> Posted in Berita Tagged kampoeng kompeni, mobil antiq, museum motor, rest area, sumber adventure center, sumber alam, water park, water park sumber alam Layanan Sumber Alam …– Purworejo – Gombong – Purwokerto Semarang – Magelang – Yogyakarta Semarang – Purworejo – Ajibarang Semarang – Purworejo – Majenang Yogyakarta – Purworejo – Kutoarjo – Cilacap Yogyakarta – Kebumen – Purwokerto Yogyakarta – Wonosobo – Purwokerto Yogyakarta – Wangon – Ajibarang Yogyakarta – Purworejo – Majenang Solo –… SPBU Sumber Alam Kini untuk melayani masayarakat Purworejo khususnya Kutoarjo, salah satu PO terbesar di kota Berirama ini yaitu PO. SUMBER ALAM telah membangun sebuah SPBU untuk umum. Yang terletak di Jl.P.Diponegoro No.160 Kutoarjo persis disamping Pool Pusat SUMBER ALAM Kutoarjo. SPBU ini siap melayani kebutuhan bahan bakar masyarakat khususnya masyarakat Kutoarjo. Dengan takaran yang pas dan pelayanan yang memuaskan diharapkan SPBU ini bisa memenuhi… Leave a comment Rumah Makan Sumber Alam Perubahan Tarif Tiket Bus Dan Shuttle Sumber Alam Pasca Kenaikan BBM Posted on November 20, 2014, updated on November 20, 2014 by admin Sehubungan dengan kenaikan BBM, PO Sumber Alam juga melakukan perubahan tarif tiket yang akan berlaku mulai pada hari Jum’at, tanggal 21 November 2014, Perubahan tersebut adalah sebagai berikut : Tarif Baru Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif Baru Yogyakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket di daerah antara Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto baca selengkapnya >> Posted in Berita Tagged harga AKDP, harga baru shuttle, harga baru tiket bus, harga patas semarang, kenaikan tarif, pasca bbm naik, tarif baru sumber alam Leave a comment Agen Patas AC AKDP Daftar agen bus Patas AC dengan rute Semarang – Cilacap (PP) : Agen Bus AKDP Tarif Tiket Update : 20 November 2014 Tarif Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif Yogyakarta – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto **Tarif Purwokerto – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari daerah Purwokerto sampai dengan Cikawung / Ajibarang baca selengkapnya >> Tentang Sumber Alam Sejarah Singkat Sumber Alam Perusahaan otobus Sumber Alam hingga saat ini sudah mengalami beberapa kali transformasi dalam perkembangannya. Pada kisaran tahun 1969 dibentuklah PO Tresno yang dirintis oleh Ibu Thung Tjie Hing yaitu nenek dari Bapak Judi Setijawan Hambali kemudian setelah Ibu Thung Tjie Hing mewariskan usaha tersebut kepada anak cucunya nama perusahaan tersebut berubah menjadi […] F.SOEARA KUTOARJO Kutoarjo, Perjuangan tak pernah lelah Minggu, 01 Februari 2009 Welcome to Kutoarjo,Purworejo Kutoarjo adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Purworejo, dulunya Kutoarjo adalah sebuah Kabupaten tersendiri yang berbentuk kawedanan, namun sejak tahun 1934 Kutoarjo dimasukkan dalam wilayah kabupaten Purworejo. Jejak peninggalan masih dapat dilihat di Kawedanan Kutoarjo berupa gedung kawedanan di sebelah utara alun-alun Kutoarjo. Kutoarjo memiliki luas wilayah sekitar 38 km2 dan terbagi menjadi 27 Kecamatan. Kalau anda singgah ke kota ini transportasi yang paling mudah adalah dengan menggunakan jasa kereta api, Stasiun KA Kutoarjo merupakan stasiun Kereta yang cukup besar di Jawa tengah. Sebagian besar masyarakat Kutoarjo, Purworejo atau daerah kedu sekitarnya (Magelang, Wonosobo, Kebumen) banyak yang menggunakan fasilitas jasa Kereta Api di stasiun ini untuk bepergian ke luar daerah. Akses KA paling banyak digunakan oleh masyarakat di Kutoarjo. Kalau bisa dibilang Kutoarjo hanya merupakan kota transit, karena berada pada jalur lintas Pantai Selatan Pulau Jawa. Karena adanya stasiun Kereta Api mungkin itu menjadi suatu kebangga tersendiri bagi Kota tersebut. Kutoarjo merupakan akses paling mudah apabila anda ingin melakukan perjalanan wisata, karena kota tersebut menghubungkan kota-kota tujuan wisata dengan obyek wisata yang menarik. Kalau anda ingin berwisata ke Borobudur, mungin hanya butuh waktu satu jam dari sana, kemudian Yogyakarta perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, di sebelah selatan anda dapat mengunjungi Panta Ketawang kira-kira 12 km dari kutoarjo, Pantai Glagah di Kulonprogo, Pantai Ayah di Kebumen dan Dieng Wonosobo, dan tempat-tempat wisata lainnya di daerah kedu selatan. Anda juga bisa mengunjungi Masjid Agung Purworejo, dimana disana tersimpat Bedug yang Paling Besar di Asia yang dinamakan dengan Kyai Bagelen, ataupun Gua Seplawan di daerah kaligesing serta curung Somangari yang semuanya berada di daerah Purworejo. Obyek-obyek wisata lain yang mungkin menarik adalah Curug Bruno di kecamatan Bruno sebelah Utara Kota Kutoarjo, Geger Menjangan sebuah perbukitan yang indah di Purworejo. Semua obyek-obyek wisata tersebut dapat ditempuh dengan cepat dan mudah lagi murah dari kota Kutoarjo. Kutoarjo, Purworejo juga menyediakan berbgai macam makanan khas daerah tersebut bisa anda dapatkan dengan mudah dan murah. Sate Winong, sebuah desa sentra makanan sate khas Purworejo yang terletak di desa Winong, sebelah Utara Kota Kutoarjo, anda bisa menikmati hidangan sate yang lezat dengan hawa pedesaan yang sejuk akan menambah kenikmatan. Di stasiun Purworejo anda bisa menikmati soto pak Rus, yang terkenal di Purworejo sambil menyaksikan gerbong-gerbong KA yang sesekali datang, sungguh suasana yang mungkin jarang anda dapati saat-saat ini. Jangan lupa, bagi anda yang menyukai masakan tradisional untuk singgah ke Warung Kupat Tahu bu Tulus yang ada di dekat pasar Kutoarjo, akan benar-benar memanjakan lidah anda. Bagi anda penggemar Bakso, mampir saja ke Bakso Sedap pak Sukar, di dekat perempatan Kutoarjo atau ke Bakso Siput di Purworejo, anda akan benar-benar menikmati bakso yang lezat dan khas di Kota Ini. Masih banyak masakan-masakan yang bisa anda nikmati di kutoarjo, Gudeg Mataram yang menyediakan masakan gudeg khas jogya yang benar-benar nikmat, bakmi Pak Edy buka sejak sore jam lima sore sampai malem. Kalau anda pingin melihat-lihat kota Kutoarja atau Purworejo di waktu malam, lebih baik anda singgah di alun-alun Kutoarjo atau Purworejo disitu anda bisa dimanjakan dengan berbagai aneka makanan yang anda. Dengan suasana lesehan diterangi lampu-lampu malam Kota. Sungguh sangat indah, bersantap ria di tengah malam disana. Anda bisa memilih berbagai macam makanan sesuai dengan selera anda. Kalau anda pulang nanti jangan lupa beli oleh-oleh, lanting makanan khas dari Kota ini, berbentuk bulat kecil yang dibuat dari tepung ketela, ada juga lompong makanan dari ketan yang diisi kacang, berwarna hitam dan dibungkus dengan daun pisang kering. Kerupuk Antolawit, geblek, kerupuk gadung, intil, ciwel dan masih banyak lagi makanan khas daerah ini yang bisa anda dapatkan sebagi oleh-oleh apabila anda pulang nanti. G.Angkringan wisata kuliner kutoarjo Wisata kuliner kutoarjo ya angkringan, itulah jawaban saya jika sobat semua tanya seputar makanan khas di kutoarjo kabupaten purworejo. Angkringan adalah sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menjajakan makanan sederhana mulai sore hari hingga malam hari. Bahkan tidak jarang ada yang buka sampai pagi hari. Menurut salah satu pedagang angkringan, katanya purworejo masyarakatnya sangat suka jajan. Terutama jajanan sore hari. Salah atau benar itu pandangan dan kesimpulan pedagang angkringan yang setiap hari mendorong gerobag yang penuh dengan makanan. Pedagang angkringan ada yang bersifat kelompok dengan satu bos ada juga yang sifatnya individu. Untuk yang masih mempunyai bos dia hanya menjualkan stock atau jatah dari bos. Habis tidak habis nanti dia akan setoran. Type pedagang ankringan Di kutoarjo terdapat 3 orang yang menjual menu angkringan yang sama. Mereka tergabung dalam satu kelompok angkringan. Semua menu dan produk angkrigannya sama hanya saja tempat mangkalnya yang berbeda beda. Satu di depan masjid al izhar satu lagi di sebelah barat kali jali ( barat indomaret ) dan satu lagi ada di depan stasiun kutoarjo. Sebenarnya group ini masih punya 3 cabang lagi. Satu di jl kutoarjo kebumen desa kaliwatu, di barat alun alun kemiri dan satu lagi di seren. Dari semua anggotanya saya hanya mengenal 3 pegawainya. Di depan masjid al izhar alun alun kutoarjo bernama pak gito, di sebelah barat indomaret bernama mas anto ( 2 minggu ) dan mas paijo ( 2 minggu setelah mas anto ). Selain itu saya tidak kenal. Hanya kenal rasanya saja. Ok kita jangan bahas orangnya tapi bahas makanannya ya. Jenis makanan di warung angkringan Tidak banyak yang bisa kita jumpai di angkringa, hanya nasi sambel, nasi tongseng tempe. Udah itu saja. Sedangkan untuk lauk, ada banyak varian yang bisa kita nikmati. Mulai kerupuk, sate usus, sate telur, sate hati ayam, tahu bacem, tempe bacem, sayam ayam, kepala dan ceker. Selain itu ada tahu brontak, tempe mendoan dan tahu isi bakso. Itu yang di jual di angkringan group. Sedangkan angkringan mandiri atau individu di sebelah hotel sawunggalih ada sate keongnya juga. Kalau di depan telkom kutoarjo ada telor dadar. Waktu berjualan angkringan Jam kerja angkringan berbeda beda. Ada yang mulai jam 2 sudah siap ada juga yang jam 3 baru mulai menjajakan dagangannya. Untuk yang group, umumnya mereka akan mennggulung tenda setelah jam 00:00 atau bahkan lebih awal. Sedangkan yang di depan alfa mart dan depan kantor telkom mereka buka hingga hampir subuh. Itulah sedikit cerita wisata kuliner malam hari di kutoarjo. Siapa tahu sobat ingin jalan jalan malam atau sedang singgah di kutoarjo bisa mampir ke salah satu angkringan tersebut. Soal harga tak usah khawatir, tidak ada kata mahal di warung angkringan. Misteri penemuan wajan raksasa di tengah Kota Kutoarjo Reporter : Ya'cob Billiocta, Parwito | Minggu, 1 Mei 2016 09:07 Penemuan wajan raksasa di Kutoarjo. ©2016 merdeka.com/parwito Merdeka.com - Sudah beberapa hari ini, penemuan wajan berukuran super besar di tengah Kota Kutoarjo, Purworejo, bikin geger warga. Hal ini seiring teka teki asal usul wajan raksasa tersebut. Penemuan ini bermula saat pekerja bangunan, menggali tanah untuk fondasi ruko milik Widodo Hadi Pranoto (50) yang berlokasi di Jalan MT Haryono. Di kedalaman sekira 15 sentimeter, cangkul yang diayunkan pekerja menumbuk benda keras. "Besar wajan sekitar 270 sentimeter, ya tiga meter kurang 30 sentimeter," kata anggota Polsek Kutoarjo Aiptu Tamin kepada merdeka.com, Jumat (29/4). Saat ditemukan, wujud wajan sudah mulai berkarat. Tidak ada pegangan di kedua tepinya, seperti wajan pada umumnya. Berat wajan berkisar 400 kilogram. Wajan sempat akan dipindahkan. Namun enam warga yang mencoba mengangkat tidak berhasil. Setelah sisi-sisinya digali menyeluruh, juga ditemukan bekas bangunan diduga bekas tungku minyak tanah kuno di bawah wajan itu. "Tungkunya dari batu bata kuno yang ukuran batu batanya lebih besar dari batu bata zaman sekarang," ungkap mandor buruh bangunan, Mijan, Sabtu (30/4). Lantas dari mana asal usul kedua temuan ini? Diduga wajan raksasa beserta bangunan tungku minyak tersebut merupakan peninggalan kuno pabrik yang sudah ratusan tahun. "Sebelum mengerjakan ruko bangunan ini juragan Toko ABC sebelah bilang, katanya ketika kecil pernah dikasih tahu pemilik bangunan jika ada wajan terpendam dalam tanah," paparnya. Meski demikian, Mijan dan beberapa warga sekitar selama tinggal di tempat itu tidak pernah mendengar informasi penggunaan wajan raksasa itu pada zaman dulu. Sampai saat ini, informasi yang berkembang usai penemuan wajan raksasa simpang siur. Beberapa warga saling berspekulasi. Ada yang menyatakan tempat itu adalah bekas pabrik pembuatan batik atau pabrik pembuatan kerupuk. Untuk mengungkap asal usul wajan dan tungku ini, Kepala Seksi Sejarah Purbakala dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Purworejo Eko Riyanto mengemukakan, pihak dinas menerjunkan petugas untuk melakukan penelitian awal. "Benda masih dikategorikan sebagai diduga cagar budaya dan masih memerlukan penelitian lebih mendalam," kata Eko Riyanto saat dikonfirmasi merdeka.com, Sabtu (30/4). Eko menyatakan pihaknya, usai penemuan segera melaporkan kejadian itu ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. "Temuan itu telah kami laporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng yang berkantor di Prambanan," ungkapnya. Sementara itu, Kepala Dikbudpora Muh Wuryanto menjelaskan temuan wajan raksasa baru pertama kali di Purworejo, dan dinas belum pernah memiliki referensi tentang benda tersebut. "Namun apa fungsinya, apakah ada keterkaitan dengan sejarah Purworejo atau kehidupan Kutoarjo masa lalu, kami belum tahu dan masih harus dikuak," ujarnya. Kabar penemuan wajan raksasa tersebut membuat warga sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut. Selain penasaran ingin melihat bentuk dan wujud wajan raksasa, ratusan warga juga ingin mengabadikan dengan berfoto dekat wajan berdiameter 2 meter lebih itu. Tak jarang, mereka juga langsung berdiri di atas wajan raksasa itu. Anita, warga Yogyakarta, mengaku penasaran dengan bentuk wajan raksasa di Kutoarjo. "Senang bisa datang ke Kutoarjo dan ambil foto berlatar wajan raksasa," ujarnya. Pengunjung lainnya, Hartoyo dari Magelang datang bersama anak dan istrinya. Dia datang untuk melihat keunikan wajan raksasa. "Jarang kan ada wajan ukurannya sampai sebesar itu. Sekalian akhir pekan wisata juga ingin melihat secara langsung seperti apa wajan dan tungku minyak yang katanya kuno dan ukurannya raksasa itu," ucap Hartoyo. PENUTUP Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadipokok bahasan dalam makalah ini, tentu nya masih ba nyak kekurangan dan kelemahan nya, kerena terbatas nya pengetahuan dan kurang nya rujukan atau referensi yang ada hubungan nya dengan judul makalah ini. Penulis ba nyak berharap para pembaca yang budi man dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurna nya makalah ini dan dan penulisan makalah dikesempatan-kesempatan berikut nya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khusus nya juga para pembaca yang budi man pada umum nya. " /> > Posted in Berita Tagged kampoeng kompeni, mobil antiq, museum motor, rest area, sumber adventure center, sumber alam, water park, water park sumber alam Layanan Sumber Alam …– Purworejo – Gombong – Purwokerto Semarang – Magelang – Yogyakarta Semarang – Purworejo – Ajibarang Semarang – Purworejo – Majenang Yogyakarta – Purworejo – Kutoarjo – Cilacap Yogyakarta – Kebumen – Purwokerto Yogyakarta – Wonosobo – Purwokerto Yogyakarta – Wangon – Ajibarang Yogyakarta – Purworejo – Majenang Solo –… SPBU Sumber Alam Kini untuk melayani masayarakat Purworejo khususnya Kutoarjo, salah satu PO terbesar di kota Berirama ini yaitu PO. SUMBER ALAM telah membangun sebuah SPBU untuk umum. Yang terletak di Jl.P.Diponegoro No.160 Kutoarjo persis disamping Pool Pusat SUMBER ALAM Kutoarjo. SPBU ini siap melayani kebutuhan bahan bakar masyarakat khususnya masyarakat Kutoarjo. Dengan takaran yang pas dan pelayanan yang memuaskan diharapkan SPBU ini bisa memenuhi… Leave a comment Rumah Makan Sumber Alam Perubahan Tarif Tiket Bus Dan Shuttle Sumber Alam Pasca Kenaikan BBM Posted on November 20, 2014, updated on November 20, 2014 by admin Sehubungan dengan kenaikan BBM, PO Sumber Alam juga melakukan perubahan tarif tiket yang akan berlaku mulai pada hari Jum’at, tanggal 21 November 2014, Perubahan tersebut adalah sebagai berikut : Tarif Baru Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif Baru Yogyakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket di daerah antara Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto baca selengkapnya >> Posted in Berita Tagged harga AKDP, harga baru shuttle, harga baru tiket bus, harga patas semarang, kenaikan tarif, pasca bbm