Pertemuan 11

Report
®
BAB 5
Perekonomian Terbuka
1
Ketika perekonomian disebut, “terbuka,” berarti pengeluaran negara di
tiap tahun tertentu tidak sama dengan output barang dan jasanya. Suatu
negara bisa melakukan pengeluaran lebih banyak ketimbang produksinya
dengan meminjam dari luar negeri, atau bisa melakukan pengeluaran
lebih kecil dari produksinya dan memberi pinjaman pada negara lain.
Mari kita lihat perhitungan pendapatan nasional untuk menjelaskannya.
2
Y = C + I + G + NX
Jumlah
permintaan
untuk output
domestik
terdiri dari
Investasi
oleh sektor
usaha dan
rumah tangga
Konsumsi
rumah
tangga
Ekspor netto
atau permintaan
luar negeri netto
Pembelian
pemerintah
Perhatikan kita telah menambah ekspor netto, NX, didefinisikan sebagai
EX - IM. Juga, catat bahwa pengeluaran domestik atas seluruh barang
dan jasa adalah jumlah pengeluaran untuk barang dan jasa domestik serta
3
barang dan jasa mancanegara.
Mulai dengan identitas pos pendapatan nasional. Y = C + I + G + NX.
Kurangi C dan G dari kedua sisi dan diperoleh Y – C - G = I + NX.
Kita sebut ini S, tabungan nasional.
Jadi, sekarang kita punya S = I + NX. Kurangi I dari kedua sisi untuk
memperoleh persamaan baru, S – I = NX.
Bentuk identitas pos pendapatan nasional ini menunjukkan bahwa ekspor
neto suatu perekonomian harus selalu sama dengan selisih antara
tabungan dan investasinya.
S – I = NX
Investasi Asing Neto
(Net Foreign Investment)
Neraca Perdagangan
(Trade Balance)
4
Y = C + I + G + NX
Setelah beberapa manipulasi, identitas pos pendapatan nasional dapat
ditulis ulang sebagai :
NX = Y - (C + I + G)
Ekspor Neto
Pengeluaran
Output
Domestik
Persamaan ini menunjukkan bahwa dalam perekonomian terbuka,
pengeluaran domestik tidak perlu sama dengan output barang dan jasa.
Jika output melebihi pengeluaran domestik, kita mengekspor selisihnya :
ekspor neto adalah positif. Jika output kurang dari pengeluaran domestik,
kita mengimpor selisihnya : ekspor neto adalah negatif.
5
Arus Modal Ke Luar Neto
= Neraca Perdagangan
(Net Capital Outflow) = (Trade Balance)
S – I = NX
Jika S - I dan NX positif, kita punya surplus perdagangan (trade surplus)
Kita jadi negara donor di pasar uang dunia, dan kita mengekspor lebih
banyak barang daripada mengimpornya.
Jika S - I dan NX negatif, kita punya defisit perdagangan (trade deficit).
Kita jadi negara pengutang di pasar uang dunia, dan kita mengimpor lebih
banyak barang daripada mengekspornya.
Jika S - I dan NX nol, kita punya perdagangan berimbang (balanced
trade) karena nilai impor sama dengan nilai ekspor.
6
Neraca perdagangan bilateral antara dua negara berarti bahwa nilai apa
yang satu negara jual ke negara lain sama dengan nilai apa yang dibeli
dari negara itu. Contohnya, ada neraca perdagangan bilateral antara
Amerika Serikat (AS) dan Cina jika AS membeli sepasang sepatu dari
Cina seharga $300, tapi juga menjual jeans ke Cina seharga $300.
Suatu negara bisa punya defisit dan surplus perdagangan besar dengan
berbagai negara tapi punya perdagangan berimbang keseluruhan.Contoh,
ada perdagangan berimbang keseluruhan jika AS jual jeans $300 ke
Jepang, Jepang jual jok mobil $300 ke Cina, dan Cina jual sepatu $300
ke AS. Pada kasus ini, tiap negara yang membeli sesuatu tanpa menjual
sesuatu ke negara yang sama punya defisit perdagangan bilateral. Tapi,
tiap negara punya perdagangan berimbang keseluruhan, mengekspor
dan mengimpor barang seharga $300.
7
Kita akan mengembangkan model arus
modal dan barang internasional. Lalu kita
akan membahas isu seperti bagaimana
neraca perdagangan merespons terhadap
perubahan kebijakan.
