Document

Report
Berkaitan dengan kebijakan hargA, Laybs (1973) menyatakan bahwa perilaku
harga secara historis dapat digunakan sebagai latar belakang merumuskan kerangka
teori pasar umum yang sesuai dengan hubungan harga individual. Pola perilaku harga
sampai pada penelitian terbaru selalu memasukkan perkiraan dan ketidakpastian,
seperti penelitian Holbrook working untuk menentukan sifat reguler dan ireguler yang
ditemukan pada fluktuasi harga komoditas.
Lebih lanjut Laybs (1973) menyatakan bahwa kajian untuk pengembangan
pemodelan komoditas dapat dilakukan dengan pendekatan terpisah yang meneliti dari
komponen penawaran, permintaan dan harga. Namun dapat juga ketiga komponen
dikembangkan dengan pemodelan yang menyatu sebagai model tunggal dengan
mengintregasikan persoalan kebijakan. Melalui kebijakan harga maka penawaran,
permintaan dan harga dapat dianalisis dalam bentuk persamaan tunggal yang
dipandang sebagai bentuk agregat. Persoalan utama dalam spsifikasi model hubungan
harga adalah teori yang diterapkan tergantung pada asumsi, dan asumsi tidak hanya
terkait dengan keadaan pasar kompetitif atau non-kompetitif tetapi juga pada struktur
yang menekankan determinasi harga yang mampu menjelaskan konsumsi, produksi dan
inventaris (stok). Satu metode untuk menyederhanakan persoalan spesifikasi adalah
dengan membuat kerangka teori sehingga hubungan harga individual dapat dirumuskan.
Kerangka teori yang dikembangkan dengan mempertimbangkan secara berkelanjutan (1)
keadaan organisasi pasar, (2) model umum yang dapat digunakan untuk mendeskripsika
n organisasi tersebut, (3) hubungan yang dimasukkan dalam model. Dari pertimbangan
itu, Laybs (1937) memberikan model umum yang mampu menjelaskan organisasi pasar
untuk merefleksikan perilaku kompetitif yang menggambarkan hubungan struktural
dengan mendeskripsikan penekanan pada konsumsi, produksi, inventaris dan harga
pasar terbuka.
Model tersebut dirumuskan :
ct = f (Pt, Pt-1, Yt, Zt, Ut)
qt = f (Pt, Pt-1,, Zt, Ut)
Pt =f(∆st, Zt, Ut)
∆st = St – St-1 = qt – ct …………………….(1)
Dimana : Pt-1 : Lag harga
zt : Variable eksogen yang sesuai
ut : Error (penggangu)
Pada saat harga komoditi pertanian (beras) cenderung berfluktuasi melebihi harga
barang dan jasa non-pertanian dan untuk mengurangi fluktuasi harga tersebut dapat
digunakan kebijakan publik yaitu persamaan simultan (simultaneous equation). Yang dapat
dimulai dengan model sederhana pada penggunaan fungsi permintaan dan penawaran linear,
pada situasi keseimbangan statik yang dapat dirumuskan :
Qtd = α- βpt demand eqution
……………………………..(2)
Qts = δ+γpt ,supply equation
……………………………..(3)
Kondisi keseimbangan :
Qtd = Qts
………………………………(4)
Dimana :
Qtd = kuantitas dalam permintaan
Qts = kuantitas dalam penawaran
Pt = harga komoditi
A, β = merupakan parameter permintaan, γ δ merupakan parameter penawaran.
