desi m,

Kata Pengantar Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas . Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan dengan keindahanya daerah purworejo, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para pelajar. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu, bapak/ibu guru pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Kutoarjo, 19 April 2016 Penyusun Desi Maewiyati 1 DAFTAR ISI 1. Kata pengantar…………………………………………….. 1 2. Sejarah purworejo……………………………………….. 3 3. Tempat wisata yang ada di purworejo…………. 6 4. Budaya purworejo……………………………………… 13 5. Makanan khas purworejo……………………………. 14 6. Pemutup……………………………………………………. 20 2 • SEJARAH PURWOREJO Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi. Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang. Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro. Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu. Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan. Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan”. Atau para hyang berada. Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang. 3 Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga). Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara. Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang. Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano). Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak. Peristiwa 5 Otober 901 M tersebut akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo dipilih dan ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris. Perlu dicatat, bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain, karena dalam sejarah mencatat sejumlah tokoh. Misalnya dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah Selatan, tokoh Sunan Geseng diknal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola dan pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupatn Magelang. Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani. Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikn Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno, Kedungkebo dan Brengkelan. Pada periode Karesidenan Begelen ini, muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura yang punya pengaruh sampai ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ). 4 Dalam perjalanan sejarah, akibat ikut campur tangannya pihak Belanda dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, maka wilayah Mataram dipecah mejadi dua kerajaan. Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tanah Bagelen akibat Perjanjian Giyanti 13 pebruari 1755 tersebut sebagai wilayah Negara Gung juga dibagi, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh para ahli dinilai sangat rancu diupamakan sebagai campur baur seperti “rujak”. Dalam Perang Diponegoro abad ke XIX, wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pangeran Diponegoro mndapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Pada Perang Diponegoro itu, wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo. Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesienan Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu Kota Karesidenan Bagelen, statusnya menjadi Ibukota Kabupaten. Tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjdi satu dengan kebumen dan menjadi Kabupaten kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk administrasi Kabupaten Urut Sewu/Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo. Dalam perkembangan sejarahnya Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di bidang pendidikan dan dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang pendidikan, pertanian dan militer. Tokoh-tokoh yang muncul antara lain WR Supratman Komponis lagu Kebangsaan “Indonesia raya”. Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal A. Yani, Sarwo Edy Wibowo dan sebagainya. Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri. 5 TEMPAT WISATA DI PURWOREJO • Pantai Ketawang Kalau kamu ingin menikmati pantai yang masih asri dan alami di Purworejo, datang aja ke Pantai Ketawang yang ada di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag. Dengan menempuh perjalanan sejauh 22 km dari pusat kota, kamu sudah bisa menikmati pantai yang masih jarang dikunjungi ini. Kalau beruntung, kamu bisa menyaksikan warga setempat yang memacu kudanya di sini. 6 • Goa Seplawan Purworejo juga memiliki goa alami yang menjadi salah satu daya tarik wisatanya. Namanya Goa Seplawan. Goa ini terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km dari pusat kota; kalau kamu melewati jalan raya Purworejo–Jogja, papan penunjuk jalan ke goa ini pasti kelihatan. Di goa sepanjang kurang lebih 700 meter dan lebar sekitar 15 meter ini, kamu bisa menjelajah sekalian mengamati indahnya berbagai ornamen alami yang ada di dinding goa. Di luar goa, suasana hutan pinus yang sejuk dan asri di lereng pegunungan Menoreh bakal bikin kamu betah berada di kawasan ini. Apalagi, tak jauh dari sini terdapat sentra durian serta kambing peranakan etawa khas Purworejo. 