Pengukuran Kemiskinan Multidimensi

Report
Kemiskinan di Indonesia:
Definisi, Pengukuran, dan
Karakteristik
Asep Suryahadi
Lembaga Penelitian SMERU
www.smeru.or.id
Workshop ARG – Kemiskinan dan Pengukurannya
Yogyakarta 27-29 November 2012
2
Outline

Konsep dan Definisi Kemiskinan

Pengukuran Kemiskinan Konsumsi

Pengukuran Kemiskinan Multidimensi

Karakteristik Kemiskinan
3
Latar belakang



Mendefinisikan dan mengukur kemiskinan bukan
merupakan hal yang mudah karena kemiskinan
merupakan suatu isu yang kompleks
Definisi dan pengukuran kemiskinan yang baik
memungkinkan pemerintah dan komunitas untuk
menentukan sasaran yang terukur bagi perencanaan
dan pelaksanaan program-program penanggulangan
kemiskinan
..... juga membantu peneliti dalam perumusan dan
pengujian hipotesis faktor-faktor penyebab
kemiskinan serta mengevaluasi dampak program
4
Alasan mengapa kemiskinan perlu
diukur






Mendapatkan informasi tentang tingkat
kemiskinan
Mengukur indikator dampak program
pengentasan kemiskinan
Menjadi alat penargetan program pengentasan
kemiskinan
Membandingkan kemiskinan antar waktu
Membandingkan kemiskinan antar wilayah atau
antar negara
Sebagai data dalam analisis kemiskinan
5
Kemiskinan: Konsep, pengukuran, dan
strategi penanggulangan
Perencanaan
Konsep
Kemiskinan
• Siapa orang
miskin?
• Dimana mereka
tinggal?
• Mengapa
mereka miskin?
Pengukuran &
Analisis
• Dimensi yang
diukur
• Satuan
pengukuran
• Pendekatan
yang digunakan
Monitoring dan Evaluasi
Strategi
• Pendekatan
• Sasaran
• Bentuk
intervensi
6
Konsep dan Definisi Kemiskinan
7
Beberapa definisi umum kemiskinan

Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
dasar – definisi ekonomi  diukur dengan
kemiskinan pendapatan atau pengeluaran

Kegagalan beberapa kapabilitas: ketiadaan kesempatan
dan pilihan untuk dapat hidup secara bermartabat –
pendekatan “kapabilitas” dan “keberfungsian”
dari Amartya Sen  diukur dengan indeks
kemiskinan multidimensi

Ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan
bermasyarakat  pendekatan eksklusi sosial

Penilaian subyektif atau partisipatoris terhadap tingkat
kesejahteraan diri sendiri
8
Contoh definisi formal kemiskinan

Bank Dunia (World Development Report
2000/2001: Attacking Poverty):
Kemiskinan adalah suatu keadaan dimana standar
kehidupan yang layak tidak tercapai
Indikator: ketidakcukupan makanan, ketidakcukupan
perumahan dan pakaian, ketidakmampuan untuk
mengakses perawatan kesehatan ketika sakit, dan akses
yang rendah terhadap pendidikan

PBB (The World Social Situation Report 1997):
Kemiskinan adalah suatu kondisi yang berkaitan dengan
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
Indikator: kurang gizi, buta huruf, kesehatan yang buruk,
pakaian dan perumahan yang tidak layak,
ketidakberdayaan
9
Kemiskinan ekonomi

Didasarkan pada ide tentang garis
kemiskinan – garis yang dikonstruksikan
untuk memisahkan antara orang kaya
dengan orang miskin

Kemiskinan absolut – berkaitan dengan
tingkat kesejahteraan dasar

Kemiskinan relatif – berkaitan dengan
posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan
10
Kemiskinan multidimensi

Kerangka teoritis (Amartya Sen):



