Kurikulum 2013 - Undangan Lepas Sambut Kepala Disdikpora Kab

Report
Persiapan Implementasi
Kurikulum 2013
Ade Sopiali, S.Pi, M.Pd
Pengawas SMK Kba. Jepara
Disampaikan dalam Sosialisasi Kur 2013
Tanggal 6 Nopember 2013
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH
Di SMK
N 2 Jepara
20 MARET
2013
1
Materi Utama Sosialisasi Kur 2013
Tema Materi yang disampaikan dalam sosialisasi Kurikulum 2013 di SMK
N 2 Jepara
1. Perubahan Mindset dan Perkembangan Kurikulum
2. Perbandingan Tata Kelola
3.
Refleksi Hasil survei
4.
Struktur Kurikulum SD, SMA dan SMK
5.
Rasionalisasi , Landasan Yuridis, filosofis dan Empiris
6.
Pertimbangan dan Tantangan ( Internal dan Eksternal)
7.
Karakteristsik Kurikulum 2013 dan Elemen Perubahan
8.
Model Pembelajaran ( Project, PBL, Discovery)
9. Penilaian Autentik (Penilaian :Kinerja, Proyek,Portofolio, Tertulis).
10. PHB dan Raport Kurikulum 2013
22
Perubahan Mindset
Kualitas
Proses
Kualitas
Implementasi
Kurikulum
Kompetensi
Keterampilan
Guru
 Merancang
 Melaksanakan
 Mengevaluasi
Kemauan dan Kegigihan
melatih diri selama pelatihan
Format: Refleksi, instrumen , ekspectasi
Format: Apa yang dinginkan ?
Perubahan
Sikap
Tingkat
Keberterimaan
• Recieving
• Responding
• Valuing
• Organizing
• Charactering
Rancangan
aktivitas
Perkembangan Kurikulum di Indonesia
1975
Kurikulum
Sekolah Dasar
1947
Rencana Pelajaran →
Dirinci dalam Rencana
Pelajaran Terurai
1994
Kurikulum 1994
1968
Kurikulum
Sekolah Dasar
1945 1955
1965
1964
Rencana
Pendidikan
Sekolah Dasar
1975
1973
Kurikulum Proyek
Perintis Sekolah
Pembangunan
(PPSP)
1985
1995
1984
Kurikulum 1984
2004
Rintisan
Kurikulum
Berbasis
Kompetensi
(KBK)
2013
‘Kurikulum 2013’
2005
2015
2006
Kurikulum
Tingkat Satuan
Pendidikan
(KTSP)
1997
Revisi Kurikulum 1994
4
Kerah
Saku
Lengan Kiri
Lengan Kanan
Muka Kiri
Muka Kanan
Belakang
5
Pengertian Standar Isi (PP 19/2005)
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan
tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan,
kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus
dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan
jenis pendidikan tertentu
6
Kemeja Lengan Panjang Warna Biru
Ukuran M (Bahu: 38 cm; Dada: 92 cm; Pinggang 86 cm; Panjang 83 cm; Lengan 58
cm)
38 cm
saku
86 cm
kerah
58 cm
92 cm
Lengan Kiri
Muka Kiri
Belakang
83 cm
Muka Kanan
Lengan Kanan
7
Pembagian peran Pemerintah dan Satuan Pendidikan/Guru dalam Kurikulum dan
Efektivitas Waktu Pembelajaran
Efektivitas waktu pembelajaran
Efektivitas waktu pembelajaran
Alokasi waktu persiapan silabus dan review buku
Peran Guru/Satdik
KTSP 2006
Alokasi waktu guru untuk persiapan
silabus dan review buku ajar
KBK 2004
Kurikulum
2013
Peran Pemerintah
... Kurikulum 2013 memberikan kesempatan yang lebih besar bagi guru/satuan pendidikan untuk
meningkatkan efektivitas waktu pembelajaran .....
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum
Elemen
KTSP 2006
Ukuran Tata kelola
Kewenangan
Hampir mutlak
Terbatas
Kompetensi
Harus tinggi
Sebaiknya tinggi. Bagi yang
rendah masih terbantu
dengan adanya buku
Beban
Berat
Ringan
Efektivitas waktu untuk
kegiatan pembelajaran
Rendah [banyak waktu Tinggi
untuk persiapan]
Peran penerbit
Besar
Kecil
Variasi materi dan
proses
Tinggi
Rendah
Variasi harga/beban
siswa
Tinggi
Rendah
Hasil pembelajaran
Tergantung
sepenuhnya pada guru
Tidak sepenuhnya
tergantung guru, tetapi
juga buku yang disediakan
pemerintah
Titik Penyimpangan
Banyak
Sedikit
Besar Penyimpangan
Tinggi
Rendah
Guru
Buku
Siswa
Pemantaua
Kurikulum 2013
9
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum
Proses
Penyusunan
Silabus
Penyediaan
Buku
Penyusunan
Rencana
Pelaksanaan
Pembelajara
n
Pelaksanaan
Pembelajara
Peran
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Guru
Hampir mutlak [dibatasi
hanya oleh SK-KD]
Pengembangan dari yang
sudah disiapkan
Pemerintah
Hanya sampai SK-KD
Mutlak
Pemerintah
Daerah
Supervisi penyusunan
Supervisi pelaksanaan
Penerbit
Kuat
Lemah
Guru
Hampir mutlak
Kecil, untuk buku
pengayaan
Pemerintah
Kecil, untuk kelayakan
penggunaan di sekolah
Mutlak untuk buku teks,
kecil untuk buku
pengayaan
Guru
Hampir mutlak
Kecil, untuk pengembangan
dari yang ada pada buku
teks
Pemerintah
Daerah
Supervisi penyusunan dan
pemantauan
Supervisi pelaksanaan dan
pemantauan
Guru
Mutlak
Hampir mutlak
Pemerintah
Pemantauan kesesuaian
Pemantauan kesesuaian 10
Refleksi dari Hasil PISA 2009
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Matematika
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Level 6
Level 5
Level 4
IPA
Level 3
Level 2
Level 1
Below Level 1
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Level 6
Level 5
Level 4
Bahasa
Level 3
Level 2
Level 1b
Level 1a
Hampir semua siswa Indonesia hanya
menguasai pelajaran sampai level 3 saja,
sementara negara lain banyak yang sampai
level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan
bahwa semua manusia diciptakan sama,
interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu:
yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan
zaman  penyesuaian kurikulum
11
Results of Reading (4th Grade)
2006
Very Low
Low
Intermediate
2011
High
Advance
Low
Intermediate
High
Advance
Morocco
Indonesia
Saudi Arabia
Iran
Chinese Taipei
Singapore
Morocco
Indonesia
Iran
Chinese Taipei
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Singapore
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Very Low
Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara lebih
dari 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan
bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di
Indonesia berbeda dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional
12
Tema Kurikulum 2013
Kurikulum yang
dapat menghasilkan
insan indonesia
yang:
Produktif
Kreatif
Inovatif
Afektif
Produktif,
Kreatif,
Inovatif,
Afektif
melalui penguatan
Sikap,
Keterampilan,
dan
Pengetahuan
yang terintegrasi
13
ALTERNATIF STRUKTUR KURIKULUM SD 2013
Alternatif I
No Komponen
Kelompok A
1 Pend. Agama
2 PPKN
3 Bahasa Indonesia
4 Matematika
5 IPA
6 IPS
Kelompok B
7 Seni Budaya & Prakarya
(termasuk muatan
lokal)
8 Pend. Jasmani, OR &
Kes (termasuk muatan
lokal).
Jumlah
I
4
5
8
5
4
4
30
Alternatif II
II III IV V VI No Komponen
Kelompok A
1 Pend. Agama
4 4 4 3 3
2 PPKN
6 6 6 4 4
3 Bahasa Indonesia
8 10 10 7 7
4 Matematika
6 6 6 6 6
5 IPA
- - - 3 3
6 IPS
- - - 3 3
Kelompok B
4 4 6 6 6
7 Seni Budaya & Prakarya
(termasuk muatan
lokal)
4 4 4 4 4
8 Pend. Jasmani, OR &
Kes (termasuk muatan
lokal).
32 34 36 36 36 Jumlah
I
II III IV V VI
4
5
8
5
-
4 4 3
6 6 4
8 10 7
6 6 6
- - 3
- - 3
3
4
7
6
3
3
4
4
4
6
6 6
4
4
4
4
4 4
3
4
7
6
3
3
30 32 34 36 36 36
Kedua alternatif menggunakan pembelajaran tematik
terpadu
14
STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH
Mata Pelajaran
Kelas
X
XI
XII
3
2
4
4
2
2
3
2
4
4
2
2
3
2
4
4
2
2
2
2
3
2
2
3
2
2
3
24
24
24
18
20
20
26
26
26
Kelompok A (Wajib)
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
3 Bahasa Indonesia
4 Matematika
5 Sejarah Indonesia
6 Bahasa Inggris
Kelompok B (Wajib)
7
8
9
Seni Budaya (termasuk muatan lokal)
Prakarya dan kewirausahaan (termasuk muatan lokal)
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
Jumlah jam pelajaran Kelompok Wajib
Kelompok C (Peminatan)
Matapelajaran peminatan akademik (untuk SMA)
Matapelajaran peminatan akademik dan vokasi (untuk
SMK)
STRUKTUR KURIKULUM PEMINATAN SMA
X
24
Kelas
XI
24
XII
24
3
4
4
3
4
4
3
4
4
3
4
4
3
4
4
3
4
4
3
4
4
3
4
4
3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4
6
4
4
Jumlah Jam Pelajaran yang Tersedia per mingggu
60
72
72
Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per minggu
42
44
44
Mata Pelajaran
Kelompok A dan B (Wajib)
I Peminatan Matematika dan IPA
1 Matematika
2 Biologi
3 Fisika
4 Kimia
II
Peminatan Sosial:
1 Geografi
2 Sejarah
3 Sosiologi dan Antropologi
4 Ekonomi
Peminatan Bahasa
1 Bahasa dan Sastra Indonesia
2 Bahasa dan Sastra Inggris
3 Bahasa dan Sastra Asing lainnya
4 Anthropologi
Matapelajaran Pilihan dan Pendalaman
Pilihan Pendalaman Minat atau Lintas Minat
III
STRUKTUR KURIKULUM PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN
Mata Pelajaran
Kelompok A (Wajib)
Pendidikan Agama
1
X
Kelas
XI
XII
3
3
3
2
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
2
2
2
3
Bahasa Indonesia
4
4
4
4
Matematika
4
4
4
5
Sejarah Indonesia
2
2
2
6
Bahasa Inggris
2
2
2
2
2
2
Kelompok B (Wajib)
7 Seni Budaya
8
Prakarya dan Kewirausahaan
2
2
2
9
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
3
3
3
Jumlah jam pelajaran Kelompok A dan kelompok B
24
24
24
6
18
-
6
18
24
48
48
48
Kelompok C (Peminatan)
Dasar Bidang Keahlian
Dasar Program Keahlian
Paket Keahlian
TOTAL
RASIONAL
1.
2.
3.
4.
5.
Perkembangan penduduk usia produktif
Tantangan masa depan (globalisasi)
Kompetensi masa depan
Persepsi masyarakat
Perkembangan pengetahuan dan
teknologi
6. Fenomena negatif yang mengemuka
7. Penyempurnaan pola pikir
LANDASAN KURIKULUM 2013
1. Landasan Yuridis
– Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang SPN > mewujudkan tujuan
Pendidikan Nasional secara terarah
– RPJMN 2010-2014 > penyempurnaan
proses pembelajaran (metodologi) dan
kurikulum
Lanjutan ….
2. Landasan Filosofis
Membangun kehidupan masa kini dan
masa akan datang yang lebih baik.
3. Landasan Empiris
– Menumbuhkan kemampuan
merumuskan pemecahan masalah secara
kreatif dan inovatif.
Beberapa Pertimbangan dalam Pengembangan Kurikulum
Kompetensi Abad 21
Partnership for 21st Century [2008], 21st Century Skills,
Education, and Competitiveness.
Pada abad 21, mata pelajaran
utama perlu dibingkai oleh
kompetensi pembelajaran dan
inovasi karena belajar tidak
hanya terbatas di sekolah saja
tetapi dari banyak sumber lain.
Karena itu diperlukan dukungan
kompetensi pemanfaatan
informasi, media, dan TIK.
