MASA PEMAPAMAN SASTRA INDONESIA

Report
MASA PEMAPANAN SASTRA INDONESIA
Tahun 1965-1998
Anggota Kelompok:
Dwi Cahyaningsih
Laela Nur M.
Hellen
Rini Andini Jamco
Dewi Maharani G.
(2012001096)
(2012001064)
(2012001106)
(2012001095)
(2012001102)
Majalah horizon
• Pada bulan juli 1966 mulailah kegiatan budaya berupa
penerbitan majalah horizon di bawah pimpinan Mochtar
Lubis,sedangkan redaksinya adalah H.B Jasin, Zaini, Taufiq
Ismail, Soe Hok Djin, dan D.S Moeldjanto.
• Penerbitnya adalah Yayasan Indonesia yang didirikan pada
31 mei 1966, visinya adalah mengembalikan krisis budaya
yang telah terjadi selama belasan tahun dengan harapan
tumbuhnya semangat baru untuk memperjuangkan
demokrasi dan martabat manusia Indonesia.
• Nama Horizon berarti “kaki langit” atau cakrawala. Majalah
ini mengutamakan sastra dengan kesadaran penuh bahwa
bidang sastra berkedudukan strategi sebagai pendorong
kreasivitas pemikiran, baik individu maupun antarbangsa.
• Artikel penting pada awal terbitnya Horizon
adalah deklarasi angkatan 66 oleh H.b jassin
yang di muat Horizon nomor 2,agustus
1966,dengan judul angkaatan 66: bangkitnya
satu generasi dan kemudian merupakan
pengantar antropologi prosa dan puisi
berjudul angkatan 66: prosa dan puisi susunan
H.B Jassin yang diterbitkan pertama kali oleh
gunug agung 1968.
• Gagasan tersebut menjadi popular dan
menjadi polemik yang marak,baik di horizon
maupun di penerbit yang lain.
Ada beberapa hal yang menarik
tentang angkatan 66 yaitu:
1. Istilah angkatan dipakai dengan pengertian tumpang
tindih dengan generasi dan periode
2. Ada dua pihak yang berkepentingan dengan angkatan
yaitu para pengarang dengan subjektivitas masingmasing dan penelaah atau peneliti yang seharusnya
lebih objektif.
3. Angkatan 66 dalam sastra Indonesia sudah terlanjur
populer sehingga benas-salahnya terabaikan.
4. Masalah angkatan dalam sejarah sastra Indonesia
harus menjadi perhatian dan pemikiran para
penelaah atau peneliti sastra.
• Nama atau sebutan angka 66 dalam sastra
Indonesia memang sudah terlanjur populer.
• Cirikhas dari angkatan ini adalah bersemangat
pancasila yang membawa kesadaran manusia
untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan,
kesadaran moral dan agama.
• Jadi sastra angkatan 66 adalah protes sosial
sejalan dengan maranknya perlawan publik
terhadap kekuasaan yang mengalami krisis
kepercayaan setelah krisis tragedy September
1965.
Sastra dan H.B Jassin
• Majalah sastra diterbitkan pertama kali pada 1 mei 1961 dan berjalan
hingga maret 1964 dengan tokoh-tokoh di jajaran redaksi tercatat H.B
Jassin, M.Balfas, D.S Moeljanto,Ekana Siswojo, toha Mohtar, Tatang M,
zaini, A Wakidjan dan Ipe Ma’ruf.
• Sejak terbit pertama kali majalah ini sudah menjadi hasutan dan fitnahan
kelompok Lekra dan berkehendak ak sosialsegala kegiatan kebudyaan,
termasuk sastra, berada di bawah pengaruh dan kekuasaannya. Majalah ini
terpaksa berhenti terbit setelah edisi maret 1964. Dan tiga tahun kemudian,
pada November 1967 sastra di terbitkan lagi dengan redaksi : darsjaf
Rachman, H.B Jassin, Muhlil Lubis, dan hamsad Rangkuti.
