Terbentuknya Jaringan Nusantara Melalui Jalur Perdagangan

Report
TERBENTUKNYA JARINGAN NUSANTARA MELALUI JALUR
PERDAGANGAN
• Anisha
Layla Ikhwan
• Danang Riyan Saputra
• Firamia Dyah Pawestri
• Friska Meina Nugrahani
• Muhammad Rofiq


Jaringan perdagangan dan pelayaran antar pulau di
Indonesia telah dimulai sejak abad pertama Masehi.
Bahkan
pada
abad
ke-2,
Indonesia
telah menjalin hubungan dengan India sehingga agama Hind
u masuk dan berkembang. Sejak abad ke-5, Indonesia
telah
menjadi
kawasan
tengah
yang
dilintasi jalur perdagangan laut antara India dan Cina.
Jalur
perdagangan
tersebut
yang
dikenal
dengan
nama
Jalur
Sutra
Laut (Jalan Sutera lama/kuno via darat).
Jalur perniagaan dan pelayaran tersebut melalui laut, yang
dimulai dari Cina melalui Laut Cina Selatan kemudian Selat
Malaka, Calicut: sekarang Kalkuta (India), lalu ke Teluk Persia
melalui
Syam
(Syuria)
sampai
ke
Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke
Mesir lalu menuju Laut Tengah.
Indonesia,
melaui
selat
Malaka,
terlibat
dalam
perdagangan
dengan
modal
utama
rempah-rempah
(komoditas
utama),
seperti lada dari Sumatera, cengkeh dan pala
dari
Indonesia
Timur,
dan
jenis
kayukayuan dari Nusa Tenggara.
 Posisi
Indonesia
yang
strategis
dan
hasil
sumber
daya
alam
yang
berlimpah
menyebabkan
Indonesia
mampu menjadi salah satu pusat perdagangan yang
penting di jalur dagang antara Asia Timur – Asia
Barat (Timur Tengah dan semenanjung Arab),
dengan Selat Malaka yang menjadi pusatpusat dagang atau pelabuhan-pelabuhan dagangnya.

Sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14,
ada dua kerajaan besar yang
telah mampu menguasai perairan atau perniagaan di
Nusantara, yakni Kerajaan Sriwijaya (Sumatera) dan
Kerajaan Majapahit (Jawa).
 Keberhasilan ini karena kemampuan kedua kerajaan ter
sebut mendominasi bahkan memonopoli jaringan perd
agangan di Selat Malaka. Perlu diketahui,
bahwa Selat Malaka mempunyai posisi strategis baik se
cara geografis, iklim/cuaca, maupun secara politis dan
ekonomi. Itu sebabnya Selat Malaka merupakan “kunci”
penting.


Dengan demikian, perdagangan dan pelayaran di
Nusantara bahkan jaringan dagang internasonal Asia di
dominasi oleh dua Kerajaan bercorak HinduBudha tersebut dalam periode yang berbeda.

Sekitar abad ke-15 (setelah Majapahit runtuh), telah muncul kerajaankerajaan
yang
bercorak
Islam
di
Nusantara,
dan
yang
juga akan melanjutkan tradisi perdagangan dan pelayaran di Nusantara.
Walaupun Majapahit runtuh, namun pelabuhan-pelabuhan Tuban dan Gresik (di
pesisir utara Jawa) tetap berperan sebagai bandar transito dan distribusi penting,
yaitu sebagai gudang sekaligus penyalur rempah-rempah asal Indonesia Timur
(Maluku). Bahkan, Tuban berkembang menjadi bandar terbesar di Pulau Jawa.
Perkembangan
perdagangan
dan
pelayaran
di
perairan Jawa tersebut memacu munculnya pelabuhan-pelabuhan baru
seperti pelabuhan Banten, Jepara dan Surabaya.

Pada abad ke-15 sampai awal abad ke-16, jalur perdagangan di asia
Tenggara diwarnai oleh dua jalur besar, yaitu jalur Cina-Malaka dan
jalur
Maluku-Malaka.
Jalur
perdagangan
antara
MalukuMalaka mendorong terjadinya perdagangan dan pelayaran antar pulau di
Indonesia. Jalur Maluku-Malaka ramai karena banyaknya para pedagang yang
hilir-mudik. Orang-orang Jawa misalnya, ke Maluku membawa beras dan
bahan makanan yang lain untuk ditukarkan dengan rempah-rempah.
Mereka ke Malaka, dengan ditambah beras, membawa rempahrempah dari Maluku, dan sebaliknya dari arah Malaka membawa barangbarang dagangan yang berasal dari luar (pedagang-pedagang Asia).
Berkat komoditas “beras” dan letak strategis antara Maluku dan Malaka,
Jawa menjadi kekuatan yang diperhitungkan di dalam perdagangan dan
pelayaran di Nusantara. Terutama setelah Malaka jatuh ke
tangan
Portugis
pada
tahun
1511,
Jawa
yang
kemudian akan memainkan peranan penting dalam perdagangan dan
pelayaran
di
Nusantara.
Terutama keberadaan pelabuhan atau bandar dagang Banten, yang
akan mengambil peran penting di dalam perdagangan di Jawa dan Nusantara.
PUSAT PERDAGANGAN SERTA JALUR PELAYARAN
SEBELUM JATUHNYA MALAKA

