Konferensi Asia Afrika

Report
KONFERENSI ASIA
AFRIKA (KAA)
Kelompok :
1. Ahmad Ismail
2. Ajeng Ramadhani
3. Anita Rahayu
4. Ardiawan R
5. Bety Nurul Afni
6. Dita Kurnia Putri
7. Devi Wulandari
8. Idhlam Kholid
9. Rizqi Adi Nugraha
(XI IPA 2 / 01)
(XI IPA 2 / 03)
(XI IPA 2 / 06)
(XI IPA 2 / 07)
(XI IPA 2 / 09)
(XI IPA 2 / 12)
(XI IPA 2 / 13)
(XI IPA 2 / 19)
(XI IPA 2 / 26)
Pengertian
Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT
Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi
Bandung) adalah sebuah konferensi antara negaranegara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja
memperoleh
kemerdekaan.
KAA
diselenggarakan
oleh
Indonesia,
Myanmar
(dahulu
Burma),
Sri
Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi
oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario.
Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24
April 1955, di Gedun Merdeka, Bandung, Indonesia dengan
tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan
Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme
Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Kilas balik

23 Agustus1953
Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo (Indonesia) di Dewan Perwakilan
Rakyat Sementara mengusulkan perlunya kerjasama antara negara-negara di
Asia dan Afrika dalam perdamaian dunia.

25 April–2 Mei 1954
Berlangsung Persidangan Kolombo di Sri Lanka. Hadir dalam pertemuan
tersebut para pemimpin dari India, Pakistan, Burma (sekarang Myanmar),
dan Indonesia. Dalam konferensi ini Indonesia memberikan usulan perlunya
adanya Konferensi Asia-Afrika.

28–29 Desember1954
Untuk mematangkan gagasan masalah Persidangan Asia-Afrika,
diadakan Persidangan Bogor. Dalam persidangan ini dirumuskan lebih rinci
tentang tujuan persidangan, serta siapa saja yang akan diundang.

