Hand Out Kuliah Metode Penelitian

Report
I. PENDAHULUAN
1.1. PENGERTIAN DAN DEFINISI
1.
METODE PENELITIAN:
METODE
: CARA ATAU PROSEDUR UNTUK MELAKSANAKAN SUATU
KEGIATAN.
PENELITIAN
: RISET DARI KATA RESEARCH ATAU PENEMUAN KEMBALI
KEBENARAN DALAM PROSES ATAU FENOMENA ALAM.
“IMPLEMENTASI DARI ASPEK EPISTEMOLOGI DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, TENTANG
BAGAIMANA CARA PEMAHAMAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN”
2. ILMU PENGETAHUAN.
MODEL, TEORI, ATAU DESKRIPSI YANG DISAJIKAN DALAM SUSUNAN BAHASA YANG SISTEMATIS
TERHADAP FAKTA ATAU FENOMENA TENTANG SUATU OBYEK YANG DIDAPATKAN DARI HASIL
KEGIATAN PENELITIAN (RISET).
KEGIATAN PENELITIAN MERUPAKAN SALAH SATU JENIS KEGIATAN ILMIAH, YANG KEBENARAN
TEORINYA MENGACU KEPADA KEBENARAN ILMIAH, DAN KEGIATANNYA SECARA KETAT
MENGGUNAKAN METODE ILMIAH ATAU METODE PENELITIAN.
UNSUR KEBENARAN ILMIAH ADALAH LOGIKA BERFKIR INDUKSI DAN DEDUKSI, YANG
DIIMPLEMENTASIKAN SECARA BERSAMA-SAMA SECARA TERSTRUKTUR UNTUK MENDAPATKAN
SUATU HUKUM ATAU TEORI ILMU PENGETAHUAN TENTANG SUATU OBYEK ATAU FENOMENA
ALAM.
SIFAT KEBENARAN ILMIAH RELATIF, TINGKAT KEBENARANNYA TERUS DISEMPURNAKAN
MELALUI KEGIATAN PENELITIAN YANG DILAKSANAKAN SECARA BERKESINAMBUNGAN.
1
1.2. SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN RASIONAL

PADA AWAL PENGEMBANGAN PEMIKIRAN RASIONAL MANUSIA, SEMUA HASIL
PEMIKIRANNYA DALAM BERBAGAI JENIS OBYEK PENELITIAN, MENJADI SATU DALAM
KELOMPOK ILMU FILSAFAT.

PERINTIS PEMIKIRAN FILSAFAT ADALAH PARA FILSUF YUNANI KUNO (SEKITAR ABAD
6 SM – ABAD 2 SM), DENGAN TOKOH UTAMANYA: SOCRATES, PLATO, DAN
ARISTOTELES. SESUDAH ITU PEMIKIRAN FILSAFAT TERUS BERLANGSUNG DENGAN
PERODISASI: ZAMAN PERTENGAHAN, ZAMAN RENAISANS, ZAMAN MODERN, DAN
ZAMAN ABAD 20 – SEKARANG.

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT SEJALAN DAN MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DALAM MEMAHAMI FAKTA DAN FENOMENA
ALAM DAN KEHIDUPAN, DAN MENJADI MOTOR PENGGERAK PEMBENTUKAN
PERADABAN, MISALNYA:
1. PEMIKIRAN FILSAFAT ZAMAN PERTENGAHAN DIPENGARUHI OLEH AJARAN
AGAMA YANG CENDERUNG DOGMATIS, DAN MENGHASILKAN PEMIKIRAN
DAN SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA YANG CENDERUNG TOTALITER.
2. ZAMAN RENAISANS DAN ZAMAN MODERN MENGHASILKAN PEMIKIRAN DAN
SISTEM YANG SEKULER, KARENA PEMIKIRAN FILSAFAT MELEPASKAN DIRI
DARI AJARAN AGAMA DENGAN POLA FIKIR YANG RASIONAL DAN BEBAS.
3. MULAI PADA ABAD KE 20 PERMASALAHAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
MENJADI SEMAKIN BANYAK DAN KOMPLEKS YANG DISEBABKAN OLEH:
- PERKEMBANGAN JUMLAH PENDUDUK DUNIA YANG CEPAT
- PERKEMBANGAN KEMAKMURAN YANG MEMBEBASKAN MANUSIA DARI
SEBAGIAN BESAR PEKERJAAN FISIK.
- PERBEDAAN KEMAKMURAN ANTAR NEGARA YANG SEMAKIN MEMBESAR,
YANG MENGAKIBATKAN BERAGAI PERMASALAHAN GLOBAL
- POLUSI DAN DEGRADASI LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT IMPLEMENTASI
TEKNOLOGI DALAM BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN.
2
BERBAGAI KEADAAN SESUDAH ABAD KE 20 TERSEBUT MENYEBABKAN PEMIKIRAN
RASIONAL MANUSIA DALAM FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN CENDERUNG
REAKTIF, DEFENSIF, PARSIAL, SEKTORAL DAN PRAGMATIS.
1.3. PERKEMBANGAN DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN.

KEGIATAN BERFIKIR MANUSIA BERSIFAT EKSPLORATIF DAN EKSPANSIF, SEHINGGA
HASIL PEMIKIRANNYA TERUS BERTAMBAH SECARA AKUMULATIF DALAM BIDANGBIDANG YANG SEMAKIN MELUAS DAN BANYAK. KARENA PENAMBAHAN INI DAN
SEMAKIN BANYAKNYA APLIKASI HASIL PEMIKIRAN RASIONAL DALAM KEHIDUPAN,
MAKA ILMU FILSAFAT KEMUDIAN TERPECAH MENJADI DUA KELOMPOK YAITU:
1. KELOMPOK ILMU FILSAFAT MURNI
2. KELOMPOK ILMU-ILMU PENGETAHUAN.

KELOMPOK ILMU FILSAFAT MURNI TETAP PADA KARAKTERISTIK SEMULA YAITU:
1. RASIONAL: MENEKANKAN KEPADA KEMAMPUAN RASIONAL DENGAN
MENGGUNAKAN KAIDAH LOGIKA
2. RADIKAL: TUJUAN BERFIKIR FILSAFAT UNTUK MENGGALI KEBENARAN SAMPAI
KE AKAR PERMASALAHANNYA (RADIK = AKAR).
3. SPEKULATIF: KRITERIA KEBENARANNYA TIDAK MENGGUNAKAN NORMA ATAU
UKURAN TERTENTU, TETAPI MENURUT METODE YANG
DIKEMBANGKAN OLEH
ALIRAN FILSAFAT MASING-MASING.
KELOMPOK ILMU FILSAFAT MURNI MENGHASILKAN PEMIKIRAN YANG MENDASARI
METODE BERFIKIR ILMU PENGETAHUAN, DAN MENG-EKSPLORASI OBYEK MATERIAL
MAUPUN OBYEK FORMAL BARU UNTUK DITERUSKAN OLEH ILMU PENGETAHUAN BAGI
PENGEMBANGAN DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN. TERDAPAT KERJASAMA
SECARA SINERGI ANTARA FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN, SEBAGAI SARAN
BERFIKIR INTELEKTUAL MANUSIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP MEREKA.
3



KELOMPOK ILMU PENGETAHUAN BERKEMBANG DENGAN MENEKANKAN PADA
APLIKASI UNTUK MEMBERI MANFAAT SECARA LANGSUNG KEPADA KEHIDUPAN NYATA.
KARAKTERISTIK ILMU PENGETAHUAN KEMUDIAN BERBEDA DENGAN INDUKNYA
(FILSAFAT), SEBAGAI BERIKUT:
1. RASIONAL : SEPERTI FILSAFAT, TETAP MENGGUNAKAN KEMAMPUAN
RASIONAL DENGAN MENGGUNAKANKAIDAH LOGIKA
2. PRAGMATIS : DIKEMBANGKAN BUKAN UNTUK MENDAPATKAN KEBENARAN
TERTINGGI, TETAPI LEBIH KEPADA MENCARI MANFAAT BAGI PENGEMBANGAN
KEHIDUPAN MANUSIA
3. NORMATIF : KRITERIA KEBENARANNYA MENGIKUTI SUATU NORMA YAITU
KEBENARAN ILMIAH YANG DI IMPLEMENTASIKAN DALAM PENGEMBANGAN
ILMU PENGETAHUAN DALAM BENTUK METODE ILMIAH.
KAITANNYA YANG ERAT DENGAN APLIKASINYA, MENYEBABKAN ILMU PENGETAHUAN
BERKEMBANG SANGAT CEPAT. HAL INI KARENA TERBENTUKNYA TERSEDIANYA BIAYA
RISET DARI HASIL APLIKASI TERSEBUT. DENGAN PERKEMBANGAN ITU MAKA ILMU
PENGETAHUAN KEMUDIAN PECAH MENJADI BANYAK KELOMPOK ATAU DISIPLIN ILMUILMU PENGETAHUAN BARU.
PENGELOMPOKAN ILMU PENGETAHUAN DAPAT DILAKUKAN MENURUT BERBAGAI
KLASIFIKASI, SEPERTI:
1. KLASIFIKASI MENURUT LINGKUP FUNGSINYA:
- KELOMPOK ILMU DASAR: FISIKA, BIOLOGI, MATEMATIKA, DLL..
- KELOMPOK ILMU TERAPAN: TEKNIK, PERTANIAN, KEDOKTERAN, EKONOMI,
HUKUM, DLL..
2. MENURUT SIFAT OBYEKNYA:
- KELOMPOK ILMU ALAM: FISIKA, BIOLOGI, TEKNIK, KEDOKTERAN, DLL..
- KELOMPOK ILMU KEMANUSIAAN ATAU ILMU SOSIAL: EKONOMI, HUKUM,
PSIKHOLOGI, SOSIOLOGI, DLL..
4
II. TEORI KEBENARAN DAN LOGIKA
2.1. TEORI KEBENARAN



KEBENARAN ADALAH HASIL USAHA SUBYEK DALAM MEMAHAMI, MENGAMBARKAN DAN
MEMANFAATKAN REALITAS TENTANG OBYEK. DARI ASPEK SUBYEKNYA, KEBENARAN
DAPAT BERORIENTASI KEPADA SALAH SATU ATAU LEBIH FUNGSI MENTAL MANUSIA,
YAITU SPIRITUAL, EMOSIONAL, DAN RASIONAL. KARENA ITU KEBENARAN
MEMPUNYAI LINGKUP DAN MAKNA YANG SANGAT LUAS, KARENA KOMPLEKSITAS
DALAM SUBYEK DAN DALAM OBYEK.
KEBENARAN RASIONAL BERFUNGSI UNTUK MEMBEDAKAN KEBENARAN DARI
KESALAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PROSES LOGIKA. DALAM PROSES LOGIKA
BIASANYA DIPERLUKAN LANDASAN PEMBENARAN, BERUPA PENJELASAN ATAU
ALASAN UNTUK MENENTUKAN BAHWA SESUATU SEBAGAI BENAR ATAU SALAH.
PENJELASAN ATAU ALASAN UNTUK PEMBENARAN DAPAT MENGIKUTI BERBAGAI JENIS
ALUR BERFIKIR LOGIS SEPERTI: PREPOSISI, PERNYATAAN, IDE, KEPERCAYAAN,
PENILAIAN, DAN LAIN-LAIN.
KEBENARAN RASIONAL DAPAT DIKLASIFIKASIKAN DENGAN BERBAGAI KATEGORI,
DIANTARANYA:
1. MENURUT METODE PEMBENARANNYA
2. MENURUT SUMBER KEBENARANNYA
3. MENURUT LINGKUP KEBENARANNYA.
2.1.1. KEBENARAN MENURUT METODE PEMBENARANNYA.

MENURUT KLASIFIKASI INI KEBENARAN DAPAT DIBAGI DALAM DUA KELOMPOK YAITU
SEBAGAI BERIKUT.
5
1. METODE PEMBENARAN DENGAN PENJELASAN.
DALAM TEORI INI SETIAP KEBENARAN MEMERLUKAN PENJELASAN YANG
DAPAT
MEMBERIKAN LANDASAN PEMBENARANNYA. TERDAPAT BANYAK JENIS TEORI TENTANG
PENJELASAN TERHADAP KEBENARAN, DIANTARANYA:
a. TEORI KORESPONDENSI: SIFAT PENJELASANNYA ADALAH HUBUNGAN
DENGAN REALITAS DALAM OBYEKNYA.
b. TEORI KOHEREN: SIFAT PENJELASAN KOHEREN ATAU KONSISTEN
DENGAN TEORI KEBENARAN LAIN TENTANG OBYEK YANG DITELITI.
c. TEORI KONSENSUS: SIFAT PENJELASAN ADALAH KESEPAKATAN DALAM
SUATU KELOMPOK KEBENARAN TERTENTU.
d. TEORI PRAGMATIS: SIFAT PENJELASAN KARENA KEBERHASILAN DALAM
PRAKTEK ATAU APLIKASINYA.
e. TEORI PROSES SOSIAL: KEBENARAN YANG PEMBENTUKANNYA MELALUI
PROSES SOSIAL, SETELAH MELALUI PERJUANGAN YANG BERAT.
2. METODE PEMBENARAN PADA DIRINYA SENDIRI.
TEORI INI BERANGGAPAN BAHWA KEBENARAN TIDAK MEMERLUKAN
PENJELASAN, TETAPI KEBENARANNYA ADA PADA DIRINYA SENDIRI.
PERNYATAAN BAHWA “TEMBOK ITU BERWARNA PUTIH” SUDAH BENAR
DENGAN
SENDIRINYA. DALAM PROSES LOGIKA KEBENARAN INI DISEBUT
“AKSIOMA” ATAU
“POSTULAT” YANG BIASANYA DIJADIKAN PENJELASAN
AWAL TITIK TOLAK DARI JENIS
KEBENARAN PERTAMA.
PEMBENARAN DALAM METODE INI SERING BERLANDASKAN KEPADA HAL
TIDAK RASIONAL. SEPERTI: KEPERCAYAAN AGAMA, MORAL, IDE, DAN LAIN-
YANG
LAIN.
6
2.1.2. KEBENARAN MENURUT SUMBER KEBENARANNYA.

KEBENARAN ADALAH MERUPAKAN HASIL INTERAKSI ANTARA SUBYEK DENGAN OBYEK,
SEHINGGA MENURUT KLASIFIKASI INI TEORI KEBENARAN DAPAT DIBAGI DALAM DUA
JENIS YAITU.
1. KEBENARAN SUBYEKTIF: ADALAH KEBENARAN YANG MENEKANKAN PADA
YANG DIALAMI OLEH SUBYEK. PENGALAMAN SUBYEK MENJADI SUMBER DAN
TITIK TOLAK PERUMUSAN PERNYATAAN KEBENARANNYA. DALAM PRAKTEKNYA
KEBENARAN RASIONALYANG SEPENUHNYA SUBYEKTIF HANYA MATEMATIKA.
KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN LAIN, DALAM KADAR YANG BERBEDA, LEBIH
MENEKANKAN KEPADA SUBYEK ATAU OBYEKNYA. CONTOH: KEBENARAN ILMU
SOSIAL LEBIH BERSIFAT SUBYEKTIF, KARENA DASARNYA ADALAH PENGALAMAN
MANUSIA.
2. KEBENARAN OBYEKTIF: MERUPAKAN KEBALIKAN ARI KEBENARAN SUBYEKTIF,
DIMANA TITIK TOLAK KEBENARANNYA PADA OBYEK. KEBENARAN ILMU
PENGETAHUAN YANG LEBIH BERSIFAT OBYEKTIF ADALAH ILMU ALAM TERUTAMA
FISIKA, KARENA OBYEKNYA BENDA MATI.
2.1.3. KEBENARAN MENURUT LINGKUPNYA
1. KEBENARAN RELATIF: MENGACU ATAU RELATIF TERHADAP SUATU UKURAN,
STANDAR, KONVENSI, DAN LAIN-LAIN. KEBENARAN DALAM ILMU SOSIAL BANYAK
YANG RELATIF TERHADAP BUDAYA, ETIKA, MAUPUN NILAI MASYARAKAT
TERTENTU. KARENA ITU KEBENARAN DALAM ILMU SOSIAL SELALU BERUBAH,
KARENA PERUBAHAN DALAM SISTEM ACUANNYA TERSEBUT.
2. KEBENARAN ABSOLUT: YAITU KEBENARAN YANG BERLAKU DALAM SEMUA
KONDISI, SITUASI, RUANG DAN WAKTU. KEBENARAN AJARAN AGAMA DIANGGAP
ABSOLUT OLEH PEMELUKNYA, NILAI MORAL / BUDAYA TERTENTU JUGA SERING
DIANGGAP ABSOLUT, MISALNYA: MENYUMBANG FAKIR MISKIN ITU BAIK, ILMU
PENGETAHUAN HARUS DIPELAJARI SMUA ORANG, DLL.
7
2.1.2. HUBUNGAN ANTARA KEBENARAN DENGAN KEPERCYAAN DAN KEBIJAKSANAAN.

KEPERCAYAAN DAN KEBENARAN BERHUBUNGAN DENGAN REALITAS TENTANG OBYEK
YANG MENJADI SASARAN. PERBEDAANNYA, KEBENARAN BERHUBUNGAN DENGAN
FUNGSI RASIONAL SEDANG KEPERCAYAAN BERHUBUNGAN DENGAN FUNGSI EMOSI
DAN- ATAU SPIRIT. KEPERCAYAAN TIMBUL KARENA ADANYA PEMAHAMAN ATAS
KEBENARAN, YANG DAPAT BERUPA PERSEPSI, KOMUNIKASI, REASONING, DAN
REFLEKSI.

ILMU PENGETAHUAN ADALAH KEPERCAYAAN YANG TELAH DIUJI KEBENARANNYA
DENGAN FAKTA EMPIRIS. KARENA ITU PROSES PEMAHAMAN SEBELUM TERCAPAI
TINGKAT KEPERCAYAAN ADALAH PROSES INDUKSI. PROSES PEMBENTUKAN
KEPERCAYAAN SIFATNYA SPONTAN, SEDANG PEMBENTUKAN KEBENARAN MELALUI
PROSES LOGIKA.

KEBIJAKSANAAN MERUPAKAN KELANJUTAN DARI KEPERCAYAAN, YANG SUDAH
MENGANDUNG ASPEK KEARAH IMPLEMENTASI ATAU TINDAKAN. KARENA ITU
KEBIJAKSANAAN DAPAT BERSUMBER KEPADA KEBENARAN RASIONAL. NAMUN DALAM
PRAKTEK KEBIJAKSANAAN DAPAT BERSUMBER KEPADA KEPERCAYAAN SAJA, MISALNYA
KEPERCAYAAN AGAMA. BAGI PARA PEMELUK AGAMA, KEBIJAKSANAAN DAN
KEPERCAYAAN BERFUNGSI SEBAGAI PENGARAH FUNGSI RASIONALYANG SELANJUTNYA
MEMBIMBING KEGIATAN MANUSIA MENUJU KEHIDUPAN YANG BENAR.

