PENGARUH OPINI PUBLIK DI BIDANG POLITIK DAN BISNIS

Report
PENGARUH OPINI PUBLIK DI
BIDANG POLITIK DAN BISNIS
CHELSY YESICHA, S.SOS, M.I.KOM
Pokok bahasan
1. Pengaruh opini public
2. Hadley Cantril (1992) mengemukakan
“the 15 laws of public opinion”
3. Citra mempengaruhi kinerja organisasi bisnis
Pengaruh dan sifat opini public
Opini public dapat memperkuat undang-undang dan
peraturan-peraturan. Sebab tanpa didukung oleh opini
public undang-undang dan peraturan-peraturan tidak
akan berjalan dengan baik, oleh sebab itu perlu adanya
penjajakan terhadap opini public tentang undangundang atau peraturan yang akan di tetapkan. Namun
demikian opini public bukanlah satu-satunya dasar
pertimbangan pembuatan undang-undang.
Opini public merupakan pendukung moril dalam
masyarakat.
Opini public merupakan pendukung eksistensi lembagalembaga social.
1.
“the 15 laws of public opinion”
Hadley Cantril (1992) mengemukakan “the 15 laws of public opinion” Cutlip
and center (1958) menyatakan tentang opini public yaitu yang diringkas
menjadi 13 poin:
1.
Opini public sangat peka terhadap peristiwa-peristiwa penting
2.
Opini public tidak akan stabil sebelum peristiwa-peristiwa tersebut
menunjukkan perkembangan yang jelas. Peristiwa yang bersifat luar
biasa dapat merubah opini public seketika, contohnya bank permata.
3.
Opini lebih banyak ditentukan oleh peristiwa dari pada kata-kata,
kecuali kata-kata itu sendiri merupakan suatu peristiwa.
4.
Pada saat individu masih bimbang dan mencari keterangan dari sumber
yang dapat dipercaya, maka pada saat itu pernyataan dan tindakan
merupakan sesuatu hal yang sangat berpengaruh.
.









Opini public pada umumnya tidak mendahului kejadian, tetapi mengikuti
kejadian.
Secara psikologis, opini pada dasarnya ditentukan oleh kepentingan-kepentingan
pribadi.
Opini mudah berubah, kecuali menyangkut kepentingan pribadi atau kelompok
Bila kepentingan pribadi dan kelompok telah terkait, maka opini public dalam
Negara demokrasi cendrung mendahului kebijaksanaan pemerintah.
Jika opini tidak didukung oleh kelompok mayoritas, atau didukung oleh dasardasar yang kuat, maka khalayak cendrung untuk mengalihkan opini .
Pada saat kritis, orang-orang menjadi lebih peka dari biasanya terhadap
kemampuan pemimpinnya
Jika orang-orang diikut sertakan dalam pengambilan keputusan, maka ketika
terjadi krisis maka orang-orang tersebut segan menentang pemimpinnya
Orang lebih senang membuat opini tentang suatu tujuan dari pada bagaimana
metode yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Masyarakat yang demokratis lebih menyetujui opini yang lebih obyektif dari pada
ahli yang realistis.
CITRA MEMPENGARUHI
KINERJA ORGANISASI
BISNIS
.
 Opini mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan citra, karena citra merupakan bagian atau
salah satu bentuk dari opini. Opini publik tentang
suatu organisasi sangat tergantung bagaimana citra
organisasi tersebut di mata khalayak. Untuk
memahami lebih jauh, maka perlu dipahami terlebih
dahulu definisi citra (image) menurut pakar
komunikasi
.
 Water Lippmann (1922) menggambarkan citra (image)
sebagai “Picture in our heads” (gamaran sesuatu yang ada
dalam pikiran kita). Sedangkan definisi citra menurut Robert
(1979) ; “representating the totality of all information about
the world any individual has processed, organized, and
stored”. (adalah keseluruhan informasi tentang dunia ini yang
telah diolah, diorganisasikan dan disimpan oleh individu)
 Menurut David A.Aker dan John G.Mayers (1983), citra
didefinisikan sebagai seperangkat anggapan, impresi atau
gambaran individu ataupun kelompok mengenai obyek
tertentu. Sedangkan Rhenald Kasali (2000) mengartikan citra
sebagai kesan atau persepsi yang timbul karena pemahaman
akan suatu frnomena atau kondisi tertentu.
