MEMBACA TELAAH BAHASA

Report
MEMBACA TELAAH BAHASA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
OLEH :
Moh Ari Huzzaka
1201100255
Rosdiana Nanda Pratiwi 1201100266
Febrianto Syahbani 1201100282
Tri Andri Pujiastuti
1201100292
Ade Nopita Komaladewi 1201100298
Yuvita Fauzul Hidayati
1201100304
Kelompok 6
A. Membaca Bahasa
Tujuan utama pada membaca bahasi ini adalah:
1.Mengembangkan daya kata (increasing word
power)
2. Mengembangkan kosa kata (developing
vocabulary)
1. Memperbesar daya kata
Ada beberapa hal yang harus kita ketahui antara lain :
a)
Ragam-ragam bahasa
b)
Mempelajari makna kata dari konteks
c)
Bagian-bagian kata
d)
Penggunaan kamus
e)
Makna-makna Varian
f)
Idiom
g)
Sinonim dan antonim
h)
Konotasi dan denotasi
i)
Derivasi
a) Ragam-ragam bahasa
Secara garis besarnya, ragam bahasa dapat
dibedakan menjadi beberapa, yaitu:
1) Bahasa formal atau bahasa resmi
2) Bahasa informal atau bahasa tidak resmi
3) Bahasa percakapan atau colloquial language
4) Bahasa kasar atau vulgar language
5) Bahasa slang
6) Bahasa teknis atau technical language
Bahasa formal atau bahasa resmi
Bahasa formal atau bahasa resmi adalah bahasa yang dipakai pada saatsaat resmi
Contoh bacaan :
Farida Rahim (2007:96) menyatakan bahwa surat kabar merupakan
bahan bacaan yang efektif dalam pembelajaran membaca. Surat kabar
merupakan sumber bahan bacaan tambahan yang memungkinkan guru
membawa komunitas bahasa kedalam kelas. Gaya bahasa dan organisasi
tulisan surat kabar berbeda dengan buku atau majalah. Di samping itu
surat kabar merupakan bahan bacaan yang hidup untuk bidang studi
pengetahuan sosial. Melalui surat kabar siswa dapat belajar tentang
sejarah hari ini.
Bahasa Informal atau Tidak Resmi
Bahasa informal atau bahasa tidak resmi adalah bahasa yang
dipakai pada situasi-situasi yang tidak resmi.
Contoh bacaan :
Dear diary
Hari ini saya senang sekali karena nilai bahasa Indonesia saya
cukup memuaskan. Tapi, saya tidak terpaku sampai disini, justru
ini adalah motivasi saya untuk lebih siap saat ujian nasional nanti.
Kalau dipikir-pikir ngeri juga ya dengar kata ujian nasional, tapi
mau gimana lagi, sudah kewajiban siswa kelas 3, seperti saya ini.
Bahasa percakapan atau colloquial language
Bahasa percakapan atau colloquial language adalah bahasa yang umum dipakai dalam
percakapan.
Contoh bacaan :
Pemuda 1 : Eh, ada bola. Siapa yang main nih?
Pemuda 3 : Arema sama Indonesia All Star
Pemuda 1 : Weis, keren nih. Siapa aja yang main?
Pemuda 3
: Kalo All Star pemainnya bintang-bintang aja. Seru nih, fair play
Pemuda 2 : Siapa tuh kipper All Starnya ?
Pemuda 3 : M. Haris
Pemuda 1 : Itu kan Markus, tapi kok Haris ya bukan Horison?
Pemuda 3 : Kan nama aslinya M. Haris Nasution, tinggal disambungin aja deh
Pemuda 1 : Hah, bukannya Markus itu kiper Arema ya?
Pemuda 2 : Iya, kok malah nggak membela timnya?
banget.
Pemuda 1
Pemuda 2
Pemuda 1,3
Pemuda 2
Pemuda 3
Pemuda 1
Pemuda 2
Pemuda 3
Pemuda 1
Pemuda 2
Pemuda 3
Pemuda 2
: Mungkin karena itu ya dia pake nama M.Haris
: Bisa jadi...
: (angguk-angguk)
: Dimana mainnya nih? Istora ya...?
: Kayaknya di kandang Arema deh, soalnya Istora nggak
kayak gitu bentuknya
: Wuih, penuh. Rame banget. Kalo istorat berapa
kapasitasnya, 15000 ya?
: (terdiam),
: (mikir lagi), bisa jadi.
: Eh, bukannya sekarang Markus main di Persib ya?
