ARSITEKTUR EKOLOGI (ECO-ARCHITECTURE)

Report
TUGAS
ARSITEKTUR DAN
LINGKUNGAN
OLEH
AGRIPINO GUTERRES
1243100592
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Zaman yang sudah modern seperti saat ini, banyak sekali fasilitas
yang sudah memadai. Dengan adanya kebutuhan yang serba instant,
membuat orang semakin malas untuk melakukan sesuatu secara
konvensional. Kebutuhan papan yang sekarang menjadi kebutuhan
capital bagi setiap orang membuat bidang properti menjadi
meningkat. Hal ini dapat mempengaruhi percepatan arus urbanisasi
dan dampak social yang terjadi. Mereka yang belum memiliki
tempat tinggal secara permanen, telah membentuk lingkungan yang
kumuh. Selain itu, pemanfaataan sumber daya alam yang sudah
tidak diperhitungkan lagi seberapa besar dampak yang akan terjadi,
menambah kerusakan pada alam ini.
Maka dengan konsep pengenalan ecology, dan eco arsitektur dapat
menyelesaikan masalah ke depannya.
Ekologi biasanya dimengerti sebagai hal-hal yang saling mempengaruhi :
segala jenis mahluk hidup (tumbuhan, binatang , manusia) dan
lingkungannya ( cahaya, suhu, curah hujan, kelembapan, topografi, dsb.)
Istilah Ekologi secara luas berati kehidupan manusia dengan
lingkungannya baik dengan makhluk hidup maupun benda mati, yang
menghormati dan memasuki diri sendiri didalam daur ulang alam. Secara
tersebut memungkinkan kehidupan masyarakat yang sehat di dalam
lingkungannya.
Ekologi adalah ilmu pengetahuan mengenai hubungan antara
sesama mahluk hidup serta antara mahluk hidup dengan lingkungannya,
aliran energinya dan interaksinya dengan
sekitar.
PENGERTIAN EKOLOGI DAN EKO-ARSITEKTUR
Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Emst Haeckel,
ahli dari ilmu hewan pada tahun 1869 sebagai ilmu interaksi dari
segala jenis makhluk hidup dan lingkungan. Arti kata ekologi
dalam bahasa yunani yaitu “oikos” adalah rumah tangga atau cara
bertempat tinggal dan “logos” bersifat ilmu atau ilmiah. Ekologi
dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan
lingkungannya (Frick Heinz, Dasar-dasar Ekoarsitektur, 1998).
Prinsip-prinsip ekologi sering berpengruh terhadap arsitektur
(Batel Dinur, Interweaving Architecture and Ecology - A
theoritical Perspective).
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara
organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari
kata Yunani oikos ("habitat") danlogos ("ilmu"). Ekologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup
maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah
ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau
sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan
berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik.
Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan
topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang
terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling
memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan
kesatuan.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang
mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi
surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah
maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi
ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan
lingkungan fisik tersebut.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen
abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara,
air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen
biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan,
hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri).
Ilmu yang mempelajari lingkungan adalah ilmu
lingkungan atau ekologi. Ilmu lingkungan adalah cabang dari
ilmu biologi.
Adapun prinsip-prinsip ekologi tersebut antara lain :
a. Flutuation
Prinsip fluktuasi menyatakan bahwa bangunan
didesain dan dirasakan sebagai tempat membedakan
budaya dan hubungan proses alami. Bangunan
seharusnya mencerminkan hubungan proses alami
yang terjadi di lokasi dan lebih dari pada itu
membiarkan suatu proses dianggap sebagai proses dan
bukan sebagai penyajian dari proses, lebihnya lagi
akan berhasil dalam menghubungkan orang-orang
dengan kenyataan pada lokasi tersebut.
b. Stratification
Prinsip stratifikasi menyatakan bahwa organisasi
bangunan seharusnya muncul keluar dari interaksi
perbedaan bagian-bagian dan tingkat-tingkat.
Semacam organisasi yang membiarkan kompleksitas
untuk diatur secara terpadu.
c. Interdependence (saling ketergantungan)
Menyatakan bahwa hubungan antara bangunan
dengan bagiannya adalah hubungan timbal balik.