naik, tarif baru sumber alam Leave a comment Agen Patas AC AKDP Daftar agen bus Patas AC dengan rute Semarang – Cilacap (PP) : Agen Bus AKDP Tarif Tiket Update : 20 November 2014 Tarif Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif Yogyakarta – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto **Tarif Purwokerto – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari daerah Purwokerto sampai dengan Cikawung / Ajibarang baca selengkapnya >> Tentang Sumber Alam Sejarah Singkat Sumber Alam Perusahaan otobus Sumber Alam hingga saat ini sudah mengalami beberapa kali transformasi dalam perkembangannya. Pada kisaran tahun 1969 dibentuklah PO Tresno yang dirintis oleh Ibu Thung Tjie Hing yaitu nenek dari Bapak Judi Setijawan Hambali kemudian setelah Ibu Thung Tjie Hing mewariskan usaha tersebut kepada anak cucunya nama perusahaan tersebut berubah menjadi […] F.SOEARA KUTOARJO Kutoarjo, Perjuangan tak pernah lelah Minggu, 01 Februari 2009 Welcome to Kutoarjo,Purworejo Kutoarjo adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Purworejo, dulunya Kutoarjo adalah sebuah Kabupaten tersendiri yang berbentuk kawedanan, namun sejak tahun 1934 Kutoarjo dimasukkan dalam wilayah kabupaten Purworejo. Jejak peninggalan masih dapat dilihat di Kawedanan Kutoarjo berupa gedung kawedanan di sebelah utara alun-alun Kutoarjo. Kutoarjo memiliki luas wilayah sekitar 38 km2 dan terbagi menjadi 27 Kecamatan. Kalau anda singgah ke kota ini transportasi yang paling mudah adalah dengan menggunakan jasa kereta api, Stasiun KA Kutoarjo merupakan stasiun Kereta yang cukup besar di Jawa tengah. Sebagian besar masyarakat Kutoarjo, Purworejo atau daerah kedu sekitarnya (Magelang, Wonosobo, Kebumen) banyak yang menggunakan fasilitas jasa Kereta Api di stasiun ini untuk bepergian ke luar daerah. Akses KA paling banyak digunakan oleh masyarakat di Kutoarjo. Kalau bisa dibilang Kutoarjo hanya merupakan kota transit, karena berada pada jalur lintas Pantai Selatan Pulau Jawa. Karena adanya stasiun Kereta Api mungkin itu menjadi suatu kebangga tersendiri bagi Kota tersebut. Kutoarjo merupakan akses paling mudah apabila anda ingin melakukan perjalanan wisata, karena kota tersebut menghubungkan kota-kota tujuan wisata dengan obyek wisata yang menarik. Kalau anda ingin berwisata ke Borobudur, mungin hanya butuh waktu satu jam dari sana, kemudian Yogyakarta perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, di sebelah selatan anda dapat mengunjungi Panta Ketawang kira-kira 12 km dari kutoarjo, Pantai Glagah di Kulonprogo, Pantai Ayah di Kebumen dan Dieng Wonosobo, dan tempat-tempat wisata lainnya di daerah kedu selatan. Anda juga bisa mengunjungi Masjid Agung Purworejo, dimana disana tersimpat Bedug yang Paling Besar di Asia yang dinamakan dengan Kyai Bagelen, ataupun Gua Seplawan di daerah kaligesing serta curung Somangari yang semuanya berada di daerah Purworejo. Obyek-obyek wisata lain yang mungkin menarik adalah Curug Bruno di kecamatan Bruno sebelah Utara Kota Kutoarjo, Geger Menjangan sebuah perbukitan yang indah di Purworejo. Semua obyek-obyek wisata tersebut dapat ditempuh dengan cepat dan mudah lagi murah dari kota Kutoarjo. Kutoarjo, Purworejo juga menyediakan berbgai macam makanan khas daerah tersebut bisa anda dapatkan dengan mudah dan murah. Sate Winong, sebuah desa sentra makanan sate khas Purworejo yang terletak di desa Winong, sebelah Utara Kota Kutoarjo, anda bisa menikmati hidangan sate yang lezat dengan hawa pedesaan yang sejuk akan menambah kenikmatan. Di stasiun Purworejo anda bisa menikmati soto pak Rus, yang terkenal di Purworejo sambil menyaksikan gerbong-gerbong KA yang sesekali datang, sungguh suasana yang mungkin jarang anda dapati saat-saat ini. Jangan lupa, bagi anda yang menyukai masakan tradisional untuk singgah ke Warung Kupat Tahu bu Tulus yang ada di dekat pasar Kutoarjo, akan benar-benar memanjakan lidah anda. Bagi anda penggemar Bakso, mampir saja ke Bakso Sedap pak Sukar, di dekat perempatan Kutoarjo atau ke Bakso Siput di Purworejo, anda akan benar-benar menikmati bakso yang lezat dan khas di Kota Ini. Masih banyak masakan-masakan yang bisa anda nikmati di kutoarjo, Gudeg Mataram yang menyediakan masakan gudeg khas jogya yang benar-benar nikmat, bakmi Pak Edy buka sejak sore jam lima sore sampai malem. Kalau anda pingin melihat-lihat kota Kutoarja atau Purworejo di waktu malam, lebih baik anda singgah di alun-alun Kutoarjo atau Purworejo disitu anda bisa dimanjakan dengan berbagai aneka makanan yang anda. Dengan suasana lesehan diterangi lampu-lampu malam Kota. Sungguh sangat indah, bersantap ria di tengah malam disana. Anda bisa memilih berbagai macam makanan sesuai dengan selera anda. Kalau anda pulang nanti jangan lupa beli oleh-oleh, lanting makanan khas dari Kota ini, berbentuk bulat kecil yang dibuat dari tepung ketela, ada juga lompong makanan dari ketan yang diisi kacang, berwarna hitam dan dibungkus dengan daun pisang kering. Kerupuk Antolawit, geblek, kerupuk gadung, intil, ciwel dan masih banyak lagi makanan khas daerah ini yang bisa anda dapatkan sebagi oleh-oleh apabila anda pulang nanti. G.Angkringan wisata kuliner kutoarjo Wisata kuliner kutoarjo ya angkringan, itulah jawaban saya jika sobat semua tanya seputar makanan khas di kutoarjo kabupaten purworejo. Angkringan adalah sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menjajakan makanan sederhana mulai sore hari hingga malam hari. Bahkan tidak jarang ada yang buka sampai pagi hari. Menurut salah satu pedagang angkringan, katanya purworejo masyarakatnya sangat suka jajan. Terutama jajanan sore hari. Salah atau benar itu pandangan dan kesimpulan pedagang angkringan yang setiap hari mendorong gerobag yang penuh dengan makanan. Pedagang angkringan ada yang bersifat kelompok dengan satu bos ada juga yang sifatnya individu. Untuk yang masih mempunyai bos dia hanya menjualkan stock atau jatah dari bos. Habis tidak habis nanti dia akan setoran. Type pedagang ankringan Di kutoarjo terdapat 3 orang yang menjual menu angkringan yang sama. Mereka tergabung dalam satu kelompok angkringan. Semua menu dan produk angkrigannya sama hanya saja tempat mangkalnya yang berbeda beda. Satu di depan masjid al izhar satu lagi di sebelah barat kali jali ( barat indomaret ) dan satu lagi ada di depan stasiun kutoarjo. Sebenarnya group ini masih punya 3 cabang lagi. Satu di jl kutoarjo kebumen desa kaliwatu, di barat alun alun kemiri dan satu lagi di seren. Dari semua anggotanya saya hanya mengenal 3 pegawainya. Di depan masjid al izhar alun alun kutoarjo bernama pak gito, di sebelah barat indomaret bernama mas anto ( 2 minggu ) dan mas paijo ( 2 minggu setelah mas anto ). Selain itu saya tidak kenal. Hanya kenal rasanya saja. Ok kita jangan bahas orangnya tapi bahas makanannya ya. Jenis makanan di warung angkringan Tidak banyak yang bisa kita jumpai di angkringa, hanya nasi sambel, nasi tongseng tempe. Udah itu saja. Sedangkan untuk lauk, ada banyak varian yang bisa kita nikmati. Mulai kerupuk, sate usus, sate telur, sate hati ayam, tahu bacem, tempe bacem, sayam ayam, kepala dan ceker. Selain itu ada tahu brontak, tempe mendoan dan tahu isi bakso. Itu yang di jual di angkringan group. Sedangkan angkringan mandiri atau individu di sebelah hotel sawunggalih ada sate keongnya juga. Kalau di depan telkom kutoarjo ada telor dadar. Waktu berjualan angkringan Jam kerja angkringan berbeda beda. Ada yang mulai jam 2 sudah siap ada juga yang jam 3 baru mulai menjajakan dagangannya. Untuk yang group, umumnya mereka akan mennggulung tenda setelah jam 00:00 atau bahkan lebih awal. Sedangkan yang di depan alfa mart dan depan kantor telkom mereka buka hingga hampir subuh. Itulah sedikit cerita wisata kuliner malam hari di kutoarjo. Siapa tahu sobat ingin jalan jalan malam atau sedang singgah di kutoarjo bisa mampir ke salah satu angkringan tersebut. Soal harga tak usah khawatir, tidak ada kata mahal di warung angkringan. Misteri penemuan wajan raksasa di tengah Kota Kutoarjo Reporter : Ya'cob Billiocta, Parwito | Minggu, 1 Mei 2016 09:07 Penemuan wajan raksasa di Kutoarjo. ©2016 merdeka.com/parwito Merdeka.com - Sudah beberapa hari ini, penemuan wajan berukuran super besar di tengah Kota Kutoarjo, Purworejo, bikin geger warga. Hal ini seiring teka teki asal usul wajan raksasa tersebut. Penemuan ini bermula saat pekerja bangunan, menggali tanah untuk fondasi ruko milik Widodo Hadi Pranoto (50) yang berlokasi di Jalan MT Haryono. Di kedalaman sekira 15 sentimeter, cangkul yang diayunkan pekerja menumbuk benda keras. "Besar wajan sekitar 270 sentimeter, ya tiga meter kurang 30 sentimeter," kata anggota Polsek Kutoarjo Aiptu Tamin kepada merdeka.com, Jumat (29/4). Saat ditemukan, wujud wajan sudah mulai berkarat. Tidak ada pegangan di kedua tepinya, seperti wajan pada umumnya. Berat wajan berkisar 400 kilogram. Wajan sempat akan dipindahkan. Namun enam warga yang mencoba mengangkat tidak berhasil. Setelah sisi-sisinya digali menyeluruh, juga ditemukan bekas bangunan diduga bekas tungku minyak tanah kuno di bawah wajan itu. "Tungkunya dari batu bata kuno yang ukuran batu batanya lebih besar dari batu bata zaman sekarang," ungkap mandor buruh bangunan, Mijan, Sabtu (30/4). Lantas dari mana asal usul kedua temuan ini? Diduga wajan raksasa beserta bangunan tungku minyak tersebut merupakan peninggalan kuno pabrik yang sudah ratusan tahun. "Sebelum mengerjakan ruko bangunan ini juragan Toko ABC sebelah bilang, katanya ketika kecil pernah dikasih tahu pemilik bangunan jika ada wajan terpendam dalam tanah," paparnya. Meski demikian, Mijan dan beberapa warga sekitar selama tinggal di tempat itu tidak pernah mendengar informasi penggunaan wajan raksasa itu pada zaman dulu. Sampai saat ini, informasi yang berkembang usai penemuan wajan raksasa simpang siur. Beberapa warga saling berspekulasi. Ada yang menyatakan tempat itu adalah bekas pabrik pembuatan batik atau pabrik pembuatan kerupuk. Untuk mengungkap asal usul wajan dan tungku ini, Kepala Seksi Sejarah Purbakala dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Purworejo Eko Riyanto mengemukakan, pihak dinas menerjunkan petugas untuk melakukan penelitian awal. "Benda masih dikategorikan sebagai diduga cagar budaya dan masih memerlukan penelitian lebih mendalam," kata Eko Riyanto saat dikonfirmasi merdeka.com, Sabtu (30/4). Eko menyatakan pihaknya, usai penemuan segera melaporkan kejadian itu ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. "Temuan itu telah kami laporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng yang berkantor di Prambanan," ungkapnya. Sementara itu, Kepala Dikbudpora Muh Wuryanto menjelaskan temuan wajan raksasa baru pertama kali di Purworejo, dan dinas belum pernah memiliki referensi tentang benda tersebut. "Namun apa fungsinya, apakah ada keterkaitan dengan sejarah Purworejo atau kehidupan Kutoarjo masa lalu, kami belum tahu dan masih harus dikuak," ujarnya. Kabar penemuan wajan raksasa tersebut membuat warga sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut. Selain penasaran ingin melihat bentuk dan wujud wajan raksasa, ratusan warga juga ingin mengabadikan dengan berfoto dekat wajan berdiameter 2 meter lebih itu. Tak jarang, mereka juga langsung berdiri di atas wajan raksasa itu. Anita, warga Yogyakarta, mengaku penasaran dengan bentuk wajan raksasa di Kutoarjo. "Senang bisa datang ke Kutoarjo dan ambil foto berlatar wajan raksasa," ujarnya. Pengunjung lainnya, Hartoyo dari Magelang datang bersama anak dan istrinya. Dia datang untuk melihat keunikan wajan raksasa. "Jarang kan ada wajan ukurannya sampai sebesar itu. Sekalian akhir pekan wisata juga ingin melihat secara langsung seperti apa wajan dan tungku minyak yang katanya kuno dan ukurannya raksasa itu," ucap Hartoyo. PENUTUP Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadipokok bahasan dalam makalah ini, tentu nya masih ba nyak kekurangan dan kelemahan nya, kerena terbatas nya pengetahuan dan kurang nya rujukan atau referensi yang ada hubungan nya dengan judul makalah ini. Penulis ba nyak berharap para pembaca yang budi man dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurna nya makalah ini dan dan penulisan makalah dikesempatan-kesempatan berikut nya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khusus nya juga para pembaca yang budi man pada umum nya. " />

rohmah yuniarti

BUKU SIMULASI DIGITAL SEJARAH KOTA KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO PENERBIT:ROHMAH YUNIARTI Kelas:x pemasaran 2 smk n 2 purworejo Kata Pengantar Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam. Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Buku ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan Sejara Kota Kutoarjo, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Buku ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya buku ini dapat terselesaikan. Semoga buku ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Mercu Buana. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Kutoarjo,April 2016 Penyusun 1 Daftar Isi Kata Pengantar......................................................................................................... Daftar Isi................................................................................................................. Letak Kota Kutoarjo................................................................................................. Riwayat Kutoarjo.................................................................................................. Mengenal Sejarah Pembangunan Stasiun KA Purworejo Lewat Tulisan.................. Kecamatan Kutoarjo............................................................................................. Tempat Wisata Waterbom Kutoarjo........................................................................ Soeara Kutoarjo....................................................................................................... Wisata Angkringan Kutoarjo............................................................................... A.Letak Kota Kutoarjo, Purworejo Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Kutoarjo Kecamatan Negara Indonesia Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Purworejo Pemerintahan • Camat Sudaryono, S.Sos Luas 37,59 km² Jumlah penduduk 59.266 jiwa (2012) Kepadatan 1.559,6 jiwa/km² Desa/kelurahan 27 Kutoarjo merupakan sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kutoarjo terletak di bagian tengah agak ke barat daya, dan berbatasan dengan Kecamatan Butuh dan Kemiri di sebelah Barat, Kecamatan Kemiri di sebelah Utara, Kecamatan Bayan di sebelah Timur dan Kecamatan Grabag di sebelah .Kutoarjo pernah menjadi kabupaten tersendiri di Provinsi Jawa Tengah. Semenjak tahun 1934 wilayahnya digabungkan dengan Kabupaten Purworejo.