7 • Curug Silangit Tak hanya pantai dan goa, Purworejo juga menyimpan sejumlah air terjun dengan panorama yang menawan. Salah satunya adalah curug Silangit yang terletak di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing. Air terjun ini memiliki ketinggian 50 meter yang terbagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama tingginya 30 meter, sementara dua tingkatan terakhir masing-masing setinggi 10 meter. Di dasar air terjun, terdapat kedung atau kolam yang airnya sangat dalam. Kalau kamu gak bisa berenang, lebih baik berhati-hati dan tetaplah berada di tepian. Untuk menuju ke curug ini, aksesnya cukup mudah kok. Kamu bisa menaiki kendaraan pribadi maupun angkutan umum. 8 • Curug Muncar Sebuah air terjun yang luar biasa indah dan belum terjamah tangan-tangan manusia menanti untuk kamu sambangi di desa Kaliwungu, kecamatan Bruno, sekitar 45 menit dari pusat kota. Di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, suasana yang sejuk dan hijau akan menyergapmu. Di sinilah kamu bisa menemukan Curug Muncar yang tingginya mencapai 40 meter ini. Untuk mencapai curug ini, kamu mesti trekking selama kurang lebih 30 menit. Tapi, sepanjang jalur trekking kamu akan disuguhi dengan kesejukan dan panorama perbukitan yang menawan. 9 • Pantai Jatimalang Keindahan Pantai Jatimalang sudah menjadi idola para wisatawan jika sedang berkunjung ke Purworejo. Sehingga tidak asing jika banyak di sekitar pantai sudah menjadi bangunan-bangunan untuk berjualan atau sekedar menyediakan tempat istirahat para wisatawan. Pantai Jatimalang menawarkan keindahan pantai laut selatan pulau Jawa yang dikenal memiliki ombak yang cukup besar tetapi masih bisa digunakan untuk bermain. Pantai Jatimalang berada di Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, atau berjarak sekitar 18 km dari pusat Kota Purworejo. 10 • Puncak Geger Menjangan Merupakan kawasan wisata alam, obyek utama yang banyak dinimkati pengunjung adalah keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan dipandang dari ketinggian puncak bukit. Selain itu, kawasan Geger Menjangan masih menawarkan beberapa obyek rekreasi lainnya, yaitu taman permainan anak, kolam renang dan meja bilyard. Kolam renang dan taman pemancingan terletak di pintu masuk kawasan. Sedang meja bilyard berada di puncak bukit. Suguhan yang lebih dikhususkan untuk kawula muda adalah arena minicross, panjat tebing dan lokasi berbagai pertunjukan umum. Arena minicross berupa lahan cukup luas dengan kontur tanah yang sangat menantang. Di lokasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan umum. Sedang panjat tebih telah dibuat secara permanen dengan konstruksi baja berketinggian 15 meter. Memandang keindahan panorama alam dari ketinggian itulah yang ditawarkan kawasan tersebut. Keindahan yang dapat dinikmati dengan biaya yang sangat murah dan mudah dijangkau. Keindahan panorama memang merupakan obyek pokok yang banyak disukai masyarakat, terutama para remaja. Untuk dapat menikmati indahnya panorama tersebut, pengunjung ditantang untuk berolah raga jalan kaki sejaun 1.800 m menyusuri jalan setapak yang telah dibangun dengan paving block. 11 Perjalanan dari pintu masuk obyek hingga puncak bukit memang cukup mengasyikkan. Wisatawan ditantang untuk membuktikan kehandalan tenaga dengan mendaki bukit yang tingginya sekitar 175 m di atas permukaan laun. Setelah sampai di puncak, wisatawan akan menemukan sebuah bangunan berukuran 6 x 10 meter, itulah gardu pemandangan yang sengaja dibangun untuk menikmati keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan. Keindahan tersebut akan menikmati secara lebih sempurna dikala cuaca cerah. Satu lagi tempat yang menarik di Kawasan Geger Menjangan adalah sebuah makam tua yakni makan Kyai Imam Puro. Konon merupakan cerita Kyai tersebut merupakan salah satu tokoh yang besar andilnya bagi keberadaan Kabupaten Purworejo. Bahkan karena besarnya andil Kyai Imam Puro, sampai-sampai sejarahnya pernah ditawarkan menjadi tonggak hari jadi Kabupaten Purworejo. Lokasi taman wisata Geger Menjangan terletak di timur laut Kota Purworejo. Masuk dalam wilayah Kelurahan Baledono Kabupaten Purworejo. Jaraknya hanya satu kilometer dari pusat kota. Tidak perlu kendaran angkutan umum untuk mencapainya. Dengan berjalan kaki justru terasa lebih nikmat. Sayangnya, kawasan seluas 20 hektar tersebut hingga kini masih ada kendala. Panduan tentang pola pengembangannya telah ada, berupa rencana tapak kawasan lengkap dengan berbagai programnya. Juga sudah ditetapkan dalam rencana umum tata ruang kota (RUTRK) dan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Akan tetapi belum ada investor yang dengan sungguh0sungguh berani menanamkan modalnya untuk membuka usaha di kawasan ini. Untuk mencapai ke sana bisa naik angkutan jurusan Kalibata, jalan yang arah ke Magelang, dekat dengan pusat kota kabupaten. 