NAMUN HARUS DIINGAT ADANYA BAHAYA APABILA KEPERCAYAAN TANPA DILANDASI
KEBENARAN RASIONAL. KEPERCAYAAN SEPERTI INI AKAN MENJAUHKAN KEPERCAYAAN
DARI REALITAS OBYEK. DALAM HAL INI KEPRCAYAAN DAPAT DIBIMBING OLEH LOGIKA
PALSU, MISALNYA: WISHFUL THINKING. DALAM LOGIKA INI KEBENARAN TIDAK
BERLANDASKAN FAKTA, TETAPI BERDASARKAN KEHENDAK, HARAPAN, OPTIMISME,
ATAU HAL YANG MENYENANGKAN SAJA.
8
2.2. LOGIKA


LOGIKA MERUPAKAN MEKANISME BERFIKIR RASIONAL UNTUK MEMECAHKAN SUATU
PERMASALAHAN, DAN BERTUJUAN UNTUK MENDAPATKAN KESIMPULAN YANG BENAR.
SELAIN UNTUK MENARIK KESIMPULAN, LOGIKA JUGA MEMPUNYAI BEBERAPA FUNGSI
LAIN SEPERTI PEMAHAMAN, PENJELASAN DAN PENILAIAN TERHADAP PERMASALAHAN
YANG DITELITI DAN PENYELESAIANNYA.
LOGIKA MERUPAKAN ALAT BANTU UTAMA DALAM PENGEMBANGAN ILMU
PENGETAHUAN. DISAMPING LOGIKA ADA BEBERAPA ALAT BANTU LAIN UNTUK
PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, YAITU: MATEMATIKA, BAHASA, STATISTIKA,
DAN ETIKA. DALAM BAB INI DIBAHAS TENTANG LOGIKA, DAN DALAM BAB
BERIKUTNYA ADALAH BAHASAN TENTANG PERANAN BAHASA DAN STATISTIKA.
BAHASAN TENTANG MATEMATIKA DAN ETIKA SUDAH DILAKUKAN SEBELUMNYA.
2.2.1. PENGERTIAN BERFIKIR DAN LOGIKA.

AKTIVITAS BERFIKIR MERUPAKAN AKTIVITAS MENTAL YANG MELIPUTI TIGA UNSUR
YAITU RASIO, EMOSI DAN SPIRIT. DALAM AKTIVITAS BERFIKIR RASIONAL, MAKA
PENEKANAN ADA PADA FUNGSI BERFIKIR LOGIS, DENGAN FUNGSI EMOSI DAN SPIRIT
MEMBERIKAN LANDASAN DAN ARAH PEMECAHANNYA. DALAM AKTIVITAS BIDANG
SENI PENEKANANNYA PADA FUNGSI EMOSI, DAN DALAM AKTIVITAS KEAGAMAAN
PENEKANANNYA PADA FUNGSI SPIRITUAL.

KAITAN ANTARA FUNGSI RASIO DENGAN FUNGSI EMOSI DAN SPIRIT DAPAT
DIINDIKASIKAN DARI SELALU ADANYA KEYAKINAN AKAN KEBENARAN SEBELUM
PROSES BERFIKIR LOGIS DIMULAI, YANG DISEBUT SEBAGAI SUATU LOMPATAN
MENTAL.
9



LOMPATAN MENTAL INI MEMBERIKAN ARAH DAN SEMANGAT DAN MERUPAKAN
BENTUK TANGGUNG-JAWAB (MORAL) DALAM KEGIATAN BERFIKIR. TANPA TANGGUNG
JAWAB MORALTERSEBUT, MAKA PROSES BERFIKIR DAPAT MENJADI SUATU
“ANARKHI”. (Amati kejadian di Indonesia dalam berbagai bidang: politik, hukum, sosial
dan agama sekarang ini).
KEGIATAN BERFIKIR RASIONAL BUKAN MERUPAKAN KEGIATAN “PENCIPTAAN”
SESUATU DARI TIDAK ADA, TETAPI MERUPAKAN USAHA UNTUK MENDAPATKAN
PEMAHAMAN, PENJELASAN DAN PENILAIAN TERHADAP “SESUATU” YANG SUDAH ADA
SEBELUMNYA. KEGIATAN LOGIKA YANG PALING JAUH ADALAH “REKAYASA”, YAITU
MANIPULASI DARI BERBAGAI UNSUR PEMAHAMAN YANG SUDAH DIDAPAT MENJADI
SESUAT YANG BARU. FUNGSI REKAYASA ATAU ENGINEERING SEBAGAIMANA FUNGSI
ILMU PENGETAHUAN ADALAH PRAGMATIS, YAITU MENCIPTAKAN SARANA,
MEKANISME ATAU PROSEDUR BARU UNTUK MEMBANTU MANUSIA DALAM
MENGEMBANGKAN KEHIDUPANNYA.
TUJUAN PROSES BERFIKIR ADALAH INTERNALISASI TERHADAP REALITAS DALAM
OBYEK KEDALAM DIRI SUBYEK MELALUI PROSES INDERAWI, ABSTRAKSI DAN
REFLEKSI. LOGIKA MEMBANTU PROSES BERFIKIR DENGAN MEMBERIKAN PROSEDUR
UNTUK PERUMUSAN DISKRIPSI SPONTAN DALAM PROSES ABSTRAKSI. DALAM PROSES
REFLEKSI, LOGIKA MEMBERIKAN ACUAN UNTUK MENYUSUN DESKRIPSI YANG
INTEGRAL, MISALNYA DENGAN PENYUSUNAN MODEL ABSTRAK ATAU MODEL FISIK.
PENYUSUNAN MODEL ABSTRAK BERKAITAN DENGAN JENIS LOGIKA TEORITIS,
SEDANG MODEL FISIK BERKAITAN DENGAN LOGIKA EMPIRIS.
10
2.2.2. DALIL DAN PRINSIP LOGIKA.

DALAM PROSES BERFIKIR, MAKA FUNGSI LOGIKA ADALAH MENJEMBATANI REALITAS
DIDALAM DIRI SUBYEK DENGAN REALITAS DALAM OBYEK YANG DIAMATI. HAL INI
HANYA DAPAT DILAKSANAKAN APABILA ADA KESESUAIAN ANTARA KEDUA REALITAS
TERSEBUT, SEPERTI DITERANGKAN DALAM PEMBAHASAN GEJALA ILMU
PENGETAHUAN. FUNGSI LOGIKA ADALAH MENJEMBATANI KEDUA REALITAS TERSEBUT,
DENGAN MEMBERIKAN DALIL, PROSEDUR ATAU PRINSIP PEMBENARAN DALAM
PROSES BERFIKIR SEHINGGA DIJAMIN DIDAPAT KESIMPULAN YANG BENAR DAN
KONSISTEN.

TERDAPAT BEBERAPA TINGKATAN PATOKAN LOGIKA, YAITU AKSIOMA SEBAGAI DALIL
POKOK, KEMUDIAN PATOKAN BERDASARKAN AKAL SEHAT, DAN PRINSIP
PEMBENARAN DALAM MENGAMBIL KESIMPULAN. AKSIOMA MERUPAKAN TITIK AWAL
TEMPAT BERPIJAK DARI KEBENARAN YANG AKAN DITURUNKAN DIATASNYA,
SEHINGGA KEBENARAN AKSIOMA TIDAK PERLU BUKTI KARENA MELEKAT PADA
PRINSIPNYA SENDIRI.

AKSIOMA ATAU DALIL POKOK LOGIKA TERDIRI DARI EMPAT RUMUSAN YANG SALING
MELENGKAPI SEBAGAI BERIKUT.
1. PRINCIPIUM IDENTITAS: SETIAP BENDA/SESUATU ADALAH IDENTIK
DENGAN DIRINYA SENDIRI.
2. PRINCIPIUM INDIVIDUATIONIS: SETIAP BENDA /SESUATU HANYA
IDENTIK
DENGAN DIRINYA SENDIRI. PENYIMPANGAN TERHADAP PRINSIP INI DISEBUT
TAUTOLOGIE YAITU MENGANGGAP DUA BENDA /SESUATU
SEBAGAI IDENTIK.
3. PRINCIPIUM CONTRADICTIONIS: APABILA ADA DUA HAL YANG
BERTENTANGAN, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA BENAR.
4. PRINCIPIUM EXCLUSI TERTII: APABILA ADA DUA HAL YANG
BERTENTANGAN, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA SALAH.
11




PENGOPERASIAN AKSIOMA TERSEBUT MEMERLUKAN PRINSIP-PRINSIP PELENGKAP
UNTUK MENJELASKAN HUBUNGAN LOGIS ANTAR KONSEP ATAU REALITAS YANG
BERBEDA. PRINSIP PELENGKAP TERSEBUT TERKUMPUL DALAM BENTUK KUMPULAN
AKAL SEHAT (COMMON SENSE), YANG TERSUSUN BERDASARKAN PENGALAMAN DAN
BERBAGAI PRINSIP HIDUP SEPERTI: KEJUJURAN, KEBERSAMAAN, KEBAIKAN,
KESINAMBUNGAN DAN LAIN-LAIN.
SELANJUTNYA PROSES LOGIKA MEMERLUKAN PEMBENARAN ATAU PENJELASAN, YANG
BERUPA HUBUNGAN LOGIS SEPERTI KRONOLOGIS, FUNGSIONAL, HIRARKIS, ATAU
HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT. HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT MERUPAKAN KONSEP LOGIS
YANG UTAMA DALAM BERFIKIR RASIONAL UNTUK PENGEMBANGAN ILMU
PENGETAHUAN.
DALAM ANALISIS SUATU PERMASALAHAN BIASANYA AKIBATNYA DIKETAHUI
TERLEBIH DAHULU, BARU KEMUDIAN SEBAB ATAU ALASANNYA DITEMUKAN DENGAN
ANALISIS LOGIKA. UNTUK MENJAMIN PROSES LOGIKA YANG BENAR, MAKA SEBAB
(ALASAN) YANG DITEMUKAN DAN DIHARAPKAN MENJADI PENYEBAB YANG VALID
TERHADAP AKIBAT YANG TERJADI MAKA ALASAN TERSEBUT HARUS MEMENUHI
PERSYARATAN SEBAGAI BERIKUT.
1. ALASAN YANG DIPERGUNAKAN ITU MEMANG PERLU (NECESSARY),
DAN PRINSIPNYA HANYA ADA SATU PENJELASAN YANG TEPAT UNTUK SUATU
AKIBAT TERTENTU.
2. ALASAN YANG DIPERLUKAN ITU CUKUP (SUFFICIENT), ATAU MEMADAI, TIDAK
KURANG DAN TIDAK LEBIH.
SEPERTI DALAM MATEMATIKA, BEKERJANYA LOGIKA MENGIKUTI SUATU ALUR
BERFIKIR YANG KONSISTEN. TIDAK ADA KONTRADIKSI DALAM HASIL ATAU
KESIMPULAN DARI PROSES BERFIKIR, SIFATNYA SALING MENOPANG DALAM SUATU
BANGUNAN PIRAMIDA TERBALIK.
12


NAMUN ADA PERBEDAAN ANTARA LOGIKA DAN MATEMATIKA, YAITU BAHWA MATEMATIKA
TIDAK MEMPUNYAIREALITAS EMPIRIS SEDANG LOGIKA JUSTRU BERFUNGSI UNTUK
MEMAHAMI DAN MENCARI KEJELASAN TERHADAP FENOMENA EMPIRIS.
DALAM KENYATAANNYA, KEBANYAKAN REALITAS EMPIRIS MEMPUNYAI KOMPLEKSITAS
TINGGI SEHINGGA TIDAK MUDAH UNTUK DIFAHAMI. AKIBATNYA BANYAK PERMASALAHAN
YANG SULIT UNTUK DIPECAHKAN DENGAN, ATAU DALAM TERMINOLOGI LOGIKA DISEBUT
SEBAGAI “DILEMA”. RUMITNYA SUATU DILEMA, DIGAMBARKAN DENGAN BAIK DALAM
KEJADIAN BUAH SIMALAKAMA YAITU: Apabila dimakan Ibu mati, tetapi apabila tidak dimakan
Bapak yang mati. ATAU SEPERTI DIGAMBARKAN DALAM SUATU CERITA TENTANG SEORANG
IBU DAN SEEKOR BUAYA SEBAGAI BERIKUT: Ada seekor buaya yang menangkap anak kecil,
kemudian ber-negosiasi dengan Ibunya. Buaya berjanji kalau si Ibu dapat menebak dengan
benar apa yang akan diperbuat terhadap anaknya, maka anak itu akan dilepaskan. Si Ibu
menebak bahwa buaya tidak akan mengembalikan anaknya. Dilemanya adalah buaya tidak
akan memberikan anaknya dengan alasan kebenaran perkataan ibunya, sedang si Ibu harus
menerima anaknya dengan alasan tebakannya benar. Jadi dua alternatif pilihannya
berlawanan tetapi keduanya benar, yang merupakan hal yang tidak mungkin.
2.2.3. CARA KERJA LOGIKA.

SEBELUM MEMBAHAS CARA KERJA LOGIKA, PERLU DIKETAHUI KLASIFIKASI LOGIKA SEBAGAI
BERIKUT.
1. LOGIKA TERSTRUKTUR ADA DUA MACAM YAITU:
- LOGIKA DEDUKSI
- LOGIKA INDUKSI
13


2. LOGIKA TIDAK TERSTRUKTUR ADA DUA MACAM YAITU:
- LOGIKA TRIAL AND ERROR
- INTUISI
DALAM MENEMUKAN KEBENARAN ATAU MEMECAHKAN PERMASALAHAN DALAM HIDUPNYA,
MANUSIA SERING TIDAK MENGGUNAKAN LOGIKA, MISALNYA DENGAN MENGGUNAKAN
BERBAGAI CARA SEBAGAI BERIKUT.
1. SUBYEKTIF: DORONGAN KEHENDAK (WISHFULL THINKING), EMOSI ATAU
PRASANGKA.
2. SPIRITUAL: WAHYU, PARANORMAL, MIMPI DLL.
3. MEDITASI: BERKONSENTRASI PENUH UNTUK MEMAKSIMALKAN SEGALA
KEMAMPUAN YANG ADA PADA DIRINYA.
DALAM BAB INI DIBAHAS LOGIKA TERSTRUKTUR YANG TERDIRI DARI LOGIKA DEDUKSI DAN
INDUKSI. SEPERTI TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA, KEDUA JENIS LOGIKA INI MERUPAKAN
PILAR PENOPANG KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN. LOGIKA TERSTRUKTUR DISEBUT
JUGA LOGIKA PROPOSISI, KARENA KEBENARAN DARI KESIMPULAN YANG DIAMBIL BERPIJAK
PADA SUATU PROPOSISI YANG MERUPAKAN LANDASAN PEMBENARAN ATAU TITIK PANGKAL
DARI KEBENARANNYA.
2.2.3. LOGIKA PR0POSISI.

STRUKTUR LOGIKA PROPOSISI MEMPUNYAI DUA KOMPONEN YAITU PROPOSISI DAN
KONSTANTA. PROPOSISI ADALAH PERNYATAN ATAU UANGKAPAN YANG MANDIRI ATAU
DAPAT DITEGASKAN DIDALAM DIRINYA SENDIRI DALAM SUATU SISTEM TERTENTU. KARENA
SIFATNYA ITU MAKA DALAM PROSES LOGIKA, PROPOSISI BERFUNGSI SEBAGAI TITIK
PANGKAL PEMBENARAN LOGIKA.
14



KONSTANTA ADALAH OPERATOR YANG MENGOPERASIKAN SATU ATAU LEBIH PROPOSISI,
SEHINGGA MEMPUNYAI ARTI YANG BARU.
DALAM PROSES LOGIKA PALING SEDERHANA, PROPOSISI ATAU KONSTANTA MEMPUNYAI
DUA NILAI YAITU “0” (NOL) ATAU “1” (SATU). NILAI 0 BERARTI BENAR DAN NILAI 1 BERARTI
SALAH. PROSES LOGIKA YANG LEBIH KOMPLEKS, PROPOSISI DAPAT MEMPUNYAI 3 NILAI, n
NILAI, ATAU NILAINYA KONTINYU.
DALAM SISTEM LOGIKA, PROPOSISI DITULISKAN DENGAN NOTASI HURUF KECIL SEPERTI: p,
q, r, ATAU s SEDANG KONSTANTA DITULIS DENGAN NOTASI HURUF BESAR SEPERTI A, B, C,
D, M, N, ATAU K. SATU OPERATOR DAPAT DIOPERASIKAN DENGAN PROPOSISI TUNGGAL
MISALNYA: Np, Mq DAN Kr; ATAU DAPAT DIOPERASIKAN DENGAN DUA PROPOSISI
MISALNYA: Kpq, Dpq, Cpr, ATAU Eqr. DALAM PENGEMBANGANNYA YANG LEBIH RUMIT,
PROSES LOGIKA DAPAT MENGKOMBINASIKAN BEBERAPA JENIS OPERATOR DAN BEBERAPA
PROPOSISI SEKALIGUS.
DALAM KAITAN DENGAN DALIL LOGIKA, MAKA PROPOSISI ADALAH PERNYATAAN HUBUNGAN
LOGIS YANG MENJADI ALASAN PEMBENARAN. KARENA ITU PROPOSISI HARUS MEMENUHI
PERSYARATAN PERLU DAN CUKUP. KONSTANTA ADALAH AKAL SEHAT YANG MEMBERIKAN
ARTI BARU KEPADA PROPOSISI. SEBAGAI AKAL SEHAT, MAKA KONSTANTA ATAU OPERATOR
MEMPUNYAI BANYAK JENIS, KARENA AKAL SEHAT MENGACU KEPADA TUUAN HIDUP SEPERTI:
KETERATURAN, KESEIMBANGAN, KESINAMBUNGAN, KEMAJUAN, PERKEMBANGAN DLL.
CONTOH KONSTANTA MISALNYA: NEGASI (N), KONJUNGSI (K), ALTERNATIF (A),
EQUIVALENSI (E), DISJUNGSI (D), IMPLIKASI (C), DAN OPTIMISME (S).
15
CONTOH OPERASI NEGASI ADALAH, APABILA p = 1, MAKA Np = 0 DAN SEBALIKNYA.
OPERATOR K, A, E, D, C, DAN S DIOPERASIKAN DENGAN DUA PROPOSISI DWI NILAI ( 0 DAN
1) SEPERTI DITUNJUKKAN DALAM DIAGRAM BERIKUT:
p

q
Kpq
p
q
Apq
p
q
Epq
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
1
0
0
0
1
0
0
1
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
p
q
Dpq
1
1
0
1
0
1
0
1
1
0
0
1
p
q
Cpq
p
q
Spq
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
0
1
0
1
1
0
1
1
0
0
1
0
0
1
ENAM JENIS KONSTANTA DALAM CONTOH DIATAS MERUPAKAN SEBAGIAN DARI SEMUA
OPERATOR YANG MUNGKIN DARI PROSES LOGIKA DENGAN DUA PROPOSISI, YANG
MEMPUNYAI DUA NILAI (TWO VALUED LOGIC). DENGAN MENGGUNAKAN TEORI KOMBINASI
MAKA KEMUNGKINAN TERBANYAK JUMLAH OPERATORNYA ADALAH: (22)2 = 16 JENIS,
SEHINGGA MENGHASILKAN 64 MACAM KESIMPULAN. SKEMA LENGKAP PROSES OPERASI
LOGIKA DUA PREPOSISI DWI NILAI DAPAT DILIHAT DALAM TABEL 1.
16
TABEL 1. KOMBINASI LENGKAP PROSES LOGIKA DENGAN DUA PROPOSISI DWI NILAI
p
q
S
A
B
C
D
E
F
G
1
1
1
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
1
0
1
0
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
1
0
1
1
1
0
0
0
0
1
0
1
1
0
0
1
0
0
1
0
0
1
0
1
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
O
X
M
L
K
J
I
H
p
q
17

DALAM PROSES LOGIKA BIASANYA AWALNYA DIMULAI DARI ADANYA PERMASALAHAN YANG
AKAN DIPECAHKAN ATAU AKAN DICARI JAWABANNYA. DALAM MENCARI JAWABAN DENGAN
MENGGUNAKAN LOGIKA TERSTRUKTUR, MAKA ADA DUA JENIS ALUR LOGIKA YANG DAPAT
DITEMPUH SESUAI DENGAN PROSEDUR LOGIKA PROPOSISI YANG TELAH DIURAIKAN
SEBELUMNYA, YAITU:
1. MENEMUKAN TERLEBIH DAHULU PERNYATAAN ATAU UNGKAPAN MANDIRI
YANG BERSESUAIAN DENGAN PERMASALAHAN YANG AKAN DIPECAHKAN,
SEBAGAI DASAR PENGAMBILAN KESIMPULAN.
2. MENGUMPULKAN DATA YANG BERSESUAIAN DENGAN PERMASALAHANNYA,
DAN APABILA DATANYA CUKUP KEMUDIAN DIRUMUSKAN KESIMPULANNYA
TERMASUK RUMUSAN PROPOSISINYA.
ALUR LOGIKA PERTAMA DISEBUT LOGIKA DEDUKSI, SEDANG ALUR LOGIKA KEDUA DISEBUT
LOGIKA INDUKSI. KEDUA JENIS LOGIKA TERSEBUT MERUPAKAN METODE BERFIKIR YANG
DIGUNAKAN UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, DAN AKAN DIBAHAS SECARA
LEBIH DETAIL SEBAGAI BERIKUT.
2.2.3.1. LOGIKA DEDUKSI.

