NURUL AULIA X PM 2

BUKU DIGITAL PARIWISATA KOTA PURWOREJO Di Susun Oleh: Nama : NURUL AULIYA Kelas : X pemasaran 2 No. urut : 15 SMK NEGERI 2 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2015/2016 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan laporan tentang “PARIWISATA KOTA PURWOREJO” Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas Simulasi Digital. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth: 1. Bpk. Eka Sutakari Akhadiyanto, SKm.,MM. selaku Guru mata pelajaran Simulasi Digital 2. Orang tua saya yang telah membantu baik moril maupun materi Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari guru mata pelajaran guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang. Kutoarjo, April 2016 Penyusun NURUL AULIYA DAFTAR ISI Kata Pengantar...............................................................................................2 Daftar Isi.........................................................................................................3 BAB I PURWOREJO 1. Geografi.................................................................................................5 2. Sejarah...................................................................................................5 3. P ariwisata..............................................................................................6 BAB II Macam - Macam Pariwisata kota purworejo 1. Pantai- Pantai a. pantai ketawang...............................................................................7 b. pantai pasir puncu............................................................................8-9 c. pantai jatimalang..............................................................................10 2. goa-goa a. goa seplawan....................................................................................11-15 b. goa pencu..........................................................................................16-21 BAB III Ciri Khas Kota Purworejo 1. Durian Somongari ..................................................................................22-23 2. Pasar Kambing Etawa .............................................................................24 3. Pusat Penghasil Manggis ......................................................................25 BAB IV Curug - Curug di Purworejo 1. Curug Nabag ........................................................................................26 2. Curug Klesem........................................................................................27 3. Curug Kyai Kate....................................................................................28 4. Curug Silangit ......................................................................................29 5. Curug Muncar........................................................................................30 Kata Penutup......................................................................................................31 Purworejo purworejo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota berada di kota Purworejo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang di utara, Kabupaten Kulon Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di timur), Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Kebumen di sebelah barat. Geografi Bagian selatan wilayah Kabupaten Purworejo merupakan dataran rendah. Bagian utara berupa pegunungan, bagian dari Pegunungan Serayu. Di perbatasan dengan DIY, membujur Pegunungan Menoreh. Purworejo berada di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa. Kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api, dengan stasiun terbesarnya di Kutoarjo. Sejarah[sunting | sunting sumber] Prasasti Kayu Ara Hiwang ditemukan di Desa Boro Wetan (Kecamatan Banyuurip), jika dikonversikan dengan kalender Masehi adalah tanggal 5 Oktober 901. Ini menunjukkan telah adanya pemukiman sebelum tanggal itu.Bujangga Manik, dalam petualangannya yang diduga dilakukan pada abad ke-15 juga melewati daerah ini dalam perjalanan pulang dari Bali ke Pakuan. Sampai sekarang, kapan tepatnya tanggal ulang tahun berdirinya Kabupaten Purworejo, masih jadi bahan perdebatan. Ada yang berpatokan pada pada tanggal prasasti diatas, ada juga yang berpatokan pada diangkatnya bupati Purworejo I pada 30 Juni 1830. Pada masa Kesultanan Mataram hingga abad ke-19 wilayah ini lebih dikenal sebagai Bagelen (dibaca /ba•gə•lɛn/). Saat ini Bagelen malah hanya merupakan kecamatan di kabupaten ini. Setelah Kadipaten Bagelen diserahkan penguasaannya kepada Hindia-Belanda oleh pihak Kesultanan Yogyakarta (akibat Perang Diponegoro), wilayah ini digabung ke dalam Karesidenan Kedu dan menjadi kabupaten. Belanda membangun pemukiman baru yang diberi nama Purworejo sebagai pusat pemerintahan (sampai sekarang) dengan tata kota rancangan insinyur Belanda, meskipun tetap mengambil unsur-unsur tradisi Jawa. Kota baru ini adalah kota tangsi militer, dan sejumlah tentara Belanda asal Pantai Emas (sekarang Ghana),Afrika Barat, yang dikenal sebagai Belanda Hitam dipusatkan pemukimannya di sini. Sejumlah bangunan tua bergaya indisch masih terawat dan digunakan hingga kini, seperti Masjid Jami' Purworejo (tahun 1834), rumah dinas bupati (tahun 1840), dan bangunan yang sekarang dikenal sebagai Gereja GPIB (tahun 1879). Alun-alun Purworejo, seluas 6 hektare, konon adalah yang terluas di Pulau Jawa. Pariwisata Dalam bidang pariwisata, purworejo mengandalkan pantainya di sebelah selatan yang bernama "Pantai Ketawang", "Pantai Keburuhan (Pasir Puncu), "Pantai Jatimalang" didukung dengan gua-gua sepereti Gua Seplawan, terdapat di kecamatan Kaligesing. Goa ini banyak diminati wisatawan karena keindahan goa yang masih asli dan juga keindahan pemandangan alamnya serta hasil buah durian dan kambing ettawa sebagai salah satu ciri khas hewan ternak di Kabupaten Purworejo. Di samping itu, terdapat juga air terjun "Curug Muncar" dengan ketinggian ± 40m yang terletak di kecamatan Bruno dengan panorama alam yang masih alami.[3] Gua pencu di desa Ngandagan merupakan bentuk benteng seperti gua pada zaman Hindia Belanda, dan pada masa itu gua pencu pernah didatangi oleh Presiden Sukarno, tapi sekarang sudah tidak terawat karena kurang pedulinya aparatur pemerintahan desa. macam-macam pariwisata kota purworejo Pantai Ketawang Pantai Ketawang merupakan tempat wisata di Purworejo yang masih asri dan natural. Masih sedikit bangunan yang menunjang akses pantai meskipun terbilang cukup dekat dengan pusat kota. Keadaan pantai masih sepi pengunjung karena belum terjamah para investor, padahal potensi Pantai Ketawang sangat indah. Jika anda berkunjung ke Pantai Ketawang dan jika beruntung akan menjumpai lomba balap kuda yang diadakan warga setempat di Pantai Ketawang. Namun kegiatan ini sangat jarang anda temui karena belum menjadi kegiatan rutin warga setempat. Jika anda tertarik mengunjungi Pantai Ketawang, silahkan datang ke di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag, atau berjarak sekitar 22 km dari pusat Kota Purworejo. Pantai Pasir Puncu Halo mas/mbak....Di postigan terdahulu kita sudah bahas tentang Pantai Ketawang, sekarang kita akan bahas mengenai sebuah pantai yang juga berada di Purworejo. Namanya Pantai Pasir Puncu atau orang sekitar biasa menyebutnya Pantai Keburuhan. Disebut Pantai Keburuhan karena memang terletak di desa Keburuhan, kecamatan Ngombol, kabupaten Purworejo. Secara geografis letak Pantai Pasir Puncu terletak sekitar 4 km disebelah timur dari Pantai Ketawang. Kalau dari pusat kota Purworejo sekitar 22 km ke arah baratdaya. Akses menuju pantai sangat mudah, bisa dilalui kendaraan roda 2 dan kendaraan roda 4. Tapi untuk kendaraan roda 4 tidak bisa sampai ke pantainya. Karena sebelum mencapai pantai kita harus melewati jembatan dari kayu yang kira-kira lebarnya hanya 2m. Jadi kalau kita pake kendaraan roda 4, maka kita tidak bisa untuk melewati jembatan tersebut. Mau nggak mau ya harus jalan kaki dari jembatan tersebut. Tapi jangan khawatir, karena jembatan tersebut nggak jauh dari pantainya. Seperti halnya pantai-pantai selatan lainnya, Pantai Pasir Puncu punya ombak yang besar. Suasana di pantai ini sangat tenang karena masih termasuk pantai tradisional yang masih alami. Cocoklah kalau sekedar jadi tempat penghilang stres sambil menikmati pemandangan laut yang indah. Di pantai ini juga dijadikan tempat pelelangan ikan oleh nelayan setempat. Kita juga bisa jalan-jalan di pinggir pantai menyusuri lorong ditengah rimbunnya pohon cemara. Di Pantai Pasir Puncu tidak ada biaya masuk alias gratis, paling cuma bayar parkir doank. Jadi buat yang mau main kepantai ini nggak usah khawatir ga punya