Sebelum bangsa Barat masuk ke Indonesia,
bangsa Indonesia telah menguasai perdagangan dan
pelayaran Nusantara. Perdagangan dan
pelayaran saat itu bersifat antar pulau,
yakni antara Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulaupulau di bagian timur, terutama Maluku. Perdagangan dan
pelayaran yang
berkembang sebelum masuknya bangsa Barat ke Asia
Tenggara maupun ke Indonesia itu telah membentuk pusatpusat kekuasaan.
Disamping Malaka sebagai pusat perdagangan dan
juga pusat kekuasaan, maka terbentuk pula pusatpusat kekuasaan lain seperti Demak, Jepara, Tuban, Gresik,
Banten, Ternate, dan Tidore, yang juga merupakan pusatpusat kekuasaan yang bercorak Islam di Nusantara. Di
Indonesia Timur, pelabuhan penting adalah Ternate dan
Tidore.
Barang dagangan yang dihasilkan adalah cengkih,
sedangkan kayu cendana diperoleh dari pulaupulau sekitarnya.
 Di bagian Barat Indonesia, bandar-bandar yang
penting seperti Pasai/Aceh, Pedir, Jambi, Palembang,
Barus, Banten, dan Sunda Kelapa. Pelabuhanpelabuhan tersebut kebanyakan mengekspor lada.
Pelabuhan-pelabuhan di
pantai Barat Sumatera juga menghasilkan barang daga
ngan lain seperti kapur barus, kemenyan, sutera, madu,
dan damar.

PUSAT PERDAGANGAN SERTA JALUR PELAYARAN
SETELAH JATUHNYA MALAKA

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511),
pedagang-pedagang Islam
memindahkan kegiatannya ke pelabuhanpelabuhan lain. Dengan jalan demikian,
mereka tetap dapat melanjutkan usaha perdaganganny
a secara aman. Sehingga,
penyaluran komoditas ekspor (rempah-rempah)
dari daerah Indonesia ke
daerah Laut Merah tatap dapat dikuasai.


Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang
sebelum Malaka jatuh sudah ada kemudian menjadi berkembang p
esat. Pusat-pusat perdagangan dan kekuasaan yang
berkembang pesat setelah jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis tahun 1511 antara lain, Aceh, Banten, Demak,
Tuban, Gresik, Makasar, Ternate dan Tidore.
Pedagang-pedagang Islam yang konflik dengan pedagangpedagang Portugis menyingkir ke Aceh, Banten, dan Makasar.
Mereka tetap melakukan perdagangan dan
pelayaran dengan pedagang-pedagang luar.
Karena jalur melalui Selat Malaka sudah dikuasai Portugis,
maka mereka membuka jalur perdagangan baru
melalui sepanjang Pantai Barat Sumatera. Pedagangpedagang Islam
berangkat dari bandar Banten lalu masuk selat Sunda
terus berlayar ke luar melalui pantai barat Sumatera. Sebaliknya,
Banten juga didatangi pedagangpedagang dari luar seperti Gujarat, Persia, Cina, Turki, Myanmar
Selatan, dan Keling.

Kapal-kapal yang berasal dari Banten ataupun ke
Banten banyak juga yang singgah ke Aceh.
Sementara itu, pedagang-pedagang Islam
dari Malaka juga banyak yang
mengalihkan kegiatannya ke
Aceh sebagai akibat jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis.
Sehingga Aceh juga berkembang menjadi pusat perdag
angan dan pusat kekuasaan Islam. Sedangkan di
bagian Timur, ada dua pusat perdagangan dan
kekuasaan Islam yang penting, yakni Ternate dan
Tidore.
PADA
AKHIR ABAD KE-15 TATA JARINGAN PELAYARAN
DAN PERDAGANGANNYA DAPAT DILIHAT PADA PETA
BERIKUT

Peta jaringan pelayaran dan perdagangan pada akhir
abad ke-15. Keterangan: I.Malaka; II.Samudera Pasai;
III.Banten; IV.Demak; V.Banjar; VI.Makassar; VII.Ternate
& Tidore.
SEJAK MALAKA JATUH KE TANGAN PORTUGIS PADA TAHUN 1511,
PUSAT-PUSAT PERDAGANGAN DAN TATA JARINGAN PERDAGANGAN DAN
PELAYARAN NUSANTARA

Pusat-pusat perdagangan dan tata jaringan perdagangan dan pelayaran
Nusantara sesudah jatuhnya Malaka. Keterangan: I.Samudera Pasai;
II.Banten; III.Demak; IV:Banjar; V:Makassar; VI:Ternate & Tidore.
MAKASIH BEBEB HEYHEYHEY :* {}
(CIPOKED) (MWACH MWACH) (BASAH BASAH
BASAH) (KEDIP KEDIP)

similar documents