Tokoh-tokoh Filsafat Barat era Klasik

Report
RESONANSI JIWA
KEARIFAN SEGENGGAM GARAM
Tokoh-tokoh Filsafat Barat
Era Klasik
HARYONO.AS
NIP.198403222008121002
Dosen Muda PPKn UR,
Direktur III dan Dosen
STIKES PMC
1. Thales (635-545 SM)
Nama: Thales dari Miletos
Lahir: 624–625 SM
Meninggal: 547–546 SM
Aliran/tradisi: Filsafat Ionian, Mazhab
Miletos, Filsafat Alam
Minat utama: Etika, Metafisika,
Matematika, Astronomi
Gagasan penting: Air adalah prinsip
dasar segala sesuatu, Teorema Thales
Dipengaruhi: Astronomi Babilonia &
Mesir Kuno Matematika and Agama
Memengaruhi: Phytagoras,
Anaximandros, Anaximenes
Thales adalah seorang filsuf yang
mengawali sejarah filsafat Barat pada
abad ke-6 SM. Sebelum Thales,
pemikiran Yunani dikuasai cara
berpikir mitologis dalam menjelaskan
segala sesuatu.
Pemikiran Thales dianggap sebagai
kegiatan berfilsafat pertama karena
mencoba menjelaskan dunia dan
gejala-gejala di dalamnya tanpa
bersandar pada mitos melainkan pada
rasio manusia.
Ia juga dikenal sebagai salah
seorang dari Tujuh Orang
Bijaksana (dalam bahasa Yunani
hoi hepta sophoi), yang oleh
Aristoteles diberi gelar 'filsuf yang
pertama'.
Thales : Air sebagai Prinsip
Dasar Segala Sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah
prinsip dasar (dalam bahasa Yunani
arche) segala sesuatu. Air menjadi
pangkal, pokok, dan dasar dari
segala-galanya yang ada di alam
semesta. Berkat kekuatan dan daya
kreatifnya sendiri, tanpa ada sebabsebab di luar dirinya, air mampu
tampil dalam segala bentuk, bersifat
mantap, dan tak terbinasakan
Argumentasi Thales terhadap
pandangan tersebut adalah
bagaimana bahan makanan
semua makhluk hidup
mengandung air dan
bagaimana semua makhluk
hidup juga memerlukan air
untuk hidup. Selain itu, air
adalah zat yang dapat
berubah-ubah bentuk (padat,
cair, dan gas) tanpa menjadi
berkurang
Selain itu, ia juga
mengemukakan
pandangan bahwa bumi
terletak di atas air. Bumi
dipandang sebagai
bahan yang satu kali
keluar dari laut dan
kemudian terapungapung di atasnya
Thales : Pandangan tentang
Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala
sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa
tidak hanya terdapat di dalam benda
hidup tetapi juga benda mati.Teori
tentang materi yang berjiwa ini disebut
hylezoisme.Argumentasi Thales
didasarkan pada magnet yang dikatakan
memiliki jiwa karena mampu
menggerakkan besi
2. Anaximandros (611-545 SM)
Nama: Anaximandros (Άναξίμανδρος)?
Lahir: 610 SM
Meninggal: 546 SM
Aliran/tradisi: Filsafat Ionia, Mazhab
Miletos, Filsafat Alam
Minat utama: Metafisika, Astronomi,
geografi Gagasan penting: Prinsip ''to
apeiron'' sebagai prinsip dasar segala
sesuatu
Dipengaruhi: Thales dari Miletos
Memengaruhi: Anaximenes, Pythagoras
Anaximandros adalah filsuf
pertama yang
meninggalkan bukti tulisan
berbentuk prosa
Anaximandros dikatakan
sebagai orang yang
pertama kali membuat
peta bumi.
Anaximandros telah menemukan,
atau mengadaptasi, suatu jam
matahari sederhana yang dinamakan
gnomon. Ditambah lagi, ia mampu
memprediksi kapan terjadi gempa
bumi. Kemudian ia juga menyelidiki
fenomena-fenomena alam seperti
gerhana, petir, dan juga mengenai asal
mula kehidupan, termasuk asal-mula
manusia. Kendati ia lebih muda 15
tahun dari Thales, namun ia meninggal
dua tahun sebelum gurunya itu
Anaximandros : To Apeiron sebagai
prinsip dasar segala sesuatu
To apeiron berasal dari
bahasa Yunani a=tidak dan
eras=batas. Ia merupakan
suatu prinsip abstrak yang
menjadi prinsip dasar segala
sesuatu. Ia bersifat ilahi,
abadi, tak terubahkan, dan
meliputi segala sesuatu.
Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu
yang ada di dalam jagad raya sebagai
unsur-unsur yang berlawanan (yang panas
dan dingin, yang kering dan yang basah,
malam dan terang). Kemudian kepada
prinsip ini juga semua pada akhirnya akan
kembali
Anaximandros:Pandangan tentang
Makhluk Hidup
Anaximandros berpendapat bahwa
pada awalnya bumi diliputi air sematamata.
Karena itu, makhluk hidup pertama
yang ada di bumi adalah hewan yang
hidup dalam air, misalnya makhluk
seperti ikan
Karena panas yang ada di sekitar
bumi, ada laut yang mengering dan
menjadi daratan.Di situlah, mulai
ada makhluk-makhluk lain yang naik
ke daratan dan mulai berkembang di
darat.
ia berargumentasi bahwa tidak mungkin
manusia yang menjadi makhluk pertama yang
hidup di darat sebab bayi manusia
memerlukan asuhan orang lain pada fase awal
kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk
pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan
yang beradaptasi di daratan dan kemudian
menjadi manusia
3. Anaximenes (588-524 SM)
Anaximenes mulai terkenal
sekitar tahun 545 SM,
sedangkan tahun kematiannya
diperkirakan sekitar tahun
528/526 SM. Ia diketahui lebih
muda dari Anaximandros. Ia
menulis satu buku, dan dari
buku tersebut hanya satu
fragmen yang masih tersimpan
hingga kini
Anaximenes : Udara sebagai
prinsip dasar segala sesuatu
Tidak seperti air yang tidak terdapat di
api (pemikiran Thales), udara
merupakan zat yang terdapat di dalam
semua hal, baik air, api, manusia,
maupun segala sesuatu. Karena itu,
Anaximenes berpendapat bahwa udara
adalah prinsip dasar segala sesuatu
Udara adalah zat yang
menyebabkan seluruh benda
muncul, telah muncul, atau akan
muncul sebagai bentuk
lain.Perubahan-perubahan
tersebut berproses dengan
prinsip "pemadatan dan
pengenceran" (condensation and
rarefaction.Bila udara bertambah
kepadatannya maka muncullah
berturut-turut angin, air, tanah,
dan kemudian batu
Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran,
maka yang timbul adalah api.
Proses pemadatan dan pengenceran tersebut
meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air
dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana
seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi
perubahan udara.
Anaximenes : Tentang Jiwa
Jiwa manusia dipandang sebagai
kumpulan udara saja. Buktinya,
manusia perlu bernapas untuk
mempertahankan hidupnya. Jiwa
adalah yang mengontrol tubuh
dan menjaga segala sesuatu pada
tubuh manusia bergerak sesuai
dengan yang seharusnya. Karena
itu, untuk menjaga kelangsungan
jiwa dan tubuh.
Phytagoras lahir pada tahun 570
SM, di pulau Samos, di daerah
Ionia. Pythagoras (582 SM – 496
SM, bahasa Yunani: Πυθαγόρας)
adalah seorang matematikawan
dan filsuf Yunani yang paling
dikenal melalui
teoremanya.Dikenal sebagai
"Bapak Bilangan",
Phytagoras percaya bahwa angka
bukan unsur seperti udara dan air
yang banyak dipercaya sebagai unsur
semua benda. Angka bukan anasir
alam
Bila segala hal adalah angka, maka hal
ini tidak saja berarti bahwa segalanya
bisa dihitung, dinilai dan diukur
dengan angka dalam hubungan yang
proporsional dan teratur, melainkan
berkat angka-angka itu segala sesuatu
menjadi harmonis, seimbang. Dengan
kata lain tata tertib terjadi melalui
angka-angka.