.
 Sementara itu , Rosady Ruslan (1998) berpendapat
bahwa citra bersifat abstrak atau intangible, tetapi
wujudnya dapat dirasakan melalui penilaian, baik
semacam tanda respek dan rasa hormat dari public
atau masyarakat luas terhadap perusahaan yang
baik, dipercaya, profesiaonal dan dapat diaandalkan
dalam pembinaan pelayanan yang baik.
Klasifikasikan citra
Mirror image (citra bayangan) yaitu : citra yang
diamati oleh “orang dalam” mengenai pandangan
pihak eksternal terhadap organisasinya, Citra ini sering
tidak tepat, sebagai akibat dari tidak memadainya
informasi, pengetahuan ataupun pemahamannya
tentang ekternal organisasi.
2. Current image (citra yang berlaku) yaitu : Kebalikan
dari citra bayangan, citra yang berlaku adalah : suatu
citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak
luar mengenai suatu organisasi. Citra ini jarang sesuai
dengan kenyataan, karena terbentuk dari pengalaman
atau pengetahuan yang sering kurang memadai.
1.
.
Wish image ( citra yang diharapkan) yaitu : Citra yang
diinginkan oleh pihak manajemen. Biasanya citra
harapan itu memang sesuatu yang berkonotasi pada
nilai yang lebih baik
4. Corporate image (citra perusahaan ) yaitu : citra dari
suatu organisasi secasa keseluruhan yang terbentuk
oleh banyak hal. Hal-hal positif yang dapat
meningkatkan citra suatu perusahaan antara lain
adalah ; sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang
gemilang, berdedikasi di bidang keuangan, reputasi
sebagai pencipta lapangan kerja dalam jumlah yang
besar dan sebagainya.
3.
.
Multiple image (citra majemuk) yaitu : sikap
perusahaan atau organisasi pasti memiliki banyak
unit, anggota organisasi dan pegawai. Masing-masing
unit dan individu tersebut memiliki perangai dan
perilaku sendiri, sehingga secara sengaja atau tidak
sadar, mereka pasti memunculkan suatu citra yang
belum tentu sama dengna organisasi atau perusahaan
secara keseluruha.
6. Citra baik dan buruk. Kedua citra ini bersumber dari
adanya citra-citra yang berlaku (current image) yang
bersifat negarif ataupun positif.
5.
Citra yang ideal
Sesungguhnya citra yang ideal adalah impresi atau
kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan
atas kenyataan yang sesungguhnya.
Teori pembentukan citra
(image building theory)
 Menurut M.Wayne De Lozier (1976), teori
pembentukan citra (image building theory)
menyebutkan bahwa terbentuknya citra dimulai dari
proses penerimaan pesan atau informasi secara fisik
oleh panca indra. Kemudian masuk ke saringan
perhatian (attention filter) dan menghasilkan pesan
yang dapat dimengerti atai dilihat (perceived
massage). Selanjutnya pesan tersebut akan berubah
menjadi persepsi sehingga akhirnya menghasilkan
citra. Konsep ini dapat dilihat pada gambar berikut
ini :
.
Pencetus Information seeking, Donohew dan Tipton
(1973) mempunyai konsep penting tentang citra
(image) atau image of reality. Seseorang
dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
 Tingkat pengalaman yang diperoleh sepanjang
hidupnya
 Konsep diri atas nilai-nilai budaya yang dianutnya
 Strategi dalam pemrosesan atau pengolahan inforasi
yang akan turut mempengaruhi tindakan maupun
sikapnya terhadap peristiwa atau fenomeda tertentu.
.
 Salah satu asumsi utama dari teori ini menyebutkan
bahwa ketika menerima stimuli atau informasi,
orang cendrung untuk menghindari infomrasi yang
sangat berbeda dengan “image of reality” yang
sudah ada pada dirinya. Apabila stimuli diabaikan,
maka proses pencarian informasi otomatis akan
dihentikan.
.