12 BUDAYA PURWOREJO • Ndolalak • Tari jaran kepang Tentang asal-usul tarian ini amat beragam, sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari Jaran Kepang lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Maka pakaian dan para penarinya lebih modis dan menunjukkan keberadaan kaum ningrat. Penarinya pun pada umumnya adalah wanita dengan dandanan yang cantik dan lembut. 13 MAKANAN KHAS PURWOREJO • Kue Clorot Kue Clorot termasuk kue yang tergolong unik, meski pembuatanya sederhana yaitu terbuat dari adonan tepung beras dan gula merah, tetapi pada cara memasaknya di butuhkan ketrampilan dan ketelatenan yang cukup tinggi, karena adonan tersebut di masukan dalan sebuah wadah dari daun kelapa muda ( janur kuning ) yang di pilin melingkar membentuk kerucut , kemudian di kukus. Ini lho…yang namanya kue Clorot ! 14 Cara menyantap kue inipun cukup unik yaitu, pada bagian bawah kerucut kita tekan dulu dengan menggunakan jari, setelah isinya terlihat keluar baru di makan. • Dadar Gulung Ada yang menyebut kalau Kue Dadar Gulung merupakan panganan khas Malaysia (Bahasa Melayu: Kuih Ketayap; Dialek Sabah: Kuih Lenggang). Dadar Gulung bisa digolongkan sebagai pancake yang diisi dengan parutan kelapa yang dicampur dengan gula Jawa cair. Persis, isi dari Dadar Gulung (yang disebut unti) sama dengan isi dari Kue Bugis. Kulit dadar gulung bisa berwarna hijau karena diberi pewarna daun suji. Sekarang isi dari kue Dadar Gulung sudah bervariasi, ada yang mengisi dengan pisang, ada juga yang mengisi dengan nangka, atau bahkan keju. 15 • Ampyang Kelapa Ampyang ini adalah varian dari Ampyang kacang di atas. Bahan utamanya bukan lagi kacang dan gula Jawa, namun adalah daging kelapa yang diparut. kalau Ampyang Kacang populer di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Ampyang Kelapa populer di Jawa Barat, semacam di Sumedang, Garut, dan Cianjur. Biar menarik, daging kelapa itu diberi pewarna merah, hijau, kuning (seperti di gambar). Rasa manis tetap mendominasi karena gula masih digunakan sebagai perasa, namun bukan gula Jawa melainkan gula pasir. Ada yang bilang kalau Ampyang Kelapa tidak setahan lama Ampyang Kacang, ia lebih cepat melempem dan tengik. Aku terus terang tidak begitu suka karena g begitu suka dengan kelapa. 16 • Tiwul dan gagot Mungkin sudah banyak yang tahu dengan Tiwul, yang merupakan makanan pengganti nasi. Meskipun kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Tiwul merupakan penganan khas daerah Pegunung Kidul (Gunung Kidul, Pacitan, Wonogiri) yang terbuat dari Singkong. Namun sekarang tampaknya Tiwul sudah tidak lagi menjadi makanan utama, mereka sudah mulai beralih ke nasi (lagi). Tiwul (dan juga Gatot) merupakan varian dari Gaplek (Singkong yang dikeringkan). Menurut penelitian ilmiah, singkong yang telah dikeringkan (dengan proses yang bersih) justru lebih aman dikonsumsi daripada singkong biasa, karena pada saat pengeringan, racun alami pada singkong: Linamarin dan Lotaustralin (sejenis racun Sianida) akan ikut menguap. 17 Perbedaan antara Tiwul dan Gatot adalah kalau Tiwul berbahan gaplek yang masih putih, sedangkan Gatot merupakan gaplek yang sudah berwarna hitam. Awalnya memang hanya tiwul yang menjadi makanan pokok namun karena sayang untuk dibuang, Gaplek yang kurang bagus dalam pengeringan (yang berwarna hitam) di fungsikan untuk menjadi satu makanan variannya bernama Gatot. Warna hitam yang terjadi ada yang mengatakan kalau warna tersebut diakibatkan proses fermentasi dari semacam jamur (Kapang) yang tumbuh akibat proses penjemuran yang relatif lama serta disertai proses menhujan-hujankan. Sebagai jajan pasar, Tiwul dan Gatot biasa disajikan dengan parutan kelapa. • Lanting Lanting : makanan ini bahan dan bentuknya hampir sama dengan geblek, hanya saja ukurannya lebih kecil. Setelah digoreng lanting terasa lebih keras daripada geblek. Namun tetap terasa gurih dan renyah. 18 • Lapis Lapis : dari tepung beras ketan. • Kue Satu Kue satu : Makanan ini terbuat dari tepung ketan, berbentuk kotak kecil berwarna krem, dan rasanya manis. 19 PENUTUP Demikianlah buku digital yang kami buat semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya dan menambah wawasan bagi orang yang membaca buku digital ini. Dan penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak jelas, mengerti, dan lugas mohon jangan dimasukan ke dalam hati. Dan kami juga sangat mengharapkan yang membaca buku digital ini akan bertambah motivasinya dan mengapai cita-cita yang di inginkan, karena saya membuat buku digital ini mempunyai arti penting yang sangat mendalam. Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. 20

Report
DI SUSUN OLEH :
NAMA : DESI MARWIYATI
KELAS : X-PM 2
NO.