CARA KERJA LOGIKA DEDUKSI DISEBUT SILOGISME, YAITU SUATU METODE PENGAMBILAN
KESIMPULAN DENGAN MENGHUBUNGKAN PERNYATAAN UMUM DENGAN PERNYATAAN
KHUSUS YANG BERADA DIDALAM LINGKUP PERNYATAAN UMUM. PERNYATAAN UMUM
TERSEBUT DISEBUT PREMIS MAYOR, SEDANG PERNYATAAN KHUSUS DISEBUT PREMIS
MINOR. CONTOH CARA KERJA SILOGISME:
PREMIS MAYOR : SEMUA MAKHLUK HIDUP
AKAN MATI
PREMIS MINOR : MANUSIA ADALAH MAKHLUK HIDUP
KESIMPULAN
: MANUSIA PASTI MATI
18

APABILA DIAMATI, MAKA CARA KERJA SILOGISME ADALAH PELAKSANAAN DARI LOGIKA
PROPOSISI. DENGAN DEMIKIAN AKAN TERDAPAT 16 KEMUNGKINAN JENIS HUBUNGAN
LOGIS DALAM LOGIKA DEDUKSI. NAMUN DEMIKIAN, HANYA BEBERAPA JENIS SILOGISME
YANG SERING DIGUNAKAN DALAM PROSES LOGIKA.
MENURUT POLA HUBUNGAN LOGIS YANG ADA DALAM PREMIS MAYOR, ADA DUA JENIS
SILOGISME, YAITU:
1. SILOGISME KATEGORIS: HUBUNGAN LOGIS DALAM PREMIS MAYOR SIFATNYA HANYA
MENEGASKAN ATAU MEMUNGKIRI PERNYATAAN AWALNYA. CONTOH
SEBELUMNYA YANG
MENYATAKAN BAHWA SEMUA MAKHLUK HIDUP AKAN MATI ADALAH SILOGISME
MENEGASKAN, SEDANG SILOGSIME MEMUNGKIRI MISALNYA:
ORANG YANG SUDAH MATI TIDAK DAPAT HIDUP LAGI
PAK MAMAT SUDAH MATI
MAKA PAK MAMAT TIDAK AKAN DAPAT HIDUP LAGI.
SILOGISME INI ADALAH LOGIKA PROPOSISI DENGAN JENIS OPERATOR J
KOMBINASI LENGKAP LOGIKA PROPOSISI PADA TABEL 1, DIMANA PAK MAMAT TIDAK
MUNGKIN BERSAMA-SAMA HIDUP ATAU MATI SEHINGGA YANG BENAR ADALAH SALAH SATU
ANTARA HIDUP ATAU MATI.
2. SILOGISME HIPOTETIS: HUBUNGAN LOGIS DALAM PREMIS MAYOR MERUPAKAN
PERNYATAAN YANG BERSYARAT YANG MERUPAKAN ALTERNATIF AKIBAT DARI
PERNYATAAN AWALNYA. TERDAPAT TIGA JENIS SILOGIME HIPOTETIS, YAITU:
A). SILOGISME KONDISIONAL: PREMIS MAYORNYA MERUPAKAN HUBUNGAN
BERSYARAT HUBUNGAN KAUSALITAS, SEBAGAI BERIKUT:
JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN, PASTI LULUS DENGAN BAIK
TONY BELAJAR DENGAN TEKUN
MAKA TONY AKAN LULUS DENGAN BAIK.
19

SILOGISME KONDISIONALTIDAK DAPAT MASUK KEDALAM SKEMA LENGKAP DALAM TABEL 1,
DAN AKAN DIBAHAS LEBIH LANJUT.
B). SILOGISME DISJUNKTIF: PREMIS MAYORNYA MERUPAKAN PERNYATAAN
DISJUNKTIF (MEMISAHKAN ATAU MEMBEDAKAN) MISALNYA:
TUKUL DAPAT MENJADI SEORANG PEKERJA YANG RAJIN, ATAU PEMALAS
TUKUL MENJADI PEKERJA YANG RAJIN
MAKA TUKULBUKAN SEORANG PEMALAS.
SILOGISME INI ADALAH LOGIKA PROPOSISI DENGAN JENIS OPERATOR D DARI
TABEL 1, DIMANA SEMUA KEMUNGKINAN BENAR, KECUALI KEMUNGKINAN
PAK MAMAT SEKALIGUS RAJIN DAN MALAS.
C). SILOGISME KONJUNKTIF: PREMIS MAYORNYA MERUPAKAN PERNYATAAN
YANG BERSIFAT MENAMBAHKAN DAN OPERATORNYA ADALAH FUNGSI
PERKALIAN DALAM ILMU HITUNG, MISALNYA:
BERMAIN CATUR HANYA DAPAT DILAKUKAN OLEH DUA ORANG PEMAIN.
HANYA ADA SATU ORANG PEMAIN CATUR
MAKA PERMAINAN CATUR TIDAK DAPAT DILAKUKAN.
SILOGISME KONJUNKSI ADALAH KEBALIKAN SILOGISME DISJUNKSI, DAN
MENGGUNAKAN OPERATOR K DARI TABEL 1, DIMANA SEMUA KEMUNGKINAN
SALAH, KECUALI KEMUNGKINAN ADA DUA ORANG PEMAIN CATUR.
LOGIKA DEDUKTIF BERDASARKAN SILOGISME HIPOTETIS KONDISIONAL BANYAK
DIGUNAKAN DALAM BAHASAN ILMU PENGETAHUAN. DALAM REALITAS KEHIDUPAN,
HUBUNGAN LOGIS ANTAR PERISTIWA SIFATNYA TIDAK MUTLAK DAN TERJADINYA
BERDASARKAN TEORI PROBABILITAS. CONTOH TENTANG MAHASISWA BELAJAR DENGAN
TEKUN AKAN LULUS DENGAN BAIK SEBELUMNYA, DAPAT DIPERLUAS MENJADI EMPAT
KEMUNGKINAN PADA HALAMAN BERIKUT INI.
20


1. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK
TONY BELAJAR DENGAN TEKUN
MAKA TONY AKAN LULUS DENGAN NILAI BAIK.
2. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK
TONY TIDAK PERNAH BELAJAR
MAKA TONY BISA LULUS ATAU BISA JUGA TIDAK LULUS.
3. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK
TONY LULUS DENGAN NILAI BAIK
MAKA TONY BELUM TENTU BELAJAR DENGAN TEKUN.
4. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK
TONY TIDAK LULUS UJIAN
KARENA TONY TIDAK BELAJAR DENGAN TEKUN.
DARI EMPAT KEMUNGKINAN LOGIS DIATAS TERNYATA HANYA BENTUK (1) DAN (4) SAJA
YANG DAPAT DIKATEGORISASIKAN SEBAGAI LOGIKA, KARENA MEMPUNYAI KESIMPULAN
YANG PASTI. BENTUK (2) DAN (3) BUKAN MERUPAKAN LOGIKA KARENA KESIMPULANNYA
TIDAK PASTI. BENTUK (2) TIDAK DAPAT DIAMBIL KESIMPULAN KARENA MAHASISWA YANG
TIDAK BELAJAR BISA SAJA LULUS DENGAN NILAI BAIK DENGAN BERBAGAI SEBAB MISALNYA
DIA CERDAS ATAU MEMANG PAS BISA MENGERJAKAN. SEDANG BENTUK (3) SEBALIKNYA
MAHASISWA YANG LULUS DENGAN NILAI BAIK BELUM TENTU KARENA BELAJAR TEKUN.
PERMASALAHAN DALAM VALIDITAS KEBENARAN LOGIKA DEDUKSI ADALAH PADA TINGKAT
KEBENARAN DARI PREMIS MAYOR YANG DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR PENARIKAN
KESIMPULAN. APABILA PREMIS MAYORNYA SALAH ATAU KURANG BENAR, MAKA
KESIMPULANNYA JUGA KURANG BENAR. SETIAP KEBENARAN SELALU MENGACU KEPADA
KEBENARAN SEBELUMNYA, SEHINGGA HARUS ADA TITIK AWAL KEBENARAN YANG TIDAK
MEMERLUKAN SEBAB LAGI. KEBENARAN AWAL INI DISEBUT SEBAGAI AKSIOMA.
21
2.2.3.2. LOGIKA INDUKSI.

LOGIKA INDUKSI MERUPAKAN KEBALIKAN DARI LOGIKA DEDUKSI YAITU PEMECAHAN
MASALAH DIMULAI DARI MENEMUKAN PERNYATAAN UMUM KEMUDIAN DITURUNKAN
KEPADA PERNYATAAN KHUSUS PEMECAHAN MASALAHNYA. PEMECAHAN MASALAH DALAM
LOGIKA INDUKSI DIMULAI DENGAN DATA-DATA SINGULIR UNTUK MERUMUSKAN
PERNATAAN UMUM SEBAGAI PATOKAN PEMECAHAN MASALAH.

CONTOH ALUR LOGIKA INDUKSI, MISALNYA TENTANG BAGAIMANA AGAR LULUS DENGAN
NILAI BAIK. ALUR BERFIKIRNYA DIMULAI DENGAN MENGUMPULKAN DATA PERILAKU
BELAJAR PARA MAHASISWA YANG LULUS DENGAN NILAI BAIK SEBAGAI BERIKUT:
1. MAHASISWA A BELAJAR TEKUN DAN LULUS DENGAN NILAI BAIK
2. MAHASISWA B BELAJAR TEKUN DAN LULUS DENGAN NILAI BAIK
3. MAHASISWA C BELAJAR TEKUN DAN LULUS DENGAN NILAI BAIK
DAN SETERUSNYA SAMPAI JUMLAHNYA CUKUP BANYAK, SEHINGGA KEMUDIAN DAPAT
DIAMBIL KESIMPULAN PERNYATAAN UMUMNYA, BAHWA: “APABILA MAHASISWA BELAJAR
DENGAN TEKUN, MAKA AKAN LULUS DENGAN NILAI BAIK”.

CONTOH DIATAS ADALAH LOGIKA INDUKSI SEDERHANA, NAMUN DEMIKIAN ADA
PERMASALAHAN TENTANG VALIDITASNYA YAITU SEBERAPA BANYAK DATA YANG HARUS
DIKUMPULKAN. DALAM REALITASNYA TIDAK MUNGKIN DAPAT DIKUMPULKAN DATA SECARA
LENGKAP. PADA PRINSIPNYA SEMAKIN BESAR DATA MAKA KESIMPULANNYA SEMAKIN
MENDEKATI KEBENARAN.

DALAM LOGIKA INDUKSI YANG LEBIH KOMPLEKS, MAKA PERMASALAHAN LAIN ADALAH
MENEMUKAN KONSEP AKAL SEHAT YANG SESUAI UNTUK MENYUSUN PERNYATAAN UMUM
DARI DATA YANG TERSEDIA. DIPERLUKAN DALIL UNTUK MENGINTERPRETASIKAN DATA,
SEHINGGA DIDAPAT RUMUSAN PERNYATAAN UMUM ATAU KESIMPULAN YANG BENAR.
22

FILSUF DAN AHLI LOGIKA INGGRIS, JOHN STUART MILL (1806-1973) MENGIDENTIFIKASIKAN BEBERAPA DALIL LOGIKA INDUKSI BERDASARKAN HUKUM LOGIKA SEBAB-AKIBAT DAN
SEBAB YANG DIDAPAT MEMENUHI PERSYARATAN PERLU DAN CUKUP.
1. METODE KESESUAIAN (METHOD OF AGREEMENT):
APABILA SUATU GEJALA a MUNCUL DALAM GEJALA AB DAN AC, MAKA A
ADALAH ALASAN YANG CUKUP BAGI GEJALA a. KESIMPULAN INI
MEMBUTUHKAN DUA PESYARATAN YAITU:
A. MEMANG ADA SEBAB ATAU ALASAN BAGI GEJALA a.
B. ALASAN ITU ADA PADA ABC.
CONTOH: GEJALA MABUK DISEBABKAN OLEH ALKOHOL DICAMPUR DENGAN
AIR ATAU ALKOHOL DICAMPUR DENGAN COCA COLA, SEHINGGA PENYEBAB
MABUK ADALAH ALKOHOL (BUKAN AIR ATAU COCA COLA).
2. METODE KETIDAK-SESUAIAN (METHOD OF DIS-AGREEMENT):
APABILA GEJALA a MENAMPAKKAN DIRI PADA ABC TETAPI TIDAK PADA BC,
MAKA A MERUPAKAN ALASAN YANG PERLU BAGI GEJALA a. KESIMPULAN INI
MEMBUTUHKAN DUA PERSYARATAN SEPERTI PADA DALIL KESESUAIAN.
CONTOH: RASA ASIN MUNCUL PADA SAYUR YANG MERUPAKAN CAMPURAN
GARAM, AIR DAN SAYURAN, KARENA CAMPURAN AIR DAN SAYURAN TIDAK
TERASA ASIN.
3. METODE GABUNGAN KESESUAIAN DENGAN KETIDAK-SESUAIAN:
GEJALA a MUNCUL DALAM GEJALA AB DAN AC TETAPI TIDAK PADA BC, MAKA A
MERUPAKAN ALASAN PERLU DAN CUKUP BAGI GEJALA a DENGAN DUA
PERSYARATAN SEPERTI DALIL SEBELUMNYA. CONTOH: a = LULUS UJIAN, A =
BELAJAR, B = REKREASI, DAN C = OLAHRAGA.
4. METODE RESIDU (METHOD OF RESIDUES):
GEJALA a MUNCUL PADA A, GEJALA b MUNCUL PADA B, GEJALA c MUNCUL
PADA C, DAN GEJALA abc MUNCUL PADA ABC; MAKA A ADALAH SYARAT PERLU
DAN CUKUP
23
•
•
BAGI a. VALIDITAS KEBENARAN INI MEMBUTUHKAN DUA PESYARATAN
SEPERTI SEBELUMNYA, DITAMBAH SATU PERSYARATAN LAGI YAITU SETIAP
GEJALA MERUPAKAN ALASAN BAGI SALAH SATU GEJALA LAIN. CONTOH: SETIAP
MALAM MINGGU TIGA ORANG MAHASISWA a, b, danc SELALU DATANG KE
ASRAMA PUTRI MENEMUI MAHASISWI A, B, DAN C.
DALAM REALITASNYA, LOGIKA INDUKSI MEMBUTUHKAN LEBIH BANYAK LAGI DALIL UNTUK
MENGINTERPRETASIKAN DATA, SEHINGGA DIDAPAT KESIMPULAN YANG AKURAT. KARENA
ITU KELEMAHAN LOGIKA INDUKSI ADALAH KESULITAN DALAM INTERPRETASI DATA, YAITU
MENEMUKAN DALIL YANG SESUAI. KEMUNGKINAN TERJADI KESALAHAN DALAM PERUMUSAN
KESIMPULAN LOGIKA INDUKSI CUKUP BESAR, KARENA KOMPLEKSNYA HUBUNGAN SEBABAKIBAT ANTAR VARIABELNYA. KELEMAHAN LAIN DARI LOGIKA INDUKSI ADALAH DALAM
LINGKUP PENGAMBILAN KESIMPULAN, YAITU KARENA LINGKUP DATA SELALU LEBIH SEMPIT
DARI LINGKUP KESIMPULANNYA. HAL INI MENGINDIKASIKAN ADANYA LOMPATAN PROSES
LOGIKA, SEHINGGA SEMENTARA AHLI LOGIKA MENYATAKAN BAHWA LOGIKA INDUKSI TIDAK
SAH. PADA PROSES PENGAMBILAN KESIMPULAN DALAM LOGIKA DEDUKSI, LINGKUP PREMIS
MINORNYA SELALU LEBIH SEMPIT DARIPADA LINGKUP PREMIS MAYORNYA SEHINGGA
TIDAK ADA LOMPATAN PROSES LOGIKA.
UNTUK MENJAMIN KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN, MAKA INTERPRETASI DATA
HASIL PENELITIAN DILAKUKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE STATISTIK. DALAM
METODE STATISTIK DIKEMBANGKAN BERBAGAI METODE PENARIKAN KESIMPULAN DARI
DATA YANG TERSEDIA SEPERTI: METODE SAMPLING, TEORI KORELASI, PROBABILITAS,
METODE UJI HIPOTESIS, DAN LAIN-LAIN.
RUMITNYA IMPLEMENTASI LOGIKA INDUKSI, DAPAT DIAMATI DALAM PRAKTEK PEKERJAAN
DI BIDANG KEDOKTERAN, PEKERJAAN KEPOLISIAN ATAU PROFESI DETEKTIF YANG MENCARI
KEBENARAN BERDASARKAN DATA PASIEN ATAU DATA DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP).
24
2.2.4. LOGIKA KEILMUAN.

TUJUAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ADALAH MENEMUKAN TEORI BARU BERUPA
PERNYATAAN ATAU UNGKAPAN KEBENARAN TENTANG REALITAS OBYEK YANG DITELITI.
BERDASARKAN ALUR BERFIKIRNYA, LOGIKA DEDUKSI TIDAK DAPAT MENEMUKAN
KEBENARAN BARU KARENA PROPOSISINYA ADALAH KEBENARAN YANG SUDAH TERBUKTI.
LOGIKA DEDUKSI HANYA DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH YANG SUDAH
PERNAH TERJADI SEBELUMNYA.

