ASPEK HUKUM PERIKATAN

Report
ASPEK HUKUM
PERIKATAN
Dr. Marzuki, SH M.Hum
ASPEK HUKUM PERIKATAN
• Perikatan adalah suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta
benda) antara dua orang atau lebih yang melahirkan hak dan
kewajiban menuntut suatu barang. Pihak yang berhak disebut
kreditur, dan pihak yang berkewajiban disebut debitur.
• Barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan prestasi, dapat
berupa
1.
2.
3.
•
Menyerahkan suatu barang
Melakukan suatu perbuatan
Tidak melakukan suatu perbuatan
Suatu perikatan itu sendiri dapat berasal dari perjanjian dan
dapat juga berasal dari undang-undang.
PELAKSANAAN SUATU PERJANJIAN
• Prestasi tersebut adalah merupakan pelaksanaan perjanjian:
1.
2.
3.
•
Perjanjian untuk menyerahkan barang, misalnya jual beli, sewa
menyewa, pinjam pakai.
Perjanjian untuk berbuat sesuatu, misalnya perjanjian membuat
lukisan, perjanjian kerja, perjanjian membangun rumah, dsb.
Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu, misalnya untuk tidak
mendirikan tembok, perjanjian untuk tidak mendirikan suatu
perusahaan yang sejenis.
Dalam pasal 1339 KUH perdata disebutkan suatu perjanjian tidak
hanya mengikat isi perjanjian tetapi juga harus memenuhi
kepatutan, kebiasaan dan undang-undang.
MACAM-MACAM PERIKATAN
1.
2.
3.
Perikatan bersyarat (voorwaardelijk), yaitu suatu perikatan yang
tergantung pada kejadian dikemudian hari, yang masi belum
tentu terjadi, misalnya si A berjanji dengan si B untuk membeli
mobil si B apabila si A lulus ujian. Si A akan mengosongkan rumah
yang disewa si B apabila si B di PHK.
Perikatan yang tergantung pada suatu ketetapan waktu
(tidjdsbepaling). Perikatan ini suatu hal yang pasti belum tahu
waktunya, misalnya meninggal seseorang.
Perikatan yang membolehkan memilih (alternatief). Dalam hal ini
terdapat dua atau lebih macam prestasi dan debitur boleh
memilih salah satu, seperti pembayaran hutang dilakukan
dengan memberikan mobil atau uang.
MACAM-MACAM PERIKATAN
4. Perikatan tanggung menanggung (hoofdelijk atau solidair),
adalah suatu perikatan yang timbul apabila beberapa orang
sebagai debitur berhadapan dengan seorang kreditur atau
sebaliknya.
5. Perikatan yang dapat dibagi atau tidak dapat dibagi, misalnya
hutang si A dapat dibagi pada ahli warisnya bila meninggal dunia.
Pada asasnya perikatan ini tidak boleh dibagi, jika tidak ada
perjanjian lain, sebab si debitur berkewajiban memenuhi janjinya
kepada debitur.
6. Perikatan dengan penetapan hukuman (Strafbeding). Misalnya
dalam perjanjian disebutkan pengenaan suatu hukuman apabila
debitur lain memenuhi kewajibannya, misalnya denda, bungan
dsb.
SYARAT SAHNYA PERJANJIAN
• Berdasarkan pasal 1320 KUH perdata ada 4 syarat :
1.
2.
3.
4.
•
•
Sepakat mereka yang mengikat diri.
Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian.
Suatu hal tertentu.
Suatu sebab yang halal.
Syarat pertama dan kedua disebut syarat subjektif, sedangkan
tiga dan empat disebut syarat objektif.
Orang yang tidak cakap menurut pasal 1330 KUH perdata
misalnya orang yang belum dewasa, mereka yang berada di
bawah pengampuan.
AKIBAT HUKUM SYARAT SAH PERJANJIAN
• Apabila syarat objektif tidak dipenuhi maka perjanjian itu batal demi
hukum (null and void), artinya dari semula perjanjian itu dianggap
tidak pernah ada.
• Dalam hal syarat subjektif tidak dipenuhi, maka salah satu pihak
dapat meminta pembatalan perjanjian. Dengan kata lain perjanjian
tersebut tetap sah ( voidable, Ingg), (Vernietigbaal, Bld), akan
tetapi selalu dimungkinkan pembatalan (cancelling). Dalam pasal
1454 KUH Perdata dibatasi jangka waktu ancaman pembatalan
tersebut 5 tahun.
• Pada dasarnya perjanjian didasarkan pada kebebasan berkontrak
(Pasal 1338 KUH Perdata), akan tetapi perjanjian juga dapat
dibatalkan akibat adanya kekhilafan atau karena penipuan.
WANPRESTASI
• Wanprestasi adalah apabila si debitur tidak memenuhi
kewajibannya, dapat berupa:
1.
2.
3.
4.
•
Tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilakukan.
Melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana
dijanjikan.
Melakukan apa yang dijanjikan, tetapi terlambat.
Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh
dilakukannya.
Terhadap kelalaian tersebut dapat diancam sanksi berupa:
membayar kerugian yang diderita kreditur, pembatalan
perjanjian, peralihan resiko, membayar biaya perkara, kalau
sampai di pengadilan.
CARA-CARA HAPUSNYA PERIKATAN
• Berdasarkan pasal 1381 ada 10 cara hapusnya perikatan
1. Pembayaran.
2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan
penitipan.
3. Pembaharuan hutang.
4. Perjumpaan hutang atau kompensasi.
5. Percampuran hutang.
6. Pembebasan hutang.
7. Musnahnya barang yang terhutang.
8. Kebatalan/pembatan.
9. Berlakunya suatu syarat batal.
10. Lewatnya waktu / daluarsa.
HAPUSNYA PERIKATAN
1.
Pembayaran, menurut pasal 1393 KUHP, disebutkan pembayaran
harus dilakukan ditempat yang ditentukan dlm perjanjian, atau
kalau berkaitan dengan suatu barang tertentu dpt dilkukan
ditempat brg tsb brada pd saat perjanjian dibuat.
• Pembayaran juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga.
HAPUSNYA PERIKATAN
3.
Pembaharuan hutang (inovasi) dapat berupa:


Apabila seseorang yang berhutang membuat suatu perikatan hutang
baru, mengganti hutang yang lama yang hapus karnanya
Apabila seseorang debitur baru ditunjuk sebagai pengganti debitur
lama dan debitur lama dibebeskan karnanya
HAPUSNYA PERIKATAN
4.
5.
Perjumpaan hutang atau kompensasi
Terjadi jika 2 orang saling berhutang satu sama lain maka
terjadilah suatu perjumpaan yang menghapuskan hutang
keduanya (pasal 1424 KUH Perdata)
Percampuran hutang
Terjadi apabila kedudukan sebagai kreditur dan debitur
berkumpul pada 1 orang
misalnya si debitur menerima testamen dari krediturnya atau si
debitur kawin dengan kreditur dalam suatu persatuan harta
kawin
HAPUSNYA PERIKATAN
6.
7.
Pembebasan hutang
Adalah apabila kreditur dengan tegas tidak mengkehendaki lagi
prestasi dari kreditur sehingga melepaskan haknya atas
pemenuhan prestasi
Musnahnya barang yang terhutang
Juga menjadi penyebab hapusnya perikatan karna dipandang
force mayor, artinya diluar kekuasaan debitur
HAPUSNYA PERIKATAN
8.
Kebatalan/pembatan
Dalam pasal 1446 KUH Perdata berkaitan dengan tidak
terpenuhinya syarat objektif/syarat subjektif.
9. Berlakunya suatu syarat batal
Berkaitan dengan perjanjian bersyarat
10. Lewatnya waktu / daluarsa
Menurut pasal 1967 KUH Perdata adalah apabila telah lewat 30
tahun, sehingga akan muncul natuurlijike verbintenis, artinya
kalau dibayar boleh tetapi tidak dapat dituntut didepan hakim.

similar documents