SMK N 2 PURWOREJO
: 04
Kata Pengantar
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas .
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan
dengan keindahanya daerah purworejo, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para pelajar. Saya
sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk
itu, bapak/ibu guru pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan
pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik
dan saran dari para pembaca.
Kutoarjo, 19 April 2016
Penyusun
Desi Maewiyati
1
DAFTAR ISI
1. Kata pengantar……………………………………………..
2. Sejarah purworejo………………………………………..
3. Tempat wisata yang ada di purworejo………….
4. Budaya purworejo………………………………………
5. Makanan khas purworejo…………………………….
6. Pemutup…………………………………………………….
2
1
3
6
13
14
20
 SEJARAH PURWOREJO
Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan
Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang
masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut
sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari
nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di
kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro.
Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di
tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di
kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian
pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi.
Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku)
Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu
peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah
prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.
Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk
wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum
Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto,
seberang Pom Bensin Boro.
Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada
tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari
berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang
diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau
Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari
memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu.
Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh
seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.
Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima)
dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat
suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan”. Atau para hyang berada.
Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah
Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.
3
Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang
dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika),
guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).
Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa
guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang
terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat.
Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara.
Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai
“parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.
Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15
pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala
Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang),
Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano).
Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji
patra sisi, emas dan perak. Peristiwa 5 Otober 901 M tersebut akhirnya pada tanggal 5 Oktober
1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo dipilih dan ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi
Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan
oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.
Perlu dicatat, bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal
sebagai wilayah Tanah Bagelen. Kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain, karena dalam
sejarah mencatat sejumlah tokoh. Misalnya dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah
Selatan, tokoh Sunan Geseng diknal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari
timur sungai Lukola dan pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupatn
Magelang.
Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan
andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam
sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga
nama Begelen sangat disegani.
Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikn
Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno,
Kedungkebo dan Brengkelan.
Pada periode Karesidenan Begelen ini, muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura
yang punya pengaruh sampai ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir
bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen
Jawa (GKJ).
4
Dalam perjalanan sejarah, akibat ikut campur tangannya pihak Belanda dalam bentrokan
antara para bangsawan kerajaan Mataram, maka wilayah Mataram dipecah mejadi dua kerajaan.
Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tanah Bagelen akibat Perjanjian Giyanti 13
pebruari 1755 tersebut sebagai wilayah Negara Gung juga dibagi, sebagian masuk ke Surakarta
dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh
para ahli dinilai sangat rancu diupamakan sebagai campur baur seperti “rujak”.
Dalam Perang Diponegoro abad ke XIX, wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang
pertempuran karena pangeran Diponegoro mndapat dukungan luas dari masyarakat setempat.
Pada Perang Diponegoro itu, wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam
kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen
dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten
Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam
perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah
Kadipaten Purworejo.
Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesienan
Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu
Kota Karesidenan Bagelen, statusnya menjadi Ibukota Kabupaten.
Tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di
Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjdi satu dengan kebumen
dan menjadi Kabupaten kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan
Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk administrasi Kabupaten Urut
Sewu/Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama
Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo.