8
Telah diurai bahwa neraca perdagangan sama dengan arus modal ke luar
neto, yang lalu sama dengan tabungan dikurangi investasi. Model kita
berfokus pada tabungan dan investasi. Kita gunakan bagian model dari
Bab 3, tapi tak mengasumsikan tingkat bunga riil menyeimbangkan
tabungan dan investasi. Sebaliknya, kita biarkan perekonomian
mengalami defisit perdagangan dan meminjam dari negara lain, atau
mengalami surplus perdagangan dan memberi pinjaman pada negara lain.
Misal perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna di
mana tingkat bunga di dalamnya sama dengan tingkat bunga dunia r*,
dinotasikan r = r*.
Dalam perekonomian tertutup, yang menentukan tingkat bunga adalah
keseimbangan tabungan domestik dan investasi—dan dunia, seperti
perekonomian tertutup—karenanya, keseimbangan tabungan dunia dan
investasi dunia menentukan tingkat bunga dunia.
9
Y = Y = F(K, L)
Output perekonomian Y ditentukan oleh
faktor-faktor produksi dan fungsi produksi.
Konsumsi berhubungan secara positif
dengan pendapatan disposabel (Y - T).
Investasi berhubungan secara negatif
I = I (r)
dengan tingkat bunga riil r.
Identitas pos pendapatan nasional,
NX = (Y-C-G) - I
diekspresikan dalam tabungan dan investasi.
atau NX = S - I
Mensubstitusi tiga asumsi dari Bab 3 dan asumsi bahwa tingkat bunga
sama dengan tingkat bunga dunia, r*.
C = C (Y-T)
NX = (Y-C(Y-T) - G) - I (r*)
NX =
S - I (r*)
Persamaan ini menunjukkan bahwa neraca perdagangan ditentukan
oleh selisih antara tabungan dan investasi pada tingkat bunga dunia.
10
Anggaplah perekonomian berada pada posisi perdagangan berimbang
(balanced trade). Dengan kata lain, pada tingkat bunga dunia, investasi I
sama dengan tabungan S, dan ekspor neto sama dengan nol. Mari kita
gunakan model kita untuk memprediksi dampak kebijakan di dalam dan
luar negeri.
11
Tingkat
bunga
riil, r*
S
Di perekonomian tertutup, r menyeimbangkan tabungan dan investasi.
NX
Di perekonomian terbuka kecil,
tingkat bunga ditentukan pasar
r*
keuangan dunia. Selisih antara
tabungan dan investasi menentukan neraca perdagangan.
rtertutup
Di kasus ini, karena r*
r*'
I(r)
diatas rtertutup dan tabung
NX
Investasi, Tabungan, I, S an melebihi investasi,ada
surplus perdagangan.
Jadi, pada perdagangan berimbang, kenaikan tingkat bunga dunia karena
ekspansi fiskal luar negeri menyebabkan surplus perdagangan.
Jika tingkat bunga dunia berkurang ke r* ', I akan melebihi S dan akan
ada defisit perdagangan.
12
Kenaikan belanja pemerintah atau penurunan pajak mengurangi
tabungan nasional dan menggeser kurva tabungan ke kiri.
Tingkat
bunga
riil, r*
S'
S
NX = (Y - C(Y - T) - G) - I (r*)
NX = S
- I (r*)
Hasilnya pengurangan tabungan
nasional yang menyebabkan defisit
perdagangan, di mana I > S.
r*
NX
I(r)
Investasi, Tabungan, I, S
13
Ekspansi fiskal di perekonomian luar negeri yang cukup besar untuk
mempengaruhi tabungan dan investasi dunia meningkatkan tingkat
bunga dunia dari r1* ke r2*.
Tingkat
bunga
riil, r*
S
Tingkat bunga dunia yang lebih tinggi
mengurangi investasi pada perekonomian terbuka kecil ini, menyebabkan
surplus perdagangan di mana S > I.
r2 *
r1 *
NX
I(r)
Investasi, Tabungan, I, S
14
Pergeseran ke kanan pada kurva investasi dari I(r)1 ke I(r)2
meningkatkan jumlah investasi pada tingkat bunga dunia r*.
Tingkat
bunga
riil, r*
Akibatnya, investasi melebihi
tabungan I > S, yang berarti
perekonomian meminjam dari
luar negeri dan mengalami
defisit perdagangan.