: (bengong)
: Eh iya. Padahal baru kemarin bikin postingan blog tentang
Markus. Dulunya emang main di Arema 9 (sambil tersipu
malu)
: Telat. Hahaha
Bahasa kasar atau vulgar language
Bahasa kasar atau vulgar language disebut juga bahasa yang tidak baku
atau bahasa orang yang buta huruf, bahasa orang yang tidak berpendidikan.
Bahasa ini memang jelas mempunyai cara sendiri yang konvensional, tetapi
tidak dipergunakan oleh orang-orang yang telah mempelajari bentuk-bentuk
baku
Contoh bacaan
Nina
: Hai Siti
Siti
: Hai Nina
Nina
:Kowe lagi ngapa?
Siti
: Aku lagi nandur kembang ki. Aku njaluk tulung gawakno
pot kembang sing ning kana kae mrene, isa ora?
Nina
: Ya ( Nina nggawa pot kembange)Siti iki pot kembange
Siti
: Matur nuwun ya
Nina
Siti
Nina
Siti
Nina
Siti
Nina
: Padha-padha Siti. Kembang-kembang iki endah ya.
Apa .....................iki kabeh duwekmu Siti?
: Iya. Ibuku mundhutake kembang-kembang iki .
: Tak ewangi nyirami kembange ya? (Aku bantu
menyirami bunganya ya?)
: Wis ora usah Nina malah dadi ngrepotake awakmu.
: Ora apa-apa...aku malah seneng hlo (nggak apaapa..aku ....................malah senang lho)
: Ya wis kae nek njupuk banyu ning kran kidul kae ya
: Ok !
Bahasa slang
Bahasa slang adalah bahasa yang ditujukan pada kelompokkelompok khusus serta terbatas. Oleh karena itu, jarak atau tidak
pernah secara efektida dalam tulisan ditujukan pada pembaca
umum.
Contoh Slang dalam bahasa inggris
“daft” yang berarti stupid, foolish (bodoh, OON).
Contoh dalam kalimat :
Oh my God, I just did a daft thing this day. I forgot putting my
name in my
exam.
Bahasa teknis atau technical language
Bahasa teknis atau technical language adalah bahasa
yang dipakai pada profesi-profesi tertentu (dokter,
hakim,
insinyur,
dan
lain-lain)
yang
telah
mengembangkan kosa kata sendiri, ekspresi-ekspresi
yang secara cepat dan efisien menyatakan kebutuhan
mereka satu sama lain.
b) Mempelajari makna kata dari konteks
Untuk memperbesar daya kata, tidak cukup hanya
menghindari bahasa yang tidak baku, bahasa yang
tidak diterima oleh orang-orang yang terpelajar.
Untuk memiliki suatu kosa kata yang efektif, kita harus
membuat suatu upaya tertentu untuk memperoleh
kata-kata baru untuk menempati wadah kata-kata
yang cenderung kita buang atau hindari itu. Ada dua
cara untuk melakukan hal ini, yaitu melalui
pengalaman dan melalui bacaan.
C) bagian-bagian kata
Sebagai tambahan terhadap penggunaan petunjukpetunjuk konteks untuk menentukan makna sesuatu kata
baru, kadang-kadang kita dapat pula memperhitungkan
maknanya dari pengetahuan mengenai bagian-bagian
kata. Banyak tetapi tidak semua, kata yang terdiri atas
bagian-bagian berikut ini:
Prefiks (atau awalan)
Root (akar atau dasar kata)
Suffiks (atau akhiran)
Infiks (atau sisipan)
d) Penggunaan Kamus
Pada pokoknya, kamus adalah rekaman kata-kata
yang membangun sesuatu bahasa. Bahasa adalah
sesuatu yang hidup,tumbuh, berkembang dan
berubah. Seperti juga halnya bahasa berubah,
kamuspun harus berubah karena kamus tidaklah
mendikte, memerintah pemakaian kata-kata, tetapi
justru sebaliknya: kamus harus mengiutinya
e) Makna-makna varian
Kita telah mengetahui bahwa kamus dapat merupakan
suatu sumber penting pemerolehan kata-kata baru. Tetapi
masih terdapat sumber daya kata tersembunyi lainnya,
yaitu telaah makna-makna varian yang beraneka ragam.
Haruslah kita memiliki suatu kebiasaan memperhatikan
makna-makna yang berbeda-beda yang dikandung oleh
suatu kata.