duit buat masuk. Kalau ke pantai ini pada hari-hari biasa suasananya cenderung sepi. Yang agak rame kalau kita datang di pagi hari pada hari Minggu atau hari libur lainnya. Suasana paling ramai bisa kita temui kalau pas suasana lebaran. Pantai Jatimalang Keindahan Pantai Jatimalang sudah menjadi idola para wisatawan jika sedang berkunjung ke Purworejo. Sehingga tidak asing jika banyak di sekitar pantai sudah menjadi bangunan-bangunan untuk berjualan atau sekedar menyediakan tempat istirahat para wisatawan. Pantai Jatimalang menawarkan keindahan pantai laut selatan pulau Jawa yang dikenal memiliki ombak yang cukup besar tetapi masih bisa digunakan untuk bermain. Pantai Jatimalang berada di Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, atau berjarak sekitar 18 km dari pusat Kota Purworejo. Goa Seplawan, Keindahan Panorama Bawah Tanah di Pegunungan Menoreh Keindahan goa seplawan dengan panjang lebih dari 750 meter ini wajib anda selusuri. Berada di ketinggian sekitar 900 mdpl pegunungan menoreh selain menawarkan keindahan pesona alam bawah tanah juga pemandangan alam pegunungan sejuk nan indah. Jika berencana berwisata ke Yogyakarta dan mencari alternatif tempat wisata yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, maka datanglah di wisata alam pegunungan menoreh tepatnya di kawasan wisata Goa Seplawan di Desa Donorejo. Berada di ketinggian sekitar 900an mdpl menjadikan tempat ini begitu sejuk. Keindahan Goa Seplawan Goa seplawan terletak di pegunungan menoreh yang membentang dari kecamatan Bagelen Purworrejo hingga kabupaten Magelang. Dan goa seplawan masuk wilayah kabupaten Purworejo Jawa Tengah dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan kabupaten Kulonprogo Yogyakarta.Lokasi Goa Seplawan Tepatnya berada di desa Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo Jawa Tengah. Memasuki kawasan wisata Goa Seplawan, hawa sejuk begitu terasa disini. Lokasi goa seplawan berada tak jauh dari area parkir, pengunjung cukup berjalan beberapa meter saja. Sebelum memasuki goa seplawan, pengunjung akan disuguhi patung besar replika arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Dulu, Sekitar tahun 1979 bersamaan ditemukannya goa Seplawan kala itu ditemukan pula patung emas dan berdasarkan identifikasi ahli sejarah waktu itu merupakan patung Dewa Siwa dan Parwati. Saat ini patung tersebut disimpan di museum Nasional Jakarta dan sebagai tanda ditemukan benda bersejarah maka dibuat patung replika. Dengan ditemukannya patung tersebut menandakan bahwa goa seplawan mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Untuk Selusur goa seplawan bisa dilakukan oleh siapa saja karena sangat aman dan mudah tanpa peralatan khusus. Di dalam goa sudah tersedia lampu penerangan yang menerangi sepanjang jalur wisata goa seplawan. Untuk menuju mulut goa harus melewati jalan paving yang melingkar dan menurun. Untuk menuju goa pengunjung harus menuruni tangga yang tersedia. Berada di mulut goa anda sudah merasakan keajaiban alam berupa stalaktit dan stalakmit yang beraneka ragam nan indah. Berjalan beberapa meter pengunjung akan mendapati sebuah kolam dengan airnya yang jernih. Perjalanan tidak berhenti disini, karena ini baru awal. Untuk melanjutkan selusur goa seplawan, pengunjung harus naik tangga kecil dan masuk lorong goa yang bisa dilalui satu orang saja. Namun setelah melewati lorong tersebut, pengunjung akan melihat keindahan goa seplawan. Pengunjung akan terkagum-kagum karena ternyata goa seplawan memiliki diameter yang besar dan memanjang sepanjang lebih dari 700 meter. Goa seplawan ini memiliki jalur buntu, karena tidak ada tembusan ke titik tertentu. Jadi untuk keluar goa harus jalan balik dan keluar melalui pintu masuk. Goa ini memiliki cabang-cabang yang banyak, dan cabang-cabang tersebut tidak disediakan lampu penerangan karena beberapa jalur tersebut berupa goa vertikal dan ada juga yang berlumpur sehingga sering disebut istana lumpur. Untuk memasuki cabang goa tersebut harus membawa alat penerangan sendiri dan harus dengan pemandu. Pemandangan Alam Yang Mempesona Selain keindahan goa alam sendiri, pemandangan alam di kawasan juga sangat indah. Anda bisa melihat kota Jogja dari gardu pandang goa seplawan. Dari gardu Pandang bisa juga melihat waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo. Bahkan jika naik kepuncak sisi kanan dari gardu Pandang, jika cuaca cerah bisa menyaksikan 5 gunung sekaligus yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Jam Buka Dan Harga Tiket Masuk Pengunjung bisa datang kapan saja di goa ini. Untuk jam buka goa seplawan sendiri mulai dari jam 08.00 pagi hingga pukul 17.00. Goa seplawan biasanya ramai dikunjungi di hari sabtu atau minggu ataupun hari llibur atau musim liburan. Untuk tarif tiket masuk Goa Seplawan sangat murah yaitu sekitar Rp.3.000 rupiah dan tarif parkir Rp. 2000 . Sangat murah bukan? Lokasi Dan Rute Menuju Goa Seplawan Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo berbatasan langsung dengan kabupaten Kulonprogo. Bila pengunjung dari arah kota Yogyakarta maka bisa mengambil rute ke arah Samigaluh melalui jalan Godean. Kemudian lurus ke arah Goa Kiskendo. Setelah sampai goa Kiskendo lihat papan petunjuk arah menuju Goa Seplawan / Purworejo. Maka anda cukup mengikuti jalan tersebut dan anda akan sampai di Goa Seplawan. Fasilitas goa seplawan sudah lumayan lengkap mulai dari area parkir, kamar mandi dan WC, Mushola dan tersedia warung-warung sehingga jika lapar setelah selusur goa bisa memesan makanan sembari menikmati keindahan dan kesejukan kawasan goa seplawan. SEPENGGAL CERITA SEPUTAR KUNJUNGAN PRESIDEN SOEKARNO KE GOA PENCU DESA NGANDAGAN TAHUN 1947 Sebuah desa yang tenang, dengan kondisi geografi berupa hamparan sawah dan perbukitan. Desa Ngandagan, terletak di sebelah barat laut Kabupaten Purworejo. Siapa yang menyangka bahwa Desa ini pada jaman kejayaanya sekitar tahun 1947, merupakan satu-satunya desa di Kecamatan Pituruh yang pernah dikunjungi oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno. Mengapa Presiden Soekarno sampai berkunjung ke Desa Ngandagan ? Dibawah kepemimpinan seorang Glondhong (lurah) yang jujur, cerdas, bijaksana dan “mumpuni” bernama Sumotirto dengan nama kecil Mardikun (1946-1963) Desa Ngandagan menjadi sebuah desa percontohan yang sangat terkenal. Tidak heran para pejabat pemerintahan dengan mobilnya yang saat itu merupakan barang langka sering terlihat hilir mudik mengunjungi Desa itu. Dari sekedar rekreasi hingga yang bertujuan melakukan peninjauan. Belum lagi kunjungan murid-murid sekolah maupun masyarakat umum dari berbagai daerah. Bahkkan tidak heran ketika itu tahun 1960 seorang mahasiswa pernah melakukan penelitian (1961-1981) hasilnya : Land Reform in a Javanese Village Ngandagan : a case study on the role of Lurah in decision making prosess dan pada tahun 2009 kembali muncul dengan Judul Dari Desa ke Agenda Bangsa (Dari Ngandagan Jawa Tengah sampai Porto Alegre Brazil) siapa lagi penulisnya kalau bukan (Dr. HC) Ir. Gunawan Wiradi M. Soc. S.c yang cukup dikenal di IPB Bogor. Hamparan sawah yang menghijau di Desa Ngandagan Melalui cerita dari saksi hidup antara lain menyebutkan bahwa dibawah kepemimpinan Glondhong Sumotirto tidak ada warga desa yang malas (bhs jawa gembeng), tidak ada maling berani mengusik ketentraman desa. Yang membuat saya merinding “tidak ada rumput yang boleh tumbuh megotori jalan Desa Ngandagan”. Walaupun terkesan otoriter dan disiplin semua warga desa saat itu merasakan kemakmuran dan ketentraman. Jadilah Desa Ngandagan menjadi Desa percontohan, sepanjang jalan yang bersih ditaburi kerikil, kiri-kanan jalan ditanami pohon Pepaya Unggul berbuah sangat lebat dan besar-besar. Dari kejauhan bukit yang menghijau ditanami pohon jeruk dan buahnya juga sangat lebat, dibawahnya terdapat kolam ikan dengan airnya yang sangat jernih. Dan di ujung bukit yang kelihatan “mecucu” karena terletak di ketinggian, terdapat tempat peristirahatan Gua Gunung Pencu. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana pemikiran seorang lurah yang sangat maju di jaman itu, jika dikaitkan dengan konsep Desa Wisata yang tengah digembar-gemborkan, diwacanakan, namun belum bisa diwujudkan hingga sekarang. Ternyata berpuluh-puluh tahun yang silam telah dicontohkan dengan sempurna oleh seorang Glondhong bernama Sumotirto tanpa meminta bantuan dari pemerintah alias berdikari. Mengapa warga Desa Ngandagan saat itu sangat menghormati dan mencintai kepemimpinan beliau ? Jawabanya adalah karena beliau memimpin melalui pendekatan kesejahteraan, kejujuran, disiplin dan pemberian sanksi yang keras. Sebagai contoh jika ada warga yang akan mantu atau khitanan, maka beliau akan meminta perangkat desa mendata siapa-siapa yang akan mantu atau khitanan. Setelah didata maka beliau sendiri yang akan menanggung biaya hajatan dan khitanan tersebut secara masal. Ini sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi warga di luar desa yang akan mengunjungi Desa Ngandagan. Yang terkenal hingga saat ini beliau pernah menikahkan 21 orang pasangan pengantin. Warga Desa Ngandagan benar-benar merasa diayomi sang pemimpin mereka. Hasil pertanianpun tidak boleh dijual kepada tengkulak, tetapi harus dijual ke pasar. Jika ada warga yang masih tinggal di gunung, maka akan dibantu dipindahkan ke tanah desa dan dibantu membangun rumahnya atau istilah kerennya resettlement . Jika ada pencuri yang tertangkap di desanya maka pencuri itu akan beliau bina, menjadi orang baik dan bila perlu dicarikan jodoh dari warga Desa Ngadagan. Jika masih ada warganya yang nempur beras untuk makan, maka beliau tidak segan akan memberinya bantuan beras. Melalui Land reform kepemilikan tanah diupayakan supaya lebih adil antara lain dengan cara memberikan tanah garapan kepada rakyat miskin dan Tunakisma. Tanah desa tidak boleh dijual kepada orang dari luar desa (beberapa desa masih menerapkan aturan ini hingga sekarang). Karena akan terkait dengan sumbangan tenaga kerja pemilik tanah yang harus disumbangkan kepada kemajuan desa istilah orang kampung “kerigan/kerja bakti”. Beliau ini juga terkenal sebagai penggemar seni dan juga mempunyai jiwa seni. Untuk menarik para pengunjung beliu juga tidak segan menanggap berbagai kesenian tradisional untuk menghibur warganya maupun warga dari luar Desa Ngandagan. Konon disamping rumah beliau yang ada kaki bukit terdapat rumah panggung khusus untuk menggelar/menanggap kesenian tradisional seperti wayang kulit, wayang orang dan kethoprak. Ketenaran Desa Ngandagan sebagai desa percontohan memberikan daya tarik tersendiri bagi Presiden Soekarno kala itu. Ir. Soekarno mengunjungi Desa Ngandagan pada tahun 1947. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk meninjau keberhasilan proyek pertanian jeruk dan perikanan di Desa Ngandagan. Selain itu ada cerita juga bahwa Presiden Soekarno dan Glondhong Sumotirto pernah belajar pada "Guru" yang sama. Sebagaiman layaknya ketika suatu daerah akan mendapat kunjungan dari Sang Presiden. Sepanjang jalan dari arah Kemiri sampai Pituruh didirikan posko-posko penyambutan. Beragam kesenian tradisional memamerkan kepiawaiannya. Bermacam-macam hasil pertanian unggulan dipamerkan dan warga yang berminat dipersilahkan menikmati secara cuma-cuma. Ketika rombongan Presiden Ir. Soekarno tiba di Desa Ngandagan, ribuan rakyat pengagum beliau berdesak-desakan untuk turut menyambut ataupun hanya sekedar ingin melihat langsung sosok Presiden yang mereka puja itu. Dalam pidatonya beliau memuji kemandirian Warga Desa Ngandagan bersama Glondhong Sumotirto dalam membangun desanya. Dalam pidato/dialognya dengan warga desa, kurang lebih “Aku kudu nganggo basa krama apa ngoko ? serentak dijawab ngoko…!!. Desa Ngadagan pancen hebat, ora perlu bantuan saka pemerintah nanging bisa dadi desa kang maju….Berlangsunglah dialog rakyat dengan Presiden di depan rumah Glondhong Sumotirto. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian rakyat yang tidak henti-hentinya menunjukkan kebolehan mereka. Kunjungan dilanjutkan dengan meninjau tempat peristirahatan Gunung Pencu. Presiden Soekarno kembali menguji kepandaian warga desa. “Ayo sapa sing bisa nulis jenengku …maju ! Maka majulah salah seorang sukarelawan menulis Sukarno dengan aksara jawa. Namun ada kesalahan dalam menulis nama Soekarno, karena didepan huruf “Sa” yang disuku kelebihan huruf “Ha”, sehingga bunyinya “* Sukarno” dan semua yang hadir tertawa. Yang menarik Presiden Soekarno tidak marah bahkan memaklumi dan ikut tertawa. Kemudian Presiden Soekarno dengan sabar membimbingnya sambil menulis “ Sa disuku unine apa..? secara serentak masyarakat yang hadir menjawab Su…, banjur Ka dilayar Kar…, terus Na ditaling lan diwenehi tarung diwaca No… dadi wacane Su-kar-no”. Rakyat pun senang karena dibimbing Presiden Soekarno. Bapak saya sendiri juga menyaksikan beliau ketika memasuki Gua Gunung Pencu melalui pintu sebelah timur, karena pintunya cukup rendah untuk ukuran Presiden Soekarno, maka beliau harus menunduk dan melepas kopiahnya. Pintu Timur, tempat Presiden Soekarno menikmati kesejukan Gunung Pencu kini ditumbuhi semak-semak. Lorong bagian dalam batu cadasnya diselimuti lumut dan akar-akar pohon menyembul disela-selanya. Namun rangkaian kunjungan resmi tersebut hingga saat ini kurang dikenal, dan yang lebih mengemuka adalah bahwa kunjungan Presiden Soekarno ke Ngadagan (Gua Gunung Pencu) adalah untuk mengambil barang/pusaka. Ini sangat terasa ketika saya berjalan menyusuri jalan setapak ke Gua Gunung Pencu, langsung ditanya "Mas..badhe pados "barang/pusaka" tinggalane Pak Presiden Soekarno napa ?. Ternyata lubang galian yang menganga di tengah lorong Gua terkait dengan pertanyaan itu. Saya hanya bisa geleng kepala, jaman begini masih ada saja orang-orang seperti itu. Prasasti Perjuangan 1945 sampai kapan mampu bertahan ? Itulah sekelumit cerita seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan yang saya peroleh dari cerita saksi hidup, ketika kembali mengunjungi Gua Gunung Pencu pada bulan Mei 2010. Bagaimanapun Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan tidak terlepas dari keberhasilan Glondhong Sumotirto dalam memimpin Desa Ngadagan. Pola kepemimpinan beliau dalam memajukan desa, bisa dijadikan contoh untuk memajukan pedesaan di Indonesia. Saya juga teringat ketika saya masih duduk di SD sekitar 1980 an, Gua Gunung Pencu sempat menjadi kunjungan wajib bagi para siswa. Dengan berjalan kaki perjalanan dilanjutkan ke Gua Gong, Silumbu dan Watu Lawang yang terdapat di sebelah utara Desa Ngandagan. Saya masih tergiang ketika teman-teman sebaya dengan riang belarian dikomplek Gua gunung Pencu, sambil beradu pendapat mengira-ngira setiap apa yang kami lihat. Dahulu tempat itu sangat bersih dan sejuk. Namun sayang saat ini kondisinya memprihatinkan. Disana sini ditumbuhi semak, beberapa bangunan hancur, dan tulisan pembangkit semangat perjuangan 45 mulai memudar tergerus hujan dan lumut. Melalui coretan ini saya berharap semoga masih ada kepedulian dari pihak-pihak terkait untuk menyelamatkan bukti peninggalan sejarah tersebut, dan kalau kita mau mempelajari konsep pengembangan Desa Ngadagan waktu itu, potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata alternatif di Purworejo sangat memungkinkan. Ciri khas kota purworejo Durian Somongari Tak diragukan lagi buah durian termasuk buah yang sangat populer di Indonesia. Selain rasanya yang khas, baunya pun sangat merangsang bagi yang menyukai buah durian. Beberapa kecamatan di Kabupaten Purworejo merupakan penghasil utama buah durian seperti Kec. Kaligesing, Kec. Bruno, Kec. Bener, dan Kec. Loano. Durian Purworejo memiliki ciri khusus bila dibanding durian daerah lain. Yang membedakannya antara lain bentuknya bulat telur dengan warna hijau kekuning-kuningan, durinya pendek dan rapat, serta rasanya manis kepahit-pahitan. Meskipun kulitnya tipis sekitar 3 mm, namun agak sulit dibelah. Bobotnya berkisar antara 1-4 kg per buah, dalam setiap buah ada lima juring (ruang) yang berisi 5-10 daging buah. Daging buah berwarna kuning dan tebal, seratnya halus, kadar airnya sedikit sehingga baunya cukup menyengat hidung. Hasil buah durian Purworejo melimpah sekitar bulan November sampai dengan bulan Februari setiap tahunnya. Di kota Purworejo hampir di sepanjang jalan dan pasar terdapat orang berjualan durian bila musimnya tiba. Sementara bagi konsumen luar kota seperti Yogya, Magelang, dan kota sekitarnya Purworejo menjadi tujuan utama memborong durian baik untuk dijual lagi maupun untuk dimakan sendiri. Kemasyhuran Purworejo sebagai penghasil durian tak diragukan lagi sehingga bila musim durian tiba kota Purworejo identik dengan kota durian. Diestimasi perputaran bisnis buah durian ini per musim berkisar antara 15 hingga 20 milyar rupiah. PASAR KAMBING ETAWA KALIGONO KALIGESING Purworejo sangat terkenal dengan Kambing etawa ,selain terkenal juga dengan durian yang sangat nikmat, pasar kambing etawa di kaligono dibangun sesuai tuntutan kebutuhan kambing etawa yang semakin banyak dan perlu di budidayakan. Jadi sekarang dikaligesing ada dua pasar kambing etawa, yang satu di daerah pendem atau sering disebut Pasar kambing / “Pasar Wedhus” PENDEM di daerah pandanrejo,dan yang baru bernama PASAR HEWAN KALIGONO, Pasar Hewan Kaligono juga di resmikan langsung oleh Bupati Purworejo Mahsun Zain . Jual beli di pasar hewan kaligesing yaitu di setiap Hari Selasa ,Pengunjung pun banyak yang dari dalam kota maupun luar kota . Ayo kita main kesana,kita bisa cari dan pilih - pilih kambing sepuasnya!! Kedunggubah Penghasil Manggis Super Editor : Tomi Sujatmiko | Kamis, 26 Februari 2015 | 11:08 WIB Petani mengumpulkan hasil panen manggis.