Dalam perkembangan sejarahnya Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di
bidang pendidikan dan dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang
pendidikan, pertanian dan militer.
Tokoh-tokoh yang muncul antara lain WR Supratman Komponis lagu Kebangsaan
“Indonesia raya”. Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal A. Yani, Sarwo Edy Wibowo dan
sebagainya.
Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan
pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama
kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri.
5
TEMPAT WISATA DI PURWOREJO
 Pantai Ketawang
Kalau kamu ingin menikmati pantai yang masih asri dan alami di Purworejo, datang aja ke
Pantai Ketawang yang ada di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag. Dengan menempuh
perjalanan sejauh 22 km dari pusat kota, kamu sudah bisa menikmati pantai yang masih jarang
dikunjungi ini. Kalau beruntung, kamu bisa menyaksikan warga setempat yang memacu kudanya
di sini.
6
 Goa Seplawan
Purworejo juga memiliki goa alami yang menjadi salah satu daya tarik wisatanya.
Namanya Goa Seplawan. Goa ini terletak di Desa Donorejo, Kecamatan
Kaligesing, sekitar 20 km dari pusat kota; kalau kamu melewati jalan raya
Purworejo–Jogja, papan penunjuk jalan ke goa ini pasti kelihatan.
Di goa sepanjang kurang lebih 700 meter dan lebar sekitar 15 meter ini, kamu bisa menjelajah
sekalian mengamati indahnya berbagai ornamen alami yang ada di dinding goa. Di luar goa,
suasana hutan pinus yang sejuk dan asri di lereng pegunungan Menoreh bakal bikin kamu betah
berada di kawasan ini. Apalagi, tak jauh dari sini terdapat sentra durian serta kambing peranakan
etawa khas Purworejo.
7
 Curug Silangit
Tak hanya pantai dan goa, Purworejo juga menyimpan sejumlah air terjun dengan
panorama yang menawan. Salah satunya adalah curug Silangit yang terletak di Desa Somongari,
Kecamatan Kaligesing. Air terjun ini memiliki ketinggian 50 meter yang terbagi ke dalam tiga
tingkatan. Tingkatan pertama tingginya 30 meter, sementara dua tingkatan terakhir masingmasing setinggi 10 meter.
Di dasar air terjun, terdapat kedung atau kolam yang airnya sangat dalam. Kalau kamu
gak bisa berenang, lebih baik berhati-hati dan tetaplah berada di tepian. Untuk menuju ke curug
ini, aksesnya cukup mudah kok. Kamu bisa menaiki kendaraan pribadi maupun angkutan umum.
8
 Curug Muncar
Sebuah air terjun yang luar biasa indah dan belum terjamah tangan-tangan manusia
menanti untuk kamu sambangi di desa Kaliwungu, kecamatan Bruno, sekitar 45 menit dari pusat
kota. Di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, suasana yang sejuk dan hijau akan
menyergapmu. Di sinilah kamu bisa menemukan Curug Muncar yang tingginya mencapai 40
meter ini.
Untuk mencapai curug ini, kamu mesti trekking selama kurang lebih 30 menit. Tapi, sepanjang
jalur trekking kamu akan disuguhi dengan kesejukan dan panorama perbukitan yang menawan.
9

Pantai Jatimalang
Keindahan Pantai Jatimalang sudah menjadi idola para wisatawan jika sedang berkunjung
ke Purworejo. Sehingga tidak asing jika banyak di sekitar pantai sudah menjadi bangunanbangunan untuk berjualan atau sekedar menyediakan tempat istirahat para wisatawan. Pantai
Jatimalang menawarkan keindahan pantai laut selatan pulau Jawa yang dikenal memiliki ombak
yang cukup besar tetapi masih bisa digunakan untuk bermain. Pantai Jatimalang berada di Desa
Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, atau berjarak sekitar 18 km dari pusat Kota Purworejo.
10

Puncak Geger Menjangan
Merupakan kawasan wisata alam, obyek utama yang banyak dinimkati pengunjung
adalah keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan dipandang dari ketinggian puncak bukit.
