Psikologi Pendidikan Pertemuan 6

Report
Pengertian perkembangan kognitif
dan bagian sel otak
 Perkembangan Kognitif adalah perkembangan kecerdasan otak pada
anak yang terjadi di dalam otak.
 Sel dan bagian otak jumlah dan ukuran ujung saraf otak terus
bertambah setidaknya sampai masa remaja. Beberapa pertambahan
ukuran otak juga berhubungan myelinasi proses pembungkusan
beberapa sel di otak oleh selubung myelin. Hal tersebut akan
meningkatkan kecepatan jalur informasi pada sistem saraf. Myelinasi
di daerah otak yang berhubungan dengan koordinasi tangan-mata,
terus berlanjut hingga usia kurang lebih usia 4 tahun. Myelinasi di
daerah otak penting dalam memfokuskan perhatian masih
berlangsung hingga usia kurang lebih 10 tahun (Tanner, 1978).
Perngaruh proses tersebut pada pengajaran adalah anak-anak akan
kesulitan untuk memfokuskan perhatian dan mempertahankannya
untuk waktu yang sangat lama selama masa kanak-kanak awal, teteapi
perhatian mereka akan meningkat ketika mereka melalui tahun-tahun
di sekolah dasar. Proses myelinasi yang meningkat secara besarbesaran terjadi di bagian depan otak (lobus frontalis), tempat
terjadi penalaran dan pemikiran, selama masa remaja(Nelson,
Thomas, dan de Haan,2006).
Aspek-aspek yang penting
dalam sel otak
A.
Leteralisasi (lateralization)
Adalah spesialisasi fungsi di setiap belahan otak
Pada individu-individu yang mempunyai otak yang utuh, terdapat perbedaa
fungsi-fungsi di beberapa area:
Pemprosesan verbal
pada sebaian besar individu, bicara tatat bahasa ditempatkan dibelahanotak
kiri (jabbour, dkk,2005; lohman, dkk;2005;wilke,dkk,2005).
Pemprosesan nonverbal.
Otak kanan biasanya lebih dominan dalam memproses informasi njonverbal
seperti persepsi spasial, pengenalan visual, dan emosi
(demaree,dkk,2005;floel,dkk,2004). Otak kanan juga mungkin berpearn
ketika orang-orang mengungkapkan emosi atau mengenali emosi orang
lain.
B. Plasitisitas
Seperti yang kita ketahui, otak mempunyai plasitisitas, dan
prkembangannya trgantung pada konteksnya (giedd),dan
lainnya,2006;nelson,tomas,dan de haan,2006;withford dan yang
lainnya,2006.lingkungan yang ada dapat menghasilkan perkembangan
pembelajaran dan fungsi otak.
Teori-teori kognitif
Teori piaget adalah:
skema piaget(1954) menyatakan bahwa ketika anak berusaha membangun
pemahaman mengenai dunia,otak berkembang membentuk skema (schema).inilah
tindakan atau representasi mental yang mengatur pengetahuan.dalam teori
piaget,skema perilaku (aktivitas fisik) merupakan ciri dari masa bayi dan skema
mentral (aktivitas kognitif)berkembang pada masa kanak-kanak
(lamb,bornstein,&teti,2002).skema bayi di susun secara sederhana mislnya
menyedot,menggegam,melihat suatu objek,sedangkan anak yang berumur lebih tua
mempunyai skema untuk menyelesaikan masalah.
 Asimilasi dan akomodasi piaget memberikan konsep asimilasi dan akomodasi untuk
menjelaskan bagaimana anak-anak menggunakan dan menyusaikan skema
mereka,asimilasi(asimilation) terjadi ketika anak-anak memasukkan informasi baru
ke dalam skema mereka yang sudah ada sebelumnya.akomodasi(accomodation)
terjadii ketika anak-anak menyusaikan skema mereka agar sesuai dengan informasi
dan pengalaman baru mereka.