Model di atas dapat dimodifikasi dengan model yang lebih mnggambarkan
permasalahan dunia yang realistis yang mampu menggeser fungsi permintaan dan
penawaran dan tergantung pada pengetahuan analisis seseorang. Oleh karena itu jika
fungsi permintaan dirumuskan :
Qtd = α0 + α1 + α2P + U1
…………………………(5)
dan fungsi penawaran dirumuskan :
Qts = β0 + β1Y + β2W + U2
…………………………(6)
Maka kondisi keseimbangan umum : Qtd = Qts
α0 + α1 + α2 = β0 + β1 + Β3W
α0
W=
α1
+
I+
β2
α0
W= (
β0
P -
β2
β2
β0
α1
α2
)+
β2
I+
β2
β1
-
β2
β2
α2
Y
β2
β1
Pβ2
Y
β2
Untuk memudahkan analisis , bentuk di atas diformulasikan menjadi :
W = X 0 + X 1I + X 2P - X3Y
………………………..(7)
α0 – β0
Dimana : X0
=
α2
;
β2
X2 =
α1
;
β2
X1 =
β1
;
β2
X3 =
…………….………..(8)
β2
Persamaan di atas dapat dikembangkan pada fungsi permintaan dan penawaran
dengan berbagai variabel yang mempengaruhi.
Permasalahan petani terkait dengan permasalahan individu dan permasalahan ekonomi.
Hampir semua petani di Asia, Afrika dan Amerika Latin merupakan petani subsisten, yaitu
petani yang sumber penghidupan utamanya dari hasil pertanian yang dihasilkan sendiri
(Mosher, 1970). Petani subsisten bervariasi dari yang sama sekali tidak menjual hasil
panennya sampai yang menjual hasil panennya hingga 50%. Salah satu penyebab pola
pertanian demikian adalah sempitnya lahan pertanian yang dimiliki. Petani yang demikian
biasanya memiliki tingkat kesejahteraan rendah dan berada di garis kemiskinan dan
berusaha untuk menaikkannya. Permasalahan ekonomi dikaitkan dengan kegiatan produksi,
konsumsi dan alokasi tenaga kerja sebenarnya saling berkaitan apabila keluarga petani
dapat dipandang sebagai satu unit ekonomi.
Nakajima, mengemukakan bahwa pertanian di seluruh dunia diklasifikasikan
dalan dua kriteria, yaitu (1) tingkat produksi subsisten (komersialisasi, proposi dari produk
dikonsumsi / dijual) dan (2) tingkat pekerja keluarga pertanian (non keluarga pertanian :
Proposi tenaga kerja keluarga sebagai pekerja terhadap total tenaga kerja sebagai input
pertanian). Dengan demikian ada dua dimensi yaitu dimensi tentang proposi produksi yang
dikonsumsi dan dimensi lainnya tentang tenaga kerja keluarga sebagai pekerja yang dapat
digambar berikut :
0%
50%
Rate of
Production
consumed
100%
50%
Commercial
Farm
100%
Rate of
Production
sold
Non
family
farm
Family
farm
Subsistence
Production
farm
50%
50%
0%
Rate of family labor
Di sini dapat disusunn pertanian dengan “pure subtitence production” (Produksi
subtiten murni) yang hanya menggunakan tenaga kerja keluarga, dan ekstrim lainnya “pure
commercialization”. (komersialisasi murni) yang hanya menggunakan tenaga kerja luar yang di
‘hired”. Pada sudut kiri bawah disebut dengan “subtitence-producrion family farm” (pertanian
keluarga), dan sudut kanan atas “commercial nonfamily farm” dan sudut kiri atas “commercial
family farm” dan sudut kanan bawah “subtitence production nonfamily farm”. Fakta terbesar
pertanian di dunia adalah pertanian keluarga dengan mengabaikan tingkat komersialisasi dan
tingkat pendapatan mereka. Perilaku ekonomi dari pertanian keluarga adalah “rasioanal” pada
saat pertanian keluarga menerima keseimbangan subyektif yaitu maksimisasi dari kegunaan
yang merupakan persamaan pendapatan mereka.
Usaha pertanian “murni” membeli seluruh input dan menjual seluruh output ke pasar
dengan harga pasar. Tetapi usaha pertanian rumah tangga memundahkan sebagian input rumah
tangga pada usaha pertanian dan sebagian output pada rumah tangga.
