Tujuan - bbws serayu opak

Report
Disajikan pada Acara
Oleh :
Narjan, SE, MSi
Kasie Program BPDAS Serayu Opak Progo
(DAERAH ALIRAN SUNGAI)
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang
merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak
sungainya
yang berfungsi menampung, menyimpan, dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut
secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis
dan batas di laut sampai dengan daerah pengairan yang masih
terpengaruh aktivitas daratan. (UU No 7/2004 Ps 1)
K
O
N
S
E
P
D
A
S
DAS Progo
DAS Progo 11 Kab/Kota
PROV. /KAB
Total
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
BANTUL
14.842,25
SLEMAN
25.021,91
KULON PROGO
30.141,95
KOTA YOGYAKARTA
227,60
70.233,71
JAWA TENGAH
BOYOLALI
3.263,35
KOTA MAGELANG
1.846,40
MAGELANG
PURWOREJO
SEMARANG
TEMANGGUNG
WONOSOBO
109.686,48
747,49
2.772,92
56.922,47
584,65
175.823,74
JUMLAH
246.057,45
PETA ADMINISTRASI
DAS PROGO
Yogyakarta Oktober 2013
DAS OPAK = SUB DAS = 6 KAB/KOTA
KAB/KOTA
SUB DAS
KAB. BANTUL
Sub DAS Opak
14.641,71
Sub DAS Oyo
11.272,22
Sub DAS Winongo
KAB. BANTUL Total
KAB. GUNUNG KIDUL
Sub DAS Opak
KAB. GUNUNG KIDUL Total
Sub DAS Opak
Sub DAS Opak
KAB. SLEMAN Total
YOGYAKARTA Total
JUMLAH
3.980,62
27.727,81
3.744,27
31.472,08
Sub DAS Oyo
KAB. WONOGIRI Total
YOGYAKARTA
58.892,15
3.980,62
Sub DAS Winongo
KAB. WONOGIRI
746,96
59.639,11
KAB. KLATEN Total
KAB. SLEMAN
9.625,64
35.539,57
Sub DAS Oyo
KAB. KLATEN
LUAS (Ha)
6.520,26
6.520,26
Sub DAS Opak
2.227,64
Sub DAS Winongo
1.020,85
3.248,49
140.400,13
Wilayah DAS Serang
DAS SERANG = 6 SUB DAS = 2 KAB
No. SUB_DAS
I.
Sub DAS Nagung
KABUPATEN
KECAMATAN
KULON PROGO
KOKAP
1.829,74
KULON PROGO
PENGASIH
1.888,02
KULON PROGO
TEMON
KULON PROGO
WATES
Sub DAS Nagung Total
II.
Sub DAS Ngrancah
Sub DAS Serang Hilir
Sub DAS Serang Sekiyep
BAGELEN
KULON PROGO
GIRIMULYO
KULON PROGO
KALIGESING
KULON PROGO
KOKAP
KULON PROGO
GALUR
Sub DAS Sidatan
KULON PROGO
NANGGULAN
KULON PROGO
PANJATAN
3.062,78
KULON PROGO
PENGASIH
715,33
KULON PROGO
SENTOLO
67,15
KULON PROGO
TEMON
3,28
KULON PROGO
WATES
2.457,53
KULON PROGO
GIRIMULYO
KULON PROGO
KOKAP
KULON PROGO
NANGGULAN
KULON PROGO
PENGASIH
KULON PROGO
KOKAP
978,77
KULON PROGO
TEMON
2.154,04
KULON PROGO
WATES
Sub DAS Sumitro
41,01
2.067,02
40,02
31,13
6.377,23
69,42
435,97
8,00
1.034,51
1.547,90
Sub DAS Sidatan Total
VI.
2,87
23,61
2.134,50
Sub DAS Serang Sekiyep Total
V.
647,15
KULON PROGO
Sub DAS Serang Hilir Total
IV.
464,66
4.829,57
Sub DAS Ngrancah Total
III.