[1] Menurut sejarah, Kutoarjo pada masa penjajahan Hindia Belanda merupakan ibukota kabupaten Semawung. Pada tahun 1934 wilayahnya kemudian digabung dengan Kabupaten Purworejo. Pola pembangunan perkotaan di Kutoarjo hampir sama dengan Purworejo karena pernah menjadi pusat pemerintahan. Setelah bergabung dengan Kabupaten Purworejo posisi Kutoarjo bukan lagi sebagai ibukota kabupaen namun daerah setingkat diatas kecamatan atau dikenal dengan Kawedanan. setelah indonesia merdeka dan penetapan Jawa Tengah sebagai provinsi pada tahun 1950 kedudukan Kutoarjo hanyalah kota kecamatan. Pola pembangunan dan penataan kota yang khas dapat dilihat dari adanya Alun-alun, Pendapa, Masjid dan gedung-gedung pemerintahan yang berdekatan. Kecamatan Kutoarjo memiliki kelebihan dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Purworejo. Salah satu kelebihan yang dimiliki yaitu merupakan kota kecamatan paling ramai selain kota Kabupaten Purworejo. Kutoarjo dilewati langsung oleh Jalan Nasional Rute 3 dan jalur kerete api lintas selatan sehingga banyak pengguna kendaraan umum yang turun di Kutoarjo sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung. Selain itu, Stasiun kereta api terbesar di Kabupaten Purworejoberada di Kutoarjo. Stasiun Kutoarjo merupakan stasiun besar tipe B yang terletak di Kelurahan Semawung Daleman, Kutoarjo, Purworejo. Stasiun ini melayani naik turun penumpang baik kelas Ekonomi, Ekonomi Plus, Bisnis, Eksekutif dan Komuter, hampir semua kereta api penumpang lintas selatan Jawa berhenti di stasiun ini. Terdapat pula Perusahaan otobus (PO) Sumber Alam di Kutoarjo. Stasiun Kutoarjo Kondisi kerukunan umat beragama di Kota Kutoarjo terbina dengan baik, dimana para tokoh agama senantiasa menjalin silaturahmi dalam rangka meningkatkan peran serta dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan antar umat beragama. B.Riwayat Kutoarjo KUTOARJO dikenal dengan sebutan SEMAWONG Pada tahun 1587 Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati Loring Pasar putra dari Ki Ageng Pemanahan (awal berdirinya Mataram Islam), mendirikan Kesultanan Mataram. Saat itu nama Semawung sudah ada, berasal dari nama saudagar benang dari Cina yang bernama Sie Mau Wong. Putera pertama Ki Ageng Panjawi yang bernama Wasis Jayakusuma menjadi Adipati Pati bergelar Adipati Pragola Pati I. Menurut Babad Tanah Jawi, Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I mempunyai putra : 1. Raden Mas Tjoemantoko 2. Raden Ayu Retno Dumillah/Kanjeng Ratu Beroek/Putri Moertisari 3. Raden Mas Baoeredjo ________________________________________ Nama asli Prabu Hanyakrawati adalah Raden Mas Jolang, putra Panembahan Senapati raja pertama Kesultanan Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas Waskitajawi, putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati. Antara kedua orang tua Mas Jolang tersebut masih terjalin hubungan sepupu. Setelah dewasa, menjadi Sultan Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat : Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613. Prabu Hanyakrawati meninggal dunia pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak, sehingga terkenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang juga pahlawan nasional Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Hanyakrawati) Raden Mas Tjoemantoko diangkat menjadi Tumenggung di Semawung bagian dari tlatah Bagelen oleh sepupunya yang bernama Raden Mas Jolang dan diberi gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko. Setelah Raden Tumenggung Tjoemantoko wafat, dimakamkan di bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh, masyarakatnya sering menyebut sebagai MBAH GIRI TJOEMANTOKO. Putra beliau yang bernama Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe menggantikan ayahandanya menjadi Tumenggung Semawung dengan gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko II, yang mempunyai keturunan bernama Raden Mas Gatoel. Setelah dewasa Raden Mas Gatoel ingin mencari pengalaman, oleh ayahandanya Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe dijinkan dan disuruhnya mengabdi kepada Adipati Jojokusumo di Kadipaten Gombong. Di sana Raden Mas Gatoel awalnya menjadi prajurit biasa. Kepandaian Raden Mas Gatoel dalam olah kanuragan dan keprajuritan sangat baik, maka beliau dijadikan pengawal pribadi "Kajineman" Adipati Jojokusumo mengawal sowan ke Kartosuro, sehingga Raden Mas Gatoel juga disebut dengan Kyai/Ki Jinem. Setelah Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe atau Raden Tumenggung Tjoemantoko II wafat dan dimakamkan di Desa Kuwurejo, kedudukannya digantikan Raden Mas Gatoel/Ki Jinem dengan gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko III. Konon Raden Tumenggung Tjoemantoko III suka berkelana dan sempat menemukan keris kecil yang bernama Kyai Sawunggalih (pusaka kraton di dalam kayu jati di daerah Bruno), Raden Tumenggung Tjoemantoko III dalam tidurnya bermimpi kalau itu adalah Pusaka Kraton dan minta untuk dikembalikan, lalu pusaka itu dikembalikan ke kraton dan diterima dengan senang hati oleh Raja. Raden Tumenggung Tjoemantoko III mempunyai putra bernama Raden Mas Bancak. Setelah Raden Tumenggung Tjoemantoko III wafat dan dimakamkan di Bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. diteruskan oleh putranya yang bernama Raden Mas Bancak dengan gelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih I setelah wafat digantikan putranya yang bergelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II, pada saat itu pusat pemerintahan dipindah dari Semawung Kembaran ke Semawung Daleman. Setelah Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II wafat, diganti oleh menantunya Raden Mas Soerokusumo yang sebelumnya menjabat Patih di Kabupaten Ambal (Kebumen). pada saat pemerintahan Raden Mas Soerokusumo pusat pemerintahan dari Semawung Daleman dipindah ke Desa Senepo dan Senepo diganti nama menjadi Kutoarjo. Raden Mas Soerokusumo menjadi Bupati pertama di Kutoarjo bergelar Raden Adipati Aryo Soerokusumo. Dalam catatan ditemukan pertumbuhan perdagangan di Kutoarjo lebih maju daripada Kabupaten Purworejo. Di kutoarjo waktu itu banyak perajin tenun dan barang pecah belah dari tanah liat. Semawung merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai, saat itu banyak pedagang-pedagang Cina berdatangan. Raden Adipati Soerokusumo setelah wafat dimakamkan dekat makam Ageng Loano, pengganti RAA Soerokusumo atas kebijaksanaan Sunan Pakubuwono bukan putra RAA Soerokusumo, tetapi dipilih dari pejabat yang langsung dari kerabat Keraton Surakarta, yaitu RAA Pringgo Atmodjo yang memerintah sampai tahun 1870. Pada jaman pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo dibangun kantor kabupaten di atas tanah seluas 8 hektar, sampai berakhirnya pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo, pembangunan belum selesai dan dilanjutkan oleh RAA Pringgo Atdmodjo sampai tahun 1870 sudah lengkap dengan Alun-alun Kutoarjo. Waktu itu dibangun pula rumah kepatihan yang kini menjadi kantor Kecamatan Kutoarjo, sedangkan rumah dinas dan kontrolir yang terletak di Dusun Tegal Desa Senepo sebagian masih utuh dan sekarang dijadikan untuk Mapolsek Kutoarjo, kantor Landraad/Kejaksaan di sudut alun-alun Kutoarjo yang sekarang dimanfaatkan oleh PDAM. Waktu pemerintahan RAA Pringgo Atdmodjo Kabupaten Kutoarjo dibagi menjadi empat kawedanan, yaitu : Kemiri, Pituruh, Grabag/Ketawang dan Purwodadi, sedangkan Masjid Jami Kutoarjo dibangun tahun 1860 lengkap dengan kantor pengadilan agama atau penghulu. Tahun 1875 Masjid Jami Kutoarjo dipugar oleh RAA Poerbo Atdmodjo. Perdagangan di Kutoarjo semakin pesat setelah dibangun rel kereta api Yogyakarta - Purwokerto tahun 1880 – 1885, kemudian pada tahun 1890 dibangun rel kereta dari Kutoarjo - Purworejo. Nama-nama penguasa di Kadipaten Semawung yang kemudian menjadi Kabupaten Kutoarjo, pada awal luas wilayahnya sampai Purworejo : 1. Raden Tumenggung Tjoemantoko I (makamnya di Bukit Satria Kaliwatubumi) 2. Raden Mas Kuwu/Raden Tumenggung Tjoemantoko II 3. Raden Mas Gatoel/Ki Jinem/Raden Tumenggung Tjoemantoko III (makamnya di Kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo) 4. Raden Bantjak/Tumenggung Bantjik Notonagoro Sawunggalih I (makamnya di Kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo) 5. Tumenggung Bantjik Notonagoro Sawunggalih II (makamnya di Kelurahan Semawung Daleman Kutoarjo) 6. RAA Soerokusumo (makamnya di Pesarean Ageng Loano) 7. RAA Pringgo Atmodjo sampai tahun 1870. (makamnya di Bukit Satria Kaliwatubumi dekat makam Raden Tumenggung Tjoemantoko I) 8. RAA Toerkidjo Poerbo Atdmodjo 1870 - 1915 (makamnya di Bukit Satria kaliwatubumi) 9. RAA Poerbo Hadikoesoemo 1915 - 1933. Para penguasa di Kabupaten Kutoarjo merupakan keturunan dari RM. Said atau Kanjeng Sunan Kalijaga Sejarah Kutoarjo yang bernama Semawung lebih tua daripada Purworejo yang dulu bernama Brengkelan, sejarah Kutoarjo dimulai dengan adanya Mataram Islam dan para penguasanya memiliki garis keturunan ningrat/keraton. Purworejo sendiri pada awalnya termasuk dalam kekuasaan Kutoarjo, tetapi karena kekuasaan dan intrik Belanda di Keraton, kemudian Belanda membuat kadipaten baru yang bernama Purworejo/Brengkelan dengan mengangkat seorang abdi dalem/mantri gladak menjadi Bupati serta karena prestasinya di mata Penjajah Belanda yang diperoleh selama melawan para pengikut Pangeran Diponegoro dan membunuh para pangeran di Gunung Kelir, sehingga hari jadi Purworejo dipilih pada masa Hindu, bukan dari Bupati pertama Brengkelan/Purworejo yang dilantik 30 juni 1830, karena tidak punya nilai nasionallisme dan juga merupakan contoh yang kurang baik bagi generasi muda. Kutoarjo adalah kota kecil tempat kelahiranku tepatnya di rumah sakit palang biru Hari Selasa Tanggal 14 Juni 1986. Kutoarjo awal mulanya bernama Semawong sejarah diawali dengan pertama kalinya berdirinya Mataram Islam oleh Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati Loring Pasar putra dari Ki Ageng Pemanahan, pada masa itu nama Semawung sudah ada dan semawung sendiri berasal dari nama saudagar benang dari Cina yang bernama Sie mau wong yang tinggal disitu. pada waktu itu Danang Sutowijoyo memperistri putri dari Ki Ageng Panjawi penguasa Pati yang juga sahabat ayahnya Ki Ageng Pemanahan, yang bernama Waskitajawi untuk di jadikan permaisuri yang nantinya bergelar Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan melahirkan Mas Jolang. Danang Sutawijaya kemudian mendirikan Kesultanan Mataram tahun 1587. Putara pertama Ki Ageng panjawi yang bernama Wasis Jayakusuma menjadi Adipati Pati bergelar Adipati Pragola Pati I. Adipati Pragola Pati I Secara suka rela ia tunduk kepada Mataram karena kakaknya dijadikan permaisuri utama bergelar Ratu Mas, sedangkan Mas Jolang sebagai putra mahkota. Pada tahun 1890 Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun. Pemimpin kota itu yang bernama Rangga Jemuna (putra bungsu Sultan TrengganaDemak) melarikan diri ke Surabaya. Putri Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I yang bernama Retno Dumilah diambil Panembahan Senopati sebagai permaisuri kedua. Peristiwa ini membuat Pragola sakit hati karena khawatir kedudukan kakaknya (Ratu Mas) terancam. Ia menganggap perjuangan Panembahan Senopati sudah tidak murni lagi. Pemberontakan Pati pun meletus tahun 1600. Daerah-daerah di sebelah utara Pegunungan Kendeng dapat ditaklukan Pragola. Panembahan Senopati mengirim Mas Jolang yang tak lain adalah keponakan Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I ,untuk menghadapi pemberontakan Pragola paman dari Mas Jolang. Paman dan keponakan akhirnya bertempur, Kedua pasukan bertemu dekat Prambanan. Pragola dengan mudah melukai keponakannya itu sampai pingsan. lalu Panembahan Senopati berangkat untuk menumpas Pragola. Menurut Babad Tanah Jawi, Ratu Mas sudah merelakan kematian adiknya. Pertempuran terjadi di Prambanan. Pasukan Pragola kalah dan mundur ke Pati. Panembahan Senopati mengejar dan menghancurkan kota itu. Akhirnya, Adipati Pragola pun hilang tidak diketahui nasibnya. Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I mempunyai putra : 1. Raden Mas Tdjoemantoko. 2. Raden Ayu Retno Dumillah/ Kanjeng Ratu Beroek/Putri Moertisari. 3. Raden Mas Baoeredjo. Foto Makam Raden Mas Tumenggung Tdjuemantoko adipati pertama semawung/kutoarjo di Bukit Satria Desa Kaliwatubumi. Setelah dewasa Raden Mas Tdjoemantoko oleh sepupunya anak dari Budenya yang bernama Raden Mas Jolang yang telah menjadi Raja menggantikan ayahhandanya, menjadi sultan Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat: Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613. Ia juga sering disebut dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak, atau cukup Panembahan Seda Krapyak, yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang juga pahlawan nasional Indonesia. Raden Mas Tdjoemantoko diangkat menjadi Tumenggung di Semawung tlatah bagelen oleh Sepupunya yang bernama Raden Mas Jolang yang telah menjadi raja menggantikan ayahhandanya, menjadi sultan Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram dan Raden Mas Tdjoemantoko diberi gelar Raden Tumenggung Tdjoemantoko. setelah Raden Tumenggung Tdjoemantoko wafat dan di makamkan di bukit Satria desa kaliwatubumi kecamatan Butuh yang masyarakat juga sering menyebut dengan MBAH GIRI TDJUEMANTOKO. Kemudian putra beliau yang bernama Raden Mas Kowoe/Ki kowoe menggantikan ayahhandanya menjadi Tumenggung Semawung dengan gelar Raden Tumenggung Tdjoemantoko II. Raden Tumenggung Tdjoemantoko II mempunyai putra bernama Raden Mas Gatoel. setelah dewasa Raden Mas Gatoel mingin mencari pengalaman, oleh ayahhandanya Raden Mas Kowoe/Ki kowoe mengijinkan dan disuruhnya mengabdi Kepada Adipati Jojokusumo di Kadipaten Gombong. disana Raden Mas Gatoel pertama kalinya menjadi prajurit biasa saja. kepandaian Raden Mas Gatoel dalam olah kanuragan dan keprajuritan sangat bagus kemudian beliau dijadikan pengawal pribadi "kajineman" Adipati Jojokusumo mengawal sowan ke Kartosuro, makanya Raden Mas Gatoel juga disebut dengan Kyai/Ki Jinem. Foto makam Kyai/Ki Jinem alias RM. Gatoel di kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo Setelah Raden Mas Kowoe/Ki kowoe atau Raden Tumenggung Tdjoemantoko II wafat dan di makamkan di desa kuwurejo maka otomatis kedudukannya digantikan Raden Mas Gatoel/Ki Jinem dengan gelar Raden Tumenggung Tdjoemantoko III. Konon Raden Tumenggung Tdjoemantoko III suka berkelana sempat menemukan pusaka kraton didalam kayu jati di daerah bruno Pusaka keris kecil yang bernama Kyai Sawunggalih, setelah itu Raden Tumenggung Tdjoemantoko III dalam tidurnya bermimpi kalau itu adalah Pusaka Kraton dan minta untuk dikembalikan, lalu pusaka itu dikembalikan di kraton dan diterima dengan senang hati oleh Raja. Raden Tumenggung Tdjoemantoko III.mempunyai putra bernama Raden Mas Bancak. setelah Raden Tumenggung Tdjoemantoko III wafat dan di makam kan di bukit Satria desa kaliwatubumi kecamatan Butuh. maka kedudukan diteruskan oleh putranya yang bernama Raden Mas Bancak dengan gelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih I setelah wafat digantikan putranya yang bergelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II, pada saat itu pusat pemerintahan dipindah dari Semawung kembaran ke Semawung Daleman. Foto makam Raden Tumenggung Banjik Kertonagoro Sawunggalih I di Kelurahan Semawung kembaran Kutoarjo. Sesudah Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II wafat, diganti oleh menantunya Raden Mas Soerokusumo yang sebelumnya menjabat patih di kabupaten ambal (kebumen). pada saat pemerintahan Raden Mas Soerokusumo pusat pemerintahan dari semawung daleman dipindah ke desa Senepo dan Senepo diganti nama Kutoarjo. Raden Mas Soerokusumo menjadi Bupati pertama di Kutoarjo bergelar Raden Adipati Aryo Soerokusumo. dalam catatan ditemukan pertumbuhan perdagangan di kutoarjo lebih maju di banding kabupaten Purworejo, di kutoarjo waktu itu banyak pengrajin tenun dan barang pecah belah dari tanah liat. semawung diperkirakan merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai, saat itu banyak pedagang-pedagang Cina berdatangan. Raden Adipati Soerokusumo setelah wafat dimakamkan di makam Ageng Loano, pengganti RAA Soerokusumo atas kebijaksanaan Sunan Pakubuwono bukan putra RAA Soerokusumo, tetapi dipilih dari pejabat yang langsung kerabat kraton Surakarta yakni RAA Pringgo Atmodjo yang memerintah sampai tahun 1870. masa pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo membangun kantor kabupaten diatas tanah seluas 8 hektar, sampai berakhirnya pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo pembangunan belum