KESIMPULAN LOGIKA INDUKSI DIRUMUSKAN BERDASARKAN DATA YANG BERSESUAIAN
DENGAN PERMASALAHANNYA, SEHINGGA APABILA PERMASALAHANNYA BARU MAKA TEORI
YANG DIDAPAT ADALAH TEORI BARU. NAMUN SEPERTI TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA,
LOGIKA INDUKSI MEMPUNYAI PERMASALAHAN KARENA KOMPLEKSNYA PROSEDUR UNTUK
MENGINTERPRETASIKAN DATA DENGAN BENAR. KARENA ITU DALAM PENGEMBANGAN ILMU
PENGETAHUAN, UNTUK MENJAMIN VALIDITAS TEORINYA MAKA DIGUNAKAN KEDUA LOGIKA
TERSEBUT SECARA BERSAMA SAMA YANG DISEBUT JUGA SEBAGAI LOGIKA ILMIAH.

MEKANISME KERJA LOGIKA ILMIAH ADALAH LOGIKA DEDUKSI BERFUNGSI UNTUK ANALISIS
TEORITIS TERHADAP PERMASALAHAN YANG DITELITI YANG MENGHASILKAN HIPOTESIS.
SIFAT KEBENARAN HIPOTESIS ADALAH DUGAAN ATAU KEBENARAN SEMENTARA KARENA
BELUM ADA PROPOSISI YANG SECARA LANGSUNG MENJELASKAN PERMASALAHANNYA.
SELANJUTNYA HIPOTESIS DIBUKTIKAN DENGAN LOGIKA INDUKSI BERDASARKAN
INTREPRETASI DATA YANG DIKUMPULKAN. APABILA KESIMPULAN LOGIKA INDUKSI
MEMBENARKAN HIPOTESIS DEDUKTIF, MAKA KESIMPULAN TERSEBUT SUDAH MEMENUHI
PERSYARATAN SEBAGAI TEORI ILMIAH.

KARENA SIFAT KEBENARAN ILMIAH RELATIF, MAKA PROSES DEDUKSI-INDUKSI TERSEBUT
BERJALAN SECARA BERKESINAMBUNGAN DAN DALAM SETIAP TAHAP DEDUKSI-INDUKSI
SELALU DIHASILKAN TEORI BARU YANG MENYEMPURNAKAN TEORI SEBELUMNYA, SEPERTI
DIPERLIHATKAN DALAM DIAGRAM BERIKUT.
25
PROSES KESINAMBUNGAN KEGIATAN RISET MERUPAKAN RANGKAIAN DARI KEGIATAN
RISETYANG TERPISAH. SETIAP SATU KALI KEGIATAN RISET DIMULAI DARI ADANYA MASALAH
KEILMUAN SAMPAI DIPECAHKANNYA MASALAH TERSEBUT DENGAN METODE ILMIAH BERUPA
TEORI BARU, SEPERTI DITUNJUKKAN DALAM GAMBAR DIBAWAH.

GAMBAR 1. DIAGRAM METODE ILMIAH DAN SATU KALI KEGIATAN RISET
MASALAH
KEILMUAN
RISET
KHASANAH
TEORI
DATA
SATU KALI
KEGIATAN RISET
INDUKSI
TEORI BARU
DEDUKSI
RISET
MASALAH
BARU
HIPOTESIS
26


ALUR BERFIKIR MENURUT LOGIKA KEILMUAN MERUPAKAN IMPLEMENTASI DARI TEORI
KEBENARAN YANG SUDAH DIRUMUSKAN SEJAK ZAMAN YUNANI KUNO OLEH FILSUF
ARISTOTELES YANG MENGGABUNGKAN KEBENARAN RASIONAL DENGAN KEBENARAN
EMPIRIS. DALAM PERJALANAN IMPLEMENTASI TEORI KEBENARAN ARISTOTELES SELALU
TERJADI PERUBAHAN DALAM PENEKANANNYA, TERKADANG LEBIH MENEKANKAN PADA
RASIONALISME DAN TERKADANG LEBIH MENEKANKAN PADA EMPIRISME.
DALAM APLIKASI UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, WALAUPUN PENEKANAN
PADA RASIONALISME TETAP HARUS ADA VERIFIKASI EMPIRIS; DAN SEBALIKNYA
PENEKANAN EMPIRISME HARUS DAPAT DIJELASKAN DENGAN RASIO. APABILA HANYA
DITERIMA OLEH SALAH SATU JENIS LOGIKA SAJA, MAKA DAPAT DIKATAKAN BELUM
MEMENUHI KRITERIA KEBENARAN ILMIAH. CONTOH: PENGOBATAN ALTERNATIF WALAUPUN
BERHASIL TETAPI BELUM RASIONAL SEHINGGA BUKAN MERUPAKAN TEORI ILMIAH.
27
II. METODE ILMIAH.



SEPERTI TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA LOGIKA KEILMUAN TELAH DIRINTIS SEJAK ZAMAN
YUNANI KUNO OLEH ARISTOTELES SEKITAR ABAD KE 3 SM, DALAM USAHA MERUMUSKAN
KRITERIA KEBENARAN RASIONAL. KRITERIA KEBENARAN INI DIADOPSI MENJADI
KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN ATAU METODE ILMIAH, YANG TERUS DIGUNAKAN SAMPAI
SEKARANG.
KOMPONEN KEBENARAN ILMIAH ADALAH KAIDAH LOGIKA INDUKSI (EMPIRIS) DAN LOGIKA
DEDUKSI (TEORITIS), YANG DIAPLIKASIKAN UNTUK MENGUJI KEBENARAN TEORI ILMU
PENGETAHUAN SECARA BESAMA-SAMA.
DALAM IMPLEMENTASINYA, ALUR BERFIKIR MENURUT METODE ILMIAH DIMULAI DARI
PROSES PENGAMATAN EMPIRIS TERHADAP OBYEK YANG DITELITI, DILANJUTKAN
PERUMUSAN HIPOTESIS, PEMBUKTIAN HIPOTESIS, DAN TERKHIR PENYUSUNAN TEORI
ILMIAH SECARA DEDUKSI, SBB.
MASALAH/OBYEK
PENGAMATAN
INDUKSI-EMPIRIS

HIPOTESIS
DEDUKSI-TEORITIS
TEORI ILMIAH.
NAMUN DALAM PERKEMBANGANYA, ALUR BERFIKIR METODE ILMIAH DIBALIK DENGAN
MEMULAI PEMECAHAN MASALAH SECARA DEDUKTIF TERLEBIH DAHULU, KEMUDIAN BARU
DILAKUKAN PEMBUKTIAN INDUKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DATA EMPIRIS.
MASALAH
DEDUKSI-TEORITIS
PENGAMATAN EMPIRIS
INDUKSI
HIPOTESIS
TEORI ILMIAH.
28

APLIKASI METODE ILMIAH DENGAN ALUR TERBALIK MEMPUNYAI KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN. BEBERAPA KEUNTUNGAN YANG DAPAT DI
IDENTIFIKASIKAN ADALAH:
1. DAPAT DIHINDARI PENGGUNAAN KAIDAH LOGIKA TRIAL & ERROR PADA TAHAP
PENGAMATAN DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. DENGAN MENGGUNAKAN LOGIKA
DEDUKSI TERLEBIH DAHULU MAKA PERUMUSAN HIPOTESIS MENJADI TERARAH
KARENA KONSISTEN DENGAN TEORI SEBELUMNYA.
2. DENGAN SEMAKIN BANYAK TEORI ILMU PENGETAHUAN BARU, MAKA
SEMAKIN
LENGKAP PROPOSISI UNTUK LOGIKA DEDUKSI. DENGAN DEMIKIAN HIPOTESIS MENJADI
SEMAKIN RELEVAN DAN TERARAH, SEHINGGA PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MENJADI
SEMAKIN CEPAT SEPERTI YANG DAPAT
KITA AMATI DALAM DUA ABAD TERAKHIR.
BEBERAPA KERUGIAN DARI ALUR METODE ILMIAH TERBALIK ADALAH:
1. MENIMBULKAN SIKAP INTELEKTUAL TERBALIK: ANGGAPAN BAHWA TEORI LEBIH
PENTING DARIPADA FAKTA EMPIRIS DALAM PEMECAHAN MASALAHNYA
SENDIRI.
SERING TERJADI TEORI DIPAKSAKAN UNTUK PEMECAHAN SUATU
MASALAH TANPA MELIHAT
FAKTA-FAKTA OBYEKTIF DARI KENYATAAN EMPIRIS.
2. ADANYA SIKAP CENDERUNG PUAS DENGAN HANYA MELAKSANAKAN KAJIAN TEORI
SAJA
DALAM MNYUSUN DESKRIPSI TERHADAP FAKTA EMPIRIS. PADAHAL KAJIAN
TEORI BARU
MERUPAKAN SETENGAH KEBENARAN, APABILA DITINJAU BAHWA
KEBENARAN ILMIAH
TERDIRI DARI KOMPONEN KAJIAN DEDUKSI DAN
PENGAMATAN / INDUKSI.
3. CENDERUNG TIMBUL KESOMBONGAN ILMUWAN SESUDAH MELAKUKAN
KAJIAN TEORITIS DAN MENGANGGAP PERMASALAHAN TELAH SELESAI.
29



KAJIAN TEORITIS-DEDUKTIF LEBIH MUDAH DAN SEDERHANA DIBANDINGKAN KEGIATAN
EMPIRIS-INDUKTIF, KARENA DAPAT DILAKSANAKAN DENGAN MENGGUNAKAN SUMBER
REFERENSI TEORITIS SAJA. SEBALIKNYA KAJIAN INDUKTIF-EMPIRIS LEBIH SULIT DAN
TERKESAN MERUPAKAN PEKERJAAN KASAR, KARENA LANGSUNG TERJUN KE LAPANGAN
DENGAN BERBAGAI PERMASALAHAN NYATA YANG KOMPLEKS.
LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DITEMPUH DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN,
LEBIH BANYAK DARI YANG DITUNJUKKAN DALAM DIAGRAM LINIER TERSEBUT. LANGKAHLANGKAH KEGIATAN PENELITIAN DIANTARANYA MELIPUTI: IDENTIFIKASI DAN ANALISIS
MASALAH, PENCARIAN SUMBER PUSTAKA, STUDI PUSTAKA, PERUMUSAN HIPOTESIS, RENCANA
PENGUMPULAN DATA ANALISIS DATA UNTUK PEMBUKTIAN HIPOTESIS, KEGIATAN PUBLIKASI
DAN SEMINAR, DLL..
ALUR METODE ILMIAH SECARA LENGKAP MELIPUTI JUGA LANGKAH CYCLIS DALAM KEGIATAN
PENELITIAN, SEPERTI DAPAT DILIHAT PADA DIAGRAM ALUR METODE ILMIAH UNTUK
PENELITIAPADA HALAMAN BERIKUT.
30
ALUR METODE ILMIAH UNTUK KEGIATAN PENELITIAN.
MASALAH
KEILMUAN
TEORI,
BAHAN PUSTAKA
DEDUKSI
HIPOTESIS
DATA EMPIRIS
DITOLAK
INDUKSI
VERIFIKASI HIPOTESIS
MASALAH
BARU
DITERIMA
PEMBAHASAN DAN
INTERORETASI HASIL
TEORI BARU
TEKNOLOGI
APLIKASI / /iNDUSTRI
KONSUNEN / MASYARAKAT
31

ALUR METODE ILMIAH SEPERTI TERLIHAT DALAM DIAGRAM DIATAS MENYEBABKAN ILMU
PENGETAHUAN TERUS BERKEMBANG SEMAKIN CEPAT, DENGAN KARAKTERISTIK PNGEMBANGAN
SEBAGAI BERIKUT:
1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PENELITIAN KONSISTEN MENGIKUTI ALUR
METODE
ILMIAH TERBALIK, DIMULAI LOGIKA DEDUKSI KEMUDIAN INDUKSI.
2. PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN TERUS BERLANGSUNG SECARA SIKLUS,
DAN ADA TIGA ALUR SIKLUS DALAM KEGIATAN PENELITIAN YAITU:
- SIKLUS KECIL, YAITU APABILA HIPOTESIS DITOLAK
- SIKLUS BESAR KE ARAH KIRI, YAITU SESUDAH PENEMUAN TEORI BARU
SELALU TIMBUL MASALAH BARU YANG MENJADI TOPIK SELANJUTNYA.
- SIKLUS BESAR KE ARAH KANAN, YAITU TEORI BARU MENAMBAH KASANAH
TEORI BARU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI REFERENSI ANALISIS DEDUKSI
TEORI DALAM PENELITIAN SELANJUTNYA
3. KEBENARAN ILMIAH BERSIFAT KONSISTEN, KOHEREN, PRAGMATIS, OBYEKTIF,
RELATIF, DAN BERLAKU UMUM / UNIVERSAL.
4. TARAF KEBENARAN ILMIAH TIDAK ABSOLUT, TETAPI RELATIF, DAN TERUS
DISEMPURNAKAN SECARA BERTAHAP SECARA GRADUAL.
5. TEORI ILMU PENGETAHUAN TERUS BERTAMBAH SECARA AKUMULATIF DAN
SELALU ADA
PROSES KOREKTIF
6. ADA UNSUR KOMUNIKASI DAN KOREKSI ANTAR ILMUWAN DALAM SEMUA TAHAP
PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN, DALAM BERBGAI BENTUK SEPERTI:
SEMINAR,
ARTIKELJURNAL, KOMUNIKASI LANGSUNG ANTAR ILMUWAN DLL.
7. ILMU PENGETAHUAN MERUPAKAN HASIL KERJA KELOMPOK, YAITU PARA
ILMUWAN,
PRAKTISI, MAUPUN MASYARAKAT.
32

•
•

DALAM SIKLUS KECIL YAITU APABILA HIPOTESIS DITOLAK OLEH ANALISIS INDUKSI, TIDAK
BERARTI BAHWA KEGIATAN PENELITIAN GAGAL. APABILA SEMUA TAHAPAN PENELITIAN
TELAH DILAKSANAKAN DENGAN BENAR, MAKA HIPOTESIS DITOLAK KARENA PERMASALAHAN
YANG DITELITI MASIH RUMIT DAN BELUM BANYAK TEORI YANG MENJELASKANNYA. CONTOH
KASUS SEPERTI INI MISALNYA MASALAH ILMU KEDOKTERAN SEPERTI PENYAKIT KANKER,
DIMANA BELUM ADA PENJELASAN TEORI YANG MEMADAI TENTANG PROSES TUMUHNYA SEL
KANKER.
SIKLUS BESAR KE ARAH KIRI, MENUNJUKKAN SIFAT KEBENARAN ILMIAH YANG SELALU
DAPAT DISEMPURNAKAN. PADA BAGIAN AKHIR LAPORAN PENELITIAN PAPARAN
KESIMPULAN PENELITIAN SELALU DIIKUTI OLEH SARAN-SARAN YANG DIDAPAT DARI
BAGIAN PEMBAHASAN SESUDAH PEMBUKTIAN HIPOTESIS.
SIKLUS BESAR KEARAH KANAN MENUNJUKKAN KAITAN DAN KESINAMBUNGAN PROSES
LOGIKA DEDUKSI DAN INDUKSI, DIMANA TEORI HASIL INDUKSI MENJADI SALAH SATU
REFERENSI ATAU PREMIS MAYOR DALAM LOGIKA DEDUKSI. SATU KEGIATAN PENELITIAN
ADALAH IMPLEMENTASI SATU KALI DEDUKSI DAN SATU KALI INDUKSI
IMPLIKASI DARI BERBAGAI KARAKTERISTIK KEGIATAN PENELITIAN TERSEBUT,
MENYEBABKAN BEBERAPA KARAKTERISTIK UMUM DARI ILMU PENGETAHUAN DAN
PENGEMBANGANNYA SEBAGAI BERIKUT:
1. MENITI KEBENARAN ILMIAH, SEOLAH MENAIKI TANGGA-TANGGA KEBENARAN
MENUJU YANG LEBIH SEMPURNA.
2. KARENA SIFATNYA YANG RELATIF MAKA KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN
DAPAT DISEFINISIKAN SEBAGAI:
“SUATU TEORI DIANGGAP BENAR SEPANJANG BELUM ADA TEORI LAIN YANG
MEMBUKTIKANNYA SALAH”.
33
3.
BAGI KOMUNITAS ILMUWAN TEMUAN TEORI BARU YANG DIPUBLIKASIKAN
OUT OF DATE, KARENA MEREKA SUDAH LANGSUNG MELAKUKAN
SUDAH
PENELITIAN BARU
UNTUK MEMPERBAIKINYA.
4. PROSES KEGIATAN ILMIAH SELALU DILAKSANAKAN SECARA TERBUKA
/TRANSPARAN, KARENA ILMU PENGETAHUAN BERSIFAT UNIVERSAL.
5. SARANA UTAMA YANG DIPERLUKAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
ADALAH: PERPUSTAKAAN YANG BERISI KUMPULAN
DOKUMEN TEORI ILMIAH
SEBAGAI SARANA LOGIKA DEDUKSI DAN LABORATORIUM UNTUK
MENDAPATKAN DATA
BAGI LOGIKA INDUKSI.
34
III. JENIS - JENIS PENELITIAN



