6. program peningkatan efisiensi

Report
PROGRAM PENINGKATAN EFISENSI
Program Peningkatan Efisiensi internal (PLN)
dalam bentuk :
a. Program penurunan susut jaringan distribusi
(losses), untuk menekan susut teknis dan susut nonteknis.
b. Program SSM (Supply Side Management), untuk
penundaan investasi pembangunan sarana
ketenagalistrikan baru.
c. Efficiency Drive Program (EDP), program untuk
mendorong upaya menekan / menghemat biaya
investasi dan biaya operasi.
 PROGRAM PENINGKATAN EFISIENSI
eksternal (Pelanggan / masyarakat) atas prakarsa Pemerintah
dan keikutsertaan aktif PLN dalam bentuk :
a. Program himbauan penghematan / konservasi penggunaan
tenaga listrik PLN, untuk pelanggan agar lebih efektif dan efisien
(hemat biaya).
b. Program perbaikan Power Factor (cos phi) dengan himbauan
memasang kapasitor di sisi pelanggan, untuk pelanggan agar
dapat lebih optimal memanfaatkan daya tersambungnya.
c. Program DSM (Demand Side Management) dengan himbauan
agar menggunakan peralatan listrik di luar waktu beban puncak
(LWBP / diluar pk. 18.00 – 22.00 waktu setempat), bersedia
mengoperasikan sumber tenaga listriknya sendiri bagi
pelanggan yang memiliki dan sistem kelistrikan PLN dalam
kondisi kekurangan daya dan menggunakan lampu / peralatan
listrik hemat energi, untuk pelanggan optimalisasi daya
tersambungnya dan menghemat biaya.
 PROGRAM PENINGKATAN EFISIENSI
Program Penurunan Susut Jaringan Distribusi
(losses) :
a. Susut Teknis
Susut teknis jaringan distribusi secara alami akan
tetap timbul, artinya tidak bisa dihilangkan sama
sekali tetapi ditekan seminimal mungkin karena sifat
fisik material yang digunakan pada rangkaian listrik
tersebut mempunyai hambatan listrik (disemua
penghantar) dan efek arus Eddy (disemua trafo
distribusi), dengan susut teknis tetap / fix terjadi pd
semua trafo distribusi dan susut teknis sesuai arus
beban / variabel terjadi pada semua penghantar yang
besarnya sebanding dengan kuadrat arus beban.
 Susut teknis dapat ditekan seminimal mungkin
berdasarkan:

perencanaan / perancangannya (survey, design
criteria, detail design, standar / spesifikasi teknik dan
design konstruksi),

pelaksanaan pembangunannya (pelelangan,
pengadaan material, pemasangan / jasa konstruksi
dan administrasi pengawasan) dan

pengoperasian, pemeliharaan serta
pengelolaannya sesuai kondisi system jaringan
distribusinya (manajerial, proses bisnis, pengaturan
tegangan, pembebanan jaringan, optimalisasi
pengoperasian peralatan jaringan, penanganan
gangguan dan pemeliharaan berkala / preventif /
korektif).
Susut teknis dapat terjadi pada masing-masing
komponen jaringan distribusi sebagai berikut :
• Jaringan Tegangan Menengah (JTM).
• Gardu Distribusi (GD) / transformator (trafo)
distribusi.
• Jaringan Tegamgan Rendah (JTR).
• Sambungan Listrik (SL) Pelanggan.
• Alat Pembatas dan Pengukuran (APP) Pelanggan.
 Potensi penyebab terjadinya susut teknis pada jaringan distribusi adalah
sebagai berikut :
• Beban antar fasa tidak seimbang pada SL / JTR / GD / JTM, terjadi arus
bocor ketanah.
• Penghantar JTM / JTR / SL terlalu panjang sesuai lengan beban, terjadi
voltage drop.
• Penampang penghantar JTM / JTR / SL kecil dibanding beban, terjadi
thermal loss.
• Jenis material penghantar JTM / JTR / SL hambatannya tinggi terhadap
arus beban, terjadi voltage drop.
• Koneksitas terganggu / konektor jelek pada SL / JTR / GD (pada panel
pembagi jurusan) / JTM, terjadi thermal loss.
• Power factor system TR dan TM rendah, terjadi ketidakefisienan asset.
• Trafo distrbusi diluar batas faktor utilisasi optimumnya /overload, terjadi
rugi tembaga dan rugi besi.