Keberfungsian: Suatu pencapaian (‘menjadi’ atau
‘mengerjakan’ – misalnya status kesehatan yang
baik)  kehidupan nyata
Kapabilitas: Kebebasan untuk memilih
keberfungsian  Kapabilitas seseorang adalah
himpunan kesempatan dari sejumlah
keberfungsian, bukan keberfungsian yang dicapai
Dalam konsep ini, kesejahteraan = kapabilitas 
Setiap orang memerlukan suatu tingkat
kesejahteraan minimum berdasarkan satu
himpunan keberfungsian
11
Definisi menentukan ukuran dan data
kemiskinan
Kemiskinan
Konsumsi
Tingkat konsumsi
di bawah garis
kemiskinan
Data
konsumsi
rumah tangga
Definisi Kemiskinan
Kemiskinan
Multidimensi
Ukuran Kemiskinan
•Dimensi apa saja?
•Mengukur?
•Menggabungkan?
Data Kemiskinan
Data untuk setiap
dimensi &
pengukurannya
12
Pengukuran Kemiskinan Konsumsi
13
Pengukuran kemiskinan di Indonesia
Dilaksanakan oleh
BPS
• Publikasi pertama tahun 1984 untuk periode 1976-1981
• Dengan pendekatan kebutuhan dasar
• Menggunakan Data Susenas Modul Konsumsi
Kebutuhan pengukuran
kemiskinan:
• Definisi kemiskinan yang
aplikatif
• Indikator kuantitatif
• Pengukuran objektif
• Pengukuran per kapita
didasarkan data survei rumah
tangga
• Data tersedia
… menuju indikator
kemiskinan, seperti:
• Berapa jumlah dan persentase
penduduk miskin di suatu
wilayah?
• Bagaimana perkembangannya
dari waktu ke waktu?
• Bagaimana tingkat kedalaman
dan keparahannya?
14
Data apa yang diperlukan?

Untuk mengukur kemiskinan konsumsi
dibutuhkan data rinci konsumsi keluarga
yang mencakup:
 Kuantitas
 Nilai (atau harga) pasar
 Kandungan kalori (khusus untuk
komoditi makanan)
dari setiap jenis komoditi yang dikonsumsi
15
Tahapan pengukuran kemiskinan
NO
1
2
TAHAPAN
Penentuan
Penduduk
referensi
Garis Kemiskinan
Makanan (GKM)
3
Garis Kemiskinan
Non Makanan
(GKNM)
4
Garis Kemiskinan/
GK
5
Indikator
Kemiskinan
TEHNIK PENGHITUNGAN
20% diatas Garis Kemiskinan Sementara/GKS
(GKS=Garis Kemiskinan/GKt-1 diinflate)
Basket komoditi (52, harga implisit)  2100 kalori
( per kapita / bulan )
Basket komoditi (51/47, proporsi SPKKD)
( per kapita / bulan )
GKM+GKNM
( per kapita / bulan )
Jumlah penduduk miskin, FGT (P0,P1,P2)
16
Penentuan penduduk rujukan dalam
metoda BPS
GARIS KEMISKINAN
PERIODE SEBELUMNYA
INFLASI UMUM (IHK)
GARIS KEMISKINAN
SEMENTARA (GKS)
PERSENTIL PENGELUARAN
NOMINAL PER KAPITA
P– 1
.
P - 20
P - 30
.
.
P - 100
POPULASI
REFERENSI:
20% diatas GKS
Perhitungan dilakukan terpisah antara daerah kota dan desa
17
Pentingnya peranan penduduk rujukan
18
Garis kemiskinan
Garis Kemiskinan: GK = GKM + GKNM
1. GKM (Garis Kemiskinan Makanan)
• Setara dengan pemenuhan kebutuhan kalori 2100 kkal per kapita
perhari
• Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis
komoditi
2. GKNM (Garis Kemiskinan Non Makanan)
• Kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan
kesehatan (51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di
perdesaan)
Garis Kemiskinan 2011 (berbeda untuk setiap
propinsi)
• Nasional: Rp.233.740 per kapita per bulan
• DKI Jakarta: Rp.355.480 per kapita per bulan
• NTT: Rp.198.553 per kapita per bulan
19
Contoh keranjang kemiskinan makanan
BERAS
DAGING BABI
NANGKA MUDA
GULA PASIR
BERAS KETAN
DAGING AYAM RAS
BAWANG MERAH
GULA MERAH
JAGUNG PIPILAN
DAGING AYAM KAMPUNG
CABE MERAH
TEH
TEPUNG TERIGU
TETELAN
CABE RAWIT
KOPI
KETELA POHON
TELUR AYAM RAS
KACANG TANAH
GARAM
KETELA RAMBAT
TELUR ITIK/MANILA
TAHU
KEMIRI
GAPLEK
SUSU KENTAL MANIS
TEMPE
TERASI/PETIS
TONGKOL/TUNA
SUSU BUBUK
MANGGA
KERUPUK
KEMBUNG
BAYAM
SALAK
MIE INSTANT
TERI
BUNCIS
PISANG AMBON
ROTI MANIS
BANDENG
KACANG PANJANG
PEPAYA
KUE KERING
MUJAIR
TOMAT SAYUR
MINYAK KELAPA
KUE BASAH
DAGING SAPI
DAUN KETELA POHON
KELAPA
ROKOK KRETEK
FILTER
20
Contoh keranjang kemiskinan non-makanan
PERUMAHAN
BENSIN
HANDUK/IKAT PINGGANG
LISTRIK
POS DAN BENDA POS
PERABOT RUMAH TANGGA
AIR
PENGANGKUTAN
PERKAKAS RUMAHTANGGA
MINYAK TANAH
FOTO
ALAT DAPUR/MAKAN
KAYU BAKAR
PAKAIAN JADI LAKI2
ARLOJI/JAM DINDING
OBAT NYAMUK, BATERAI
PAKAIAN JADI PEREMPUAN
TAS
BARANG KECANTIKAN
KEPERLUAN MENJAHIT
MAINAN ANAK
PERAWATAN KULIT/MUKA
ALAS KAKI
PBB
KESEHATAN
TUTUP KEPALA
PUNGUTAN LAIN
PEMELIHARAAN
KESEHATAN
SABUN CUCI
PERAYAAN HARI AGAMA
PENDIDIKAN
BAHAN PEMELIHARAAN
PAKAIAN
UPACARA AGAMA
21
Quiz: Perhitungan garis kemiskinan
makanan