SEMUA KEGIATAN PENELITIAN DILAKUKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ILMIAH DAN
MENGIKUTI ALUR YANG TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA. TETAPI DALAM PELAKSANAANNYA
TERDAPAT BANYAK JENIS PENELITIAN KARENA BEBERAPA HAL SEBAGAI BERIKUT:
1. PERBEDAAN TUJUAN PENELITIAN
2. PERBEDAAN CARA PENDEKATANNYA
3. PERBEDAAN DALAM LINGKUP DISIPLIN KEILMUANNYA
MENURUT TUJUAN PENELITIANNYA, TERDAPAT DUA JENIS PENELITIAN:
1. PENELITIAN DASAR: YAITU PENELITIAN YANG BERTUJUAN UNTUK MENGEMBANGKAN
TEORI DASAR, SEBAGAI PENJELASAN TERHADAP FENOMENA YANG DITELITI. PENELITIAN
DALAM ILMU FISIKA, KIMIA MURNI,
ATAU SOSIOLOGI DAPAT DIKATEGORIKAN DALAM
PENELITIAN DASAR.
2. PENELITIAN TERAPAN: YAITU PENELITIAN YANG BERTUJUAN UNTUK
MANFAAT
PRAKTIS, SEPERTI PEMECAHAN MASALAH, PENGEMBANGAN METODE APLIKASI,
PENGEMBANGAN DESAIN DLL. PENELITIAN BIDANG
TEKNOLOGI, EKONOMI,
PERTANIAN, KEDOKTERAN DLL. TERMASUK DALAM
PENELITIAN TERAPAN.
MENURUT PERBEDAAN CARA PENDEKATANNYA, YAITU METODE UNTUK MENCAPAI TUJUAN
ILMIAH, ADA EMPAT JENIS PENELITIAN:
1. PENELITIAN QUALITATIF: YAITU PENELITIAN YANG MENGGUNAKAN
PENGALAMAN SEBAGAI DASAR ANALISIS PENYUSUNAN TEORI, DAN
DIGUNAKAN PADA PENELITIAN DALAM BERBAGAI CABANG ILMU SOSIAL.
METODENYA ADALAH ANALISIS TERHADAP SUBSTANSI DAN NARASI DALAM USAHA
INTERPRETASI DARI DATA YANG BERUPA DATA QUALITATIF. DALAM
PENELITIAN
QUALITATIF TIDAK ADA UJI QUANTITATIF TERHADAP
KESIMPULAN
YANG
DIDAPAT.
35
2.
PENELITIAN QUANTITATIF: YAITU PENELITIAN YANG MENDASARKAN
PERUMUSAN TEORINYA PADA SIFAT DAN HUBUNGAN ANTAR FENOMENA
QUANTITATIF DARI OBYEKNYA. JENIS PENELITIAN INI DIGUNAKAN DALAM ILMU
ALAM, SEPERTI FISIKA DAN BIOLOGI, KARENA OBYEKNYA ADALAH
FISIK SEHINGGA
MUDAH DIKUANTIFIKASIKAN. NAMUN ILMU-ILMU SOSIAL
JUGA MENGADOPSI JENIS
PENELITIAN INI, DENGAN MENCIPTAKAN
INTRUMEN PENGUKUR DARI VARIABELVARIABELNYA. KARENA DATANYA
KUANTITATIF, MAKA PENYUSUNAN KESIMPULANNYA
DAPAT MENGGUNAKAN
ANALISIS STATISTIK.
PERANAN INSTRUMEN PENGUKURAN SANGAT PENTING DALAM PENELITIAN
KUANTITATIF, KARENA PENGUKURAN YANG TIDAK AKURAT MENGHASILKAN
KESIMPULAN YANG KURANG AKURAT PULA. HASIL PENGUKURAN DAPAT
JUGA
MENUNJUKKAN PENYIMPANGAN TERHADAP SIFAT GENERALITAS
ATAU KETERATURAN
DARI SIFAT OBYEK, YANG DISEBUT SEBAGAI ANOMALI.
TENTANG PENTINGNYA DATA
KUANTITATIF, THOMAS KUHN MENYATAKAN
SEBAGAI BERIKUT:
“When measurement departs from theory, it is likely to yield mere numbers,
and their very neutrality makes them particularly sterile as a source of
remedial suggestions. But numbers register the departure from theory with an
authority and finesse that no qualitative technique can duplicate, and the
departure is often enough to start a search”.
DALAM PENGMPULAN DATA KUATITATIF MELIBATKAN PULA ANALISIS
STATISTIK
UNTUK PENENTUAN SAMPEL, APABILA JUMLAH POPULASINYA
BESAR YANG
UMUMNYA TERJADI PADA PENELITIAN SOSIAL.
36
3.
•
PENELITIAN KOMPARATIF: ADALAH GABUNGAN ANTARA PENELITIAN
QUALITATIF DENGAN PENELITIAN QUANTITATIF. DENGAN PENGGABUNGAN INI
DIHARAPKAN DIDAPATKAN TEORI YANG LEBIH KUAT TINGKAT
KEBENARANNYA.
KEUNTUNGAN PENGGABUNGAN INI ADALAH:
- ANALISIS QUALITATIF DIGUNAKAN UNTUK PERUMUSAN HIPOTESIS, YANG
DAPAT MEMBERIKAN ARAH KEPADA UJI KUANTITATIF UNTUK VERIFIKASINYA.
- ANALISIS KUANTITATIF DISAMPING BERFUNGSI UNTUK MENGUJI
HIPOTESIS JUGA AKAN MEMBERIKAN INFORMASI EMPIRIS UNTUK LEBIH
MENJELASKAN FENOMENA OBYEK YANG DITELITI.
OPERASIONALISASI METODE ILMIAH DALAM DIAGRAM ALUR PROSES
PELAKSANAAN PENELITIAN YANG TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA ADALAH
JENIS
PENELITIAN KOMPARATIF. NAMUN TIDAK SEMUA PEMASALAHAN
KEILMUAN DAPAT
MENGGUNAKAN JENIS PENELITIAN KOMPRARATIF.
4. PENELITIAN REKAYASA: ADALAH PENELITIAN YANG DIGUNAKAN DALAM
BIDANG
REKAYASA TEKNOLOGI. TUJUAN PENELITIAN BUKAN UNTUK MENGHASILKAN TEORI BARU,
NAMUN UNTUK REKAYASA MEKANISME,
PRODUK, ATAU METODE BARU DENGAN
MENGGUNAKAN TEORI YANG
SUDAH ADA.
ADA BANYAK JENIS PENELITIAN MENURUT DISIPLIN KEILMUANNYA, MISALNYA.
1. PENELITIAN SOSIAL
2. PENELITIAN PSIKHOLOGI
3. PENELITIAN PENDIDIKAN
4. PENELITIAN KEDOKTERAN
5. PENELITIAN FISIKA
6. PENELITIAN REKAYASA TEKNOLOGI, DAN LAIN-LAIN.
37
•


KLASIFIKASI DIATAS DIBUAT KARENA ADANYA PERBEDAAN DALAM BERBAGAI ASPEK PADA
MASING-MASING DISIPLIN KEILMUAN, SEPERTI SIFAT OBYEK DAN TUJUAN PENELITIAN
SEHINGGA MENYEBABKAN PERBEDAAN METODOLOGINYA.
JENIS PENELITIAN YANG BANYAK DILAKUKAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
SELAMA INI DAPAT DIIDENTIFIKASIKAN SEBAGAI BERIKUT:
1. PENELITIAN HISTORIS
2. PENELITIAN DESKRIPTIF
3. PENELITIAN PERKEMBANGAN
4. PENELITIAN STUDI KASUS
5. PENELITIAN KORELASIONAL
6. PENELITIAN KAUSAL-KOMPARATIF
7. PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN
8. PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU.
9. PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH)
10. PENELITIAN REKAYASA.
PERUBAHAN PARADIGMA DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, SELALU MENIMBULKAN
CARA PENDEKATAN BARU DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN YANG SELANJUTNYA
AKAN MENGHASILKAN JENIS PENELITIAN YANG BERBEDA.
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMPUTER DAN ELEKTRONIKA, JUGA MEMPENGARUHI
METODOLOGI DAN PELAKSANAAN PENELITIAN, MISALNYA: PENGGUNAAN SIMULASI, PROSES
PENGAMBILAN DATA YANG SEPENUHNYA MENGGUNAKAN PERANGKAT KOMPUTER,
PENELITIAN JARAK JAUH, DLL..
38
3.1. PENELITIAN HISTORIS.

TUJUAN PENELITIAN: MENYUSUN REKONSTRUKSI MASA LAMPAU SECARA SISTEMATIS DAN
OBYEKTIF. METODENYA DENGAN MENGUMPULKAN, MENGEVALUASI, MEMVERIFIKASI, DAN
MENSINTESISKAN DATA DAN BUKTI-BUKTI PENINGGALAN MASA LAMPAU YANG DITEMUKAN.
TUJUAN PENELITIAN HISTORIS SELAIN REKONSTRUKSI, ADALAH UNTUK IDENTIFIKASI,
ATAU PEMECAHAN MASALAH MASA KINI YANG BERHUBUNGAN DENGAN SEJARAH MASA
LAMPAU. CONTOH: SEJARAH BANGSA, SEJARAH ANTHROPOLOGY, SEJARAH SENI, DLL..

CIRI-CIRI PENELITIAN HISTORIS:
1. BIASANYA TERGANTUNG KEPADA DATA HASIL OBSERVASI ORANG LAIN
(DATA
SEKUNDER), KARENA TIDAK MUNGKIN SEORANG PENELITI DAPAT
MENGUMPULKAN
SEMUA DATA SEJARAH SENDIRI (DATA PRIMER).
2. DATA HARUS DIUJI VALIDITAS INTERNAL DAN EKSTERNAL. UJI INTERNAL
UNTUK
MENGUJI KEASLIAN DATA, SEDANG UJI EKSTERNAL UNTUK MENGUJI
RELEVANSI DENGAN
TOPIK YANG DITELITI.
3. ANALISIS HARUS TERTIB, SISTEMATIS, DAN TUNTAS.
3.2. PENELITIAN DESKRIPTIF.

TUJUAN PENELITIAN: MENCARI PENJELASAN ATAS SUATU FAKTA ATAU KEJADIAN YANG
SEDANG TERJADI. CONTOH: SURVAI PENDAPAT UMUM; SURVAI TENTANG BERBAGAI
PERMASALAHAN BIDANG EKONOMI, SOSIAL, HUKUM, POLITIK; SURVAI UNTUK MENEMUKAN
SEBAB-SEBAB SUATU KEJADIAN MISALNYA: KELAPARAN, PEMOGOKAN, KERUSUHAN, DAN
KRIMINALITAS. KARENA ITU PENELITIAN DESKRIPTIF SERING DISEBUT PENELITIAN
SURVAI.
39

CIRI-CIRI PENELITIAN DESKRIPTIF:
1. TIDAK PERLU ADA HIPOTESIS.
2. TUJUAN UTAMA UNTUK MEMBERIKAN PENJELASAN OBYEKTIF, JUSTIFIKASI,
KOMPARASI, DAN EVALUASI SEBAGAI BAHAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
YANG BERWENANG.
BAGI
3.3. PENELITIAN PERKEMBANGAN (DEVELOPMENT RESEARCH).

TUJUAN PENELITIAN: MENELITI PERKEMBANGAN ATAU PERUBAHAN SEBAGAI FUNGSI
WAKTU ATAS SUATU PROSES YANG DITELITI. CONTOH: PERKEMBANGAN PHISIK ANAK
BALITA, PERKEMBANGAN ANAK TERBELAKANG, DAN PERKEMBANGAN DALAM BERBAGAI
ASPEK BIDANG EKONOMI.

CIRI-CIRI PENELITIAN PERKEMBANGAN:
1. PENELITIAN MEMERLUKAN WAKTU YANG LAMA
2. BIASANYA MENELITI PADA ASPEK ATAU VARIABEL TERTENTU.
3. SERING DIGUNAKAN UNTUK PERAMALAN DI MASA YANG AKAN DATANG
(EDUCATED GUESS).
3.4. PENELITIAN STUDI KASUS.

TUJUAN PENELITIAN: MEMPELAJARI SECARA INTENSIF TENTANG SUATU KEADAAN ATAU
PERISTIWA YANG SEDANG BERLANGSUNG. PENELITIAN INI SERING DISEBUT JUGA
PENELITIAN LAPANGAN, KARENA MEMUSATKAN PERHATIAN PADA KEJADIAN ATAU KASUS
TERTENTU. CONTOH: STUDI KASUS KEBUDAYAAN DI SUATU KOTA METROPOLITAN, STUDI
KASUS ANAK-ANAK LEMAH MENTAL, STUDI KEBUDAYAAN SUKU TERPENCIL, DLL..
40


CIRI-CIRI PENELITIAN STUDI KASUS:
1. DIKONSENTRASIKAN KEPADA SATU KELOMPOK OBYEK.
2. JUMLAH SAMPEL YANG DITELITI SEDIKIT TETAPI VARIABELNYA BANYAK;
SEDANG
PADA PENELITIAN PADA PENELITIAN DESKRIPTIF JUMLAH SAMPELNYA BESAR TETAPI
VARIABELNYA SEDIKIT.
KESIMPULANNYA BELUM TENTU DAPAT BERLAKU UMUM.
3.5. PENELITIAN KORELASIONAL.

TUJUAN PENELITIAN: MENELITI PENGARUH PERUBAHAN SUATU FAKTOR BERKAITAN DENGAN
PERUBAHAN SATU ATAU LEBIH FAKTOR YANG LAIN. KUAT ATAU LEMAHNYA HUBUNGAN
ANTAR FAKTOR TERSEBUT DIUKUR BERDASARKAN PARAMETER KOEFISIEN KORELASI.
CONTOH: HUBUNGAN ANTARA SKOR TEST UMPTN DENGAN IPK SESUDAH MAHASISWA,
HUBUNGAN ANTARA IQ DENGAN KEBERHASILAN STUDI, HUBUNGAN ANTAR EQ PENGEMUDI
DENGAN KECELAKAAN LALU-LINTAS, DLL..

CIRI-CIRI PENELITIAN KORELASIONAL:
1. HUBUNGAN ANTAR VARIABEL DALAM PROSES YANG DITELITI RUMIT,
SEHINGGA
SULIT DILAKUKAN PENELITIAN EKSPERIMEN.
2. YANG DITELITI KEERATAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL.
3. SIFAT PENELITIAN KURANG EKSAK, KARENA PENGARUH ANTAR VARIABEL
SULIT
DITERANGKAN.
41
3.6. PENELITIAN KAUSAL-KOMPARATIF

TUJUAN PENELITIAN: MENELITI SEBAB-SEBAB SUATU PROSES ATAU KEJADIAN, DENGAN
MENGAMATI AKIBAT YANG TERJADI. AKIBAT KEJADIAN DIIDENTIFIKASIKAN DENGAN
MENGUMPULKAN DATA YANG RELEVAN. CONTOH: PENELITIAN TENTANG CIRI PRIBADI YANG
SERING MENYEBABKAN KECELAKAAN LAU-LINTAS, DENGAN DATA DARI KEPOLISIAN ATAU
ASURANSI; PENELITIAN TENATANG UMUR TERBAIK MASUK SEKOLAH DASAR, DENGAN
MENELITI DATA PRESTASI MURID KLAS VI; DLL.

CIRI-CIRI:
- DATA PENELITIAN SUDAH TERSEDIA (DATA SEKUNDER).
- BIASANYA METODE EKSPERIMEN TIDAK DAPAT DILAKUKAN PADA JENIS
PENELITIAN INI.
3.7. PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN (TRUE EXPERIMENTAL RESEARCH).

TUJUAN PENELITIAN: MENELITI HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT ANTAR VARIABEL SUATU
PROSES, DENGAN MELAKUKAN TIRUAN TERHADAP PROSES YANG SEBENARNYA. PROSES
TIRUAN DAPAT DILAKUKAN PERSIS SEPERTI KEJADIAN SEBENARNYA, TETAPI SERING
DENGAN MEMUSATKAN KEPADA SATU ATAU LEBIH VARIABEL PROSES TERTENTU. VARIABEL
LAIN HARUS DIKONTROL SEHINGGA HANYA VARIABEL PENELITIAN YANG MEMBERIKAN
PENGARUH TERHADAP PERUBAHAN PROSES YANG TERJADI.
42
1.


CONTOH PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN: PENELITIAN TERHADAP PENGARUH
SUATU PROGRAM BARU (MISAL PENCEGAHAN PENGGUNAAN NARKOBA), TERHADAP
PERUBAHAN PERILAKU MURID SEKOLAH MENENGAH; PENELITIAN PENGARUH BAHAN ADITIF
BAHAN BAKAR, TERHADAP EFISIENSI MESIN KENDARAAN BERMOTOR, DLL..
CIRI-CIRI:
1. DIBUAT PERENCANAAN UNTUK PERLAKUAN TERHADAP VARIABEL-VARIABEL PROSES,
DAN KONDISI EKSPERIMEN SECARA KETAT.
2. KALAU PERLU DILAKUKAN PERBANDINGAN HASILNYA DENGAN PROSES
SEBENARNYA SEBAGAI KONTROL.
3. DITELITI INTERNAL VALIDITY: TINGKAT SIGNIFIKANSI PERBEDAANNYA.
4. DITELITI EKSTERNAL VALIDITY: PERBEDANNYA BERLAKU UMUM (SELURUH
POPULASI) ATAU TIDAK.
JENIS PENELITIAN INI SULIT DILAKUKAN PADA KELOMPOK ILMU SOSIAL, KARENA SIFAT
OBYEK (MANUSIA) SANGAT BERVARIASI DAN REAKSI TERHADAP PERLAKUAN PENELITIAN
SULIT DIPREDIKSI.
3.8. PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU (QUASI- EXPERIMENTAL RESEARCH).

TUJUAN PENELITIAN: SEPERTI PADA PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN, TETAPI
PROSES HUBUNGAN ANTAR VARIABEL KOMPLEKS SEHINGGA TIDAK DAPAT DILAKUKAN
EKSPERIMEN SEBENARNYA.

CONTOH: PENELITIAN SEBAB-AKIBAT DALAM BIDANG SOSIAL, KARENA REAKSI DAN
PERILAKU MANUSIA TIDAK DAPAT DIPREDIKSI DAN DIUKUR SECARA EKSAK DAN SELALU
BERUBAH MENURUT WAKTU DAN SITUASI.
43

CIRI-CIRI:
1. METODOLOGI PENELITIAN DIUSAHAKAN SEDEKAT MUNGKIN DENGAN
METODOLOGI PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN.
2. PADA TOPIK TERTENTU SULIT DIBEDAKAN ANTARA PENELITIAN
EKSPERIMENTAL
SUNGGUHAN DAN SEMU.
3.9. PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH)

TUJUAN PENELITIAN: MENGEMBANGKAN SUATU PROSEDUR BARU ATAU MEMECAHKAN
MASALAH DENGAN PENERAPAN LANGSUNG PADA PROSES DALAM KEADAAN SEBENARNYA.
CONTOH: METODE BARU DITERAPKAN DALAM KURSUS MENGEMUDI UNTUK PENCEGAHAN
KECELAKAAN; PROSEDUR MENANAM PADI BARU UNTUK PARA PETANI (BIMAS, INMAS),
PEMBERLAKUAN UNDANG-UNDANG ATAU PERATURAN KEPADA MASYARAKAT, DLL..

CIRI-CIRI:
1. CEPAT, PRAKTIS, DAN RELEVAN UNTUK PEMECAHAN MASALAH.
2. PROSEDURNYA FLEKSIBEL DAN ADAPTIF, DAPAT DILAKUKAN MODIFIKASI
APABILA
HASILNYA TIDAK SESUAI DENGAN PERENCANAANNYA.
3. TUJUANNYA SITUASIONAL, SEHINGGA SUMBANGANNYA TERHADAP
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN PERLU DILAKUKAN KAJIAN LEBIH
LANJUT.
44
3.10. PENELITIAN REKAYASA.

ILMU TEKNIK (ENGINERING) MERUPAKAN ILMU TERAPAN, DENGAN ILMU DASARNYA ILMU FISIKA.
ENGINERING ATAU SERING DITERJEMAHKAN MENJADI REKAYASA, DAPAT DIARTIKAN SEBAGAI:
PEMANFAATAN BERBAGAI TEORI FISIKA DAN TEORI DASAR TEKNIK YANG RELEVAN UNTUK
MENCIPTAKAN MEKANISME, PERALATAN, ATAU BANGUNAN UNTUK MEMBANTU BERBAGAI
AKTIVITAS MANUSIA ATAU MEMENUHI KEBUTUHANNYA.