• Kemudian pada oktober 1969 sastra terpaksa berhewni terbit karena kasus
pemuatan novel “langit makin mendung”. Karangan Kipandjikusin 1968.
Cerpen ini bercertakan tentang kisah nabi Muhammad yang di anggap
menghina Tuhan dan merusak akidah umat Islam dengan alasan
didalamnya terdapat personifikasi Tuhan dan Nabu Muhammad.
• Akibatyna H.B jassin harus duduk di meja pengadilan Sumatera utara dan
melarang beredar edisi agustus 1968 dan putusan pengadilan adalah
hukuman satu tahun penja dengan masa pencobaan tahun.
Pusat Bahasa
• Berbicara tentang sejarah perkembangan sastra Indonesia pastilah
tidak bisa mengabaikan peranan dan sumbangan lembaga
pemerintah yang saat ini bernama Pusat Bahasa, yaitu pelaksana
tugas di bidang penelitian dan pengembangan bahasa yang berada
di bawah Menteri Pendidikan Nasional. Namanya pernah populer
dengan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang
merupakan kelanjutan sebuah instansi kecil bernama Lembaga
Bahasa pada tahun 1950-an.
• Kantornya yang terbilang sederhana (untuk ukuran Jakarta)
beralamat di Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta
Timur, bertetangga dengan kampus Universitas Negeri Jakarta yang
dahulu bernama IKIP Negeri Jakarta. Di kampus itulah dahulu
berjaya Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) yang kemudian
berkampus di Depok dengan nama Fakultas Emu Budaya Universitas
Indonesia.
Riwayat Ringkas Pusat Bahasa
•
•
•
Pada tahun 1947 Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia di bawah Departement
van Onderwijs en Wetenschappen (Kementerian Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu
Pengetahuan) membentuk lembaga kegiatan ilmiah kebahasaan dan kebudayaan bernama
Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek (ITCO). Lembaga tersebut memiliki tiga bagian,
yaitu (1) Bagian Ilmu Kebudayaan pimpinan Prof. Dr. G.J. Held, (2) Bagian Ilmu Bahasa dan
Kesusastraan pimpinan Prof. Dr. C. Hooykaas, dan (3) Bagian Leksikografi pimpinan W.J.S.
Poerwadarminta. Tugasnya adalah meneliti dan menyalin naskah lontar dan Yayasan Kirtya
Liefrink van der Tuuk, Museum Sono Budoyo, dan Yayasan Matthes di Makassar.
Setelah pengakuan kedaulatan, pada tahun 1952 lembaga tersebut digabung dengan Balai
Bahasa yang telah dibentuk Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Mr. Suwandi
semasa berkedudukan di Yogyakarta, tepatnya pada Maret 1948
Gabungan ITCO dan Balai Bahasa itu menjadi Lembaga Bahasa dan Budaya, dan pada 1 Juni
1959 diubah menjadi Lembaga Bahasa dan Kesusastraan yang berkedudukan langsung di
bawah Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Perubahan terjadi pada 3
November 1966 berupa pembentukan Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, kemudian pada 27
Mei 1969 diubah menjadi Lembaga Bahasa Nasional, pada 1 April 1975 menjadi Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dan sejak 24 Januari 2000 bernama Pusat Bahasa.
Adapun fungsinya adalah merumuskan kebijakan Menteri dan kebijakan teknis di bidang
penelitian dan pengembangan bahasa, melaksanakan penelitian dan pengembangan bahasa
serta membina unit pelaksana teknis di daerah.
