PPT Konseling Karir Pada Wanita

Report
Konseling Karir
Pada Wanita
Nama kelompok:
•
Ika Nur Afni
(2011.08.0.0007)
•
Aini Finaning Tiyas
(2012.0.08.0054)
•
Rahma Dianita Sari
(2012.08.0.0077)
•
Imroatu Sholikhati
(2012.08.0.0082)
•
Fajrul Falakh
(2012.08.0.0084)
Latar belakang
Karir
Pengertian Karier adalah merupakan pekerjaan,
profesi (Hornby, 1957). Seseorang akan bekerja
dengan senang hati, dengan penuh kegembiraan
apabila apa yang dikerjakan itu memang sesuai
dengan
keadaan
dirinya,
sesuai
dengan
kemampuannya, sesuai dengan minatnya. Tetapi
sebaliknya, apabila seseorang bekerja tidak sesuai
dengan apa yang ada dalam dirinya, maka dapat
dipastikan ia akan kurang bergairah dalam
bekerja, kurang senang, dan kurang tekun.
Konseling karier memang sangat
diperlukan dalam dunia pekerjaan.
Dewasa ini, konseling karier tidak
hanya terjadi pada pria saja. Wanita
pun juga perlu dalam mendapatkan
kesempatan
yang
sama
untuk
konseling karier.
a.
Lingkup
Konseling
Karier
dan
Karier
Memilih sebuah karier lebih dari sekedar
menentukan apa yang akan dilakukan seseorang
untuk mencari nafkah. Pekerjaan memengaruhi
hidup seseorang secara keseluruhan termasuk
kesehatan fisik dan mental (Herr, Cramer &
Niles. 2004).
b. Pentingnya
Konseling Karier
• “Kebutuhan akan konseling karier lebih besar dari pada kebutuhan
untuk psikoterapi.”
• “Konseling karier dapat menjadi terapi.”
• “Konseling karier lebih sulit daripada psikoterapi”
c. Lingkup Konseling Karier dan Karier
National Career Development Association (NCDA) mendefinisikan konseling
karier sebagai satu “proses membantu individu dalam pengembangan
kehidupan karier dengan focus pada definsi peran pekerja, dan bagaimana
peran tersebut berinteraksi dengan peran
kehidupan yang lain”
Konselor karier harus benar-benar mempertimbangan banyak
factor, saat membantu seseorang membuat keputusan karier.
Factor-faktor tersebut diantaranya adalah minat profesi, usaia,
atau tahap dalam kehidupan, kematangan, jenis kelamin,
kewajiban keluarga, dan peran social.
d. Informasi Karier
Sangat penting untuk menyediakan informasi kuatitatif dan kualitatif
Pengetahuan mengenai informasi karier dan proses yang berhubungan
dengannya tidak menjamin adanya eksplorasi diri dan pengembangan
karier, tetapi keputusan karier yang bagus tidak dapat dibuat tanpa
data tersebut.
Kurangnya informasi atau informasi yang tidak up to date merupakan
salah satu alasan, kenapa banyak orang gagal untuk membuat
keputusan atau membuat pilihan yang tidak bijak.
Peran Konseling
-
Memfasilitasi Kepekaan Diri
-
Mejadi Familiar dengan Kehidupan
kerja
-
Mengajarkan Skill
Keputusan
-
Mengajarkan Kemampuan Menjad
Pegawai
dalam Pengambilan
TEORI PERKEMBANGAN
KARIER DAN KONSELING
I. Teori Trait-and-Factor
• Menegaskan bahwa karakter klienlah yang harus pertama kali dinilai
• kemudian dicocokkan secara sistematis dengan faktor-faktor yang
terlibat di dalam berbagai jabatan.
• menegaskan tentang keunikan setiap orang yang harus diukur secara
obyektif dan kuantitaif.
• Jadi, kepuasan dalam jabatan tertentu bergantung pada kecocokan
antara kemampuan seseorang dengan persyaratan suatu pekerjaan.
II. Teori Perkembangan
• terdiri dari 4 tahap, dimana dalam tahapan ini terdapat sub tahapan
• masing-masing tahap berkesinambungan dan saling terkait daam
penentuan karier individu
•Tahap I : fantasi, minat, kapasitas
•Tahap II : tentatif, transisi, percobaan
•Tahap III : uji cba dan penigkatan
•Tahap IV : mempertahankan dan melepaskan
III. Teori Karier Kognitif Sosial
• menekankan pada atribut, lingkungan, dan perilaku yg tampak adalah
saling terikat
• terdapat 6 proporsi utama;
1. “Interaksi antara orang dan lingkungannya sangatlah dinamis”
2. “perilaku yang berhubungan dengan karier dipengaruhi oleh empat
aspek dari seseorang: perilaku, efisiensi diri, hasil yang diharapkan,
dan tujuan selain karakteristik yang ditentukan secara genetik.”