Dari hasil perhitungan terhadap penduduk
rujukan dalam sampel Susenas diperoleh
data sebagai berikut:



Nilai konsumsi keranjang kemiskinan makanan
adalah Rp 35.000 per kapita per minggu
Kandungan energi makanan yang dikonsumsi
tersebut adalah 1.400 kalori per hari
Berapa nilai garis kemiskinan makanan?
22
Indikator kemiskinan konsumsi
Formula
Foster – Greer – Thorbecke
(FGT)
=1
P1: Poverty Gap
Index
(Kedalaman
Kemiskinan)
=0
P0: Headcount
Index (Tingkat
Kemiskinan)
=2
P2: Poverty
Severity Index
(Keparahan
Kemiskinan)
23
P0: Tingkat kemiskinan
P
Population ranked by income
24
P1: Kedalaman kemiskinan
Quiz: P1 = ?
D
A
C
B
P
Population ranked by income
25
Perkembangan tingkat kemiskinan
Trend Kemiskinan di Indonesia 1996 - 2011
55
26
24.23
24
23.43
50
22
45
Jumlah
18.41 18.2
40
17.75
17.42
16.66
17.47
18
16.58
15.97
16
15.42
35
14.15
14
13.33
30
12.49
34.01
49.5
47.97
38.7
37.9
38.4
37.3
36.1
35.1
39.3
37.17
34.96
32.53
31.02
12
30.02
25
10
1996
1998
1999
2000
2001
2002
2003
Jumlah
2004
2005
2006
Persentase
2007
2008
2009
2010
2011
Persentase
20
19.14
26
Kritikan terhadap metoda pengukuran
kemiskinan BPS

Populasi rujukan

Basket komoditi

2100 Kkal

Rokok dan tembakau

Adult Equivalent vs Per Kapita

Makanan jadi
27
Garis kemiskinan global $1 PPP – Sejarah


Dihitung oleh Bank Dunia.
Prosedur penghitungan:





Menggunakan data survei dari 31 negara untuk
mendapatkan garis kemiskinan dunia
Garis kemiskinan diekstrapolasikan ke 97 negara di
dunia menggunakan tabel Purchasing Power Parity
1993
Garis kemiskinan PPP 1993 ini disesuaikan dengan
data inflasi tiap negara untuk mendapatkan garis
kemiskinan 1981-2001
Tingkat kemiskinan tiap negara dihitung secara
individu menggunakan survei konsumsi yang
tersedia
Data PPP telah diperbarui ke tahun 2005
28
Garis kemiskinan global $1 PPP – Pengertian



Arti dari $1 PPP adalah “barang yang dapat dibeli
dengan $1 di Amerika Serikat pada tahun 2005”.
$1 PPP tidak dapat langsung dikalikan dengan
kurs yang berlaku  garis kemiskinan Indonesia
bukanlah Rp. 9000 per hari.
$1 PPP mengacu pada 2400 kal per hari  $2
mengacu pada 4800 kal.