(Foto: Gunarwan) PURWOREJO (KRjogja.com) – Desa Kedunggubah di Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, merupakan desa penghasil manggis super. Baik super kualitas, rasa hingga kualitas pohon sehingga banyak diminati konsumen. Bahkan dari luar daerah setiap musim panen banyak yang berdatangan di desa ini untuk berburu manggis. “Mereka datang ke Kedungguban setiap musim panen seperti sekarang ini,” kata Paini Pujo Wiyanto (60) petani manggis warga Dusun Blekokan Kedunggubah, Kamis (26/02/2015). Para penggemar manggis yang datang dari Tasikmalaya, Semarang, Solo, Yogja, dan daerah lain itu menurut Paini Pujo Wiyanto, mengincar manggis Kedunggubah karena rasa manisnya yang khas, kulit halus, dan buahnya yang lebih putih. Supriyati (40) juga petani manggis Desa Kedunggubah menambahkan, untuk menjaga kepercayaan pengunjung, petani selalu menjaga kuwalitas dengan perawatan pohon secara alami. Juga jenjaga buah hingga musim panen. Tidak menggunakan pupuk kimia. “Saat melakukan petik, juga dilakukan secara hati-hati agar tidak jatuh,” tandasnya. Dengan menggunakan alat petik tradisional yang terbuat dari bambu, kata Supriyati, selain buah manggis tidak rusak, juga rasanya tetap manis dan kulit tidak mengeras. “Jika buah manggis sampai jatuh, maka getah manggis akan kotor sehingga rasanya menjadi pahit dan kulit mengeras,” jelasnya seraya menambahkan, harga manggis di petani berkisar antara Rp.7000 hingga Rp.10.000 per kg. (Nar) Selain Ciri Khasnya yang terkenal curug-curug dipurworejo juga terkenal loh CURUG DI PURWOREJO 1. Curug Nabag Curug nabag ini berlokasi di Desa Benowo, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Curug ini masih sepi pengunjung, karena jalan yang rusak, menanjak, curam dan bertebing. Untuk bisa ke curug ini memang dibutuhkan tenaga ekstra dan niat, apalagi kalau panjenengan sesampai disana hanya bisa melihat curug dari jarak tertentu karena akses langsung ke curugnya belum ada. Akantetapi rasa capek panjenengan akan dibayar lunas oleh pemandangan eksotis yang ditawarkan sepanjang jalan ke curug nabag, yakni perbukitan menoreh. 2. Curug Klesem Tidak jauh dari Curug Nabag, terdapat curug yang juga belum banyak dikunjungi manusia, curug itu bernama Curug Klesem. Berbeda dengan curug nabag, panjenengan bisa merasakan langsung airnya. 3 Curug Kyai Kate Curug ini terletak di desa Gunung Condong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Butuh lebih dari 1 jam dari pusat kota Purworejo untuk sampai ke lokasi. Tidak seperti curug-curug sebelumnya, tracking menuju ke lokasi cukup mudah berupa turunan dan relative mudah dilalui. Curug yang memiliki ketinggian kurang lebih 25 meter ini sering dikunjungi warga setempat sekadar untuk memancing, tapi untuk pengunjung luar masih belum banyak. Panjenengan bisa merasakan derasnya air terjun dan panjenengan juga bisa bermain ala india-indiaan disana, ciprat-cipratan basah. 4 Curug Silangit Sumber: telusurindonesia.com Curug Silangit termasuk curug yang unik karena memiliki tiga tingkatan terjunan. Terjunan pertama berada pada ketinggian sekitar 30 meter. Terjunan ketiga dikenal dengan nama Curug Siklotok. Kedalaman dari curug ini sendiri sekitar lima meter. Lokasinya terletak di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Jarak tempuhnya sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Purworejo. Untuk sampai ke curug ini, Panjenengan tidak perlu khawatir akan kesulitan menemukan lokasi. Curug ini terletak di tidak jauh dari tepi jalan raya Kaligesing dan bisa ditempuh menggunakan transportasi umum. Untuk menuji ke lokasi, Panjenengan perlu berjalan sekitar empat kilometer. Tiket masuk lokasi Curug Silangit tergolong murah, hanya Rp2.500 per orang. 5. Curug Muncar Sumber: spadepicnic.wordpress.com Curug ini terletak di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno. Dari pusat kota Purworejo, Panjenengan perlu menempuh jarak sekitar 45 kilometer ke arah barat laut. Letak air terjun ini pada ketinggian 900 meter di atas permukaan air laut. Curug ini cukup tinggi, kurang lebih 40 meter. Curug ini menawarkan pemandangan pepohonan dan tebing-tebing yang indah. Lokasinya yang relatif menanjak membuat para pengunjung untuk mempersiapkan ekstra tenaga. KATA PENUTUP Demikianlah BUKU DIGITAL yang kami buat semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya dan menambah wawasan bagi orang yang membaca BUKU DIGITAL ini. Dan penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak jelas, mengerti, dan lugas mohon jangan dimasukan ke dalam hati. Dan kami juga sangat mengharapkan yang membaca BUKU DIGITAL ini akan bertambah motivasinya dan mengapai cita-cita yang di inginkan, karena saya membuat BUKU DIGITAL ini mempunyai arti penting yang sangat mendalam. Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Ttd Nurul Aulia

Report
BUKU DIGITAL
PARIWISATA KOTA PURWOREJO
Di Susun Oleh:
Nama : NURUL AULIYA
Kelas : X pemasaran 2
No. urut : 15
SMK NEGERI 2 PURWOREJO
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Page 1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya
saya dapat menyelesaikan laporan tentang “PARIWISATA KOTA PURWOREJO” Laporan ini
disusun sebagai salah satu tugas Simulasi Digital.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth:
1. Bpk. Eka Sutakari Akhadiyanto, SKm.,MM. selaku Guru mata pelajaran Simulasi Digital
2. Orang tua saya yang telah membantu baik moril maupun materi
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari sempurna, baik dari segi
penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun, khususnya dari guru mata pelajaran guna menjadi acuan dalam bekal
pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Kutoarjo, April 2016
Penyusun
NURUL AULIYA
Page 2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar...............................................................................................2
Daftar Isi.........................................................................................................3
BAB I PURWOREJO
1. Geografi.................................................................................................5
2. Sejarah...................................................................................................5
3. P ariwisata..............................................................................................6
BAB II Macam - Macam Pariwisata kota purworejo
1. Pantai- Pantai
a. pantai ketawang...............................................................................7
b. pantai pasir puncu............................................................................8-9
c. pantai jatimalang..............................................................................10
2. goa-goa
a. goa seplawan....................................................................................11-15
b. goa pencu..........................................................................................16-21
BAB III Ciri Khas Kota Purworejo
1. Durian Somongari ..................................................................................22-23
2. Pasar Kambing Etawa .............................................................................24
3. Pusat Penghasil Manggis ......................................................................25
BAB IV Curug - Curug di Purworejo
1. Curug Nabag ........................................................................................26
2. Curug Klesem........................................................................................27
3. Curug Kyai Kate....................................................................................28
4. Curug Silangit ......................................................................................29
5. Curug Muncar........................................................................................30
Kata Penutup......................................................................................................31
Page 3
Purworejo
purworejo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota
berada di kota Purworejo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten
Wonosobo dan Kabupaten Magelang di utara, Kabupaten Kulon
Progo (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di timur), Samudra Hindia di
selatan, serta Kabupaten Kebumen di sebelah barat.