Sedangkan kompetensi inovasi
memerlukan dukungan proses
pembelajaran yang dapat
memperkuat kreativitas
melalui kemampuan berfikir
kritis dalam pemecahan
Learning and Innovation
• Creativity and innovation
• Critical thinking and problem
solving
• Communication and
collaboration
Information, Media
and Technology
• Information literacy
• Media literacy
• ICT literacy
21
RPJMN 2010-2014
Prioritas: Metodologi
Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi
berupa pengajaran demi kelulusan ujian (teaching
to the test), namun pendidikan menyeluruh yang
memperhatikan kemampuan sosial, watak, budi
pekerti, kecintaan terhadap budaya-bahasa
Indonesia melalui penyesuaian sistem Ujian Akhir
Nasional pada 2011 dan penyempurnaan kurikulum
sekolah dasar dan menengah sebelum tahun 2011
yang diterapkan di 25% sekolah pada 2012 dan
100% pada 2014;
13/11/2012
DRAFT
22
RPJMN 2010-2014
Prioritas: Kurikulum
Penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi
menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah,
dan sekolah sehingga dapat mendorong
penciptaan hasil didik yang mampu menjawab
kebutuhan SDM untuk mendukung
pertumbuhan nasional dan daerah dengan
memasukkan pendidikan kewirausahaan
(diantaranya dengan mengembangkan model
link and match).
13/11/2012
DRAFT
23
Permasalahan Kurikulum 2006 (1)
• Kemampuan guru belum disiapkan secara
matang sehingga kebanyakan hanya copypaste kurikulum sekolah lain;
• Konten kurikulum masih terlalu padat yang
ditunjukkan dengan banyaknya
matapelajaran dan banyak materi yang
keluasan dan tingkat kesukarannya
melampaui tingkat perkembangan usia
anak;
13/11/2012
DRAFT
24
Permasalahan Kurikulum 2006 (2)
• Kurikulum belum sepenuhnya berbasis
kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan
tujuan pendidikan nasional;
• Kompetensi belum menggambarkan secara
holistik domain sikap, keterampilan, dan
pengetahuan;
• Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai
dengan perkembangan kebutuhan (misalnya
pendidikan karakter, metodologi pembelajaran
aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills,
kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam
kurikulum;
13/11/2012
DRAFT
25
Permasalahan Kurikulum 2006 (2)
• Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap
perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal,
nasional, maupun global;
• Standar proses pembelajaran belum
menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci
sehingga membuka peluang penafsiran yang
beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran
yang berpusat pada guru;
• Standar penilaian belum mengarahkan pada
penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil)
dan belum secara tegas menuntut adanya
remediasi secara berkala.
13/11/2012
DRAFT
26
Rasionalitas Penambahan Jam Pelajaran
• Perubahan proses pembelajaran [dari
siswa diberi tahu menjadi siswa mencari
tahu] dan proses penilaian [dari berbasis
output menjadi berbasis proses dan
output] memerlukan penambahan jam
pelajaran
• Perbandingan dengan negara-negara
lain menunjukkan jam pelajaran di
Indonesia relatif lebih singkat
13/11/2012
DRAFT
27
KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013
• Menekankan Pada Pengembangan Sikap
(Keagamaan Dan Sosial), Rasa Ingin Tahu,
Kreativitas, Kerja Sama
• Sekolah Tidak Terpisah Dari Masyarakat
• Mengembangkan Ketrampilan Menerapkan
Untuk Setiap Pengetahuan Yang Dipelajari
Untuk Menghilangkan Verbalisme
• Menempatkan Peserta Didik Sebagai Subjek
Dalam Belajar
Lanjutan …..
• Desain Kurikulum Menerapkan Prinsip Bahwa
Belajar Bersifat Akumulatif Dan Saling
Memperkuat
• Kurikulum Adalah Kurikulum Satuan Pendidikan
Dan Bukan Daftar Mata Pelajaran
• Kurikulum Merupakani Kebijakan Pendidikan
Untuk Membelajarkan Peserta Didik Dari Tidak
Tahu > Tahu, Tidak Mampu > Mampu, Tidak
Mau > Mau
• Menghargai Ketrampilan Melakukan, Berpikir, Dan
Sikap Sebagai Hasil Belajar Dan Bukan Hanya
Kemampuan Kognitif Rendah
Elemen Perubahan
Elemen
Perubahan
Elemen Perubahan
Elemen
Deskripsi
SD
SMP
SMA
SMK
Kompetensi
Lulusan
Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills
yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan
Kedudukan
mata
pelajaran (ISI)
Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah
menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi.
Pendekatan
(ISI)
Kompetensi dikembangkan melalui:
Tematik terpadu
dalam semua
mata pelajaran
Mata
pelajaran
Mata pelajaran
Vokasinal
31
ELEMEN
PERUBAHAN
Standar
Kompetensi
Lulusan
Standar Isi
DESKRIPSI
Adanya peningkatan dan keseimbangan
soft skills dan hard skills yang meliputi
aspek kompetensi sikap, keterampilan,
dan pengetahuan
Kompetensi yang semula diturunkan dari
matapelajaran berubah menjadi
matapelajaran dikembangkan dari
kompetensi.
Kompetensi dikembangkan melalui: Mata
Pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi
ELEMEN
PERUBAHAN
Standar Isi
DESKRIPSI
Penyesuaian jenis keahlian berdasarkan
spektrum kebutuhan saat ini
Penyeragaman mata pelajaran dasar
umum
Produktif disesuaikan dengan tren
perkembangan Industri
ELEMEN
PERUBAHAN
Standar Proses
DESKRIPSI
Semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi,
dan konfirmasi dilengkapi dengan
mengamati, menanya, mengolah, menalar,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas,
tetapi juga di lingkungan sekolah dan
masyarakat
Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi
melalui contoh dan teladan
DOMAIN
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN SMK
SIKAP
MEMILIKI PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP ORANG
BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN
BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF
DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN ALAM SERTA DALAM
MENEMPATKAN DIRINYA SEBAGAI CERMINAN BANGSA DALAM
PERGAULAN DUNIA
PENGETAHUAN
MEMILIKI PENGETAHUAN PROSEDURAL DAN METAKOGNITIF
DALAM ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, DAN BUDAYA
DENGAN WAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN,
KENEGARAAN, DAN PERADABAN TERKAIT PENYEBAB
FENOMENA DAN KEJADIAN
KETERAMPILAN
MEMILIKI PERILAKU YANG MENCERMINKAN SIKAP ORANG
BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN
BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF
DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL DAN ALAM SERTA DALAM
MENEMPATKAN DIRINYA SEBAGAI CERMINAN BANGSA DALAM
PERGAULAN DUNIA
KOMPETENSI INTI
• Kompetensi Inti (Ki) Merupakan
Gambaran Kelompok Yang Tidak
Kategorial Mengenai Kompetensi
Dalam Aspek Sikap, Pengetahuan, Dan
Ketrampilan (Kognitif Dan Psikomotor)
Yang Harus Dipelajari Peserta Didik
Untuk Suatu Sekolah, Kelas Dan Mata
Pelajaran.
KETERKAITAN KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
SIKAP RELIGIUSITAS
SIKAP SOSIAL
INDIRECT TEACHING
PENGETAHUAN
PENERAPAN
DIRECT TEACHING
KOMPETENSI DASAR
• Kompetensi Dasar (Kd) Merupakan Kompetensi
Yang Dipelajari Peserta Didik Untuk Mata
Pelajaran Di Kelas Tertentu
• Kompetensi Dasar Dikembangkan Berdasarkan
Kompetensi Inti
• Kompetensi Dasar Yang Dikembangkan
Didasarkan Pada Prinsip Akumulatif, Saling
Memperkuat (Reinforced) Dan Memperkaya
(Enriched) Antar Mata Pelajaran Dan Jenjang
Pendidikan (Organisasi Horizontal Dan
Vertikal).
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI
DASAR
SIKAP RELIGIUSITAS
SIKAP SOSIAL
INDIRECT
TEACHING
PENGETAHUAN
DIRECT
TEACHING
PENERAPAN
PEMBELAJARAN
KEGIATAN
AKTIVITAS BELAJAR
MENGAMATI
MELIHAT, MENGAMATI, MEMBACA, MENDENGAR, MENYIMAK
(DENGAN ATAU TANPA ALAT)
MENANYA
– MENGAJUKAN PERTANYAAN DARI YANG FAKTUAL SAMPAI
KE YANG BERSIAT HIPOTESIS
– DIAWALI DENGAN BIMBINGAN GURU SAMPAI DENGAN
MANDIRI (MENJADI SUATU KEBIASAAN)
PENGUMPULAN
DATA
– MENENTUKAN DATA YANG DIPERLUKAN DARI PERTANYAAN
YANG DIAJUKAN
– MENENTUKAN SUMBER DATA (BENDA, DOKUMEN, BUKU,
EKPERIMEN)
– MENGUMPULKAN DATA
ASOSIASI
– MENGANALISIS DATA DALAM BENTUK MEMBUAT KATEGORI,
MENENTUKAN HUBUNGAN DATA/KATEGORI
– MENYIMPULKAN DARI HASIL ANALISIS DATA
– DIMULAI DARI PRETRUCTURAL, UNISTRUCTURAL-MULTI
STRUCTURAL, RELATIONAL, EXTENDED ABSTRACT
KOMUNIKASI
– MENYAMPAIKAN HASIL KONSEPTUALISASI
Mata pelajaran Kelompok A dan C adalah
kelompok mata pelajaran yang substansinya
dikembangkan oleh pusat.
Mata pelajaran Kelompok B adalah kelompok
mata pelajaran yang substansinya
dikembangkan oleh pusat dan dapat
dilengkapi dengan muatan lokal yang
dikembangkan oleh pemerintah daerah.
Kegiatan Ekstrakurikuler SMA/MA, SMK/MAK:
Pramuka (wajib), OSIS, UKS, PMR, dan lainlain, diatur lebih lanjut dalam bentuk
Pedoman Program Ekstrakurikuler.
• Matapelajaran serta KD pada kelompok C2
dan C3 ditetapkan oleh Direktorat Jenderal
Pendidikan Menengah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan untuk
menyesuaikan dengan perkembangan
teknologi serta kebutuhan dunia usaha dan
industri.
• Khusus untuk MAK dapat ditambah dengan
muatan keagamaan yang diatur lebih lanjut
oleh Kementerian Agama.
Landasan Kerja Penyempurnaan Kurikulum
• RPJMN 2010-2014 SEKTOR PENDIDIKAN
Prioritas 2: Metodologi
Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan
ujian (teaching to the test), namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan
kemampuan sosial, watak, budi pekerti, kecintaan terhadap budaya-bahasa Indonesia
melalui penyesuaian sistem Ujian Akhir Nasional pada 2011 dan penyempurnaan
kurikulum sekolah dasar dan menengah sebelum tahun 2011 yang diterapkan di 25%
sekolah pada 2012 dan 100% pada 2014;
Prioritas 5: Kurikulum
Penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional,
daerah, dan sekolah sehingga dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu
menjawab kebutuhan SDM untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah
dengan memasukkan pendidikan kewirausahaan (diantaranya dengan mengembangkan
model link and match);
• INPRES NOMOR 1 TAHUN 2010
Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional: Penyempurnaan
Kurikulum dan Metode Pembelajaran Aktif Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya bangsa
Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa
44
KURIKULUM TINGKAT
NASIONAL
KURIKULUM TINGKAT
DAERAH
KURIKULUM TINGKAT
SEKOLAH
Beban
Belajar
Kalender
Akademik
Pendidikan Agama
1. Visi
PKN  PPKn
2. Misi
Bahasa Indonesia
3. Strategi
Matematika
4. Tujuan
Pendidikan
Bahasa Inggris
Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Alam
KTSP
Seni dan Budaya
PEDOMAN
PENGEMBANGAN
D
a
s
a
r
I. Mata Pelajaran
KOMPETENSI
K
e
r
a
n
g
k
a
Struktur Kurikulum [distribusi jam min/maks]
Koordinasi dan Supervisi
Pendidikan Jasmani/Olahraga
5. Struktur
& Muatan
Kurikulum:
[Jam
pelajaran
“real”]
RPP dan
Kegiatan
Pembelajaran
[Intra dan
Ekstra
Kurikuler]
Keterampilan/Kejuruan
6. Waktu &
Beban
Belajar
7. Kalender
Akademik
Penyesuaian Event
Daerah
45
Pengembangan Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar
Kurikulum 2013
Sedang Dikerjakan
Telah dan terus
Dikerjakan
-Peningkatan Kualifikasi &
Sertifikasi
-Pembayaran Tunjangan
Sertifikasi
-Uji Kompetensi dan
Pengukuran Kinerja
-Rehab Gedung Sekolah
-Penyediaan Lab dan
Perpustakaan
-Penyediaan Buku
-BOS
-Bantuan Siswa Miskin
-BOPTN/Bidik Misi (di PT)
Manajemen Berbasis
Sekolah
46
Bonus Demografi Sebagai Modal
"Bonus Demografi"
SDM
Usia Produktif
Melimpah
Kompeten
Modal
Pembangunan
Transformasi Melalui Pendidikan
Tidak Kompeten
Beban
Pembangunan
100 tahun kemerdekaan
-Kurikulum
- PTK
-Sarpras
-Pendanaan
-Pengelolaan
47
Tantangan Pengembangan Kurikulum
Tantangan Masa Depan (ekesternal)
Kompetensi Masa Depan (Eksternal)
•
•
•
•
•
•
•
•
•
• Kemampuan berkomunikasi
• Kemampuan berpikir jernih dan kritis
• Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu
permasalahan
• Kemampuan menjadi warga negara yang
bertanggungjawab
• Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran
terhadap pandangan yang berbeda
• Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal
• Memiliki minat luas dalam kehidupan
• Memiliki kesiapan untuk bekerja
• Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya
• Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan
Globalisasi: WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA
Masalah lingkungan hidup
Kemajuan teknologi informasi
Konvergensi ilmu dan teknologi
Ekonomi berbasis pengetahuan
Kebangkitan industri kreatif dan budaya
Pergeseran kekuatan ekonomi dunia
Pengaruh dan imbas teknosains
Mutu, investasi dan transformasi pada sektor
pendidikan
• Materi TIMSS dan PISA
Persepsi Masyarakat
• Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif
• Beban siswa terlalu berat
• Kurang bermuatan karakter
Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi
• Neurologi
• Psikologi
• Observation based [discovery] learning dan
Collaborative learning
Fenomena Negatif yang Mengemuka






Perkelahian pelajar
Narkoba
Korupsi
Plagiarisme
Kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..)