selesai dan dilanjutkan oleh RAA Pringgo Atdmodjo sampai tahun1870 sudah lengkap dengan Alun-alun kutoarjo. waktu itu dibangun pula rumah kepatihan yang kini menjadi kantor kecamatan Kutoarjo. sedangkan rumah dinas dan kontrolir yang terletak di dusun tegal desa senepo sebagian masih utuh dan sekarang dijadikan untuk Mapolsek Kutoarjo, kantor Landraad/kejaksaan di sudut alun-alun Kutoarjo yang sekarang dimanfaatkan oleh PDAM. Foto Makam Bupati Kutoarjo Kedua ( II ) RAA Pringgo Atdmojo di Bukit Satria Desa Kaliwatubumi, Butuh. waktu pemerintahan RAA Pringgo Atdmodjo kabupaten Kutoarjo dibagi menjadi empat kawedanan yakni : Kemiri, Pituruh, Grabag/ketawang, dan Purwodadi. sedang masjid Jamik Kutoarjo dibangun tahun 1860 lengkap dengan kantor pengadilan agama atau pengulu. Tahun 1875 masjid jamik Kutoarjo dipugar oleh RAA Poerbo Atdmodjo. pesatnya perdagangan di kutoarjo setelah dibangun rel kereta api yogyakarta - Purwokerto tahun1880 - 1885 kemudian pada tahun 1890 dibangun rel kereta dari kutoarjo - purworejo. Berikut nama - nama penguasa di Kadipaten Semawung terus menjadi Kabupaten Kutoarjo yang awal mulanya wilayahnya luas sampai purworejo : 1. Raden Tumenggung Tdjoemantoko I. ( makamnya di bukit Satria kaliwatubumi ) 2. Raden Mas Kuwu/Raden Tumenggung Tdjoemantoko II. 3. Raden Mas Gatoel/Ki Jinem/Raden Tumenggung Tdjoemantoko III. ( makamnya di Kelurahan semawung kembaran, kutoarjo ) 4. Raden Bantjak/Tumenggung bantjik notonagoro Sawunggalih I. ( makamnya di Kelurahan semawung kembaran, kutoarjo ) 5. Tumenggung bantjik notonagoro Sawunggalih II. ( makamnya di Kelurahan semawung daleman, kutoarjo ) 6. RAA Soerokusumo. ( makamnya di Pesarean Ageng loano ) 7.RAA Pringgo Atmodjo sampai tahun 1870. ( makamnya di bukit Satria kaliwatubumi dekat makam Raden Tumenggung Tdjoemantoko I ) 8.RAA Toerkidjo Poerbo Atdmodjo 1870 - 1915. ( makamnya di bukit Satria kaliwatubumi ) 9. RAA Poerbo Hadikoesoemo 1915 - 1933. Penguasa - Penguasa Di kabupaten Kutoarjo adalah masih trahing kusumo rembesing madu yang valid bahkan masih ada garis keturunan dari RM. Said atau kanjeng Sunan Kali jogo Foto Makam Patih Kutoarjo Raden Ngabehi Djojo Prabongso di makam ditulis meninggal tahun 1829 makamnya di Belakang Masjid At-Taqwa desa Pringgowijayan, Kutoarjo. RAA Toerkidjo Poerbo Atdmodjo ahli pembangunan Bendungan Selama ini banyak orang menyangka, pembangunan bendungan di Kutoarjo dan purworejo ditangani oleh para ahli dari belanda. Namun sejarah menunjukkan bendungan di Kutoarjo dan purworejo yamg dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda ditangani oleh arsitek bendungan pribumi yang bernama Raden Mas Toerkidjo Purbo Atmodjo putra RAA Pringgo Atdmojo Bupati kedua kabupaten Kutoarjo. Raden Mas Toerkidjo Purbo Atmodjo sejak muda dikenal sebagai seorang yang senang pada tehnik bangunan air, akhirnya mendapat kesempatan belajar di kalkuta India untuk mempelajari masalah irigasi. Di Kalkuta India Raden Mas Toerkidjo Purbo Atmodjo mempelajari tehnik bangunan bendungan sungai gangga. setelah kembali, pengetahuan yang didapat dari India diterapkan didaerahnya. RAA Tjokronegoro II minta dibangunkan bendungan di sungai Bogowonto. atas keberhasilannya membangun bendungan Boro, akhirnya diangkat sebagai mantri Bendungan atau mantri Pengairan. Selain bendungan dan selokan yang mengambil air dari sungai Bogowonto, Raden Mas Toerkidjo membangun pula bendungan sawangan di sungi jali, bedono, dan gebang. bendungan-bendungan tersebut antara lain : - Bendungan sawangan di Sungai Jali. - Bendungan Bandung di Sungai Jali. - Bendungan Siwatu di sungai Jali. - Sluis Saudagaran. - Sluis Suren. - Saluran Loning. sedang dari Sungai bedono dan Gebang dibangun pula : - Bendungan pekatingan. - bendungan Kedung Gupit. - Bendungan Kalimeneng. - Dam Rebug. - Saluran Kali Anyar. Hampir semua bendungan yang dibangun pada masa Raden Mas Toerkidjo meskipun umurnya sudah tua dan lebih dari satu abad masih banyak yang kokoh. Termasuk Sluis suren hingga saat ini masih berfungsi baik. Raden Mas Toerkidjo yang dikenal sebagai ahli tehnik bangunan air, pada tanggal 19 Oktober 1870 dengan surat keputusan Gubernur Jendral Pemerintah Hindia Belanda di Bogor diteteapkan menjadi Bupati Kutoarjo bergelar RAA Toerkidjo Poerboatmodjo. Bupati yang dikenal ahli bangunan irigasi, pada tanggal 30 Juli 1887 mendapat gelar adipati atau lengkapnya disebut Raden adipati Toerkidjo poerboatmodjo. Kemudian pada tanggal 01 oktober 1910 kembali medapat gelar Pangeran, hingga wafatnya bernama Pangeran Toerkidjo poerbo Atmodjo dimakamkan di Gedung Papak Bukit Satria desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. Foto Makam Pangeran Toerkidjo poerbo Atmodjo di Gedung Papak Bukit Satria desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. Kutoarjo pada masa Bupati RAA Poerbo Hadikusumo atas perintah Pemerintah Hindia Belanda tahun 1933 untuk menyatukan Kabupaten Kutoarjo dan Kabupaten Purworejo, dan Bupati Purworejo saat itu adalah RAA Hasan Danudiningrat. akhirnya penggabungan dua Kabupaten terjadi pada tahun 1933. Foto salah satu Yoni di makam - makam Penguasa/Pendiri Kota Kutoarjo Di Bukit Satria desa Kaliwatubumi, Butuh. Sejarah kutoarjo atau dulu yang bernama semawung lebih tua daripada purworejo yang dulu bernama brengkelan, sejarah kutoarjo dimulai dengan adanya Mataram Islam dan penguasa - penguasanya masih garis keturunana Ningrat/kraton, Purworejo sendiri awal mulanya masih kekuasaan kutoarjo tapi karena kekuasaan belanda juga intrik belanda di Kraton, lalu Belanda membuat kadipaten baru yang bernama Purworejo/brengkelan dengan mengangkat seorang abdi dalem/mantri gladak menjadi Bupati serta karena prestasinya di mata Penjajah Belanda yang beliau dapat melawan pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro dan membunuh pangeran - pangeran di gunung kelir. makanya hari jadi purworejo dicari pada masa hindu, bukan dari Bupati pertama brengkelan/Purworejo dilantik pada 30 juni 1830 , karena tidak punya nilai Nasionallisme juga contoh yang buruk bagi generasi muda. Nama adipati sawunggalih diabadikan dengan nama kereta api kebanggan masyarakat Kutoarjo, sekolah, hotel, poletehnik dan sebagainya. pertanyaannya sekarang kapan ya kutoarjo menjadi sebuah kota admistratif ataupun kota madya? hari jadi kutoarjo tentunya semenjak Tumenggung Djumantoko I menjadi penguasa di kutoarjo. Sebenarnya banyak penguasa Di Kadipaten Semawung/Kutoarjo yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro tanpa sepengetahuan Belanda, makanya untuk mengawasi gerak - gerik para Bupati Kutoarjo Belanda menempatakan pengawas di Dusun Tegal yang sekarang digunakan untuk Kantor Mapolsek Kutoarjo. Makam Raden Tumenggung Djumantoko I sering diziarahi oleh para pejabat tinggi Negara termasuk Hb IX dan HB X.kalu ada pejabat atau orang yang punay hajat misal pilihan Lurah, Bupati, dan gubernur Pasti sowan kemakam beliau Diceritakan dan ditulis oleh : Ndandung Kumolo Adi. Alamat : Perum argopeni Jln. Bromo No. 72 Rt. 06 Rw. 05 Kutoarjo - Purworejo Diposkan oleh Mustafid Sawunggalih di 04.15 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Leave a respond Poskan Komentar Newer posts Older posts C.Mengenal Sejarah Pembangunan Stasiun KA Purworejo Lewat Tulisan Rabu, 6 November 2013 13:02 TRIBUNJOGJA.COM | RENTO ARI NUGRAHA Seorang warga sedang mengamati papan informasi sejarah perkeretaapian Indonesia yang dipasang di stasiun Purworejo belum lama ini. Wahana informasi tersebut menyuguhkan informasi awal mula keberadaan kereta api di Indonesia dan sejarah pembangunan stasiun Purworejo. Diharapkan, papan informasi tersebut bisa menjadi wahana edukasi untuk pengunjung stasiun. TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Meskipun Stasiun Purworejo sekitar dua tahun terakhir tidak aktif melayani penumpang, namun pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) tidak menelantarkan begitu saja. Selain direnovasi, pekan ini terdapat wahana baru berupa papan informasi sejarah Stasiun Purworejo. Sebanyak enam papan setinggi sekitar tiga meter dan lebar satu meter menghiasi bagian dalam stasiun. Masing-masing papan disusun membentuk semacam tiang, terdiri empat papan yang ditempatkan di pintu masuk hingga ke bagian dalam stasiun. Masing-masing papan memiliki berbagai informasi menarik mengenai sejarah KA. Misalnya informasi mengenai sejarah awal keberadaan KA di Indonesia, awal pembangunan Stasiun Purworejo, hingga proses renovasi Stasiun Purworejo yang menuntut ketelitian tinggi. Tidak hanya memajang tulisan, papan informasi juga memajang foto-foto bersejarah, misalnya lokomotif uap tercepat di zaman Belanda yang mampu melaju 120 kilometer per jam. M Adib (14), siswa kelas VIII SMPN 1 Purworejo, terheran-heran ketika melihat papan informasi tersebut. Sepulang sekolah, ia menyempatkan diri mendekati papan informasi dan melihat gambar yang dipajang. "Baru tahu saya kalau zaman dulu ada loko uap yang bisa melaju sampai 120 kilometer per jam. Kereta zaman sekarang aja kalah," katanya. Sejak kecil Adib suka KA. Ketika KA memakai jalur Purworejo-Kutoarjo dan berhenti di Stasiun Purworejo, ia sering menontonnya. Namun beberapa tahun terakhir ini, ia tidak dapat lagi menikmati aktivitas KA di Stasiun Purworejo karena operasionalnya dihentikan sementara. "Masih sering mampir sini. Harapannya suatu saat bisa lihat kereta api masuk sini. Tapi dipasangnya papan informasi ini sudah lumayan menghibur," katanya. Kepala Stasiun Purworejo, Suhartono, mengatakan, papan informasi tersebut sebenarnya telah lama ada di stasiun. Namun lembar informasi baru datang akhir pekan kemarin. Setelah dipasang, ternyata papan informasi tersebut menarik perhatian masyarakat. "Semoga dengan adanya papan informasi ini, masyarakat bisa belajar mengenai sejarah perkeretaapian Indonesia. Selain itu, warga mengenal sejarah pembangunan dan renovasi stasiun yang indah ini. Harapannya, mereka ikut menjaga stasiun ini," katanya. (Rento Ari Nugroho) D.Kecamatan Kutoarjo Letak geografis Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo: sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Grabag sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kemiri, Bruno, Pituruh, dan Gunung Tugel sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bayan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Butuh Kutoarjo pernah menjadi kabupaten tersendiri di Provinsi Jawa Tengah. Akan tetapi semenjak tahun 1934 wilayahnya bergabung dengan Kabupaten Purworejo. Kecamatan Kutoarjo terdiri dari 21 Desa dan 6 Kelurahan. Luas wilayah Kecamatan Kutoarjo 37,59 km2 dengan jumlah pendududuk 58.103 (sensus 2010). Kutoarjo menempati urutan kedua terbanyak dari jumlah penduduk di Kabupaten Purworejo. Meskipun begitu, laju pertumbuhan penduduk cukup rendah yaitu sebesar -0,33%. 6 Kelurahan di Kecamatan Kutoarjo adalah sebagai berikut: 1. Kelurahan Bandung 2. Kelurahan Bayem 3. Kelurahan Katerban 4. Kelurahan Kutoarjo 5. Kelurahan Semawung Daleman 6. Kelurahan Semawung Kembaran 21 Desa di Kecamatan Kutoarjo adalah sebagai berikut 1. Desa Kaligesing 2. Desa Karangrejo 3. Desa Karangwuluh 4. Desa Kebondalem 5. Desa Kemadu Lor 6. Desa Kepuh 7. Desa Kiyangkongrejo 8. Desa Kuwurejo 9. Desa Majir 10. Desa Pacor 11. Desa Pringgowijayan 12. Desa Purwosari 13. Desa Sidarum 14. Desa Sukoharjo 15. Desa Suren 16. Desa Tepus Kulon 17. Desa Tepus Wetan 18. Desa Tunggorono 19. Desa Tuntungpahit 20. Desa Tursino 21. Desa Wirun Kutoarjo ini merupakan tanah kelahiran saya. Meskipun saya mengalami beberapa kali pindah rumah, tapi saya tetap berada di lingkup Kecamatan Kutoarjo. Kutoarjo dengan sejuta cinta, Kutoarjo dengan kehangatan warna-warninya. Tentang Kutoarjo ini akan ada pembahasan lebih lengkap di postingan tersendiri. Dari lahir, masa kanak-kanak, sekolah SD dan SMP saya habiskan di Kutoarjo ini. Yah, membicarakan tempat kelahiran membutuhkan bab tersendiri, bukan? *kedip* Ini nih peta administrasi Kecamatan Kutoarjo E.Tempat Wisata Waterbom Kutoarjo TELAH DIBUKA! KAWASAN WISATA SUMBER ADVENTURE CENTER Posted on August 5, 2013, updated on December 18, 2013 by admin Dalam menyambut mudik lebaran 2013 ini, kini Sumber Alam kembali membuka sebuah kawasan wisata terpadu dan rest area yang dilengkapi dengan Waterpark, Stasiun Pengisian Adrenalin, Extreme Offroad (Rock Crawling), Museum Mobil dan Motor, Tourist Transit Terminal (Terminal Wisata). Posted in Berita Tagged kawasan wisata terpadu, rest area, sumber adventure center, water slide, waterpark Fasilitas Wifi Di Ruang Tunggu Penumpang Kutoarjo Posted on April 21, 2010, updated on June 21, 2012 by admin Dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap penumpang maka Sumber Alam kini menyediakan fasilitas WIFI pada ruang tunggu penumpang di Kutoarjo. ” Capek nunggu bis berangkat, bosen nonton TV di ruang tunggu penumpang …… kini Sumber Alam Kutoarjo menyediakan fasilitas WIFI diruang tunggu penumpang, jadi sambil nunggu keberangkatan bis bisa sambil facebook an, twitter dan chatting, …… […] Posted in Berita Tagged internet gratis, kutoarjo, sumber alam, wi Sumber Adventure Center Posted on March 17, 2013, updated on March 19, 2013 by admin Sumber Adventure Center – Saat ini Sumber Alam tengah melakukan pembangunan sebuah kawasan wisata terpadu yang terletak di Desa Butuh tepatnya di jalan Kutoarjo –Kebumen km 3.5, desa Andong Kecamatan Butuh kabupaten Purworejo. Kawasan terpadu ini khusus disediakan untuk publik dengan memberikan beberapa jenis layanan, antara lain : baca selengkapnya >> Posted in Berita Tagged kampoeng kompeni, mobil antiq, museum motor, rest area, sumber adventure center, sumber alam, water park, water park sumber alam Layanan Sumber Alam …– Purworejo – Gombong – Purwokerto Semarang – Magelang – Yogyakarta Semarang – Purworejo – Ajibarang Semarang – Purworejo – Majenang Yogyakarta – Purworejo – Kutoarjo – Cilacap Yogyakarta – Kebumen – Purwokerto Yogyakarta – Wonosobo – Purwokerto Yogyakarta – Wangon – Ajibarang Yogyakarta – Purworejo – Majenang Solo –… SPBU Sumber Alam Kini untuk melayani masayarakat Purworejo khususnya Kutoarjo, salah satu PO terbesar di kota Berirama ini yaitu PO. SUMBER ALAM telah membangun sebuah SPBU untuk umum. Yang terletak di Jl.P.Diponegoro No.160 Kutoarjo persis disamping Pool Pusat SUMBER ALAM Kutoarjo. SPBU ini siap melayani kebutuhan bahan bakar masyarakat khususnya masyarakat Kutoarjo. Dengan takaran yang pas dan pelayanan yang memuaskan diharapkan SPBU ini bisa memenuhi… Leave a comment Rumah Makan Sumber Alam Perubahan Tarif Tiket Bus Dan Shuttle Sumber Alam Pasca Kenaikan BBM Posted on November 20, 2014, updated on November 20, 2014 by admin Sehubungan dengan kenaikan BBM, PO Sumber Alam juga melakukan perubahan tarif tiket yang akan berlaku mulai pada hari Jum’at, tanggal 21 November 2014, Perubahan tersebut adalah sebagai berikut : Tarif Baru Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif Baru Yogyakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket di daerah antara Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto baca selengkapnya >> Posted in Berita Tagged harga AKDP, harga baru shuttle, harga baru tiket bus, harga patas semarang, kenaikan tarif, pasca bbm naik, tarif baru sumber alam Leave a comment Agen Patas AC AKDP Daftar agen bus Patas AC dengan rute Semarang – Cilacap (PP) : Agen Bus AKDP Tarif Tiket Update : 20 November 2014 Tarif Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif Yogyakarta – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto **Tarif Purwokerto – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari daerah Purwokerto sampai dengan Cikawung / Ajibarang baca selengkapnya >> Tentang Sumber Alam Sejarah Singkat Sumber Alam Perusahaan