kedokteran islam dan etika dokter muslim

Report
HRM.HARDADI AIRLANGGA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
 Nn.M,
umur 17 tahun, siswa sebuah
pendidikan agama/umum ternama di negeri
ini, datang ke klinik dengan keluhan mual ,
muntah dan terlambat datang bulan sudah 2
bulan yang lalu. Ayah nya, Tn. T adalah
seorang pimpinan wilayah di daerah
tersebut, meminta kepada dokter untuk
mengobati dan membuat anaknya datang
bulan kembali. Bila Anda sebagai dokter apa
yang akan ada lakukan ?
 Doktrin
sentral Islam yang menjadi sumber
dan dasar semua ajarannya
 Allah adalah pusat dari segala sesuatu, segala
sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali
kepadaNYA
 Tujuan hidup manusia adalah hanya untuk
mengabdi kepadaNYA








Dalam surat as-Syu’ara ayat 78 – 85 Allah berfirman, dalam
pengisahan kembali sikap teologis Nabi Ibrahim a.s. kepada
kaumnya sebagai berikut :
78 . “Dia (Tuhan) yang menciptakan aku, maka hanya
Dia
yang
memberiku petunjuk.
79. Dan hanya Dia yang memberiku makan, dan memberiku
minum.
80. Dan apabila aku sakit, maka hanya Dia yang
menyembuhkan aku.
81. Dan (Dia) yang mematikan aku , kemudian akan
menghidupkan aku.
82. Dan yang amat kuharapkan akan mengampuni
kesalahanku pada
hari pembalasan .
83. Tuhanku, anugerahilah untukku hukum ( syari’at)
dan
masukkanlah aku dalam golongan orang-orang yang
saleh
84. Dan jadikanlah aku sebagai buah-bibir yang baik
dikalangan
orang- orang yang datang kemudian .
85. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang
mewarisi
surga yang sarat kenikmatan“.
 Etik
berasal dari kata ethos yang menyangkut
norma kesopanan/kesusilaan
 Aristoteles
 Etik  kelakuan/perbuatan manusia yang
ditimbang menurut baik dan buruknya (
Banning,1949)
 Etik terbentuk dari dua perkataan “mores of
a community “ dan “ ethos of the people”
(kesopanan suatu masyarakat dan akhlak
manusia )
 Tiap
profesi memiliki kode moral
 Etik kedokteran merupakan etik profesi
tertua
 Sumpah Hipocrates merupakan pedoman etik
bagi dokter di seluruh dunia
 Pendekatan
historis, kultural dan
doktrinal membantu memahami
Ahlusunnah wal Jama’ah sebagai suatu
perangkat ‘Aqidah, suatu citra gerakan,
karakter sosial dan suatu model budaya
 Ahlussunnah adalah mereka yang
mengikuti dengan konsisten semua jejaklangkah yang berasal dari Nabi
Muhammad SAW dan membelanya
 At-tawassuth
dan I’tidal yaitu sikap
tengah dalam keadilan
 At-tasamuth yaitu toleran dalam
perbedaan, toleran dalam urusan
kemasyarakatan dan kebudayaan
 At-tawazun, keseimbangan antara
beribadah kepada ALLLAH SWT, dan
berkhidmah kepada sesama manusia serta
keselarasan masa lalu, masa kini dan
masa depan
 Amar ma’ruf nahi munkar, mendorong
perbuatan baik dan mencegah hal yang
merendahkan nilai-nilai kehidupan
 Menjunjung
tinggi norma atau nilai agama
 Mendahulukan kepentingan bersama
daripada kepentingan pribadi
 Menjunjung tinggi keikhlasan dalam
berkhidmah dan berjuang
 Menjunjung tinggi ukhuwah, ijtihad dan
saling mengasihi
 Meluhurkan akhlak dan menjunjung tinggi
kejujuran
 Menjunjung
tinggi kesetiaan kepada
agama, negara dan bangsa
 Menjunjung tinggi nilai kerja dan prestasi,
sebagai bagian dari ibadah
 Menjunjung tinggi ilmu dan ahli ilmu
 Sikap menyesuaikan diri dengan
perubahan yang bermanfaat dan
bermaslahat
 Menjunjung tinggi kepeloporan untuk
mempercepat perkembangan
 As-shidqu
: kejujuran
 Al-wafau bil ‘ahdi : disiplin
 At-ta’awun : tolong menolong
 Al-’adalah : keadilan (proporsional)
 Al-istiqamah : ke-ajegan ,continue
 Al-hikmah : kebijaksanaan
 As-syaja’ah : keberanian
 Al-iffah : menjaga diri
 Al-amanah
: dapat dipercaya
 Al-fathanah : kecerdasan
 At-tabliqh : penyampaian ajaran secara
tuntas dan hikmah (Bijaksana)
 Al-ikhlas : rela mengabdi
Demi ALLAH saya bersumpah, bahwa :
1. Saya akan membaktikan hidup saya
guna kepentingan perikemanusiaan
2. Saya akan memelihara dengan sekuat
tenaga martabat dan tradisi luhur
jabatan kedokteran
3. Saya akan menjalankan tugas saya
dengan cara yang terhormat dan
bersusila sesuai dengan matabat
pekerjaan saya sebagai dokter
4. Saya akan menjalankan tugas saya
dengan mengutamakan kepentingan
masyarakat
5.
6.
7.
8.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang
saya ketahui karena pekerjaan saya dan
keilmuan saya sebagai dokter
Saya akan tidak mempergunakan pengetahuan
kedokteran saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan perikemanusiaan,
sekalipun diancam
Saya akan senantiasa mengutamakan
kesehatan penderita
Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh
supaya saya tidak terpengaruh oleh
pertimbangan keagamaan, kesukuan,
perbedaan kelamin, politik kepartaian, atau
kedudukan sosial dalam menunaikan
kewajiban terhadap penderita
9.
10.
11.
12.
13.
Saya akan menghormati setiap hidup insani
mulai dari saat pembuahan.
Saya akan memberikan kepada guru-guru dan
bekas guru-guru saya penghormatan dan
pernyataan terima kasih yang selayaknya
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya
sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan
Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode
Etik Kedokteran Indonesia
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguhsungguh dan dengan mempertaruhkan
kehormatan diri saya
1.
2.
Lampiran SK Menkes
No.434/MENKES/SK/X/1983 tanggal 28
Oktober 1983
Disempurnakan dalam RAKERNAS MKEKMP2A tanggal 20-22 Mei 1993 dan Mukernas
Etik Kedokteran III 21 – 22 April 2001 di
Jakarta, Keputusan PB IDI no.
221/PB/A.4/04/2002)
Sejak permulaan sejarah yang tersurat
mengenai umat manusia sudah dikenal