Gejolak masyarakat (social unrest)
48
Tantangan Internal
• Tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8
Standar Nasional Pendidikan yang meliputi
Standar Pengelolaan, Standar Biaya, Standar
Sarana Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga
Kependidikan, Standar Isi, Standar Proses,
Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi
Lulusan.
• Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor
perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari
pertumbuhan penduduk usia produktif.
49
Perkembangan Penduduk sebagai Modal
Kompeten
SDM
Usia Produktif
(2020-2035)
Melimpah
Modal
Pembangunan
Transformasi
melalui
Pendidikan
Tidak
Kompeten
Beban
Pembangunan





Kurikulum
PTK
Sarpras
Pendanaan
Pengelolaan
50
PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
4. Penyesuaian Beban
3. Penguatan Proses
KBK 2004
KTSP 2006
2. Pendalaman dan
Perluasan Materi
KURIKULUM
2013
1. Penataan Pola
Pikir dan Tata
Kelola
TANTANGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL
51
51
Konsep Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Keutuhan
Keseragaman
Keselarasan
(Praktek terbaik)
UU Sisdiknas
Kebutuhan:
-Individu
-Masyarakat
-Bangsa dan
Negara
-Peradaban
Kompeten
si lulusan
(Sikap,
Keterampilan,
Pengetahuan)
SKL
Materi Inti
Pembelajara
n
Proses
Pembelajara
n
Proses
Penilaian
Detil
Mata
Pelajara
n
SI, SP, SN
Sikap, Keterampilan, Pengetahuan
SKL: Standar Kompetensi Lulusan, SI: Standar Isi, SP: Standar Proses, SN: Standar Penilaian 52
Penyempurnaan Pola Pikir Perumusan Kurikulum
No KBK 2004
KTSP 2006
Kurikulum 2013
1
Standar Kompetensi Lulusan diturunkan
dari Standar Isi
Standar Kompetensi Lulusan
diturunkan dari kebutuhan
2
Standar Isi dirumuskan berdasarkan Tujuan
Mata Pelajaran (Standar Kompetensi
Lulusan Mata Pelajaran) yang dirinci
menjadi Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar Mata Pelajaran
Standar Isi diturunkan dari
Standar Kompetensi Lulusan
melalui Kompetensi Inti yang
bebas mata pelajaran
3
Pemisahan antara mata pelajaran
pembentuk sikap, pembentuk
keterampilan, dan pembentuk
pengetahuan
Semua mata pelajaran harus
berkontribusi terhadap
pembentukan sikap,
keterampilan, dan
pengetahuan,
4
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari
kompetensi yang ingin dicapai
5
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, Semua mata pelajaran diikat
seperti sekumpulan mata pelajaran
oleh kompetensi inti (tiap kelas)
53
terpisah
Penyempurnaan Pola Pikir
1
Berpusat pada Guru
Berpusat pada Siswa
2
Satu Arah
Interaktif
3
Isolasi
Lingkungan Jejaring
4
Pasif
Aktif-Menyelidiki
5
Maya/Abstrak
Konteks Dunia Nyata
6
Pribadi
Pembelajaran Berbasis Tim
7
Luas (semua materi
diajarkan)
8
Stimulasi Rasa Tunggal
(beberapa panca indera)
Stimulasi ke Segala Penjuru
(semua Panca indera)
Alat Tunggal (papan tulis)
Alat Multimedia (berbagai
peralatan teknologi pendidikan)
Hubungan Satu Arah
Kooperatif
9
10
Menuju
Perilaku Khas Memberdayakan
Kaidah Keterikatan
54
Penyempurnaan Pola Pikir (lanjutan)
11
Produksi Masa (siswa
memperoleh dokumen yg
sama)
Kebutuhan Pelanggan (siswa
mendapat dokumen sesuai dgn
ketertarikan sesuai potensinya)
12
Usaha Sadar Tunggal
(mengikuti cara yang
seragam)
Jamak (keberagaman inisiatif
individu siswa)
13
Satu Ilmu Pengetahuan
Bergeser (mempelajari
satu sisi pandang ilmu)
Pengetahuan Disiplin Jamak
(pendekatan multidisiplin)
Menuju
14
Kontrol Terpusat
(kontrol oleh guru)
Otonomi dan Kepercayaan
(siswa diberi tanggungjawab)
15
Pemikiran Faktual
Kritis (membutuhkan pemikiran
kreatif)
16 Penyampaian Pengetahuan
(pemindahan ilmu dari
guru ke siswa)
Pertukaran Pengetahuan (antara
guru dan siswa, siswa dan siswa
lainnya)
55
Langkah Penguatan Proses
Proses
Karakteristik Penguatan
Menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya,
mencoba, menalar,....
Pembelajaran
Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak
pembelajaran untuk semua mata pelajaran.
Menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu
[discovery learning].
Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi,
pembawa pengetahuan dan berfikir logis, sistematis, dan kreatif.
Mengukur tingkat berpikir siswa mulai dari rendah sampai tinggi.
Penilaian
Menekankan pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran
mendalam [bukan sekedar hafalan].
Mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa.
Menggunakan portofolio pembelajaran siswa.
56
Langkah Penyesuaian Beban Guru dan Murid SD
Pelaku
Beban
Menyusun Silabus.
Mencari buku yang sesuai.
Penyelesaian
Disediakan buku pegangan guru
Mengajar beberapa mata pelajaran
dengan cara berbeda.
Guru
Mengajar banyak mata pelajaran.
Menggunakan bahasa Indonesia sebagai
penghela mata pelajaran yang lain
sehingga selaras.
Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai
penggerak pembahasan.
Mempelajari banyak mapel.
Murid
Mempelajarai mata pelajaran dengan cara
berbeda.
Membeli buku.
57
Pendekatan tematik terpadu
menggunakan satu buku untuk
semua mata pelajaran sehingga
dapat selaras dengan
kemampuan Bahasa Indonesia
sebagai alat komunikasi dan
carrier of knowledge.
Membeli lembar kerja siswa.
Penyedian buku teks oleh
pemerintah/daerah.
Elemen Perubahan
Elemen
Deskripsi
SD
SMP
SMA
SMK
Kompetensi
Lulusan
Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills
yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan
Kedudukan
mata
pelajaran (ISI)
Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah
menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi.
Pendekatan
(ISI)
Kompetensi dikembangkan melalui:
Tematik terpadu
dalam semua
mata pelajaran
Mata
pelajaran
Mata pelajaran
Vokasinal
58
Elemen Perubahan
Elemen
Deskripsi
SD
• Holistik berbasis
sains (alam,
sosial, dan
budaya)
• Jumlah
matapelajaran
dari 10 menjadi 6
Struktur
• Jumlah jam
Kurikulum
bertambah 4
(Mata pelajaran
JP/minggu akibat
dan alokasi
perubahan
waktu)
pendekatan
(ISI)
pembelajaran
SMP
• TIK menjadi media
semua
matapelajaran
• Pengembangan diri
terintegrasi pada
setiap
matapelajaran dan
ekstrakurikuler
• Jumlah
matapelajaran dari
12 menjadi 10
• Jumlah jam
bertambah 6
JP/minggu akibat
perubahan
pendekatan
pembelajaran
SMA
SMK
• Perubahan
sistem: ada
matapelajaran
wajib dan ada
matapelajaran
pilihan
• Penambahan jenis
keahlian
berdasarkan
spektrum
kebutuhan (6
program keahlian,
40 bidang keahlian,
121 kompetensi
keahlian)
• Terjadi
pengurangan
matapelajaran
yang harus
diikuti siswa
• Jumlah jam
bertambah 1
JP/minggu
akibat
perubahan
pendekatan
pembelajaran
• Pengurangan
adaptif dan
normatif,
penambahan
produktif
• produktif
disesuaikan
dengan trend
perkembangan di
Industri
59
Elemen Perubahan
Elemen
Proses
pembelajaran
Deskripsi
SD
SMP
SMA
SMK
• Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan
Konfirmasi dilengkapi dengan Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan,
Menyimpulkan, dan Mencipta.
• Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah
dan masyarakat
• Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
• Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
• Tematik dan
terpadu
• IPA dan IPS
masingmasing
diajarkan
secara
terpadu
• Adanya mata
• Kompetensi
pelajaran wajib
keterampilan yang
dan pilihan
sesuai dengan standar
sesuai dengan
industri
bakat dan
minatnya
60
Elemen Perubahan
Deskripsi
Elemen
Penilaian hasil
belajar
Ekstrakurikuler
SD
SMP
SMA
SMK
• Penilaian berbasis kompetensi
• Pergeseran dari penilain melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan
berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi
sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]
• Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar
didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)
• Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL
• Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama
penilaian
•
•
•
•
Pramuka (wajib)
UKS
PMR
Bahasa Inggris
• Pramuka
(wajib)
• OSIS
• UKS
• PMR
• Dll
• Pramuka
(wajib)
• OSIS
• UKS
• PMR
• Dll
•
•
•
•
•
Pramuka (wajib)
OSIS
UKS
PMR
Dll
61
Perbedaan Esensial Kurikulum 2013
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Ket
Mata pelajaran tertentu
mendukung kompetensi
tertentu
Tiap mata pelajaran mendukung semua
kompetensi [sikap, keterampilan, pengetahuan]
Semua
Jenjang
Mata pelajaran dirancang
berdiri sendiri dan
memiliki kompetensi
dasar sendiri
Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang
lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat
oleh kompetensi inti tiap kelas
Semua
Jenjang
Bahasa Indonesia sejajar
dengan mapel lain
Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain
[sikap dan keterampilan berbahasa}
Tiap mata pelajaran
diajarkan dengan
pendekatan berbeda
Semua mata pelajaran diajarkan dengan
pendekatan yang sama [saintifik] melalui
mengamati, menanya, mencoba, menalar,....
Tiap jenis konten
pembelajaran diajarkan
terpisah [separated
curriculum]
Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan
terkait dan terpadu satu sama lain [cross
curriculum atau integrated curriculum]
SD
Konten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan
dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya
SD
SD
Semua
Jenjang
62
Perbedaan Esensial Kurikulum 2013
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Ket
Tematik untuk kelas I – III Tematik Integratif untuk Kelas I – VI
[belum integratif]
SD
TIK adalah mata
pelajaran sendiri
TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan
sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain
SMP
Bahasa Indonesia
sebagai pengetahuan
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan
carrier of knowledge
SMP/
SMA/SMK
Untuk SMA, ada
Tidak ada penjurusan di SMA. Ada mata pelajaran
penjurusan sejak kelas XI wajib, peminatan, antar minat, dan pendalaman
minat
SMA/SMK
SMA dan SMK tanpa
kesamaan kompetensi
SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang
sama terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan,
dan sikap.
SMA/SMK
Penjurusan di SMK
sangat detil [sampai
keahlian]
Penjurusan di SMK tidak terlalu detil [sampai bidang
studi], didalamnya terdapat pengelompokkan
peminatan dan pendalaman
SMA/SMK
63
Perubahan untuk Semua Mata Pelajaran
No
Implementasi
Kurikulum Lama
Kurikulum Baru
1
Materi disusun untuk
memberikan
pengetahuan kepada
siswa
Materi disusun seimbang mencakup kompetensi
sikap, pengetahuan, dan keterampilan
2
Pendekatan
pembelajaran adalah
siswa diberitahu tentang
materi yang harus
dihafal [siswa diberi
tahu].
