Document

Report
PENDIRIAN
APOTIK
Manajemen Farmasi Komunitas USB, 2009
Permenkes RI No.
26/Menkes/Per/11/1981 tentang
Pengelolaan & Perizinan Apotik,
pasal 1 :
“Surat Ijin Apotik (SIA) adalah surat ijin
yg diberikan Menteri Kesehatan
kepada apoteker untuk mengelola
apotik.”
Komoditas bisnis apotik berupa
sediaan farmasi yg memiliki sifat dapat
mempengaruhi kondisi kesehatan manusia,
yg apabila tidak dikelola oleh orang yg tidak
memiliki ilmu kefarmasian (apoteker), maka
akan dapat membahayakan kesehatan
masyarakat.
PERIJINAN APOTIK
UU atau peraturan yg mengatur tentang ijin
apotik terus berubah mulai dari UU No. 3
tahun 1953 s/d Keputusan Menkes No.
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan
Permenkes RI No. 922/Menkes/Per/X/1992
tentang Ketentuan & Tata Cara Pemberian
Ijin Apotik, sesuai dengan perkembangan
dunia bisnis serta teknologi yg berkembang
saat ini.
Perdagangan komoditas farmasi tidak
sama dengan consumer goods.
Sudah selayaknya pengawasan dan
pengendalian industri farmasi mulai dari
industri hulu (pabrik bahan baku,
formulasi) sampai dengan industri hilir
(apotik) harus diatur oleh pemerintah dan
ijin pengelolaannya diserahkan kepada
profesi apoteker sesuai dengan
keilmuan yg dimilikinya.
Bila pengelolaan komoditas farmasi
diserahkan kepada orang yg tidak
memiliki keilmuan di bidang farmasi,
maka pendistribusian dan penggunaannya
menjadi tidak terkendali. Mengingat begitu
pentingnya pengawasan dan pengendalian
industri farmasi (khususnya apotik), maka
pemerintah mulai tahun 1980 melalui
PP No. 25 tahun 1980 menyerahkan ijin
pengelolaan apotik kepada profesi apoteker.
CARA MEMPEROLEH SIA
Berubahnya kondisi sosial politik Indonesia
turut mewarnai berubahnya tata cara
mengurus dan memperoleh SIA.
Tata cara sebelum Paket Deregulasi 23
Oktober 1993 dan diberlakukannya
UU Otonomi Daerah (otda) tahun 1999.
Permenkes RI No. 26/Menkes/Per/11/1981
tentang Pengelolaan & Perizinan Apotik :
 Barang yg boleh dijual di apotik adalah
perbekalan farmasi.
 Barang yg dilarang dijual di apotik
adalah barang yg tidak ada
hubungannya dengan fungsi pelayanan
kesehatan
 Syarat APA adalah harus memiliki SIPA
(surat ijin pengelolaan apotik) dari
Menteri c.q. Dirjen POM.
 Masa berlaku SIPA 5 tahun.
Kepmenkes RI No.278/Menkes/SK/V/1981
tentang Persyaratan Apotik,
a.l. mengenai persyaratan minimal yg harus
dipenuhi apotik baru :
 Lokasi : harus memenuhi segi
penyebaran & pemerataan
 Jarak antar apotik : harus berjarak ±
500 m
 Syarat bangunan : minimal 50 m2
Permenkes RI No.279/Menkes/Per/11/1981
tentang Ketentuan dan Tata Cara Perizinan
Apotik :
- Persetujuan lokasi oleh Kanwil Depkes
Propinsi
- Masa berlaku SIPA 5 tahun
DASAR HUKUM DAN ETIKA PEMEGANG SIA
Dasar hukum (yuridis)
1. UU No. 7 tahun 1963 tentang farmasi
2. PP RI No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan PP
No. 26 tahun 1965.
3. Permenkes RI No. 26/Menkes/Per/11/1981
tentang Pengelolaan dan Perizinan Apotik
4. Kepmenkes RI No. 922/Menkes/SK/X/1993
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotik
5. Kepmenkes RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002
tentang Perubahan atas Kepmenkes RI No.
922/Menkes/SK/X/1993.
Dasar etika (ethics)
1. Bidang keilmuan yg dimiliki apoteker.
Sesuai dengan bidang ilmu pengetahuan
farmasi, maka seorang apoteker sudah
barang tentu lebih menguasai dari profesi
lainnya mengenai tata cara pengelolaan
apotik.
2. Lafal sumpah/janji apoteker, terdapat
kalimat :”Saya akan melaksanakan tugas
saya sesuai dengan martabat dan tradisi
luhur jabatan kefarmasian”.
CARA MEMPEROLEH SIA SETELAH
PAKTO (1993-2002)
Setelah adanya Pakto 1993 (Permenkes RI
No. 922/Menkes/SK/X/1993 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotik), maka tata cara memperoleh SIA &
membuka apotik menjadi lebih sederhana
dari 3 tahap menjadi 1 tahap, cukup sampai
Kepala Kanwil Propinsi, karena adanya
penghapusan beberapa persyaratan.
Yaitu antara lain :
1. Keharusan memiliki SIPA dihapuskan
2. Persetujuan lokasi oleh Kanwil
dihapuskan
3. Persyaratan jarak minimal antar apotik
dihapuskan
4. Jenis barang yang dijual dihapuskan,
sehingga apotik di samping dapat
menjual perbekalan farmasi juga dapat
menjual produk lain yang tidak ada
hubungannya dengan perbekalan
farmasi (DIVERSIVIKASI).