Kita harus paham akan homonim yaitu kata-kata yang
sama bentuk bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Kita harus paham akan homonim yaitu kata-kata yang
sama bentuk bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Misalnya:
Kukur I
“alat pemarut”
Kukur II
“bunyi balam atau burung tekukur”.
Tanjung I “sejenis bunga”
Tanjung II “tanah yang menjorok ke laut”.
Atau dalam bahasa Inggris:
Racket : (1) a loud noise
(2) a dishonest scheme for making money.
(3) a light wide but of network used in
tennis.
f) Idiom
Sebagai tambahan terhadap makna-makna harfiah
(atau literal meanings) kata-kata individual, maka kita
pun kerapkali menemui ekspresi-ekspresi atau
kelompok-kelompok kata yang menuntut perlakuan
khusus. Kelompok kata-kata itu disebut idiom. Dengan
kata lain, idiom adalah kelompok kata-kata yang
mengandung makna khusus.
Misalnya :
Buah ratap
“isi ratapan; kata-kata yang diucapkan
sambil menangis”
Buah baju
“kancing”
Buah dada
“susu; tetek”
Buah tangan “oleh-oleh”
Buah tangan “hasil karya”
Buah pikiran “pendapat”
Buah pena
“karangan”
Buah hati
“kekasih”
Buah pinggang “ginjal”
G) Sinonim dan antonim
Sinonim adalah kata-kata yang mempunyai makna umum yang
sama atau bersamaan (Barrett: 1956: 302), tetapi berbeda
dalam konotasi atau nilai kata (Perrin; 1968: 348).
Misalnya :
Mati
“meninggal dunia”
“menghebuskan nafas yang penghabisan”
“mangkat”
“wafat”
“mampus”
“menutup mata buat selama-lamanya”
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan
maknanya (Albert [et al]; 1961a: 81). Sebagai
pembaca kita harus sadar penulis dapat
mengarahkan perhatian pada suatu ide tertentu
dengan mempergunakan kontras atau pertentangan.
Contoh anonim:
Kaya – miskin
Pintar – tolol
Cantik – jelek.
h) Konotasi dan denotasi
Secara umum terdapat dua jenis konotasi, yaitu konotasi pribadi (atau
personal connotations) dan konotasi umum (atau general conotations). Konotasi
pribadi adalah hasil dari pengalaman pribadi seseorang. Konotasi umum
adalah hasil dari pengalam orang-orang sebagai suatu kelompok sosial.
Semua konotasi umum berakar pada konotasi pribadi.
Denotasi mengacu pada batasan harfiah sesuatu kata, kepada makna yang
disepakati oleh kebanyakan orang, maka konotasi mengacu pada segala
sesuatu yang disarankan oleh sebuah kata; selera emosialnya, nadanya yang
menyenangkan atau tidak, dan sebagainya (Moore: 1960: 213; Perrin, 1968:
373-374).
i) derivasi
Pernahkah terpikir dalam hati kita dari mana asalusul kata-kata dalam bahasa kita? Telaah mengenai
asal usul kata atau derivasi kata, bukan hanya
merupakan sesuatu yang bermanfaat tetapi juga
sangat menarik hati.
2. Mengembangkan kosa kata kritik
Dalam upaya mengembangkan kosa kata kritik ini,
perlu kita ketahui beberapa hal, antaralain :
a)
Bahasa kritik sastra
b)
Memetik makna dari konteks
c)
Petunjuk-petunjuk konteks
B. Membaca Sastra
Keindahan
suatu
karya
sastra
tercermin
dari
keserasian,keharmonisan antarakeindahan bentuk dan keindahan
isi. Dengan kata lain suatu karya sastra dikatakan indah jika
baikbentuknya maupun isinya sama-sama indah, terdapat
keserasian, keharmonisan antara keduanya. Untuk itu diperlukan
norma-norma, antara lain norma-norma estetik, sastra dan moral
.
1. Bahasa ilmiah dan bahasa sastra
Memperbincangkan perbedaan penggunaan bahasa karya
ilmiah dan karya sastra, maka pada dasarnya kita
memperbincangkan masalah konotasi dan denotasi dalam
kegiatan menulis. Biasanya dalam menulis sebuah karya ilmiah
kita menggunakan kata-kata denotatif, sebaliknya dalam menulis
karya sastra biasanya kita menggunakan makna konotatif.
Oleh karena itu, dalam kebanyakan tulisan kitaharuslah
memperhatikan
benar-benar konotasi-konotasi kata dan
memang ada alasan kuat kenapa kita harus berhati-hati dalam
hal itu.
