Ulum al-Hadis - UIN Alauddin Makassar

Report
WAWASAN HADIS &
METODOLOGINYA
Zulfahmi Alwi, Ph.D
Orientasi Islam Untuk Disiplin Ilmu (IDI)
UIN Alauddin Makassar
Samata, 3-8 Desember 2012
Terminologi Hadis
Hadis : bahasa Arab
‫( الحديث‬sesuatu yang
baru).
Terminologi Hadis
Ulama hadis: "Segala apa yang disandarkan
kepada Nabi saw baik dalam bentuk
perkataan, perbuatan, persetujuan (‫)تقرير‬,
sifat, atau sejarah hidup.
Ulama Usul: segala yang disandarkan
kepada Nabi saw selain al-Qur'an, baik dari
segi perkataan, perbuatan, ataupun taqrir
yang dapat dijadikan sebagai dalil atas
sebuah hukum syari'at.
Terminologi Hadis
Ulama Fikih: Segala yang bersumber dari
Nabi saw yang tidak berhubungan dengan
hal-hal yang bersifat fard ataupun wajib.
Ulama Akidah: sesuatu yang berlawanan
dengan bid'ah.
 Perbedaan pendefinisian ini disebabkan
karena perbedaan pendekataan yang
diterapkan oleh masing-masing ulama
dalam melihat sosok Nabi saw.
Sinonim Hadis (1)
Al-Sunnah
Segala yang diriwayatkan dari Nabi
saw, baik berupa perkataan,
perbuatan, ketetapan, maupun
sifat/keadaan
Tidak ada perbedaan antara
pengertian hadis dan sunnah,
sebagaimana dianut oleh mayoritas
ulama
Sinonim Hadis (2)
Al-Khabar
1. Defenisi al-khabar sama dengan hadis;
2.Al-Khabar adalah sesuatu yang datang selain
dari Nabi Muhammad saw, karena yang
datang dari Nabi saw disebut Hadis;
3. Al-Khabar lebih umum dari pada hadis,
karena al-khabar dapat digunakan untuk apa
yang datang dari Nabi dan selain Nabi saw,
sedangkan hadis khusus digunakan untuk
apa yang datang dari Nabi saw.
Sinonim Hadis (3)
Al-Atsar
1. Segala sesuatu yang disandarkan kepada
Nabi saw, baik berupa perkataan,
perbuatan, ketetapan, maupun sifat/moral;
2.Apa yang disandarkan kepada sahabat dan
tabi'in;
3. Ulama Fikih dari Khurasan menamakan
semua hadis mauquf dengan nama al-atsar,
sedangkan hadis marfu' dinamakan alkhabar.
Struktur Hadis (1)
1.Sanad: mata rantai para perawi yang menghubungkan
matan hadis sampai kepada Nabi Muhammad saw.
2.Matan: Lafaz hadis yang dengannya terbentuk maknamakna tertentu.
3.Rawi/Perawi: orang yang meriwayatkan hadis dari
seorang guru kepada orang lain yang tercantum dalam
buku hadis.
4.Mukharrij: perawi terakhir yang membukukan hadis
yang diriwayatkannya ke dalam kitabnya, seperti alBukhari dan Muslim.
Struktur Hadis (2)
Contoh Sanad
‫حدثنا الحميدي عبد هللا بن الزبير‬
‫قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن‬
‫سعيد األنصاري قال أخبرني محمد‬
‫بن إبراهيم التيمي أنه سمع علقمة بن‬
‫وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن‬
‫الخطاب رضي هللا عنه على المنبر‬
‫قال سمعت رسول هللا صلى هللا عليه‬
... ‫و سلم يقول‬
1. Al-Humaidiy bin al-Zubair
(sanad 1/perawi 6).
2. Sufyan (sanad 2/perawi 5)
3. Yahya bin Sa’id al-Ansari
(sanad 3/perawi 4).
4. Muhammad bin Ibrahim alTaimi (sanad 4/perawi 3).
5. ‘Alqamah bin Waqqas alLaisi (sanad 5/perawi 2).
6. Umar bin al-Khattab ra
(sanad 6/perawi 1), hingga
sampai kepada Nabi saw.