Apabila individu memilih untuk memperhatikan
stimuli tersebut, karena dianggap sesuai atau tidak
bertentangan dengan “image of reality”, maka akan
menuntut adanya suatu tindakan tertentu. Tindakan
individu tersebut akan dipengaruhi oleh :
1. Pengalaman
2. Konsep diri
3. Strategi dalam pemrosesan informasi
.
 Pada bagian akhir proses ini, dapat menghasilkan revisi pada
“image of reality” seseorang. Pengalaman barunya mungkin
dapat mengubah persepsinya terhadap lingkungan dan juga
sikap diri yang telah dia miliki.
 Sesungguhnya citra yang ideal adalah impresi atau kesan yang
benar, yakni sepenuhnya berdasarkan atas kenyataan yang
sesungguhnya. Pemberian informasi yang lengkap merupakan
kata kunci bagi upaya pembentukan citra (image) yang positif.
Menurut Kasali (2000) informasi lengkap yang dimaksud
bukanlah berarti infromasi yang banyak dan terinci. Akan
tetapi informasi yang mampu menjawab kebutuhan public
atau khalayak. Selain itu, informasi tersebut disampaikan
dengan baik sehingga dapat dipahami, rasional dan dapat
dipercaya.
.
 Citra positif memang merupakan salah satu tujuan pokok
bagi suatu organisasi, lembaga, perusahaan, departemen,
individu dan kelompok. Tercipta suatu citra yang baik di
mata khalayak atau public akan banyak menguntungkan.
 Kiranya penting untuk dipahami bahwa, untuk membuat
citra positif yang pada akhirnya menjadi opini public
yang positif, bukanlah persoalan jangka pendek ataupun
persoalan menyebarkan press releasei semata. Karena
opini public tidak hanya dipengaruhi oleh berita tunggal
yang disebarluarkan pada hari ini. Akan tetapi oleh
berita-berita ata informasi yang beredar dalam beberapa
tahun belakangan secara kontinyu (danan : 1995)
PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK
Situasi
tindakan
Media massa
Respon
berdasarkan
persepsi
Persepsi
terhadap
tindakan
Sumber :Walter Lippmann, Public opinion (new York :
Harcout, Brace and Company, 1972) :P.16-17
Rahmadi dalam Soemirat (2004) menjelaskan usaha
untuk mempengaruhi opini public dapat dilakukan
dengan cara :
1. Koarsif (memaksa) dengan terror, pemerasan,boikot
2. Persuasif (membujuk) dengan mendekati sisi
prsikologis secara halus guna membangkitkan
kesadaran individu melalui komunikasi yang
informative dengan metode pidato, ceramah, breafing,
propaganda, lobbying dll. Dengan cara tertulis maupun
menggunakan gambar, isyarat, tanda-tanda
 Pelaksanaan persuasi dapat dilakukan dengan
metode :
 Metode partisipasi yang dapat menghilangkan
stereotypes atau prejudice antara individu,
kelompok, bangsa atau Negara. Dengan
mengikut sertakan seorang individu yang
merupakan bagian dari khalayaknya agar
timbul pengertian dan harga menghargai
diantaran mereka
 Metode assosiasi yaitu : pesan (message)
disampai dengan menghubungkannya dengan
peristiwa dan obyek yang popular
 Metode Icing device yaitu : menyajikan pesan
dengan menggunakan emotional appeal agar
lebih menarik, tidak mudah dilupakan, dan
lebih menonjol dan simpati
 Pay off idea yaitu : menyajikan pesan dengan
mengandung sugesti (anjuran) yang bila
anjuran itu ditaati, maka akan mendatangkan
kebajikan
 Fear arousing yaitu : menyajikan pesan yang
menimbulkan rasa khawatir, takut bila tidak
mematuhi informasi yang dikemukakan.
 Pendekatan yang dilakukan dalam metode
persuasi ini, menurut Wilbur Schrammm(1965:
17) hendaklah melakukan pendekatan “AA
Procedure” atau “from attention to action”
sebagai berikut :
1. Membangkitkan perhatian (attention)
2. Mempengaruhi komunikan agar melakukan
tindakan (action) yang diinginkan
 Selain “AA Procedure” atau “from attention to
action” masih ada pendekatan persuasi lainnya
yaitu : AIDDA. Attention, Interest, Desire,
Decision, Action.
 Tipe saluran komunikasi dalam mempengaruhi opini
public;
1.