S
r1 *
I(r)2
NX
I(r)1
Investasi, Tabungan, I, S
15
Misalnya Amerika Serikat dan Jepang dalam hubungan dagang. Tiap
negara punya budaya, bahasa dan mata uang berbeda, semuanya dapat
menghambat perdagangan. Tapi, karena bursa valuta asing, transaksi
perdagangan jadi lebih efisien. Bursa valuta asing adalah pasar global di
mana bank-bank terhubung lewat sistem telekomunikasi hi-tech untuk
membeli mata uang untuk pelanggan mereka.
Slide berikut adalah representasi grafis dari arus perdagangan antara
Amerika Serikat dan Jepang, dan bagaimana campuran barang-barang
dagangan dapat berbeda, tapi selalu seimbang. Juga, perhatikan
bagaimana bursa valuta asing berperan sebagai perantara pada transaksitransaksi ini. Contohnya, bursa valuta asing mengkonversi penawaran
dolar dari AS ke dalam permintaan untuk yen, dan sebaliknya,
penawaran yen ke dalam permintaan untuk dolar.
16
Agar AS membayar impor barang dan jasa dan
securitiesnya dari Jepang, ia harus menawarkan
dolar yang lalu dikonversi ke dalam
yen oleh bursa
valuta asing.
PermintaanYEN
PenawaranYEN
Penawaran$
Bursa
Valuta
Asing
Permintaan$
Agar Jepang membayar impor barang dan
jasa dan securitiesnya dari AS,
ia harus menawarkan yen yang lalu dikonversi
ke dalam dolar oleh bursa valuta asing.
17
Kurs antara dua negara adalah harga yang penduduk
negara-negara tersebut tukarkan satu sama lain. Kurs nominal
adalah harga relatif mata uang dua negara.
18
-harga mata uang relatif dari dua negara
-dinotasikan sebagai e
-harga barang relatif antara dua negara
-kadang disebut terms of trade
-dinotasikan sebagai e
19
Kurs nominal adalah harga relatif dari mata uang dua negara.
Contohnya, jika kurs antara dolar AS dan yen Jepang adalah 120 yen
per dolar, maka Anda dapat menukar satu dolar untuk 120 yen dalam
pasar dunia untuk mata uang asing. Seorang Jepang yang ingin memperoleh dolar akan membayar 120 yen untuk tiap dolar yang ia beli.
Seorang Amerika yang ingin memperoleh yen akan mendapat 120 yen
untuk tiap dolar yang ia bayar. Jika orang merujuk pada “kurs” antara
dua negara, biasanya berarti kurs nominal.
20
Anggap ada kenaikan permintaan untuk barang dan jasa AS.
Bagaimana ini akan mempengaruhi kurs nominal ?
S$
e
e1
e0
A
B
D$
$
Nilai Dolar dari Transaksi
D$ bergeser ke kanan dan
meningkatkan kurs nominal, e.
Ini dikenal sebagai apresiasi
dari dolar.
Event yang mengurangi
permintaan dolar, dan sehingga
$
D  mengurangi e, akan jadi
depresiasi dari dolar.
21
e
Kurs riil adalah harga relatif barang-barang di antara dua negara. Kurs
riil menyatakan tingkat di mana kita bisa memperdagangkan barangbarang suatu negara untuk barang-barang negara lain.
Untuk melihat perbedaan antara kurs riil dan nominal, misalkan barang
yang diproduksi di banyak negara : mobil. Anggap harga mobil Amerika
$10.000 dan harga mobil Jepang 2.400.000 yen.Untuk membandingkan
harga kedua mobil tersebut, kita harus mengkonversinya ke mata uang
umum. Jika satu dolar bernilai 120 yen, maka harga mobil Amerika
1.200.000 yen. Membandingkan harga mobil Amerika (1.200.000 yen)
dan harga mobil Jepang (2.400.000 yen), kita simpulkan bahwa mobil
Amerika berharga setengah mobil Jepang. Dengan kata lain, pada harga
saat ini, kita dapat menukar dua mobil Amerika untuk satu mobil Jepang.