‫)‪Struktur Hadis (3‬‬
‫‪Contoh Matan‬‬
‫إنما األعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى‬
‫فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إلى‬
‫امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر‪...‬‬
Hadis sebagai Sumber Ajaran Islam
 Al-Quran. Perintah taat kepada Allah dan Rasul-
Nya (al-Nisa:59). Perintah mengikuti segala yg
diperintahkan Nabi dan menjauhi larangannya (alHasyr:7).
 Hadis Nabi. Hadis tentang keselamatan orang yg
berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah (HR.
Malik bin Anas). Hadis tentang perintah berpegang
teguh kepada sunnah Nabi saw (HR. Abu Dawud).
 Ijma’ Ulama. Umat Islam sepakat al-Quran dan
hadis sebagai sumber ajaran Islam.
 Logika. Kewajiban taat kepada sunnah Nabi
Muhamaad saw adalah konsekuensi logis atas dalildalil yang sangat jelas menerangkan kebenaran
Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah.
Peran/Fungsi Nabi saw
Penjelas al-Qur’an
 QS al-Nahl/44: Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada
mereka dan supaya mereka memikirkan.
 HR Muslim dari Ibn Umar: Apabila kamu melihat bulan maka
berpuasalah, juga apabila kamu melihatnya maka berbukalah.
 Menguatkan QS al-Baqarah ayat 185 yang artinya: Maka barangsiapa
yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa.
 Ayat-ayat al-Qur’an mengenai perintah mendirikan salat, kewajiban
menunaikan zakat, disyariatkannya jual beli, nikah, hudud, dan
sebagainya.
 HR al-Bukhari: Salatlah sebagaimana engkau melihat aku salat.
Peran/Fungsi Nabi saw
Legislator





Dalam hal-hal tertentu yang tidak ada keterangannya dalam al-Qur’an, Nabi saw
dianugerahi otoritas untuk menetapkan hukum secara independen.
QS al-A’raf 157: Dan (Rasul) menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala hal yang buruk….
QS al-Hasyar 7: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa
yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.
contoh larangan berpoligami bagi seseorang terhadap wanita dengan bibinya,
sebagaimana hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya: Tidak
boleh seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita dengan ‘ammah’
(saudari bapak)nya dan seorang wanita dengan khalah (saudari ibu)nya.
Contoh lain: larangan mengawini seorang wanita yang bersaudara sepersusuan
karena ia dianggap muhrim senasab. HR Bukhhari dan Muslim: Sesungguhnya
Allah telah mengharamkan mengawini seseorang karena sepersusuan,
sebagaimana halnya Allah telah mengharamkannya karena senasab.
Peran/Fungsi Nabi saw
Sosok yang Harus Dipatuhi
 QS al-Anfal 20: Wahai orang-orang
yang beriman, taatlah kalian kepada
Allah dan Rasulnya.
 QS al-Nisa’ 80: Siapa yang taat
kepada Rasul, berarti ia taat kepada
Allah.
Peran/Fungsi Nabi saw
Model Bagi Prilaku Muslim
 QS al-Ahzab 21: Sesungghunya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.
Inkar al-Sunnah/Anti Hadis
Inkar al-Sunnah: Paham yang
timbul dalam masyarakat Islam
yang menolak hadis atau sunnah
sebagai sumber ajaran Islam kedua
setelah al-Qur’an.
Tiga Kelompok Inkar al-Sunnah:
 Mereka yang menolak sunnah secara keseluruhan,
golongan ini menganggap bahwa hanya al-Qur’an
yang bisa dijadikan sebagi hujjah;
 Mereka yang tidak menerima sunnah kecuali yang
semakna dengan al-Qur’an;
 Mereka yang hanya menerima sunnah mutawatir saja
dan menolak selain mutawatir.
Sejarah Inkar al-sunnah
 Muncul awal abad ke-2 H dan kemudian
menghilang dan muncul kembali pada
abad ke-13 H di India dan Mesir.
 Masa Klasik: a.l. dimotori oleh kelompok
Mu’tazilah
 Masa Modern: a.l. dimotori Sayyid
Ahmad Khan (w. 1897 M) di India, Dr.