Komunikasi massa,
2. interpersonal,
3. organisasi
 Komunikasi adalah proses
timbal balik
.
(resiprokal) pertukaran sinyal untuk
memberikan informasi, membujuk atau
memberI perintah, berdasarkan makna yang
sama dan dikondisikan oleh konteks hubungan
para komunikator dan konteks sosialnya.
 Media massa memiliki efek yang sangat luas
terhadap pembentukan, penggiringan,
pengalihan, opini public. Orang-orang yang
bijak, maupun institusi yang menggantungkan
hidupnya dari kegiatan politik dan kegiatan
bisnis, pendidikan dll, menaruh perhatian
besar terhadap opini public.
Kesadaran tentang kekuatan opini publik itu
diperlukan apalagi setelah komunikasi massa
menjadi fenomena gobal. Sinyal satelit dan
internet mengirimkan gambar-gambar, suara
baik langsung maupun rekaman tentang suatu
peristiwa yang diharapkan akan menyedot
perhatian khalayak dunia internasional tentang
suatu peristiwa atau isu yang terjadi dan diliput
oleh media massa yang dapat diterima
khalayak.
 Media masa banyak dimanfaatkan dalam
mempengaruhi opini public, menggiring opini
public, terutama pada saat pilpres, pilkada,
iklan suatu produk, serta pemilihan wakil-wakil
rakyat di parlemen dll.
 Pemahaman yang benar terhadap Opini public
dibutuhkan didalam sebuah kawasan , Negara,
pembuat kebijakan ;Kepala Negara, mentri dan
pembuat kebijakan lainnya di Negara
demokratis seperti Negara Indonesia.
 Opini public juga dibutuhkan oleh politisi untuk
menentukan strategi kampanye dan mengetahui peta
kekuatan politik dari sudut pandang opini public,
Popularitas seorang politisi dll. Melalui media massa
opini khalayak dapat dibentuk, digiring, dan
dipengaruhi. Kita dapat menonton tindak tanduk
anggota DPR dalam siding-sidangnya, bangku yang
kosong, Anggota DPR yang tertidur ketika rapat,
Etika berdiskusi dalam perbedaan pendapat terutama
saat ini pansus yang menangani bank century.
Sehingga memuncukan “actor-aktor baru” yang
menarik perhatian public dan memunculkan opini
public tentang aspek-aspek diri anggota pansus
tersebut.
 Demikian pula dengan seorang PR didalam
menjalankan tugas-tugasnya. Sebuah
perusahaan baik bergerak dibidang jasa ,
produk dan lainnya yang tidak memperhatikan
opini public yang menjadi konsumen maupun
khalayak yang potensial menjadi konsumennya,
maka dapat dipastikan tidak dapat melakukan
inovasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan
khalayak dan pada akhirnya akan ditinggalkan
“pasar”
 Media telah memperliahatkan apa yang dijelaskan oleh
Lippman tentang dunia luar dan gambaran di kepala kita
tentang dunia luar. Media saat ini telah tumbuh dan
berkembang dengan kualitas dan kuantitas yang beragam
Sehingga menimbulkan kompetisi untuk meraih audien
sangat ketat. Kompetisi media massa saling bersaing tersebut
telah pula merubah sifat berita itu sendiri yang cendrung
yang unik, menarik, up to date dan sensasional. Kompetisi
tersebut terkadang menempatkan para pemburu, pengolah
dan penyebar berita pada posisi dilematis, antara idialisme
yang menekankan peran media massa sebagai contol social,
dengan kepentingan menarik keuntungan melalui content
berita yang lebih mengedepankan sisi menarik, up-to date
dan sensasional.
 Perhatian khalayak menjadi sasaran yang
diperebutkan secara sengit oleh media massa
tertentu yang berkepentingan terhadap perolehan
perhatian tersebut. Sebagai contoh kasus, Kota
Pekanbaru Provinsi Riau, Stasiun TV yang dapat
dengan mudah diakses adalah : TV One, Metro TV,
Indosiar, RCTI, TPI, TranTV. Trans 7, Global TV,
SCTV. Riau TV, TVRI Riau. Siaran itu akan
bertambah dengan berlipat ganda bila
berlangganan indovision dan sejenisnya. Media
massa radio, Film dll memiliki peran yang hampir
sama dengan tv. Para pesaing itu dapat berupa
media iklan, media berita, media hiburan dll.
Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan munculnya
istilah “audien kepala batu” yang muncul akibat
banjir pesan dan informasi, sehingga orang
menyeleksi pesan dan informasi yang dibutuhkan
dan menarik perhatiannya saja.
.
 Walter Lippmann (1922) menjelaskan tentang peran




penting media masa ketika beliau menulis “The
World outside and the pictures in our heads” beliau
mendeskripsikan hubungan segitiga antara :
Situasi (scene) tindakan (seluruah fenomena yang
mungkin ada
orang,tempat,tindakan)
Persepsi terhadap suatu tindakan,
Dan respon berdasarkan persepsi.
.
 Lippmann menjelaskan tentang dunia luar yang
tidak gampang untuk diakses secara langsung oleh
setiap orang. Maka oleh sebab itu media massa
membantu individu untuk menciptakan gambaran
yang terpercaya tentang dunia luar yang berada jauh
dari jangkauan dan jauh dari pengalaman langsung.
 Dampak media massa terhadap persepsi public
(yang merupakan bagian dari opini public) tidak
hanya menjadi titik awal kajian tentang efek
komunikasi massa, tetapi juga menjadi pondasi
kajian tentang PR (Public relations).
Bentuk-bentuk komunikasi politik yang dapat
mempengaruhi opini public :
1. Retorika politik
 Berasal dari bahasa Yunani rhetorica yang berarti
seni berbicara. Pada awalnya perdebatan di
pengadilan diberi istilah retorika atau perdebatan
antar personal. Selanjutnya menjadi dua arah dan
perkembangan selanjutnya menjadi kegiatan
komunikasi massa, lalu pada akhirnya menjadi suatu
ilmu pengetahuan sendiri (Arifin, Anwar 2003 :66)
.
 Retorika politik atau pidato memiliki daya persuasi
politik yang sangat tinggi. Karena selain
menggunakan bahasa lisan, juga menggunakan
mimic wajah, irama, intonasi suara. Sehingga sangat
berbahasa didalam mempengaruhi pembentukan
opini public melalui propaganda, yang telah pernah
dilakukan oleh orang-orang seperti Hitler.
Menyadari potensi bahaya akibat retorika
persuasive terhadap usaha mempengaruhi dan
membentuk opini public, Plato memperkenalkan
teori baru yaitu Dealectical rethoric yang
penekanannya pada jiwa.
.
 Selain retorika persuasive dan retorika dealetik, dikenal pula
jenis retorika yang lain. Aristoteles didalam karyanya
Retorika membagi retorika politik menjadi 3 jenis yaitu :
 Retorika diliberitif yaitu dirancang untuk mempengaruhi
opini public dalam bidang kebijakan pemerintah, baik dari
segi untung rugi jika sebuah kebijakan diterapkan.
 Retorika forensic yaitu pidato yang berkaitan dengan
pengadilan dengan focus masa lalu yang berkaitan dengan
keputusan pengadilan
 Retorika demonstrative yaitu yang mengembangkan wacana
memuji atau menghujat. Retorika politik pada umumnya
menerapkan retorika demonstrative untuk mempengaruhi
opini public
.
 Dan Nimo (1989 : 142) menyebut pidato adalah
negosiasi, dengan retorika (pidato) politik, akan
tercipta masyarakat dengan negosiasi (konflik dan
consensus) yang terus berlangsung.
 Berdasarkan kesiapan dalam berpidato, pada
pidato politik dikenal dengan 4 jenis pidato :
1. Impromtu
2. Memoriter
3. Manuskrip
4. Ekstempore
.
 Impromtu yaitu pidato yang diucapkan secara
spontan tanpa ada persiapan sebelumnya. Untuk
dapat melakukan jenis pidato ini, seseorang harus
benar-benar terlatih agar dapat mempengaruhi opini
public dengan tepat. Karena Pidato tanpa persiapan
memerlukan kecerdasan, kemampuan
mempengaruhi, penyusunan kalimat, urutan isi
pidato yang sistematis, dan pada umumnya pidato
seperti ini cendrung untuk membicarakan hal-hal
yang up-to date, atau bersifat emosional
.