Rata-rata konsumsi penduduk Indonesia adalah 1500
kal.
Atlet binaraga mengkonsumsi 3000 kal per hari.
$1 PPP tidak memiliki validitas eksternal.
Karena itu, acuan ini perlu dibaca secara hati-hati
dan tidak dapat menjadi satu-satunya acuan
pengukuran kemiskinan
29
Pengukuran Kemiskinan Multidimensi
30
Kemiskinan bersifat multidimensi

Overall poverty takes various forms, including "lack of
income and productive resources to ensure sustainable
livelihoods; hunger and malnutrition; ill health; limited or
lack of access to education and other basic services;
increased morbidity and mortality from illness;
homelessness and inadequate housing; unsafe
environments and social discrimination and exclusion. It is
also characterised by lack of participation in decisionmaking and in civil, social and cultural life. (World Summit
on Social Development in Copenhagen in 1995)

Dimensi-dimensi kemiskinan:
 Ekonomi: Pendapatan, pengeluaran, pekerjaan
 Pelayanan dasar: Pendidikan, kesehatan, gizi
 Infrastruktur: Perumahan, sanitasi, lingkungan
 Sosial: Partisipasi politik, sosial, budaya
 Dimensi-dimensi lainnya
31
Pengukuran kemiskinan multidimensi –
Pemilihan dimensi, indikator, dan bobot


Pertanyaan:

Dimensi apa saja yang dipilih?

Indikatornya apa untuk setiap dimensi?

Bagaimana bobot antar dimensi dan antar indikator?
Alternatif jawaban:

Data yang tersedia

Konvensi

Teori: Hal-hal yang dinilai penting oleh individu

Konsensus publik: MDG

Proses partisipatori

Bukti empirik (revealed preference)
32
Pengukuran kemiskinan multidimensi –
Contoh: 2 dimensi, 2 indikator, tanpa bobot
DIMENSI:
- Y: Kesehatan
πy: Berobat ke dokter
- X: Education
πx: Tamat sekolah dasar
KRITERIA MISKIN:
- Miskin dalam kedua dimensi:
-2
- Miskin dalam salah satu
dimensi: -1 & -2
33
Pengukuran kemiskinan multidimensi –
Metoda
Kemiskinan
Multidimensi
Kriteria Ambang
(Cut-off)
Klasifikasi
Keluarga menurut
BKKBN
Indeks Tanpa
Penimbang
HDI/IPM
Indeks Dengan
Penimbang
Eksternal/Apriori:
MPI UNDP
Statistik:
PPLS 2011
Internal (PPA):
Studi-studi
Kualitatif
34
Pengukuran kemiskinan multidimensi:
Kriteria ambang – Metoda BKKBN


BKKBN menggunakan 23 indikator untuk mengidentifikasi
kesejahteraan keluarga.
Lima indikator dasar:







Semua anggota keluarga menjalankan kewajiban agamanya
Semua anggota keluarga mampu untuk makan setidaknya dua
kali sehari
Semua anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di
rumah, bekerja, bersekolah, dan bepergian.
Sebagian besar lantai rumah bukan tanah
Keluarga mampu mendapatkan pengobatan modern bila sakit
Jika suatu keluarga gagal memenuhi salah satu dari lima
kriteria di atas  Keluarga Pra-Sejahtera/KPS.
Masing-masing kriteria diasumsikan memiliki bobot/penimbang
yang sama
35
Pengukuran kemiskinan multidimensi:
Indeks tanpa penimbang

Keluarga dapat dibandingkan satu sama lain
dengan ‘nilai’ kesejahteraan.

Keluarga dengan ‘nilai’ lebih kecil dianggap lebih
miskin (kemiskinan relatif).