Taufiq Sidqi (w. 1920 M) di Mesir, Kassim
Ahmad (Malaysia) dan Ahmad Sutarto di
Indonesia.
Argumen & Bantahan thdp Inkar al-Sunnah
 Argumen: QS. al-An’am/6: 38 dan al-
Nahl/16:89 dan Logika
 Bantahan a.l.:
Periode kalsik: Imam al-Syafi’i (w.204 H)
Periode modern: Prof. Dr. Mustafa al-Siba’i
dan Prof. Dr. H. M. Syuhudi Ismail (w. 1995
M).
Pokok Ajaran Inkar al-Sunnah
 Tdk percaya pd semua hadis Nabi, hadis
hanya karangan Yahudi untuk
menghancurkan Islam dari dalam.
 Dasar hukum Islam hanya al-Qur’an
saja.
 Syahadat mereka: Isyhadu bi anna
muslimun.
 Salat mereka bermacam-macam, ada
yang salatnya dua raka’at-dua raka’at
dan ada yang hanya eling (ingat) saja.
Pokok Ajaran Inkar al-Sunnah
 Puasa wajib bagi yg melihat bulan sj, jika seorang saja yang melihat Bulan,





maka dialah yang wajib berpuasa. Mereka berependapat demikian
merujuk pada ayat:
‫فمن شهد منكم الشهر فليصمه‬
Haji boleh dilakukan selama 4 bulan haram yaitu Muharram, Rajab,
Zulqa’dah dan Zulhijjah.
Pakaian Ihram adalah pakaian Arab dan membuat repot. Oleh karena itu,
waktu mengerjakan haji boleh memakai celana panjang dan baju biasa
serta memakai jas/dasi.
Rasul tetap diutus sampai hari kiamat.
Nabi Muhammad tidak berhak menjelaskan tentang ajaran al-Qur’an
(kandungan isi al-Qur’an).
Orang yang meninggal dunia tidak dishalati karena tidak ada perintah alQur’an.
Metode Periwayatan Hadis
Syarat Penerima Hadis
 Dapat memahami pesan yang terkandung di
dalam hadis
 Dapat membedakan yang baik dan benar dari
yang buruk dan salah (mumayyiz) meskipun
seorang non muslim.
Syarat Periwayat Hadis
 Muslim, Mukallaf, adil, dan dabit.
Delapan Metode Periwayatan Hadis
1. Al-Sama’’ala al-syaikh
(mendengar langsung dr guru).
2. Al-Qira’ah ala al-syaikh (m’bacakan di hadapan guru).
3. Al-Ijazah
(pemberian izin).
4. Al-Munawalah
5. Al-Kitabah
6. Al-I’lam
(penyerahan).
(penulisan atau korespondensi).
(pemberitahuan).
7. Al-Wasiyyah
8. Al-Wijadah
(mendapat wasiat).
(penemuan).
Periwayatan hadis pada masa Nabi saw
1.Metode Lisan. Nabi saw seringkali mengulangi hal-hal
penting dari pesan-pesan beliau. Selain itu, Nabi kadang meminta
para Sahabat mengulangi kembali apa yg diajarkannya untuk
memastikan tidak ada kekeliruan.
2.Metode Tulisan. Sekalipun tidak dapat menulis, Nabi
menggunakan perantara penulis untuk menyampaikan pesanpesannya. Buktinya, surat-surat Nabi kpd para raja, penguasa, kepala
suku, dll.
3.Metode Praktek. Rasulullah saw dalam memberikan
penjelasan-penjelasan praktis tentang perkara ibadah dan muamalah
senantiasa disertai dengan perintah untuk mengikutinya.
Periwayatan hadis pada masa Sahabat & Tabiin
 Masa Sahabat lebih banyak dilakukan secara lisan
disamping tulisan. Bersikap sangat hati-hati dan khawatir
akan berpalingnya konsentrasi sahabat dari al-Qur’an yang
usianya masih sangat muda kepada hadis.
 Masa Tabi’in juga dilakukan secara berhati-hati sekalipun
tidak lagi terjadi keraguan akan bercampurnya al-Qur’an
dengan hadis.
