Transformasi Industri Minyak Sawit Indonesia 2015

Report
Fadhil Hasan
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia





Periodisasi: Masa Penjajahan, Orde lama, Orde
Baru, Orde Reformasi
Perkembangan pasang surut namun kini
menjadi industri unggulan Indonesia.
Industri minyak sawit merupakan industri
Indonesia yang paling kompetitif dibandingkan
industri lain di dalam negeri dan dengan
industri sejenis di negara lain
Pada tahun 2013 luas areal perkebunan sawit
mencapai 10 juta hektar dengan komposisi 4,9
juta hektar perkebunan swasta, 0,68 juta
hektar BUMN dan 4,4 juta hektar perkebunan
rakyat.
Komposisi ini berbeda dengan perkebunan
komoditas lain seperti karet dan kopi.




Menghasilkan devisa ekspor sebesar rata-rata 20 milyar dollar
AS per tahun, contributor terbesar kedua (setelah batubara)
untuk ekspor non-migas. Hal ini sangat penting untuk
mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia yang sudah
berlangsung 2 tahun.
Menjadi mata pencaharian langsung sekitar 4 juta keluarga
terdiri dari petani pemilik dan karyawan, serta 16 juta
keluarga yang bekerja secara tidak langsung. Ini artinya,
industri sawit menyediakan lapangan pekerjaan dan
membantu pengentasan kemiskinan.
Menjadi penggerak (driver) pembangunan daerah,
memunculkan sentra pertumbuhan ekonomi baru di daerah
terpencil sehingga mempercepat kemajuan daerah terpencil.
Sebagai tanaman perkebunan, kelapa sawit menghijaukan
areal bekas hutan sehingga berperan menyerap CO2 dan
mengurangi emisi karbon, sehingga berfungsi memperbaiki
lingkungan.


1. Permintaan dunia akan terus meningkat
sejalan dengan pertambahan penduduk dunia
dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Pada tahun 2020 dengan penduduk dunia
sekitar 8 milyar manusia diperkirakan
membutuhkan minyak nabati sebanyak 234
juta ton, artinya butuh tambahan suplai 6 juta
ton per tahun sampai tahun 2020.
2. Pemanfaatan minyak sawit akan terus
meluas bukan saja sebagai food tapi juga fuel
dan feed. Ke depan penggunaan sebagai fuel
akan semakin meningkat sejalan dengan
program energi terbarukan yang bersifat
mandatori di berbagai negara. Saat ini sekitar
86 persen digunakan sebagai bahan pangan
sisanya untuk fuel dan industri.






Meningkatnya biaya/menurunnya daya saing industri minyak
sawit Indonesia akibat mahalnya biaya perijinan dan logistik di
sisi lain munculnya negara-negara pesaing baru (Africa dan
Brazil) .
Produktifitas perkebunan terutama rakyat rendah akibat tanaman
yang sudah tua/rusak, bibit palsu, pemeliharaan tidak optimal.
Akses terhadap pembiayaan, teknologi dan perizinan sulit dan
cost of money relatif tinggi.
Kegiatan riset dan pengembangan masih belum optimal dan
tidak terkoordinasi. Diseminasi hasil penelitian rendah. Masih
terdapat gap yang lebar antara riset dan praktek di lapangan.
Kampanye negatif dari negara-negara pesaing dan NGO dengan
isue kesehatan, deforestrasi, biodiversiti, efek gas rumah kaca,
pemanasan global, masyarakat adat, hak azazi manusia, dst.....
Kebijakan dan regulasi yang tidak konsisten dan kondusif serta
koordinasi kebijakan yang belum optimal......






1. Peningkatan produksi dan produktiftas terutama perkebunan
rakyat; program revitalisasi perkebunan, kemudahan akses
perbankan untuk peremajaan, menghilangkan berbagai
hambatan untuk ekspansi yang berkelanjutan.
2. Pengembangan industri hilir; kebijakan investasi yang
menarik, insentif yang memadai, alokasi program R&D.
3. Percepatan implementasi ISPO; pengakuan dunia
internasional, dan penguatan kelembagaan ISPO.
4. Peningkatan daya saing industri; perbaikan infrastruktur,
penambahan pelabuhan dan pembangunan cluster industri.
5. Penciptaan iklim investasi yang semakin kondusif;
penyelesaian masalah tata ruang, perijinan, konflik agraria,
penetapan satu peta yang terintegrasi dengan tata ruang
nasional.
6. Peningkatan konsumsi di dalam negeri terutama untuk
energi; percepatan program mandatory biodiesel menjadi (B20,
B40, dst).

similar documents