otobus Sumber Alam hingga saat ini sudah mengalami beberapa kali transformasi dalam perkembangannya. Pada kisaran tahun 1969 dibentuklah PO Tresno yang dirintis oleh Ibu Thung Tjie Hing yaitu nenek dari Bapak Judi Setijawan Hambali kemudian setelah Ibu Thung Tjie Hing mewariskan usaha tersebut kepada anak cucunya nama perusahaan tersebut berubah menjadi […] F.SOEARA KUTOARJO Kutoarjo, Perjuangan tak pernah lelah Minggu, 01 Februari 2009 Welcome to Kutoarjo,Purworejo Kutoarjo adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Purworejo, dulunya Kutoarjo adalah sebuah Kabupaten tersendiri yang berbentuk kawedanan, namun sejak tahun 1934 Kutoarjo dimasukkan dalam wilayah kabupaten Purworejo. Jejak peninggalan masih dapat dilihat di Kawedanan Kutoarjo berupa gedung kawedanan di sebelah utara alun-alun Kutoarjo. Kutoarjo memiliki luas wilayah sekitar 38 km2 dan terbagi menjadi 27 Kecamatan. Kalau anda singgah ke kota ini transportasi yang paling mudah adalah dengan menggunakan jasa kereta api, Stasiun KA Kutoarjo merupakan stasiun Kereta yang cukup besar di Jawa tengah. Sebagian besar masyarakat Kutoarjo, Purworejo atau daerah kedu sekitarnya (Magelang, Wonosobo, Kebumen) banyak yang menggunakan fasilitas jasa Kereta Api di stasiun ini untuk bepergian ke luar daerah. Akses KA paling banyak digunakan oleh masyarakat di Kutoarjo. Kalau bisa dibilang Kutoarjo hanya merupakan kota transit, karena berada pada jalur lintas Pantai Selatan Pulau Jawa. Karena adanya stasiun Kereta Api mungkin itu menjadi suatu kebangga tersendiri bagi Kota tersebut. Kutoarjo merupakan akses paling mudah apabila anda ingin melakukan perjalanan wisata, karena kota tersebut menghubungkan kota-kota tujuan wisata dengan obyek wisata yang menarik. Kalau anda ingin berwisata ke Borobudur, mungin hanya butuh waktu satu jam dari sana, kemudian Yogyakarta perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, di sebelah selatan anda dapat mengunjungi Panta Ketawang kira-kira 12 km dari kutoarjo, Pantai Glagah di Kulonprogo, Pantai Ayah di Kebumen dan Dieng Wonosobo, dan tempat-tempat wisata lainnya di daerah kedu selatan. Anda juga bisa mengunjungi Masjid Agung Purworejo, dimana disana tersimpat Bedug yang Paling Besar di Asia yang dinamakan dengan Kyai Bagelen, ataupun Gua Seplawan di daerah kaligesing serta curung Somangari yang semuanya berada di daerah Purworejo. Obyek-obyek wisata lain yang mungkin menarik adalah Curug Bruno di kecamatan Bruno sebelah Utara Kota Kutoarjo, Geger Menjangan sebuah perbukitan yang indah di Purworejo. Semua obyek-obyek wisata tersebut dapat ditempuh dengan cepat dan mudah lagi murah dari kota Kutoarjo. Kutoarjo, Purworejo juga menyediakan berbgai macam makanan khas daerah tersebut bisa anda dapatkan dengan mudah dan murah. Sate Winong, sebuah desa sentra makanan sate khas Purworejo yang terletak di desa Winong, sebelah Utara Kota Kutoarjo, anda bisa menikmati hidangan sate yang lezat dengan hawa pedesaan yang sejuk akan menambah kenikmatan. Di stasiun Purworejo anda bisa menikmati soto pak Rus, yang terkenal di Purworejo sambil menyaksikan gerbong-gerbong KA yang sesekali datang, sungguh suasana yang mungkin jarang anda dapati saat-saat ini. Jangan lupa, bagi anda yang menyukai masakan tradisional untuk singgah ke Warung Kupat Tahu bu Tulus yang ada di dekat pasar Kutoarjo, akan benar-benar memanjakan lidah anda. Bagi anda penggemar Bakso, mampir saja ke Bakso Sedap pak Sukar, di dekat perempatan Kutoarjo atau ke Bakso Siput di Purworejo, anda akan benar-benar menikmati bakso yang lezat dan khas di Kota Ini. Masih banyak masakan-masakan yang bisa anda nikmati di kutoarjo, Gudeg Mataram yang menyediakan masakan gudeg khas jogya yang benar-benar nikmat, bakmi Pak Edy buka sejak sore jam lima sore sampai malem. Kalau anda pingin melihat-lihat kota Kutoarja atau Purworejo di waktu malam, lebih baik anda singgah di alun-alun Kutoarjo atau Purworejo disitu anda bisa dimanjakan dengan berbagai aneka makanan yang anda. Dengan suasana lesehan diterangi lampu-lampu malam Kota. Sungguh sangat indah, bersantap ria di tengah malam disana. Anda bisa memilih berbagai macam makanan sesuai dengan selera anda. Kalau anda pulang nanti jangan lupa beli oleh-oleh, lanting makanan khas dari Kota ini, berbentuk bulat kecil yang dibuat dari tepung ketela, ada juga lompong makanan dari ketan yang diisi kacang, berwarna hitam dan dibungkus dengan daun pisang kering. Kerupuk Antolawit, geblek, kerupuk gadung, intil, ciwel dan masih banyak lagi makanan khas daerah ini yang bisa anda dapatkan sebagi oleh-oleh apabila anda pulang nanti. G.Angkringan wisata kuliner kutoarjo Wisata kuliner kutoarjo ya angkringan, itulah jawaban saya jika sobat semua tanya seputar makanan khas di kutoarjo kabupaten purworejo. Angkringan adalah sebuah warung tenda di pinggir jalan yang menjajakan makanan sederhana mulai sore hari hingga malam hari. Bahkan tidak jarang ada yang buka sampai pagi hari. Menurut salah satu pedagang angkringan, katanya purworejo masyarakatnya sangat suka jajan. Terutama jajanan sore hari. Salah atau benar itu pandangan dan kesimpulan pedagang angkringan yang setiap hari mendorong gerobag yang penuh dengan makanan. Pedagang angkringan ada yang bersifat kelompok dengan satu bos ada juga yang sifatnya individu. Untuk yang masih mempunyai bos dia hanya menjualkan stock atau jatah dari bos. Habis tidak habis nanti dia akan setoran. Type pedagang ankringan Di kutoarjo terdapat 3 orang yang menjual menu angkringan yang sama. Mereka tergabung dalam satu kelompok angkringan. Semua menu dan produk angkrigannya sama hanya saja tempat mangkalnya yang berbeda beda. Satu di depan masjid al izhar satu lagi di sebelah barat kali jali ( barat indomaret ) dan satu lagi ada di depan stasiun kutoarjo. Sebenarnya group ini masih punya 3 cabang lagi. Satu di jl kutoarjo kebumen desa kaliwatu, di barat alun alun kemiri dan satu lagi di seren. Dari semua anggotanya saya hanya mengenal 3 pegawainya. Di depan masjid al izhar alun alun kutoarjo bernama pak gito, di sebelah barat indomaret bernama mas anto ( 2 minggu ) dan mas paijo ( 2 minggu setelah mas anto ). Selain itu saya tidak kenal. Hanya kenal rasanya saja. Ok kita jangan bahas orangnya tapi bahas makanannya ya. Jenis makanan di warung angkringan Tidak banyak yang bisa kita jumpai di angkringa, hanya nasi sambel, nasi tongseng tempe. Udah itu saja. Sedangkan untuk lauk, ada banyak varian yang bisa kita nikmati. Mulai kerupuk, sate usus, sate telur, sate hati ayam, tahu bacem, tempe bacem, sayam ayam, kepala dan ceker. Selain itu ada tahu brontak, tempe mendoan dan tahu isi bakso. Itu yang di jual di angkringan group. Sedangkan angkringan mandiri atau individu di sebelah hotel sawunggalih ada sate keongnya juga. Kalau di depan telkom kutoarjo ada telor dadar. Waktu berjualan angkringan Jam kerja angkringan berbeda beda. Ada yang mulai jam 2 sudah siap ada juga yang jam 3 baru mulai menjajakan dagangannya. Untuk yang group, umumnya mereka akan mennggulung tenda setelah jam 00:00 atau bahkan lebih awal. Sedangkan yang di depan alfa mart dan depan kantor telkom mereka buka hingga hampir subuh. Itulah sedikit cerita wisata kuliner malam hari di kutoarjo. Siapa tahu sobat ingin jalan jalan malam atau sedang singgah di kutoarjo bisa mampir ke salah satu angkringan tersebut. Soal harga tak usah khawatir, tidak ada kata mahal di warung angkringan. Misteri penemuan wajan raksasa di tengah Kota Kutoarjo Reporter : Ya'cob Billiocta, Parwito | Minggu, 1 Mei 2016 09:07 Penemuan wajan raksasa di Kutoarjo. ©2016 merdeka.com/parwito Merdeka.com - Sudah beberapa hari ini, penemuan wajan berukuran super besar di tengah Kota Kutoarjo, Purworejo, bikin geger warga. Hal ini seiring teka teki asal usul wajan raksasa tersebut. Penemuan ini bermula saat pekerja bangunan, menggali tanah untuk fondasi ruko milik Widodo Hadi Pranoto (50) yang berlokasi di Jalan MT Haryono. Di kedalaman sekira 15 sentimeter, cangkul yang diayunkan pekerja menumbuk benda keras. "Besar wajan sekitar 270 sentimeter, ya tiga meter kurang 30 sentimeter," kata anggota Polsek Kutoarjo Aiptu Tamin kepada merdeka.com, Jumat (29/4). Saat ditemukan, wujud wajan sudah mulai berkarat. Tidak ada pegangan di kedua tepinya, seperti wajan pada umumnya. Berat wajan berkisar 400 kilogram. Wajan sempat akan dipindahkan. Namun enam warga yang mencoba mengangkat tidak berhasil. Setelah sisi-sisinya digali menyeluruh, juga ditemukan bekas bangunan diduga bekas tungku minyak tanah kuno di bawah wajan itu. "Tungkunya dari batu bata kuno yang ukuran batu batanya lebih besar dari batu bata zaman sekarang," ungkap mandor buruh bangunan, Mijan, Sabtu (30/4). Lantas dari mana asal usul kedua temuan ini? Diduga wajan raksasa beserta bangunan tungku minyak tersebut merupakan peninggalan kuno pabrik yang sudah ratusan tahun. "Sebelum mengerjakan ruko bangunan ini juragan Toko ABC sebelah bilang, katanya ketika kecil pernah dikasih tahu pemilik bangunan jika ada wajan terpendam dalam tanah," paparnya. Meski demikian, Mijan dan beberapa warga sekitar selama tinggal di tempat itu tidak pernah mendengar informasi penggunaan wajan raksasa itu pada zaman dulu. Sampai saat ini, informasi yang berkembang usai penemuan wajan raksasa simpang siur. Beberapa warga saling berspekulasi. Ada yang menyatakan tempat itu adalah bekas pabrik pembuatan batik atau pabrik pembuatan kerupuk. Untuk mengungkap asal usul wajan dan tungku ini, Kepala Seksi Sejarah Purbakala dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Purworejo Eko Riyanto mengemukakan, pihak dinas menerjunkan petugas untuk melakukan penelitian awal. "Benda masih dikategorikan sebagai diduga cagar budaya dan masih memerlukan penelitian lebih mendalam," kata Eko Riyanto saat dikonfirmasi merdeka.com, Sabtu (30/4). Eko menyatakan pihaknya, usai penemuan segera melaporkan kejadian itu ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. "Temuan itu telah kami laporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng yang berkantor di Prambanan," ungkapnya. Sementara itu, Kepala Dikbudpora Muh Wuryanto menjelaskan temuan wajan raksasa baru pertama kali di Purworejo, dan dinas belum pernah memiliki referensi tentang benda tersebut. "Namun apa fungsinya, apakah ada keterkaitan dengan sejarah Purworejo atau kehidupan Kutoarjo masa lalu, kami belum tahu dan masih harus dikuak," ujarnya. Kabar penemuan wajan raksasa tersebut membuat warga sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut. Selain penasaran ingin melihat bentuk dan wujud wajan raksasa, ratusan warga juga ingin mengabadikan dengan berfoto dekat wajan berdiameter 2 meter lebih itu. Tak jarang, mereka juga langsung berdiri di atas wajan raksasa itu. Anita, warga Yogyakarta, mengaku penasaran dengan bentuk wajan raksasa di Kutoarjo. "Senang bisa datang ke Kutoarjo dan ambil foto berlatar wajan raksasa," ujarnya. Pengunjung lainnya, Hartoyo dari Magelang datang bersama anak dan istrinya. Dia datang untuk melihat keunikan wajan raksasa. "Jarang kan ada wajan ukurannya sampai sebesar itu. Sekalian akhir pekan wisata juga ingin melihat secara langsung seperti apa wajan dan tungku minyak yang katanya kuno dan ukurannya raksasa itu," ucap Hartoyo. PENUTUP Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadipokok bahasan dalam makalah ini, tentu nya masih ba nyak kekurangan dan kelemahan nya, kerena terbatas nya pengetahuan dan kurang nya rujukan atau referensi yang ada hubungan nya dengan judul makalah ini. Penulis ba nyak berharap para pembaca yang budi man dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurna nya makalah ini dan dan penulisan makalah dikesempatan-kesempatan berikut nya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khusus nya juga para pembaca yang budi man pada umum nya.

Report
BUKU SIMULASI DIGITAL
SEJARAH KOTA KUTOARJO KABUPATEN
PURWOREJO
PENERBIT:ROHMAH YUNIARTI
Kelas:x pemasaran 2
smk n 2 purworejo
Kata Pengantar
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata
kuliah Agama Islam.
Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia
dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang
telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak
masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran
keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini
tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendalakendala yang penulis hadapi teratasi.
Buku ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan Sejara
Kota Kutoarjo, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi, referensi, dan berita. Buku ini di susun oleh penyusun dengan berbagai
rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya
buku ini dapat terselesaikan.
Semoga buku ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas
Mercu Buana. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau
dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Kutoarjo,April 2016
Penyusun
1
Daftar Isi
Kata Pengantar.........................................................................................................
Daftar Isi.................................................................................................................
Letak Kota Kutoarjo.................................................................................................
Riwayat Kutoarjo..................................................................................................
Mengenal Sejarah Pembangunan Stasiun KA Purworejo Lewat Tulisan..................
Kecamatan Kutoarjo.............................................................................................
Tempat Wisata Waterbom Kutoarjo........................................................................
Soeara Kutoarjo.......................................................................................................
Wisata Angkringan Kutoarjo...............................................................................
A.Letak Kota Kutoarjo, Purworejo
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kutoarjo
Kecamatan
Negara
Indonesia
Provinsi
Jawa Tengah
Kabupaten
Purworejo
Pemerintahan
• Camat
Sudaryono, S.Sos
Luas
37,59 km²
Jumlah penduduk
59.266 jiwa (2012)
Kepadatan
1.559,6 jiwa/km²
Desa/kelurahan
27
Kutoarjo merupakan sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah administratif
Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kutoarjo terletak di
bagian tengah agak ke barat daya, dan berbatasan dengan Kecamatan Butuh dan
Kemiri di sebelah Barat, Kecamatan Kemiri di sebelah Utara, Kecamatan Bayan di
sebelah Timur dan Kecamatan Grabag di sebelah .Kutoarjo pernah menjadi
kabupaten tersendiri di Provinsi Jawa Tengah. Semenjak tahun 1934 wilayahnya
digabungkan dengan Kabupaten Purworejo.[1]
Menurut sejarah, Kutoarjo pada masa penjajahan Hindia Belanda merupakan
ibukota kabupaten Semawung. Pada tahun 1934 wilayahnya kemudian digabung
dengan Kabupaten Purworejo. Pola pembangunan perkotaan di Kutoarjo hampir
sama dengan Purworejo karena pernah menjadi pusat pemerintahan. Setelah
bergabung dengan Kabupaten Purworejo posisi Kutoarjo bukan lagi sebagai
ibukota kabupaen namun daerah setingkat diatas kecamatan atau dikenal dengan
Kawedanan. setelah indonesia merdeka dan penetapan Jawa Tengah sebagai
provinsi pada tahun 1950 kedudukan Kutoarjo hanyalah kota kecamatan. Pola
pembangunan dan penataan kota yang khas dapat dilihat dari adanya Alun-alun,
Pendapa, Masjid dan gedung-gedung pemerintahan yang berdekatan.
Kecamatan Kutoarjo memiliki kelebihan dibandingkan dengan kecamatankecamatan lain di Kabupaten Purworejo. Salah satu kelebihan yang dimiliki yaitu
merupakan kota kecamatan paling ramai selain kota Kabupaten Purworejo.