a) Fungsi Produksi
Fungsi produksi pada usaha tani padi dapat dituliskan secara umum sebagai berikut :
Q = Q (X1, X2, X3,……., Xn )………………………….. (9)
Dimana : Q : Jumlah Produksi
Xi : Jumlah masukan, I = 1, 2, 3, ……., n
Jumlah penggunaan masukan optimal dapat diturunkan dari syarat-syarat
maksimisasi keuntungan seperti di bawah ini :
ⁿ
n : pq - ∑ rixi ...............................................(10)
i=1
Dimana :
n : Keuntungan
p : Harga produk
ri : Harga masukan i
Syarat maksimisasi keuntungan (10) adalah
∂q
p
= VMPi =ri ……………………………………….(11)
∂Xi
VMPi = Nilai produksi marjinal
Seperti yang telah diketahui bahwa dari persamaan (10) dan (11) dapat diturunkan
fungsi persamaan hasil dan permintaan masukkan sebagai9 fungsi dari harga produk dan harga
masukkan :
Q = Q (p, r1, r2, …., rn, Z) …………………………………(12)
Xi = Xi (p, r1, r2, …., rn, Z) ………………………………….(13)
Z = Vektor masuka tetap
Dengan memasukkan persamaan (12) – (13) ke dalam persamaan (10) akan dapat
diperoleh fungsi keuntungan sebagai fungsi dari harga produk dan harga masukan :
∏ = (p, r1, r2, …., rn, Z) ……………………
Apabila fungsi keuntungan (14) diperoleh maka fungsi penawaran hasil (12) dan
permintaan masukan (13) akan dapat diperoleh dengan mempergunakan Hotelling Lemma :
Q = ∂∏ / ∂p ………………………………………………. (15)
Xi = - ∂∏ / ∂ri …………………………………………….(16)
Fungsi keuntungan Cobb-Douglas cukup sederhana yaitu :
ⁿ
In ∏ = α0 - ∑
i=1
α1 Inri*
ⁿ
+ ∑ βj InZ J …………………………………………(17)
j=1
Fungsi Cobb-Douglas merupakan salah satu bentuk khusus dari fungsi translog dengan
αij = βil = βlk = 0, untuk semua I, j, l k.
Bentuk fungsi yang paling banyak dipakai dalam penelitian empiris adalah fungsi
translog karena lebih praktis. Dengan mempergunakan Hotelling Lemma pada fungsi
keuntungan translog akan dapat diperoleh fungsi pangsa (share) yang merupakan fungsi log
linier dari harga dan masukan tetap :
*
**
∂In∏ = ∂∏ri = Si
*
∂Inri
* *
∂ ri∏
*
Atau
- Si = α1 + αij Inr J βil InZ l ……………………………….(18)
Fungsi keuntungan bersifat homogen berderajat satu dalam harga produksi dan
masukan. Oleh karena itulah fungsi keuntungan tersebut dapat dinormalkan dengan harga
produk. Sifat homogenitas ini mengharuskan persyaratan :
ⁿ
∑ αi = 1
ⁿ
∑ αij = 0
i=l
i=l
m
∑ βil InZ l = 0
i=l
……………………………..(19)
Di samping homogen berderajat satu dalam harga produk dan masukan, fungsi
keuntungan translog juga bersifat simetri dalam artian
∂2 In ∏* / ∂ In r∂ In r*J = ∂ 2 In ∏/ ∂ In r J ∂ In ri , sehingga αij = αji . Sifat homogenitas dan
simetri ini haruslah diterapkan dalam melakukan pendugaan fungsi keuntungan tersebut.
Jika fungsi keuntungan telah diperoleh maka berbagai elastisitas dari penawaran
produk dan permintaan terhadap masukan dapat diturunkan dengan mudah sebagai berikut
(Sidhu dan Baanante, 1981 cit Simatupang, 1988).