Selain itu, kawasan Geger Menjangan masih menawarkan beberapa obyek rekreasi lainnya, yaitu
taman permainan anak, kolam renang dan meja bilyard. Kolam renang dan taman pemancingan
terletak di pintu masuk kawasan. Sedang meja bilyard berada di puncak bukit. Suguhan yang
lebih dikhususkan untuk kawula muda adalah arena minicross, panjat tebing dan lokasi berbagai
pertunjukan umum. Arena minicross berupa lahan cukup luas dengan kontur tanah yang sangat
menantang.
Di lokasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan umum. Sedang panjat tebih
telah dibuat secara permanen dengan konstruksi baja berketinggian 15 meter. Memandang
keindahan panorama alam dari ketinggian itulah yang ditawarkan kawasan tersebut. Keindahan
yang dapat dinikmati dengan biaya yang sangat murah dan mudah dijangkau. Keindahan
panorama memang merupakan obyek pokok yang banyak disukai masyarakat, terutama para
remaja. Untuk dapat menikmati indahnya panorama tersebut, pengunjung ditantang untuk
berolah raga jalan kaki sejaun 1.800 m menyusuri jalan setapak yang telah dibangun dengan
paving block.
11
Perjalanan dari pintu masuk obyek hingga puncak bukit memang cukup mengasyikkan.
Wisatawan ditantang untuk membuktikan kehandalan tenaga dengan mendaki bukit yang
tingginya sekitar 175 m di atas permukaan laun.
Setelah sampai di puncak, wisatawan akan menemukan sebuah bangunan berukuran 6 x
10 meter, itulah gardu pemandangan yang sengaja dibangun untuk menikmati keindahan Kota
Purworejo dan Pantai Selatan. Keindahan tersebut akan menikmati secara lebih sempurna dikala
cuaca cerah. Satu lagi tempat yang menarik di Kawasan Geger Menjangan adalah sebuah makam
tua yakni makan Kyai Imam Puro. Konon merupakan cerita Kyai tersebut merupakan salah satu
tokoh yang besar andilnya bagi keberadaan Kabupaten Purworejo. Bahkan karena besarnya andil
Kyai Imam Puro, sampai-sampai sejarahnya pernah ditawarkan menjadi tonggak hari jadi
Kabupaten Purworejo. Lokasi taman wisata Geger Menjangan terletak di timur laut Kota
Purworejo. Masuk dalam wilayah Kelurahan Baledono Kabupaten Purworejo. Jaraknya hanya
satu kilometer dari pusat kota. Tidak perlu kendaran angkutan umum untuk mencapainya.
Dengan berjalan kaki justru terasa lebih nikmat. Sayangnya, kawasan seluas 20 hektar tersebut
hingga kini masih ada kendala. Panduan tentang pola pengembangannya telah ada, berupa
rencana tapak kawasan lengkap dengan berbagai programnya. Juga sudah ditetapkan dalam
rencana umum tata ruang kota (RUTRK) dan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Akan tetapi
belum ada investor yang dengan sungguh0sungguh berani menanamkan modalnya untuk
membuka usaha di kawasan ini.
Untuk mencapai ke sana bisa naik angkutan jurusan Kalibata, jalan yang arah ke Magelang,
dekat dengan pusat kota kabupaten.
12
BUDAYA PURWOREJO
 Ndolalak

Tari jaran kepang
Tentang asal-usul tarian ini amat beragam, sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya
pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar,
Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari Jaran Kepang lebih terpengaruh
oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari
Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di
Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Maka pakaian dan para penarinya lebih
modis dan menunjukkan keberadaan kaum ningrat. Penarinya pun pada umumnya adalah wanita
dengan dandanan yang cantik dan lembut.
13
MAKANAN KHAS PURWOREJO
 Kue Clorot
Kue Clorot termasuk kue yang tergolong unik, meski pembuatanya sederhana yaitu terbuat dari
adonan tepung beras dan gula merah, tetapi pada cara memasaknya di butuhkan ketrampilan dan
ketelatenan yang cukup tinggi, karena adonan tersebut di masukan dalan sebuah wadah dari daun
kelapa muda ( janur kuning ) yang di pilin melingkar membentuk kerucut , kemudian di kukus.
Ini lho…yang namanya kue Clorot !
14
Cara menyantap kue inipun cukup unik yaitu, pada bagian bawah kerucut kita tekan dulu dengan
menggunakan jari, setelah isinya terlihat keluar baru di makan.