Kodifikasi hadis masa mutaqaddimin
 Kodifikasi hadis di pelopori oleh Khalifah Umar bin
‘Abdul ‘Aziz yang menjadi khalifah dari tahun 99-101
H.
 Pada periode ini, tabi’in pertama yang menghimpun
hadis secara riwayah adalah Ibn Syihab al-Zuhri dan
Ibn Juraij.
 Periode ini telah melahirkan sejumlah kitab
himpunan hadis seperti al-Musannafat, al-Muwatta’,
al-Musnad, al-Sunan, al-Jami’ dan al-Sahih.
Kodifikasi hadis masa muta’akhkhirin
 Lebih fokus kpd aspek penelitian kualitas hadis yg telah
dihimpun pada periode mutaqaddimin.
 Pada periode ini disusun juga sejumah kitab kitab baru dengan
tujuan untuk memelihara, menertibkan dan menghimpun
sanad dan matan hadis yang saling berhubungan, dan/atau
telah dimuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang telah
disusun oleh al-mutaqaddimin, seperti kitab-kitab atraf dan
mustakhrajat, syuruh, mukhtasarat, al-zawa’id, dan ma’ajim.
Penelitian hadis periode kontemporer
 Fokus pada kajian dan penelitian yang
lebih spesifik terhadap hadis Nabi saw
dengan menggunakan berbagai metode
dan pendekatan, baik dalam bentuk
takhrij al-hadis, ikhtisar al-hadis, kajian
tematik, maupun penggunaan media IT.
Kemunculan Hadis Palsu
Kaidah Kesahihan Hadis
1. Sanad hadis bersambung dari Mukharrij sampai ke
Nabi saw.
2. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat ‘adil.
3. Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dabit.
4. Sanad hadis terhindar dari syuzuz (kejanggalan)
5. Sanad hadis terhindar dari ‘illat (cacat).
Kaidah Kesahihan Hadis
1.Matan hadis terhindar dari syaz
(kejanggalan) baik dari segi lafaz
maupun makna.
2.Matan hadis terhindar dari ‘illat
(cacat) baik dari segi lafaz maupun
makna.
Perkembangan Ilmu Hadis
 Ilmu Rijal al-Hadis. Ilmu yang membahas tentang integritas dan kapasitas
perawi dari segi periwayatan.
 Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil. ilmu yang membahas tentang kecacatan dan
keadilan seorang perawi sehingga dapat diketahui apakah riwayatnya
diterima atau ditolak.
 Ilmu Tarikh al-Ruwah. ilmu yang membahas secara mendalam tentang
aspek kesejarahan seorang perawi, mulai dari identitas dan latar belakang
perawi sampai kepada usahanya terhadap periwayatan hadis.
 Ilmu ‘Ilal al-Hadis. ilmu yang membahas tentang sebab-sebab tersembunyi
dan samar-samar yang berakibat rusaknya kesahihan hadis.
Perkembangan Ilmu Hadis
 Ilmu Musykil al-Hadis. ilmu yang menerangkan ta’wil hadis yang musykil
(pelik dan susah) meskipun tidak bertentangan dengan hadis lain.
 Ilmu Muktalaf al-hadis. ilmu yang membahas hadis-hadis yang menurut
lahirnya tampak saling bertentangan atau berlawanan.
 Ilmu Nasikh wa al-Mansukh. Ilmu yang membahas tentang hadis-hadis
yang bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan
 Ilmu Asbab al-Wurud. ilmu yang membatasi arti suatu hadis, baik
berkenaan dengan arti umum atau khusus, mutlaq atau muqayyad, dinasakh atau tidak, dan seterusnya, atau suatu arti yang dimaksud oleh
sebuah hadis saat kemunculannya.