Pythagoras dan murid-muridnya
percaya bahwa segala sesuatu di dunia
ini berhubungan dengan matematika,
dan merasa bahwa segalanya dapat
diprediksikan dan diukur dalam siklus
beritme. Ia percaya keindahan
matematika disebabkan segala
fenomena alam dapat dinyatakan
dalam bilangan-bilangan atau
perbandingan bilangan
Pythagoras mendirikan sebuah
tarekat keagamaan di Kroton, Italia
Selatan. Pythaghoras dijuluki
“pemimpin dan Bapak Filsafat Ilahi”.
Pythagoras mengajarkan bahwa
jiwa itu kekal, dan dapat berpindahpindah. Sesudah kematian, jiwa
berpindah kepada hewan, dan
begitu seterusnya. Menurutnya
prinsip dari segala-galanya adalah
matematika, semua benda dapat
dihitung dengan angka, dan kita
dapat mengekspresikan banyak hal
dengan angka-angka.
5. Xenophanes (570-480 SM)
Xenophanes berasal dari Kolophon,
Ionia, di Asia Kecil. Dikatakan di
dalam salah satu fragmen puisinya
sendiri bahwa ia meninggalkan kota
asalnya pada usia 25 tahun ia lahir
sekirar tahun 570 SM. Kemudian
dikatakannya pula bahwa ketika ia
menulis puisi tersebut, ia telah
berusia 67 tahun. Diketahui
Xenophanes berusia di atas 100
tahun, Karena itu, tahun
kematiannya diperkirakan sekitar
tahun 480 SM
Xenophanes : Tentang Pengetahuan
Xenophanes menyatakan bahwa
manusia tidak dapat mendapatkan
pengetahuan yang mutlak. Akan
tetapi, di saat yang sama, manusia
harus mencari pengetahuan
tersebut walaupun hanya berupa
suatu kemungkinan. Hal itu
ditunjukkannya melalui dua
fragmen yang dinyatakan olehnya:
fragmen 18
"Dewa-dewi tidak menyatakan
segala sesuatu kepada manusia
sejak awalnya, tetapi setelah waktu
berlalu, manusia menemukan
banyak hal dengan cara
mencarinya sendiri."(fragmen 18)
fragmen 34
"Tidak ada manusia yang pernah
melihat ataupun mengetahui
kebenaran tentang dewa-dewi
serta semua hal yang kukatakan.
Karena jika ada orang yang berkata
mengetahui semuanya, maka
sebenarnya ia tidaklah tahu,
melainkan hanya mempercayai
tentang segala sesuatu."(fragmen
34)
Fragmen 18 menunjukkan kemungkinan
mencari pengetahuan melalui penelitian.
Sedangkan fragmen 34 menolak
kemungkinan manusia mendapatkan
pengetahuan yang mutlak, setidaknya untuk
hal-hal yang menurut Xenophanes sulit. Oleh
karena itu, perlu dibedakan antara
kebenaran, pengetahuan, dan kepercayaan
Menurut Xenophanes, "yang Satu meliputi
Semua" ini tidak dilahirkan dan tidak
memiliki akhir, artinya bersifat kekal. Hal ini
berbeda dengan konsep dewa-dewi yang
dilahirkan dan dapat mati.Ia tidak
menyerupai makhluk duniawi mana pun,
baik manusia ataupun binatang. Ia juga tidak
memiliki organ seperti manusia, namun
mampu melihat, berpikir, dan mendengar. Ia
juga senantiasa menetap di tempat yang
sama namun menguasai segala sesuatu
dengan pikirannya saja.
Xenophanes bukan filsuf,
tetapi seorang pemikir yang
kritis. Xenophanes menolak
anthropomorfisme allahallah. Ia berpendapat bahwa
Allah bersifat kekal. Dia
menolak anggapan bahwa
Allah tidak dilahirkan. Maka
dapat disimpulkan bahwa
menurut dia, Allah tidak
memiliki permulaan.