Organisasi menurut piaget,anak-anak mengatur pengalaman mereka secara
kognitif untuk mengartikan dunia mereka.organisasi(organization) dalam teori
piaget adalah pengelompokkan perilaku dan pikiran yang terisolasi ke dalam sebuah
susunan sistem yang lebih tinggi.
 Ekuilibrasi dan tahapan perkembangan ekuilibrasi equilibration adalah mekanisme
yang di ajukan piagetuntuk menjelaskan bagaimana anak-anak beralih dari satu
tahap pemikiran ke tahap pemikiran yang selanjutnya.menurut piaget hasil dari
proses ini adalah individu-individu tersebut melalui empat tahap perkembangan.
lanjutan
 Tahapan piaget setiap tahapan piaget berkaitan dengan usia dan
terdiri dari cara pikirbyanng berbeda-beda.
 piaget mengajukan empat tahap perkembangan kognitif
 yaitu: sensorimotor,praoperasional,operasional
konkret,operasional pormal.
 Tahap sensorimotor(sensorimotor stage) merupakan tahap
perkembangan kognitif piaget yang pertama,berlangsung dari
kelahiran sampai kurang lebih 2 tahun.dalam tahap ini,bayi
membangun pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan
pengalaman sensori dan motorik mereka.oleh karena itu di sebut
sensorimotor.pada permulaan tahap ini,bayi hanya menunjukan
lebih dari sekdar pola adaptasi dengan dunia.dan pada pengujung
tahap ini,mereka meperlihatkan pola sensori-motorik yang jauh
lebih rumit.
lanjutan
 Tahap praoperasional(preoperational stage) adalah
tahap perkembangan kognitif piaget yang ke
dua,berlangsung antara usia 2 sampai 7 tahun.tahap ini
lebih simbolikdari pada sensorimotor,tetapi tidak
melibatkan pemikiran operasional.namun,tahap ini
bersifat egosentris dan intutif dari pada
logis.pemikiran praoperasional terbagi menjadi dua
subtahap: fungsi simbiolik dan pemikiran intutif.
 Subtahap fungsi simbiolik(symbolic function substage)
berlangsung antara usia 2 sampai 4 tahun.dalam
subtahap ini anak melatih kemampuan untuk
mewujudkan secara mental sebuah benda yang tidak
ada.hal tersebut akan memperluas dunia mental si anak
menuju dimensi baru.
lanjutan
 Subtahap pemikiran intuitif(intuitive though substage) adalah subtahap
pemikiran praoperasional yang kedua,dimulai sekitar usia 7 tahun.pada
subtahap ini anak-anak mulai menggunakan pemikiran primitif dan ingin
mengetahui jawaban untuk semua jenis pertanyaan.piaget menyebut
subtahap ini “intuitif” karena anak-anak tampak sangat yakin tentang
pengetahuan dan pemahaman mereka,namun tidak sadar bagimana mereka
menggetahui apa yang mereka ketahui.artinya mereka mengatakan
mereka mengetahui sesuatu,tetapi mengetahui nya tanpa menggunakan
pemikiran yang rasional.
 Tahap operasional konkret(concrete operational stage) merupakan tahap
perkembangan kognitif piaget yang kettiga,berlangsung dari usia sekitar
7-11 tahun.pemikiran operasional konkret melibatkan penggunaan konsep
operasi.pemikiran yang logis menggantikan pemikiran intuitif,tetapi hanya
dalam situasi yang konkret.terdapat keterampilan
mengklarifikasikan,tetapi persoalan yang abstark tetap tidak
terseleasaikan.operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa bolakbalik dan berkaitan dengan objek yang nyata dan konkret.