18–24 April 1955
Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung.
Persidangan ini dirasmikan oleh Presiden Soekarno dan diketuai oleh PM Ali
Sastroamidjojo. Hasil dari persidangan ini berupa persetujuan yang dikenal
dengan Dasasila Bandung. Indonesia
Pertemuan kedua
Untuk memperingati lima puluh tahun sejak
pertemuan bersejarah tersebut, para Kepala
Negara negara-negara Asia dan Afrika telah
diundang untuk mengikuti sebuah pertemuan
baru di Bandung dan Jakarta antara 19-24
April 2005. Sebagian dari pertemuan itu
dilaksanakan di Gedung Merdeka, lokasi
pertemuan lama pada 50 tahun lalu. Sekjen
PBB, Kofi Annan juga ikut hadir dalam
pertemuan ini.
Pelopor KAA
1. Ali Sastroamidjojo
2. Mohammad Ali Bogra
3. Jawaharlal Nehru
4. Sir John Kotelawala
5. U Nu
Peserta KAA
1. Afganistan
7. Kamboja
19. Thailand
2. Arab Saudi
8. Laos
20. Turki
3. Burma
9. Lebanon
21. Republik
4. Ceylon
10. Liberia
5. Republik
11. Libya
Demokratik
Vietnam
22. Negara
Vietnam
(Republik
Vietnam)
23. Kerajaan
Mutawakkilīyah
Yaman
24. Yordania
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Rakyat Cina
Ethiopia
India
Indonesia
Irak
Iran
Jepang
12. Mesir
13. Nepal
14. Pakistan
15. Filipina
16. Siprus
17. Sudan
18. Suriah
Penyelenggaraan KAA
Pemerintah Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika
(KAA) pada tanggal 18-24 April 1955 di Bandung. Keberhasilan itu
merupakan suatu prestasi besar karena diselenggarakan di tengah-tengah
maraknya gerakan separatis dan keadaan pemerintahan yang tidak stabil.
Penyelenggaraan KAA didasarkan pada beberapa kejadian yang melanda
dunia, sekaligus sebagai latar belakang pelaksanaan KAA sebagai berikut:
a. Pertentangan antara Blok Barat (kapitalis) dan Blok Timur (komunis)
yang mengancam ketertiban dan perdamaian dunia.
b. Sebagian besar negara-negara Asia dan Afrika yang menjadi korban
imperialisme-kolonialisme negara-negara Barat.
c. Perlunya kerjasama antara negara-negara Asia dan Afrika dalam
menghadapi masalah pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan, dan
kebudayaan.
d. Pelaksanaan politik aparheid (diskriminasi) di beberap negara, terutama
di Afrika Selatan
Hasil Pertemuan KAA
Sepuluh poin hasil pertemuan KAA kemudian tertuang
dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang
"pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama
dunia". Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam
Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.
1. Menghormati hak-hak dasar manusia seperti yang tercantum
pada Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas semua bangsa.
3. Menghormati dan menghargai perbedaan ras serta mengakui
persamaan semua ras dan bangsa di dunia.
4. Tidak ikut campur dan intervensi persoalan negara lain.
5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri baik
sendiri maupun kolektif sesuai dengan piagam pbb.
6.
Tidak menggunakan peraturan dari pertahanan kolektif
dalam bertindak untuk kepentingan suatu negara besar.
7.
Tidak mengancam dan melakukan tindak kekerasan
terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu
negara.
8.
Mengatasi dan menyelesaikan segala bentuk perselisihan
internasional secara jalan damai dengan persetujuan PBB.
9.
Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10. Menghormati hukum dan juga kewajiban internasional.
11. Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya
Gerakan Non-Blok pada 1961
Pada tanggal 25 Agustus 1953, PM Ali Sastroamidjojo menyatakan
pentingnya kerjasama negara-negara Asia dan Afrika di depan DPR.
Kerja sama itu akan memperkuat usaha ke arah terciptanya
perdamaian dunia yang kekal. Kerjsama antara negara-negara Asia
dan Afrika tersebut sesuai dengan aturan-aturan PBB.
Pernyataan Ali Sastroamdjojo tersebut mencerminkan bahwa
prakarsa penyelenggaraan KAA adalah Indonesia. Ide tersebut
mendapat sambutan yang positif dari negara-negara India, Pakistan,
Sri Langka, dan Birma (Myanmar).
Kelima negara itu, kemudian menjadi sponsor penyelenggaraan KAA.
Untuk mempersiapkan KAA, kelima negara di atas menyelenggarakan
konferensi pendahuluan, yaitu:
Konferensi Kolombo
Konferensi Kolombo dilaksanakan di Sri Langka pada tanggal
28 April s/d 2 Mei 1954. Tujuannya adalah membahas masalah
Vietnam dalam menghadapi Konferensi Jenewa pada tahun
1954. Kemudian berkembang gagasan baru, setelah Indonesia
melontarkan pentingnya menyelenggarakan KAA. Meskipun
diwarnai sikap yang agak ragu-ragu, konferensi berhasil
memutuskan hal-hal sebagai berikut:
 Indocina harus dimerdekakan dari penjajahan Perancis.
 Menuntut kemerdekaan bagi Tunisia dan Marroko.
 Menyetujui dilaksanakannya KAA dan menugaskan
Indonesia untuk menyelidiki kemungkinan KAA itu.
Konferensi Bogor (Pancanegara)
Sesuai hasil putusan Konferensi Kolombo, Indonesia
kemudian melakukan pendekatan diplomatik kepada 18
negara Asia dan Afrika. Pemerintah Indonesia ingin
mengetahui tanggapan negara-negara tersebut terhadap
ide penyelenggaraan KAA. Ternyata, negara-negara yang
dihubungi menyambut baik dan menyetujui Indonesia
sebagai tuan rumahnya. Sebagai tindak lanjut, Indonesia
mengadakan Konferensi Bogor pada 28-29 Desember 1954
dengan mengundang peserta Konferensi Kolombo.
Konferensi Bogor dihadiri tokoh-tokoh penting, yaitu:
 Mr. Ali Sastroamidjojo (PM Indonesia),
 Pandit Jawaharlal Nehru (PM India),
 Mohammad Ali (PM Pakistan),
 U Nu (PM Birma/Myanmar), dan
 Sir John Kotelawala (PM Sri Langka).
Konferensi tersebut membicarakan persiapan-persiapan terakhir
pelaksanaan KAA. Kesepakatan yang dihasilkan dalam Konferensi
Bogor
adalah sebagai berikut:
 KAA akan diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955.
 KAA akan diikuti oleh 30 negara sebagai peserta.
 Menetapkan rancangan agenda KAA
TERIMAKASIH ATAS
PERHATIANNYA

similar documents