Eit =∂Xi
b) Fungsi konsumsi
Simatupang (1984) mengatakan bahwa fungsi konsumsi pada hakekatnya dapat
diturunkan dari maksimisasi utilitas (kegunaan), dengan kendala pendapatan (jumlah
pengeluaran) :
Maksimumkan U = u (Q1, Q2, …….., Qn ………………………………(21)
n
Kendala : Y = ∑ Pi Qi …………………………………………………….(22)
i=l
U = utilitas
Qi = jumlah barang konsumsi
Y = total pendapatan (pengeluaran)
Fungsi utilitas tak langsung dapat diperoleh dari maksimisasi keuntungan. Dengan
memasukkan (98) ke dalam (96) diperoleh fungsi utilitas tak langsung sebagai fungsi dari
harga dan pendapatan. V = v (p1,p2, ……pnY ………………………………………(24)
Fungsi pengeluaran menunjukan biaya minimum ntk mencapai kepuasan tertentu. Dengan
demikian, fungsi pengeluaran dapat diturunkan sebagai berikut :
n
Minimumkan : E =∑ piQi ……………………………………………………..(25)
i=l
Kendala : Q (Q1, Q2, ……..,Q n) ………………………………………………..(26)
Dari jawaban persoalan minimisasi ini diperileh fungsi pengeluaran yang tergantung pada
harga barang dan tingkat kepuasan :
E : E (p1, p2, …….., pn, Q ) ………………(27)
Jawaban minimisasi pengeluaran dapat juga dipakai untukmemperoleh fungsi
transformasi. Fungsi transformasi ini menunjukkan jumlahkomposisi konsumsi yang paling
murah untuk mencapai kepuasan tertentu :
n
F = (Q1, Q2, ……..,Q nU) = Minimum ∑ pi Qi, kendala V (p1,p2, ……pnY )≤ U
i=l
Dari fungsi utilitas dan utilitas tak langsun ng dapat diperoleh fungsi kebalikan dan
fungsi langsung permintaan Marshallian. Fungsi langsung permintaan tersebut diperoleh dengan
mempergunakan identitas Roy :
∂V / ∂pi
Qim (p1,p2, ……pnY ) = -
……………………………..(28)
∂V / ∂y
Fungsi kebalikan permintaan Marshallian diturunkan dari fungsi utilitas langsung
Marshallian dengan mempergunakan identitas Hotteling – World (Weymark,19980) :
Pim(Q1, Q2, ……..,Q n
Y) =
Y∂u / ∂Qi
n
∑ Q j ∂u / d Qi
j=l
………………………………..(29)
Fungsi permintaan langsung dan kebalikan Hicksian dapat diperoleh dari fungsi
pengeluaran dan transformasi. Fungsi permintaan langsung ini diperoleh dengan
mempergunakan Shephard Lemma :
Qim (p1,p2, ……pn, U) = ∂ E / ∂pi ……………………………………….(30)
Sedangkan dari fungsi transformasi dapat diperoleh fungsi kebalikan permintaan
Hicksin dengan mempergunakan Shephard Hanoch Lemma :
∂F
Pim (Q1, Q2, ……..,Q n, U ) = -
∂Q
i
……………………………………….(31)
Sifat-sifat teoritis fungsi permintaan yang muncul dan syarat-syarat maksimisasi
kepuasan adalah :
1. Agregasi Engel :
n
n
i=l
i=l
∑ pi∂Q / ∂y = 1 atau ∑ Si N I = 0 ……………………………………………(32)
2. Agregasi cournout :
n
n
i=l
i=l
∑ pi QI / ∂pj = -Sj atau ∑ Si ∑ij = - S J ..........................................(33)
3. Simetri
∂Qi / ∂pj + Q j∂Qi / ∂y = ∂pi + Qi ∂Q j / ∂y
atau :
Sj
∑ij =
∑ji – Sj (Ni - Nj) …..........................................................(34)
Si
4. Homogeneity
n
∑ pj ∂Qi / ∂pj – Y∂qi / ∂y = 0 …………………………………………………..(35)
j=l
Lebih lanjut Simatupang (1984) menyatakan bahwa fungsi yang banyak digunakan
dalam penelitian empiris adalah sistem permintaan linear Expenditure System (LES), Quadratic
Expenditure System (QES), Indirect Ardilog System (IAS) Rotterdam Demand System (RDM),
Indirect Translog System (ITS), Almost Ideal Demand System (AIDS), Minfile Laurent Model (MLF)
dan Fourier Demand System (FDS).
Dalam penelitian ini, model yang digunakan mengacu pada suryana dan Racman
(1988) mempergunakan model AIDS untuk meneliti permintaan pangan di pedesaan Jawa Barat.