 Dadar Gulung
Ada yang menyebut kalau Kue Dadar Gulung merupakan panganan khas Malaysia (Bahasa
Melayu: Kuih Ketayap; Dialek Sabah: Kuih Lenggang). Dadar Gulung bisa digolongkan sebagai pancake
yang diisi dengan parutan kelapa yang dicampur dengan gula Jawa cair. Persis, isi dari Dadar Gulung
(yang disebut unti) sama dengan isi dari Kue Bugis. Kulit dadar gulung bisa berwarna hijau karena diberi
pewarna daun suji. Sekarang isi dari kue Dadar Gulung sudah bervariasi, ada yang mengisi dengan
pisang, ada juga yang mengisi dengan nangka, atau bahkan keju.
15
 Ampyang Kelapa
Ampyang ini adalah varian dari Ampyang kacang di atas. Bahan utamanya bukan lagi kacang
dan gula Jawa, namun adalah daging kelapa yang diparut. kalau Ampyang Kacang populer di
Jawa Tengah dan Yogyakarta, Ampyang Kelapa populer di Jawa Barat, semacam di
Sumedang, Garut, dan Cianjur. Biar menarik, daging kelapa itu diberi pewarna merah, hijau,
kuning (seperti di gambar). Rasa manis tetap mendominasi karena gula masih digunakan
sebagai perasa, namun bukan gula Jawa melainkan gula pasir. Ada yang bilang kalau
Ampyang Kelapa tidak setahan lama Ampyang Kacang, ia lebih cepat melempem dan tengik.
Aku terus terang tidak begitu suka karena g begitu suka dengan kelapa.
16

Tiwul dan gagot
Mungkin sudah banyak yang tahu dengan Tiwul, yang merupakan makanan pengganti nasi.
Meskipun kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan
makanan pengganti beras. Tiwul merupakan penganan khas daerah Pegunung Kidul (Gunung Kidul,
Pacitan, Wonogiri) yang terbuat dari Singkong. Namun sekarang tampaknya Tiwul sudah tidak
lagi menjadi makanan utama, mereka sudah mulai beralih ke nasi (lagi). Tiwul (dan juga Gatot)
merupakan varian dari Gaplek (Singkong yang dikeringkan). Menurut penelitian ilmiah, singkong yang
telah dikeringkan (dengan proses yang bersih) justru lebih aman dikonsumsi daripada singkong biasa,
karena pada saat pengeringan, racun alami pada singkong: Linamarin dan Lotaustralin (sejenis racun
Sianida) akan ikut menguap.
17
Perbedaan antara Tiwul dan Gatot adalah kalau Tiwul berbahan gaplek yang masih putih,
sedangkan Gatot merupakan gaplek yang sudah berwarna hitam. Awalnya memang hanya tiwul yang
menjadi makanan pokok namun karena sayang untuk dibuang, Gaplek yang kurang bagus dalam
pengeringan (yang berwarna hitam) di fungsikan untuk menjadi satu makanan variannya bernama
Gatot. Warna hitam yang terjadi ada yang mengatakan kalau warna tersebut diakibatkan proses
fermentasi dari semacam jamur (Kapang) yang tumbuh akibat proses penjemuran yang relatif lama serta
disertai proses menhujan-hujankan. Sebagai jajan pasar, Tiwul dan Gatot biasa disajikan dengan parutan
kelapa.

Lanting
Lanting : makanan ini bahan dan bentuknya hampir sama dengan geblek, hanya saja ukurannya lebih
kecil. Setelah digoreng lanting terasa lebih keras daripada geblek. Namun tetap terasa gurih dan renyah.
18
 Lapis
Lapis : dari tepung beras ketan.
 Kue Satu
Kue satu : Makanan ini terbuat dari tepung ketan, berbentuk kotak kecil berwarna krem,
dan rasanya manis.
19
PENUTUP
Demikianlah buku digital yang kami buat semoga bermanfaat bagi orang yang
membacanya dan menambah wawasan bagi orang yang membaca buku digital ini. Dan
penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak
jelas, mengerti, dan lugas mohon jangan dimasukan ke dalam hati.
Dan kami juga sangat mengharapkan yang membaca buku digital ini akan bertambah
motivasinya dan mengapai cita-cita yang di inginkan, karena saya membuat buku digital
ini mempunyai arti penting yang sangat mendalam.
Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.
20

similar documents