Kutoarjo dilewati langsung oleh Jalan Nasional Rute 3 dan jalur kerete api lintas
selatan sehingga banyak pengguna kendaraan umum yang turun di Kutoarjo
sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung. Selain itu, Stasiun kereta api
terbesar di Kabupaten Purworejoberada di Kutoarjo. Stasiun Kutoarjo merupakan
stasiun besar tipe B yang terletak di Kelurahan Semawung Daleman, Kutoarjo,
Purworejo. Stasiun ini melayani naik turun penumpang baik kelas Ekonomi,
Ekonomi Plus, Bisnis, Eksekutif dan Komuter, hampir semua kereta api
penumpang lintas selatan Jawa berhenti di stasiun ini. Terdapat pula Perusahaan
otobus (PO) Sumber Alam di Kutoarjo.
Stasiun Kutoarjo
Kondisi kerukunan umat beragama di Kota Kutoarjo terbina dengan baik, dimana
para tokoh agama senantiasa menjalin silaturahmi dalam rangka meningkatkan
peran serta dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan antar umat beragama.
B.Riwayat Kutoarjo
KUTOARJO dikenal dengan sebutan SEMAWONG
Pada tahun 1587 Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati Loring Pasar
putra dari Ki Ageng Pemanahan (awal berdirinya Mataram Islam), mendirikan
Kesultanan Mataram. Saat itu nama Semawung sudah ada, berasal dari nama
saudagar benang dari Cina yang bernama Sie Mau Wong. Putera pertama Ki
Ageng Panjawi yang bernama Wasis Jayakusuma menjadi Adipati Pati bergelar
Adipati Pragola Pati I.
Menurut Babad Tanah Jawi, Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I mempunyai
putra :
1. Raden Mas Tjoemantoko
2. Raden Ayu Retno Dumillah/Kanjeng Ratu Beroek/Putri Moertisari
3. Raden Mas Baoeredjo
Nama asli Prabu Hanyakrawati adalah Raden Mas Jolang, putra Panembahan
Senapati raja pertama Kesultanan Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas
Waskitajawi, putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati. Antara kedua orang tua Mas
Jolang
tersebut
masih
terjalin
hubungan
sepupu.
Setelah dewasa, menjadi Sultan Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Adi Prabu
Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat :
Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada
tahun 1601-1613. Prabu Hanyakrawati meninggal dunia pada tahun 1613 karena
kecelakaan sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak, sehingga terkenal dengan
gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak
yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari
Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang juga pahlawan nasional Indonesia
(http://id.wikipedia.org/wiki/Panembahan_Hanyakrawati)
Raden Mas Tjoemantoko diangkat menjadi Tumenggung di Semawung bagian dari
tlatah Bagelen oleh sepupunya yang bernama Raden Mas Jolang dan diberi gelar
Raden Tumenggung Tjoemantoko. Setelah Raden Tumenggung Tjoemantoko
wafat, dimakamkan di bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh,
masyarakatnya sering menyebut sebagai MBAH GIRI TJOEMANTOKO.
Putra beliau yang bernama Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe menggantikan
ayahandanya menjadi Tumenggung Semawung dengan gelar Raden Tumenggung
Tjoemantoko II, yang mempunyai keturunan bernama Raden Mas Gatoel.
Setelah dewasa Raden Mas Gatoel ingin mencari pengalaman, oleh ayahandanya
Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe dijinkan dan disuruhnya mengabdi kepada Adipati
Jojokusumo di Kadipaten Gombong. Di sana Raden Mas Gatoel awalnya menjadi
prajurit biasa.
Kepandaian Raden Mas Gatoel dalam olah kanuragan dan keprajuritan sangat
baik, maka beliau dijadikan pengawal pribadi "Kajineman" Adipati Jojokusumo
mengawal sowan ke Kartosuro, sehingga Raden Mas Gatoel juga disebut dengan
Kyai/Ki Jinem.
Setelah Raden Mas Kowoe/Ki Kowoe atau Raden Tumenggung Tjoemantoko II
wafat dan dimakamkan di Desa Kuwurejo, kedudukannya digantikan Raden Mas
Gatoel/Ki Jinem dengan gelar Raden Tumenggung Tjoemantoko III.
Konon Raden Tumenggung Tjoemantoko III suka berkelana dan sempat
menemukan keris kecil yang bernama Kyai Sawunggalih (pusaka kraton di dalam
kayu jati di daerah Bruno), Raden Tumenggung Tjoemantoko III dalam tidurnya
bermimpi kalau itu adalah Pusaka Kraton dan minta untuk dikembalikan, lalu
pusaka itu dikembalikan ke kraton dan diterima dengan senang hati oleh Raja.
Raden Tumenggung Tjoemantoko III mempunyai putra bernama Raden Mas
Bancak. Setelah Raden Tumenggung Tjoemantoko III wafat dan dimakamkan di
Bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. diteruskan oleh putranya yang
bernama Raden Mas Bancak dengan gelar Tumenggung Bantjik Kertonagoro
Sawunggalih I setelah wafat digantikan putranya yang bergelar Tumenggung
Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II, pada saat itu pusat pemerintahan dipindah
dari Semawung Kembaran ke Semawung Daleman.
Setelah Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II wafat, diganti oleh
menantunya Raden Mas Soerokusumo yang sebelumnya menjabat Patih di
Kabupaten Ambal (Kebumen). pada saat pemerintahan Raden Mas Soerokusumo
pusat pemerintahan dari Semawung Daleman dipindah ke Desa Senepo dan
Senepo diganti nama menjadi Kutoarjo. Raden Mas Soerokusumo menjadi Bupati
pertama di Kutoarjo bergelar Raden Adipati Aryo Soerokusumo. Dalam catatan
ditemukan pertumbuhan perdagangan di Kutoarjo lebih maju daripada Kabupaten
Purworejo. Di kutoarjo waktu itu banyak perajin tenun dan barang pecah belah
dari tanah liat. Semawung merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai,
saat
itu
banyak
pedagang-pedagang
Cina
berdatangan.
Raden Adipati Soerokusumo setelah wafat dimakamkan dekat makam Ageng
Loano, pengganti RAA Soerokusumo atas kebijaksanaan Sunan Pakubuwono
bukan putra RAA Soerokusumo, tetapi dipilih dari pejabat yang langsung dari
kerabat Keraton Surakarta, yaitu RAA Pringgo Atmodjo yang memerintah sampai
tahun 1870.
Pada jaman pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo dibangun kantor
kabupaten di atas tanah seluas 8 hektar, sampai berakhirnya pemerintahan Raden
Adipati Soerokusumo, pembangunan belum selesai dan dilanjutkan oleh RAA
Pringgo Atdmodjo sampai tahun 1870 sudah lengkap dengan Alun-alun Kutoarjo.
Waktu itu dibangun pula rumah kepatihan yang kini menjadi kantor Kecamatan
Kutoarjo, sedangkan rumah dinas dan kontrolir yang terletak di Dusun Tegal Desa
Senepo sebagian masih utuh dan sekarang dijadikan untuk Mapolsek Kutoarjo,
kantor Landraad/Kejaksaan di sudut alun-alun Kutoarjo yang sekarang
dimanfaatkan oleh PDAM.
Waktu pemerintahan RAA Pringgo Atdmodjo Kabupaten Kutoarjo dibagi menjadi
empat kawedanan, yaitu : Kemiri, Pituruh, Grabag/Ketawang dan Purwodadi,
sedangkan Masjid Jami Kutoarjo dibangun tahun 1860 lengkap dengan kantor
pengadilan agama atau penghulu.
Tahun 1875 Masjid Jami Kutoarjo dipugar oleh RAA Poerbo Atdmodjo.
Perdagangan di Kutoarjo semakin pesat setelah dibangun rel kereta api
Yogyakarta - Purwokerto tahun 1880 – 1885, kemudian pada tahun 1890
dibangun rel kereta dari Kutoarjo - Purworejo.
Nama-nama penguasa di Kadipaten Semawung yang kemudian menjadi
Kabupaten Kutoarjo, pada awal luas wilayahnya sampai Purworejo :
1. Raden Tumenggung Tjoemantoko I (makamnya di Bukit Satria
Kaliwatubumi)
2. Raden Mas Kuwu/Raden Tumenggung Tjoemantoko II
3. Raden Mas Gatoel/Ki Jinem/Raden Tumenggung Tjoemantoko III
(makamnya di Kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo)
4. Raden Bantjak/Tumenggung Bantjik Notonagoro Sawunggalih I
(makamnya di Kelurahan Semawung Kembaran Kutoarjo)
5. Tumenggung Bantjik Notonagoro Sawunggalih II (makamnya di Kelurahan
Semawung Daleman Kutoarjo)
6. RAA Soerokusumo (makamnya di Pesarean Ageng Loano)
7. RAA Pringgo Atmodjo sampai tahun 1870. (makamnya di Bukit Satria
Kaliwatubumi dekat makam Raden Tumenggung Tjoemantoko I)
8. RAA Toerkidjo Poerbo Atdmodjo 1870 - 1915 (makamnya di Bukit Satria
kaliwatubumi)
9. RAA Poerbo Hadikoesoemo 1915 - 1933.
Para penguasa di Kabupaten Kutoarjo merupakan keturunan dari RM. Said atau
Kanjeng Sunan Kalijaga
Sejarah Kutoarjo yang bernama Semawung lebih tua daripada Purworejo yang
dulu bernama Brengkelan, sejarah Kutoarjo dimulai dengan adanya Mataram
Islam dan para penguasanya memiliki garis keturunan ningrat/keraton. Purworejo
sendiri pada awalnya termasuk dalam kekuasaan Kutoarjo, tetapi karena
kekuasaan dan intrik Belanda di Keraton, kemudian Belanda membuat kadipaten
baru yang bernama Purworejo/Brengkelan dengan mengangkat seorang abdi
dalem/mantri gladak menjadi Bupati serta karena prestasinya di mata Penjajah
Belanda yang diperoleh selama melawan para pengikut Pangeran Diponegoro dan
membunuh para pangeran di Gunung Kelir, sehingga hari jadi Purworejo dipilih
pada masa Hindu, bukan dari Bupati pertama Brengkelan/Purworejo yang dilantik
30 juni 1830, karena tidak punya nilai nasionallisme dan juga merupakan contoh
yang kurang baik bagi generasi muda.
Kutoarjo adalah kota kecil tempat kelahiranku tepatnya di rumah sakit palang biru
Hari Selasa Tanggal 14 Juni 1986. Kutoarjo awal mulanya bernama Semawong
sejarah diawali dengan pertama kalinya berdirinya Mataram Islam oleh Danang
Sutowijoyo atau Panembahan Senopati Loring Pasar putra dari Ki Ageng
Pemanahan, pada masa itu nama Semawung sudah ada dan semawung sendiri
berasal dari nama saudagar benang dari Cina yang bernama Sie mau wong yang
tinggal disitu. pada waktu itu Danang Sutowijoyo memperistri putri dari Ki Ageng
Panjawi penguasa Pati yang juga sahabat ayahnya Ki Ageng Pemanahan, yang
bernama Waskitajawi untuk di jadikan permaisuri yang nantinya bergelar Gusti
Kanjeng Ratu Hemas dan melahirkan Mas Jolang.
Danang Sutawijaya
kemudian mendirikan Kesultanan Mataram tahun 1587. Putara pertama Ki Ageng
panjawi yang bernama Wasis Jayakusuma menjadi Adipati Pati bergelar
Adipati Pragola Pati I.
Adipati Pragola Pati I Secara suka rela ia tunduk kepada Mataram karena kakaknya
dijadikan permaisuri utama bergelar Ratu Mas, sedangkan Mas Jolang sebagai
putra
mahkota.
Pada tahun 1890 Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun.
Pemimpin kota itu yang bernama Rangga Jemuna (putra bungsu Sultan
TrengganaDemak)
melarikan
diri
ke
Surabaya.
Putri Wasis Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I yang bernama Retno Dumilah
diambil
Panembahan
Senopati
sebagai
permaisuri
kedua.
Peristiwa ini membuat Pragola sakit hati karena khawatir kedudukan kakaknya
(Ratu Mas) terancam. Ia menganggap perjuangan Panembahan Senopati sudah
tidak murni lagi. Pemberontakan Pati pun meletus tahun 1600. Daerah-daerah di
sebelah
utara
Pegunungan
Kendeng
dapat
ditaklukan
Pragola.
Panembahan Senopati mengirim Mas Jolang yang tak lain adalah keponakan Wasis
Jayakusuma/Adipati Pragola Pati I ,untuk menghadapi pemberontakan Pragola
paman dari Mas Jolang. Paman dan keponakan akhirnya bertempur, Kedua
pasukan bertemu dekat Prambanan. Pragola dengan mudah melukai keponakannya
itu
sampai
pingsan.
lalu Panembahan Senopati berangkat untuk menumpas Pragola. Menurut Babad
Tanah Jawi, Ratu Mas sudah merelakan kematian adiknya. Pertempuran terjadi di
Prambanan. Pasukan Pragola kalah dan mundur ke Pati. Panembahan Senopati
mengejar dan menghancurkan kota itu. Akhirnya, Adipati Pragola pun hilang tidak
diketahui
nasibnya.
Wasis
Jayakusuma/Adipati
Pragola
Pati
I
mempunyai
putra
:
1.
Raden
Mas
Tdjoemantoko.
2. Raden Ayu Retno Dumillah/ Kanjeng Ratu Beroek/Putri Moertisari.
3. Raden Mas Baoeredjo.
Foto Makam Raden Mas Tumenggung Tdjuemantoko adipati pertama
semawung/kutoarjo
di
Bukit
Satria
Desa
Kaliwatubumi.
Setelah dewasa Raden Mas Tdjoemantoko oleh sepupunya anak dari Budenya
yang bernama Raden Mas Jolang yang telah menjadi Raja menggantikan
ayahhandanya, menjadi sultan Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Adi Prabu
Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat:
Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada
tahun 1601-1613. Ia juga sering disebut dengan gelar anumerta Panembahan Seda
ing Krapyak, atau cukup Panembahan Seda Krapyak, yang bermakna "Baginda
yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari Sultan Agung, raja
terbesar
Mataram
yang
juga
pahlawan
nasional
Indonesia.
Raden Mas Tdjoemantoko diangkat menjadi Tumenggung di Semawung tlatah
bagelen oleh Sepupunya yang bernama Raden Mas Jolang yang telah menjadi raja
menggantikan ayahhandanya, menjadi sultan Mataram dengan gelar Sri
Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram dan
Raden Mas Tdjoemantoko diberi gelar Raden Tumenggung Tdjoemantoko.
setelah Raden Tumenggung Tdjoemantoko wafat dan di makamkan di bukit Satria
desa kaliwatubumi kecamatan Butuh yang masyarakat juga sering menyebut
dengan
MBAH
GIRI
TDJUEMANTOKO.
Kemudian putra beliau yang bernama Raden Mas Kowoe/Ki kowoe
menggantikan ayahhandanya menjadi Tumenggung Semawung dengan gelar
Raden
Tumenggung
Tdjoemantoko
II.
Raden Tumenggung Tdjoemantoko II mempunyai putra bernama Raden Mas
Gatoel.
setelah dewasa Raden Mas Gatoel mingin mencari pengalaman, oleh
ayahhandanya
Raden Mas Kowoe/Ki kowoe mengijinkan dan disuruhnya mengabdi Kepada
Adipati Jojokusumo di Kadipaten Gombong. disana Raden Mas Gatoel pertama
kalinya
menjadi
prajurit
biasa
saja.
kepandaian Raden Mas Gatoel dalam olah kanuragan dan keprajuritan sangat
bagus kemudian beliau dijadikan pengawal pribadi "kajineman" Adipati
Jojokusumo
mengawal
sowan
ke
Kartosuro,
makanya Raden Mas Gatoel juga disebut dengan Kyai/Ki Jinem.
Foto makam Kyai/Ki Jinem alias RM. Gatoel di kelurahan Semawung
Kembaran
Kutoarjo
Setelah Raden Mas Kowoe/Ki kowoe atau Raden Tumenggung
Tdjoemantoko II wafat dan di makamkan di desa kuwurejo maka otomatis
kedudukannya digantikan Raden Mas Gatoel/Ki Jinem dengan gelar Raden
Tumenggung
Tdjoemantoko
III.
Konon Raden Tumenggung Tdjoemantoko III suka berkelana sempat
menemukan pusaka kraton didalam kayu jati di daerah bruno Pusaka keris kecil
yang bernama Kyai Sawunggalih, setelah itu Raden Tumenggung
Tdjoemantoko III dalam tidurnya bermimpi kalau itu adalah Pusaka Kraton dan
minta untuk dikembalikan, lalu pusaka itu dikembalikan di kraton dan diterima
dengan
senang
hati
oleh
Raja.
Raden Tumenggung Tdjoemantoko III.mempunyai putra bernama Raden Mas
Bancak. setelah Raden Tumenggung Tdjoemantoko III wafat dan di makam kan di
bukit Satria desa kaliwatubumi kecamatan Butuh. maka kedudukan diteruskan oleh
putranya yang bernama Raden Mas Bancak dengan gelar Tumenggung Bantjik
Kertonagoro Sawunggalih I setelah wafat digantikan putranya yang bergelar
Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II, pada saat itu pusat
pemerintahan dipindah dari Semawung kembaran ke Semawung Daleman.
Foto makam Raden Tumenggung Banjik Kertonagoro Sawunggalih I di Kelurahan
Semawung
kembaran
Kutoarjo.