Peninjau (perancang dan pemakai) seperti halnya
lokasi tidak dapat dipisahkan dari bagian bangunan,
saling ketergantungan antara bangunan dan bagianbagiannya berkelanjutan sepanjang umur bangunan.
Eko arsitektur menonjolkan arsitektur yang
berkualitas tinggi meskipun kualitas di bidang
arsitektur sulit diukur dan ditentukan, takada garis
batas yang jelas antara arsitektur yang bermutu tinggi
dan arsitektur yang biasa saja. Fenomena yang ada
adalah kualitas arsitektur yang hanya memperhatikan
bentuk dan konstruksi gedung dan cenderung kurang
memperhatikan kualitas hidup dan keinginan
pemakainya, padahal mereka adalah tokoh utama
yang jelas.
Dalam pandangan eko-arsitektur gedung dianggap sebagai
makhluk atau organik, berarti bahwa bidang batasan
antara bagian luar dan dalam gedung tersebut, yaitu
dinding, lantai, dan atap dapat dimengerti sebagai kulit
ketiga manusia (kulit manusia sendiri dan pakaian sebagai
kulit pertama dan ke dua). Dan harus melakukan fungsi
pokok yaitu bernapas, menguap, menyerap, melindungi,
menyekat, dan mengatur (udara, kelembaban, kepanasan,
kebisingan, kecelakaan, dan sebagainya). Oleh karena itu
sangat penting untuk mengatur sistem hubungan yang
dinamis antara bagian dalam dan luar gedung. Dan ekoarsitektur senantiasa menuntut agar arsitek (perencana)
dan penguna gedung berada dalam satu landasan yang
jelas.
The Interlace Residential Building di
Singapore
Eco-Frendly Tower Design in Singapore
The Design of Fake Hill Residential
Building di China
The Design of Saudi Arabia Pavilion di
Sanghai (World Expo 2010)
DASAR-DASAR EKO-ARSITEKTUR
Dalam eko-arsitektur terdapat dasar-dasar pemikiran yang perlu
diketahui, antara lain :
1.
Holistik
Dasar eko-arsitektur yang berhubungan dengan sistem
keseluruhan, sebagai satu kesatuan yang lebih penting dari pada
sekedar kumpulan bagian.
2. Memanfaatkan pengalaman manusia
Hal ini merupakan tradisi dalam membangun dan merupakan
pengalaman lingkungan alam terhadap manusia.
3. Pembangunan sebagai proses dan bukan sebagai kenyataan tertentu
yang statis.
4. Kerja sama antara manusia dengan alam sekitarnya demi
keselamatan kedua belah pihak.
Dengan mengetahui dasar-dasar
eko-arsitektur di atas jelas sekali
bahwa dalam perencanaan maupun
pelaksanaan, eko-arsitektur tidak
dapat disamakan dengan arsitektur
masa kini. Perencanaan ekoarsitektur merupakan proses dengan
titik permulaan lebih awal. Dan jika
kita merancang tanpa ada perhatian
terhadap ekologi maka sama halnya
dengan bunuh diri mengingat
besarnya dampak yang terjadi akibat
adanya klimaks secara ekologi itu
sendiri.
Adapun pola perencanaan eko-arsitektur yang berorientasi pada alam secara
holistik adalah sebagai berikut :
a. Penyesuaian pada lingkungan alam setempat.
b. Menghemat energi alam yang tidak dapat diperbaharui dan mengirit
penggunaan energi.
a. Memelihara sumber lingkungan (air, tanah, udara).
b. Memelihara dan memperbaiki peredaran alam dengan penggunaan
material yang
masih dapat digunakan di masa depan.
c. Mengurangi ketergantungan pada pusat sistem energi (listrik, air) dan
limbah (air limbah, sampah).
d. Penghuni ikut secara aktif dalam perencanaan pembangunan dan
pemeliharaan perumahan.
e. Kedekatan dan kemudahan akses dari dan ke bangunan.
f. Kemungkinan penghuni menghasilkan sendiri kebutuhan sehariharinya.
g. Menggunakan teknologi sederhana (intermediate technology),
teknologi alternatif atau teknologi lunak.