TATA CARA MEMPEROLEH SIA SETELAH
OTDA 1999 (2002-SEKARANG)
Dengan adanya perubahan pada sistem
pemerintahan tahun 1999 dari sistem
sentralisasi menjadi otda, maka tata cara
mengurus SIA juga mengalami perubahan.
Perubahan ini ditetapkan oleh Kepmenkes RI
No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang
Perubahan atas Kepmenkes RI No.
922/Menkes/X/1993
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotik, maka tata cara mengurus apotik
menjadi lebih sederhana lagi :
Yang berhak memberi SIA : Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota
Yang berhak memperoleh izin : Apoteker
MELAKUKAN KEGIATAN
OPERASIONAL APOTIK
Pada awal melakukan kegiatan
operasional apotik, APA beserta
pegawainya tidak langsung dikenal
konsumen & dapat memperoleh
penjualan seperti yg diharapkan.
Apotik akan banyak menghadapi
hambatan baik internal & eksternal.
Hambatan pd awal operasional
a. Hambatan internal :
o Barang belum lengkap, shg apotik banyak
menolak resep
o Nama apotik belum banyak diketahui oleh
masyarakat, dokter, & tenaga medis lain,
shg penjualan masih kecil
o Petugas apotik belum berpengalaman &
belum banyak mengenal konsumen baik yg
individu, korporasi, dokter & perawat yg
berada di sekitar apotik, shg petugas belum
dapat memberikan pelayanan & perhatian
yg sesuai harapan konsumen.
b. Hambatan eksternal :
 Keraguan konsumen terhadap kualitas
pelayanan apotik, seperti kelengkapan
barang, harga & kecepatan pelayanan
 Keraguan supplier sebagai kreditor
persediaan barang terhadap perilaku &
kemampuan finansial apotik, seperti
ketentuan harus bayar tunai (cash and
carry), shg apotik harus dapat
menyediakan modal kerja yg lebih.
 Reaksi pesaing yg lebih dahulu ada thd
keberadaan apotik, untuk menyerang
dalam bentuk harga atau bentuk lainnya.
Cara mengatasi hambatan pd awal operasional
Untuk hambatan internal :
 Mendatangi praktek dokter/klinik yg ada di sekitar
apotik untuk meminta daftar obat yg sering
digunakan dokter & jumlah pasien per bulan.
 Mencatat nama obat yg ditolak apotik, nama &
alamat dokter penulis resep, mendatangi dokter
praktek/klinik & mencatat jumlah pasiennya per
bulan kemudian menyediakan obat tersebut.
 Menyediakan obat generik & OTC yg sering
diiklankan selengkap mungkin (untuk apotik yang
berada di daerah pemukiman padat penduduk
kelas menengah ke bawah).
2. Nama apotik yg belum dikenal dgn cara :
 Memasang papan nama apotik (billboard)
dengan warna scott light pd posisi yg mudah
dilihat
 Memasang umbul-umbul/bendera yg
menandakan bahwa ada apotik baru yg mulai
beroperasi
 Membuat brosur tentang suatu penyakit yg
sedang ngetren & cara pencegahannya sambil
memperkenalkan nama apotik untuk dibagikan
kepada masyarakat sekitar
 Membuat sejumlah kalender & membagikannya
kepada praktek dokter di sekitar apotik
 Mengadakan khitanan masal.
3. Petugas yang belum berpengalaman,
dengan cara :
 Melatih pegawai untuk berani berkomunikasi
dalam melayani konsumen dgn cara APA
memberikan contoh: Bagaimana teknik
berkomunikasi dan melayani konsumen di
ethical atau OTC counter; Bagaimana menjadi
advisor & memberi solusi pd saat konsumen
mengalami hambatan dengan obat yg
dibutuhkan (hambatan harga, obat kosong)
 Menyediakan buku-buku standar seperti
farmakope, IIMs
 Menyediakan sarana komunikasi & transportasi
a.l. : telpon agar petugas dapat melakukan
komunikasi dengan supplier, konsumen, dokter
& tenaga medis lain; sepeda motor agar
petugas menjadi lebih flexible dan cepat dalam
melayani konsumen.
 Membagi tugas & tanggung jawab kpd
pegawai, agar menjalankan fungsinya di apotik,
terutama pada fungsi pembelian & penjualan
seperti : Membeli obat ke supplier atau apotik
lain & mengantar ke rumah konsumen pd
kondisi ttt.
 Memberikan kewenangan kepada setiap
pegawai terutama pada fungsi pembelian
dan penjualan, agar pegawai menjadi
lebih percaya diri dalam melayani
konsumen seperti : boleh memberikan
diskon kepada konsumen individu, dokter
sampai pada batas jumlah persentase
tertentu; boleh memberikan insentif;
Untuk hambatan eksternal :
1. Keraguan konsumen terhadap kualitas
pelayanan, dengan cara :
Melayani kebutuhan konsumen, walaupun
harus membelikan barangnya ke apotik lain
atau ke PBF secara tunai dan mengantar
obatnya ke rumah konsumen. Prinsipnya
“resep masuk-keluar obat”
Mendemonstrasikan rasa peduli petugas
apotik terhadap keinginan konsumen seperti
keramahan, kecepatan, solusi.
2. Keraguan supplier sebagai kreditor
persediaan terhadap sifat (perilaku) dan
kemampuan finansial apotik, dengan cara :
 Membayar tunai
 Membayar tepat waktu sesuai dengan
perjanjian
 Jangan ingkar janji
3. Reaksi pesaing yg lebih dahulu ada,
dengan cara :
 Menjaga hubungan baik dengan apotik
yang lebih dulu ada, saling membantu
untuk mengisi barang yg kosong, tidak
saling banting harga
 Kompak dalam menetapkan harga untuk
pelanggan korporasi.

similar documents