Lanjutan
 Tahap operasional formal(formal operational step)merupakan
tahap perkembangan piaget yang ke empat atau
terakhir,berlangsung padaumur 11-15 tahun.pada tahap
ini,individu-individu mulai mengambil keputusan berdasarkan
pengalaman nyata dan berpikir lebih abstrak,idealis,dan logis.
 operasional konkret melibatkan penggunaan konsep
operasi.pemikiran yang logis menggantikan pemikiran
intuitif,tetapi hanya dalam situasi yang konkret.terdapat
keterampilan mengklarifikasikan,tetapi persoalan yang abstark
tetap tidak terseleasaikan.operasi konkret adalah tindakan
mental yang bisa bolak-balik dan berkaitan dengan objek yang
nyata dan konkret.
 Tahap operasional formal(formal operational step)merupakan
tahap perkembangan piaget yang ke empat atau
terakhir,berlangsung padaumur 11-15 tahun.pada tahap
ini,individu-individu mulai mengambil keputusan berdasarkan
pengalaman nyata dan berpikir lebih abstrak,idealis,dan logis.
Teori vygotsky
 teori vygotsky
 menurut vygotsky,fungsi-fungsi mental mempunyai
hubungan eksternal atau hubungan sosial.vygotsky
menyatakan bahwa anak-anak mengembangkan konsepkonsep yang sistematis,logis,dan rasional yang
merupakan hasil dari dialog bersama pembimbing nya
yang terampil.jadi,dalam teori vygotsky,orang lain dan
bahasa peran kunci dalam
 perkembangan kognitif seorang anak (bodrova & leong,
2007; fidalgo & pereira, 2005; hyson, coople, & jones,
2006; stetsenko & arievitch,2004).
otak dan pendidikan
 hubungan yang biasanya di ajukan antara ilmu
saraf dan pendidikan otak adalah bahwa ada
periode yang penting atau sensitif,dan ketika
pembelajaran nya mudah,efektif,dan di
pertahankandengan mudah.namun,tidak ada
bukti dari ilmu persyarafanuntuk mendukung
kalau individu-individu yang berotak kiri yang
lebih logisdan individu-individu yang berotak
kanan lebih kreatof bahwa hubungan-hubungan
antara ilmu saraf dan ilmu pendidikan otak (
blakemore & frith, 2005; breur,1995 dan
sousa 1995)
Pendekatan ilmu kognitif sosial
terhadap pembelajaran dan
pendekatan prilaku da kognitif sosial
Asumsi-asumsi dasar teori kognitif sosial
Teori kognitif sosial berakar pada behaviorisme dan dengan
demikian juga membahas pengaruh-pengaruh penguatan dan
hukuman dalam batas tertentu.dan di bawah ini kita akan
membahas pendekatan kognitif sosial terhadap pembelajaran.
 Orang dapat belajar dengan mengamati orang lain.
 Belajar seringkal imerupakan proses trial and eror.orang mencoba
banyak respon yang berbeda,dengan meningkatkan respon-respon
yang menghasilkan konsekuensi – konsekuensi yang di inginkan dan
membuang yang tidak produktif.teori kognitif sosial menyatakan
bahwa para pembelajar tidak harus “bereksperimen”dengan cara
trial and error semacam itu,tapi juga bisa menggunakan cara lain
seperti mengamati prilaku orang lain atau yang di sebut model.
lanjutan
 Belajar merupakan suatu proses internal yang mungkin atau juga tidak
menghasilkan perubahan prilaku.
 Beberapa dari hal-hal yang di pelajari orang muncul dalam perilaku mereka dengan
segera,yang lain mempengaruhi perilaku mereka di kemudian hari,dan yang lain lagi
tidak mempengaruhi perilaku mereka sama sekali.
 Manusia dan lingkungan nya saling mempengaruhi
 Pembelajaran juga mempengaruhi lingkungan,seringkali secara sadar dan
sengaja.dan dalam tingkat tertentu,pelajar mempengaruhi lingkungan nya melalui
perilaku mereka.,misalnya respon yang di buat oleh siswa yang menentukan
berbagai aktifitas yang mereka sukai.proses-proses kognitif internal,karateristik





kepribadian,dan lain-lain yang dalam cara tertentu terletak dalam diri
pembelajar.