2. Gaya bahasa
Dalam kekonotatifan bahasa sastra, yang melibatkan emosiemosi dan nilai-nilai, maka dalam membaca sesuatu karya sastra
haruslah kita terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan
mengenai gaya bahasa. Dengan pengenalan serta pemahaman
sejumlah gaya bahasa maka kita akan lebih mantap lagi
menikmati keindahan karya sastra tersebut.
Hal-hal yang umum dalam gaya bahasa, antara lain :
 Perbandingan, yang mencangkup metafora, kesamaan, dan
analogi.
 Hubungan, yang mencakup metonimia dan sinekdohe
 Taraf pernyataan, yang mencakup hiperbola, litotes, dan ironi.
1) Perbandingan
a)
Metafora
adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang paling
singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terdapat dua ide :
yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan,
yang menjadi objek dan yang satu lagi merupakan
pembanding terhadap kenyataan tadi dan kita menggantikan
yang belakangan ini menjadi yang terdahulu tadi.
Misalnya :
“Nani adalah gadis ramah, tetapi sukar didekati, sukar
ditebak isi hatinya”.
Diganti dengan :
“Nani jinak-jinak merpati”
b)Kesamaan
Kesamaan berbeda dari metafora dalam hal : kalau metafora
menyatakan secara tidak langsung adanya kesamaan antara
dua hal, maka gaya bahasa kesamaan atau persamaan
menyataan serta menagaskan bahwa yang satu sama dengan
yang lain; biasanya memperguanakan kata-kata seperti atau
sebagai dan sejenisnya.
Contoh :
Para gembala Sardini adalah orang-orang asli. Pendek,
konvensional, pendiam; mereka terlihat bak batu-batu negeri
mereka yang tandus, seperti batu-batu besar yang agak
perasa dikikis masa.
c)Analogi
Analogi, agak berlainan dengan metafora dan kesamaan,
biasanya melihat beberapa titik persamaan, bukan hanya satu
saja. Analogi yang sugestif sering kali menekankan suatu ide.
Contoh :
Saluran-saluran spekulasi politik dan agama sejati dibendung,
sampai Revolusi Besar membebaskan luapan buku-buku dan
pamflet-pamflet yang meliputi negeri itu selama dua puluh
tahun, mengenali serta memperlebar palung-palung baru
saluran pikiran dan pendapat kita mengalir, serta
meninggalkannya kalau tidak ada sedikitpun membawa emas
murni pada pasir-pasir banjir besar yang menggelora itu.
2) Hubungan
Sinekdohe dan metonimia termasuk gaya bahasa
hubungan (relationship); kedua-duanya menggantikan
nama sesuatu dengan yang lainnya yang ada
hubungannya. Sinekdohe memberi nama suatu bagian
apabila yang dimaksud adalah keseluruhan; atau
sebaliknya: pengganti sebagian.
Contoh sinekdohe
Contoh :
 Bejuta-juta mulut harus diberi makan oleh pemerintah.
 Tangan-tangan lunglai menengadah memohon rahmat
dan karunia Tuhan.
 ABRI menerima calon-calon polisi baru.
 Jang perbatasan buat pengganti banyak orang mati
diperbatasan.
 Tabungannya berjuta-juta, emasnya berkilo-kilo
sawahnya berpuluh-puluh hektar baut pengganti dia
orang kaya.
Litotes, kebalikan dari hiperbola, adalah sejenis gaya
bahasa yang mengandung pernyataan yang dikevilkecilkan, dikurang dari kenyataan yang sebenarnya,
misalnya untuk merendahkan diri.
Contoh :
 Mohammad Ali adalah bukan petinju yang jelek.
 Shakespeare bukan pengarang picisan.
 H.B. Jasin bukan kritikus jalanan.
Ironi atau ejekan adalah sejenis gaya bahasa yang
mengimplikasikan (menyatakan secara tidak langsung) sesuatu
yang nyata berbeda, bahkan ada kalanya bertentangan dari
apa yang sebenarnya dikatakan itu. Ironi ringan merupakan
suatu bentuk rumor, tetapi ironi keras biasanya merupakan suatu
bentuk sarkasme atau satire, walaupun pembatasan yang tegas
antara hal-hal itu sangat sukar dibuat dan jarang sekali
memuaskan orang.
Misalnya :
Suatu revolusi senantiasa dibedakan oleh ketidak sopan
santunan, barang kali karena penguasa tidak mau bersusahsusah dalam hal yang baik untuk mengajar orang-orang sikapsikap yang terpuji.
SEKIAN

similar documents