Page 4
Geografi
Bagian selatan wilayah Kabupaten Purworejo merupakan dataran rendah. Bagian utara berupa
pegunungan, bagian dari Pegunungan Serayu. Di perbatasan dengan DIY,
membujur Pegunungan Menoreh.
Purworejo berada di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa. Kabupaten ini juga dilintasi jalur
kereta api, dengan stasiun terbesarnya di Kutoarjo.
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Prasasti Kayu Ara Hiwang ditemukan di Desa Boro Wetan (Kecamatan Banyuurip), jika
dikonversikan dengan kalender Masehi adalah tanggal 5 Oktober 901. Ini menunjukkan telah
adanya pemukiman sebelum tanggal itu.Bujangga Manik, dalam petualangannya yang diduga
dilakukan pada abad ke-15 juga melewati daerah ini dalam perjalanan pulang
dari Bali ke Pakuan. Sampai sekarang, kapan tepatnya tanggal ulang tahun berdirinya
Kabupaten Purworejo, masih jadi bahan perdebatan. Ada yang berpatokan pada pada tanggal
prasasti diatas, ada juga yang berpatokan pada diangkatnya bupati Purworejo I pada 30 Juni
1830.
Pada masa Kesultanan Mataram hingga abad ke-19 wilayah ini lebih dikenal
sebagai Bagelen (dibaca /ba·gə·lɛn/). Saat ini Bagelen malah hanya merupakan kecamatan di
kabupaten ini.
Setelah Kadipaten Bagelen diserahkan penguasaannya kepada Hindia-Belanda oleh
pihak Kesultanan Yogyakarta (akibat Perang Diponegoro), wilayah ini digabung ke
dalam Karesidenan Kedu dan menjadi kabupaten. Belanda membangun pemukiman baru yang
diberi nama Purworejo sebagai pusat pemerintahan (sampai sekarang) dengan tata kota
rancangan insinyur Belanda, meskipun tetap mengambil unsur-unsur tradisi Jawa. Kota baru ini
adalah kota tangsi militer, dan sejumlah tentara Belanda asal Pantai Emas (sekarang
Ghana),Afrika Barat, yang dikenal sebagai Belanda Hitam dipusatkan pemukimannya di sini.
Sejumlah bangunan tua bergaya indisch masih terawat dan digunakan hingga kini, seperti
Masjid Jami' Purworejo (tahun 1834), rumah dinas bupati (tahun 1840), dan bangunan yang
sekarang dikenal sebagai Gereja GPIB (tahun 1879).
Alun-alun Purworejo, seluas 6 hektare, konon adalah yang terluas di Pulau Jawa.
Page 5
Pariwisata
Dalam bidang pariwisata, purworejo mengandalkan pantainya di sebelah selatan yang
bernama "Pantai Ketawang", "Pantai Keburuhan (Pasir Puncu), "Pantai Jatimalang"
didukung dengan gua-gua sepereti Gua Seplawan, terdapat di kecamatan Kaligesing. Goa ini
banyak diminati wisatawan karena keindahan goa yang masih asli dan juga keindahan
pemandangan alamnya serta hasil buah durian dan kambing ettawa sebagai salah satu ciri
khas hewan ternak di Kabupaten Purworejo.
Di samping itu, terdapat juga air terjun "Curug Muncar" dengan ketinggian ± 40m yang
terletak di kecamatan Bruno dengan panorama alam yang masih alami.[3] Gua pencu di desa
Ngandagan merupakan bentuk benteng seperti gua pada zaman Hindia Belanda, dan pada
masa itu gua pencu pernah didatangi oleh Presiden Sukarno, tapi sekarang sudah tidak
terawat karena kurang pedulinya aparatur pemerintahan desa.
Page 6
macam-macam pariwisata kota purworejo
Pantai Ketawang
Pantai Ketawang merupakan tempat wisata di Purworejo yang masih asri dan natural. Masih
sedikit bangunan yang menunjang akses pantai meskipun terbilang cukup dekat dengan pusat
kota. Keadaan pantai masih sepi pengunjung karena belum terjamah para investor, padahal
potensi Pantai Ketawang sangat indah. Jika anda berkunjung ke Pantai Ketawang dan jika
beruntung akan menjumpai lomba balap kuda yang diadakan warga setempat di Pantai
Ketawang. Namun kegiatan ini sangat jarang anda temui karena belum menjadi kegiatan rutin
warga setempat. Jika anda tertarik mengunjungi Pantai Ketawang, silahkan datang ke di Desa
Ketawang, Kecamatan Grabag, atau berjarak sekitar 22 km dari pusat Kota Purworejo.
Page 7
Pantai Pasir Puncu
Halo mas/mbak....Di postigan terdahulu kita sudah bahas tentang Pantai Ketawang, sekarang
kita akan bahas mengenai sebuah pantai yang juga berada di Purworejo. Namanya Pantai Pasir
Puncu atau orang sekitar biasa menyebutnya Pantai Keburuhan. Disebut Pantai Keburuhan
karena memang terletak di desa Keburuhan, kecamatan Ngombol, kabupaten Purworejo.
Secara geografis letak Pantai Pasir Puncu terletak sekitar 4 km disebelah timur dari Pantai
Ketawang. Kalau dari pusat kota Purworejo sekitar 22 km ke arah baratdaya. Akses menuju
pantai sangat mudah, bisa dilalui kendaraan roda 2 dan kendaraan roda 4. Tapi untuk
kendaraan roda 4 tidak bisa sampai ke pantainya. Karena sebelum mencapai pantai kita harus
melewati jembatan dari kayu yang kira-kira lebarnya hanya 2m. Jadi kalau kita pake kendaraan
roda 4, maka kita tidak bisa untuk melewati jembatan tersebut. Mau nggak mau ya harus jalan
kaki dari jembatan tersebut. Tapi jangan khawatir, karena jembatan tersebut nggak jauh dari
pantainya.
Page 8
Seperti halnya pantai-pantai selatan lainnya, Pantai Pasir Puncu punya ombak yang besar. Suasana di
pantai ini sangat tenang karena masih termasuk pantai tradisional yang masih alami. Cocoklah kalau
sekedar jadi tempat penghilang stres sambil menikmati pemandangan laut yang indah. Di pantai ini juga
dijadikan tempat pelelangan ikan oleh nelayan setempat. Kita juga bisa jalan-jalan di pinggir pantai
menyusuri lorong ditengah rimbunnya pohon cemara.
Di Pantai Pasir Puncu tidak ada biaya masuk alias gratis, paling cuma bayar parkir doank. Jadi buat yang
mau main kepantai ini nggak usah khawatir ga punya duit buat masuk. Kalau ke pantai ini pada hari-hari
biasa suasananya cenderung sepi. Yang agak rame kalau kita datang di pagi hari pada hari Minggu atau
hari libur lainnya. Suasana paling ramai bisa kita temui kalau pas suasana lebaran.
Page 9
Pantai Jatimalang
Keindahan Pantai Jatimalang sudah menjadi idola para wisatawan jika sedang berkunjung ke
Purworejo. Sehingga tidak asing jika banyak di sekitar pantai sudah menjadi bangunanbangunan untuk berjualan atau sekedar menyediakan tempat istirahat para wisatawan. Pantai
Jatimalang menawarkan keindahan pantai laut selatan pulau Jawa yang dikenal memiliki ombak
yang cukup besar tetapi masih bisa digunakan untuk bermain. Pantai Jatimalang berada di Desa
Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, atau berjarak sekitar 18 km dari pusat Kota Purworejo.