Sesudah Tumenggung Bantjik Kertonagoro Sawunggalih II wafat, diganti
oleh menantunya Raden Mas Soerokusumo yang sebelumnya menjabat patih di
kabupaten ambal (kebumen). pada saat pemerintahan Raden Mas Soerokusumo
pusat pemerintahan dari semawung daleman dipindah ke desa Senepo dan Senepo
diganti nama Kutoarjo. Raden Mas Soerokusumo menjadi Bupati pertama di
Kutoarjo bergelar Raden Adipati Aryo Soerokusumo. dalam catatan ditemukan
pertumbuhan perdagangan di kutoarjo lebih maju di banding kabupaten Purworejo,
di kutoarjo waktu itu banyak pengrajin tenun dan barang pecah belah dari tanah
liat. semawung diperkirakan merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai,
saat itu banyak pedagang-pedagang Cina berdatangan. Raden Adipati
Soerokusumo setelah wafat dimakamkan di makam Ageng Loano, pengganti RAA
Soerokusumo atas kebijaksanaan Sunan Pakubuwono bukan putra RAA
Soerokusumo, tetapi dipilih dari pejabat yang langsung kerabat kraton Surakarta
yakni RAA Pringgo Atmodjo yang memerintah sampai tahun 1870.
masa pemerintahan Raden Adipati Soerokusumo membangun kantor kabupaten
diatas tanah seluas 8 hektar, sampai berakhirnya pemerintahan Raden Adipati
Soerokusumo pembangunan belum selesai dan dilanjutkan oleh RAA Pringgo
Atdmodjo sampai tahun1870 sudah lengkap dengan Alun-alun kutoarjo. waktu itu
dibangun pula rumah kepatihan yang kini menjadi kantor kecamatan Kutoarjo.
sedangkan rumah dinas dan kontrolir yang terletak di dusun tegal desa senepo
sebagian masih utuh dan sekarang dijadikan untuk Mapolsek Kutoarjo, kantor
Landraad/kejaksaan di sudut alun-alun Kutoarjo yang sekarang dimanfaatkan oleh
PDAM.
Foto Makam Bupati Kutoarjo Kedua ( II ) RAA Pringgo Atdmojo di Bukit Satria
Desa
Kaliwatubumi,
Butuh.
waktu pemerintahan RAA Pringgo Atdmodjo kabupaten Kutoarjo dibagi menjadi
empat
kawedanan
yakni
:
Kemiri,
Pituruh,
Grabag/ketawang,
dan
Purwodadi.
sedang masjid Jamik Kutoarjo dibangun tahun 1860 lengkap dengan kantor
pengadilan
agama
atau
pengulu.
Tahun 1875 masjid jamik Kutoarjo dipugar oleh RAA Poerbo Atdmodjo.
pesatnya perdagangan di kutoarjo setelah dibangun rel kereta api yogyakarta Purwokerto tahun1880 - 1885 kemudian pada tahun 1890 dibangun rel kereta dari
kutoarjo
purworejo.
Berikut nama - nama penguasa di Kadipaten Semawung terus menjadi Kabupaten
Kutoarjo yang awal mulanya wilayahnya luas sampai purworejo :
1. Raden Tumenggung Tdjoemantoko I. ( makamnya di bukit Satria
kaliwatubumi
)
2.
Raden
Mas
Kuwu/Raden
Tumenggung
Tdjoemantoko
II.
3. Raden Mas Gatoel/Ki Jinem/Raden Tumenggung Tdjoemantoko III. (
makamnya
di
Kelurahan
semawung
kembaran,
kutoarjo
)
4. Raden Bantjak/Tumenggung bantjik notonagoro Sawunggalih I. (
makamnya
di
Kelurahan
semawung
kembaran,
kutoarjo
)
5. Tumenggung bantjik notonagoro Sawunggalih II. ( makamnya di Kelurahan
semawung
daleman,
kutoarjo
)
6. RAA Soerokusumo. ( makamnya di Pesarean Ageng loano )
7.RAA Pringgo Atmodjo sampai tahun 1870. ( makamnya di bukit Satria
kaliwatubumi dekat makam Raden Tumenggung Tdjoemantoko I )
8.RAA Toerkidjo Poerbo Atdmodjo 1870 - 1915. ( makamnya di bukit Satria
kaliwatubumi
)
9.
RAA
Poerbo
Hadikoesoemo
1915
1933.
Penguasa - Penguasa Di kabupaten Kutoarjo adalah masih trahing
kusumo rembesing madu yang valid bahkan masih ada garis keturunan dari
RM. Said atau kanjeng Sunan Kali jogo
Foto Makam Patih Kutoarjo Raden Ngabehi Djojo Prabongso di makam ditulis
meninggal tahun 1829 makamnya di Belakang Masjid At-Taqwa desa
Pringgowijayan,
Kutoarjo.
RAA
Toerkidjo Poerbo Atdmodjo ahli pembangunan Bendungan
Selama ini banyak orang menyangka, pembangunan bendungan di Kutoarjo
dan purworejo ditangani oleh para ahli dari belanda. Namun sejarah menunjukkan
bendungan di Kutoarjo dan purworejo yamg dibangun pada masa pemerintahan
Hindia Belanda ditangani oleh arsitek bendungan pribumi yang bernama Raden
Mas Toerkidjo Purbo Atmodjo putra RAA Pringgo Atdmojo Bupati kedua
kabupaten
Kutoarjo.
Raden Mas Toerkidjo Purbo Atmodjo sejak muda dikenal sebagai seorang
yang senang pada tehnik bangunan air, akhirnya mendapat kesempatan belajar di
kalkuta
India
untuk
mempelajari
masalah
irigasi.
Di Kalkuta India Raden Mas Toerkidjo Purbo Atmodjo mempelajari tehnik
bangunan bendungan sungai gangga. setelah kembali, pengetahuan yang didapat
dari India diterapkan didaerahnya. RAA Tjokronegoro II minta dibangunkan
bendungan di sungai Bogowonto. atas keberhasilannya membangun bendungan
Boro, akhirnya diangkat sebagai mantri Bendungan atau mantri Pengairan.
Selain bendungan dan selokan yang mengambil air dari sungai Bogowonto,
Raden Mas Toerkidjo membangun pula bendungan sawangan di sungi jali, bedono,
dan
gebang.
bendungan-bendungan
tersebut
antara
lain
:
-
Bendungan
Bendungan
Bendungan
sedang
-
dari
Sungai
sawangan
Bandung
Siwatu
Sluis
Sluis
Saluran
bedono
dan
Bendungan
bendungan
Bendungan
Dam
Saluran
di
di
di
Gebang
Kedung
Kali
Sungai
Sungai
sungai
Jali.
Jali.
Jali.
Saudagaran.
Suren.
Loning.
dibangun
pula
:
pekatingan.
Gupit.
Kalimeneng.
Rebug.
Anyar.
Hampir semua bendungan yang dibangun pada masa Raden Mas Toerkidjo
meskipun umurnya sudah tua dan lebih dari satu abad masih banyak yang kokoh.
Termasuk Sluis suren hingga saat ini masih berfungsi baik.
Raden Mas Toerkidjo yang dikenal sebagai ahli tehnik bangunan air, pada
tanggal 19 Oktober 1870 dengan surat keputusan Gubernur Jendral Pemerintah
Hindia Belanda di Bogor diteteapkan menjadi Bupati Kutoarjo bergelar RAA
Toerkidjo
Poerboatmodjo.
Bupati yang dikenal ahli bangunan irigasi, pada tanggal 30 Juli 1887
mendapat gelar adipati atau lengkapnya disebut Raden adipati Toerkidjo
poerboatmodjo.
Kemudian pada tanggal 01 oktober 1910 kembali medapat gelar Pangeran,
hingga wafatnya bernama Pangeran Toerkidjo poerbo Atmodjo dimakamkan di
Gedung Papak Bukit Satria desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh.
Foto Makam Pangeran Toerkidjo poerbo Atmodjo di Gedung Papak Bukit Satria
desa
Kaliwatubumi
Kecamatan
Butuh.
Kutoarjo pada masa Bupati RAA Poerbo Hadikusumo atas perintah
Pemerintah Hindia Belanda tahun 1933 untuk menyatukan Kabupaten Kutoarjo
dan Kabupaten Purworejo, dan Bupati Purworejo saat itu adalah RAA Hasan
Danudiningrat. akhirnya penggabungan dua Kabupaten terjadi pada tahun 1933.
Foto salah satu Yoni di makam - makam Penguasa/Pendiri Kota Kutoarjo Di
Bukit
Satria
desa
Kaliwatubumi,
Butuh.
Sejarah kutoarjo atau dulu yang bernama semawung lebih tua daripada
purworejo yang dulu bernama brengkelan, sejarah kutoarjo dimulai dengan adanya
Mataram Islam dan penguasa - penguasanya masih garis keturunana
Ningrat/kraton, Purworejo sendiri awal mulanya masih kekuasaan kutoarjo tapi
karena kekuasaan belanda juga intrik belanda di Kraton, lalu Belanda membuat
kadipaten baru yang bernama Purworejo/brengkelan dengan mengangkat seorang
abdi dalem/mantri gladak menjadi Bupati serta karena prestasinya di mata Penjajah
Belanda yang beliau dapat melawan pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro dan
membunuh pangeran - pangeran di gunung kelir. makanya hari jadi purworejo
dicari pada masa hindu, bukan dari Bupati pertama brengkelan/Purworejo dilantik
pada 30 juni 1830 , karena tidak punya nilai Nasionallisme juga contoh yang buruk
bagi
generasi
muda.
Nama adipati sawunggalih diabadikan dengan nama kereta api kebanggan
masyarakat Kutoarjo, sekolah, hotel, poletehnik dan sebagainya. pertanyaannya
sekarang kapan ya kutoarjo menjadi sebuah kota admistratif ataupun kota madya?
hari jadi kutoarjo tentunya semenjak Tumenggung Djumantoko I menjadi
penguasa
di
kutoarjo.
Sebenarnya banyak penguasa Di Kadipaten Semawung/Kutoarjo yang
mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro tanpa sepengetahuan Belanda,
makanya untuk mengawasi gerak - gerik para Bupati Kutoarjo Belanda
menempatakan pengawas di Dusun Tegal yang sekarang digunakan untuk Kantor
Mapolsek
Kutoarjo.
Makam Raden Tumenggung Djumantoko I sering diziarahi oleh para pejabat
tinggi Negara termasuk Hb IX dan HB X.kalu ada pejabat atau orang yang punay
hajat misal pilihan Lurah, Bupati, dan gubernur Pasti sowan kemakam beliau
Diceritakan
dan
ditulis
oleh
:
Ndandung
Kumolo
Adi.
Alamat : Perum argopeni Jln. Bromo No. 72 Rt. 06 Rw. 05 Kutoarjo - Purworejo
Diposkan oleh Mustafid Sawunggalih di 04.15
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Leave a respond
Poskan Komentar
Newer posts Older posts
C.Mengenal Sejarah Pembangunan Stasiun KA Purworejo Lewat Tulisan
Rabu, 6 November 2013 13:02
TRIBUNJOGJA.COM | RENTO ARI NUGRAHA
Seorang warga sedang mengamati papan informasi sejarah perkeretaapian
Indonesia yang dipasang di stasiun Purworejo belum lama ini. Wahana informasi
tersebut menyuguhkan informasi awal mula keberadaan kereta api di Indonesia
dan sejarah pembangunan stasiun Purworejo. Diharapkan, papan informasi
tersebut bisa menjadi wahana edukasi untuk pengunjung stasiun.
TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Meskipun Stasiun Purworejo sekitar
dua tahun terakhir tidak aktif melayani penumpang, namun pihak PT Kereta Api
Indonesia (KAI) tidak menelantarkan begitu saja. Selain direnovasi, pekan ini
terdapat wahana baru berupa papan informasi sejarah Stasiun Purworejo.
Sebanyak enam papan setinggi sekitar tiga meter dan lebar satu meter menghiasi
bagian dalam stasiun. Masing-masing papan disusun membentuk semacam tiang,
terdiri empat papan yang ditempatkan di pintu masuk hingga ke bagian dalam
stasiun.
Masing-masing papan memiliki berbagai informasi menarik mengenai sejarah KA.
Misalnya informasi mengenai sejarah awal keberadaan KA di Indonesia, awal
pembangunan Stasiun Purworejo, hingga proses renovasi Stasiun Purworejo yang
menuntut ketelitian tinggi.
Tidak hanya memajang tulisan, papan informasi juga memajang foto-foto
bersejarah, misalnya lokomotif uap tercepat di zaman Belanda yang mampu melaju
120 kilometer per jam.
M Adib (14), siswa kelas VIII SMPN 1 Purworejo, terheran-heran ketika melihat
papan informasi tersebut. Sepulang sekolah, ia menyempatkan diri mendekati
papan informasi dan melihat gambar yang dipajang. "Baru tahu saya kalau zaman
dulu ada loko uap yang bisa melaju sampai 120 kilometer per jam. Kereta zaman
sekarang aja kalah," katanya.
Sejak kecil Adib suka KA. Ketika KA memakai jalur Purworejo-Kutoarjo dan
berhenti di Stasiun Purworejo, ia sering menontonnya. Namun beberapa tahun
terakhir ini, ia tidak dapat lagi menikmati aktivitas KA di Stasiun Purworejo
karena operasionalnya dihentikan sementara.
"Masih sering mampir sini. Harapannya suatu saat bisa lihat kereta api masuk sini.
Tapi dipasangnya papan informasi ini sudah lumayan menghibur," katanya.
Kepala Stasiun Purworejo, Suhartono, mengatakan, papan informasi tersebut
sebenarnya telah lama ada di stasiun. Namun lembar informasi baru datang akhir
pekan kemarin. Setelah dipasang, ternyata papan informasi tersebut menarik
perhatian masyarakat.
"Semoga dengan adanya papan informasi ini, masyarakat bisa belajar mengenai
sejarah perkeretaapian Indonesia. Selain itu, warga mengenal sejarah
pembangunan dan renovasi stasiun yang indah ini. Harapannya, mereka ikut
menjaga stasiun ini," katanya. (Rento Ari Nugroho)
D.Kecamatan Kutoarjo
Letak geografis Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo:
sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Grabag
sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kemiri, Bruno, Pituruh, dan Gunung
Tugel
sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bayan
sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Butuh
Kutoarjo pernah menjadi kabupaten tersendiri di Provinsi Jawa Tengah. Akan
tetapi semenjak tahun 1934 wilayahnya bergabung dengan Kabupaten Purworejo.
Kecamatan Kutoarjo terdiri dari 21 Desa dan 6 Kelurahan. Luas wilayah
Kecamatan Kutoarjo 37,59 km2 dengan jumlah pendududuk 58.103 (sensus
2010). Kutoarjo menempati urutan kedua terbanyak dari jumlah penduduk di
Kabupaten Purworejo. Meskipun begitu, laju pertumbuhan penduduk cukup
rendah yaitu sebesar -0,33%.
6 Kelurahan di Kecamatan Kutoarjo adalah sebagai berikut:
1. Kelurahan Bandung
2. Kelurahan Bayem
3. Kelurahan Katerban
4. Kelurahan Kutoarjo
5. Kelurahan Semawung Daleman
6. Kelurahan Semawung Kembaran
21 Desa di Kecamatan Kutoarjo adalah sebagai berikut
1. Desa Kaligesing
2. Desa Karangrejo
3. Desa Karangwuluh
4. Desa Kebondalem
5. Desa Kemadu Lor
6. Desa Kepuh
7. Desa Kiyangkongrejo
8. Desa Kuwurejo
9. Desa Majir
10. Desa Pacor
11. Desa Pringgowijayan
12. Desa Purwosari
13. Desa Sidarum
14. Desa Sukoharjo
15. Desa Suren
16. Desa Tepus Kulon
17. Desa Tepus Wetan
18. Desa Tunggorono
19. Desa Tuntungpahit
20. Desa Tursino
21. Desa Wirun
Kutoarjo ini merupakan tanah kelahiran saya. Meskipun saya mengalami
beberapa kali pindah rumah, tapi saya tetap berada di lingkup Kecamatan
Kutoarjo. Kutoarjo dengan sejuta cinta, Kutoarjo dengan kehangatan warnawarninya. Tentang Kutoarjo ini akan ada pembahasan lebih lengkap di postingan
tersendiri. Dari lahir, masa kanak-kanak, sekolah SD dan SMP saya habiskan di
Kutoarjo ini. Yah, membicarakan tempat kelahiran membutuhkan bab tersendiri,
bukan? *kedip*
Ini nih peta administrasi Kecamatan Kutoarjo
E.Tempat Wisata Waterbom Kutoarjo
TELAH DIBUKA! KAWASAN WISATA SUMBER ADVENTURE CENTER
Posted on August 5, 2013, updated on December 18, 2013 by admin
Dalam menyambut mudik lebaran 2013 ini, kini Sumber Alam kembali membuka
sebuah kawasan wisata terpadu dan rest area yang dilengkapi dengan Waterpark,
Stasiun Pengisian Adrenalin, Extreme Offroad (Rock Crawling), Museum Mobil
dan Motor, Tourist Transit Terminal (Terminal Wisata).