Jumlah
9,86
3.142,66
KULON PROGO
GIRIMULYO
2.932,60
KULON PROGO
NANGGULAN
1.034,97
KULON PROGO
PENGASIH
1.536,41
PURWOREJO
KALIGESING
Sub DAS Sumitro Total
Jumlah
Sumber : Analisa data GIS
402,81
5.906,79
23.938,65
1. INDIKATOR
 Tertutupnya lahan-lahan terbuka/kosong di DAS
 Pemanfaatan/penggunaan sesuai dengan fungsinya
 Berkurangnya lahan kritis pada DAS
2. PARAMETER
a. Indek Penutupan Lahan (IPL)
Luas lahan bervegetasi/Luas DASX 100 %
. IPL > 75 %
= BAIK
. IPL 30 % - 75 % = SEDANG
. IPL<30 %
= KURANG
Nilai Indek Penutupan Lahan (IPL) DAS Progo Opak Serang
Luas DAS
NO.
SWP DAS/DAS
Ha
1
1.
2.
3.
2
OPAK PROGO
Serang
Progo
Opak
3
29.842,34
237.058,11
132.072,30
Luas Lahan
Bervegatasi
(Ha)
4
13.677,12
74.647,25
24.442,95
Indek Penutupan
Lahan (IPL)
5
45,83
31,49
18,51
b. Kesesuaian Penutupan Lahan (KPL)
Pada Kawasan budidaya pad umumnya penggunaan lahan
sesuai dengan fungsinya, tetapi pada kawasan lindung masih
belum mencapai 90 % sesuai dengan fungsinya
No.
SWP DAS/
DAS
1
1.
2.
3.
2
Serang
Progo
Opak
Luas
Ha
3
29.842,34
237.058,11
132.072,30
Sesuai Fungsi
Kawasan
4
26.048,642
202.021,036
107.111,856
Tidak
Sesuai
%
Fungsi
tase
Kawasan
5
6
3.793,69 87,29
35.037,08 85,22
24.960,45 81,10
DAS/KABUPATEN
AK
K
Hutan Lindung
PK
SK
PROGO
I. JAWA TENGAH
1. KAB. MAGELANG 2,925.42 348.41 2,430.80
2. KOTA MAGELANG
3. KAB. TEMAGGUNG
- 3,148.31
4. KAB. WONOSOBO
193.29
5. PURWOREJO
JUMLAH JATENG
2,925.42 348.41 5,772.40
II. DIY
1. KAB. BANTUL
2. KAB. SLEMAN
174.87
3. KULON PROGO
4. YOGYAKARTA
JUMLAH DIY
174.87
JUMLAH PROGO
3,100.29 348.41 5,772.40
-
Luas Klasifikasi Kekritisan Lahan Dalam Kawasah Hutan ( Ha )
Hutan Produksi
Jumlah AK
K
PK
TK Jumlah AK
TK
496.35 6,200.98 1,592.67
- 3,148.31 38.47
193.29
43.87
496.35 9,542.58 1,675.00
-
122.37
159.11
281.48
-
Hutan Produksi Terbatas
K
PK
TK
1,715.04 1,166.15 262.66 32.20
197.58 703.43
262.29
161.46
43.87
1,956.49 2,031.05 262.66 294.50
1,461.02 9,377.03
965.73 4,311.62
161.46 354.76
43.87
2,588.21 14,087.27
191.17
191.17
2,588.21 14,278.44
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
16.30
-
191.17
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
281.48
-
1,956.49 2,031.05 262.66 294.50
TOTAL
-
-
16.30
191.17
16.30 496.35 9,733.74 1,675.00
Jumlah
-
-
DAS/KABUPATEN
AK
K
Luas Klasifikasi Kekritisan Lahan Dalam Kawasah Hutan ( Ha )
Kawasan Budidaya
Kawasan Lindung
PK
TK
Jumlah
AK
K
PK
TK
PROGO
I. JAWA TENGAH