Page 10
Goa Seplawan, Keindahan Panorama Bawah Tanah di
Pegunungan Menoreh
Keindahan goa seplawan dengan panjang lebih dari 750 meter ini wajib anda selusuri.
Berada di ketinggian sekitar 900 mdpl pegunungan menoreh selain menawarkan keindahan
pesona alam bawah tanah juga pemandangan alam pegunungan sejuk nan indah.
Jika berencana berwisata ke Yogyakarta dan mencari alternatif tempat wisata yang jauh dari
hiruk pikuk keramaian kota, maka datanglah di wisata alam pegunungan menoreh tepatnya
di kawasan wisata Goa Seplawan di Desa Donorejo. Berada di ketinggian sekitar 900an mdpl
menjadikan tempat ini begitu sejuk.
Keindahan Goa Seplawan
Page 11
Goa seplawan terletak di pegunungan menoreh yang membentang dari kecamatan Bagelen
Purworrejo hingga kabupaten Magelang. Dan goa seplawan masuk wilayah kabupaten
Purworejo Jawa Tengah dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan kabupaten
Kulonprogo Yogyakarta.Lokasi Goa Seplawan Tepatnya berada di desa Donorejo kecamatan
Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.
Memasuki kawasan wisata Goa Seplawan, hawa sejuk begitu terasa disini. Lokasi goa
seplawan berada tak jauh dari area parkir, pengunjung cukup berjalan beberapa meter saja.
Sebelum memasuki goa seplawan, pengunjung akan disuguhi patung besar replika arca emas
Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Dulu, Sekitar tahun 1979 bersamaan ditemukannya goa
Seplawan kala itu ditemukan pula patung emas dan berdasarkan identifikasi ahli sejarah
waktu itu merupakan patung Dewa Siwa dan Parwati. Saat ini patung tersebut disimpan di
museum Nasional Jakarta dan sebagai tanda ditemukan benda bersejarah maka dibuat
patung replika. Dengan ditemukannya patung tersebut menandakan bahwa goa seplawan
mempunyai nilai sejarah yang tinggi.
Page 12
Untuk Selusur goa seplawan bisa dilakukan oleh siapa saja karena sangat aman dan mudah
tanpa peralatan khusus. Di dalam goa sudah tersedia lampu penerangan yang menerangi
sepanjang jalur wisata goa seplawan. Untuk menuju mulut goa harus melewati jalan paving
yang melingkar dan menurun. Untuk menuju goa pengunjung harus menuruni tangga yang
tersedia. Berada di mulut goa anda sudah merasakan keajaiban alam berupa stalaktit dan
stalakmit yang beraneka ragam nan indah.
Berjalan beberapa meter pengunjung akan mendapati sebuah kolam dengan airnya yang
jernih. Perjalanan tidak berhenti disini, karena ini baru awal. Untuk melanjutkan selusur goa
seplawan, pengunjung harus naik tangga kecil dan masuk lorong goa yang bisa dilalui satu
orang saja. Namun setelah melewati lorong tersebut, pengunjung akan melihat keindahan
goa seplawan. Pengunjung akan terkagum-kagum karena ternyata goa seplawan memiliki
diameter yang besar dan memanjang sepanjang lebih dari 700 meter.
Goa seplawan ini memiliki jalur buntu, karena tidak ada tembusan ke titik tertentu. Jadi
untuk keluar goa harus jalan balik dan keluar melalui pintu masuk. Goa ini memiliki cabangcabang yang banyak, dan cabang-cabang tersebut tidak disediakan lampu penerangan karena
beberapa jalur tersebut berupa goa vertikal dan ada juga yang berlumpur sehingga sering
Page 13
disebut istana lumpur. Untuk memasuki cabang goa tersebut harus membawa alat
penerangan sendiri dan harus dengan pemandu.
Pemandangan Alam Yang Mempesona
Selain keindahan goa alam sendiri, pemandangan alam di kawasan juga sangat indah. Anda
bisa melihat kota Jogja dari gardu pandang goa seplawan. Dari gardu Pandang bisa juga
melihat waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo. Bahkan jika naik kepuncak sisi kanan dari
gardu Pandang, jika cuaca cerah bisa menyaksikan 5 gunung sekaligus yaitu Gunung Merapi,
Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Jam Buka Dan Harga Tiket Masuk
Pengunjung bisa datang kapan saja di goa ini. Untuk jam buka goa seplawan sendiri mulai
dari jam 08.00 pagi hingga pukul 17.00. Goa seplawan biasanya ramai dikunjungi di hari
sabtu atau minggu ataupun hari llibur atau musim liburan. Untuk tarif tiket masuk Goa
Seplawan sangat murah yaitu sekitar Rp.3.000 rupiah dan tarif parkir Rp. 2000 . Sangat murah
bukan?
Page 14
Lokasi Dan Rute Menuju Goa Seplawan
Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo berbatasan
langsung dengan kabupaten Kulonprogo. Bila pengunjung dari arah kota Yogyakarta maka
bisa mengambil rute ke arah Samigaluh melalui jalan Godean. Kemudian lurus ke arah Goa
Kiskendo. Setelah sampai goa Kiskendo lihat papan petunjuk arah menuju Goa Seplawan /
Purworejo. Maka anda cukup mengikuti jalan tersebut dan anda akan sampai di Goa
Seplawan. Fasilitas goa seplawan sudah lumayan lengkap mulai dari area parkir, kamar mandi
dan WC, Mushola dan tersedia warung-warung sehingga jika lapar setelah selusur goa bisa
memesan makanan sembari menikmati keindahan dan kesejukan kawasan goa seplawan.
Page 15
SEPENGGAL CERITA SEPUTAR KUNJUNGAN PRESIDEN
SOEKARNO KE GOA PENCU DESA NGANDAGAN TAHUN 1947
Sebuah desa yang tenang, dengan kondisi geografi berupa hamparan sawah dan perbukitan.
Desa Ngandagan, terletak di sebelah barat laut Kabupaten Purworejo. Siapa yang menyangka
bahwa Desa ini pada jaman kejayaanya sekitar tahun 1947, merupakan satu-satunya desa di
Kecamatan Pituruh yang pernah dikunjungi oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno.
Mengapa Presiden Soekarno sampai berkunjung ke Desa Ngandagan ?
Dibawah kepemimpinan seorang Glondhong (lurah) yang jujur, cerdas, bijaksana dan
“mumpuni” bernama Sumotirto dengan nama kecil Mardikun (1946-1963) Desa Ngandagan
menjadi sebuah desa percontohan yang sangat terkenal. Tidak heran para pejabat
pemerintahan dengan mobilnya yang saat itu merupakan barang langka sering terlihat hilir
mudik mengunjungi Desa itu. Dari sekedar rekreasi hingga yang bertujuan melakukan
peninjauan. Belum lagi kunjungan murid-murid sekolah maupun masyarakat umum dari
berbagai daerah. Bahkkan tidak heran ketika itu tahun 1960 seorang mahasiswa pernah
melakukan penelitian (1961-1981) hasilnya : Land Reform in a Javanese Village Ngandagan : a
case study on the role of Lurah in decision making prosess dan pada tahun 2009 kembali
muncul dengan Judul Dari Desa ke Agenda Bangsa (Dari Ngandagan Jawa Tengah sampai
Porto Alegre Brazil) siapa lagi penulisnya kalau bukan (Dr. HC) Ir. Gunawan Wiradi M. Soc. S.c
yang cukup dikenal di IPB Bogor.
Hamparan sawah yang menghijau di Desa Ngandagan
Melalui cerita dari saksi hidup antara lain menyebutkan bahwa dibawah kepemimpinan
Glondhong Sumotirto tidak ada warga desa yang malas (bhs jawa gembeng), tidak ada maling
Page 16
berani mengusik ketentraman desa. Yang membuat saya merinding “tidak ada rumput yang
boleh tumbuh megotori jalan Desa Ngandagan”. Walaupun terkesan otoriter dan disiplin semua
warga desa saat itu merasakan kemakmuran dan ketentraman.
Jadilah Desa Ngandagan menjadi Desa percontohan, sepanjang jalan yang bersih ditaburi
kerikil, kiri-kanan jalan ditanami pohon Pepaya Unggul berbuah sangat lebat dan besar-besar.