3. Keyakinan akan efisiensi diri dan hasil yang diharapkan berinteraksi
secara langsung untuk memengaruhi perkembangan minat
4. Sebagai tambahan dari hasil yang diharapkan, faktor-faktor seperti
“jenis kelamin, ras, kesehatan fisik, kecacatan, dan variabel
lingkungan memengaruhi perkembangan efisiensi diri”
5. Pilihan karier aktual dan penerapannya dipengaruhi oleh sejumlah
variabel yang langsung dan tidak langsung selain efisiensi diri,
harapan, dan tujuan
6. Semua derajat, orang dengan tingkat kemampuan tertinggi dan
keyakinan efisiensi diri yang terkuat mempunyai performa yang juga
sangat tinggi
6 tipe kepribadian menurut Holland
a. Realistic
b. Investgative
c. Artistic
d. Social
e. Enterprising
f. Conventional
KONSELING KARIER PADA
WANITA
• Pola karier untuk wanita, yang berdasarkan jenis kelamin, sudah
mengalami perubahan karena beberapa alasan
• Penelitian terhadap pengembangan karier wanita telah mengidentifikasi
penghalang internal maupun eksternal yang berhubungan dengan
pengembangan karier wanita dan mendokumentasikan bahwa membuat
keputusan karier dan mempertahankan suatu karier lebih kompleks dan
terbatas bagi wanita daripada pria (Sulivan & Mahalik, 2000, P. 54).
• terdapat fenomena “atap kaca” dimana wanita dipandang sebagai sosok
yang mampu maju ke level tertentu dalam suatu perusahaan karena
mereka tidak dipandang sebagai sosok yang mampu melakukan tugas-tugas
eksekutif.
Tahapan Konseling Karier Wanita
Downing dan Rush (1985) menyarankan bahwa wanita melalui
beberapa tahap perkembangan;
a. fase pertama yaitu penerimaan pasif mengenai diskriminasi jenis
kelamin di masyarakat.
b. fase kedua adalah kesadaran bahwa diskriminasi jenis kelamin itu
tidak benar.
c. Fase ketiga ditandai dengan dikotomi pemikiran dan mingkin
penolakan pria atau yang disebut fase emansipasi.
d. Pada fase keempat, sintesis, wanita mulai menilai pria sebagai
individu, sebagai kebalikan daripada kelompok yang menindas.
e. fase kelima, wanita berkomitmen untuk mengambil control takdir
mereka dan mengambil peran dalam mengenalkan keadilan social
untuk semua.
Contoh kasus
Beberapa minggu lalu gempar dengan aksi penolakan
terhadap Lurah Lenteng Agung, Jakarta Selatan yaitu
Lurah Susan. Penolakan tersebut dipicu oleh
terpilihnya Lurah Susan yang beragama Protestan di
daerah Lenteng Agung yang mayoritas masyarakatnya
beragama islam. Masyarakat pun bersih keras
menolak Lurah Susan untuk memimpin daerahnya
karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi
masyarakat Lenteng Agung.
Kasus tersebut sempat membuat perdebatan antara Mendagri
Gamawan Fauzi dan Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja
Purnama. Basuki TP (selanjutnya disebut Ahok) menganggap
pernyataan Mendagri bahwa Lurah Susan sebaiknya ditugaskan
dalam wilayah yang sesuai dengan agamanya merupakan suatu
keberatan.
Meski
demikian
kebijakan
Mendagri
untuk
memindahkan Lurah Susan pada wilayah lain juga kurang tepat
menurut Ahok, karena baginya yang dibutuhkan adalah skil dan
kinerja untuk menjadi lurah. Namun, hal ini telah diklarifikasi oleh
staf ahli Mendagri Reydonnyzar Moenek yang menyatakan bahwa
Mendagri Gamawan Fauzi tidak keberatan dengan pengangkatan
Lurah Susan sebagai lurah
. "Jadi, tidak benar Mendagri keberatan dengan
pengangkatan lurah Susan. Ini bukan persoalan
agama. Tidak ada larangan ditempatkan di
mana
pun.
alangkah
kembali
Namun,
baiknya
dan
akan
beliau
dapat
lebih
berpendapat,
dipertimbangkan
sempurna
bila
penempatan orang juga mempertimbangkan the
right man the right place," ujar Reydonnyzar di
Jakarta pada saat di wawancarai oleh media.
Analisis`Kasus
Pada kasus terkait diskriminasi yang dialami oleh
Susan selaku calon Lurah Lenteng Agung,
merupakan hal yang cukup disayangkan. Menurut
paparan CEDAW (Convention on Ellimination of
All Form of Dicrimination Againts Woman),
kasus Susan termasuk dalam diskriminasi yang
dialami oleh perempuan dalam bidang
kesempatan berkerja yang tercantum dalam
pasal 11 CEDAW, yakni bahwa perempuan
mendapat hak yang sama atas kesempatan kerja,
termasuk penggunaan kriteria seleksi yang sama
dalam penerimaan pegawai serta hak untuk
bebas memilih profesi dan pekerjaan, hak atas
kenaikan pangkat, jaminan pekerjaan dan semua
tunjangan dan fasilitas kerja dan hak untuk
memperoleh pelatihan, keterampilan dan
pelatihan,
termasuk
magang,
pelatihan
keterampilan lanjutan dan pelatihan berkala.
Dalam UUD no 7 tahun 1984 tentang pengesahan
Konvensi
Mengenai
Penghapusan
Segala
Bentuk
Diskrimiasi Terhadap Perempuan. Jelas terlihat bahwa
penolakan terhadap lurah susan merupakan sebuah
diskriminasi terhadap hak-hak perempuan dalam jaminan
pekerjaan.
Dalam psikologi konseling karir terdapat mitos yang
masih dipercayai oleh masyarakat luas terkait karir pada
wanita. Mitos yang ada menyebutkan bahwa wanita lebih
menyukai pekerjaan yang bersifat artistic, social, dan
konvensional dibadingkan dengan pekerjan yang
realistik, investigative, dan enterprising (butuh
keberanian) (Tomlinson & Wvans-Hughws, 1991).

similar documents