Kelemahan:


Setiap karakteristik dianggap sama penting

Lebih rumit daripada KA
Keunggulan:


Dapat membuat peringkat individu di dalam suatu
wilayah
Contoh: Indeks Pembangunan Manusia UNDP
36
Indeks Pembangunan Manusia






Dimulai pada 1990
Menganut konsep bahwa manusia adalah tujuan
akhir pembangunan, bukan alat pembangunan
Memiliki berbagai jenis indeks: IPM, IPJ, IKM
Seluruh indeks dihitung menggunakan 3 indikator
dasar: pengetahuan, lama hidup, dan standar
hidup.
Di Indonesia, IPM mulai dihitung pada 2001
untuk 1990 dan 1993.
Mulai 1996, UNDP Indonesia menghitung IPM
antarkabupaten
37
Indeks Pembangunan Manusia – Indikator
Lama Hidup
Angka harapan
hidup saat lahir
Pendidikan
Angka melek huruf
usia dewasa; dan
Angka partisipasi
sekolah gabungan
Standar Hidup
Pendapatan per kapita dalam
$PPP
Indeks Pembangunan
Jender (IPJ)
Angka harapan
hidup saat lahir
untuk perempuan
dan laki-laki
Angka melek huruf
usia dewasa untuk
perempuan dan
laki-laki; dan Angka
partisipasi sekolah
gabungan untuk
perempuan dan
laki-laki
Kontribusi perempuan dan lakilaki dalam penghasilan keluarga
Indeks Kemiskinan
Manusia (IKM)
Persentase orang
yang diperkirakan
tidak mencapai
usia 40 tahun
Angka buta huruf
Persentase penduduk tanpa
akses terhadap air bersih;
Persentase penduduk tanpa
akses terhadap fasilitas
kesehatan; dan Persentase balita
kurang gizi
Indeks Pembangunan
Manusia (IPM)
38
Pengukuran kemiskinan multidimensi:
Indeks dengan penimbang


Setiap karakteristik
dianggap memiliki
bobot yang berbeda
Penentuan penimbang
dapat menggunakan:

Ditentukan dari luar,
secara apriori (bukan
dari data)


IPM juga menggunakan
ini dalam sebagian
perhitungan
Ditentukan dari dalam

Bukan merupakan
metode kuantitatif
Contoh: PPA
Contoh penimbang eksternal
 Pendidikan Kepala
Keluarga:
tidak pernah bersekolah (0)
tidak tamat SD (1)
tamat SD (2)
lebih dari SD (3)
Jenis Atap Rumah:
dedaunan (0)
kayu (1)
asbes (5)
genteng (7)

39
Pengukuran kemiskinan multidimensi:
Indeks dengan penimbang – Metoda statistik




Menggunakan metode PCA
(Principal Component
Analysis) atau regresi
ekonometrik.
PCA hanya mengukur
kemiskinan relatif, regresi
dapat mengukur kemiskinan
absolut.
Keuntungan dari metode
PCA: tidak membutuhkan
data konsumsi keluarga.
Jika memiliki data konsumsi
keluarga terperinci,
gunakan ekonometrik
Penimbang Karakteristik Keluarga Menggunakan Regresi
Ekonometrik dan PCA
Kepemilikan barang
Memiliki radio
Memiliki televisi
Memiliki kulkas
Memiliki perhiasan
Memiliki parabola
Memiliki motor
Memiliki mobil
Keadaan rumah
Atap Rumah dari genteng
Tembok terbuat dari beton
Sumber air dari pompa terlindung
Toilet adalah leher angsa
Rumah tangga ini memiliki toilet
pribadi
catatan: ** signifikan pada 5%
Regresi
PCA
0.076**
[0.014]
0.089**
[0.015]
0.363**
[0.022]
0.099**
[0.014]
0.158**
[0.041]
0.221**
[0.021]
1.342**
[0.058]
0.41
0.102**
[0.023]
0.157**
[0.014]
0.078**
[0.015]
0.093**
[0.014]
0.12
0.094**
[0.015]
0.38
0.62
0.98
0.41
0.88
0.65
0.84
0.43
0.34
0.61
40
Indeks Kemiskinan Multidimensi:
MPI OPHI-UNDP – Dimensi & indikator
Dimensi
1. Standar
Hidup
Indikator
TV, radio, telepon,
kulkas, sepeda motor
Batasan Kemiskinan
Miskin: dapat memiliki maksimal salah satu tapi
tidak lebih
Bobot
1/6
Tidak miskin jika memiliki mobil atau truk
Mobil, truk
Lantai rumah
Miskin: lantai tanah
1/6
Listrik
Miskin: tidak ada sambungan listrik
1/6
Energi untuk memasak
Miskin: kayu, kotoran binatang, arang
1/6
Toilet
Miskin: tidak memiliki toilet pribadi
1/6
Air minum
Miskin: tidak memiliki sumber air minum
1/6
Miskin: tidak ada ART yang menyelesaikan
sekolah dasar
1/2
Status bersekolah
Miskin: ada ART usia sekolah s/d 14 tahun yang
tidak bersekolah
1/2
Kematian anak balita
Miskin: ada ART perempuan yang memiliki anak
balita yang telah meninggal
1/2
Nutrisi
Miskin: ada ART anak atau dewasa yang kurang
gizi
1/2
2. Pendidikan Tingkat pendidikan
3. Kesehatan
41
Indeks Kemiskinan Multidimensi:
MPI OPHI-UNDP – Metoda