Dari kejauhan bukit yang menghijau ditanami pohon jeruk dan buahnya juga sangat lebat,
dibawahnya terdapat kolam ikan dengan airnya yang sangat jernih. Dan di ujung bukit yang
kelihatan “mecucu” karena terletak di ketinggian, terdapat tempat peristirahatan Gua Gunung
Pencu. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana pemikiran seorang lurah yang sangat maju
di jaman itu, jika dikaitkan dengan konsep Desa Wisata yang tengah digembar-gemborkan,
diwacanakan, namun belum bisa diwujudkan hingga sekarang. Ternyata berpuluh-puluh tahun
yang silam telah dicontohkan dengan sempurna oleh seorang Glondhong bernama Sumotirto
tanpa meminta bantuan dari pemerintah alias berdikari.
Mengapa warga Desa Ngandagan saat itu sangat menghormati dan mencintai kepemimpinan
beliau ? Jawabanya adalah karena beliau memimpin melalui pendekatan kesejahteraan,
kejujuran, disiplin dan pemberian sanksi yang keras. Sebagai contoh jika ada warga yang akan
mantu atau khitanan, maka beliau akan meminta perangkat desa mendata siapa-siapa yang
akan mantu atau khitanan. Setelah didata maka beliau sendiri yang akan menanggung biaya
hajatan dan khitanan tersebut secara masal. Ini sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi warga
di luar desa yang akan mengunjungi Desa Ngandagan. Yang terkenal hingga saat ini beliau
pernah menikahkan 21 orang pasangan pengantin. Warga Desa Ngandagan benar-benar
merasa diayomi sang pemimpin mereka.
Hasil pertanianpun tidak boleh dijual kepada tengkulak, tetapi harus dijual ke pasar. Jika ada
warga yang masih tinggal di gunung, maka akan dibantu dipindahkan ke tanah desa dan dibantu
membangun rumahnya atau istilah kerennya resettlement . Jika ada pencuri yang tertangkap di
desanya maka pencuri itu akan beliau bina, menjadi orang baik dan bila perlu dicarikan jodoh
dari warga Desa Ngadagan. Jika masih ada warganya yang nempur beras untuk makan, maka
beliau tidak segan akan memberinya bantuan beras. Melalui Land reform kepemilikan tanah
diupayakan supaya lebih adil antara lain dengan cara memberikan tanah garapan kepada rakyat
miskin dan Tunakisma. Tanah desa tidak boleh dijual kepada orang dari luar desa (beberapa
desa masih menerapkan aturan ini hingga sekarang). Karena akan terkait dengan sumbangan
tenaga kerja pemilik tanah yang harus disumbangkan kepada kemajuan desa istilah orang
kampung “kerigan/kerja bakti”.
Beliau ini juga terkenal sebagai penggemar seni dan juga mempunyai jiwa seni. Untuk menarik
para pengunjung beliu juga tidak segan menanggap berbagai kesenian tradisional untuk
menghibur warganya maupun warga dari luar Desa Ngandagan. Konon disamping rumah beliau
yang ada kaki bukit terdapat rumah panggung khusus untuk menggelar/menanggap kesenian
tradisional seperti wayang kulit, wayang orang dan kethoprak.
Page 17
Ketenaran Desa Ngandagan sebagai desa percontohan memberikan daya tarik tersendiri bagi
Presiden Soekarno kala itu. Ir. Soekarno mengunjungi Desa Ngandagan pada tahun 1947.
Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk meninjau keberhasilan proyek pertanian jeruk dan
perikanan di Desa Ngandagan. Selain itu ada cerita juga bahwa Presiden Soekarno dan
Glondhong Sumotirto pernah belajar pada "Guru" yang sama. Sebagaiman layaknya ketika
suatu daerah akan mendapat kunjungan dari Sang Presiden. Sepanjang jalan dari arah Kemiri
sampai Pituruh didirikan posko-posko penyambutan. Beragam kesenian tradisional
memamerkan kepiawaiannya. Bermacam-macam hasil pertanian unggulan dipamerkan dan
warga yang berminat dipersilahkan menikmati secara cuma-cuma.
Ketika rombongan Presiden Ir. Soekarno tiba di Desa Ngandagan, ribuan rakyat pengagum
beliau berdesak-desakan untuk turut menyambut ataupun hanya sekedar ingin melihat
langsung sosok Presiden yang mereka puja itu. Dalam pidatonya beliau memuji kemandirian
Warga Desa Ngandagan bersama Glondhong Sumotirto dalam membangun desanya. Dalam
pidato/dialognya dengan warga desa, kurang lebih “Aku kudu nganggo basa krama apa ngoko ?
serentak dijawab ngoko…!!. Desa Ngadagan pancen hebat, ora perlu bantuan saka pemerintah
nanging bisa dadi desa kang maju….Berlangsunglah dialog rakyat dengan Presiden di depan
rumah Glondhong Sumotirto. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian rakyat yang
tidak henti-hentinya menunjukkan kebolehan mereka.
Kunjungan dilanjutkan dengan meninjau tempat peristirahatan Gunung Pencu. Presiden
Soekarno kembali menguji kepandaian warga desa. “Ayo sapa sing bisa nulis jenengku …maju !
Maka majulah salah seorang sukarelawan menulis Sukarno dengan aksara jawa. Namun ada
kesalahan dalam menulis nama Soekarno, karena didepan huruf “Sa” yang disuku kelebihan
huruf “Ha”, sehingga bunyinya “* Sukarno” dan semua yang hadir tertawa. Yang menarik
Presiden Soekarno tidak marah bahkan memaklumi dan ikut tertawa. Kemudian Presiden
Soekarno dengan sabar membimbingnya sambil menulis “ Sa disuku unine apa..? secara
serentak masyarakat yang hadir menjawab Su…, banjur Ka dilayar Kar…, terus Na ditaling lan
diwenehi tarung diwaca No… dadi wacane Su-kar-no”. Rakyat pun senang karena dibimbing
Presiden Soekarno. Bapak saya sendiri juga menyaksikan beliau ketika memasuki Gua Gunung
Pencu melalui pintu sebelah timur, karena pintunya cukup rendah untuk ukuran Presiden
Soekarno, maka beliau harus menunduk dan melepas kopiahnya.
Page 18
Pintu Timur, tempat Presiden Soekarno menikmati kesejukan Gunung Pencu kini ditumbuhi
semak-semak. Lorong bagian dalam batu cadasnya diselimuti lumut dan akar-akar pohon
menyembul disela-selanya.
Namun rangkaian kunjungan resmi tersebut hingga saat ini kurang dikenal, dan yang lebih
mengemuka adalah bahwa kunjungan Presiden Soekarno ke Ngadagan (Gua Gunung Pencu)
adalah untuk mengambil barang/pusaka. Ini sangat terasa ketika saya berjalan menyusuri jalan
setapak ke Gua Gunung Pencu, langsung ditanya "Mas..badhe pados "barang/pusaka"
tinggalane Pak Presiden Soekarno napa ?. Ternyata lubang galian yang menganga di tengah
lorong Gua terkait dengan pertanyaan itu. Saya hanya bisa geleng kepala, jaman begini masih
ada saja orang-orang seperti itu.
Page 19
Prasasti Perjuangan 1945 sampai kapan mampu bertahan ?
Itulah sekelumit cerita seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan yang saya
peroleh dari cerita saksi hidup, ketika kembali mengunjungi Gua Gunung Pencu pada bulan Mei
2010. Bagaimanapun Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan tidak terlepas dari
keberhasilan Glondhong Sumotirto dalam memimpin Desa Ngadagan. Pola kepemimpinan
beliau dalam memajukan desa, bisa dijadikan contoh untuk memajukan pedesaan di Indonesia.
Page 20
Saya juga teringat ketika saya masih duduk di SD sekitar 1980 an, Gua Gunung Pencu sempat
menjadi kunjungan wajib bagi para siswa. Dengan berjalan kaki perjalanan dilanjutkan ke Gua
Gong, Silumbu dan Watu Lawang yang terdapat di sebelah utara Desa Ngandagan. Saya masih
tergiang ketika teman-teman sebaya dengan riang belarian dikomplek Gua gunung Pencu,
sambil beradu pendapat mengira-ngira setiap apa yang kami lihat. Dahulu tempat itu sangat
bersih dan sejuk. Namun sayang saat ini kondisinya memprihatinkan. Disana sini ditumbuhi
semak, beberapa bangunan hancur, dan tulisan pembangkit semangat perjuangan 45 mulai
memudar tergerus hujan dan lumut. Melalui coretan ini saya berharap semoga masih ada
kepedulian dari pihak-pihak terkait untuk menyelamatkan bukti peninggalan sejarah tersebut,
dan kalau kita mau mempelajari konsep pengembangan Desa Ngadagan waktu itu, potensi
untuk dikembangkan menjadi tempat wisata alternatif di Purworejo sangat memungkinkan.