Hadis Daif & Hadis Mawdu’
Hadis Daif karena Keterputusan sanad:
1.Hadis Mursal
2.Hadis Munqati’
3.Hadis Mu’dhal
4.Hadis Mu’allaq
5.Hadis Mudallas
Hadis Daif & Hadis Mawdu’
Hadis Daif karena Kecacatan sanad/matan:
1. Hadis Matruk
2. Hadis Majhul
3. Hadis Mubham
4. Hadis Munkar
5. Hadis Syaz
6. Hadis Mudraj
7. Hadis Maqlub
8. HadisMudhtarib
9. Hadis Mushahhaf
10. Hadis Mudha’af
11. Hadis Mu’allal
Kehujahan Hadis Daif
Para ahli hadis & ulama lain memperbolehkan periwayatan hadishadis daif tanpa menjelaskan kedaifannya dengan dua syarat:
 Tidak terkait dengan akidah.
 Tidak terkait dengan hukum syariat, seperti halal dan haram.
Sedangkan hadis-hadis yang terkait dengan akidah dan hukum
syariat maka hadis daif tersebut tidak boleh diriwayatkan tanpa
menjelaskan keda’ifannya dan tidak bisa dijadikan sebagai
hujah atau dalil hukum.
Pengamalan Hadis Daif
a.Hadis daif bisa diamalkan
secara mutlak dengan alasan
hadis daif lebih kuat dari pada
akal perorangan (qiyas) (ulama
fikih spt Abu Daud dan Ahmad
bin Hambal.
Pengamalan Hadis Daif
a.Hadis daif bisa digunakan dalam masalah fada’il, mawa’iz
dan sejenisnya dengan syarat:
1. Keda’ifannya tidak parah, seperti perawinya bukan
pendusta atau sering melakukan kesalahan.
2.Hadis da’if masuk dalam cakupan hadis pokok yang bisa
diamalkan dan tidak berlawanan dengan dalil lain atau
kaidah umum.
3. Ketika mengamalkan hadis tersebut, tidak diyakini
sebagai amalan hadis atau sunnah, tetapi diyakini sekedar
sebagai langkah kehati-hatian.
Pengamalan Hadis Daif
c. Hadis da’if tidak bisa
diamalkan secara mutlak,
baik mengenai fada’il alA’mal dan hukum-hukum
syariat (ulama besar hadis).
Takhrij Hadis
Al-Takhrīj berasal dari perkataan bahasa Arab (‫)خرج‬
yang berarti keluar.
Istilah al-takhrīj mempunyai beberapa pengertian, sbb:
1. Al-Takhrīj berarti menjelaskan hadis kepada orang
lain dengan menyebutkan para perawinya dalam
sanad. Misalnya al-Bukhārī dan Muslim dengan kitab
al-Sahīhayn.
2. Al-Takhrīj berarti mengeluarkan hadis dari sumber
kitab asal dan meriwayatkannya berdasarkan
susunan riwayatnya sendiri, dengan menjelaskan
para perawinya dari kitab asal. Diantaranya, al-Imām
al-Bayhaqī yang telah banyak meriwayatkan hadishadis dengan sanadnya sendiri dari kitab al-Sunan
karya Abū al-Hasan al-Basrī al-Saffār.
3. Al-Takhrīj berarti menunjukkan atau mengemukakan
letak asal hadis pada sumbernya yang asal, yaitu
berbagai kitab, dengan menjelaskan kekuatan
hukum hadisnya. Di antaranya al-Imām al-Zaylācī (w.
762 H) dalam kitabnya Nasb al-Rāyah fī Takhrīj
Ahādīth al-Hidāyah.
Urgensi takhrij hadis
1. Untuk mengenal pasti asal-usul riwayat suatu
hadis serta redaksinya secara lengkap.
2. Untuk mengetahui kesemua riwayat bagi
suatu hadis. Hadis yang akan diteliti mungkin
lebih dari satu sanad.
3. Untuk mengetahui lafaz-lafaz yang digunakan
dalam periwayatan hadis.
4. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya
shāhid atau muttabi bagi sanad suatu hadis.
5. Untuk mengetahui kekuatan hukum suatu
hadis. Diantara kitab-kitab hadis, ada yang
dijelaskan kedudukan hukum hadis-hadisnya,
seperti Sahīh al-Bukhārī dan Sahīh Muslim.
Takhrij Hadis
Metode Takhrij Hadis
1. Al-Takhrīj dengan cara melacak perawi pertama
yang meriwayatkan hadis. Perawi pertama adalah
perawi yang meriwayatkan hadis dari Nabi saw.