22
e
Kita dapat meringkas perhitungan kita sebagai berikut :
Kurs Riil
= (120 yen/dollar)  (10.000 dolar/mobil Amerika)
(2.400.000 yen/mobil Jepang)
= 0,5 Mobil Jepang
Mobil Amerika
Pada harga-harga ini, dan kurs ini, kita peroleh setengah mobil Jepang
per mobil Amerika. Lebih umum, kita dapat menulis perhitungan ini
sebagai Kurs Riil =
Kurs Nominal  Harga Barang Dalam Negeri
Harga Barang Luar Negeri
Tingkat harga di mana kita memperdagangkan barang dalam dan luar
negeri bergantung pada harga barang dalam mata uang lokal dan pada
tingkat kurs yang terjadi.
23
Kurs Riil
Kurs Nominal
Rasio Tingkat
Harga
e = e × (P/P*)
Catat : P adalah tingkat harga domestik (diukur
dalam mata uang lokal) dan P* adalah tingkat harga
luar negeri (diukur dalam mata uang asing).
24
Kurs Riil
Kurs Nominal
Rasio Tingkat
Harga
e = e × (P/P*)
Kurs riil antara dua negara dihitung dari kurs nominal dan tingkat
harga di kedua negara. Jika kurs riil tinggi, barang-barang luar negeri
relatif murah, dan barang-barang domestik relatif mahal. Jika kurs riil
rendah, barang-barang luar negeri relatif mahal, dan barang-barang
domestik relatif murah.
25
Bagaimana tingkat harga mempengaruhi kurs ? Tidak ada. Semua
perubahan pada tingkat harga suatu negara akan diserap penuh ke
dalam kurs nominal. Ini adalah hukum satu harga yang diterapkan
untuk pasar internasional.
Paritas Daya Beli (Purchasing-Power Parity) menyatakan bahwa
pergerakan kurs nominal terutama merefleksikan perbedaan tingkat
harga negara-negara. Ini menyatakan bahwa jika arbitrase
internasional dimungkinkan, maka satu dolar harus memiliki daya
beli yang sama di setiap negara. Paritas daya beli tidak selalu
berlaku karena beberapa barang tidak mudah diperdagangkan, dan
kadang barang dagangan tidak selalu merupakan substitusi
sempurna—tapi ini memberi alasan untuk berharap bahwa fluktuasi
kurs riil akan kecil dan bersifat sementara.
26
Kurs
Riil, e
Hukum satu harga yang diterapkan di pasar
internasional menyatakan bahwa ekspor neto
S-I sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada
kurs riil. Sensisvitas tinggi ini dicerminkan
dengan kurva ekspor-neto yang sangat datar.
NX(e)
Ekspor Neto, NX
27
Kurs
Riil, e
Hubungan antara kurs riil dan ekspor neto adalah
negatif : semakin rendah kurs riil, semakin mahal
S-I barang-barang domestik relatif terhadap barangbarang luar negeri, dan sehingga semakin besar
ekspor neto kita.
Kurs riil ditentukan oleh perpotongan dari garis
vertikal mewakili tabungan dikurangi investasi
dan kurva ekspor neto yang melandai ke bawah.
0
Di sini jumlah dolar yang diNX(e) tawarkan untuk investasi luar
negeri neto sama dengan
Ekspor Neto, NX
jumlah dolar yang diminta
untuk ekspor neto barang dan
jasa.
28
Kebijakan fiskal ekspansioner dalam negeri,
S2 - I S1- I seperti kenaikan belanja pemerintah G atau
pemotongan pajak mengurangi tabungan
nasional.
Kurs
Riil, e
Turunnya tabungan mengurangi penawaran dolar
untuk ditukar ke mata uang asing, dari S1-I ke
S2-I. Pergeseran ini meningkatkan kurs riil
ekuilibrium dari e1 ke e2.
e2
e1
NX(e)
NX2
Turunnya tabungan
mengurangi penawaran
NX1 Ekspor Neto, NX dolar, yang menyebabkan
kurs riil meningkat dan menyebabkan ekspor neto
menurun.
29
Kebijakan fiskal ekspansioner luar negeri
S - I(r1*)S - I (r2*) mengurangi tabungan dunia dan
meningkatkan tingkat bunga dunia
dari r1* ke r2*.
Kurs
Riil, e
Kenaikan tingkat bunga dunia mengurangi
investasi dalam negeri, yang lalu meningkatkan
penawaran dolar untuk ditukarkan ke mata uang
asing.
e1
e2
NX(e)
NX1
NX2 Ekspor Neto, NX
Akibatnya, kurs riil
ekuilibrium turun
dari e1 ke e2.