ARSITEKTUR YANG SADAR LINGKUNGAN
1. Holistik
Konsep ekologi arsitektur yang holistik
Sebenarnya, eko-arsitektur tersebut mengandung juga bagian bagian dari
arsitektur biologis (arsitektur kemnusiaan yang memperhatikan
kesehatan), arsitektur alternatif, arsitektur matahari (dengan
memanfaatkan energi surya), arsitektur bionik
(teknik sipil dan konstruksi yang memperhatikan kesehatan manusia),
serta biologi pembangunan. Maka istilah eko-arsitektur adalah istilah
holistik yang sangat luas dan mengandung semua bidang. Ekoarsitektur tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam arsitektur
karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau ukuran
baku. Namun, eko-arsitektur mencakup keselarasan antara manusia dan
lingkungan alamnya. Eko-arsitektur mengandung juga dimensi yang lain
seperti waktu, lingkungan alam, sosio cultural, ruang, serta teknik
bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa eko-arsitektur bersifat lebih
kompleks, padat, vital dibandingkan dengan arsitektur pada umumnya.
2. Hemat Energi.
Manusia hidup bagi banyak kegiatan ia pasti memerlukan energi, untuk
menyediakan makanan, untuk membakar batu bara dan untuk memproduksi
peralatan dalam bentuk apapun dan pasti akan selalu membebani
lingkungan alam. Api yang dapat memberikan kehangatan dan menerangi
kegelapan tetapi yang juga mengandung kekuatan merusak yang
menakutkan, dapat melambangkan energi dan bahan bakarnya. Bahan bakar
dapat digolongkan menjadi 2 kategori yaitu yang dapat diperbaharui dan
yang tidak dapat diperbaharui. Walaupun kita telah mengetahui perbedaan
diantara keduanya, manusia tetap cenderung memanfaatkan energi yang
tidak dapat diperbaharui (batu bara, minyak, dan gas bumi) karena dianggap
penggunaannya lebih mudah. Penggunaan energi untuk seluruh dunia
diperkirakan3x1014 MW per tahun, yang berarti bahwa bahaya bagi
manusia bukan hanya terletak pada kekurangan energi tetapi juga pada
kebanyakan energi yang dibakar dan mengakibatkan kelebihan
karbondioksida di atsmosfer yang mempercepat efek rumah kaca dan
pemanasan global.
3. Material Ramah Lingkungan.
Adapun prinsip-prinsip ekologis dalam penggunaan bahan bangunan :
- Menggunakan bahan baku, energi, dan air seminimal mungkin.
-Semakin kecil kebutuhan energi pada produksi dan transportasi,
semakin kecil
pula limbah yang dihasilkan.
- Bahan-bahan yang tidak seharusnya digunakan sebaiknya diabaikan.
- Bahan bangunan diproduksi dan dipakai sedemikian rupa sehingga
dapat dikembalikan kedalam rantai bahan (didaur ulang).
- Menggunakan bahan bangunan harus menghindari penggunaan bahan
yang berbahaya (logam berat, chlor).
- Bahan yang dipakai harus kuat dan tahan lama.
- Bahan bangunan atau bagian bangunan harus mudah diperbaiki dan
diganti.
4. Peka Terhadap Iklim
Pengaruh iklim pada bangunan. Bangunan sebaiknya dibuat secara
terbuka dengan jarak yang cukup diantara bangunan tersebut agar gerak
udara terjamin. Orientasi bangunan ditepatkan diantara lintasan matahari
dan angin sebagai kompromi antara letak gedung berarah dari timur ke
barat, dan yang terletak tegak lurus terhadap arah angin. Gedung
sebaiknya berbentuk persegi panjang yang menguntungkan penerapan
ventilasi silang.
UNSUR-UNSUR POKOK EKO-ARSITEKTUR
Unsur-unsur alam yang dijadikan pedoman oleh masyrakat
tradisional antara lain udara, air, api, tanah (bumi), merupakan
unsur-unsur pokok yang sangat erat dengan kehidupan manusia di
bumi. Dalam kehidupan masyarakat modern pun juga harus tetap
memperhatikan unsur-unsur tersebut karena sedikit saja
penyalahgunaan unsur alam tersebut besar akibatnya terhadap
keseimbangan ekologis. Adapun unsur-unsur pokok eko-arsitektur
dapat dilihat pada gambar berikut ini.
1.
2.
3.
4.
Api
Air
Udara
Bumi.
