Kerajaan Hindu-Budha : Kediri, Singosari, dan

Report
KERAJAAN HINDU-BUDHA :
KEDIRI, SINGOSARI, DAN MAJAPAHIT
By. Analisa Listanti 1201100215
Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram
oleh Raja Airlangga (1000-1049). Pemecahan ini dilakukan
agar tidak terjadi perselisihan di antara anak-anak
selirnya. Tidak ada bukti yang jelas bagaimana kerajaan
tersebut dipecah dan menjadi beberapa bagian.
Disebutkan bahwa kerajaan dibagi empat atau lima
bagian. Tetapi dalam perkembangannya hanya dua
kerajaan yang sering disebut, yaitu Kediri (Pangjalu) dan
Jenggala. Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan
mendapat ibukota lama, yaitu Dahanaputra, dan nama
kerajaannya diubah menjadi Pangjalu atau dikenal juga
sebagai Kerajaan Kediri.
Perkembangan Kerajaan Kediri
Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang
beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan
Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga
Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi
hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh
tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum
ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan
Jenggala. Kejayaan Kerajaan Kediri sempat jatuh
ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan
golongan pendeta. Keadaan ini dimanfaatkan oleh
Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.
Namun kemudian kedudukannya direbut oleh Ken Arok.
Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian
mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di
bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di
bawah pemerintahan Kertanegara (1268-1292),
terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang,
raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari
bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk
menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292
Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan
membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri.
Runtuhnya Kediri
Setelah berhasil mengalah kan Kertanegara, Kerajaan
Kediri bangkit kembali di bawah pemerintahan
Jayakatwang. Salah seorang pemimpin pasukan Singasari,
Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri ke Madura. Karena
perilakunya yang baik, Jayakatwang memperbolehkan
Raden Wijaya untuk membuka Hutan Tarik sebagai daerah
tempat tinggalnya. Pada tahun 1293, datang tentara
Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk
membalas dendam terhadap Kertanegara. Keadaan ini
dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang
Jayakatwang. Ia bekerjasama dengan tentara Mongol dan
pasukan Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja untuk
menggempur Kediri. Dalam perang tersebut pasukan
Jayakatwang mudah dikalahkan. Setelah itu tidak ada lagi
berita tentang Kerajaan Kediri.
Bukti Peninggalan Kerajaan Kediri






Prasasti Panumbangan
Prasasti Palah
Kitab Samaradhahana karangan Empu Darmaja
Kitab krinayana karangan Empu Triguna
Kitab Hariwangsa karangan Empu Panuluh
Candi Panataran
Candi Panataran
Prasasti Panumbagan
Kerajaan Singosari
Ken Arok merebut daerah Tumapel, salah satu wilayah
Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung,
pada 1222. Ken Arok pada mulanya adalah anak buah
Tunggul Ametung, namun ia membunuh Tunggul Ametung
karena jatuh cinta pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok
kemudian mengawini Ken Dedes. Pada saat dikawini
Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak bernama
Anusapati yang kemudian menjadi raja Singasari
(1227-1248). Raja terakhir Kerajaan Singasari adalah
Kertanegara
Ken Arok
Ketika di pusat Kerajaan Kediri terjadi pertentangan antara raja
dan kaum Brahmana, semua pendeta melarikan diri ke Tumapel dan
dilindungi oleh Ken Arok. Pada 1222, para pendeta Hindu
kemudian menobatkan Ken Arok sebagai raja di Tumapel dengan
gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Adapun
nama kerajaannya ialah Kerajaan Singasari. Berita pembentukan
Kerajaan Singasari dan penobatan Ken Arok menimbulkan
kemarahan raja Kediri, Kertajaya. la kemudian memimpin sendiri
pasukan besar untuk menyerang Kerajaan Singasari. Kedua
pasukan bertempur di Desa Ganter pada 1222. Ken Arok berhasil
memenangkan pertempuran dan sejak itu wilayah kekuasaan
Kerajaan Kediri dikuasai oleh Singasari.
Kertanegara


