
Sesuai untuk padi-padi-padi dengan perencanaan awal
musim yang baik. Produksi baik di musim kemarau (sadon)
B2
Padi-padi (varietas pendek) dan palawija.
C1
Padi 1 x dan 2 x palawija [ padi-palawija-palawija].
C2, C3,
C4
Dalam 1 tahun 1 x padi, 2 x palawija. Palawija ke 2 hati-hati
jangan jumbuh dengan bulan kering
D1
1x padi umur pendek dan 2 x palawija
D2, D3,
D4
Mungkin hanya 1 x padi, 2 x palawija tergantung
ketersediaan air irigasi
E
Terlalu kering, mungkin 1 x palawija itu pun tergantung
CHnya
Bulan
Tahun
J.
F.
Mrt
A.
Mi
Jn
Σ Bulan
Jl
A
S
O
N
D
B
L
K
1982
355
229
250
291
0
0
14
0
0
0
57
275
5
0
7
1983
475
335
269
332
513
5
0
0
12
325
382
431
8
0
4
1984
549
259
397
492
130
83
128
60
350
247
197
265
10
2
0
1985
297
396
263
376
209
102
55
33
24
330
472
244
9
0
3
1986
194
520
618
328
84
275
74
23
249
237
555
256
9
2
1
1987
320
714
321
235
78
46
29
0
0
0
605
743
6
1
5
1988
506
220
385
178
441
237
20
132
77
331
550
396
10
1
1
1989
491
601
341
471
294
458
114
60
0
294
355
254
10
1
1
1990
408
309
286
317
646
230
196
162
79
221
312
525
11
1
0
1991
662
496
227
318
0
0
0
0
0
256
511
0
6
0
6
Jum.
4257
4079
3357
3338
2395
1436
630
470
791
2241
3996
3386
84
8
28
Ratarata
425,7
407,9
335,7
333,8
239,5
143,6
63
47
79,1
224,1
399,6
338,6
8,4
0,
8
2,8
Q = (rata-rata Σ bln kering/rata-rata Σ bln basah) = [2,8/8,4] x 100 = 33,33  C atau B
Bukan Q = 1/9 x 100 = 11,11  SALAH
TERIMAKASIH
ATAS PERHATIANNYA
Kekeringan
Puting beliung
Kebanjiran
Tugas


Di permukaan bumi tidak ada dua tempat yang mempunyai
iklim yang identik, namun sangat mungkin untuk menemukan suatu daerah yang dianggap seragam dari satu tempat
dengan tempat lain. Daerah semacam ini disebut daerah
iklim
Iklim merupakan keadaan keseimbangan di antara semua unsur komponen-komponen sistem iklim. Oleh karenanya di
atas permukaan bumi ini terdapat banyak sekali macam iklim,
maka sulit (rumit) untuk memahami pola iklim dunia. Untuk
menyederhanakan dan menjelaskan pola iklim yang rumit itu
perlu suatu cara untuk mengatur data iklim yang sangat
beragam dan banyak. Pengaturan itu dengan cara mengelompokkan data iklim, menyederhanakan sebaran data iklim,
dan akhirnya memahmi pola iklim dunia.



Masalah utama dalam mengembangkan sistem penggolongan
iklim adalah unsur iklim yang banyak (7 unsur), tetapi akan
dimunculkan 1 hasil pengelompokkan. Penggunaan hanya 1
unsur iklim untuk mengelompokkan belum memenuhi syarat
definisi iklim. Sebaliknya menggunakan semua unsur iklim
menghasilkan kerumitan yang berlawanan dengan tujuan
pengelompokkan iklim, yakni kesederhanaan dan kejelasan .
Terus bagaimana? Berapa unsur iklim yang digunakan?
Tidak semua unsur digunakan, cukup dipilih unsur iklim yang
dianggap penting yang berhubungan dengan tujuan penyusunan sistem pengelompokkan
Unsur iklim yang sering digunakan untuk menyatakan iklim
adalah curah hujan dan suhu udara. Metode pengungkapan
unsur yang terpilih (parameter) harus ditentukan sesuai dengan tujuan .

similar documents