30
S - I2
Kurs
Riil, e
S - I1
Kenaikan permintaan investasi
meningkatkan jumlah investasi domestik
dari I1 ke I2.
Akibatnya, penawaran dolar untuk ditukar ke
mata uang asing turun dari S - I1 ke S - I2.
e2
e1
NX(e)
NX2
Turunnya penawaran ini
meningkatkan kurs riil
ekuilibrium dari e1 ke e2.
NX1 Ekspor Neto, NX
31
Ekspor neto (Net exports)
Aliran modal ke luar Neto (Net capital outflow)
Neraca perdagangan (Trade balance)
Surplus perdagangan dan defisit perdagangan (Trade surplus and
trade deficit)
Perdagangan berimbang (Balanced trade)
Perekonomian terbuka kecil (Small open economy)
Tingkat bunga dunia (World interest rate)
Kurs nominal (Nominal exchange rate)
Kurs riil (Real exchange rate)
Paritas Daya Beli (Purchasing-power parity)
32
®
BAB 12
Perekonomian Terbuka, Tinjauan Ulang :
Model Mundell-Fleming dan
Sistem Kurs
Memperkenalkan…
Model ini mirip dengan model IS-LM; keduanya menekankan interaksi
antara pasar barang dan pasar uang. Tingkat harga tetap, dan keduanya
menunjukkan fluktuasi jangka-pendek pada pendapatan agregat. Model
Mundell-Fleming mengasumsikan perekonomian terbuka di mana perdagangan dan keuangan ditambahkan; IS-LM mengasumsikan
perekonomian tertutup.
LM*
e
Kurs
Ekuilibrium
IS*
Pendapatan, output, Y
Pendapatan ekuilibrium
Model ini, sering digambarkan sebagai “paradigma kebijakan dominan
untuk mempelajari kebijakan moneter dan fiskal perekonomian-terbuka,”
membuat satu asumsi penting dan ekstrim : perekonomian yang sedang
dipelajari adalah perekonomian terbuka kecil dan ada mobilitas
modal sempurna, berarti bahwa ia dapat meminjam atau meminjamkan
sebanyak yang ia inginkan dalam pasar keuangan dunia, dan karenanya,
tingkat bunga perekonomian dikontrol oleh tingkat bunga dunia,
dinotasikan secara matematis sebagai r = r*.
Satu pelajaran penting model ini yaitu kinerja perekonomian bergantung
pada sistem kurs yang diadopsinya—mengambang atau tetap.
Model ini akan membantu menjawab pertanyaan sistem kurs mana yang
sebaiknya diadopsi suatu negara.
Di bawah sistem kurs mengambang, kurs dibuat oleh kekuatan pasar
dan diizinkan berfluktuasi sebagai respons terhadap kondsisi ekonomi
yang berubah.
Kurs e, menyesuaikan untuk meraih ekuilibrium simultan dalam pasar
barang dan pasar uang. Ketika sesuatu mengubah ekuilibrium itu,
Kurs dimungkinkan menyesuaikan ke tingkat yang baru.
Perekonomian Terbuka Kecil Di Bawah Kurs Mengambang
Dua persamaan (perhatikan tanda bintang di samping IS dan LM untuk
mengingatkan kita persamaan menganggap tingkat bunga konstan):
IS*: Y = C(Y-T) + I(r*) + G + NX(e)
LM*: M/P = L (r*,Y)
Asumsi 1:
Tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga dunia (r = r*).
Asumsi 2:
Tingkat harga ditentukan secara eksogen karena model digunakan untuk
menganalisis jangka pendek (P). Ini berarti kurs nominal proporsional
terhadap kurs riil.
Asumsi 3:
Jumlah uang beredar ditentukan secara eksogen oleh Bank Sentral (M).
Assumption 4:
Kurva LM* kita akan vertikal karena kurs tidak masuk ke dalam
persamaan LM* kita.
Kurva IS* miring ke bawah karena kurs yang lebih tinggi
mengurangi ekspor neto (karena meningkatnya nilai mata uang
membuat barang-barang domestik lebih mahal bagi orang asing),
yang lalu, menurunkan pendapatan agregat.
Kurs, e
IS*
Pendapatan, output, Y
Pengeluaran, E
Kenaikan kurs, menurunkan
ekspor neto, yang menggeser
pengeluaran yang
direncanakan ke bawah dan
menurunkan pendapatan.