• Kapasitas rangkaian listrik APP (kWh meter dan MCB) terlampaui (coil
pada kWh meter jenis induksi elektromaknetik dan MCB thermal relay),
terjadi rugi tembaga dan rugi besi.
 Upaya yg dilaksanakan untuk menekan susut teknis dengan perhitungan
sebesar 7,33% (2005) adalah :
• Pengaturan tegangan pasokan listrik sesuai standar tegangan pelayanan,
• Pengaturan pembebanan jaringan distribusi yang memasok pelanggan sesuai
standar penyempurnaan pengawatan APP dan perbaikan / penggantian CT
pengukuran .
• Penggantian trafo distribusi (dengan kapasitas yang lebih besar) yang telah
melampaui factor utilisasi / berbeban.
• Pemasangan GD sisipan bila dengan cara pengaturan pembebanan.
• Penggantian penghantar JTM / JTR / SL (dengan luas penampang yang lebih
besar atau jenis logam penghantar yang lebih baik).
• Pengembangan jaringan distribusi baru (penambahan penyulang / JTM,
pembentukan system radial / loop / interkoneksi, penambahan GD.
• Pemasangan kapasitor di jaringan distribusi PLN untuk meningkatkan power
factor (cos phi).
• Pemasangan GI sisipan / baru.
b. Susut Non-teknis
• Susut non-teknis yang terjadi pada jaringan
distribusi lebih banyak disebabkan oleh factor
manusia dalam bentuk penggunaan listrik tidak
sah (ilegal) oleh pelanggan dan non-pelanggan
serta adanya kesalahan administrasi pelanggan,
pembacaan meter dan wiring APP, yaitu dengan
tidak mematuhi / memahami syarat-syarat /
ketentuan / peraturan yang berlaku tentang
penyambungan listrik PLN.
 Potensi penyebab terjadinya susut non-teknis pada jaringan
distribusi (JTM, GD, JTR, SL dan APP) adalah sebagai berikut :
• Penggunaan tenaga listrik oleh pelanggan dengan
mempengaruhi / merusak SL / APP PLN atau kWh meter tidak
ada.
• Penggunaan tenaga listrik oleh non-pelanggan dengan
melakukan penyambungan sendiri ke jaringan listrik PLN /(PJU)
secara tidak terdaftar / liar / menyala siang hari / pemborosan.
• Perhitungan kWh tagihan susulan belum tuntas, kedapatan
oleh regu P2TL karena menggunakan tenaga listrik tidak sah.
• Meter kWh tidak berfungsi baik karena kesalahan pabrikasi .
• Kesalahan pembacaan meter pemakaian tenaga listrik oleh
petugas baca meter.
• Kesalahan administrasi tata usaha pelanggan (TUL)
• Kesalahan data induk pelanggan (DIL) karena tidak diperbarui
sesuai kondisi terkini.
• Kesalahan pengawatan APP / factor kali, sehingga pemakaian
tidak terukur dengan sebenarnya.
 Upaya yang dilaksanakan untuk menekan susut non-teknis
dengan perhitungan sebesar 0,22% (2005 )adalah :
• Pelaksanaan pemeriksaan berkala maupun insidentil
terhadap APP pelanggan potensial dan instalasi PLN.
• Pelaksanaan Penertiban Penggunaan Tenaga Listrik (P2TL)
lebih diintensifkan dengan melakukan kerjasama pihak
aparat hukum (Kepolisian dan Kejaksaan) maupun dengan
pihak Pemda setempat.
• Penataan manajemen baca meter dengan pola outsourcing
berdasarkan kesepakatan adanya kewajiban dan sanksi bila
terjadi kesalahan baca meter.
• Pemasangan kWh meter elektronik yang mempunyai
kemampuan menyimpan data histories operasional dan
fungsi telemetering, telesignalling serta telecontrol secara
bertahap dimulai dari pelanggan potensial / besar.
• Pelaksanaan survey penataan data pelanggan dan jaringan
untuk update database DIL dan DIJ berbasis computer / TI.
 Program Supply Side Management (SSM).
• Dalam upaya melayani permintaan calon/pelanggan terhadap
kebutuhan tenaga listrik dan sekaligus untuk efisiensi
pembelian tenaga listrik untuk menginvestasi sarana
ketenagalistrikan baru, maka Program Supply Side Management
(SSM) menjadi salah satu solusi jangka pendek / darurat guna
menunda kekurangan cadangan daya untuk memenuhi
kebutuhan listrik pada saat beban puncak, yaitu dengan
melakukan optimasi penggunaan pembangkit tenaga listrik
yang ada dan pemanfaatan captive power baik milik pelanggan
(access power) maupun milik non-pelanggan (swasta, koperasi
dan badan usaha lainnya).