Pendekatan pembelajaran berdasarkan
pengamatan, pertanyaan, pengumpulan data,
penalaran, dan penyajian hasilnya melalui
pemanfaatan berbagai sumber-sumber belajar
[siswa mencari tahu]
3
Penilaian pada
pengetahuan melalui
ulangan dan ujian
Penilaian otentik pada aspek kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan berdasarkan
portofolio.
64
Perubahan pada Ilmu Pengetahuan Sosial
No
Implementasi
Kurikulum Lama
Kurikulum Baru
Materi disajikan terpisah
menjadi Geografi, Sejarah,
Ekonomi, Sosiologi
Materi disajikan terpadu, tidak dipisah dalam kelompok
Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi.
2
Tidak ada platform, semua
kajian berdiri sejajar
Menggunakan Geografi sebagai platform kajian dengan
pertimbangan semua kejadian dan kegiatan terikat dengan
lokasi. Tujuannya adalah menekankan pentingnya
konektivitas ruang dalam memperkokoh NKRI. Kajian
sejarah, sosiologi, budaya, dan ekonomi disajikan untuk
mendukung terbentuknya konektivitas yang lebih kokoh.
3
Diajarkan oleh guru
berbeda (team teaching)
dengan sertifikasi
berdasarkan mata kajian
Diajarkan oleh satu orang guru yang memberikan
wawasan terpadu antar mata kajian tersebut sehingga
siswa dapat memahami pentingnya keterpaduan antar
mata kajian tersebut sebelum mendalaminya secara
terpisah dan lebih mendalam pada jenjang selanjutnya
1
65
Perubahan pada Ilmu Pengetahuan Alam
No
Implementasi
Kurikulum Lama
1
Materi disajikan terpisah antara
Fisika, Kimia, dan Biologi
Materi disajikan terpadu, tidak dipisah dalam kelompok Fisika,
Kimia, Biologi
2
Tidak ada platform, semua
kajian berdiri sejajar
Menggunakan Biologi sebagai platform kajian dengan
pertimbangan semua kejadian dan fenomena alam terkait dengan
benda beserta interaksi diantara benda-benda tersebut.
Tujuannya adalah menekankan pentingnya interaksi biologi, fisika,
kimia dan kombinasinya dalam membentuk ikatan yang stabil.
3
Materi ilmu bumi dan anta-riksa
masih belum memadai
[sebagian dibahas di IPS]
Diperkaya dengan materi ilmu bumi dan antariksa sesuai dengan
standar internasional
4
Materi kurang mendalam dan
cenderung hafalan
Materi diperkaya dengan kebutuhan siswa untuk berfikir kritis
dan analitis sesuai dengan standar internasional
5
Diajarkan oleh guru berbeda
(team teaching) dengan
sertifikasi berdasarkan mata
kajian
66
Kurikulum Baru
Diajarkan oleh satu orang guru yang memberikan wawasan
terpadu antar mata kajian tersebut sehingga siswa dapat
memahami pentingnya keterpaduan antar mata kajian tersebut
sebelum mendalaminya secara terpisah dan lebih mendalam
pada jenjang selanjutnya
Perubahan pada Matematika
No
Implementasi
Kurikulum Lama
1
Langsung masuk ke materi abstrak
Mulai dari pengamatan permasalahan konkret, kemudian
ke semi konkret, dan akhirnya abstraksi permasalahan
2
Banyak rumus yang harus dihafal
untuk menyelesaikan
permasalahan (hanya bisa
menggunakan)
Rumus diturunkan oleh siswa dan permasalahan yang
diajukan harus dapat dikerjakan siswa hanya dengan
rumus-rumus dan pengertian dasar (tidak hanya bisa
mnggunakan tetapi juga memahami asal-usulnya)
3
Permasalahan matematika selalu
diasosiasikan dengan [direduksi
menjadi] angka
Perimbangan antara matematika dengan angka dan tanpa
angka [gambar, grafik, pola, dsb]
4
Tidak membiasakan siswa untuk
berfikir kritis [hanya mekanistis]
Dirancang supaya siswa harus berfikir kritis untuk
menyelesaikan permasalahan yang diajukan
5
Metode penyelesaian masalah
yang tidak terstruktur
Membiasakan siswa berfikir algoritmis
6
Data dan statistik dikenalkan di
kelas IX saja
Memperluas materi mencakup peluang, pengolahan data,
dan statistik sejak kelas VII serta materi lain sesuai dengan
standar internasional
767 Matematika adalah eksak
Kurikulum Baru
Mengenalkan konsep pendekatan dan perkiraan
Perubahan pada Bahasa Indonesia/Inggris
No
Implementasi
Kurikulum Lama
Kurikulum Baru
1
Materi yang diajarkan
ditekankan pada
tatabahasa/struktur bahasa
Materi yang dijarkan ditekankan pada kompetensi
berbahasa sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan
gagasan dan pengetahuan
2
Siswa tidak dibiasakan
membaca dan memahami
makna teks yang disajikan
Siswa dibiasakan membaca dan memahami makna teks
serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa
sendiri
3
Siswa tidak dibiasakan
menyusun teks yang
sistematis, logis, dan efektif
Siswa dibiasakan menyusun teks yang sistematis, logis,
dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan teks
4
Siswa tidak dikenalkan
tentang aturan-aturan teks
yang sesuai dengan
kebutuhan
Siswa dikenalkan dengan aturan-aturan teks yang sesuai
sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks
(sesuai dengan situasi dan kondisi: siapa, apa, dimana)
Kurang menekankan pada
pentingnya ekspresi dan
5
spontanitas dalam
68
berbahasa
Siswa dibiasakan untuk dapat mengekspresikan dirinya
dan pengetahuannya dengan bahasa yang meyakinkan
secara spontan
Perubahan pada
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran
No
Implementasi
Kurikulum Lama
Kurikulum Baru
1
Materi disajikan
berdasarkan empat pilar
dengan pembahasan yang
terpisah-pisah
Materi disajikan tidak berdasarkan pada
pengelompokkan menurut empat pilar kebangsaan
tetapi berdasarkan keterpaduan empat pilar dalam
pembentukan karakter bangsa
2
Materi disajikan
berdasarkan pasokan yang
ada pada empat pilar
kebangsaan
Materi disajikan berdasarkan kebutuhan untuk menjadi
warga negara yang bertanggung jawab (taat norma,
asas, dan aturan)
3
Tidak ada penekanan pada
tindakan nyata sebagai
warga negara yang baik
Adanya kompetensi yang dituntut dari siswa untuk
melakukan tindakan nyata sebagai warga negara yang
baik
4
Pancasila dan
Kewarganegaraan disajikan
sebagai pengetahuan yang
harus dihafal
Pancasila dan Kewarganegaraan bukan hanya
pengetahuan, tetapi ditunjukkan melalui tindakan nyata
dan sikap keseharian.
69
Proses yang Mendukung Kreativitas
Pendekatan saintifik dan
kontekstual
PROSES
PEMBELAJARAN
Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:
 Observing [mengamati]
 Questioning [menanya]
 Associating [menalar]
 Experimenting [mencoba]
 Networking [Membentuk jejaring]
Penilaian Otentik
PROSES PENILAIAN




penilaian berbasis portofolio
pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal,
memberi nilai bagi jawaban nyeleneh,
menilai proses pengerjaannya bukan hanya
hasilnya,
 penilaian spontanitas/ekspresif,
 dll
70
UU 20/2003 Sisdiknas
Perpres 5/2010 RPJMN
PP 19/2005 SNP
PP 32/2013 Perubahan SNP
Dokumen Kurikulum
satuan/program
pendidikan
Dokumen Kurikulum
mapel
Pedoman implementasi
Buku Teks Pelajaran
Buku Panduan Guru
Dokumen Kurikulum lain
DOKUMEN
KURIKULUM
Standar Isi
Standar Proses
Standar Penilaian
…
SKL
Muatan lokal
KERANGKA DASAR
KURIKULUM
STRUKTUR KURIKULUM
NASIONAL
KTSP
SILABUS
Kompetensi inti
Kompetensi dasar
Materi pembelajaran
Kegiatan pembelajaran
Penilaian
Alokasi waktu
Sumber belajar.
Kompetensi Inti,
Kompetensi Dasar,
Muatan Pembelajaran,
Mata pelajaran,
Beban belajar
Alur Pengembangan Kurikulum (PP 32 th 2013)
PAUD
DIKDAS
DIKMEN
PNF
STRUKTUR
KURIKULUM
PAUD
DIKDAS
STANDAR
KOMPETENSI
LULUSAN
DIKMEN
PNF
Pengembangan
kepribadian
Muatan umum: nasional, lokal
Muatan umum : nasional, lokal
Peminatan akademik
Peminatan kejuruan
Peminatan lintas minat/ penalaman
minat
Program kecakapan hidup
SIKAP
`
KETERAMPILAN
Kompetensi inti
Kompetensi
Dasar
PENGETAHUAN
Pemerintah
Provinsi
Kab/kota
PENGELOLAAN
KURIKULUM
Satuan pend
Kurikulum satuan/ program
pendidikan
Kurikulum mata pelajaran
pedoman implementasi
Buku Teks Pelajaran
Buku Panduan Guru.
Mulok dikmen
Mulok dikdas`
Mulok, KTSP, RPP dan KBM
Standar Kompetensi Lulusan
SIKAP
 Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap
 Orang yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam
 Serta dalam menempatkan dirinya sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia
KETERAMPILAN
 Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif
dalam ranah abstrak dan konkret
 Terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
PENGETAHUAN
 Memiliki pengetahuan Prosedural dan metakognitif dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, humaniora, dengan
wawasan kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
 Terkait penyebab fenomena dan kejadian yang tampak mata
yang mencakup penyebab, alternatif solusi, kendala dan solusi
akhir
73
Standar Kompetensi Lulusan
DOMAIN
ELEMEN
PENGETAHUAN
SMP
SMA-SMK
Proses
Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati + Mengamalkan
Individu
BERIMAN, BERAKHLAK MULIA (JUJUR, DISIPLIN, TANGGUNG JAWAB,
PEDULI, SANTUN), RASA INGIN TAHU, ESTETIKA, PERCAYA DIRI,
MOTIVASI INTERNAL
Sosial
TOLERANSI, GOTONG ROYONG, KERJASAMA, DAN MUSYAWARAH
Alam
POLA HIDUP SEHAT, RAMAH LINGKUNGAN, PATRIOTIK, DAN CINTA
PERDAMAIAN
Proses
Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah + Menyaji + Menalar +
Mencipta
Abstrak
MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG, MENGGAMBAR, MENGARANG
Konkret
MENGGUNAKAN, MENGURAI, MERANGKAI, MEMODIFIKASI,
MEMBUAT, MENCIPTA
Proses
Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisa +
Mengevaluasi
Obyek
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, DAN BUDAYA
Subyek
MANUSIA, BANGSA, NEGARA, TANAH AIR, DAN DUNIA
SIKAP
KETERAMPILAN
SD
74
Standar Kompetensi Lulusan
DOMAIN
SD
SMP
SMA-SMK
Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati + Mengamalkan
SIKAP
KETERAMPILAN
PRIBADI YANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN
BERTANGGUNG JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN
LINGKUNGAN SOSIAL, ALAM SEKITAR, SERTA DUNIA DAN PERADABANNYA
Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah + Menyaji + Menalar +
Mencipta
PRIBADI YANG BERKEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG EFEKTIF DAN
KREATIF DALAM RANAH ABSTRAK DAN KONKRET
Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisa + Mengevaluasi
PENGETAHUAN
PRIBADI YANG MENGUASAI ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI,
BUDAYA DAN BERWAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN,
KENEGARAAN, DAN PERADABAN
75
Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru
SK-KD Lama Mapel
per kelas
SKL Baru
•
Evaluasi
•
•
Mempertahankan SK KD
lama yang sesuai dengan SKL
Baru
Merevisi SK KD lama
disesuaikan dengan SKL Baru
Menyusun SK KD Baru
Sumber Kompetensi
[Mapel per kelas]
Kompetensi Inti
Kompetensi Dasar Baru
76
SKL
dan
KI
Sekolah
Dasar
Kelas
I
Standar Kompetensi Lulusan
Kompetensi Inti Kelas I
Memiliki [melalui menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati, mengamalkan] perilaku yang mencerminkan
sikap orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam , di sekitar rumah,
sekolah, dan tempat bermain
Menerima dan menjalankan ajaran agama dan
kepercayaan yang dianutnya.