Ken Arok memerintah Kerajaan Singasari hanya lima tahun. Pada
1227 ia dibunuh oleh Anusapati, anak tirinya (hasil perkawinan
Tunggul Ametung dan Ken Dedes). Sepuluh tahun kemudian
Anusapati dibunuh oleh saudara tirinya, Tohjaya (putra Ken Arok
dengan Ken Umang).
Kematian Anusapati menimbulkan kemarahan Ranggawuni, putra
Anusapati. Ranggawuni langsung menyerang Tohjaya. Pasukan
Tohjaya kalah dalam pertempuran dan meninggal dunia dalam
pelarian. Pada 1248 Ranggawuni menjadi raja Singasari bergelar
Sri Jaya Wisnuwardhana. Ranggawuni memerintah Kerajaan
Singasari selama 20 tahun (1248-1268) dan dibantu oleh Mahisa
Cempaka (Narasingamurti). Ranggawuni wafat pada 1268 dan
digantikan oleh putranya, Kertanegara. la memerintah Kerajaan
Singasari selama 24 tahun (1268-1292).
Ekspedisi Pamalayu
Kertanegara terus memperluas pengaruh dan
kekuasaan Kerajaan Singasari. Pada 1275 ia mengirim
pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya
sekaligus menjalin persekutuan dengan Kerajaan
Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu
dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil
memperluas pengaruhnya di Campa melalui
perkawinan antara raja Campa dan adik
perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai
Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa
Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).
Serangan Pasukan Mongol
Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk
menghadapi serangan kaisar Mongol, Kubilai Khan, yang
berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa kali
datang ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di
bawah Kubilai Khan. Apabila menolak maka Singasari akan
diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan
Kertanegara dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan,
Meng Ki, pada 1289. Kertanegara menyadari tindakannya
ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian
memperkuat pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan
Mongol menyerang Kerajaan Singasari. Namun Kertanegara
telah dibunuh oleh raja Kediri, Jayakatwang, setahun
sebelumnya. Singasari kemudian dikuasai oleh Jayakatwang.
Peninggalan Kerajaan Singasari
Candi Singhasari
Candi Kidal
Candi Jago
Kerajaan Majapahit
Setelah Raja Kertanegara gugur dalam peristiwa
penyerangan Raja Jayakatwang (Raja Kediri), berakhirlah
riwayat Kerajaan Singasari. Raja Kertanegara beserta
petinggi kerajaan lainnya tewas dalam penyerangan
tersebut. Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) segera
melarikan diri ke Sumenep, Madura, dan mendapat
perlindungan dari Arya Wiraraja, penguasa Sumenep. Raja
Jayakatwang sangat menghormati Arya Wiraraja sehingga
Raden Wijaya diampuni. Setelah mendapat pengampunan
dari Raja Jayakatwang, Raden Wijaya beserta pengikutnya
diizinkan untuk membabat hutan Tarik (sekarang menjadi
Desa Trowulan, Jawa Timur) untuk dijadikan desa. Disinilah
kemudian berdiri pusat Kerajaan Majapahit
Kertarajasa Jayawardhana

Pada 1293 pasukan Kubilai Khan dari Cina datang
dengan tujuan untuk menghancurkan Kerajaan
Singasari. Mereka tidak mengetahui bahwa
Singasari telah hancur. Hal ini dimanfaatkan oleh
Raden Wijava untuk membalas dendam kepada
Raja Jayakatwang.
Para Penguasa Majapahit
Raden Wijaya : (1309)
Jayanegara : (1309-1328)
Tribhuwanatunggaldewi : (1328-1350)
Hayam Wuruk : (1350-1389)
Wikramawardhana : (1389-1429)
Suhita : (1429-1447)
Kertawijaya : (1447-1451)
Rajasawardhana : (1451-1453)
Bhre Wengker : (1456-1466)
Singhawikramawardhana : (1466-1468)
Kertabhumi : (1468-1478)
Ranawijaya/Girindrawardhana : (1478-?)

Pasukan Raden Wijaya bekerjasama dengan
Kubilai Khan yang berjumlah sekitar 20.000 orang.
Dalam waktu singkat, Kerajaan Kediri hancur dan
Raja Jayakatwang terbunuh. Pasukan Kubilai Khan
kembali ke pelabuhan, namun di tengah perjalanan
pasukan Raden Wijaya dengan bantuan pasukan
Singasari dari Sumatera menyerang pasukan
tersebut. Pasukan Kubilai Khan segera pergi dari
tanah Jawa dan Raden Wijaya menjadi raja
dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.
Wilayah Kekuasaan

Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh
Jawa (kecuali tanah Sunda), sebagian besar P.
Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan
Indonesia bagian timur hingga Irian Jaya. Perluasan
wilayah ini dicapai berkat politik ekspansi yang
dilakukan oleh Patih Mangkubumi Gadjah Mada.
Pada masa inilah Kerajaan Majapahit mencapai
puncak kejayaannya
Keruntuhan Majapahit
Sepeninggal Raden Wijaya, Kerajaan Majapahit dilanda beberapa
pemberontakan. Pemberontakan tersebut antara lain ialah
pemberontakan Ranggalawe, Sora, dan Kuti selama masa
pemerintahan Jayanegara (1309-1328), serta pemberontakan
Sadeng dan Keta pada masa Tribhuwanatunggadewi (1328-1350).
Pemberontakan baru dapat berakhir pada masa kekuasaan Raja
Hayam Wuruk (1350-1389). Setelah masa kekuasaan Raja Hayam
Wuruk, pamor Kerajaan Majapahit semakin menurun. Pada 1522,
Kerajaan Majapahit hancur akibat terjadinya perang saudara.
Selain itu, faktor yang juga mempengaruhi runtuhnya Kerajaan
Majapahit ialah munculnya Kerajaan Malaka dan berkembangnya
kebudayaan Islam.
Peninggalan Kerajaan Majapahit
Candi Tikus
Candi Brahu
Patung Budha Raksasa
Gapura Bajangratu
Gapura Wringin Lawang
Sekian
dan...
Terimakasih

similar documents