Posted in Berita Tagged kawasan wisata terpadu, rest area, sumber adventure
center, water slide, waterpark
Fasilitas Wifi Di Ruang Tunggu Penumpang Kutoarjo
Posted on April 21, 2010, updated on June 21, 2012 by admin
Dalam rangka meningkatkan pelayanan terhadap penumpang maka Sumber Alam
kini menyediakan fasilitas WIFI pada ruang tunggu penumpang di Kutoarjo. ”
Capek nunggu bis berangkat, bosen nonton TV di ruang tunggu penumpang ……
kini Sumber Alam Kutoarjo menyediakan fasilitas WIFI diruang tunggu
penumpang, jadi sambil nunggu keberangkatan bis bisa sambil facebook an, twitter
dan chatting, …… […]
Posted in Berita Tagged internet gratis, kutoarjo, sumber alam, wi
Sumber Adventure Center
Posted on March 17, 2013, updated on March 19, 2013 by admin
Sumber Adventure Center – Saat ini Sumber Alam tengah melakukan
pembangunan sebuah kawasan wisata terpadu yang terletak di Desa Butuh
tepatnya di jalan Kutoarjo –Kebumen km 3.5, desa Andong Kecamatan
Butuh kabupaten Purworejo. Kawasan terpadu ini khusus disediakan untuk publik
dengan memberikan beberapa jenis layanan, antara lain : baca selengkapnya >>
Posted in Berita Tagged kampoeng kompeni, mobil antiq, museum motor, rest
area, sumber adventure center, sumber alam, water park, water park sumber
alam
Layanan Sumber Alam
…– Purworejo – Gombong – Purwokerto Semarang – Magelang – Yogyakarta
Semarang – Purworejo – Ajibarang Semarang – Purworejo – Majenang
Yogyakarta – Purworejo – Kutoarjo – Cilacap Yogyakarta – Kebumen –
Purwokerto Yogyakarta – Wonosobo – Purwokerto Yogyakarta – Wangon –
Ajibarang Yogyakarta – Purworejo – Majenang Solo –…
SPBU Sumber Alam
Kini untuk melayani masayarakat Purworejo khususnya Kutoarjo, salah satu PO
terbesar di kota Berirama ini yaitu PO. SUMBER ALAM telah membangun
sebuah SPBU untuk umum. Yang terletak di Jl.P.Diponegoro No.160 Kutoarjo
persis disamping Pool Pusat SUMBER ALAM Kutoarjo. SPBU ini siap melayani
kebutuhan bahan bakar masyarakat khususnya masyarakat Kutoarjo. Dengan
takaran yang pas dan pelayanan yang memuaskan diharapkan SPBU ini bisa
memenuhi…
Leave a comment
Rumah Makan Sumber Alam
Perubahan Tarif Tiket Bus Dan Shuttle Sumber Alam Pasca Kenaikan
BBM
Posted on November 20, 2014, updated on November 20, 2014 by admin
Sehubungan dengan kenaikan BBM, PO Sumber Alam juga melakukan perubahan
tarif tiket yang akan berlaku mulai pada hari Jum’at, tanggal 21 November 2014,
Perubahan tersebut adalah sebagai berikut : Tarif Baru Bus Malam PO Sumber
Alam *Tarif Baru Yogyakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang
membeli tiket di daerah antara Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum
Purwokerto baca selengkapnya >>
Posted in Berita Tagged harga AKDP, harga baru shuttle, harga baru tiket bus,
harga patas semarang, kenaikan tarif, pasca bbm naik, tarif baru sumber alam
Leave a comment
Agen Patas AC AKDP
Daftar agen bus Patas AC dengan rute Semarang – Cilacap (PP) : Agen Bus AKDP
Tarif Tiket
Update : 20 November 2014 Tarif Bus Malam PO Sumber Alam *Tarif
Yogyakarta – Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket
dari Yogyakarta sampai dengan daerah sebelum Purwokerto **Tarif Purwokerto –
Jakarta adalah tarif yang berlaku apabila penumpang membeli tiket dari
daerah Purwokerto sampai dengan Cikawung / Ajibarang baca selengkapnya >>
Tentang Sumber Alam
Sejarah Singkat Sumber Alam Perusahaan otobus Sumber Alam hingga saat ini
sudah mengalami beberapa kali transformasi dalam perkembangannya. Pada
kisaran tahun 1969 dibentuklah PO Tresno yang dirintis oleh Ibu Thung Tjie Hing
yaitu nenek dari Bapak Judi Setijawan Hambali kemudian setelah Ibu Thung Tjie
Hing mewariskan usaha tersebut kepada anak cucunya nama perusahaan tersebut
berubah menjadi […]
F.SOEARA KUTOARJO
Kutoarjo, Perjuangan tak pernah lelah
Minggu, 01 Februari 2009
Welcome to Kutoarjo,Purworejo
Kutoarjo adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Purworejo, dulunya
Kutoarjo adalah sebuah Kabupaten tersendiri yang berbentuk kawedanan, namun
sejak tahun 1934 Kutoarjo dimasukkan dalam wilayah kabupaten Purworejo. Jejak
peninggalan masih dapat dilihat di Kawedanan Kutoarjo berupa gedung
kawedanan di sebelah utara alun-alun Kutoarjo. Kutoarjo memiliki luas wilayah
sekitar 38 km2 dan terbagi menjadi 27 Kecamatan.
Kalau anda singgah ke kota ini transportasi yang paling mudah adalah dengan
menggunakan jasa kereta api, Stasiun KA Kutoarjo merupakan stasiun Kereta yang
cukup besar di Jawa tengah. Sebagian besar masyarakat Kutoarjo, Purworejo atau
daerah kedu sekitarnya (Magelang, Wonosobo, Kebumen) banyak yang
menggunakan fasilitas jasa Kereta Api di stasiun ini untuk bepergian ke luar
daerah. Akses KA paling banyak digunakan oleh masyarakat di Kutoarjo.
Kalau bisa dibilang Kutoarjo hanya merupakan kota transit, karena berada pada
jalur lintas Pantai Selatan Pulau Jawa. Karena adanya stasiun Kereta Api mungkin
itu menjadi suatu kebangga tersendiri bagi Kota tersebut. Kutoarjo merupakan
akses paling mudah apabila anda ingin melakukan perjalanan wisata, karena kota
tersebut menghubungkan kota-kota tujuan wisata dengan obyek wisata yang
menarik. Kalau anda ingin berwisata ke Borobudur, mungin hanya butuh waktu
satu jam dari sana, kemudian Yogyakarta perjalanan bisa ditempuh dalam waktu
2 jam, di sebelah selatan anda dapat mengunjungi Panta Ketawang kira-kira 12
km dari kutoarjo, Pantai Glagah di Kulonprogo, Pantai Ayah di Kebumen dan
Dieng Wonosobo, dan tempat-tempat wisata lainnya di daerah kedu selatan.
Anda juga bisa mengunjungi Masjid Agung Purworejo, dimana disana tersimpat
Bedug yang Paling Besar di Asia yang dinamakan dengan Kyai Bagelen, ataupun
Gua Seplawan di daerah kaligesing serta curung Somangari yang semuanya
berada di daerah Purworejo.
Obyek-obyek wisata lain yang mungkin menarik adalah Curug Bruno di kecamatan
Bruno sebelah Utara Kota Kutoarjo, Geger Menjangan sebuah perbukitan yang
indah di Purworejo. Semua obyek-obyek wisata tersebut dapat ditempuh dengan
cepat dan mudah lagi murah dari kota Kutoarjo.
Kutoarjo, Purworejo juga menyediakan berbgai macam makanan khas daerah
tersebut bisa anda dapatkan dengan mudah dan murah. Sate Winong, sebuah
desa sentra makanan sate khas Purworejo yang terletak di desa Winong, sebelah
Utara Kota Kutoarjo, anda bisa menikmati hidangan sate yang lezat dengan hawa
pedesaan yang sejuk akan menambah kenikmatan. Di stasiun Purworejo anda bisa
menikmati soto pak Rus, yang terkenal di Purworejo sambil menyaksikan
gerbong-gerbong KA yang sesekali datang, sungguh suasana yang mungkin jarang
anda dapati saat-saat ini. Jangan lupa, bagi anda yang menyukai masakan
tradisional untuk singgah ke Warung Kupat Tahu bu Tulus yang ada di dekat pasar
Kutoarjo, akan benar-benar memanjakan lidah anda. Bagi anda penggemar Bakso,
mampir saja ke Bakso Sedap pak Sukar, di dekat perempatan Kutoarjo atau ke
Bakso Siput di Purworejo, anda akan benar-benar menikmati bakso yang lezat dan
khas di Kota Ini. Masih banyak masakan-masakan yang bisa anda nikmati di
kutoarjo, Gudeg Mataram yang menyediakan masakan gudeg khas jogya yang
benar-benar nikmat, bakmi Pak Edy buka sejak sore jam lima sore sampai malem.
Kalau anda pingin melihat-lihat kota Kutoarja atau Purworejo di waktu malam,
lebih baik anda singgah di alun-alun Kutoarjo atau Purworejo disitu anda bisa
dimanjakan dengan berbagai aneka makanan yang anda. Dengan suasana lesehan
diterangi lampu-lampu malam Kota. Sungguh sangat indah, bersantap ria di
tengah malam disana. Anda bisa memilih berbagai macam makanan sesuai
dengan selera anda.
Kalau anda pulang nanti jangan lupa beli oleh-oleh, lanting makanan khas dari
Kota ini, berbentuk bulat kecil yang dibuat dari tepung ketela, ada juga lompong
makanan dari ketan yang diisi kacang, berwarna hitam dan dibungkus dengan
daun pisang kering. Kerupuk Antolawit, geblek, kerupuk gadung, intil, ciwel dan
masih banyak lagi makanan khas daerah ini yang bisa anda dapatkan sebagi oleholeh apabila anda pulang nanti.
G.Angkringan wisata kuliner kutoarjo
Wisata kuliner kutoarjo ya angkringan, itulah jawaban saya jika sobat semua tanya
seputar makanan khas di kutoarjo kabupaten purworejo. Angkringan adalah sebuah
warung tenda di pinggir jalan yang menjajakan makanan sederhana mulai sore hari
hingga malam hari. Bahkan tidak jarang ada yang buka sampai pagi hari. Menurut
salah satu pedagang angkringan, katanya purworejo masyarakatnya sangat suka
jajan. Terutama jajanan sore hari.
Salah atau benar itu pandangan dan kesimpulan pedagang angkringan yang setiap
hari mendorong gerobag yang penuh dengan makanan. Pedagang angkringan ada
yang bersifat kelompok dengan satu bos ada juga yang sifatnya individu. Untuk
yang masih mempunyai bos dia hanya menjualkan stock atau jatah dari bos. Habis
tidak habis nanti dia akan setoran.
Type pedagang ankringan
Di kutoarjo terdapat 3 orang yang menjual menu angkringan yang sama. Mereka
tergabung dalam satu kelompok angkringan. Semua menu dan produk
angkrigannya sama hanya saja tempat mangkalnya yang berbeda beda. Satu di
depan masjid al izhar satu lagi di sebelah barat kali jali ( barat indomaret ) dan
satu lagi ada di depan stasiun kutoarjo.
Sebenarnya group ini masih punya 3 cabang lagi. Satu di jl kutoarjo kebumen desa
kaliwatu, di barat alun alun kemiri dan satu lagi di seren. Dari semua anggotanya
saya hanya mengenal 3 pegawainya. Di depan masjid al izhar alun alun kutoarjo
bernama pak gito, di sebelah barat indomaret bernama mas anto ( 2 minggu ) dan
mas paijo ( 2 minggu setelah mas anto ). Selain itu saya tidak kenal. Hanya kenal
rasanya saja. Ok kita jangan bahas orangnya tapi bahas makanannya ya.
Jenis makanan di warung angkringan
Tidak banyak yang bisa kita jumpai di angkringa, hanya nasi sambel, nasi tongseng
tempe. Udah itu saja. Sedangkan untuk lauk, ada banyak varian yang bisa kita
nikmati. Mulai kerupuk, sate usus, sate telur, sate hati ayam, tahu bacem, tempe
bacem, sayam ayam, kepala dan ceker.
Selain itu ada tahu brontak, tempe mendoan dan tahu isi bakso. Itu yang di jual di
angkringan group. Sedangkan angkringan mandiri atau individu di sebelah hotel
sawunggalih ada sate keongnya juga. Kalau di depan telkom kutoarjo ada telor
dadar.
Waktu berjualan angkringan
Jam kerja angkringan berbeda beda. Ada yang mulai jam 2 sudah siap ada juga
yang jam 3 baru mulai menjajakan dagangannya. Untuk yang group, umumnya
mereka akan mennggulung tenda setelah jam 00:00 atau bahkan lebih awal.
Sedangkan yang di depan alfa mart dan depan kantor telkom mereka buka hingga
hampir subuh.
Itulah sedikit cerita wisata kuliner malam hari di kutoarjo. Siapa tahu sobat ingin
jalan jalan malam atau sedang singgah di kutoarjo bisa mampir ke salah satu
angkringan tersebut. Soal harga tak usah khawatir, tidak ada kata mahal di
warung angkringan.
Misteri penemuan wajan raksasa di tengah Kota Kutoarjo
Reporter : Ya'cob Billiocta, Parwito | Minggu, 1 Mei 2016 09:07
Penemuan wajan raksasa di Kutoarjo. ©2016 merdeka.com/parwito
Merdeka.com - Sudah beberapa hari ini, penemuan wajan berukuran super besar
di tengah Kota Kutoarjo, Purworejo, bikin geger warga. Hal ini seiring teka teki
asal usul wajan raksasa tersebut.
Penemuan ini bermula saat pekerja bangunan, menggali tanah untuk fondasi ruko
milik Widodo Hadi Pranoto (50) yang berlokasi di Jalan MT Haryono.
Di kedalaman sekira 15 sentimeter, cangkul yang diayunkan pekerja menumbuk
benda keras.
"Besar wajan sekitar 270 sentimeter, ya tiga meter kurang 30 sentimeter," kata
anggota Polsek Kutoarjo Aiptu Tamin kepada merdeka.com, Jumat (29/4).
Saat ditemukan, wujud wajan sudah mulai berkarat. Tidak ada pegangan di kedua
tepinya, seperti wajan pada umumnya.
Berat wajan berkisar 400 kilogram. Wajan sempat akan dipindahkan. Namun enam
warga yang mencoba mengangkat tidak berhasil.
Setelah sisi-sisinya digali menyeluruh, juga ditemukan bekas bangunan diduga
bekas tungku minyak tanah kuno di bawah wajan itu.
"Tungkunya dari batu bata kuno yang ukuran batu batanya lebih besar dari batu
bata zaman sekarang," ungkap mandor buruh bangunan, Mijan, Sabtu (30/4).
Lantas dari mana asal usul kedua temuan ini? Diduga wajan raksasa beserta
bangunan tungku minyak tersebut merupakan peninggalan kuno pabrik yang sudah
ratusan tahun.
"Sebelum mengerjakan ruko bangunan ini juragan Toko ABC sebelah bilang,
katanya ketika kecil pernah dikasih tahu pemilik bangunan jika ada wajan
terpendam dalam tanah," paparnya.
Meski demikian, Mijan dan beberapa warga sekitar selama tinggal di tempat itu
tidak pernah mendengar informasi penggunaan wajan raksasa itu pada zaman dulu.
Sampai saat ini, informasi yang berkembang usai penemuan wajan raksasa
simpang siur. Beberapa warga saling berspekulasi. Ada yang menyatakan tempat
itu adalah bekas pabrik pembuatan batik atau pabrik pembuatan kerupuk.
Untuk mengungkap asal usul wajan dan tungku ini, Kepala Seksi Sejarah
Purbakala dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga
(Dikbudpora) Kabupaten Purworejo Eko Riyanto mengemukakan, pihak dinas
menerjunkan petugas untuk melakukan penelitian awal.
"Benda masih dikategorikan sebagai diduga cagar budaya dan masih memerlukan
penelitian lebih mendalam," kata Eko Riyanto saat dikonfirmasi merdeka.com,
Sabtu (30/4).
Eko menyatakan pihaknya, usai penemuan segera melaporkan kejadian itu ke Balai
Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah.
"Temuan itu telah kami laporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB)
Jateng yang berkantor di Prambanan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dikbudpora Muh Wuryanto menjelaskan temuan wajan
raksasa baru pertama kali di Purworejo, dan dinas belum pernah memiliki referensi
tentang benda tersebut.
"Namun apa fungsinya, apakah ada keterkaitan dengan sejarah Purworejo atau
kehidupan Kutoarjo masa lalu, kami belum tahu dan masih harus dikuak," ujarnya.
Kabar penemuan wajan raksasa tersebut membuat warga sekitar Jawa Tengah dan
Yogyakarta berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut.
Selain penasaran ingin melihat bentuk dan wujud wajan raksasa, ratusan warga
juga ingin mengabadikan dengan berfoto dekat wajan berdiameter 2 meter lebih
itu. Tak jarang, mereka juga langsung berdiri di atas wajan raksasa itu.
Anita, warga Yogyakarta, mengaku penasaran dengan bentuk wajan raksasa di Kutoarjo.
"Senang bisa datang ke Kutoarjo dan ambil foto berlatar wajan raksasa," ujarnya.
Pengunjung lainnya, Hartoyo dari Magelang datang bersama anak dan istrinya. Dia datang untuk
melihat keunikan wajan raksasa.
"Jarang kan ada wajan ukurannya sampai sebesar itu. Sekalian akhir pekan wisata juga ingin
melihat secara langsung seperti apa wajan dan tungku minyak yang katanya kuno dan
ukurannya raksasa itu," ucap Hartoyo.
Misteri Wajan Raksasa di Kutoarjo.3gp
PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadipokok bahasan dalam makalah ini, tentu nya masih ba
nyak kekurangan dan kelemahan nya, kerena terbatas nya
pengetahuan dan kurang nya rujukan atau referensi yang ada
hubungan nya dengan judul makalah ini.
Penulis ba nyak berharap para pembaca yang budi man dusi
memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis
demi sempurna nya makalah ini dan dan penulisan makalah
dikesempatan-kesempatan berikut nya. Semoga makalah ini
berguna bagi penulis pada khusus nya juga para pembaca yang
budi man pada umum nya.

similar documents