KARENA ITU JENIS PENELITIAN REKAYASA BANYAK DILAKUKAN DALAM BIDANG ILMU TEKNIK,
DENGAN TUJUAN TERUS MEMPERBAIKI KINERJA DAN MEMPERLUAS LINGKUP APLIKASI DARI
PERALATAN ATAU BANGUNAN ENGINEERING.
ALUR PROSES PADA KEGIATAN REKAYASA KETEKNIKAN DITUJUKKAN DALAM GAMBAR HALAMAN
BERIKUT. DALAM ALUR TERSEBUT DITUNJUKKAN BAHWA KEGIATAN REKAYASA DIMULAI DARI
ADANYA KEBUTUHAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS ATAU PRODUKTIVITAS TERTENTU.
PENDORONG KEGIATN REKAYASA LAIN ADALAH PEMECAHAN MASALAH YANG SEDANG DIHADAPI,
MISALNYA MEMENANGKAN PERANG, ATAU KRISIS YANG MEBUTUHKAN PEMECAHAN TEKNOLOGI.
MELALUI RANGKAIAN KEGIATAN YANG CUKUP PANJANG, HASIL AKHIR DARI REKAYASA ADALAH
PRODUK TEKNOLOGI, YANG BIASANYA PRODUK KOMERSIAL.
PENELITIAN REKAYASA MELAKSANAKAN BAGIAN DARI RANGKAIAN KEGIATAN, YANG
MEMERLUKAN ANALISIS TEORI (DEDUKSI) DAN VERIFIKASI DATA (INDUKSI). SERING
DIGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER UNTUK VERIFIKASI, SEBELUM DI UJI INDUKSI.
45
ALUR PROSES PADA KEGIATAN REKAYASA KETEKNIKAN
KEBUTUHAN / MASALAH
VISI
MISI
TUJUAN
FILOSOFIS
INTEGRAL
GLOBAL
KINERJA TEKNIS
KINERJA EKONOMIS
LINGKUNGAN
SIMULASI
LABORATORIUM
UJI KINERJA TEKNIS
UJI LINGKUNGAN
EVALUASI EKONOMIS
KINERJA TEKNIS
KINERJA EKONOMIS
LINGKUNGAN
IDE-IDE / SOLUSI
BASIC DESIGN
DETAIL DESIGN
VERIFIKASI INDUKTIF
PROTOTYPE
PRODUK KOMERSIAL
46
III. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN
•
•
•
DALAM MENG-IMPLEMENTASIKAN METODE ILMIAH, LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN
HARUS TERRENCANA, SISTEMATIS, DAN EKSPLISIT.
NAMUN TIDAK DAPAT DIBUAT LANGKAH-LANGKAH YANG SAMA PADA SEMUA JENIS PENELITIAN,
KARENA PERBEDAAN TUJUAN, OBYEK, DAN PERMASALAHANNYA.
JENIS PENELITIAN YANG DAPAT MENG-IMPLEMENTASIKAN SECARA LENGKAP METODE ILMIAH
ADALAH PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. BIASANYA JENIS PENELITIAN YANG LAIN
BERUSAHA MENDEKATI METODE DAN LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMENTAL
SUNGGUHAN.
•
LANGKAH-LANGKAH UMUM YANG DILAKUKAN DALAM PELAKSANAAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL
SUNGGUHAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
1. IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DAN PERUMUSAN MASALAH.
2. PERUMUSAN JUDUL
3. STUDI PUSTAKA.
4. PERUMUSAN HIPOTESIS.
5. IDENTIFIKASI, KLASIFIKASI, DAN ANALISIS VARIABEL PENELITIAN.
6. PENENTUAN INTRUMEN PENGAMBIL DATA.
7. PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN.
8. PENENTUAN SAMPEL.
9. PENGUMPULAN DATA.
10. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA.
11. PEMBAHASAN DAN INTREPRETASI HASIL
12. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN.
47

DALAM KAITAN DENGAN OPERASIONALISASI METODE ILMIAH, LANGKAH KE-DUA SAMPAI
DENGAN KE-EMPAT ADALAH PELAKSANAAN LOGIKA BERFIKIR DEDUKSI, SEDANG LANGKAH
KE-LIMA SAMPAI DENGAN KESEMBILAN ADALAH PELAKSANAAN LOGIKA BERFIKIR INDUKSI.
DUA LANGKAH TERAKHIR ADALAH PROSES MENUJU IMPLEMENTASI ILMU PENGETAHUAN.
3.1. IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DAN PERUMUSAN MASALAH.

MASALAH: TIMBUL KARENA ADANYA KESENJANGAN ANTARA YANG DIINGINKAN UNTUK
TERJADI DENGAN APA YANG MENJADI KENYATAAN TERJADI, YAITU ANTARA das Sollen
DENGAN das Sein.

KESENJANGAN DAPAT TERJADI PADA SEMUA ASPEK KEHIDUPAN, KARENA SIFAT MANUSIA
YANG TIDAK PERNAH PUAS DENGAN APA YANG DICAPAI. SIFAT TERSEBUT MUNGKIN
MEMANG MERUPAKAN KODRAD MANUSIA, YANG TERUS INGIN MENGEMBANGKAN DIRI
DALAM RANGKA PROSES AKTUALISASI DIRINYA (MENEMUKAN JATI DIRI-NYA?). PEMIKIRAN
FILSAFAT ADA YANG BERKESIMPULAN BAHWA MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG BELUM
SELESAI DAN AKAN TERUS BERPROSES SEPANJANG HIDUPNYA DI DUNIA.

MASALAH BIDANG TEKNOLOGI PRINSIPNYA BERHUBUNGAN DENGAN EMPAT KRITERIA:
1. KUALITAS
2. EFISIENSI
3. PRODUKTIVITAS
4. KINERJA EKONOMIS
5. PERLINDUNGAN LINGKUNGAN.
48

1.

KEGIATAN PENELITIAN BERUSAHA MENJEMBATANI KESENJANGAN ANTARA KEINGINAN
DENGAN KENYATAN TERSEBUT, DENGAN MENCIPTAKAN PROSEDUR ATAU TEORI BARU PADA
BIDANG YANG BERSANGKUTAN. CONTOH: MASALAH PENCEMARAN LINGKUNGAN AKIBAT
ASAP KENDARAAN BERMOTOR TIMBUL KARENA BELUM ADA TEKNOLOGI MESIN KENDARAAN
YANG BERSIH UNTUK MENGGANTIKAN TEKNOLOGI MOTOR BAKAR PENGGERAK KENDARAAN
BERMOTOR YANG MENGHASILKAN POLUSI.
IDENTIFIKASI MASALAH:
KALAU KITA AMATI MASALAH TERJADI DIMANA-MANA DENGAN JUMLAH CUKUP BANYAK.
KEMAMPUAN IDENTIFIKASI MASALAH TERGANTUNG KEPADA KEPEKAAN, DAN KEMAMPUAN
SESEORANG; DAN DIPERLUKAN LATIHAN. UNTUK MENEMUKAN MASALAH ILMU
PENGETAHUAN, BEBERAPA SARANA BERIKUT DAPAT MEMBANTU:
1. SUMBER PUSTAKA ILMIAH: JURNAL, THESIS, DISERTASI, INTERNET.
2. PERTEMUAN ILMIAH: SEMINAR, DISKUSI ILMIAH
3. PERNYATAAN ILMUWAN, ATAU PEMEGANG OTORITAS BIDANG YANG SESUAI.
4. PENGALAMAN, PENGALAMAN PRIBADI.
2. PEMILIHAN MASALAH:

TIDAK SEMUA MASALAH YANG DI IDENTIFIKASIKAN LAYAK UNTUK DIJADIKAN TOPIK
PENELITIAN. KRITERIA SUATU MASALAH ILMIAH LAYAK UNTUK DITELITI DAPAT DITINJAU
DARI ASPEK OBYEKTIF DAN ASPEK SUBYEKTIF.
49
ASPEK OBYEKTIF (DARI SIFAT MASALAHNYA):
- PENTINGNYA MASALAH: PENGEMBANGAN ILMU DAN / ATAU APLIKASINYA.
- BELUM PERNAH DITELITI SEBELUMNYA.
- MASALAHNYA DAPAT DITELITI DENGAN ILMU PENGETAHUAN YANG ADA.
ASPEK SUBYEKTIF (DARI SISI PENELITI):
- KESESUAIAN LATAR BELAKANG BIDANG ILMU DAN PENGALAMAN PENELITI,
- BIAYA, PERALATAN, DAN WAKTU YANG DIPERLUKAN TERJANGKAU.
3. PERUMUSAN MASALAH:

TUJUAN PERUMUSAN MASALAH UNTUK MEMBATASI DAN MEMPERJELAS MASALAH
PENELITIAN, SEHINGGA MEMBANTU PELAKSANAAN LANGKAH SELANJUTNYA. RUMUSAN
MASALAH YANG BAIK APABILA JELAS, DAN SESUAI DENGAN YANG AKAN DIBUKTIKAN DALAM
KEGIATAN PENELITIAN.
3.2. PERUMUSAN JUDUL

FUNGSI JUDUL PENELITIAN DIANTARANYA ADALAH:
1. MENUNJUKKAN GARIS-BESAR ISI DARI KESELURUHAN PENELITIAN.
2. RUMUSAN JUDUL MENJADI HAK PENELITI
3. SEBAGAI ACUAN BAGI PENELITI LAIN.

KARENA ITU JUDUL HARUS DIRUMUSKAN DENGAN JELAS DAN SPESIFIK, DAN MENGANDUNG
KONSEP-KONSEP UTAMA PENELITIAN.
50
SELAIN ITU JUDUL JUGA MENGANDUNG HUBUNGAN ANTAR VARIABEL YANG AKAN DITELITI,
SEPERTI PERBEDAAN, PENGARUH, ATAU KORELASI. NAMUN DEMIKIAN, RUMUSAN JUDUL
HARUS SINGKAT, BIASANYA TIDAK BOLEH LEBIH DARI DUAPULUH KATA. SEMENTARA
PENELITI LEBIH SUKA MERUMUSKAN JUDUL SESUDAH PENELITIAN SELESAI, KARENA TIDAK
ADA LAGI HAL YANG BELUM JELAS TENTANG ISI PENELITIAN.
3.3. STUDI PUSTAKA.

STUDI PUSTAKA MERUPAKAN LANGKAH KEGIATAN BERFIKIR DEDUKTIF YANG PENTING, DAN
BERTUJUAN UNTUK:
1. MELIHAT PERKEMBANGAN PENELITIAN YANG TELAH DILAKUKAN PADA TOPIK SEJENIS.
2. MEN-CHECK APAKAH MASALAH YANG AKAN DITELITI SUDAH PERNAH
DITELITI: ORISINALITAS TOPIK.
3. MENYUSUN DESKRIPSI DAN KERANGKA TEORITIS TERHADAP MASALAH YANG DITELITI,
SEBAGAI DASAR PERUMUSAN HIPOTESIS.

KEGIATAN STUDI PUSTAKA TERMASUK PENGUMPULAN SUMBER PUSTAKA, DAN SERING
MERUPAKAN YANG PALING LAMA DALAM PENELITIAN. SUMBER PUSTAKA PENELITIAN YANG
PALING PENTING ADALAH SUMBER PUSTAKA PRIMER, YAITU LAPORAN HASIL PENELITIAN
YANG BIASANYA DIMUAT DALAM: JURNAL ILMIAH, THESIS, DISERTASI, ATAU DALAM
SEMINAR ILMIAH. SUMBER PUSTAKA LAIN SEPERTI: BUKU TEKS, INTERNET, ENSIKLOPEDIA,
DLL., DAPAT MEMBANTU SEBAGAI TAMBAHAN INFORMASI. KRITERIA SUMBER PUSTAKA
YANG PENTING ADALAH:
1. RELEVANSINYA DENGAN MASALAH PENELITIAN
2. SIFAT UP TO DATE DARI BAHAN PUSTAKA.
51

DALAM STUDI PUSTAKA PERLU DIPERHATIKAN EFISIENSI KEGIATAN, SEPERTI KECEPATAN
MEBACA DAN PENCATATAN HAL-HAL PENTING SECARA SISTEMATIS. BIASANYA SEMAKIN
BANYAK SUMBER PUSTAKA YANG DIDAPAT SEMAKIN KOMPLEKS PROSES ANALISIS
PENYUSUNAN TEORINYA. DALAM KAJIAN PUSTAKA JUGA PERLU MULAI DIIDENTIFIKASIKAN
VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI MASALAH PENELITIAN.
3.4. PERUMUSAN HIPOTESIS.

HIPOTESIS ADALAH JAWABAN SEMENTARA TERHADAP MASALAH YANG DITELITI, DAN
MERUPAKAN HASIL AKHIR DARI KEGIATAN BERFIKIR DEDUKTIF. DARI SUDUT KEBENARAN
ILMIAH HIPOTESIS MASIH SETENGAH BENAR, KARENA MASIH TEORITIS YANG MASIH HARUS
DIBUKTIKAN SECARA EMPIRIS. KRITERIA RUMUSAN HIPOTESIS YANG BAIK ADALAH:
1. RUMUSAN HIPOTESIS MENYATAKAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL YANG
DITELITI.
2. HIPOTESIS DAPAT DIUJI KEBENARANNYA SECARA EMPIRIS.
3. RUMUSAN DALAM KALIMAT YANG PADAT DAN JELAS.

DALAM PENELITIAN BIDANG KETEKNIKAN SERING HIPOTESIS TIDAK PERLU DIRUMUSKAN,
KARENA MASALAHNYA SUDAH JELAS. MASALAH BIDANG KETEKNIKAN BIASANYA MENGACU
KEPADA LIMA KRITERIA TEKNOLOGI DIATAS, SEHINGGA MASALAH PENELITIAN ADALAH
MENINGKATKAN KINERJA PADA MASING-MASING KRITERIA TERSEBUT.

CONTOH: PENELITIAN DESAIN BARU IMPELER POMPA SENTRIFUGAL, PENELITIAN POTENSI
SUBER ENERGI ANGIN DI SUATU DAERAH, PENELITIAN KETERSEDIAAN SUMBER-DAYA ALAM;
DLL..
52
3.5. IDENTIFIKASI, ANALISIS, DAN KLASIFIKASI VARIABEL PENELITIAN.

VARIABEL PENELITIAN ADALAH SUATU KARAKTERISTIK YANG MEMPUNYAI DUA ATAU LEBIH
NILAI, ATAU SIFAT YANG BERDIRI SENDIRI. TUJUAN IDENTIFIKASI VARIABEL UNTUK
MENEMUKAN SEMUA KARAKTERISTIK YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA MASALAH
PENELITIAN.

SEMUA VARIABEL YANG DITEMUKAN KEMUDIAN DIANALISIS, UNTUK MENENTUKAN JENIS
PERAN DAN KUAT-LEMAHNYA PERAN MASING-MASING DALAM MASALAH PENELITIAN.
ANALISIS VARIABEL PENTING UNTUK DAPAT MEMBUAT RANCANGAN PENELITIAN. NAMUN
DALAM BANYAK MASALAH PENELITIAN SULIT UNTUK MENENTUKAN PERAN VARIABEL,
KARENA HUBUNGAN ANTAR VARIABEL KOMOLEKS.

FUNGSI VARIABEL DAPAT DIKLASIFIKASIKAN MENJADI DUA GOLONGAN YAITU: VARIABEL
BEBAS DAN VARIABEL TERGANTUNG. VARIABEL BEBAS ADALAH VARIABEL PENYEBAB,
SEDANG VARIABEL TERGANTUNG ADALAH HASIL ATAU AKIBAT YANG TERJADI. UMUMNYA
ADA BANYAK VARIABEL BEBAS, UNTUK MENGHASILKAN SATU VARIABEL TERGANTUNG.
HUBUNGAN ANTARA VARIABEL DALAM SUATU PROSES DIGAMBARKAN DALAM DIAGRAM
SEBAGAI BERIKUT:
VAR.
VAR.
VAR.
VAR.
PENELITIAN
MODERATOR
KONTROL
RAMBANG
PROSES PROSES
(INTERAKSI
VARIABEL)
(INTERAKSI
VARIABEL)
VARIABEL
TERGANTUNG
53


VARIABEL PENELITIAN ADALAH VARIABEL BEBAS YANG DIPILIH UNTUK DITELITI. VARIABEL
MODERATOR DAN VARIABEL KONTROL MEMPUNYAI PENGARUH SIGNIFIKAN TERHADAP PROSES,
TETAPI BUKAN VARIABEL PENELITIAN. CONTOH: VARIABEL MODERATOR ADALAH PEMBEDAAN
MOTOR BENSIN DAN MOTOR DIESEL, SEDANG CONTOH VARIABEL KONTROL ADALAH PEMAKAIAN
BENSIN YANG SAMA DALAM PENELITIAN PENGARUH BAHAN ADITIF BAHAN BAKAR. VARIABEL
RAMBANG PENGARUHNYA KECIL DAN DAPAT DIABAIKAN, MISALNYA PENGARUH TEMPERATUR
UDARA DALAM PENELITIAN BAHAN BAKAR.
VARIABEL PENELITIAN PERLU DIKATEGORIKAN LEBIH LANJUT UNTUK PERSIAPAN
PENGUMPULAN DATA. ADA EMPAT JENIS KATEGORI VARIABEL YAITU: VARIABEL NOMINAL,
VARIABEL ORDINAL, VARIABEL RATIO, DAN VARIABEL INTERVAL.
1. VARIABEL NOMINAL: DIKELOMPOKKAN DALAM SIFAT YANG SERUPA, TETAPI TIDAK
ADA HUBUNGAN SATU SAMA LAIN. MISALNYA: BAHAN BAKAR BENSIN DAN SOLAR,
PRIA WANITA, MACAM-MACAM SUKU BANGSA, DLL..
2. VARIABEL ORDINAL: DIKELOMPOKKAN DALAM SIFAT YANG SERUPA, TETAPI
MASINGMASING MEMPUNYAI HUBUNGAN GRADASI. MISALNYA: TINGKATAN KLAS
SEKOLAH;
KATEGORI LEMAH, SEDANG, DAN KUAT; DLL..
3. VARIABEL RATIO: ADALAH KUANTIFIKASI VARIABEL DENGAN CARA MEMBANDINGKAN
DENGAN UKURAN ATAU SATUAN YANG DISEPAKATI. MISALNYA:
UKURAN PANJANG,
UKURAN PANAS, UKURAN GAYA, DLL..
4. VARIABEL INTERVAL: MERUPAKAN PENGGOLONGAN LEBIH LANJUT VARIABEL ORDINAL,
UNTUK PERSIAPAN PENGOLAHAN DATA. HASIL PENGUKURAN DIBAGI MENJADI BEBERAPA
KELOMPOK, BERDASARKAN INTERVAL NILAI UKURAN
TERTENTU. SETIAP KELOMPOK
WALAUPUN NILAI ASLINYA TIDAK SAMA,
DIANGGAP MEMPUNYAI KARAKTERISTIK YANG
SAMA. CONTOH: PENGELOMPOKAN
NILAI DALAM IP, UMUR DALAM KATEGORI ANAK,
DEWASA, DAN MANULA;
PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DALAM MIKROHIDRO, MINIHIDRO,
DAN PLTA; DLL..
54

KEBANYAKAN VARIABEL BIDANG KETEKNIKAN DAPAT DIKATEGORIKAN DALAM VARIABEL
RATIO, TETAPI VARIABEL BIDANG SOSIAL SERING SULIT UNTUK DIKUANTIFIKAN.
MISALNYA: KEPUASAN PELANGGAN, UKURAN KECERDASAN, KEBENARAN KEPUTUSAN
PENGADILAN, DLL..
3.6. PENENTUAN INSTRUMEN PENGAMBIL DATA.