• Potensi captive power dengan status utama status dan status
darurat.
• Upaya yang dilakukan PLN dalam melaksanakan program ini,
memanfaatkan embeded generator PLTA, program pembangkit
skala kecil, Sewa genset. Tambahan pembangkit skala kecil .
• Efficiency Drive Program (EDP):
program untuk mendorong upaya menekan / menghemat biaya
investasi dan biaya operasi dengan mengoptimalkan sumber
daya perusahaan yang ada, sehingga didapatkan net saving
berupa net gain dari penghematan yang dilakukan.
• Penghematan / efisiensi (DEP) dapat dilakukan :
• OPEX (OPERATING EXPENDITUR) : penekanan susut,
peningkatan pendapatan, penekanan biaya pembelian tenaga
listrik, penekanan SFC genset milik sendiri, penekanan umur
piutang, penekanan tenaga listrik tidak terjual dengan online
maintenance dan penekanan gangguan, percepatan penagihan,
swakelola pekerjaan, program DSM, pekerjaan pihak ketiga,
penekanan biaya cetak rekening dan PPJ, pendapatan dari
invoice, dll.
• CAPEX (CAPITAL EXPENDITUR) : rekondisi / modifikasi material,
manajemen / mutasi trafo, pemanfaatan asset, modifikasi
standar konstruksi / inovasi design, dll.
• SUPEX (SUPPORT EXPENDITUR): penekanan biaya outsourcing,
penekanan biaya non pegawai, dll.
Demand Side Management (DSM)
• Program penerapan Demand Side Management
kepada pelanggan dimaksudkan untuk mengenda
likan pertumbuhan permintaan tenaga listrik dgn
cara mengendalikan beban puncak, pembatasan
sementara sambungan baru terutama didaerah
kritis dan sangat mempengaruhi naiknya beban
puncak serta langkah2 lainnya disisi pelanggan.
Salah satu program DSM adalah menganjurkan
pelanggan memakai lampu hemat energi.
Hal ini dimaksudkan sebagai kontrol beban
distribusi pada sektor rumah tangga tarif R1, akan
didapatkan pengurangan kapasitas pembangkit
yang dibutuhkan , khususnya pada WBP (Waktu
Beban Puncak) tanpa mengurangi kebutuhan
pelanggan atau dengan kapasitas pembangkit
yang sama dapat melayani lebih banyak
konsumen, serta didapatkan penghematan daya
yang dpt digunakan utk menunda pembangunan
pembangkit baru yg memerlukan biaya yg mahal.
• Kebutuhan energi listrik yang cukup besar. Dan
laju pertumbuhan rata-rata per tahun misalnya di
Jawa Timur (1995 – 2004) yaitu :
• laju pertumbuhan rata-rata pelanggan sebesar
6,2% per tahun,
• laju pertumbuhan rata-rata daya tersambung
sebesar 6,5% per tahun, dan
• laju pertumbuhan rata-rata konsumsi energi
listrik sebesar 7,6% per tahun.
• Perbandingan Pembuatan Pembangkit Baru dengan Lampu
Hemat Energi :
(1). Dengan mengambil contoh pembuatan pembangkit jenis
pembangkit PLTU Gas dan Minyak
Dengan kriteria data :
Kapasitas terpasang
: 2 x 400 MW.
Biaya Dasar
:
520 $/KW.
Biaya kapasitas total
:
582 $/KW
Lama Pembangunan
:
3 Tahun.
Sehingga dapat di hitung biaya pembangunan pembangkit PLTU
Gas dan Minyak (asumsi harga dolar dipatok Rp.7000,00 /US$) :
Biaya pembangunan per KW = 4.214.000 (Rp/kW)
Biaya pembangunan Total = Biaya /kW xTotal Daya Terpasang
= Rp. 3,3712 trilyun.
(2). Dengan asumsi penggunakan lampu hemat energi
Life time
: 8.000 jam (asumsi berjalan normal)
Pemakaian Rata-rata : 7 jam perhari
Pemasangan lampu baru setelah
: 3 tahun
Harga lampu konstan.
Kapasitas penghematan daya tiap lampu
= 40 W – 9 W = 31 W/lampu.