Kurva IS* meringkas
perubahan ini dalam
ekuilibrium pasar barang.
Y=E
Pengeluaran direncanakan,
E = C + I + G + NX
Pendapatan, output, Y
(c)
Kurs, e
(a)
Kurs, e,
(b)
NX(e)
Ekspor neto, NX
IS*
Pendapatan output, Y
Tingkat bunga, r
r = r*
Pendapatan, output, Y
LM*
Kurs, e
Kurva LM dan
tingkat bunga dunia
bersama-sama menentukan
tingkat pendapatan.
Kurva LM* vertikal
karena kurs tidak
masuk ke dalam
persamaan LM*.
Ingat persamaan LM* :
M/P = L (r*,Y)
LM
Pendapatan, output, Y
e
LM*
e
+DG, atau –DT 
+De, bukan DY
IS*'
IS*
Pendapatan, output, Y
Ketika pendapatan naik di perekonomian terbuka kecil,
karena ekspansi fiskal, tingkat bunga mencoba naik tapi
aliran modal dari luar menekan tingkat bunga
ke bawah. Aliran ini menyebabkan kenaikan
permintaan mata uang mendorong nilainya ke atas
dan membuat barang domestik lebih mahal bagi
orang asing (menyebabkan a –DNX). –DNX mengatasi
kebijakan fiskal ekspansif dan berdampak pada Y.
LM* LM*'
+DM 
-De, +DY
IS*
Pendapatan, output, Y
Ketika peningkatan jumlah uang beredar menekan
tingkat bunga domestik ke bawah, modal mengalir ke
luar karena investor mencari pengembalian lebih tinggi
di tempat lain. Aliran modal ke luar mencegah tingkat
Bunga turun. Aliran ke luar juga menyebabkan kurs
terdepresiasi, membuat barang domestik lebih murah
relatif terhadap barang asing, dan menstimulasi NX.
Jadi, kebijakan moneter mempengaruhi e daripada r.
Kurs Tetap
Di bawah kurs tetap, bank sentral mengumumkan nilai kurs dan siap
membeli dan menjual mata uang domestik pada harga yang ditentukan
sebelumnya untuk menjaga kurs pada tingkat yang diumumkannya.
Kurs tetap memerlukan komitmen bank sentral untuk mengizinkan
jumlah uang beredar untuk menyesuaikan ke tingkat apapun yang
memastikan kurs ekuilibrium dalam pasar bursa valuta asing sama
dengan kurs yang diumumkan.
Paling baru, China menetapkan nilai mata uangnya terhadap dolar AS,
yang mengakibatkan ketegangan antara dua negara.
Penting disadari bahwa sistem kurs ini menetapkan kurs nominal.
Apakah menetapkan kurs riil bergantung pada horizon waktu.
Model Mundell-Fleming
Di Bawah Kurs Tetap
+DG, or –DT + DY
e
+DM  no DY
e
LM* LM*'
IS*'
IS*
Pendapatan, output, Y
Ekspansi fiskal menggeser IS* ke kanan. Untuk
menjaga kurs tetap, Bank Sentral harus meningkatkan
jumlah uang beredar, menambah LM* ke kanan.
Tidak seperti pada kurs fleksibel, tidak ada
dampak crowding out pada NX karena kurs
lebih tinggi.
LM*
IS*
Pendapatan, output, Y
Jika Bank Sentral mencoba meningkatkan jumlah uang
beredar dengan membeli obligasi dari publik, itu akan
menekan tingkat bunga ke bawah. Arbitrase merespons
dengan menjual mata uang domestik ke bank sentral,
menyebabkan jumlah uang beredar dan kurva LM
berkontraksi ke posisi awalnya.
Tetap vs.
Kesimpulan-kesimpulan Kurs
Kurs Tetap
• Kebijakan Fiskal Kuat.
• Kebijakan Moneter Lemah.
Kurs Mengambang
• Kebijakan Fiskal Lemah.
• Kebijakan Moneter Kuat.
Model Mundell-Fleming menunjukkan kebijakan fiskal tidak
mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs mengambang. Ekspansi
fiskal menyebabkan mata uang apresiasi, mengurangi ekspor neto dan
mengatasi dampak ekspansif yang biasa pada permintaan agregat.
Model Mundell-Fleming menunjukkan kebijakan moneter mempengaruhi
pendapatan agregat di bawah kurs tetap. Tiap usaha ekspansi jumlah uang
beredar sia-sia, karean jumlah uang beredar harus menyesuaikan untuk
memastikan kurs bertahan pada tingkat yang diumumkannya.