Perilaku terarah pada tujuan-tujuan tertentu
Para ahli tori kognitif sosial mengemukakan bahwa orang seringkali menetapkan
tujuan bagi diri mereka sendiri dan mengarahkan perilaku mereka berdasarkan
tujuan itu.
Perilaku menjadi semakin bisa di aatur sendiri-sendiri
Biasanya manusia tahun pertama kehidupan tindakan mereka di kontrol dan di
arahkan oleh orang-orang terdekat mereka,namun saat mereka sudah beranjak
dewasa mereka cenderung bisa mengontrol sendiri kehidupan mereka.
pemodelan
Pemodelan
Sebagai manusia kita mempunyai kemampuan untuk
meniru orang lain hampir sejak kita lahir ( T.F. field,
woddson, greenberg, & cohen, 1982; kugiumutzakis,
1988; meltzoff, 2005).dan dalam kenyataan nya
ternyata otak di perlengkapi secara khusus bagi
imitasi.model di bagi menjadi 2 macam yaitu:
 Model hidup (live models) yaitu model manusia atau
orang-orang yang ada di sekitar kita seperti orang
tua,guru,teman,dll.
 Model simbolik (symbolic models) karakter yang nyata
atau fiksi yang di gambarkan dengan
buku,tv,majalah,koran,dll.
 Perilaku yang Dapat Dipelajari melalui Pemodelan
Bagaimana Model Memengaruhi
Perilaku
 Efek pembelajaran observasional (observasional learning effect).
Pengamat menunjukkan perilaku baru yang diperagakan oleh
model. Dengan melihat dan mendengarkan model, siswa belajar
cara membedah cacing tanah, berenang gaya punggung, dan
mengucapkan “Estudia usted espanol?” dengan benar. Mereka juga
bisa mendapatkan kepercayaan religius dan politik yang mereka
dengar dianut orang tua mereka.
 Efek pemfasilitasi respons (response falicication effect).
Pengamat menunjukkan prilaku yang telah dipelajari sebelumnya
lebih sering setelah melihat seorang model diberi penguatan
karena menampilkan prilaku tersebut (yi., setelah menerima
penguatan yang bersifat vicarious).
 Efek penghambat respons (response inhibition effect).
Pengamat mengurangi frrekuensi prilaku yang telah dipelajari
setelah melihat seorang model dihukum karena prilaku tersebut
(yi., setelah menerima penguatan yang bersifat vicarious).
 Response disinhibition effect. Pengamat menunjukkan prilaku
yang dilarang atau dihukum lebih sering detelah melihat seorang
model menunjukkan prilaku tersebut tanpa mendapatkan
konsekuensi yang merugikan.
Karateristik model yang
efektif
 Kompetensi pembelajar biasanya mencoba meniru orang-orang







yang melakukan sesuatu dengan baik, bukan sebaliknya.
Pretise dan kekuasaan anak-anak dan remaja sering meniru orang
yang terkenal atau orang yang berkuasa. Beberapa model yang
efektif-pemimpin dunia, atlet terkenal, bintang rock populeradalah orang-orang yang terkenal di tingkat nasional maupun
internasional.
Prilaku “sesuia jender”
Perilaku yang relevan dengan situasi pembelajar sendiri
pembelajar paling mungkin mengadopsi perilaku yang mereka
yakini akan membantu mereka dalam situasi mereka.
Membantu Siswa Belajar dari Model
Atensi
Retensi
Reproduksi Motor selain atensi dan mengingat, pembelajar harus
secar fisik mampu memproduksi perilaku model.
Self efficacy
 Secara umum, Self-efficacy adalah penilaian seorang
tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan
perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Yang
mempengaruhi perilaku & kognisi / wajib memiliki oleh
pengajar.