INSTRUMEN PENGAMBIL DATA SANGAT PENTING, KARENA VALIDITAS HASIL PENELITIAN
TERGANTUNG KEPADA KETELITIAN DATA. TIGA PERSYARATAN PENTING INSTRUMEN
PENGAMBIL DATA ADALAH: VALIDITAS, RELIABILITAS, DAN SENSITIVITAS PERALATAN.
VALIDITAS BERHUBUNGAN DENGAN KESESUAIAN DAN KETEPATAN UKURAN. RELIABILITAS
BERHUBUNGAN KONSISTENSI HASIL PENGUKURAN DALAM KONDISI YANG BERBEDA.
SENSITIVITAS ALAT BERHUBUNGAN DENGAN KETELITIAN DAN KECEPATAN ALAT UNTUK
MENGIKUTI PERUBAHAN.

UNTUK JENIS VARIABEL RATIO, BIASANYA INSTRUMEN PENGUKURNYA SUDAH TERSEDIA
DAN SIAP PAKAI. NAMUN UNTUK JENIS VARIABEL ORDINAL, INSTRUMEN SERING HARUS
DITENTUKAN OLEH PENELITI SENDIRI. PEMILIHAN JENIS INSTRUMEN JUGA TERGANTUNG
KEPADA KETELITIAN YANG DIPERLUKAN. MISALNYA: MENGUKUR DIMENSI CASING MESIN
TIDAK PERLU MENGGUNAKAN MOKROMETER.
3.7. PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN.

RANCANGAN PENELITIAN ADALAH RANCANGAN PERLAKUAN TERHADAP VARIABEL
PENELITIAN DALAM PROSES PENGUMPULAN DATA EMPIRIS, UNTUK PEMBUKTIAN
HIPOTESIS. YANG MEMBUTUHKAN RANCANGAN PENELITIAN SECARA DETIL ADALAH
PENELITIAN EKSPERIMEN, KARENA VARIABEL PENELITIANNYA DAPAT DIANALISIS DENGAN
AKURAT.
55

RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN TIDAK TERLALU RUMIT, KARENA
VARIABEL-NYA BIASANYA TIDAK BANYAK DAN PENGARUH DARI VARIABEL YANG TIDAK
DITELITI DAPAT DIKONTROL DENGAN BAIK. HAL INI BERLAKU DALAM SEMUA PENELITIAN
BIDANG KETEKNIKAN, TETAPI RANCANGAN EKSPERIMEN BIDANG PERTANIAN AGAK LEBIH
RUMIT KARENA ADANYA PENGARUH VARIABEL YANG SULIT DIKONTROL, SEPERTI: IKLIM,
KONDISI TANAH, MUTU BIBIT TANAMAN, DLL..
3.8. PENENTUAN SAMPEL.

SAMPEL ADALAH BAGIAN YANG DIAMBIL DARI POPULASI, YANG DIHARAPKAN MERUPAKAN
REPRESENTASI DARI POPULASI. POPULASI MERUPAKAN KESELURUHAN ANGGOTA YANG
MENJADI OBYEK ATAU SASARAN PENELITIAN.

TUJUAN PENENTUAN SAMPEL ADALAH UNTUK MENGHEMAT WAKTU, BIAYA, DAN TENAGA
DALAM PELAKSANAAN PENELITIAN, TERUTAMA APABILA JUMLAH POPULASINYA SANGAT
BESAR. BANYAK TEKNIK YANG DIKEMBANGKAN UNTUK PENGAMBILAN SAMPEL (SAMPLING),
DIANTARANYA: TEKNIK ACAK, TEKNIK SISTEMATIS, DAN TEKNIK NON-ACAK.

DALAM BIDANG KETEKNIKAN SERING TIDAK DIPERHATIKAN MASALAH PENENTUAN SAMPEL,
KARENA MENGANGGAP SIFAT POPULASI SELALU SERAGAM. MISALNYA: PENELITIAN MOTOR
BAKAR, MENGGUNAKAN MESIN YANG DIJADIKAN ALAT PENELITIAN DIAMBIL BEGITU SAJA
TANPA MEMPERHATIKAN KONDISINYA. SEHARUSNYA, KONDISI MESIN HARUS
DIPERHATIKAN, SESUAI DENGAN TUJUAN PENELITIANNYA.
3.9. PENGUMPULAN DATA.

DATA PENELITIAN DAPAT BERASAL DARI PENGUMPULAN OLEH PENELITI SENDIRI ATAU
DATA PRIMER, DAN DATA YANG DIKUMPULKAN OLEH PENELITI LAIN MELALUI BERBAGAI
SUMBER PUSTAKA ATAU DATA SEKUNDER.
56


DATA PRIMER DIDAPAT PADA WAKTU PELAKSANAAN RANCANGAN PENELITIAN, DI
LABORATORIUM ATAU DI LAPANGAN. ADA TIGA CARA YANG UMUM DILAKUKAN UNTUK
PENGUMPULAN DATA PRIMER YAITU: CARA PENGAMATAN, CARA PERTANYAAN, DAN CARA
PENGUKURAN. DALAM JENIS PENELITIAN EKSPERIMEN, SEMUA DATA DIDAPAT DARI HASIL
PENGUKURAN.
DATA PRIMER DAN DATA SEKUNDER, SEBELUM DIANALISIS LEBIH LANJUT HARUS DITELITI
TERLEBIH DAHULU KETELITIAN DAN VALIDITASNYA, SEBELUM DIOLAH LEBIH LANJUT.
3.10. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA.

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ADALAH IMPLEMENTASI DARI PROSES BERFIKIR
INDUKTIF, UNTUK MEMBUKTIKAN SECARA EMPIRIS HIPOTESIS YANG TELAH DIRUMUSKAN.
DALAM PENGOLAHAN DATA, BIASANYA DATA DISAJIKAN DALAM BENTUK TABEL ATAU GRAFIK
UNTUK MEMUDAHKAN INTERPRETASI. ANALISIS DATA BERTUJUAN UNTUK MEMBUKTIKAN
HIPOTESIS DENGAN MENGGUNAKAN METODE STATISTIK.
3.11. PEMBAHASAN DAN INTREPRETASI HASIL.

SESUDAH HIPOTESIS DIBUKTIKAN, TIDAK BERARTI PENELITIAN TELAH SELESAI. TUJUAN
PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI ADALAH UNTUK MEMBERIKAN ARTI KEPADA HASIL
PENELITIAN DALAM ASPEK-ASPEK:
1. SUMBANGAN HASIL PENELITIAN TERHADAP KHASANAH TEORI ILMU PENGETAHUAN.
2. SUMBANGAN HASIL PENELITIAN DALAM ASPEK APLIKASI.
3, KESIMPULAN PENTING YANG DIDAPAT.
4. KELEMAHAN DAN KEKURANGAN YANG DIJUMPAI, DAN SARAN-SARAN BAGI
PERBAIKAN.
57

KARENA ITU BAGIAN PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI HASIL PENELITIAN DIANGGAP
BAGIAN PALING PENTING YANG MENENTUKAN MUTU MUTU PENELITIAN, KARENA
MEMBERIKAN INFORMASI UNTUK PROSES KEILMUAN SELANJUTNYA. DENGAN ADANYA
KESIMPULAN DAN SARAN, BAGIAN INI SERING DIJADIKAN SUMBER INFORMASI UNTUK
MENDAPATKAN TOPIK PENELITIAN YANG BARU.
1.12. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN.


PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN MERUPAKAN TAHAP TERAKHIR DALAM KEGIATAN
PENELITIAN. BEBERAPA FUNGSI LAPORAN PENELITIAN DIANTARANYA:
1. SARANA KOMUNIKASI ILMIAH, KARENA LAPORAN DIPUBLIKASIKAN.
2. SEBAGAI LEGITIMASI HAK CIPTA ATAU PATEN BAGI PENELITI.
3. DOKUMEN AKHIR, SEBAGAI LAPORAN BAGI PEMBERI DANA PENELITIAN.
LAPORAN PENELITIAN BIASANYA DISUSUN MENURUT FORMAT TERTENTU, DENGAN TUJUAN
TERUTAMA UNTUK MEMUDAHKAN PEMAHAMAN BAGI YANG MEMANFAATKAN.
58
IV. PENELITIAN EKSPERIMENTAL.


TUJUAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL ADALAH UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN
TERHADAP PERMASALAHAN YANG DITELITI. PENJELASAN TERSEBUT BIASANYA DALAM
BENTUK HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT ANTAR VARIABELTERIKAT DAN VARIABEL BEBAS YANG
MEMPENGARUHI TEJADINYA PERMASALAHAN. BIASANYA DIPILIH SATU VARIABEL BEBAS
YANG DIPILIH UNTUK DITELITI PENGARUHNYA TERHADAP SATU ATAU LEBIH VARIABEL
TERIKAT.
BIASANYA TERDAPAT LEBIH DARI SATU VARIABEL BEBAS YANG BERPENGARUH, SEHINGGA
PERLU DISUSUN SUATU RANCANGAN PENELITIAN UNTUK MENJAMIN BAHWA PERUBAHAN
VARIABEL TERIKAT HANYA KARENA PENGARUH VARIABEL BEBAS YANG DITELITI.
4.1. KARAKTERISTIK PENELITIAN EKSPERIMENTAL.


PENELITIAN EKSPERIMENTAL MERUPAKAN JENIS PENELITIAN YANG DAPAT
MENGIMPLEMENTASIKAN SECARA LENGKAP SELURUH LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN
PENELITIAN YANG TELAH DIPAPARKAN DALAM BAB SEBELUMNYA. UNTUK DAPAT DITELITI
SECARA EKSPERIMEN MAKA DATA EMPIRIS HARUS DAPAT DIPILIH SECARA RANDOM,
SEHINGGA DAPAT DIJAMIN PENGARUH VARIABEL BEBAS YANG DITELITI TERPISAH DENGAN
VARIABEL BEBAS LAINNYA.
VALIDITAS PENELITIAN EKSPERIMENTAL DITENTUKAN OLEH TERPISAHNYA PENGARUH
VARIABEL PENELITIAN TERSEBUT, DAN KEMUNGKINAN BERCAMPURNYA PENGARUH
VARIABEL BEBAS DAN INKONSISTENSI PENGARUH ANTAR VARIABEL DISEBUT ANCAMAN
VALIDITAS PENELITIAN. TERDAPAT DUA JENIS ANCAMAN TERHADAP VALIDITAS
PENELITIAN, YAITU:
59
1.
2.


ANCAMAN VALIDITAS INTENAL.
JENIS ANCAMAN VALIDITAS INTERNALADALAH APABILA PERUBAHAN YANG TERJADI PADA
VARIABEL TERIKAT TIDAK HANYA DISEBABKAN OLEH MANIPULASI YANG DILAKUKAN
TERHADAP VARIABEL BEBAS. TERDAPAT BEBERAPA JENIS PENYEBAB TERJADINYA ANCAMAN
VALIDITAS INTERNAL, DIANTARANYA: MATURITY, SEJARAH, PENGARUH TESTING, DAN
MORTALITAS.
ANCAMAN VALIDITAS EKSTERNAL.
ADALAH JENIS ANCAMAN YANG TIDAK MENJAMIN BAHWA KESIMPULAN HASIL PENELITIAN
TIDAK DAPAT BERLAKU UMUM, DAN HANYA BERLAKU PADA KONDISI PADA WAKTU PROSES
EKSPERIMEN DILAKSANAKAN. BEBERAPA PENYEBAB TERJADINYA ANCAMAN VALIDITAS
EKSTERNAL ADALAH: SAMPLING ERROR, KESALAHAN RANCANGAN PENELITIAN, KESALAHAN
INSTRUMEN DAN PERALATAN PENELITIAN, DAN PENGARUH REAKSI SUBYEK YANG TIDAK
NORMAL.
ANCAMAN VALIDITAS PADA JENIS PENELITIAN ESKPERIMEN SUNGGUHAN LEBIH SEDIKIT
DIBANDINGKAN PADA JENIS PENELITIAN EKSPERIMEN SEMU. HAL INI KARENA DALAM
PENELTIAN EKSPERIMENTAL SEMU PENGAMBILAN SAMPEL TIDAK DAPAT DILAKSANAKAN
SECARA RANDOM, SEHINGGA DAPAT TERJADI KEDUA JENIS ANCAMAN VALIDITAS
PENELITIAN.
UNTUK DAPAT MENGURANGI TERJADINYA ANCAMAN VALIDITAS PENELITIAN MAKA HARUS
DIBUAT RANCANGAN PENELITIAN YANG DAPAT MENGONTROL PENGARUH VARIABEL BEBAS
YANG TIDAK DITELITI. SEMAKIN KOMPLEKS HUBUNGAN ANTAR VARIABEL DALAM PROSES /
PERMASALAHAN YANG DITELITI, MAKA DIBUTUHKAN RANCANGAN PENELITIAN YANG
SEMAKIN RUMIT DAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN SEMAKIN LAMA.
60
4.2. PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN.



SEBELUM DAPAT DISUSUN RANCANGAN PENELITIAN MAKA SEMUA VARIABEL YANG
MEMPENGARUHI PROSES ATAU PERMASALAHAN YANG DITELITI HARUS DIIDENTIFIKASIKAN.
KEMUDIAN DILAKUKAN ANALISIS TERHADAP SEMUA VARIABEL YANG MELIPUTI JENIS
VARIABEL, PERANAN MASING-MASING VARIABEL, DAN KUAT-LEMAHNYA PRANANNYA.
DALAM SUATU PROSES, MISALNYA REAKSI KIMIA, SERING TERDAPAT VAIABEL ASING YANG
BERASAL DARI LINGKUNGAN.
JENIS VARIABEL YANG DIKONTROL PENGARUHNYA DALAM PELAKSANAAN EKSPERIMEN
TENTU SAJA ADALAH SEMUA VARIABEL BEBAS YANG TIDAK DITELITI TERMASUK VARIABEL
ASING, KALAU ADA. YANG HARUS DIKETAHUAI DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN
PENELITIAN ADALAH BAHWA TIDAK ADA RANCANGAN PENELITIAN YANG SEMPURNA DAPAT
MENGHILANGKAN SAMA SEKALI ANCAMAN VALIDITASNYA. HAL INI KARENA ADANYA
HUBUNGAN INTERAKTIF ANTAR VARIABEL, SEHINGGA PENGONTROLAN SALAH SATU
VARIABEL DAPAT MEMPENGARUHI PERANAN VARABEL LAINNYA.
MENURUT JUMLAH VARIABEL BEBAS YANG DIPILIH MENJADI VARIABEL PENELITIAN,
RANCANGAN PENELITIAN DAPAT DIBAGI MENJADI DUA KELOMPOK YAITU:
1. KELOMPOK RANCANGAN VARIABEL TUNGGAL, YAITU PENELITIAN DENGAN HANYA
MEMILIH SATU VARIABEL BEBAS UNTUK DITELITI.
2. KELOMPOK RANCANGAN PENELITIAN FAKTORIAL, YAITU PENELITIAN DENGAN
LEBIH DARI SATU VARIABEL BEBAS YANG DITELITI.
JENIS PENELITIAN YANG BANYAK DILAKUKAN ADALAH PENELITIAN DENGAN VARIABEL
TUNGGAL.
61
4.2.1. KELOMPOK RANCANGAN PENELITIAN VARIABEL TUNGGAL.


RANCANGAN PENELITIAN VARIABEL TUNGGAL DIBAGI DALAM TIGA JENIS, YAITU:
1. RANCANGAN PRA EKSPERIMENTAL
YAITU RANCANGAN PENELITIAN SEDERHANA, BIASANYA DIGUNAKAN UNTUK UJI
COBA INSTALASI PERALATAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN. HAL INI PERLU
DILAKUKAN UNTUK MENJAMIN BAHWA INSTALASI DAN INSTRUMEN PENELITIAN
DAPAT BERFUNGSI DENGAN BAIK PADA WAKTU DILAKUKAN EKSPERIMEN YANG
SEBENARNYA.
2. RANCANGAN EKSPERIMENTAL SEMU
DIGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKAN JENIS PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU,
YAITU APABILA SAMPEL TIDAK DAPAT DITENTUKAN SECARA ACAK
3. RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN
DIGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKAN JENIS PENELITIAN EKSPERIMENTAL
SUNGGUHAN.
KARENA SIFAT SAMPELNYA YANG DAPAT DITENTUKAN SECARA ACAK, MAKA RACANGAN
PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN MEMPUNYAI DERAJAD KONTROL TERHADAP
VALIDITAS PENELITIAN TERTINGGI DIBANDINGKAN RANCANGAN PENELITIAN LAINNYA.
VALIDITAS RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU SEDEKAT MUNGKIN DENGAN
RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. RANCANGAN PRA EKSPEIMENTAL
MEMPUNYAI DERAJAD VALIDITAS TERENDAH, DAN DATANNYA MEMANG TIDAK
DIGUNAKAN SEBAGAI DATA PENELITIAN YANG AKAN DIOLAH UNTUK MEMBUKTIKAN
HIPOTESIS PENELITIAN.
62
4.2.1.1. RANCANGAN PRA-EKSPERIMENTAL.

TERDAPAT TIGA JENIS RANCANGAN PRA-EKSPERIMENTAL, YAITU:
1. RANCANGAN STUDI KASUS SATU ARAH, SEPERTI PADA DIAGRAM BERIKUT:
X
O
DIMANA: X = PERLAKUAN EKSPERIMEN
O = PASCA UJI
2. RANCANGAN PRA DAN PASCA UJI SATU KELOMPOK
O1
DIMANA:
X
O2
O1 = PRA UJI, X = PERLAKUAN EKSPERIMEN O2 = PASCA UJI.
3. RANCANGAN PENELITIAN KELOMPOK STATIS
X1
X2
O1
O2
DIMANA: X1 = PERLAKUAN EKSPERIMEN, O1 = PASCA UJI
X2 = PERLAKUAN NORMAL, O2 = PASCA UJI
DALAM RANCANGAN INI ADA DUA KELOMPOK PENELITIAN, YAITU KELOMPOK
EKSPERIMEN DAN KELOMPOK PERLAKUAN NORMAL SEBAGAI KONTROL
TERHADAP
HASIL EKSPERIMEN.
63
4.2.1.2. RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU.

DALAM JENIS PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU TERDAPAT ANCAMAN VALIDITAS
INTERNAL DAN EKSTERNAL, KARENA PENGARUH VARIABEL BEBAS SULIT DIPISAHKAN.
DENGAN DEMIKIAN RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU LEBIH SULIT DAN
KOMPLEKS, DAN TERDAPAT TIGA JENIS RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU.
1. RANCANGAN PRA UJI DAN PASCA UJI TIDAK EKIVALEN:
O1
O3
X1
X2
O2
O4
RANCANGAN INI BANYAK DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN. MISALNYA
KELOMPOK SISWA DIBAGI DALAM DUA KELOMPOK YANG DIBERI PERLAKUAN EKSPERIMEN
X1 DAN PERLAKUAN NORMAL X2. O1 DAN O2 MASING-MASING ADALAH PRA UJI UNTUK
MENELITI KEDUA KELOMPOK UJI.
2. RANCANGAN TIME SERIES
O1 O2 O3 O4
X
O5 O6 O7 O8
MERUPAKAN PERLUASAN DARI RANCANGAN PRA DAN PASCA UJI SATU KELOMPOK PADA
PENELITIAN PRA-EKSPERIMEN, DENGAN MELAKUKAN PRA UJI DAN PASCA UJI BERKALI-KALI.
APABILA HASIL SEMUA PERLAKUAN PRA UJI HAMPIR SAMA, DAN HASIL PASCA UJI BERUBAH
SECARA KONSISTEN MAKA DAPAT DISIMPULKAN BAHWA PERUBAHANNYA KARENA
PENGARUH PERLAKUAN EKSPERIMEN X. RANCANGAN INI DAPAT DIPERLUAS DENGAN
MENAMBAH SATU KELOMPOK LAGI SEBAGAI KONTROL.
64
3. RANCANGAN COUNTER BALANCED
REPLIKASI
X1
X2
X3
X4
1
A
B
C
D
2
B
D
A
C
3
C
A
D
B
4
D
C
B
A
DALAM DIAGRAM DIATAS DITUNJUKKAN SETIAP KELOMPOK PENELITIAN (A, B, C, DAN D)
SECARA BERGANTIAN MENERIMA PERLAKUAN (X1, X2, X3, DAN X4). TUJUANNYA ADALAH
UNTUK MEBANDINGKAN EFEKTIVITAS PENGARUH PERLAKUAN, APABILA DIKENAKAN PADA
KELOMPOK YANG BERBEDA. PELAKSANAAN SETIAP PERLAKUAN PADA SATU KELOMPOK
TIDAK MEMPENGARUHI PERLAKUAN LAINNYA AGAR TIDAK TERJADI INTERFERENSI
DALAMPERLAKUANMAJEMUK TERSEBUT.
4.2.1.3. RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN.