6. Herocleitos (540-475 SM)
Nama: Herakleitos
Lahir: c. 550 SM
Meninggal: c. 480 SM
Aliran/tradisi: Tidak termasuk ke
dalam aliran filsafat manapun
Minat utama: Metafisika,
Epistemologi, Etika, Politik
Gagasan penting: Logos, segala
sesuatu mengalir
Memengaruhi: Parmenides,
Plato, Aristoteles, Hegel,
Nietzsche, Heidegger,
Whitehead, Karl Popper
Pemikiran Herocleitos
“Segala Sesuatu Mengalir”
Pemikiran Herakleitos yang paling
terkenal adalah mengenai perubahanperubahan di alam semesta. Menurut
Herakleitos, tidak ada satu pun hal di
alam semesta yang bersifat tetap atau
permanen.Tidak ada sesuatu yang betulbetul ada, semuanya berada di dalam
proses menjadi. Ia terkenal dengan
ucapannya panta rhei kai uden menei
yang berarti, "semuanya mengalir dan
tidak ada sesuatupun yang tinggal
tetap."
Perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu
dibayangkan Herakleitos dengan dua cara:
Pertama, seluruh kenyataan adalah
seperti aliran sungai yang mengalir.
"Engkau tidak dapat turun dua kali
ke sungai yang sama," demikian
kata Herakleitos. Maksudnya di sini,
air sungai selalu bergerak sehingga
tidak pernah seseorang turun di air
sungai yang sama dengan yang
sebelumnya
Kedua, ia menggambarkan seluruh
kenyataan dengan api. Maksud api di
sini lain dengan konsep mazhab Miletos
yang menjadikan air atau udara sebagai
prinsip dasar segala sesuatu. Bagi
Herakleitos, api bukanlah zat yang
dapat menerangkan perubahanperubahan segala sesuatu, melainkan
melambangkan gerak perubahan itu
sendiri.Api senantiasa mengubah apa
saja yang dibakarnya menjadi abu dan
asap, namun api tetaplah api yang
sama. Karena itu, api cocok untuk
melambangkan kesatuan dalam
perubahan.
Segala Sesuatu Berlawanan
Menurut Herakleitos, tiap benda
terdiri dari yang berlawanan.
Meskipun demikian, di dalam
perlawanan tetap terdapat
kesatuan. Singkatnya, dapat
dikatakan bahwa 'yang satu
adalah banyak dan yang banyak
adalah satu
Ia memandang rendah orangorang kebanyakan. Bahkan
orang-orang ternama masa
sebelumnya, tidak dihargainya.
Di bidang agama, ia tidak
menghargai misteri-misteri. Ia
mengajarkan pandangan
panteistik tentang Allah.
Ajarannya dikenal dengan
panta rei. Artinya, segala
sesuatu mengalir.
7.MELISSUS (451-449)
Nama: Melissos
Aliran/tradisi: mazhab Elea
Minat utama: Metafisika
Gagasan penting:
Ketakterbatasan, dan
pandangan monistik
terhadap realitas
Dipengaruhi: Parmenides
PEMIKIRAN TENTANG "YANG ADA"
Menurut Melissos, "yang ada" itu bersifat:
 1. Abadi (omnitemporal)
 2. Tak terbatas
 3. Satu
 4. Homogen
 5. Tidak berubah[

1. ABADI
Melissos mengatakan bahwa jika sesuatu "tidak
ada", apa yang dapat dikatakan tentang itu?
Manusia hanya dapat mengatakan sesuatu bila
sesuatu itu "ada". Kemudian, "tidak ada" tidaklah
mungkin hancur menjadi tidak ada.Karena itu,
"yang ada" bersifat abadi
2. TAK TERBATAS
Melissos menyatakan bahwa "yang ada" tak
terbatas oleh ruang. Argumentasi Melissos adalah
jika "yang ada" itu terbatas di dalam ruang, maka
harus dikatakan bahwa di luar "yang ada" terdapat
"yang tidak ada".Itu berarti "yang tidak ada" ada
sehingga premis keabadian "yang ada" menjadi
hilang. Karena itu, tidak mungkin "yang ada" itu
terbatas, juga menurut ruang
3. Yang Satu
Melissos mengemukakan "yang ada" itu
satu, sehingga "yang ada" itu disebut
juga "yang satu".[4] Argumentasi
Melissos adalah jika "yang ada"
berjumlah lebih dari satu, maka ia tidak
lagi tak terbatas sebab ada batas antara
satu dengan lainnya untuk
berhubungan.
4. HOMOGEN
Melissos juga menyatakan bahwa "yang ada"
pastilah homogen. Jika "yang ada" bersifat
heterogen, maka pasti terdapat pluralitas,
sedangkan pluralitas berarti tidak lagi satu
5. Tidak Berubah
Melissos juga menyatakan bahwa
"yang ada" itu tidak berubah.