hubungan kepercayaan antara dua insan ,
yaitu sang pengobat dan pasien. Dalam
zaman modern hubungan itu disebut
sebagai hubungan kesepakatan terapeutik
antar dokter dan penderita yang
dilakukan dalam suasana saling percaya
mempercayai serta senatiasa diliputi oleh
segala emosi, harapan dan kekhawatiran
makhluk insani.
Sejak perwujudan sejarah kedokteran,
seluruh umat manusia mengakui serta
mengetahui adanya beberapa sifat mendasar
yang melekat secara mutlak pada diri
seorang dokter yang baik dan bijaksana yaitu
sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran
budi, kerendahan hati, kesungguhan
kerja,integritas ilmiah dan sosial, serta
kesejawatan yang tidak diragukan.
Inhotep dari Mesir, Hippocartes dari Yunani,
Galenus dari Roma merupakan beberapa ahli
pelopor kedokteran kuno yang telah meletakkan
sendi-sendi permulaan untuk terbinanya suatu
tradisi kedokteran yang mulia . Beserta semua
tokoh dan organisasi kedokteran yang tampil ke
forum initernasional kemudian mereka bermasud
mendasarkan tradisi dan disiplin kedokteran
tersebut atas suatu etik profesional. Etik
tersebut sepanjang masa mengutamakan pasien
yang berobat serta demi keselamatan dan
kepentingan pasien. Etik ini sendiri memuat
prinsip-prinsip, yaitu : beneficence, non –
maleficence, autonomy, dan justice.
Etik kedokteran sudah sewajarnya
dilandaskan atas norma-norma etik yang
mengatur hubungan manusia umumnya, dan
dimiliki asas-asasnya dalam falsafah
masyarakat yang diterima dan dikembangkan
terus. Khusus di Indonesia, asas itu adalah
Pancasila yang sama-sama kita akui sebagai
landasan idiil dan Undang-unddang Dasar
1945 sebagai landasan struktural
Dengan maksud untuk lebih nyata
mewujudkan kesungguhan dan keluhuran
ilmu kedokteran , kami para dokter
Indonesia, baik yang bergabung secara
profesional dalam Ikatan Dokter Indonesia
maupun secara fungsional terikat dalam
organisasi bidang pelayanan pendidikan
serta penelitian kesehatan dan
kedokteran, dengan Rahmat Tuhan Yang
Maha Esa , telah merumuskan Kode Etik
Kedokteran Indonei (KODEKI ) yang
diuraikan dalam pasal-pasal sebagai
berikut
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi,
menghayati dan mengamalkan Sumpah
Dokter
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya
melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya,
seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya
kebebasan dan kemandirian profesi
Pasal 4
Setiap dokter harus menghidarkan diri dari
perbuatan yang bersifat memuji diri
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasihat yang mungkin
melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan
pasien , setelah memperoleh persetujuan pasien
Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam
mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan
teknik atau pengobatn baru yang belum diuji
kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan
keresahan masyarakat
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan
pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya
Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam praktek medisnya,
memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan
kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa
kasih sayang ( compassion ) dan penghormatan atas
martabat manusia
Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam
berhubungan dengan pasien dan sejawatnya dan
berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia
ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau
kompetensi atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan dalam menangani pasien
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien,
hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan
lainnya, dan harus menjaga kepercayaannya pasien
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan
kewajiban melindungi hidup makhluk insani
Pasal 8
Dalam melaksanakan tugasnya seorang dokter
harus memperhatikan kepentingan masyarakat
dan memperhatikan semua aspek pelayanan
kesehatan yang menyeluruh ( preventive,
promotive, curative dan rehabilitative ) baik fisik
maupun psikososial , serta berusaha menjadi
pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarbenarnya
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan
pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya
serta masyarakat , harus saling menghormati
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersifat tulus ikhlas dan
mempergunakan segala ilmu dan keterampilannya untuk
kepentingan pasien. Dalam hal ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas
persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kapada dokter
yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut
Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada
pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga
dan penasihatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala
sesuatu yang diketahuinya tentang
seorang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan
pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada
orang lain bersedia dan mampu
memberikannya
Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman
sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh sengaja mengambil
alih pasien dari teman sejawat, kecuali
dengan persetujuan atau berdasarkan
prosedur yang etis
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara
kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan
baik
Pasal 17
Setiap dokter hendaklah senantiasa
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi kedokteran/kesehatan.

similar documents