 Memoriter yaitu pidato yang ditulis, kemudian di
hafal kata demi kata. Bahaya terbesar adalah bila
naskah hilang atau hafalan orator tersebut kabur,
mengakibatkan pesan terputus dan tidak dapat
dipahami dengan sepenuhnya. Pidato seperti ini
cocok dilakukan dengan menggunakan media massa
radio.
.
 Manuskrip Yaitu Pidato yang terlebih dahulu
dipersiapkan dengan naskah yang tersusun dengan
sangat hati-hati, biasanya dilakukan oleh presiden,
mentri ataupun laporan penelitian seorang ilmuan.
Pidato jenis ini dilakukan untuk menghindari
kesalahan dalam memahami makna yang
mengakibatkan berkembangnya opini yang tidak
diharapkan. Biasanya pidato seperti ini dilakukan
oleh opinion leader.
.
 Ekstempore yaitu pidato yang dipersiapkan garis
besar yang akan di sampaikan, selanjutnya
orator/retor inilah yang akan mengembangkan
pidatonya di mimbar kebesarannya.
 Keberhasilan sebuah persuasi melalui pidato
atau retorika sangat bergantung kepada
ketokohan, kridibilitas, dan popularitas seorang
retor.Kiranya semakin sadarlah kita
setelahmembaca secara singkat tulisan ini
tentang kekhawatiran Plato, bila ada seorang
yang kharismatik, kridibel dan popular di
khalayak, lalu ia berpidato dengan dengan jenis
pidato ekstempore yang dikemukakannya
adalah informasi yang berisi propaganda.
2. Propanganda politik
Berasal dari bahasa latin Propagare yang berarti
menyemaikan tunas suatu tanaman. Propagandis
adalah orang yang melaksanakan kegiatan
propaganda yang mampu menjangkau khalayak yang
lebih besar. Propagandis dapat berupa politikus
ataupun kades sebuah partai yang memiliki
kemampuan dalam memberikan sugesti kepada
khalayak, dan menciptakan suasana khalayak yang
suggestibilitas. Oleh sebab itulah propaganda seperti
ini merupakan metode persuasi yang negatif.
 Lenin dalam menjelaskan propaganda yaitu kegiatan
mengemukakan gagasan atau pikiran secara
mendalam kepada sedikit orang. Propaganda
dilakukan dalam bentuk pendidikan di kelas atau
ceramah dengan khalayak terpilih dan terbatas.
 Di Negara demokrasi Leonard W Dood (1966)
menyatakan propaganda sebagai suatu usaha
dengan menggunakan sugesti untuk mengontrol
sikap kelompok tertentu.
Terdapat 7 teknik propaganda yang sudah lama
dikenal yaitu
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Name calling yaitu member nama jelek kepada pihak lain
Glittering generalities yaitu iming-iming, memutar balikkan fakta,
slogan-slogan dengan menggunakan kata-kata yang muluk-muluk
Transfer yaitu melakukan identifikasi dengan menggunakan lambanglambang otoritas.
Testimonial yaitu mengulang ucapan seseorang yang dihormati
ataupun dibenci untuk mengangkat harkat dan martabat orang tersebut
atau sebaliknya
Plain foks yaitu menempatkan diri bagian dari rakyat
Card stacking yaitu menumpuk kartu artinya memilih dengan teliti
pernyataan yang logis dan akurat.
Bandwagon grobak music yaitu mendorong khalayak untuk bersamasama mencapai tujuan dengan perasaan menang dan pasti.
3. Agitasi politik
 Berasal dari bahasa latin yaitu agitare yang dalam
bahasa ingris agitation yang berarti menurut
Herbert Blumer dalam Anwar Arifin (2003 : 70)
untuk menggerakkan rakyat kepada suatu gerakan,
terutama gerakan politik.
 Dengan kata lain Agitation suatu upaya yang
dilakukan baik melalui lisan maupun tulisan
dengan cara merangsang dan membangkitkan
emosi khalayak sehingga terbentuklah opini
khalayak yang pada akhirnya menggerakkan
khalayak untuk melakukan tindakan.