1. KAB. MAGELANG 10,436.64 1,667.10 39,701.13
2. KOTA MAGELANG
64.24
1,738.31
3. KAB. TEMAGGUNG 8,416.84 560.14 16,113.12
4. KAB. WONOSOBO
24.86
5. PURWOREJO
16.43
JUMLAH JATENG
18,917.73 2,227.24 57,593.84
II. DIY
1. KAB. BANTUL
2,020.36
491.82
2. KAB. SLEMAN
135.47
20.33
51.70
3. KULON PROGO
3,791.94 1,681.92 1,186.00
4. YOGYAKARTA
JUMLAH DIY
5,947.77 1,702.25 1,729.53
JUMLAH PROGO
24,865.50 3,929.49 59,323.37
Jumlah
Jumlah
26,961.87 78,766.75 11,808.38 1,316.68 9,393.56 437.33 22,955.96 101,722.70
92.57 1,895.12
18.83
58.96
16.80
94.59 1,989.71
20,277.38 45,367.48 2,342.40 368.42 5,136.26 894.37 8,741.45 54,108.92
24.86
24.86
16.43
19.13
657.03
676.16
692.59
47,331.82 126,070.64 14,188.74 1,685.10 15,245.81 1,348.51 32,468.16 158,538.79
11,286.79
13,798.97
120.00
-
21.40 1,551.11
1,692.51
22,245.87
22,453.37
352.77
-
303.66 1,543.52
2,199.95
15,771.36
22,431.23
1,685.25
186.31
3,335.18 2,398.22
7,604.96
201.43
201.43
49,505.45 58,885.00 2,158.02 186.31 3,660.23 5,492.85 11,497.42
96,837.27 184,955.63 16,346.77 1,871.41 18,906.04 6,841.36 43,965.58
15,491.48
24,653.31
30,036.19
201.43
70,382.42
228,921.21
Luas Klasifikasi Kekritisan Lahan Tiap Kawasan ( Ha )
No.
Kab./DAS
Hutan Lindung
AK
K
PK
SK
Hutan Produksi
TK
I OPAK
1 KAB. BANTUL
- 989.65 2 KAB. SLEMAN
241.53 72.84 166.45 854.13 3 YOGYAKARTA
4 KAB. GUNUNG KIDUL - - 1,865.71
JUMLAH OPAK
241.53 72.84 1,156.10 854.13 1,865.71
Jumlah AK
K
PK
TK
TOTAL
Jumlah
989.65
-
-
-
-
-
1,334.95
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
1,865.71 1,868.82 21.73 7,216.82 520.16 9,627.53
4,190.31 1,868.82 21.73 7,216.82 520.16 9,627.53
989.65
1,334.95
11,493.24
13,817.84
Luas Klasifikasi Kekritisan Lahan Tiap Kawasan ( Ha )
No.
Kab./DAS
Kawasan Budidaya
AK
K
I OPAK
1 KAB. BANTUL
3,586.05 2,715.72
2 KAB. SLEMAN
175.45 3 YOGYAKARTA
4 KAB. GUNUNG KIDUL 1,533.23 1,753.35
JUMLAH OPAK 5,294.72 4,469.08
PK
TK
Jumlah
2,052.64 21,582.29 29,936.69
18.49 23,514.50 23,708.44
-
Jumlah Total
Kawasan Lindung
3,248.49 3,248.49
AK
K
PK
SK
648.99 144.40 819.66
TK
-
Jumlah
3,000.18
4,613.24 34,549.93
694.68 614.62 1,468.23 24.19 3,626.98
6,428.70 30,137.14
-
-
-
3,279.23 24,130.45 30,696.27 9,572.31 1,234.85 4,708.15
-
-
-
3,248.49
1,934.28 17,449.60 48,145.87
5,350.36 72,475.73 87,589.88 10,915.98 1,993.88 6,996.04 24.19 8,561.44 28,491.54 116,081.42
Luas Klasifikasi Kekritisan Lahan Tiap Kawasan ( Ha )
No.