Kebijakan dalam
Model Mundell-Fleming :
Ringkasan
Model Mundell-Fleming menunjukkan dampak hampir tiap kebijakan
ekonomi pada perekonomian terbuka kecil bergantung pada apakah
kurs mengambang atau tetap.
Model Mundell-Fleming menunjukkan kekuatan kebijakan moneter
dan fiskal untuk mempengaruhi permintaan agregat bergantung pada
sistem kurs.
Negara dengan kurs tetap dapat melakukan sejenis kebijakan
moneter dengan memutuskan mengubah tingkat di mana kurs
ditetapkan.
Penurunan nilai resmi mata uang disebut devaluasi, dan
peningkatan nilai disebut revaluasi.
Bagaimana jika tingkat
bunga domestik di atas
tingkat bunga dunia ?
Pengembalian lebih tinggi akan menarik dana dari luar negeri,
membuat tingkat bunga domestik kembali turun. Dan, jika tingkat
bunga domestik di bawah tingkat bunga dunia, r*, penduduk
domestik akan meminjamkan ke luar untuk mendapat
pengembalian lebih tinggi, membuat tingkat bunga domestik
kembali ke atas. Akhirnya, tingkat bunga domestik sama dengan
tingkat bunga dunia.
Mengapa logika ini tidak selalu berlaku ? Ada dua alasan mengapa tingkat
bunga berbeda di berbagai negara :
1) Risiko Negara : ketika investor membeli obligasi pemerintah AS, atau
memberi pinjaman pada perusahaan AS, mereka yakin mereka akan
dibayar beserta dengan bunga. Sebaliknya, di beberapa negara kurang
berkembang, muncul ketakutan bahwa kemelut politik akan mengganggu
pelunasan pinjaman. Peminjam di negara-negara tersebut sering harus
membayar tingkat bunga lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko.
2) Ekspektasi Kurs : misal orang berharap franc Perancis turun terhadap
dolar AS. Pinjaman dalam franc akan dibayar dengan mata uang yang
kurang berharga daripada pinjaman dalam dolar.Untuk mengkompensasi
penurunan yang diharapkan pada mata uang Perancis, tingkat bunga di
Perancis akan lebih tinggi daripada tingkat bunga di AS.
Perbedaan pada Model Mundell-Fleming
Untuk memasukkan perbedaan tingkat-bunga ke dalam model MundellFleming, kita asumsikan tingkat bunga di perekonomian terbuka kecil
ditentukan oleh tingkat bunga dunia ditambah premi risiko q.
r = r* + q
Premi risiko ditentukan oleh risiko politik memberi pinjaman di sebuah
negara dan perubahan yang diharapkan pada kurs riil.
Kita anggap premi risiko q sebagai variabel eksogen.
IS*: Y = C(Y-T) + I(r* + q) + G + NX(e)
LM*: M/P = L (r* + q,Y)
Untuk tiap kebijakan fiskal, kebijakan moneter, tingkat harga, dan
premi risiko yang ada, dua persamaan ini menentukan tingkat pendapatan kurs yang menyeimbangkan pasar barang dan pasar uang.
Misal kemelut politik menyebabkan premi risiko negara q naik. Dampak
yang paling langsung adalah tingkat bunga domestik .
Tingkat bunga lebih tinggi memiliki dua dampak :
1) Kurva IS* bergeser ke kiri, karena tingkat bunga lebih tinggi
mengurangi investasi.
2) LM* bergeser ke kanan, karena tingkat bunga lebih tinggi mengurangi
Permintaan uang, dan tingkat pendapatan lebih tinggi untuk tiap jumlah
uang beredar yang ada.
Dua pergeseran ini menyebabkan pendapatan naik dan menurunkan
kurs ekuilibrium pada pasar dunia.
Implikasi penting : ekspektasi kurs ikut menentukan kurs sebenarnya.
Contoh, misal orang percaya franc Perancis tak akan berharga di masa
depan. Investor akan mengenakan premi risiko lebih besar pada aset
Perancis : q akan naik di Perancis. Ekspektasi ini akan menaikkan tingkat
bunga dan akan menurunkan nilai franc Perancis. Jadi, ekspektasi bahwa
mata uang akan turun nilainya di masa depan menyebabkan penurunan
saat ini.
