SALURAN TATANIAGA (MARKETING CHANNEL)

Report
TATANIAGA PERTANIAN
ERWAN SANUSI
NIM. 10 010 011
Dosen Pembimbing :
Ir.Ign.Suprih Sudradjat, M.Si
Saluran Tataniaga
(Marketing Channel)
Saluran tataniaga adalah jalannya arus barang
dan jasa hasil dari produsen sampai konsumen.
Panjang pendeknya saluran tataniaga
tergantung beberapa hal antara lain:
 Kondisi barang hasil pertanian mudah rusak atau tidak.
 Besarnya modal yang dimiliki oleh petani / pedagang.
 Jarak antara produsen dan konsumen.
 Banyak sedikitnya barang tersebut.
 Contoh 1 : Saluran tataniaga kopi dilampung.
B
A
C
D
Keterangan :
Tetap
E
F
Jarang
Kadang – kadang
Sumber: Moelyono Partosoedarso dan Amris Makmur (89)
KETERANGAN
A
= Pertanian produsen -> mengolah kopi -> kopi beras.
B
= Tengkulak -> tengkulak pengumpul -> tangan kanan pedagang
lokal C -> menyediakan modal dan pengangkutan bagi B.
C
= Pedagang lokal (kecil) -> pengumpul dari tengkulak dan petani
yang menjual langsung.
D
= Pedagang hasil bumi -> kedudukannya hampir sama dengan C
hanya perusahaan dan modal lebih besar dari C.
E
= Esportir -> membeli kopi dari C dan D kadang-kadang dari B dan
A -> mensortir / mengolah untuk kualitas eksport.
F
= Pedagang luar negeri.
 Contoh 2 : Saluran tataniaga jeruk siem di Kabupaten Cilacap, Jawa
Tengah tahun 1987.
Petani / Produsen
Pedagang Kec./ tengkulak I
Pedagang Desa / tengkulak I
Pedagang pengecer di Kab.
Pedagang Kec./ tengkulak II
Konsumen jeruk di Kab.
Pedagang pengecer di Kab.
Konsumen jeruk di Kabupaten
Konsumen jeruk di Kab.
Sumber : Sudrajat, Suprih (1987).
Saluran pemasaran langsung dari produsen ke konsumen → tidak
ada pedagang perantara yang terlibat.
Contoh 3 : Saluran tataniaga padi sawah petani.
Petani
Pedagang Kecil
Pasar Desa
Huller Desa
Pedagang Besar
Pedagang pengecer
Konsumen
Sumber : Mubyarto (1989).
Pedagang Kecil
Contoh 4 : Saluran tataniaga padi pemerintah.
Petani
Pedagang Kecil
Pasar Desa
Huller Desa
Pedagang Kecil
Pedagang Besar
Dolog (depolog)
Dolog (pengiriman
antar daerah)
Kantor-kantor
pemerintah
Pedagang besar
Sumber : Mubyarto (1989).
Pedagang
besar
Pedagang kecil
Integrasi Tataniaga
Pertanian
Integrasi adalah penggabungan atau
pencampuran dari proses, fungsi atau lembaga
tataniaga hasil pertanian.
Secara garis besar integrasi dapat di bedakan
menjadi 2 bentuk dasar yaitu :
a. Integrasi vertical adalah penggabungan dari
proses atau fungsi / lembaga tataniaga dalam
satu sistem pengolahan/ manajemen.
Integrasi vertical ini juga bisa dibagi menjadi 2 :
 Integrasi vertical lengkap (complete integaration)
Yaitu apabila penggabungan ini terjadi pada semua
proses fungsi mulai penjualan dari produsen sampai ke
konsumen.
 Integrasi vertical tingkat (stage of integration)
Yaitu apabila penggabungan dilakukan hanya pada
beberapa bagian dari proses, fungsi tataniaga.
b.
Integrasi horizontal adalah penggabungan dari 2
atau lebih lembaga tataniaga.
ISTILAH – ISTILAH
BIAYA TATANIAGA
 Biaya tataniaga adalah mencakup jumlah pengeluaran
yang dikeluarkan oleh petani dan pedagang untuk
keperluan pelaksanaan kegiatan penyampaian barang
dan jasa dari produsen sampai ke konsumen akhir.
 Sangat perlu sekali dibedakan antara biaya tataniaga
dengan biaya usaha tani (penanaman/ growing), biaya
pengambialan hasil alami(extraction), biaya
pengerjaan(processing),dll.
 Biaya-biaya tataniaga meliputi antara lain : pengemasanpengemasan yang dilakukan untuk pengangkutan,
penyimpanan, retribusi, alat-alat pendukung.
Misal : keranjang, tenaga kerja pengangkat barang atau
bongkar barang.
MARGIN TATANIAGA
 Margin tataniaga adalah istilah yang digunakan untuk
menyatakan perbedaan harga yang dibayar kepada
penjual pertama (biasanya petani produsen) dan
harga yang dibayar oleh pembeli akhir (konsumen
akhir).
 Pada suatu perusahaan istilah margin merupakan
sejumlah uang yang ditentukan secara internal
accounting, yang diperlukan untuk menutupi biaya
dan laba. Ini merupakan perbedaan atau spread
antara harga pembeli dan harga penjual.
 Contoh :
Apabila harga pembelian suatu produk oleh suatu
perusahaan (lembaga tataniaga) Rp 500,- per kg dan
harga penjualan Rp 750,- per kg maka margin yang
dicapai oleh lembaga yang bersangkutan Rp 250,-.
MARK UP
 Apabila margin dinyatakan dalam persentase maka
didapat apa yang disebut mark up.
 Mark up adalah suatu persentase margin (margin
dalam bentuk persentase). Yang didukung atas dasar
harga pokok penjualan atau atas dasar penjualan
eceran suatu benda.
 Mark up dari contoh diatas kalau dihitung atas dasar
harga pokok adalah 250/750 x 100% = 33,3 %
Dan kalau dihitung atas dasar penjualan eceran
adalah 260/750 x 100% = 34,6 %

similar documents