Kab./DAS
Hutan Lindung
AK
I SERANG
1KULON PROGO
2PURWOREJO
JUMLAH SERANG
K
PK
SK
-
-
-
-
-
-
Hutan Produksi
TK
Jumlah AK
K
PK
TK
Jumlah
TOTAL
- 448.76 448.76 306.52 - 124.84 - 431.36 880.11
- - - - - - - 448.76 448.76 306.52 - 124.84 - 431.36 880.11
Luas Klasifikasi Kekritisan Lahan Tiap Kawasan ( Ha )
No.
Kab./DAS
Kawasan Budidaya
AK
K
PK
Jumlah Total
Kawasan Lindung
TK Jumlah AK
K
PK
SK
TK
Jumlah
I SERANG
1KULON PROGO 2,406.17 785.68 630.76 8,760.16 12,582.77 1,821.49 80.37 2,029.49 - 5,621.12 9,552.47 22,135.25
2PURWOREJO
- - - - - 231.15 - 689.45 - - 920.60 920.60
JUMLAH SERANG 2,406.17 785.68 630.76 8,760.16 12,582.77 2,052.65 80.37 2,718.94 - 5,621.12 10,473.08 23,055.85
NO.
SWP
DAS/DAS
1
2
1. Progo
2. Opak
3. Serang
LUAS DAS
HA
3
246.057,45
140.400,13
23.938,65
Erosi yang terjadi
Ton/Ha/Th mm/Th
4
5
91,396 7,616
58,088 4,841
49,680 4,140
Erosi yang
diperkenankan
6
4,434
3,491
2,856
NO
1
1.
Arahan
Rekomendasi
2
RL-HHL 10
Progo Opak
Serang
3
1.497,71
2.
RL-HHL 8
14,40
Pembuatan reboisasi jumlah tanaman 1100
btg/ha, dengan pembuatan/ perbaikan teras,
saluran dan rorak
3.
RL-HHL 9
1.861,67
Pengkayaan reboisasi jumlah tanaman 550
btg/ha
4.
RL-THL 10
33,83
Pengkayaan Reboisasi jumlah tanaman 550
btg/ha, dengan pembuatan /perbaikan teras,
saluran dan rorak
JUMLAH
3.407,62
Keterangan
4
Pengkayaan Reboisasi jumlah tanaman 550
btg/ha, dengan pembuatan /perbaikan teras,
saluran dan rorak
1
1.
Arahan
Rekomendas
i
2
RP-HHP 10
Progo,
Opak
Serang
3
2.705,44
2.
RP-HHP 9
3.523,91
3.
RP-HHP 8
-
4.
RP-LHP 10
-
5.
RP-LHP 8
-
6.
RP-THP 10
7.
RP-THP 9
No.
JUMLAH
1.331,26
116,28
7.676,88
Keterangan
4
Pengkayaan Reboisasi, jumlah tanaman 550
btg/ha dengan embuatan/perbaikan teras,
saluran dan rorak
Pengkayaan reboisasi
Pembuatan reboisasi jumlah tanaman 1100
btg/ha dengan pembuatan/perbaikan teras,
saluran dan rorak.
Pengkayaan Reboisasi, jumlah tanaman 550
btg/ha dengan pembuatan/perbaikan teras,
saluran dan rorak
Pembuatan reboisasi, jumlah tanaman 1100
btg/ha dengan pembuatan/perbaikan teras,
saluran dan rorak
Pengkayaan reboisasi, jumlah tanaman 550
btg/ha
Pengkayaan reboisasi, jumlah tanaman 550
btg/ha
No
Arahan
Rekomendasi
Progo,
Opak
Serang
3
1
2
1.
2.
PL-HKL 1
PL-HKL 2
17.939,06
-
3.
PL-HKL 3
1.422.93
4.
PL-HKL 4
4.421,88
5.
6.
PL-HKL 5
PL-HKL 6
10.181,69
44.579,63
7.
PL-HKL 11
8.
9.
PL-TKL 1
PL-TKL 3
1.162,69
173,27
10.
PL-TKL 4
446,57
11.
12.
PL-TKL 5
PL-TKL 6
1.506,29
9.077,31
13.
14.
PL-LKL 5
PL-LKL 6
1.989,09
4.871,64
JUMLAH
703,69
98.475,76
Keterangan
4
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras dan rorak.