AIDS berdasarkan pada fungi pengeluaran sebagai berikut :
InE = (I – U) In a(P) + U In b(P) …………………………………(36)
a(P) = Biaya subsistem
b(P) = Biaya “bliss”
n
n
n
In a(P) = αn + ∑ αl In Pl + ½ ∑ ∑ T ij In Pi In Pi ……………………………(37)
i=l j=l
n
In b(P) = In a(P) + β0 ∏ Pi βi ……………………………………………………….(38)
i=l
Dari persamaan (36) – (38) fungsi utilitas tak langsung dapat dituliskan sebagai :
n
n
n
i=l
i=l
j=l
U ={ InY – (α0 + ∑ αi InPj + ∑ ∑ Tij InPi InPj}
n
β0 ∏ Piβi ……………………………………………………………………(39)
Dengan menggunakan Shephard Lemma terhadap fungsi pengeluaran (36) dapatlah
diperoleh fungsi pangsa permintaan Hicksin sebagai berikut :
n
n
Sim = αi + ∑ Tij InPi + Uβiβ0 ∏ Pjβj ………………………………..(40)
i=l
i=l
Sedangkan fungsi pangsa permintaan Marshallian diperoleh dengan memasukka
persamaan (39) ke persamaan (40) :
……………………………………………(41)
…………………………………...(42)
Fungsi permintaan (41) dapat diduga dengan dua cara yaitu dengan teknik estimasi
koefisien non-linier atau dengan teknik estimasi linier dua tahap dengan menghitung In P
terlebih dahulu. In P dapat dihitung misalnya dengan Stone”s index, yaitu :
n
In P = ∑ Si In Pi …………………………………………………….(43)
i=l
Si = pangsa pengeluaran untuk Qi
Estimasi fungsi permintaan tersebut dilakukan dengan kendala berikut :
n
n
n
i=l
i=l
i=l
1. Penjumlahan : ∑ αi = 1 ∑ Tij =0, ∑ βi = 0
2. Homogeneity
n
: ∑ Tij = 0
i=l
3. Simetri
: Tij =Tji
Apabila parameter-parameter fungsi permintaan tersebut telah diperoleh maka berbagai
elastisitas dapat dihitung sebagai berikut :
1. Elastisitas permintaan
Ni = 1 + β i / S i
2. Elastisitas harga sendiri
3. Elastisitas harga silang
c. Pendapatan Petani
Pendapatan rumah tangga petani berasal ari pertanian (F) atau dari luar pertanian
(NF). Pendapatan pertanian dapat berasal dari pendapatan usaa tani padi dan pendapatan nonpadi, sedangkan pendapatan luar pertanian (NF) dapat berasal dari jasa atau perdagangan dan
dinyatakan dalam persamaan identitas. Oleh karena itu pendapatan rumah tangga petani dapat
dirumuskan :
n
n
YRT = ∑YF ∑ (YNF) ………………………………………………………..(44)
i=l
i=l
n
Yp = Ypd +∑ YN-pd ………………………………………………………..(45)
i=l
Persamaan (44) dimasukkan dalam (45), maka persamaan pendapatan rumah tangga petani
menjadi :
n
n
i=l
i=l
YRT = Ypd + ∑ YN-pd + ∑ Ynp ……………………………………………………………….(46)
Dimana : YRT : total pendapatan rumah tangga petani (RP/tahun)
Yf : pendapatan dari pertanian (Rp/tahun)
Ynf : pendapatan non-pertanian (Rp/tahun)
Ypd : pendapatan usaha tani padi (Rp/tahun)
YN-pd : pendapatan non-padi (Rp/tahun)
Pendapatan dari per hekltar merupakan persamaan identitas yang merupakan perkalian dari
produksi dan harga dikurangi biaya produksinya dirumuskan :
n
Yp = Pg *Qp - ∑ (PxQx) ………………………………………………………(47)
Dimana : pg :harga gabah di tinglat petani yang diturun (Rp/Kg)
qp :produksi padi petani (kg/ha)
px : harga input faktor
qx :jumlah input faktor dalam usaha tani padi
I :input faktor ke 1, 2 ………..n

similar documents