Jumlah lampu yang dibutuhkan sampai
kapasitas 2 x 400 MW = 25.806.452 buah lampu.
Biaya yang diperlukan untuk 25.806.452 lampu
sebesar = Rp. 0,87742 Trilyun.
Jadi dengan kapasitas daya yang sama, diperoleh selisih
biaya :
Rp. 2,49378 Triliun
• b. Perbandingan Lampu Hemat Energi dengan
Lampu Pijar
Data pelanggan sektor rumah tangga tahun 2004 sebagaimana tabel
dibawah
KELOMPOK TARIF, JUMLAH DAN ENERGY SALES PELANGGAN TAHUN 2004
Kelompok
Pelanggan
Pelanggan
Tersambung
Energi Terjual
(MWh)
R-1
5.776.015
410.507
R-2
44.946
610.196
R-3
6.886
1.732.662
Total
5.827.853
2.701.413
• Perbandingan lampu hemat energi dengan lampu biasa dengan
asumsi kuat cahaya yang sama, umur lampu masing-masing dan
pada periode yang sama sebagaimana perhitungan pada tabel
dibawah ini.
Uraian
Lampu Biasa
Lampu Hemat Energi
40 Watt
9 Watt
Umur Lampu
1000 Jam
8000 Jam
Jumlah Lampu
8
1
Rp. 20.000,-
Rp. 34.000,-
Pemakaian Listrk Selama 8000 Jam
320 kWh
72 kWh
Harga kWh yg harus dibayar selama
8000 jam (Tarif R1= Rp 495,-/kWh
pemakaian kWh > 60 kWh)
Rp. 158.400,-
Rp 35.640,-
Total Biaya
Rp. 178.400,-
Rp. 69.204,-
Pemakaian Listrik
Harga Total @ Lampu Rp 2.500,-

Dengan beberapa asumsi penggunaan dan harga lampu
serta tingkat bunga, perhitungan secara ekonomi di dapat :
Biaya yang di keluarkan pembelian lampu selama 3 tahun :
- Lampu hemat energi
: Rp. 44.064,- Lampu biasa
: Rp. 64.800,Total keuntungan (NPV) = Rp. 20.736 atau 34,19 % dari
penggunaan lampu biasa.
Keuntungan yang diperoleh pelanggan dengan memakai
lampu hemat energi = Rp 109,196,- dari total biaya yang
dikeluarkan selama 8.000 jam menyala.
Keuntungan yang dapat di peroleh PLN adalah pengurangan
pemakaian pada WBP atau dengan kapasitas yang sama
dapat melayani lebih banyak konsumen, serta penghematan
biaya operasional pembangkitan pada WBP.
KESIMPULAN
Peningkatan efisiensi listrik di PT. PLN (Persero) dapat
dilaksanakan dengan program secara internal (PLN) dan
program secara eksternal (pelanggan / masyarakat).
Program peningkatan efisiensi internal meliputi :
– Penurunan susut jaringan distribusi (losses) teknis dan nonteknis.
– Pelaksanaan program Supply Side Management (SSM).
– Pelaksanaan Efficiency Drive Program (EDP).
Program peningkatan efisiensi eksternal meliputi Program
DSM (Demand Side Management) berupa sosialisasi kepada
masyarakat agar menggunakan listrik secara efektif dan
efisien (hemat biaya) dengan menggunakan capasitor atau
lampu hemat energi dan sesuai jadwal kebutuhan serta
upaya menghindari penggunaan listrik pada beban puncak
(pk. 18.00 – 20.00 waktu setempat).
 Dengan program peningkatan efisiensi internal dan
eksternal diatas, manfaat bagi PLN adalah menekan
kerugian bagi pemakaian tenaga listrik yang tidak disubsidi
dan harga jual rata-rata tarif-nya lebih kecil dari HPP,
menekan susut teknis dan optimalisasi pemanfaatan
asset, perbaikan Load Factor, menekan beban puncak /
penundaan biaya investasi pembangunan sarana
ketenagalistrikan baru dan peningkatan pemasaran yang
biaya investasiya cukup besar.
Dengan program peningkatan efisiensi eksternal diatas,
manfaat bagi pelanggan adalah upaya penjelasan guna
menekan biaya / penghematan penggunaan tenaga listrik
dari PLN dengan kebutuhan yang sama kerugian bagi
pemakaian tenaga listrik yang tidak disubsidi dan harga
jual rata-rata tarif.
WASSALAM

similar documents