Memiliki [melalui mengamati, menanya, mencoba,
mengolah, menyaji, menalar, mencipta] kemampuan pikir
dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak
dan konkret terkait dengan yang ditugaskan kepadanya.
Menyajikan pengetahuan faktual dalam
bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang
estetis, dalam gerakan yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam tindakan yang
mencerminkan perilaku anak beriman dan
berakhlak mulia.
Memiliki [melalui mengetahui, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi] pengetahuan faktual dan
konseptual dalam ilmu pengetahuan, teknologi,seni,
budaya, humaniora, dengan wawasan kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan
kejadian di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat
bermain
Memahami pengetahuan faktual dengan cara
mengamati berdasarkan rasa ingin tahu
tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah dan di sekolah
Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam
berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
77
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN SIKAP
SD
SMP
SMA/SMK
DIKTI-SARJANA
Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap
Memiliki perilaku
yang mencerminkan
sikap
Memiliki perilaku
yang mencerminkan
sikap
Memiliki perilaku yang
mencerminkan sikap
Orang beriman,
berakhlak mulia,
percaya diri, dan
bertanggung jawab
dalam berinteraksi
secara efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam
Di sekitar rumah,
sekolah, dan tempat
bermain
Orang beriman,
berakhlak mulia,
percaya diri, dan
bertanggung jawab
dalam berinteraksi
secara efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam
Dalam jangkauan
pergaulan dan
keberadaannya
Orang beriman,
berakhlak mulia,
percaya diri, dan
bertanggung jawab
dalam berinteraksi
secara efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam
Serta dalam
menempatkan dirinya
sebagai cerminan
bangsa dalam
pergaulan dunia
Orang beriman, berakhlak
mulia, mandiri, kreatif,
bertanggung jawab ,
berbudaya, dan
berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial
dan alam
Serta berkontribusi aktif
dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara
termasuk berperan dalam
pergaulan dunia dengan
menjunjung tinggi
penegakan hukum
78
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN KETERAMPILAN
SD
SMP
SMA/SMK
DIKTI-SARJANA
Memiliki kemampuan
pikir dan tindak yang
efektif dan kreatif
dalam ranah abstrak
dan konkret
Memiliki kemampuan
pikir dan tindak yang
efektif dan kreatif
dalam ranah abstrak
dan konkret
Memiliki kemampuan
pikir dan tindak yang
efektif dan kreatif
dalam ranah abstrak
dan konkret
Memiliki kemampuan
pikir dan tindak yang
efektif, kreatif dan
inovatif dalam ranah
abstrak dan konkret
Terkait dengan yang
ditugaskan
kepadanya.
Terkait dengan yang
dipelajari di sekolah
Terkait dengan
pengembangan dari
yang dipelajarinya di
sekolah
(Sesuai dengan apa
yang dipelajari di
sekolah yang
ditugaskan
kepadanya.)
(Sesuai dengan yang
dipelajari di sekolah
dan dari berbagai
sumber lainnya yang
sama dalam sudut
pandang /teori)
(Dari berbagai
sumber berbeda
dalam informasi dan
sudut pandang/teori
yang dipelajarinya di
sekolah, masyarakat,
dan belajar mandiri)
Terkait dengan
pengembangan dir
sesuai dengan bakat,
minat, dan
kemampuannya.
Serta mampu
memberikan petunjuk
dalam memilih
berbagai alternatif
solusi secara mandiri
dan/ atau kelompok
79
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN
SD
SMP
SMA/SMK
DIKTI-SARJANA
Memiliki
pengetahuan
Faktual dan
konseptual dalam
Memiliki
pengetahuan
Faktual, konseptual
dan prosedural dalam
Memiliki
pengetahuan
Prosedural dan
metakognitif dalam
Memiliki pengetahuan
Prosedural dan
metakognitif dalam
Ilmu pengetahuan,
teknologi, seni,
budaya, humaniora,
dengan wawasan
kebangsaan,
kenegaraan, dan
peradaban
Ilmu pengetahuan,
teknologi, seni,
budaya, humaniora,
dengan wawasan
kebangsaan,
kenegaraan, dan
peradaban
Ilmu pengetahuan,
teknologi, seni,
budaya, humaniora,
dengan wawasan
kebangsaan,
kenegaraan, dan
peradaban
Terkait fenomena
dan kejadian di
lingkungan rumah,
sekolah, dan tempat
bermain
Terkait fenomena dan Terkait penyebab
kejadian yang tampak fenomena dan
mata
kejadian
Konsep teoritis bidang
pengetahuan tertentu
secara umum dan
khusus serta
mendalam dengan
wawasan kebangsaan,
kenegaraan, dan
peradaban
Terkait dg fenomena
dan kejadian yang
mencakup penyebab,
alternatif solusi,
kendala dan solusi
akhir
80
Contoh Perumusan Kompetensi Dasar dari Kompetensi Inti
untuk PPKN Kelas I SD DASAR
Kompetensi Inti
KD lama (KTSP 2006)
Rumusan Kompetensi Dasar
1. Menerima dan
menjalankan
ajaran agama yang
dianutnya.
2. Memiliki perilaku
jujur, disiplin,
tanggung jawab,
santun, peduli, dan
percaya diri dalam
berinteraksi
dengan keluarga,
teman, dan guru.
1. Menjelaskan perbedaan jenis kelamin,
agama, dan suku bangsa
2. Memberikan contoh hidup rukun
melalui kegiatan di rumah dan di
sekolah
3. Menerapkan hidup rukun di rumah dan
di sekolah
4. Menjelaskan pentingnya tata tertib di
rumah dan di sekolah
5. Melaksanakan tata tertib di rumah dan
di sekolah
6. Menjelaskan hak anak untuk bermain,
belajar dengan gembira dan didengar
pendapatnya
7. Melaksanakan hak anak di rumah dan di
sekolah
8. Mengikuti tata tertib di rumah dan di
sekolah
9. Melaksanakan aturan yang berlaku di
masyarakat
1. Menerima keberagaman karakteristik
individu (agama, suku, fisik, psikis)
sebagai anugerah Tuhan
1. Menunjukkan perilaku baik (jujur,
disiplin, tanggung jawab, santun,
peduli/kasih sayang, dan percaya
diri) dalam berinteraksi dengan
keluarga, teman, dan guru, sebagai
perwujudan nilai dan moral
Pancasila.
2. Memiliki sikap dan perilaku patuh
pada tata tertib dan aturan yang
berlaku dalam kehidupan sehari-hari
di rumah dan sekolah.
3. Memiliki sikap toleran terhadap
keberagaman karakteristik individu
(agama, suku, fisik, psikis) di rumah
dan sekolah.
4. Menunjukkan perilaku kebersamaan
dalam keberagaman di rumah dan
sekolah
81
STRATEGI IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
PPT - 1.4
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Implementasi Kurikulum
Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara
Pemerintah dengan pemerintah daerah provinsi dan pemerintah
daerah kabupaten/kota.
1. Pemerintah bertanggungjawab dalam mempersiapkan guru
dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum.
2. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi
pelaksanaan kurikulum secara nasional.
3. Pemerintah provinsi bertanggungjawab dalam melakukan
supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di
propinsi terkait.
4. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam
memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala
sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota
terkait.
83
Strategi Implementasi Kurikulum
• Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan
jenjang pendidikan yaitu:
• Juli 2013 : Kelas I, IV, VII, dan X
• Juli 2014 : Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI
• Juli 2015 : kelas I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XII
• Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan,
dari tahun 2013 - 2015
84
Strategi Implementasi Kurikulum
• Pengembangan buku siswa dan buku pegangan
guru dari tahun 2012 – 2014
• Pengembangan manajemen, kepemimpinan,
sistem administrasi, dan pengembangan budaya
sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA
dan SMK, dimulai dari bulan Januari – Desember
2013
• Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan
Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan
masalah implementasi dan upaya
penanggulangan: Juli 2013 – 2016
85
Strategi Diklat Guru Kelas/Mapel, Kepala Sekolah, Pegawas
KEBIJAKAN IMPLEMENTASI
KURIKULUM 2013
DPR, DPRD, GUBERNUR, BUPATI/WALIKOTA, DEWAN PENDIDIKAN,
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI, KABUPATEN/KOTA, MASYARAKAT
SD, SMP, SMA, SMK
GURU
86
DIKLAT KURIKULUM
2013
KEPALA
SEKOLAH
PENGAWAS
Rencana Implementasi
Pelatihan Guru
Persiapan
Pelatih Nasional
Guru Inti
Guru
PELAKSANAAN
Pendampingan
EVALUASI
PERSIAPAN (Jan-Jun)
IMPLEMENTASI (Jul)
87
Pelaksanaan Kurikulum 2013
Implementasi di SD, SMP, SMA, dan SMK
IMPLEMENTASI (mulai Juli 2013)
PENDAMPINGAN
Guru Inti
Kepala Sekolah
Pengawas
88
KONSEP PENDEKATAN SCIENTIFIC
PPT – 2.1
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Kriteria
1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang
dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu;
bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng
semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif gurusiswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran
subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir
logis.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis,
analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami,
memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran.
90
Kriteria (lanjutan)
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir
hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan
satu sama lain dari materi pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami,
menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang
rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan
jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
91
Langkah-Langkah Pembelajaran
Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
Sikap
(Tahu Mengapa)
Keterampilan
(Tahu Bagaimana)
92
Produktif
Inovatif
Kreatif
Afektif
Pengetahuan
(Tahu Apa)
Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif,
dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
yang terintegrasi.
Langkah-Langkah Pembelajaran (lanjutan)
• Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar
agar peserta didik “tahu mengapa.”
• Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi
ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
• Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi
ajar agar peserta didik “tahu apa.”
• Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara
kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan
manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup
secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
93
Langkah-Langkah Pembelajaran (lanjutan)
• Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik
modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan
pendekatan ilmiah.
• Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran
sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya,
menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata
pelajaran.
94
Langkah-Langkah Pembelajaran
Observing
(mengamati)
Questioning
(menanya)
Associating
(menalar)
Experimenting
(mencoba)
Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran
95
Networking
(membentuk
Jejaring)
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
(PROJECT BASED LEARNING)
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Definisi/Konsep
• Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL)
adalah metoda pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan
eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi
untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
• Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar
yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru
berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.
• Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada
permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam
melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses
inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a
guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi)
dalam kurikulum.
•
Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik
dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip
dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBL merupakan
investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan
berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek
– Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar,
mendorong kemampuan mereka untuk melakukan
pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.
– Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
– Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil
memecahkan problem-problem yang kompleks.
– Meningkatkan kolaborasi.
– Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan
mempraktikkan keterampilan komunikasi.
– Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam
mengelola sumber.
Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek
– Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran
dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi
waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk
menyelesaikan tugas.
– Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik
secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia
nyata.
– Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil
informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki,
kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.
– Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga
peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek
• Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
• Membutuhkan biaya yang cukup banyak
• Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas
tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di
kelas.
• Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
• Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
• Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja
kelompok.
• Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok
berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami
topik secara keseluruhan
Langkah-Langkah Operasional
1
PENENTUAN
PERTANYAAN
MENDASAR
6
EVALUASI
PENGALAMAN
2
MENYUSUN
PERECANAAN PROYEK
3
MENYUSUN JADUAL
5
4
MENGUJI HASIL
MONITORING
SISTEM PENILAIAN
• Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap
suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu
tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian,
pengolahan dan penyajian data.
• Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui
pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan
penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta
didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
SISTEM PENILAIAN
Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
•
Kemampuan pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan
mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
•
Relevansi
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap
pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
•
Keaslian
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan
mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap
proyek peserta didik.
MODEL PEMBELAJARAN
BERBASIS MASALAH
(PROBLEM BASED LEARNING)
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Definisi/Konsep
• Pembelajaran berbasis masalah merupakan
sebuah pendekatan pembelajaran yang
menyajikan masalah kontekstual sehingga
merangsang peserta didik untuk belajar.
• Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran
berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam
tim untuk memecahkan masalah dunia nyata
(real world)
106
KELEBIHAN PBL
• 1) Dengan PBL akan terjadi pembelajaran
bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik
yang belajar memecahkan suatu masalah
maka mereka akan menerapkan pengetahuan
yang dimilikinya atau berusaha mengetahui
pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat
semakin bermakna dan dapat diperluas ketika
peserta didik/mahapeserta didik berhadapan
dengan situasi di mana konsep diterapkan
107
KELEBIHAN PBL
• (2) Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta
didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan
secara simultan dan mengaplikasikannya dalam
konteks yang relevan
• (3) PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis,
menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta
didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar,
dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal
dalam bekerja kelompok.