Argumentasi terhadap hal ini
berhubungan dengan sifat abadi dari
"yang ada". Bila "yang ada" dapat
berubah, maka ada kemungkinan ia
tidak abadi. Karena itu, pastilah "yang
ada" itu tidak berubah.
9. Empodocles
Empedokles lahir di Agrigentum, pulau
Sisilia, pada abad ke-5 SM (495-435
SM). Ia berasal dari golongan
bangsawan. Empedokles dipengaruhi
oleh aliran religius yang disebut
orfisme, dan juga kaum Pythagorean.
Ada sum ber lain yang mengatakan ia
mengikuti ajaran Parmenides. ia
dibuang dari kota asalnya namun tidak
ada informasi mengenai
pembuangannya itu. Berdasarkan
keterangan dari Aristoteles,
Empedokles meninggal pada usia 60
tahun. Menurut legenda, Empedokles
meninggal dengan cara terjun ke kawah
vulkano di gunung Etna.
Pemikiran Empodocles Tentang
Empat Anasir
Empat anasir tersebut adalah air,
tanah, api, dan udara. Keempat
anasir tersebut dapat dijumpai di
seluruh alam semesta dan memiiki
sifat-sifat yang saling berlawanan.
Api dikaitkan dengan yang panas
dan udara dengan yang dingin,
sedangkan tanah dikaitkan dengan
yang kering dan air dikaitkan
dengan yang basah.
Salah satu kemajuan yang dicapai melalui
pemikiran Empedokles adalah ketika ia
menemukan bahwa udara adalah anasir
tersendiri. Para filsuf sebelumnya, misalnya
Anaximenes, masih mencampuradukkan udara
dengan kabut.
Empedokles berpendapat bahwa semua anasir
memiliki kuantitas yang persis sama. Anasir sendiri
tidak berubah, sehingga, misalnya, tanah tidak
dapat menjadi air. Akan tetapi, semua benda yang
ada di alam semesta terdiri dari keempat anasir
tersebut, walaupun berbeda komposisinya.
Contohnya, Empedokles
menyatakan tulang tersusun
dari dua bagian tanah, dua
bagian air, dan empat
bagian api. Suatu benda
dapat berubah karena
komposisi empat anasir
tersebut diubah
Tentang Cinta dan Benci
Menurut Empedokles ada dua
prinsip yang mengatur
perubahan-perubahan di dalam
alam semesta, dan kedua prinsip
itu berlawanan satu sama lain.
Kedua prinsip tersebut adalah
cinta (philotes) dan benci
(neikos)
Cinta berfungsi menggabungkan anasiranasir sedangkan benci berfungsi
menceraikannya. Keduanya dilukiskan
sebagai cairan halus yang meresapi semua
benda lain.
Atas dasar kedua prinsip tersebut, Empedokles
menggolongkan kejadian-kejadian alam semesta di
dalam empat zaman.
Zaman-zaman ini terus-menerus
berputar; zaman pertama
berlalu hingga zaman keempat
lalu kembali lagi ke zaman
pertama, dan seterusnya.
Zaman-zaman tersebut adalah:
Zaman pertama.
Di sini cinta dominan dan
menguasai segala-galanya,
alam semesta dibayangkan
sebagai sebuah bola, di
mana semua anasir
tercampur dengan
sempurna, dan benci
dikesampingkan ke ujung.
Zaman kedua
Benci mulai masuk untuk
menceraikan anasir-anasir,
sehingga alam semesta
sebagian dikuasai oleh cinta
dan sebagian lagi dikuasai oleh
benci. Benda-benda memiliki
kemantapan tetapi dapat
lenyap, misalnya makhlukmakhluk hidup dapat mati.
Menurut Empedokles, manusia
hidup pada zaman ini
Zaman ketiga
Apabila perceraian anasiranasir selesai, mulai berlaku
zaman ketiga, di mana benci
menjadi dominan dan
menguasai segala-galanya.