Pada perkembangannya ekoarsitektur disebut juga dengan istilah
greenarchitecture (arsitektur hijau) mengingat subyek arsitektur dan
konteks lingkungannya bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari hasil
arsitektur dan lingkungannya. Dalam perspektif lebih luas, lingkungan
yang dimaksud adalah lingkungan global alami yang meliputi unsur
bumi, udara, air, dan energi yang perlu dilestarikan. Ekoarsitektur atau
arsitektur hijau ini dapat disebut juga sebagai arsitektur hemat energi
yaitu salah satu tipologi arsitektur yang ber-orientasi pada konservasi
lingkungan global alami.
Arsitektur hijau merupakan langkah
untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi dengan cara
meminimalkan perusakan alam dan lingkungan di mana mereka tinggal
Green Architecture atau sering disebut
sebagai Arsitektur Hijau adalaharsitektur yang minim
mengonsumsi sumber daya alam, ternasuk energi, air, dan material,
serta minim menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Green
arsitektur ialah”sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan
pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan
menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang
dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya
alam secara efisien dan optimal. Konsep arsitektur ini lebih bertanggung
jawab terhadap lingkungan, memiliki tingkat keselarasan yang tinggi
antara strukturnya dengan lingkungan, dan penggunaan sistem utilitas
yang sangat baik. Green architecture dipercaya sebagai desain yang baik
dan bertanggung jawab, dan diharapkan digunakan di masa kini dan
masa yang akan datang. Dalam jangka panjang, biaya lingkungan sama
dengan biaya sosial, manfaat lingkungan sama juga dengan manfaat
sosial. Persoalan energi dan lingkungan merupakan kepentingan
profesional bagi arsitek yang sasarannya adalah untuk meningkatkan
kualitas hidup.
PRINSIP-PRINSIP GREEN ARCHITECTURE :
•Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus
meminimalkan penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa
mungkin memaksimalkan energi alam sekitar lokasi bangunan ).
•Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain
bagunan harus berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita,
dan sumber energi yang ada.
•Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan
kebutuhan sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut
tidak habis dan dapat digunakan di masa mendatang / Penggunaan
material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem
dan
sumber daya alam.
•Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni
bangunan tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun,
nantinya jangan sampai merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika
nanti bangunan itu sudah tidak terpakai, tapak aslinya masih ada dan
tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
•Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam
merancang bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan
dan memenuhi semua kebutuhannya.
•Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara
keseluruhan / Holism : Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita
pergunakan sesuai kebutuhan bangunan kita.
Sifat – sifat pada bangunan berkonsep green architecture.
Green architecture (arsitekture hijau) mulai tumbuh sejalan dengan
kesadaran dari para arsitek akan keterbatasan alam dalam menyuplai
material yang mulai menipis.Alasan lain digunakannya arsitektur hijau
adalah untuk memaksimalkan potensi site.
Penggunaan material-material yang bisa didaur-ulang juga mendukung
konsep arsitektur hijau, sehingga penggunaan material dapat dihemat.
Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan),
earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building
(bangunan dengan performa sangat baik).
A.Sustainable ( Berkelanjutan ).
Yang berarti bangunan green architecture tetap bertahan dan berfungsi
seiring zaman, konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam
tanpa adanya perubahan – perubuhan yang signifikan tanpa merusak
alam sekitar.
Earthfriendly ( Ramah lingkungan ).
Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep green
architecture apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan.
Maksud tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini tidak hanya
dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga menyangkut masalah
pemakaian energi.Oleh karena itu bangunan berkonsep green architecture
mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek –
aspek pendukung lainnya.
Bangunan tidak ramah lingkungan
bangunan berkonsep green architecture
PENUTUP
MASUKAN MENGENAI MASALAH LINGKUNGAN SERTA KEMUNGKINAN
PENANGGULANGANNYA MELALUI RANCANGAN ARSITEKTUR YANG
DIBUTUHKAN UNTUK MELENGKAPI STANDAR-STANDAR PERANCANGAN
YANG ADA, DAPAT DIBERIKAN SEMASA PENDIDIKAN PENDIDIKAN
ARSITEKTUR.
“ Arsitek dapat mempertimbangkan lingkungan tampak di sekitar
tapak dalam rancangannya”

similar documents