108
Langkah-langkah Operasional
dalam
Proses Pembelajaran
1. Konsep Dasar (Basic Concept)
Fasilitator memberikan konsep dasar,
petunjuk, referensi, atau link dan skill yang
diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal
ini dimaksudkan agar peserta didik lebih
cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran
dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang
arah dan tujuan pembelajaran
109
Langkah-langkah Operasional
dalam
Proses Pembelajaran
2. Pendefinisian Masalah (Defining the
Problem)
Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan
skenario atau permasalahan dan peserta didik
melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan
semua anggota kelompok mengungkapkan
pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario
secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul
berbagai macam alternatif pendapat
110
. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu
yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam
bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman
web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan.
Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta
didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang
relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan
(2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan
di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat
dipahami.
111
4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan
pendalaman materi dalam langkah pembelajaran
mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya
peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya
untuk mengklarifikasi capaiannya dan
merumuskan solusi dari permasalahan kelompok.
Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan
dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai
kelompok dan fasilitatornya.
112
5. Penilaian (Assessment)
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek
pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap
(attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan
yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang
dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah
semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.
Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan
alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian.
113
Contoh Penerapan
Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam
kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk
mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu.
Kemudian peserta didik diminta mencatat masalahmasalah yang muncul.
Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik
untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang
ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik
untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan
mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.
114
Contoh Penerapan
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh
pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat
dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara
lain di sekolah, keluarga dan masyarakat.
Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan
bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik
diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang
apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan
aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam
rangka mencapai penguasaan standar kompetensi,
kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
115
Contoh Penerapan
FASE-FASE Tahapan-Tahapan
Fase 1
Orientasi peserta didik kepada
masalah
116
Model PBL
PERILAKU GURU
 Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan
logistik yg dibutuhkan
 Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif
dalam pemecahan masalah yang dipilih
Fase 2
Mengorganisasikan peserta didik
Membantu peserta didik mendefinisikan
danmengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut
Fase 3
Membimbing penyelidikan individu
dan kelompok
Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen
untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan
masalah
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan
hasil karya
Membantu peserta didik dalam merencanakan
dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan, model dan berbagi tugas dengan teman
Fase 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
telah dipelajari /meminta kelompok presentasi
hasil kerja
SISTEM PENILAIAN
• Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan
(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian
terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh
kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir
semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen,
dan laporan.
• Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat
bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian
terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu
keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama
dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian
untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran
yang bersangkutan.
117
SISTEM PENILAIAN
Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan
dengan authentic assesment. Penilaian dapat
dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang
•
•
118
sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat
kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian
tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara
evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.
Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap
usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang
ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.
Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan
penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah
dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya
MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN
(DISCOVERY LEARNING)
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Definisi/Konsep
• Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang
didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila
pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk
finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri.
• Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai
prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem
Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah
ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada
ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak
diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada
discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa
semacam masalah yang direkayasa oleh guru
Definisi/Konsep
• Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara
aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah
kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.
• Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan
muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau
ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa
dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi,
membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan,
mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
Keuntungan Model Pembelajaran Penemuan
• Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha
penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang
tergantung bagaimana cara belajarnya.
• Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan
ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
• Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan berhasil.
• Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan
sesuai dengan kecepatannya sendiri.
• Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri
dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
Keuntungan Model Pembelajaran Penemuan
• Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya,
karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang
lainnya.
• Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif
mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak
sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
• Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena
mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
• Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
• Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada
situasi proses belajar yang baru;
Keuntungan Model Pembelajaran Penemuan
• Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri;
• Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri;
• Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; Situasi proses
belajar menjadi lebih terangsang;
• Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada
pembentukan manusia seutuhnya;
• Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa;
• Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis
sumber belajar;
• Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Kelemahan Model Pembelajaran Penemuan
• Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk
belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan
abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara
konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya
akan menimbulkan frustasi.
• Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak,
karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka
menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.
• Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar
berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan
cara-cara belajar yang lama.
Kelemahan Pembelajaran Penemuan
• Pengajaran discovery lebih cocok untuk
mengembangkan pemahaman, sedangkan
mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan
emosi secara keseluruhan kurang mendapat
perhatian.
• Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang
fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan
oleh para siswa
• Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk
berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah
dipilih terlebih dahulu oleh guru.
Langkah-Langkah Operasional
1. Langkah Persiapan
a. Menentukan tujuan pembelajaran
b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal,
minat, gaya belajar, dan sebagainya)
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara
induktif (dari contoh-contoh generalisasi)
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contohcontoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke
kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif,
ikonik sampai ke simbolik
g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
Langkah-Langkah Operasional
2. Pelaksanaan
a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada
sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru
dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan
pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar
lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan
kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan
membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
Langkah-Langkah Operasional
b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara
atas pertanyaan masalah)
Langkah-Langkah Operasional
c. Data collection (Pengumpulan Data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi
kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah,
2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab
pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis,
dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk
mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan,
membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan
nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Langkah-Langkah Operasional
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan
kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh
para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan
sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan,
wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah,
diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung
dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat
kepercayaan tertentu
Langkah-Langkah Operasional
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang
ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan
dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification
menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan
dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai
dalam kehidupannya.
Langkah-Langkah Operasional
f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses
menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah,
2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi
SISTEM PENILAIAN
• Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian
dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes.
•
Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif,
proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk
penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model
pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes
tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian
proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka
pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan.
KONSEP PENILAIAN AUTENTIK
PADA PROSES DAN HASIL BELAJAR
PPT 2.3
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
A. Definisi
1. Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang
bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk
ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
2. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran,
pengujian, atau evaluasi.
3. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau
reliabel.
4. Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara
signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali
pun.
5. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan
prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang
berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan
mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
136
B. Penilaian Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
1. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap
pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan
tuntutan Kurikulum 2013.
2. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil
belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi,
menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain.
3. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks
atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk
menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang
lebih autentik.
4. Penilaian autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik
terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar
atau untuk mata pelajaran yang sesuai.
137
B. Penilaian Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
(lanjutan)
5. Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian
yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda,
benar-salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat.
6. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam
proses pembelajaran, karena memang lazim digunakan dan
memperoleh legitimasi secara akademik.
7. Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara
tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik.
8. Dalam penilaian autentik, seringkali pelibatan siswa sangat
penting. Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas
belajar lebih baik ketika mereka tahu bagaimana akan dinilai.
138
B. Penilaian Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
(lanjutan)
9. Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi
kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan
pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran
serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi.
10. Pada penilaian autentik guru menerapkan kriteria yang
berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan,
dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
11. Penilaian autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru
mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan
peserta didik, serta keterampilan belajar.
12. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses
pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman
tentang kriteria kinerja.
139
B. Penilaian Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013
(lanjutan)
13. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk
mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka
lakukan.
14. Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas
perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan
mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang
subjek.
15. Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum
dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan
pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum
mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya.
16. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang
sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan
140
remedial harus dilakukan.
C. Penilaian Autentik dan Pembelajaran Autentik
1. Penilaian autentik mengharuskan pembelajaran yang autentik
pula.
2. Menurut Ormiston, belajar autentik mencerminkan tugas dan
pemecahan masalah yang diperlukan dalam kenyataannya di
luar sekolah.
3. Penilaian autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian.
Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang
berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti
kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas
yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang
kompleks. Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk
menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang ada.
141
C. Penilaian Autentik dan Pembelajaran Autentik
(lanjutan)
4. Penilaian autentik akan bermakna bagi guru untuk
menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat
mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang
berbeda.
5. Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai
melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah
memainkan peran aktif dan kreatif.
6. Keterlibatan peserta didik dalam melaksanakan tugas sangat
bermakna bagi perkembangan pribadi mereka.
142
C. Penilaian Autentik dan Pembelajaran Autentik
(lanjutan)
7. Dalam pembelajaran autentik, peserta didik diminta
mengumpulkan informasi dengan pendekatan scientific,
memahami aneka fenomena atau gejala dan hubungannya satu
sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang
dipelajari dengan dunia nyata yang ada di luar sekolah.
8. Guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang
terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang mereka ingin pelajari,
memiliki parameter waktu yang fleksibel, dan
bertanggungjawab untuk tetap pada tugas.
9. Penilaian autentik pun mendorong peserta didik
mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis,
menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk
kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
143
C. Penilaian Autentik dan Pembelajaran Autentik
(lanjutan)
Pada pembelajaran autentik, guru harus menjadi “guru autentik.” Peran
guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada
penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik, guru harus
memenuhi kriteria tertentu:
1. Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta
didik serta desain pembelajaran.
2. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk
mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara
mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumber daya memadai
bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan.
3.
Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru,
dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik.
4.
Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik
dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari dunia di luar
tembok sekolah.
144
D. Jenis-jenis Penilaian Autentik
1.
2.
3.
4.
145
Penilaian Kinerja
Penilaian Proyek
Penilaian Portofolio
Penilaian Tertulis
1. Penilaian Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta
didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan
dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta
didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka
gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya.
Berikut ini cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja.
1. Daftar cek (checklist).
2. Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
3. Skala penilaian (rating scale).
4. Memori atau ingatan (memory approach).
146
2. Penilaian Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian
terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut
periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi
yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan
data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
Berikut ini tiga hal yang perlu diperhatian guru dalam penilaian proyek.
1. Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan
mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna
atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
2. Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan
pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
dibutuhkan oleh peserta didik.
3. Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan
oleh peserta didik.
147
3. Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian atas
kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan
dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata.
Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil
kerja peserta didik secara perorangan atau
diproduksi secara berkelompok, memerlukan
refleksi peserta didik, dan dievaluasi
berdasarkan beberapa dimensi.
148
3. Portofolio (lanjutan)
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah
seperti berikut ini.
1. Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
2. Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio
yang akan dibuat.
3. Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di
bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
4. Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada
tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
5. Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
6. Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas
bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
7. Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil
penilaian portofolio.
149
4. Penilaian Tertulis
• Tes tertulis berbentuk uraian atau esai
menuntut peserta didik mampu mengingat,
memahami, mengorganisasikan, menerapkan,
menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan
sebagainya atas materi yang sudah dipelajari.
Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin
bersifat komprehensif, sehingga mampu
menggambarkan ranah sikap, pengetahuan,
Terima
Kasih
dan keterampilan peserta didik.
150
RAMBU - RAMBU
PENYUSUNAN RPP
PPT – 3.1-1
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
1. RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan
belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD.
2. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban
menyusun RPP secara lengkap dan sistematis.
3. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan
dalam satu kali pertemuan atau lebih.
4. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan
yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan
pendidikan.
152
Komponen RPP ( Standar Proses No 65 Th 2013)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
153
Identitas Sekolah
Identitas mata pelajaran
Kelas/ semester
Materi Pokok
Alokasi Waktu
Tujuan pembelajaran
Kompetensi dasar dan
Indikator Pencapaian Kompetensi
Materi Pembelajaran
Alokasi waktu
Metode pembelajaran
Media Pembelajaran
Sumber belajar
Langkah-langkah Pembelajaran
Penilaian hasil Pembelajaran
KD - KI 1
KD – KI 2
KD – KI 3
Indikator .....
Indikator ....
KD – KI 4
Indikator...
Indikator ...
Prinsip Penyusunan RPP
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik.
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.
5. Mengakomodasi pada keterkaitan dan keterpaduan KD,
Keterkaitan dan keterpaduan materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan
sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
6. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan
lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
7. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
154
Langkah Penyusunan RPP
1. Kegiatan Pendahuluan
– Orientasi
• Memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang
akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda
yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita
di surat kabar, menampilkan slide animasi, fenomena
alam, fenomena sosial, atau lainnya.
– Apersepsi
• Memberikan persepsi awal kepada peserta didik
tentang materi yang akan diajarkan.
155
Langkah Penyusunan RPP
Lanjutan Kegiatan Pendahuluan
– Motivasi
• Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari materi
yang akan diajarkan
– Pemberian Acuan
• Berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari.
• Acuan dapat berupa penjelasan materi pokok dan uraian
materi pelajaran secara garis besar.
• Pembagian kelompok belajar.
• Penjelasan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar
(sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).
156
Langkah Penyusunan RPP
2. Kegiatan Inti
• menggunakan model pembelajaran, metode
pembelajaran, media pembelajaran, dan
sumber belajar yang disesuaikan dengan
karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.
157
Langkah Penyusunan RPP
Lanjutan Kegiatan Inti
• Menggunakan pendekatan tematik dan/atau tematik
terpadu dan/atau saintifik dan/atauinkuiri dan
penyingkapan (discovery) dan/ atau pembelajaran
yang menghasilkan karya berbasis pemecahan
masalah (project based learning ) disesuaikan
dengan karakteristik kompetensi dan jenjang
pendidikan.