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras dan saluran
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
Pembuatan strip rumput (grass barrier)
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras dan saluran
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
No
Arahan
Rekomendasi
1
2
Progo,
Opak
Serang
3
Keterangan
4
1.
PB-HKB 1
4.852,40
2.
PB-HKB 2
28,17
3.
PB-HKB 3
1.511,09
4.
PB-HKB 4
1.702,29
5.
PB-HKB 5
1.740,00
6.
PB-HKB 6
23.437,14
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras , saluran dan rorak
7.
PB-HKB 7
11.105,42
Peningkatan sumber mata air secara vegetatif
8.
PB-HKB 11
9
PB-LKB 5
-
10
PB-LKB 6
745,81
11
PB-TKB 1
551,52
12
PB-TKB 3
26,08
13
PB-TKB 5
-
14
PB-TKB 6
4.031,45
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
15
PB-TKB 7
2.421,47
Peningkatan sumber mata air secara vegetatif
1.253,31
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras dan rorak
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras dan saluran
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha
Pembuatan strip rumput (grass barrier)
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha
.
JUMLAH
53.406,17
Pengkayaan HR, jumlah tanaman 200 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras, saluran dan rorak
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha
Pembuatan HR, jumlah tanaman 400 btg/ha, dengan
pembuatan/ perbaikan teras dan saluran
No
Tujuan
Sasaran
Strategi
Arah
Kebijakan
Indikator
Kinerja
Program
PDAST
Volume
Estimasi
Biaya
Fisik
(Rp)xjutaan
I.
Mewujudkan kondisi tata air DAS yang optimal meliputi kuantitas, kualitas dan distribusi menurut ruang dan waktu.
1.
Terwujudnya
pemanfaatan
sumberdaya
air
berdasarkan
azaz
konservasi,
efisiensi dan
lestari.
Meningkatny
a pelayanan
infrastruktur
yang
mendukung
pengembang
an sumber
daya air
Peningkatan
kualitas dan
kuantitas
infrastruktur
pendukung
pengembang
an
sumberdaya
air
Meningkatka
n pelayanan
irigasi
Rencana Implementasi
Stakeholder (lembaga leader & monev,
pendukung & pendanaan)
20122016
20172021
20222026
Stakeholder
Utama
Rasio
saluran
drainase
pengairan
dalam
kondisi
baik (%)
Program
Pembangunan,
Rehabilitasi
Saluran
Drainase dan
Gorong-gorong
100%
19.500
V
V
V
DPU
Rasio
Jaringan
Irigasi
(Panjang
per luas
daerah
irigasi) (%)
Program
pengembangan
dan
pengelolaan
jaringan irigasi,
rawa dan
jaringan
pengairan
lainnya
100%
75.000
V
V
V
DPU
Prosentase
jaringan
irigasi
dalam
kondisi
baik (%)
Pemberday
aan Petani
Pemakai
Air di DAS
Serang
100%
100%
SEGALA UPAYA YANG DILAKUKAN
UNTUK MENJAGA SUMBERDAYA
ALAM AGAR DAPAT BERFUNGSI
SECARA LESTARI
KARENA BUMI YANG KITA PIJAK INI
ADALAH BUKAN MILIK KITA
SEHINGGA HARUS DIKEMBALIKAN
DALAM KONDISI BAIK
METODE DAN TEKNIK KONSERVASI SDA
METODE VEGETATIF
(1) Penghijauan,
(2) Reboisasi,
(3) Wanatani,
(4) Budidaya Tanaman Lorong,
(5) Strip Rumput (grass barrier),
(6) dan lain-lain
PENGHIJAUAN
PENANAMAN KEMBALI LAHAN-LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN
HUTAN DENGAN TANAMAN KERAS (Penghasil kayu maupun non kayu)
HUTAN RAKYAT
PENGHASIL
KAYU
REBOISASI
PENANAMAN KEMBALI LAHAN-LAHAN KRITIS DI DALAM KAWASAN
HUTAN DENGAN TANAMAN KERAS (Penghasil kayu maupun non kayu)
TANAMAN JATI
DALAM KAWASAN
HUTAN
WANATANI
Wanatani adalah penggunaan lahan yang merupakan
perpaduan perhutanan dengan menggunakan tanaman
tahunan, pertanian, peternakan, perikanan dan lain-lain
yang diusahakan secara bersama-sama atau bergiliran ke
arah
keterpaduan
sehingga
tercapai
diversifikasi
penggunaan lahan.