Slide berikut akan menunjukkan mekanismenya.
Kenaikan Premi Risiko
e
LM* LM*'
Apa ini di mana
perekonomian berakhir? Di slide
berikut, kita akan
lihat bahwa kenaikan
risiko negara tidak
diinginkan.
IS*
IS*'
Pendapatan, output, Y
Kenaikan premi risiko suatu negara mendorong naik tingkat bunganya.
Karena tingkat bunga lebih tinggi mengurangi investasi,
kurva IS* bergeser ke kiri. Karena ini juga mengurangi permintaan
uang, kurva LM* bergeser ke kanan. Pendapatan naik, dan
kurs mengalami depresiasi.
Ada tiga alasan mengapa, prakteknya, kenaikan besar pendapatan
tidak terjadi. Pertama, bank sentral mungkin ingin mencegah depresiasi
besar pada mata uang domestik dan karenanya, bisa merespons dengan
menurunkan jumlah uang beredar M. Kedua, depresiasi mata uang
domestik bisa tiba-tiba meningkatkan harga barang domestik,
menyebabkan kenaikan tingkat harga keseluruhan P. Ketiga, ketika
beberapa peristiwa meningkatkan premi risiko negara q, penduduk
negara itu mungkin merespons dengan meningkatkan permintaan uang
Mereka (untuk tiap pendapatan dan tingkat bunga), karena uang sering
adalah aset teraman yang tersedia. Semua tiga perubahan ini akan
cenderung menggeser kurva LM* ke kiri, yang mengurangi penurunan
kurs tapi juga cenderung menekan pendapatan.
1) Memungkinkan kebijakan moneter
digunakan untuk maksud lain seperti
menstabilkan kesempatan kerja atau
harga.
1) Lebih banyak spekulasi dan
volatilitas (pasang surut) yang
dapat terjadi.
1) Volatilitas kurs membuat
ketidakpastian dan membuat
perdagangan lebih sulit.
2) Penggunaan yang baik
oleh otoritas moneter.
1) Kebijakan moneter ditujukan
untuk tujuan tunggal memelihara
tingkat yang diumumkan.
2) Dapat menyebabkan volatilitas
lebih besar dalam pendapatan dan
kesempatan kerja.
Serangan spekulatif adalah kasus di mana perubahan persepsi investor
membuat kurs tetap tidak dimungkinkan.
Untuk mencegah serangan ini, beberapa ekonom menyarankan
penggunaan currency boards, aturan di mana bank sentral memegang
cukup mata uang asing untuk mendukung tiap unit mata uang domestik.
Berikutnya negara mempertimbangkan dolarisasi, rencana di mana mata
uang domestik diabaikan dan dolar AS digunakan.
Tidak mungkin suatu negara memiliki aliran modal bebas, kurs
tetap, dan kebijakan moneter independen.
Aliran modal bebas
Pilihan 1:
Amerika Serikat
Kebijakan
Moneter
Independen
Pilihan 2:
Hong Kong
Pilihan 3:
China
Kurs Tetap
Ingat dua persamaan model Mundell-Fleming :
IS*: Y=C(Y-T) + I(r*) + G + NX(e) e
LM*: M/P=L (r*,Y)
Ketika tingkat harga turun, kurva
LM* bergeser ke kanan. Tingkat
pendapatan ekuilibrium naik.
LM* LM*'
IS*
P
Pendapatan, output,Y
Grafik kedua menampilkan
hubungan negatif antara P dan Y,
yang diringkas oleh kurva
permintaan agregat.
AD
Pendapatan, output,Y
LM* LM*'
Kurs
riil
Titik K pada kedua panel
menunjukkan ekuilibrium
dalam asumsi Keynes
bahwa harga tetap di P1.
Titik C pada kedua diagram
menunjukkan ekuilibrium dalam
asumsi klasik bahwa tingkat harga
menyesuaikan untuk menjaga
pendapatan pada tingkat alaminya
Y.
e1
K
C
e2
IS*
Pendapatan, output,Y
P
P1
P2
K
SRAS1
SRAS2
C
AD
Pendapatan, output,Y
Model Mundell-Fleming (Mundell-Fleming Model)
Kurs mengambang (Floating exchange rates)
Kurs tetap (Fixed exchange rates)
Devaluasi (Devaluation)
Revaluasi (Revaluation)

similar documents