• Memuat pengembangan sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang terinntegrasi pada pembelajaran
158
Langkah
Penyusunan
RPP
Kegiatan Penutup
a. seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang
diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan
manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil
pembelajaran yang telah berlangsung;
b. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran;
c. melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian
tugas,
baik tugas individual maupun kelompok; dan
d. menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk
pertemuan berikutnya..
159
Contoh Format RPP
Satuan Pendidikan
:
……………………………………..
Kelas/Semester
:
……………………………………..
Mata Pelajaran
:
……………………………………..
Topik
:
……………………………………..
Pertemuan Ke-
:
……………………………………..
Alokasi Waktu
:
……………………………………..
A. Kompetensi Dasar
B. Indikator pencapaian kompetensi
C. Tujuan pembelajaran
D. Materi ajar
160
F
Lanjutan…………
Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Pendahuluan
Deskripsi
Alokasi Waktu
……………………………………………………
……………………
Inti
Penutup
G
Alat dan Sumber Belajar
- Alat dan Bahan
- Sumber Belajar
H
Penilaian Proses dan Hasil Belajar
- Teknik
- Bentuk
- Instrumen (Tes dan Non tes)
- Kunci dan Pedoman penskoran
- Tugas
161
PERANCANGAN MODEL
PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN
PERANCANGAN RPP
(Aktivitas Belajar dengan Pendekatan Scientific)
Langkah-Langkah Pembelajaran
Observing
(mengamati)
Questioning
(menanya)
Associating
(menalar)
Experimenting
(mencoba)
Networking
(membentuk
Jejaring)
Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran
163
FAKTA/FENOMENA
JAMUR PADA ROTI
1
2
Observing
(mengamati)
Questioning
(menanya)
- Mengumpulkan Data/Informasi
yang teramati dari fakta.
- Melihat karakteristik Jamur.
- Mengumpulkan informasi dari
aneka sumber ilmiah, berupa
Buku, Jurnal, Majalah, Koran,
Internet.
- Mengajukan pertanyaan atau
masalah berbasis fakta
- apa yang mempengaruhi
pertumbuhan jamur?
- Bagaimana pengaruh cahaya
terhadap pertumbuhan jamur?
165
3
Associating
(menalar)
- Melihat hubungan-hubungan
variabel atau ukuran-ukuran
misalnya hubungan cahaya
terhadap pertumbuhan Jamur
- Mencermati pola
- Menganalisis, membandingkan,
mensintesis atas hubunganhubungan
- Membuat dugaan (Hipotesis)
4
5
Experimenting
(mencoba)
Networking
(membentuk
Jejaring)
- Membuat rancangan percobaan.
- Menerapkan perlakuan
- Melakukan pengukuran variabelvariabel
- Menguji Hipotesis
Contohnya :
- Meletakkan Roti dalam Kotak
Gelap
- Meletakkan Roti dalam Kotak
Terang
- Membuat generalisasi
(kesimpulan) yaitu penerimaan
atau penolakan hipotesis
- Interpretasi hasil pemecahan
masalah
- Membangun jejaring baru
Pengertian Model Pembelajaran
• Model Pembelajaran adalah suatu kerangka
konseptual atau pola yang digunakan sebagai
pedoman
dalam
merencanakan
dan
mewujudkan suatu proses pembelajaran di
kelas yang mengarahkan kita dalam
mendisain
pembelajaran
untuk
membelajarkan peserta didik, sehingga
tujuan pembelajaran tercapai.
KONSEP PENDEKATAN SCIENTIFIC
PPT - 2.2-1
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Kriteria
1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang
dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu;
bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng
semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif gurusiswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran
subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir
logis.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis,
analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami,
memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran.
170
Kriteria (lanjutan)
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir
hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan
satu sama lain dari materi pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami,
menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang
rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan
jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
171
Langkah-Langkah Pembelajaran
Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap,
pengetahuan, dan keterampilan
Sikap
(Tahu Mengapa)
Keterampilan
(Tahu Bagaimana)
172
Peoduktif
Inovatif
Kreatif
Afektif
Pengetahuan
(Tahu Apa)
Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif,
dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
yang terintegrasi
Langkah-Langkah Pembelajaran (lanjutan)
• Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar
agar peserta didik “tahu mengapa.”
• Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi
ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
• Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi
ajar agar peserta didik “tahu apa.”
• Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara
kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan
manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup
secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
173
Langkah-Langkah Pembelajaran (lanjutan)
• Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik
modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan
pendekatan ilmiah.
• Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran
sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya,
menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata
pelajaran.
174
Langkah-Langkah Pembelajaran
Observing
(mengamati)
Questioning
(menanya)
Associating
(menalar)
Experimenting
(mencoba)
Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran
175
Networking
(membentuk
Jejaring)
PUSAT PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN
DAN KEBUDAYAAN - PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2013
TUJUAN STANDAR PENILAIAN
Menjamin perencanaan penilaian peserta didik sesuai
dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan
prinsip-prinsip penilaian
Menjamin pelaksanaan penilaian peserta didik secara
profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai
dengan konteks sosial budaya
Menjamin pelaporan hasil penilaian peserta didik secara
objektif, akuntabel, dan informatif
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
Kriteria mengenai
mekanisme,
prosedur, dan instrumen
penilaian hasil belajar
peserta didik
Proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik
mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian
berbasis portofolio,
ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester,
ulangan akhir
semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat
kompetensi, ujian
nasional, dan ujian sekolah/madrasah,
CAKUPAN STANDAR PENILAIAN (1)
Penilaian Otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara
komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input),
proses,dan keluaran (output) pembelajaran
Penilaian Diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh
peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi
relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan
Penilaian Brbasis Portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk
menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan
perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya
pada sikap/perilaku dan keterampilan
CAKUPAN STANDAR PENILAIAN (2)
Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur
pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam
proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil
belajar peserta didik
Ulangan Harian merupakan kegiatan yang dilakukan secara
periodik untuk menilai kompetensi peserta didik setelah
menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih
Ulangan Tengah Semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik
untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8
– 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester
meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode
tersebut
CAKUPAN STANDAR PENILAIAN (3)
Ulangan akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di
akhir semester., meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan
semua KD pada semester tersebut
Ujian Tingkat Kompetensi merupakan kegiatan pengukuran yang
dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat
kompetensi, meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang
merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut
Ujian Mutu Tingkat Kompetensi merupakan kegiatan pengukuran yang
dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapaian tingkat
kompetensi, meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang
merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut
CAKUPAN STANDAR PENILAIAN (4)
Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN merupakan
kegiatan pengukuran kompetensi tertentu yang dicapai
peserta didik dalam rangka menilai pencapaian Standar
Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan secara nasional
Ujian Sekolah/Madrasah merupakan kegiatan pengukuran
pencapaian kompetensi di luar kompetensi yang diujikan
pada UN, dilakukan oleh satuan pendidikan
PRINSIP PENILAIAN
1&2
3&4
5 &6
OBYEKTIF
EKONOMIS
AKUNTABLE
TERPADU
TRANSPARAN
EDUKATIF
PENDEKATAN PENILAIAN
PENILAIAN
ACUAN
KRITERIA
MERUPAKAN PENILAIAN
PENCAPAIAN
KOMPETENSI
BERDASARKAN KKM
RUANG LINGKUP & TEKNIK PENILAIAN
PENILAIAN PENGETAHUAN
TES TULIS
PENUGASAN
TES LISAN
PENILAIAN SIKAP
OBSERVASI
PENILAIAN ANTAR
TEMAN
JURNAL
PENILAIAN DIRI
PENILAIAN KETERAMPILAN/ KINERJA
PRAKTEK
PORTOFOLIO
PROJEK
PERSYARATAN INSTRUMEN PENILAIAN
SUBSTANSI
KONSTRUKSI
SOAL
BAHASA
MEKANISME PENILAIAN (1)
1
• Penilaian otentik dilakukan oleh guru secara berkelanjutan
2
• Penilaian diri dilakukan oleh peserta didik untuk tiap kali
sebelum ulangan harian
3
• Penilaian projek dilakukan oleh pendidik untuk tiap akhir bab
atau tema pelajaran
4
• Ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester,
dilakukanoleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan
MEKANISME PENILAIAN (2)
5
• Ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester, dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan
6
• Ujian tingkat kompetensi dilakukan oleh satuan pendidikan pada akhir kelas II (tingkat 1), kelas IV (tingkat 2), kelas VIII
(tingkat 4), dan kelas XI (tingkat 5), dengan menggunakan kisi-kisi yang disusun oleh Pemerintah
7
• Ujian tingkat kompetensi pada akhir kelas VI (tingkat 3), kelas IX (tingkat 4A), dan kelas XII (tingkat 6) dilakukan
melalui UN.
8
• Ujian Mutu Tingkat Kompetensi dilakukan dengan metode survei oleh Pemerintah pada akhir kelas II (tingkat 1), kelas IV
(tingkat 2), kelas VIII (tingkat 4), dan kelas XI (tingkat 5).
9
• Ujian sekolah dilakukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan
• peraturan perundang-undangan
10
• Ujian Nasional dilakukan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan
• perundang-undangan
LANGKAH-LANGKAH UJIAN SEKOLAH
MENYUSUN KISI-KISI
UJIAN
MENGEMBANGKAN
(MENULIS, MENELAAH,
MERIVISI INSTRUMEN
MELAPORKAN DAN
MEMANFAATKAN HASIL
PENILAIAN
MELAKSANAKAN UJIAN
MENGOLAH (MENYEKOR
DAN MENILAI) DAN
MENENTUKAN KELULUSAN
PESERTA DIDIK
PELAKSANAAN PENILAIAN ...
Ujian nasional dilaksanakan sesuai langkah-langkah yang
diatur dalam Prosedur Operasi Standar (POS)
Hasil ulangan harian diinformasikan kepada peserta didik sebelum
diadakan ulangan harian berikutnya. Peserta didik yang belum
mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedial
Hasil penilaian oleh pendidik dan satuan pendidikan dilaporkan dalam
bentuk nilai dan deskripsi pencapaian kompetensi kepada orangtua
dan pemerintah
PENILAIAN OLEH PENDIDIK (1)
Proses penilaian diawali dengan mengkaji silabus sebagai acuan dalam membuat rancangan dan
kriteria penilaian pada awal semester. Setelah menetapkan kriteria penilaian, pendidik memilih
teknik penilaian sesuai dengan indikator dan mengembangkan instrumen serta pedoman
penyekoran sesuai dengan teknik penilaian yang dipilih
Pelaksanaan penilaian dalam proses pembelajaran diawali dengan penelusuran dan diakhiri dengan
tes dan/atau nontes. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan teknik bertanya untuk
mengeksplorasi pengalaman belajar sesuai dengan kondisi dan tingkat kemampuan peserta didik
Penilaian pada pembelajaran tematik-terpadu dilakukan dengan mengacu
pada indikator dari Kompetensi Dasar setiap mata pelajaran yang
diintegrasikan dalam tema tersebut
Hasil penilaian oleh pendidik dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui kemajuan dan kesulitan
belajar, dikembalikan kepada peserta didik disertai balikan (feedback) berupa komentar yang
mendidik (penguatan) yang dilaporkan kepada pihak terkait dan dimanfaatkan untuk perbaikan
pembelajaran.
PENILAIAN OLEH PENDIDIK (2)
Laporan hasil penilaian oleh pendidik berbentuk:
1) nilai dan/atau deskripsi pencapaian kompetensi, untuk hasil penilaian kompetensi
pengetahuan dan keterampilan termasuk penilaian hasil pembelajaran tematik-terpadu.