CIRI UTAMA DARI PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN ADALAH PENENTUAN SAMPEL
SEBAGAI ANGGOTA SETIAP KELOMPOK PENELITIAN DAPAT DILAKUKANA SECARA ACAK.
DENGAN DEMIKIAN HOMOGENITAS ANTAR KELOMPOK PENELITIAN TERJAMIN, SEHINGGA
RANCANGAN PENELITIANNYA DAPAT DISUSUN TANPA MEMPERHATIKAN KONDISI SAMPEL.
DENGAN DEMIKAN PENGONTROLAN TERHADAP ANCAMAN VALIDITAS INTERNAL MAUPUN
EKSTERNAL DAPAT DILAKUKAN SECARA LEBIH SEDRHANA DARIPADA PENELITIAN
EKSPERIMENTAL SEMU. RANCANGAN PENELITIAN ELKSPERIMENTAL SUNGGUHAN DAPAT
DIBAGI DALAM TIGA JENIS.
1. RANCANGAN KELOMPOK KONTROL PASCA UJI.
EKSPERIMEN R: X1
O1
KONTROL R:
X2
O2
65
NOTASI R ARTINYA PEMILIHAN SAMPEL ANGGOTA KELOMPOK DILAKUKAN SECARA ACAK (RANDOM).
KOMBINASI ANTARA KELOMPOK RANDOM DENGAN ADANYA KELOMPOK KONTROL
DIHARAPKAN DAPAT MENGONTROL PENGARUH VARIABEL NON-PENELITIAN. EFEKTIVITAS
DARI PERLAKUAN EKSPERIMEN X1 DITUNJUKKAN OLE PERBEDAAN NILAI PASCA UJI
EKSPERIMEN O3 DENGAN NILAI PASCA UJI KONTROL O4.
2. RANCANGAN KELOMPOK KONTROL PRA UJI DA PASCA UJI
EKSPERIMEN R: O1
X1
O2
KONTROL R:
O3
X2
O4
TUJUAN PEMBERIAN PRA-UJI PADA KELOMPOK EKSPERIMEN DAN KELOMPOK KONTROL
ADALAH UNUTK MENGURANGI ANCAMAN VALIDITAS INTERNAL JENIS MORTALITAS. SEPERTI
PADA RANCANGAN PENELITIAN SEBELUMNYA, EFEKTIVITAS PERLAKUAN EKSPERMEN
DITUNJUKKAN OLEH PERBEDAAN HASIL PASCA UJI EKSPERIMEN O2 DENGAN HASIL PASCA
UJI KONTROL O4.
3. RANCANGAN EMPAT KELOMPOK SOLOMON.
EKSPERIMEN R: O1
X1
O2
KONTROL R:
O3
X2
O4
EKSPERIMEN R:
X3
O5
KONTROL R:
X4
O6
RANCANGAN PENELITIAN INI MERUPAKAN KOMBINASI DARI DUA JENIS RANCANGAN
PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN SEBELUMNYA. HAL INI DILAKUKAN KARENA
ADANYA KESULITAN MENGONTROL PENGARUH VARIABEL NON-PENELITAN, MISALNYA
PENGARUH IKLIM ATAU KONDISI TANAH PADA PENELITIAN BIDANG PERTANIAN.
66
4.2.2. RANCANGAN FAKTORIAL.

RANCANGAN PAKTORIAL BANYAK DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN EKSPERIMENTAL
SUNGGUHAN YANG MEMPUNYAI LEBIH DARI SATU VARIABEL BEBAS YANG DITELITI.
RANCANGAN INI DAPAT MENGETAHUI PENGARUH ANTAR VARIABEL BEBASNYA, SELAIN
MENGETAHUI PENGARUHNYA SECARA MANDIRI. JENIS RANCANGAN PENELITIAN
TERGANTUNG KEPADA JUMLAH VARIBEL BEBAS YANG DITELITI DAN JUMLAH KATEGORINYA,
DAN DITULISKAN DALAM BENTUK MATRIX, MISALNYA RANCANGAN FAKTORIAL: 2 X 2,
RANCANGAN FAKTORAL: 3 X 3 DAN LAIN-LAIN.

CONTOH RANCANGAN PENELITIAN FAKTORIAL: 2 X 2 DALAM PENELITIAN DALAM BIDANG
PENDIDIKAN. PENELITIAN BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI PEGARUH DUA VARIABEL BEBAS
YAITU METODE MENGAJAR DAN LAMA STUDI TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA.
MASING-MASING VARIABEL BEBAS MEMPUNYAI DUA KATEGORI, YAITU METODE MENGAJAR
DENGAN KATEGORI METODE DISKUSI DAN METODE KULIAH TATAP MUKA. KATEGORI LAMA
BELAJAR YAITU SELAMA 60 MENIT DAN 9 MENIT. MATRIK RANCANGAN PENELITIANNYA
DIGAMBARKAN SEBAGAI BERIKUT:
KATEGORI: METDE
MNGAJAR & LAMA
BELAJAR
60 MENIT
90 MENIT
NILAI RATARATA:
KULIAH
74
68
81
DISKUSI
78
73
75
NILAI RATA-RATA:
76
70,5
67
V. PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN




USULAN PENELITIAN ADALAH SUATU DOKUMEN ILMIAH YANG BERISI RENCANA
PELAKSANAAN SUATU KEGIATAN PENELITIAN. PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN
MEMPUNYAI DUA TUJUAN PENTING, YAITU:
1. SEBAGAI PEDOMAN BAGI PELKASANAAN KEGIATAN PENELITIAN UNTUK
MENCAPAI TUJUAN ILMIAH YANG DITETNTUKAN.
2. SEBAGAI PROPOSAL UNTUK MENDAPATKAN DANA YANG DIPERLUKAN UNTUK
PELAKSANAAN PENELITIAN.
USULAN PENELITIAN BIASANYA MENGIKUTI FORMAT TERTENTU, YANG DITENTUKAN OLEH
LEMBAGA YANG MENYEDIAKAN DANA PENELITIAN ATAU LAIN MISALNYA LEMBAGA
PENDIDIKAN UNTUK PENELITIAN AKADEMIK SEPERTI: SKRIPSI, THESIS, ATAU DISERTASI.
KARENA ITU SUATU USULAN PENELITIAN HARUS DAPAT MENCERMINKAN KELAYAKAN
KEGIATAN PENELITIAN, DITINJAU DARI DUA ASPEK, YAITU:
1. BOBOT DAN KELAYAKAN ILMIAH
2. KELAYAKAN DALAM PELAKSANAANNYA.
KELAYAKAN USULAN PENELITIAN PALING TIDAK HARUS MEMEHUHI LIMA KRITERIA SEBAGAI
BERIKUT:
1. PERMASALAHANNYA LAYAK DALAM ASPEK SUBYEKTIF DAN OBYEKTIF
2. MAMPU MENUNJUKKAN PENTINGNYA MASALAH YANG DITELITI, DARI ASPEK
PENGEMBANGAN TEORI BARU DAN – ATAU APLIKASINYA.
3. ADANYA DUKUNGAN BAHAN PUSTAKA LENGKA DAN UP TO DATE DALAM ANALISIS
DEDUKSI DALAM STUDI PUSTAKA
4. METODE PENELITIAN DIPAPARKAN SECARA DETAIL DAN JELAS.
68
5. INFORMASI YANG JELAS TENTANG PELAKSANAAN PNELITIAN, YANG
BIAYA PENELTIAN, JADUAL PELAKSANAAN, DATA PERSONALIA
PELAKSANA, DAN DUKUNGAN LAIN TERHADAP PELAKSANAANNYA.
MELIPUTI:
5.1. ISI USULAN PENELITIAN

UNTUK DAPAT MEMENUHI KRITERIA DIATAS DAN MEMENUHI STANDAR TULISAN ILMIAH, MAKA
USULAN PENELITIAN TERDIRI DARI TIGA BAGIAN YAITU BAGIAN AWAL, BAGIAN UTAMA, DAN
BAGIAN AKHIR SBB.
A. BAGIAN AWAL
1. JUDUL PENELITIAN
2. KATA PENGANTAR
3. DAFTAR ISI
4. DAFTAR TABEL
5. DAFTAR GAMBAR
6. DAFTAR SYMBOL.
B. BAGIAN UTAMA
BAB I.
PENDAHULUAN
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
C. BAGIAN AKHIR
1. DAFTAR PUSTAKA
2. LAMPIRAN
69




ISI DARI USULAN PENELITIAN AKAN MENJADI BAGIAN DARI LAPORAN PENELITIAN, DENGAN
MENAMBAH DUA BAB PADA BAGIAN UTAMA (BAB IV DAN BAB V SEBAGAI BERIKUT.
BAB IV.
HASIL PENGUMPULAN / ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB V.
KESIMPULAN DAN SARAN
BEBERAPA BAGIAN LAIN DARI USULAN PENELITIAN PERLU DITAMBAH SERTA ATAU
DIREVISI, APABILA ADA TAMBAHAN INFORMASI ATAU TEMUAN BARU DARI HASIL
PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA DAN PEMBAHASAN. TAMBAHAN DAN REVISI TERSEBUT
MISALNYA PERNYATAAN ORISINALITAS, RINGKASAN/SUMMARY, DAFTAR ISI, DAFTAR
TABEL, DAFTAR GAMBAR, KAJIAN PUSTAKA, DAFTAR PUSTAKA, DAN LAMPIRAN.
DENGAN DEMIKIAN PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN TELAH MENCAKUP LEBIH DARI
SETENGAH DARI SEMUA KEGIATAN PELAKSANAAN PENELITIAN. DALAM ASPEK
OPERASIONALISASI KEGIATAN ILMIAH, USULAN PENELITIAN TELAH MELAKSANAKAN
ANALISIS MASALAH PENELITIAN YANG DILAPORKAN DALAM BAB I PENDAHULUAN, LOGIKA
DEDUKSI DALAM BAB II TINJAUAN PUSTAKA, DAN PERSIAPAN LOGIKA INDUKSI DALAM BAB
III METODOLOGI PENELITIAN.
USULAN PENELITIAN YANG BAIK SELAIN MENJAMIN BOBOT ILMIAH PENELITIAN DAN
SEBAGAI PEDOMAN PELAKSANAAN PENELITIAN, JUGA HARUS DAPAT MENJAMIN
KEBERHASILAN PENELITIAN DALAM ASPEK PELAKSANAANNYA YANG MELIPUTI JADUAL
WAKTU, KETERSEDIAAN PERALATAN DAN BIAYA YANG DIPERLUKAN, DAN KOMPETENSI DARI
PARA PENELITI DAN TEKNISI PELAKSANA PENELITIAN.
BERIKUT DIPAPARKAN PENJELASAN TENTANG ISI USULAN PENELITIANPENDAHULUAN,
METODOLOGI PENELITIAN, DAN PELAKSANAAN PENELITIAN. BAHASAN TENTANG JUDUL
PENELITIAN DAN TINJAUAN PUSTAKA SUDAH DIPAPARKAN DALAM BAB III LANGKAHLANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN.
70
5.1.1. PENDAHULUAN

BAB PENDAHULUAN BERFUNGSI SEBAGAI PENGANTAR TERHADAP KEGIATAN
PENELITIAN YANG AKAN DILAKSANAKAN DAN BERISI LATAR BELAKANG, TUJUAN,
DAN MANFAAT PENELITIAN. LATAR BELAKANG BERISI BAHASAN TENTANG
PENTINGNYA TOPIK ATAU PERMASALAHAN YANG AKAN DITELITI, DALAM ASPEK
PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU APLIKASINYA.

BAHASAN TENTANG TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN MENUJUKKAN LEBIH DETAIL
TENTANG ASPEK IMPLEMENTASI DARI MASALAH YANG AKAN DITELITI. DALAM BAB
PENDAHULUAN SERING MELIPUTI RUMUSAN MASALAH DAN BATASAN MASALAH,
YANG SUDAH DIPAPARKAN DALAM BAB III.
5.1.2. METODOLOGI PENELITIAN.

BAGIAN METODOLOGI PENELITIAN MEMBAHAS RENCANA PELAKSANAAN LOGIKA
INDUKSI UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS YANG TELAH DIRUMUSKAN DALAM
BAHASAN TINJAUAN PUSTAKA. ANALISIS DEDUKSI MENGGUNAKAN BAHAN PUSTAKA
SEBAGAI DASAR PEMECAHAN MASALAH YANG KEMUDIAN DIRUMUSKAN DALAM
HIPOTESIS PENELITIAN. DALAM ANALISIS INDUKSI DIBUTUHKAN DATA EMPIRIS
DARI EKSPERIMEN ATAU DATA LAPANGAN TENTANG PERMASALAHAN YANG AKAN
DITELITI. SELANJUTNYA DENGAN LOGIKA INDUKSI (MENGGUNAKAN METODE
STATISTIK) DATA DIINTERPRETASIKAN UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS.
71

BEBERAPA HAL PENTING DALAM PENYUSUNAN METODOLOGI PENELITIAN ADALAH
SEBAGAI BERIKUT:
1. PENENTUAN METODE PENDEKATAN UNTUK PEMBUKTIAN HIPOTESIS, YAITU JENIS
PENELITIAN YANG DIGUNAKA.
2. ANALISIS VARIABEL-VARIABEL PENELITIAN.
3. PENENTUAN POPULASI DAN SAMPLE PENELITIAN
4. PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN.
5. RENCANA INSTALASI PERALATAN DAN INSTRUMEN PENGAMBIL DATA.
6. RENCANA PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA PENELITIAN
7. RENCANA ANALISIS DATA DAN METODE STATISTIK YANG DIGUNAKAN.
5.1.3. INFORMASI TENTANG PELAKSANAAN PENELITIAN

INFORMASI TENTANG BIAYA, JADUAL PELAKSANAAN, DAN PERSONALIA PENELITIAN
BERGUNA UNTUK MENGETAHUI KELAYAKAN DALAM ASPEK PELAKSANAAN
PENELITIAN. SUATU TOPIK PENELITIAN YANG MEMPUNYAI PROSPEK HASIL YANG
SANGAT PENTING ATAU BERMANFAAT, TIDAK DAPAT DILAKSANAKAN APABILA
BIAYANYA TIDAK TERJANGKAU, PERALATANNYA BELUM TERSEDIA, ATAU PERSONALIA
PENELITI NYA TIDAK MEMPUNYAI LATAR BELAKANG KEILMUAN ATAU TIDAK
MEMPUNYAI PENGALAMAN MENELITI.
72
5.2. FORMAT PENULISAN USULAN PENELITIAN



WALAUPUN ISI USULAN PENELITIAN PADA PRINSIPNYA SAMA, SEPERTI YANG TELAH
DIBAHAS DIATAS, TETAPI FORMAT USULAN PENELITIAN DAPAT BERBEDA-BEDA,
TERGANTUNG KEPADA KETENTUAN DARI LEMBAGA PEMBERI DANA ATAU YANG
MEMPUNYAI OTORITAS TERHADAP KEGIATAN PENELITIAN. UNTUK PENULISAN
USULAN PENELTIAN PROGRAM S2 DAN S3, PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS
BRAWIJAYA (PPSUB) TELAH MEMBUAT BUKU PANDUAN PENULISAN PROPOSAL
PENELITIAN THESIS DAN DISERTASI BAGI PARA MAHASISWA PPSUB.
SETIAP LEMBAGA PENYEDIA DANA PENELITIAN BIASANYA MENENTUKAN FORMAT
SENDIRI, DAN HARUS DIIKUTI OLEH PENELITI YANG MENGAJUKAN USULAN
PENELITIAN. DI INDONESIA BEBERAPA INSTANSI PEMERINTAH DAN SWASTA
MENGELUARKAN BUKU PANDUAN PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN YANG DAPAT
MEREKA DANAI.
DISAMPING FORMAT PENULISAN USULAN, BEBERAPA LEMBAGA MENENTUKAN JENIS
TOPIK ATAU BIDANG ILMU YANG PENELITIANNYA AKAN MEREKA DANAI. INSTANSI
PEMERINTAH SEPERTI KEMENTERIAN RISTEK ATAU DEPARTEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL BIASANYA MEMBIAYAI PENELITIAN YANG LEBIH BERSIFAT
PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNLOGI. LEMBAGA SWASTA ATAU
INDUSTRI BIASANYA MENDANAI PENELITIAN YANG BERSIFAT TERAPAN, SEPERTI:
PEMECAHAN MASALAH ATAU PENGEMBANGAN PROSES ATAU METODE TERTENTU
UNTUK PERBAIKAN DARI PRAKTEK YANG SEDANG DILAKUKAN.
73
VI. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN

LAPORAN PENELITIAN ADALAH LAPORAN AKHIR HASIL KEGIATAN PENELITIAN YANG TELAH
DILAKUKAN. LAPORAN PENELITIAN MERUPAKAN SUATU TULISAN ILMIAH YANG DI
DOKUMENTASIKAN DALAM BERBAGAI BENTUK SEPERTI CETAKAN, MIKROFILM, ATAU FILE
ELEKTRONIK. LAPORAN PENELITIAN BIASANYA JUGA DITULIS DALAM ARTIKEL ILMIAH,
YANG DIPUBLIKASIKAN DALAM MAJALAH ILMIAH (JURNAL ILMIAH), ATAU MELALUI
SEMINAR ILMIAH.
6.1. FUNGSI LAPORAN PENELITIAN

WALAUPUN ISI USULAN PENELITIAN PADA PRINSIPNYA SAMA, SEPERTI YANG TELAH
DIBAHAS DIATAS, TETAPI FORMAT USULAN PENELITIAN DAPAT BERBEDA-BEDA,
TERGANTUNG KEPADA KETENTUAN DARI LEMBAGA PEMBERI DANA ATAU MEMPUNYAI
OTORITAS PENELITIAN. UNTUK PENULISAN THESIS PROGRAM S2 DAN S3, PPSUB TELAH
MEMBUAT PANDUAN PENULISAN THESIS DAN DISERTASI BAGI PARA MAHASISWA PPSUB.
74

similar documents