Sebuah rumah tangga disebut miskin jika:



miskin dalam salah satu dimensi
total bobot indikator kemiskinan mencapai
minimal satu
MPI dihitung dengan metoda Alkire Foster:
Formula: MPI = M0 = H × A


H: proporsi penduduk yang teridentifikasi
miskin multidimensi
A: rata-rata nilai kemiskinan multidimensi
seluruh penduduk
42
Indeks Kemiskinan Multidimensi:
MPI OPHI-UNDP – Peta kemiskinan global
Quiz:
Berapakah nilai
MPI Indonesia?
43
Indeks Kemiskinan Multidimensi:
MPI OPHI-UNDP – Indonesia 2007
18.0
16.0
14.0
12.0
10.0
8.0
6.0
4.0
2.0
0.0
44
Karakteristik Kemiskinan
45
% Populasi
Sejumlah besar penduduk hidup di
sekitar garis kemiskinan
33,94% Di
bawah
1,4 x GK
23,78% Di
bawah
1,2 x GK
12,49% Di
bawah Garis
Kemiskinan
(GK)
Konsumsi bulanan per kapita (Rp.)
46
Tingkat kerentanan terhadap kemiskinan
tinggi
2009
Miskin
Miskin
46.71
50.98
2008
Hampir
Miskin
22.32
Tidak
Miskin
5.37
Total Kolom
20.19
Hampir
Miskin
20.28
26.77
21.53
23.58
7.65
Tidak
Miskin
33.01
Total Baris
100.00
6.51
56.15
100.00
9.18
86.98
28.83
49.65
84.31
100.00
100.00
100.00
100.00
Quiz: Dari seluruh penduduk miskin pada 2009, berapa
persen diantaranya yang tidak tergolong miskin pada 2008?
Disparitas tingkat kemiskinan antar
wilayah sangat tinggi
47
Papua
Maluku
Nusa Tenggara Barat
Gorontalo
Lampung
Sulawesi Tengah
• Jakarta 3,75%
• Papua 31,98%
• Indonesia 12,49%
Sulawesi Tenggara
Jawa Timur
Sumatera Utara
Sulawesi Selatan
Sumatera Barat
Kalimantan Barat
Riau
Kalimantan Timur
Banten
Kalimantan selatan
DKI Jakarta
0
5
10
15
%
20
25
30
35
48
Sebagian besar penduduk miskin tinggal di
pedesaan dan bekerja di sektor pertanian
Persentase Penduduk Miskin Menurut
Daerah 2004-2011
Persentase RT Miskin di PEDESAAN
Menurut Sumber Penghasilan Utama, 2010
25
Kota
Desa
15%
20
6%
%
15
7%
10
72%
5
Pertanian
0
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Tidak Bekerja
Industri
Lainnya
SEBAGIAN BESAR RT MISKIN DI
PEDESAAN BEKERJA DI PERTANIAN
49
Sebagian sangat besar penduduk miskin
berpendidikan rendah
Tingkat Kemiskinan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Kepala Rumah Tangga, 2010 (%)
Tingkat
Kontribusi thd
Kemiskinan
Penduduk Miskin
Tidak berijasah
22.01
38.52
SD
16.86
40.24
SLTP
11.02
12.28
SLTA
5.16
8.63
Perguruan tinggi
0.59
0.34
13.33
100.00
Total
50
Terima Kasih

similar documents