Diantara kitab rujukannya: kitab al-masānīd, almacājim, al-atrāf, al-tarājum dan al-fahāris.
2. Al-Takhrīj dengan cara melacak kata pertama dari
lafaz matan hadis. Diantara kitab rujukannya: kitab
al-mawsūcāt al-hadīthiyyah, al-mafātīh. dan alfahāris.
3. Al-Takhrīj dengan cara melacak salah satu kata
dari lafaz hadis. Diantara kitab rujukannya: alMucjam al-Mufahras li Alfāz al-Hadīth al-Nabawī
karya Arent Jan Wensinck.
4. Al-Takhrīj dengan cara melacak satu tema dari
tema-tema yang terdapat dalam hadis. Diantara
kitab rujukannya: Miftāh Kunūz al-Sunnah karya
Arent Jan Wensinck.
5. Al-Takhrīj dengan cara mengkaji sifat-sifat khas
yang dimiliki hadis itu, baik pada sanad ataupun
matnnya. Misalnya, tanda-tanda qudsī pada
sanadnya dan tanda mutawātir pada matnnya.
Diantara kitab rujukannya: kitab al-Ithāfāt alSunniyyah fī al-Ahādīth al-Qudsiyyah karya Shaykh
Muhammad b. Mahmūd al-Madanī (w. 1200 H).
Ragam Obyek Takhrij Ulama Hadis:
1. Takhrij hadis-hadis yang terdapat
dalam kitab tertentu saja. Misalnya,
al-takhrīj yang dilakukan oleh alZaylacī keatas hadis-hadis dalam kitab
al-Kashshaf karya al-Zamakhsharī.
2. Takhrij hadis-hadis berdasarkan
perkara tertentu. Misalnya, al-takhrīj
yang dilakukan oleh Jāsim Sulaymān
al-Fuhaydī ke atas hadis-hadis yang
berkenaan dengan shalat al-tasbīh
dalam kitabnya al-Tanqīh limā jā’a fī
salāt al-tasbīh.
3. Takhrij hadis-hadis tertentu saja.
Misalnya Khalīl Ibrāhīm Malā Khatīr
yang mentakhrīj hadis mengenai lalat
(‫ )الذبابة‬dalam kitabnya al-Isābah fī
sihhah hadīth al-dhubābah.
Mukharrij dan Kitab Himpunan
Pengenalan mukharrij dan karyakaryanya
 Mukharrij adalah mereka yang
telah mengemukakan hadis
kepada orang lain dengan
menyebutkan para periwayatnya
dalam sanad hadis dengan
metode yang periwayatan yang
ditempuhnya atau mereka yang
telah melakukan perlawatan
kemudian menyusun hadis-hadis
Nabi lengkap sanad dan matan
serta metodenya ke dalam kitab
hadis, seperti Imam al-Bukhari,
Imam Muslim, Imam Abu Dawud,
Imam al-Turmuzi, dan Imam alNasa’i.
Pengenalan kitab himpunan hadis
 Kitab himpunan hadis adalah kitab hadis yang
dikatagorisasikan sbg kitab riwayat, yakni
kitab hadis yang disusun oleh para mukharrij
setelah menghimpun hadis-hadis dari
berbagai guru (syaikh) hadis dari berbagai
daerah. Misalnya, al-Jami’ al-Sahih karya
Imam al-Bukhari, Sunan Abu Dawud, dan
Musnad Ahmad bin Hanbal.
 Para mukharrij dalam menyusun kitab-kitab
hadis menggunakan metode yang berbedabeda. Misalnya: al-Bukhari dan Muslim
menyusun Kitab Sahih dengan metode al-jami’
(mengumpulkan seluruh aspek hadis yang
dinilai sahih), Abu Dawud, al-Turmuzi, dan alNasa’i menyusun Kitab Sunan dengan metode
al-musannafat (berdasarkan bab-bab fiqh),
dan Ahmad bin Hanbal menyusun kitab
dengan metode al-musnad (berdasarkan
periwayat pertama).
TERIMAKASIH

similar documents