JAGUNG DENGAN
PAKAN TERNAK
Usaha Wanatani adalah proses budidaya
tanaman yang berbasis hutan secara
produktif
dan
berkelanjutan
dengan
memadukan unsur-unsur produksi yang
berorientasi bisnis sehingga diperoleh hasil
yang optimal
TANAMAN LORONG
Budidaya Tanaman lorong adalah salah satu teknik RHL metode
vegetatif dengan penanaman tanaman pokok (tanaman pangan
atau tanaman semusim lainnya) yang di tanam pada loronglorong diantara larikan tanaman pagar (semak atau legum)
dan memotong lereng.
Tujuan dari teknik ini adalah menekan laju erosi dan aliran
permukaan sambil menghasilkan produk tertentu, misalnya
hijauan makanan ternak, pupuk hijau atau mulsa dan
meningkatkan produktivitas lahan serta mempertahankan
kesuburan tanah. Sasaran lokasi yang cocok untuk pembuatan
budidaya tanaman lorong adalah lahan-lahan dengan
kemiringan antara 15 % - 40 %
STRIP RUMPUT
Pengertian
Strip rumput (grass barrier) adalah pola usaha tani dengan cara menanam
tanaman pokok berupa MPTS (500 pohon/ha) diantara strip rumput secara
berselang seling pada bidang lahan yang memotong lereng.
Tujuan
Memperlambat aliran permukaan guna mengurangi
laju erosi, memperbesar resapan air/infiltrasi
menyediakan pakan ternak serta memacu
terbentuknya teras alami karena tanah yang
terhanyut ditahan oleh strip rumput dibawahnya.
Sasaran
Lahan kering dibagian hulu DAS dan diluar kawasan
hutan dengan kemiringan (15 – 40) % dan kondisi
tanah miskin hara. Sasaran lahan tersebut haruslah
merupakan lahan usaha yang secara intensif
diusahakan oleh masyarakat
METODE SIPIL TEKNIK
(1) Dam Pengendali (Dpi),
(2) Dam Penahan (DPn),
(3) Pengendalian Jurang (gully plug),
(4) Sumur Resapan Air,
(5) Teras (gulud, bangku, kebun, dan
individu
1. DAM PENGENDALI
Pengertian
Dam pengendali adalah bendungan kecil yang dapat menampung air (tidak lolos
air) dengan konstruksi urugan tanah dengan lapisan kedap air atau konstruksi
beton (tipe busur) untuk pengendalian erosi dan banjir dan dibuat pada alur
sungai kecil dengan tinggi maksimum 8 meter
Tujuan
Mengendalikan endapan/aliran air.
Menaikkan permukaan air tanah.
Tempat persediaan air bagi
masyarakat
Sasaran
Daerah kritis dengan kemiringan lereng (15 - 35) %, bukan daerah
longsor/bergerak atau patahan dengan luas daerah tangkapan (catchment area)
sekitar 250 ha.
Luas genangan : luas daerah tangkapan air adalah 1 : 50 sampai 1 : 100. Mudah
mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan
2. DAM PENAHAN
Pengertian
Dam Penahan adalah bendungan kecil yang lolos air dengan konstruksi
bronjong batu atau trucuk bambu/kayu yang dibuat pada alur sungai kecil
dengan tinggi maksimum 4 meter
Tujuan
Mengendalikan endapan dan aliran air permukaan dari daerah tangkapan air
dibagian hulu
Meningkatkan permukaan air tanah di bagian hilirnya.
Sasaran
Daerah kritis dengan kemiringan
lereng (15 - 35) %.
