ANEKDOT HUKUM PERADILAN

Report
TEKS ANEKDOT HUKUM
PERADILAN
Disusun Oleh
:
1.Arti AriYani
2.Gita Puspitaningtyas
3.Novian Deny C.
4.Rifqi Azmi R.
5.Yuni Wati Astuti
(06)
(10)
(17)
(22)
(30)
PENGERTIAN TEKS ANEKDOT
 Secara luas, anekdot bisa diklasifikasikan sebagai sesuatu
yang menggelikan (humor) dan sesuatu yang jenaka (wity).
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anekdot
adalah cerita singkat
yang menarik karena lucu dan
mengesankan, biasanya berkisar pada orang-orang penting dan
berdasarkan kejadian yang sebenarnya .
Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu,
menggelikan, jenaka, dan mengesankan. Biasanya berkisar
pada orang-orang penting dan berdasarkan kejadian yang
sebenarnya.
TUJUAN ANEKDOT
Tujuan utama anekdot tidak hanya untuk
membangkitkan
tawa,
tetapi
juga
untuk
mengungkapkan suatu kebenaran yang lebih umum
daripada kisah singkat itu sendiri, atau untuk
melukiskan suatu sifat karakter dengan ringan
sehingga ia menghentak dalam kilasan pemahaman
yang langsung pada intinya ( kritik dan saran ).
Struktur Anekdot
1.
2.
3.
4.
5.
Teks anekdot pada umumnya terdiri dari 5 struktur. 5 struktur itu
antara lain abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda:
Abstraksi adalah bagian di awal paragraf yang berfungsi memberi
gambaran tentang isi teks. Biasanya bagian ini menunjukkan hal
unik yang akan ada di dalam teks.
Orientasi adalah bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita
atau latar belakang bagaimana peristiwa terjadi. Biasanya penulis
bercerita dengan detil di bagian ini.
Krisis adalah bagian dimana terjadi hal atau masalah yang unik atau
tidak biasa yang terjadi pada si penulis atau orang yang diceritakan.
Reaksi adalah bagian bagaimana cara penulis atau orang yang
ditulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian crisis tadi.
Koda merupakan bagian akhir dari cerita unik tersebut. Bisa juga
dengan memberi kesimpulan tentang kejadian yang dialami penulis
atau orang yang ditulis
Anekdot Hukum Peradilan
(1) Teks anekdot itu panjang, tetapi struktur teksnya sederhana
dan sama dengan struktur teks anekdot sebelumnya. Struktur
teks itu adalah abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^koda.
Abstraksi
Orientasi
Pada zaman dahulu di suatu negara ada
seorang tukang pedati yang rajin dan tekun.
Suatu pagi saat Tukang Pedati melewati
jembatan,jembatan itu tidak kuat,sehingga
dagangan,kuda dan Tukang Pedati itu jatuh
ke sungai.Si tukang pedati dan keluarganya
melaporkan si pembuat Jembatan ke
hakim,karena mersa dirugikan.
Krisis
Reaksi
Koda
Tidak ada yang mengaku bersalah, Si
ukangJembatan menyalahkan si Tukang
kayu,si Tukang kayu menyalahkan Si
Penjual Kayu,dan si Penjual kayu
menyalahkan pembantunya.Meraka saling
membela diri.
Penjara tidak muat untuk si Pembantu
yang gemuk, dan dia tidak punya uang
untuk disita.Lalu Si Hakim menyuruh
pengawalnya untuk mencari pembantu
yang berbadan kurus,pendek dan punya
uang dan memjarakanya.
Akhirnya pembantu yang berbadan
pendek,kurus,dan punya uang dimasukan
penjara dan disita uangnya.Peradilan pun
dianggap adil
(2)Partisipan yang terlibat pada anekdot tersebut adalah
partisipan manusia, seperti yang mulia hakim. Partisipan
manusia yang lain adalah:
(a) Si Tukang Pedati dan keluarganya.
(b) Si Pembuat Jembatan
(c) Si Tukang Kayu
(d) Si Penjual Kayu
(e) Si Pembantu berbadan tinggi dan gemuk
(f) Si Pembantu berbadan pendek, kurus, dan punya uang.
(3) Dalam konteks tidak terdapat unsur lucu, tetapi
menggambarkan kekonyolan bahwa orang yang tidak bersalah
dihukum dan dimasukkan ke penjara. Mengapa si Pembantu
yang kurus dan pendek dihukum dan dipenjara, tetapi si
Pembantu yang gemuk dan tinggi tidak?
Jawab:
Karena penjara tidak muat untuk pembantu berbadan gemuk
itu, dan dia juga tidak punya uang untuk disita.
(4) Dalam teks anekdot itu terkandung sindiran, yaitu keputusan
yang tidak adil dikatakan adil. Siapa yang disindir?
Jawab:
Yang disindir adalah pelaku peradilan di Indonesia, khususnya
Hakim.
(5) Betulkah sindiran itu dapat diungkapkan dengan
pengandaian? Salah satu pengandaian yang ditemukan dalam
teks anekdot di atas adalah bahwa peradilan itu dilaksanakan di
suatu negara, bukan negara kita. Pengandaian yang lain adalah:
(a)
(b)
(c)
(d) Masyarakat yang ada serempak menjawab adil.
(6) Betulkah sindiran itu dapat diungkapkan dengan lawan kata
(antonim)? Dua contoh lawan kata yang digunakan pada
anekdot tersebut adalah adil-tidak adil dan benar-salah.
Maksudnya adalah bahwa sesuatu yang tidak adil dikatakan
sebagai sesuatu yang adil dan sesuatu yang salah dikatakan
sebagai sesuatu yang benar atau sebaliknya. Contoh lawan kata
yang lain adalah sebagai berikut.
(a)
(b)
(c)
(d)
(7) Dalam anekdot tersebut terkandung konjungsi lalu untuk
menyatakan urutan peristiwa. Konjungsi yang berfungsi sejenis
dengan itu adalah sebagai berikut.
(a) kemudian
(b) mula-mula
(c) selanjutnya
(d) Setelah itu
(8) Dalam anekdot itu terkandung konjungsi maka untuk
menyatakan akibat perbuatan yang dilakukan oleh seorang
tersangaka. Konjungsi yang berfungsi sejenis dengan itu
adalah:
(a) sehingga
(b) hingga
(c) sampai
(d)Oleh karena itu
(9) Fungsi konjungsi yang dapat digantikan oleh kata-kata.
Sebagai contoh, konjungsi setelah dapat diungkapkan dengan
sesampainya di hadapan hakim (paragraf 4). Kata-kata lain
seperti itu pada teks anekdot itu adalah:
(a) Namun sayang
(b) Beberapa menit kemudian
(c)Setelah
(d)
(10) Dari teks anekdot tersebut, dapatkah kalian menyimpulkan
bahwa orang yang tidak dapat berdebat di sidang pengadialan
akan kalah? Tunjukkan buktinya pada teks anekdot tersebut.
Apakah keadaan itu menggambarkan bahwa layanan publik di
bidang hukum belum bagus?

similar documents