Keempat anasir yang sama
sekali terlepas satu sama lain
merupakan empat lapisan
kosentris: tanah di dalam pusat
dan api pada permukaan. Cinta
kini berada di ujung
Zaman keempat
Pada zaman ini cinta masuk
kembali hingga timbul
situasi yang sejajar dengan
zaman kedua. Apabila cinta
menjadi dominan, artinya
zaman pertama dimulai
kembali
Empodocles seperti Parmenides,
mengajarkan bahwa materi tidak
punya awal dan akhir. Materi tidak
dapat binasa. Menurut dia, unsur
dasar dari segala-galanya adalah
tanah, udara, api dan air. Keempat
benda itu tidak dapat saling
dipertukarkan. Ia juga mengajarkan
tentang perpindahan jiwa. Dia
sendiri mengatakan bahwa di
waktu lampau, dia sendiri adalah
anak laki-laki, anak perempuan,
tumbuhan, burung dan ikan.
10. Anaxagoras (500-420 SM)
Nama: Anaxagoras
Lahir: 500 BC
Meninggal: 428 BC
Aliran/tradisi: Mazhab Pluralisme
Minat utama: Filsafat Alam
Gagasan penting: Prinsip (Nous)
yang meliputi segala sesuatu
Dipengaruhi: Mazhab Miletos
Memengaruhi: Archelaus
Pemikiran Anaxagoras
Anaxagoras menyatakan bahwa jumlah
prinsip pembentuk alam semesta tak
terhingga. Zat-zat tersebut disebutnya
"benih-benih" (spermata). Menurut
Anaxagoras, setiap benda, bahkan seluruh
realitas di alam semesta, tersusun dari suatu
campuran yang mengandung semua benih
dalam jumlah tertentu. Indera manusia tidak
dapat menyerap semua benih yang ada di
dalam satu benda, melainkan hanya benih
yang dominan
Contohnya jikalau manusia melihat emas, maka
ia dapat langsung mengenalinya sebagai emas,
sebab benih yang dominan pada benda
tersebut adalah benih emas. Akan tetapi, pada
kenyataannya selain benih emas, benda itu juga
mempunyai benih tembaga, perak, besi, dan
sebagainya. Hanya saja semua benih tersebut
tidak dominan sehingga tidak ditangkap oleh
indera manusia
Argumentasi yang ditunjukkan oleh
Anaxagoras adalah melalui tubuh manusia. Di
dalam tubuh manusia terdapat berbagai
unsur, seperti daging, kuku, darah, rambut,
dan sebagainya. Bagaimana mungkin rambut
dan kuku tumbuh, padahal manusia tidak
memakan rambut atau kuku? Pemecahan
yang diberikan Anaxagoras adalah karena di
dalam makanan telah terdapat benih rambut,
kuku, daging, dan semua unsur lainnya.
Sumbangan paling penting Anaxigoras bagi
filsafat adalah teorinya tentang rasio (nous) /
roh. Jika Empodocles mengajarkan bahwa
gerakan di jagad raya disebabkan oleh
kekuatan fisik cinta dan kebencian, maka
Anaxigoras mengatakan bahwa gerakan
disebabkan oleh rasio. “Nous memiliki
kekuasaan atas segala sesuatu yang memiliki
hidup, baik besar maupun kecil”. Anaxagoras
adalah filsuf pertama yang menetapkan
kemandirian roh atau rasio terhadap semua
zat atau materi.
Tentang Alam Semesta
Ajaran Anaxagoras tentang alam
semesta mirip dengan filsuf-filsuf
pertama dari Ionia, khususnya
Anaximenes. Anaxagoras
berpendapat bahwa badan-badan
jagat raya terdiri dari batu-batu
yang berpijar akibat kecepatan
tinggi dari pusaran angin yang
menggerakkannya
Tentang Makhluk Hidup
Anaxagoras adalah filsuf
pertama yang membedakan
secara jelas antara makhluk
hidup dengan yang tidak hidup.
Dikatakan bahwa nous memang
menguasai segala-galanya,
namun tidak ada di dalam
makhluk yang tidak hidup,
termasuk tumbuh-tumbuhan.
TUGAS
Cari Sejarah Hidup dan pemikiran filsafat Tokohtokoh berikut ini :
1. Pamenides
2. Zeno
3. Leucippus
4. Demokritus
5. Protagoras
6. Prodicus
7. Hippias
8. Gorgias
9. Socrates
10. Plato
11. Aristoteles.

similar documents