 Agitasi banyak dipraktekkan di Negara
komunis, sosialis. Agitasi dan propaganda bila
digabungkan akan mengakibatkan perubahan
dan pengalihan serta memunculkan opini
public yang ekstrim.
 Agitasi diawali dengan mengemukakan isu kontradiktif
mengenai kenyataan hidup yang dialami selama ini.
Tujuannya adalah untuk menimbulkan kekacauan dan
kegelisahan dikalangan khalayak. Selanjutnya khalayak
digiring untuk mendukung gagasan baru, era baru,
ideology baru, dengan iming-iming kondisi yang lebih
baik.
 Lalu kahalayak diminta untuk dengan suka rela
mengorbankan apa saja termasuk jiwa agar terwujud
cita-cita yang diinginkan.
 Selanjutnya agitator sebagai pemimpin gerakan ini
berupaya untuk mempertahankan gairah khalyak nya
untuk memperoleh kemenangan dan kegemilangan
lainnya.
4. Public relation politik
 Public relation politik yaitu kegiatan dalam
melakukan hubungan dengan masyarakat secara
jujur, terbuka, rasional dan timbal balik (dua arah),
sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara
pemerintah dengan masyarakat.
 Teknik ini dapat diawali dengan menciptakan rasa
memiliki (sense of belonging) dilingkungan
masyakat terhadap Negara, dan pemerintahannya.
Lalu diarahkan khalayak tersebut untuk memandang
pemerintahannya dengan citra yang positif.
 Kegiatan Public relation politik berbeda dengan
kegiatan penerangan. Perbedaan itu pada penekanan
yang berbeda , kegiatan penerangan lebih
menekankan kepada penyebaran informasi (one way
traffic communication), sedangkan Public relation
politik menempatkan dirinya sebagai wakil dari
pemerintah, sehingga ada informasi yang timbal
balik (two way traffic communication
5. Kampanye politik
 Kompanye politik adalah bentuk komunikasi politik
yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu
untuk memperoleh dukungan politik dalam waktu
tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari
rakyat
Kompanye politik memilliki 3 sasaran yaitu :
Membangkitkan kesetiaan alami agar tetap
memilih sesuai dengan kesetiaannya
2. Menggalang calon khalayak yang setia
3. Meyakinkan khalayak bahkan partai lain bahwa
calon pemimpin dari partai nya akan membawa
perubahan yang lebih baik.
1.
6. Lobi politik
 Lobi politik dan rapat politik merupakan farum
pembicaraan politik yang dalam perspektif komunikasi
politik tercakup dalam komunikasi antar persona yang
bersifat dialogis. Loby politik dilakukan secara informal,
sedangkan rapat politik, persidangan politik,forum
musyawarah politik justru sangat formal.

 Dalam usaha melakukan kompromi (wing-wing
solution), seorang politikus berusaha mendesain semua
yang mungkin (the art of possible) atau membuat yang
tidak mungkin menjadi mungkin ( the art of inposible)
7. Pola tindakan politik
Pola tindakan politik dapat pula mempengaruhi opini
public. Pola tindakan politik adalah komunikasi politik
non-verbal, namun merupakan informasi politik. Semua
tindakan non-verbal itu tidak boleh dianggap sebagai
pesan, melainkan sebagai kemungkinan yang dapat
diprediksi berdasarkan pola.
Contohnya : Para Mentri yang menggunaakn mobil dinas
mewah dengan merk tertentu dengan warna tertentu.
Pakaian seragam yang dipakai kader politik tertentu.
.
Persuasi dalam politik:
1. Persuasi politik sebagai propaganda
2. Persuasi politik sebagai periklanan
3. Persuasi politik sebagai retorika
.
Menurut Anwar Arifin (2003 : 130) untuk dapat mengendalikan
pendapat umum atau menciptakan pendapat khalayak yang baik
harus dilakukan komunikasi politik yang efektif yang dilakukan
dengan langkah-langkah strategis. Langkah tersebut adalah :
1.
Mengenal khalayak yang akan dijadikan sasaran
2. Merencanakan pesan yang akan disampaikan
3. Memilih metode penyampaian yang tepat
4. Menyeleksi media yang sesuai dengan keadaan dan lokasi
khalayak
5. Menetapkan komunikator yang dapat dipercaya (credible
Terima Kasih

similar documents