Daerah yang sudah diupayakan
RLKT tetapi hasilnya belum efektif.
Daerah tangkapan airnya sekitar
30 ha.
Lokasi terletak pada tempat yang
stabil
3. PENGENDALI JURANG
Pengertian
Bangunan pengendali jurang adalah bendungan kecil yang lolos air yang dibuat
pada parit-parit melintang alur parit dengan konstruksi batu, kayu atau bambu.
Tujuan
Memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang/parit akibat gerusan air guna
mencegah terjadinya jurang/parit yang semakin besar, sehingga erosi dan
sedimen terkendali.
Sasaran
Lahan dengan kemiringan sampai dengan 30%
Daerah tangkapan air maksimum 10 ha
Lebar dan kedalaman alur/parit/jurang
maksimum 3x3 m
Panjang alur/parit/jurang sampai sekitar 250 m
Kemiringan alur maksimum 5 %
4. SUMUR RESAPAN
Pengertian
Sumur resapan air merupakan salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa
bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali
dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air dan
meresapkannya ke dalam tanah.
Tujuan
Konservasi air untuk mengembalikan dan mengoptimalkan fungsi/kerja setiap
komponen sistem tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) sesuai dengan
kapasitasnya.
Sasaran
Sasaran lokasi yaitu daerah peresapan
air di kawasan budidaya, pemukiman,
pertokoan,
industri,
sarana
dan
prasarana olah raga serta fasilitas
umum lainnya
5. TERAS
Pengertian
Teras adalah bangunan konservasi tanah yang dibuat dengan penggalian dan
pengurugan tanah, membentuk bidang olah, guludan dan saluran air yang
dilengkapi dengan bangunan terjunan
Tujuan
Mengendalikan aliran permukaan dan erosi, meningkatkan peresapan air serta
menampung dan mengalirkan ke daerah yang lebih rendah secara aman
Sasaran
Sasaran fisik pembuatan teras adalah lahan yang dimanfaatkan secara
intensif/terus-menerus untuk penanaman tanaman semusim dan/atau
tanaman tahunan berupa tanaman MPTS (500 pohon/ha), dengan kemiringan
lahan bervariasi menurut sifat fisika tanah dan kondisi iklim setempat.
5a. TERAS GULUD
Bangunan berupa guludan tanah dan saluran air, dimana dibagian atas
guludan besar terdapat satu atau beberapa guludan kecil yang dibuat
sejajar kontur, dilengkapi dengan saluran pembuangan air (SPA) dan
bangunan terjunan air pada lokasi dengan kemiringan (10-15) %.
5b. TERAS BANGKU
Teras dengan bidang olah miring ke belakang dan dilengkapi bangunan teras
lainnya seperti saluran air, SPA dan bangunan terjunan.
5c. TERAS KEBUN
Teras yang dibuat hanya sepanjang kontur/larikan yang akan ditanami tanaman
saja, sedangkan bagian lainnya dibiarkan seperti semula dan ditanami tanaman
penutup tanah
5d. TERAS INDIVIDU
Teras yang dibuat hanya pada tempat-tempat yang akan ditanami tanaman
pokok dan dibuat sejajar kontur. Bagian lainnya tetap seperti keadaan semula
yang umumnya ditanami vegetasi penutup tanah. Teras ini dibuat pada lahan
dengan kemiringan (10-50) % dengan curah hujan rendah. Cocok
direncanakan untuk tanaman tahunan/perkebunan.
EMBUNG-EMBUNG
MERUPAKAN BANGUNAN KONSERVASI AIR BERBENTUK KOLAM
UNTUK MENAMPUNG AIR HUJAN DAN AIR LIMPASAN ATAU
AIR REMBESAN DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN
YANG BERDRAINASE BAIK
TUJUAN
SEBAGAI TEMPAT PERSEDIAAN AIR DI MUSIM
KEMARAU DAN DAPAT DIGUNAKAN
UNTUK BERBAGAI KEPERLUAN (PERTANIAN,
PETERNAKAN DAN RUMAH TANGGA)
EMBUNG-EMBUNG

similar documents