 Self efficancy juga mempengaru Pilihan
aktivitas,Tujuan,,Usaha dan persistensi,Pembelajaran
dan prestasi
 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan SelfEfficacy
a.
Keberhasilan dan Kegagalan Pembelajar
Sebelumnya
b.
Kesuksesan dan Kegagalan dalam Kelompok yang
Lebih Besar
Self regulated behavior
 Mengontrol dan memonitor prilaku kita sendiri (Bandura, 1986).
Perilaku yang diatur sendiri (self-regulated behavior).
 Standar dan Tujuan yang Ditentukan Sendiri (Self-Determined
Standars and Goals)
 Pengaturan emosi Pengaturan emosi (emotional regulation), yaitu
selalu menjaga atau mengelola setiap perasaan- mungkin amarah,
dendam, kebencian, atau kegembiraan yang berlebihan-agar tidak
menghasilkan respons-respons yang kontraproduktif.
 Instruksi diri (self-intruction), kita memberi mereka saran untuk
mengingat diri mereka sendiri tentang tindakan- tindakan yang
tepat. Strategi semacam itu sering efektif bagi siswa yang, kalau
tidak, cendrung berprilaku tanpa berprilaku (Carter & Doyle,
2006; Casey & Burton, 1982; Meichenbaum, 1985).Salah satu cara
yang efektif mengajarkan siswa untuk memberikan instruksi bagi
diri mereka sendiri melibatkan 5 langkah (Meichenbaum, 1977):
lanjutan
 Cognitive Modeling: guru menjadi model instruksi diri dengan mengulangi berbagai
instruksi dengan suara keras sementara pada saat bersamaan melakukan aktivitas
itu.
 Overt, external guidance: guru mengulangi instruksi dengan suara yang keras
sementara pada saat bersamaan melakukan aktivitas itu.
 Overt self-guidance: siswa mengulangi berbagai instruksi dengan suara keras
sembari bersamaan melakukan aktivitas itu.
 Faded, overt self-instruction: siswa membisikkan instruksi itu sembari
melakukan aktivitas itu.
 Covert self- guidance: siswa berfikir dengan tenang mengenai instruksi itu
sembari melakukan aktivitas itu.
 Self-Monitoring
 mengamati diri sendiri saat sedang melakukan sesuatu- sebuah proses yang
dikenal dengan Self-monitoring, atau observasi diri (self-observation).
 Evaluasi Diri mereka harus melakukan Evaluasi Diri (self-evaluation).
 Kontingensi yang ditetapkan sendiri (self-imposed contingencies)
 Self-reinforcement dan self-punishment semacam itu merupakan Kontingensi
yang ditetapkan sendiri (self-imposed contingencies). Sebuah sajak tentang naik
kuda yang ditulis oleh Melinda yang berusia 16 tahun.
Self regulated learning
 Pembelajar yang benar-benar efektif, siswa yang harus
terlibat dalam beberapa aktivitas mengatur diri (self-
regulating activities.
proses-proses nya ada 8 yaitu:
 Penetapan tujuan (goal setting).
 Perencanaan (planning).
 Motivasi diri (self-motivation).
 Kontrol atensi (attention control).
 Monitor diri (self-monitoring).
 Mencari bantuan yang tepat
 Evaluasi diri (self-evalution).
 Self-regulated problem solving
Self regulated problem solving
 Mengarahkan usaha sendiri secara efektif
untuk memecahakan masalah-masalah yang
kompleks-yang lazim disebut pemecahan
masalah yang diatur sendiri (self-regulated
problem solving)-melibatkan banyak komponen
yang sana sebagaimana dalam pembelajaran
yang diatur sendiri (self-regulated learning):
penetapan tujuan, motivasi diri, kontrol atensi,
evaluasi diri, dan sebagainya (Zimmerman &
Campillo, 2003).
Cukup sekian dari
kami
terimakasih

similar documents