2) deskripsi sikap, untuk hasil penilaian kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial
Laporan hasil penilaian oleh pendidik disampaikan kepada kepala
sekolah/madrasah dan pihak lain yang terkait (misal: wali kelas, guru
Bimbingan dan Konseling, dan orang tua/wali) pada periode yang
ditentukan
Penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial dilakukan oleh semua pendidik
selama satu semester, hasilnya diakumulasi dan dinyatakan dalam bentuk
deskripsi kompetensi oleh wali kelas/guru kelas
PUSAT PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN
DAN KEBUDAYAAN - PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2013
MUTU BERAWAL DARI
DIRI KITA SENDIRI
MUTU ADALAH
NALURI MANUSIA
KITA SELALU MENGHARAP, BAHKAN MENUNTUT,
MUTU DARI ORANG LAIN
TETAPI ORANG LAIN JUGA SELALU MENGHARAP
DAN MENUNTUT MUTU DARI DIRI KITA
LANDASAN PENGEMBANGAN STANDARISASI
PENILAIAN HASIL BELAJAR
FILOSOFIS
YURIDIS
KONSEPTUAL
DASAR HUKUM STANDARISASI PHB
1
• UU Nomor 20 /2003
tentang SISDIKNAS
2
• PP 32 /2013 tentang
8 SNP
3
• Permendikbud
Nomor 54/2013
4
• Permendikbud
Nomor 66/2013
5
• Permendikbud
Nomor 67/2013
6
• Permendikbud
Nomor 68/2013
7
• Permendikbud
Nomor 69/2013
8
• Permendikbud
Nomor 70/2013
HASIL
LAYANAN
KOMPONEN UTAMA
PE LAYANAN
KOMPETENSI LULUSAN
SIKAP
ISI
1. EVALUASI RUANG
LINGKUP
2. EVALUASI KESESUAIAN,
KECUKUPAN,
KEDALAMAN DAN
KELUASAN (STUDI
BANDING
INTERNASIONAL:
REASONING)
PTK
1. KOMPETENSI GURU,
KS ,PS.
2. KINERJA GURU, KS,
PS
3. PEMBINAAN
BERKELANJUTAN
4. REKRUT., PPA dan
PPG
PENGETAHUAN
PROSES
1. TEMATIK TERPADU
2. PENDEKATAN SAINTIFIK
3. INQIURY & DISCOVERY
LEARNING
4. PROJECT BASED
LEARNING
5. BAHASA SEBAGAI
PENGHELA
SARPRAS
1. KECUKUPAN DAN
KESESUAIAN (USB,
REHAB, PERAALATAN,
PERPUST., )
2. PEMANFAATAN
3. RESOURCE SHARING
KETERAMPILAN
PENILAIAN
1. AUTHENTIC
2. MENGUKUR TINGKAT
BERPIKIR DARI RENDAH
HINGGA TINGGI
3. MENGUKUR PROSES
KERJA SISWA
4. TES DAN PORTFOLIO
PEMBIAYAAN
1. UNIT COST
2. SUMBER
PENDANAAN
3. KECUKUPAN BOS,
BSM, BOPTN
4. EFISIENSI
PEMANFAATAN
PENGELOLAAN
1. MANAJEMEN
PERUBAHAN
2. POLA KEPEMIMPINAN
3. POLA SUPERVISI
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
(Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013)
UJIAN NASIONAL
PENILAIAN
HASIL
BELAJAR OLEH
PEMERINTAH
ULANGAN HARIAN
PENILAIAN
HASIL
BELAJAR OLEH
SATUAN
PENDIDIKAN
UJIAN SEKOLAH
PENILAIAN
HASIL BELAJAR
OLEH PENDIDIK
ULANGAN TENGAH
SEMESTER
ULANGAN AKHIR
SEMESTER
UJIAN TINGKAT KOMPETENSI
HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI
(STANDAR PENILAIAN)
Ditujukan untuk mengukur pencapaian
kompetensi
Menggunakan acuan kriteria
Dilakukan secara keseluruhan dan
berkelanjutan
Hasil penilaian digunakan untuk menentukan tindak lanjut,
berupa perbaikan proses pembelajaran, program remedial bagi
peserta didik yang pencapaian
Disesuaikan dengan pengalaman belajar yang
ditempuh dalam proses pembelajaran
STANDARISASI
PENILAIAN HASIL BELAJAR
• STANDAR
FISIBILITAS
• STANDAR
KEGUNAAN
• STANDAR
LEGALITAS
DAN ETIS
STANDARDS
UTILITY
FEASIBILITY
STANDARDS
PROPRIETY
STANDARDS)
ACCURANCY
STANDARS
• STANDAR
AKURASI
PHB BERBASIS KURIKULUM 2013
EVALUASI DIRI
TERHADAP KINERJA
SISWA
BAHAN PERTIMBANGAN
DALAM MENEMUKAN
KENAIKAN KELAS
FUNGSI PHB
MENINGKATKAN
MOTIVASI BELLAJAR
SISWA
UMPAN BALIK DALAM
PERBAIKAN PROSES
BELAJARA MENGAJAR
HAKIKAT PHB
DALAM KURIKULUM 2013
PENGUKURAN (MEASUREMENT)
kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan suatu kriteria atau ukuran
PENILAIAN (ASSESSMENT)
proses mengumpulkan informasi/bukti melalui pengukuran, menafsirkan,
mendeskripsikan, dan menginterpretasi bukti-bukti hasil pengukuran
EVALUASI (EVALUATION)
proses mengambil keputusan (judgment) berdasarkan hasil-hasil penilaian
CAKUPAN
PENILAIAN KURIKULUM 2013
Kurikulum
2013
SKL
KI
KD
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
PENGETAHUAN
KETERAMPILAN
SIKAP
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
SIKAP
 Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap
 Orang yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam
 Serta dalam menempatkan dirinya sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia
kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif
KETERAMPILAN  Memiliki
dalam ranah abstrak dan konkret
 Terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
pengetahuan Prosedural dan metakognitif dalam ilmu
PENGETAHUAN  Memiliki
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, humaniora, dengan
wawasan kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
 Terkait penyebab fenomena dan kejadian yang tampak mata
yang mencakup penyebab, alternatif solusi, kendala dan solusi
akhir
205
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
DOMAIN
SIKAP
KETERAMPILAN
PENGETAHUAN
ELEMEN
SD
SMP
SMA-SMK
Proses
Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati + Mengamalkan
Individu
BERIMAN, BERAKHLAK MULIA (JUJUR, DISIPLIN, TANGGUNG JAWAB, PEDULI,
SANTUN), RASA INGIN TAHU, ESTETIKA, PERCAYA DIRI, MOTIVASI INTERNAL
Sosial
TOLERANSI, GOTONG ROYONG, KERJASAMA, DAN MUSYAWARAH
Alam
POLA HIDUP SEHAT, RAMAH LINGKUNGAN, PATRIOTIK, DAN CINTA PERDAMAIAN
Proses
Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah + Menyaji + Menalar + Mencipta
Abstrak
MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG, MENGGAMBAR, MENGARANG
Konkret
MENGGUNAKAN, MENGURAI, MERANGKAI, MEMODIFIKASI, MEMBUAT,
MENCIPTA
Proses
Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisais+ Mengevaluasi+
Mencipta
Obyek
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, DAN BUDAYA
Subyek
MANUSIA, BANGSA, NEGARA, TANAH AIR, DAN DUNIA
206
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
DOMAIN
SD
SMP
SMA-SMK
Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati + Mengamalkan
SIKAP
PRIBADI YANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN BERTANGGUNG
JAWAB DALAM BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL,
ALAM SEKITAR, SERTA DUNIA DAN PERADABANNYA
Mengamati + Menanya + Mencoba + Mengolah + Menyaji + Menalar + Mencipta
KETERAMPILAN
PRIBADI YANG BERKEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG EFEKTIF DAN KREATIF
DALAM RANAH ABSTRAK DAN KONKRET
Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisa + Mengevaluasi +
Mencipta
PENGETAHUAN
PRIBADI YANG MENGUASAI ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, BUDAYA DAN
BERWAWASAN KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN, KENEGARAAN, DAN PERADABAN
207
KARAKTERISTIK PENILAIAN PADA
KURIKULUM 2013
BELAJAR
TUNTAS
OTENTIK
BERKESINAM
BUNGAN
BERDASAR
KAN
KRITERIA
MENGGUN
AKAN
TEKNIK
PENILAIAN
YANG
BERVARIASI
TEKNIK PENILAIAN
PENILAIAN
KOMPETENSI SIKAP
INSTRUMENNYA
1. Observasi
2. Penilaian Diri
3. Penilaian
Antar
Peserta Didik
4. Jurnal
PENILAIAN
KOMPETENSI
PENGETAHUAN
INSTRUMENNYA
1. Tes Tulis
2. Tes Lisan
3. Penugasan
PENILAIAN
KOMPETENSI
KETERAMPILAN
Penilaian Kinerja yang
terdiri atas:
1. Tes praktik
2. Projek
3. Penilaian
portofolio
Pedoman Penskoran dan Rubrik
PENILAIAN AUTHENTIK (AUTHENTIK ASSESMENT)
Proses penilaian bagian dari pembelajaran
Penilaian mencerminkan permasalah dunia
nyata
Penilaian menggunakan metoda, ukuran dan kriteria
yang sesuai dengan karakteristik dan esensi
pengalaman pembelajaran
Penilaian harus bersifat holistik
TES TERTULIS
& LISAN
PENILAIAN UNJUK
KERJA
INPUT
PENILAIAN
OTENTIK
PROSES
PENILAIAN
PRODUK
PENILAIAN PROJEK
OBSERVASI
OUTPUT
PENILAIAN ANTAR
TEMAN
PENILAIAN DIRI
JURNAL
P
O
R
T
O
F
O
L
I
O
PEMANFAATAN HASIL PENILAIAN
PROGRAM REMEDIAL
PROGRAM PENGAYAAN
BAGI GURU
BAGI SEKOLAH
PELAPORAN HASIL PENILAIAN
AKUNTABILITAS PUBLIK
Rincian hasil
belajar peserta
didik
berdasarkan
kriteria yang
telah ditentukan
Informasi yang
jelas,
komprehensif,
dan akurat
tentang
perkembangan
peserta didik
Bahan informasi
kepada orangtua
tentang
perkembangan
hasil belajar
anaknya
DESKRIPSI
KUALITATIF
KETERAMPILAN
DESKRIPSI
KUALITATIF
SIKAP
DESKRIPSI
KUANTITATIF
PENGETAHUAN
RAPORT
Menerima
Disiplin
Jujur
Menjalankan
RAPORT
MENDESKRIPSIKAN
KUALITATIF SIKAP
Bekerjasama
Menghargai
Ketangguhan
Diri
Menghayati
Komunikasi
Mengamalkan
Sikap Ilmiah
Mengetahui
RAPORT
MENDESKRIPSIKAN
KUANTITATIF
PENGETAHUAN
Memahami
Faktual
Menerapkan
Konseptual
Menganalisis
Prosedural
Metakognisi
Mengevaluasi
Mencipta
Mengamati
RAPORT
MENDESKRIPSIKAN
KUALITATIF
KETERAMPILAN
Menanya
Faktual
Mencoba
Konseptual
Menalar
Prosedural
Metakognisi
Menyaji
Mencipta
Bentuk Laporan
Laporan kemajuan belajar dalam bentuk
kualitatif dan kuantitatif
Berupa data yang berasal dari siswa yang
dibuat oleh guru
Data merupakan gambaran sseluruh
komptensi matpel dalam bentuk angka
dan deskripsi
Bentuk laporan berupa lembaran, buku
dan buku yang disertai lembaran
Laporan terdiri dari K3 dan K4 berupa
angka dan K1 dan K2 berupa deskripsi
ISI LAPORAN HASIL BELAJAR
1
2
3
4
5
6
• Identitas peserta didik
• Perkembangan peserta didik secara akademik, fisik, sosial
emosional dan ketaqwaan menurut agamanya
• Potensi peserta didik yang perlu dikembangkan
• Partisipasi peserta didik dalam kegiatan di sekolah
• Rekomendasi bagi peserta didik dan orang tua/wali.
• Tanda tangan walikelas, Kepala Sekolah dan orang tua/wali
peserta didik
REKAP NILAI
Rekapitulasi nilai merupakan rekap
kemajuan belajar peserta didik oleh guru,
yang berisi informasi tentang pencapaian
kompetensi peserta didik untuk setiap
KD, dalam kurun waktu 1 semester
RAPORT
Rapor adalah laporan kemajuan belajar
peserta didik dalam kurun waktu satu
semester
Nilai rapor adalah nilai mata pelajaran
yang menggambarkan kemampuan
peserta didik
Nilai tersebut diperoleh dengan cara
menggabungkan nilai proess (nilai harian,
tugas, pengamatan) dan nilai akhir (nilai
UTS dan UAS/UKK).
TUGAS
PELAKSANAAN ON THE JOB LEARNING
(OJL)
MEMBUAT RPP SESUAI MAPEL YANG DIAJARKAN DI
SEKOLAH BAPAK IBU PESERTA
DENGAN KETENTUAN :
1. Format RPP seperti yang ada pada power point ini
2. Buat laporan pelaksanaan OJL dengan format seperti
ada pada contoh laporan
3. Buat Power point untuk pelasanaan In-2 sebagai
bahan presentase tgl 14 Nopember 2013
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SAYA
BISA
Hatur nuhun
Trimo kasih
Hafklfkdna;
Matur suwun
kamsiah
Vielen dank
Makase
Terima kasih.....

similar documents