Page 21
Ciri khas kota purworejo
Durian Somongari
Tak diragukan lagi buah durian termasuk buah yang sangat populer di Indonesia. Selain rasanya
yang khas, baunya pun sangat merangsang bagi yang menyukai buah durian.
Beberapa kecamatan di Kabupaten Purworejo merupakan penghasil utama buah durian seperti
Kec. Kaligesing, Kec. Bruno, Kec. Bener, dan Kec. Loano. Durian Purworejo memiliki ciri khusus
bila dibanding durian daerah lain. Yang membedakannya antara lain bentuknya bulat telur
dengan warna hijau kekuning-kuningan, durinya pendek dan rapat, serta rasanya manis
kepahit-pahitan. Meskipun kulitnya tipis sekitar 3 mm, namun agak sulit dibelah. Bobotnya
berkisar antara 1-4 kg per buah, dalam setiap buah ada lima juring (ruang) yang berisi 5-10
daging buah. Daging buah berwarna kuning dan tebal, seratnya halus, kadar airnya sedikit
sehingga baunya cukup menyengat hidung. Hasil buah durian Purworejo melimpah sekitar
bulan November sampai dengan bulan Februari setiap tahunnya.
Page 22
Di kota Purworejo hampir di sepanjang jalan dan pasar terdapat orang berjualan durian bila
musimnya tiba. Sementara bagi konsumen luar kota seperti Yogya, Magelang, dan kota
sekitarnya Purworejo menjadi tujuan utama memborong durian baik untuk dijual lagi maupun
untuk dimakan sendiri. Kemasyhuran Purworejo sebagai penghasil durian tak diragukan lagi
sehingga bila musim durian tiba kota Purworejo identik dengan kota durian. Diestimasi
perputaran bisnis buah durian ini per musim berkisar antara 15 hingga 20 milyar rupiah.
Page 23
PASAR KAMBING ETAWA KALIGONO KALIGESING
Purworejo sangat terkenal dengan Kambing etawa ,selain terkenal juga dengan durian yang
sangat nikmat,
pasar kambing etawa di kaligono dibangun sesuai tuntutan kebutuhan kambing etawa yang
semakin banyak dan perlu di budidayakan.
Jadi sekarang dikaligesing ada dua pasar kambing etawa, yang satu di daerah pendem atau
sering disebut Pasar kambing / “Pasar Wedhus” PENDEM di daerah pandanrejo,dan yang baru
bernama PASAR HEWAN KALIGONO,
Pasar Hewan Kaligono juga di resmikan langsung oleh Bupati Purworejo Mahsun Zain .
Jual beli di pasar hewan kaligesing yaitu di setiap Hari Selasa ,Pengunjung pun banyak yang dari
dalam kota maupun luar kota .
Ayo kita main kesana,kita bisa cari dan pilih - pilih kambing sepuasnya!!
Page 24
Kedunggubah Penghasil Manggis Super
Editor : Tomi Sujatmiko | Kamis, 26 Februari 2015 | 11:08 WIB
Petani mengumpulkan hasil panen
manggis.(Foto: Gunarwan)
PURWOREJO (KRjogja.com) – Desa Kedunggubah di Kecamatan Kaligesing Kabupaten
Purworejo, merupakan desa penghasil manggis super. Baik super kualitas, rasa hingga kualitas
pohon sehingga banyak diminati konsumen. Bahkan dari luar daerah setiap musim panen banyak
yang berdatangan di desa ini untuk berburu manggis.
“Mereka datang ke Kedungguban setiap musim panen seperti sekarang ini,” kata Paini Pujo
Wiyanto (60) petani manggis warga Dusun Blekokan Kedunggubah, Kamis (26/02/2015).
Para penggemar manggis yang datang dari Tasikmalaya, Semarang, Solo, Yogja, dan daerah lain
itu menurut Paini Pujo Wiyanto, mengincar manggis Kedunggubah karena rasa manisnya yang
khas, kulit halus, dan buahnya yang lebih putih.
Supriyati (40) juga petani manggis Desa Kedunggubah menambahkan, untuk menjaga
kepercayaan pengunjung, petani selalu menjaga kuwalitas dengan perawatan pohon secara alami.
Juga jenjaga buah hingga musim panen. Tidak menggunakan pupuk kimia. “Saat melakukan
petik, juga dilakukan secara hati-hati agar tidak jatuh,” tandasnya.
Dengan menggunakan alat petik tradisional yang terbuat dari bambu, kata Supriyati, selain buah
manggis tidak rusak, juga rasanya tetap manis dan kulit tidak mengeras. “Jika buah manggis
sampai jatuh, maka getah manggis akan kotor sehingga rasanya menjadi pahit dan kulit
mengeras,” jelasnya seraya menambahkan, harga manggis di petani berkisar antara Rp.7000
hingga Rp.10.000 per kg. (Nar)
Page 25
Selain Ciri Khasnya yang terkenal curug-curug dipurworejo juga terkenal loh
CURUG DI PURWOREJO
1.
Curug Nabag
Curug nabag ini berlokasi di Desa Benowo, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Curug ini
masih sepi pengunjung, karena jalan yang rusak, menanjak, curam dan bertebing. Untuk bisa ke
curug ini memang dibutuhkan tenaga ekstra dan niat, apalagi kalau panjenengan sesampai
disana hanya bisa melihat curug dari jarak tertentu karena akses langsung ke curugnya belum
ada.
Akantetapi rasa capek panjenengan akan dibayar lunas oleh pemandangan eksotis yang
ditawarkan sepanjang jalan ke curug nabag, yakni perbukitan menoreh.
Page 26
2.
Curug Klesem
Tidak jauh dari Curug Nabag, terdapat curug yang juga belum banyak dikunjungi manusia, curug
itu bernama Curug Klesem. Berbeda dengan curug nabag, panjenengan bisa merasakan
langsung airnya.
Page 27
3 Curug Kyai Kate
Curug ini terletak di desa Gunung Condong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Butuh
lebih dari 1 jam dari pusat kota Purworejo untuk sampai ke lokasi. Tidak seperti curug-curug
sebelumnya, tracking menuju ke lokasi cukup mudah berupa turunan dan relative mudah
dilalui. Curug yang memiliki ketinggian kurang lebih 25 meter ini sering dikunjungi warga
setempat sekadar untuk memancing, tapi untuk pengunjung luar masih belum banyak.
Panjenengan bisa merasakan derasnya air terjun dan panjenengan juga bisa bermain ala indiaindiaan disana, ciprat-cipratan basah.
Page 28
4 Curug Silangit
Sumber: telusurindonesia.com
Curug Silangit termasuk curug yang unik karena memiliki tiga tingkatan terjunan. Terjunan
pertama berada pada ketinggian sekitar 30 meter. Terjunan ketiga dikenal dengan nama Curug
Siklotok. Kedalaman dari curug ini sendiri sekitar lima meter.
Lokasinya terletak di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Jarak tempuhnya sekitar 16
kilometer dari pusat Kota Purworejo. Untuk sampai ke curug ini, Panjenengan tidak perlu
khawatir akan kesulitan menemukan lokasi. Curug ini terletak di tidak jauh dari tepi jalan raya
Kaligesing dan bisa ditempuh menggunakan transportasi umum.
Untuk menuji ke lokasi, Panjenengan perlu berjalan sekitar empat kilometer. Tiket masuk lokasi
Curug Silangit tergolong murah, hanya Rp2.500 per orang.
Page 29
5. Curug Muncar
Sumber: spadepicnic.wordpress.com
Curug ini terletak di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno. Dari pusat kota Purworejo,
Panjenengan perlu menempuh jarak sekitar 45 kilometer ke arah barat laut. Letak air terjun ini
pada ketinggian 900 meter di atas permukaan air laut. Curug ini cukup tinggi, kurang lebih 40
meter.
Curug ini menawarkan pemandangan pepohonan dan tebing-tebing yang indah. Lokasinya yang
relatif menanjak membuat para pengunjung untuk mempersiapkan ekstra tenaga.
Page 30
KATA PENUTUP
Demikianlah BUKU DIGITAL yang kami buat semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya dan
menambah wawasan bagi orang yang membaca BUKU DIGITAL ini. Dan penulis mohon maaf apabila ada
kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak jelas, mengerti, dan lugas mohon jangan
dimasukan ke dalam hati.
Dan kami juga sangat mengharapkan yang membaca BUKU DIGITAL ini akan bertambah motivasinya dan
mengapai cita-cita yang di inginkan, karena saya membuat BUKU DIGITAL ini mempunyai arti penting
yang sangat mendalam.
Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya.
Ttd
Nurul Aulia
Page 31

similar documents