Tokoh-tokoh yang pernah memimpin lembaga
tersebut secara historis tercatat sebagai berikut:
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Prof. Dr. G.J. Held (ITCO, 1947-1952),
Prof. Dr. Prijono (Lembaga Bahasa dan Budaya, 1952-1957),
Prof. Dr. P.A. Husein Djajadiningrat (Lembaga Bahasa dan Budaya, 1957-1959),
Prof. Dr. P.A. Husein Djajadiningrat (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, 1959-1960),
Dra. Lukijati Gandasubrata (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, 1960-1962),
Dra. Moliar Achmad (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, 1962-1966),
Dra. Sri Wulan Rudjiati Muljadi (Direktorat Bahasa dan Kesusastraan, 1966-1969),
Dra. Sri Wulan Rudjiati Muljadi (Lembaga Bahasa Nasional, 1970-1971),
Drs. Lukman Ali (Lembaga Bahasa Nasional, 1970-1971),
Dra. S.W. Rudjiati Muljadi (Lembaga Bahasa Nasional, 1971-1975),
Prof. Dr. Amran Halim (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1975-1984),
Prof. Dr. Anton M. Moeliono (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1984-1989),
Drs. Lukman Ali (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989-1992),
Dr. Hasan Alwi (Pusat Bahasa, 1992-2001), dan
Dr. Dendy Sugono (Pusat Bahasa 2001-sekarang).
• Penting juga dicatat bahwa selama kurun waktu
antara tahun 1977-1998 telah dihasilkan 472
topik penelitian kebahasaan dan 182 topik
penelitian kesastraan, sedangkan penelitian
bahasa daerah meliputi 241 bahasa daerah seIndonesia dengan hasil 1.647 topik penelitian.
• Di samping itu, tercatat juga penerbitan sekitar
370 judul penyusunan dan pembakuan kamus,
dan penerjemahan 67 judul buku yang sebagian
merupakan hasil kerja sama dengan Indonesian
Linguistics Development Project (ILDEP).
Fakultas Sastra
• Pada awal dekade 1970-an nama Fakultas Sastra di
Indonesia boleh dikatakan belum populer, kecuali
Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) yang
berkampus di Rawamangun, Jakarta, Fakultas Sastra
dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (FSK UGM)
di kampus Bulaksumur, Yogyakarta, dan Fakultas Sastra
Universitas Padjadjaran yang berkampus di Jalan Dipati
Ukur, Bandung.
• Pada masa itu lulusan (alumni) FSUI, seperti M.S.
Hutagalung, J.U. Nasution, Boen S. Oemarjati, B.
Rangkuti, sudah dikenal sebagai pakar sastra Indonesia,
bahkan sudah menerbitkan buku kritik sastra melalui
penerbit Gunung Agung.
• PIBSI (Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia Perguruan Tinggi seJawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta) digagas dan dirintis oleh M.
Sudjati (Fakultas Sastra Budaya Undip), Sudaryanto (Fakultas Sastra dan
Kebudayaan UGM), Syaf E. Sulaiman (FKSS IKIP Negeri Yogyakarta), dan R.I.
Mulyanto (Fakultas Sastra UNS Surakarta).
• Berlangsungnya PIBSI setiap tahun jelas merupakan prestasi tersendiri
karena merupakan bukti semangat yang tak kunjung padam di kalangan
para dosen sastra, sedangkan mute atau kualitasnya hams dipandang
sebagai proses yang berkepanjangan. Sementara itu, seminar di luar
agenda Hiski dan PIBSI sepanjang tahun 1980-1990-an cukup banyak. Di
Jakarta ada Melani Budianta. Maman S. Mahayana, Ibnu Wahyudi, dan
Sunu Wasomo.
• Di Yogyakarta ada Faruk, Sugihastuti, Suminto A. Sayuti. Suwardi
Endraswara dan Jabrohim. Di Semarang ada Nurdien H. Kistanto,
Mudjahirin Tohir, Rustono, Redyanto Noor; di Surabaya ada Setyo Yuwana
Sudikan; di Malang ada Wahyudi Siswanto; di Jember Ayu Sutarto; di
Denpasar Nyoman Kutha Ratna; di Pontianak ada Chairil Effendi,
sedangkan di Padang harus dicatat Harris Effendi Tahar, Ivan Adilla, dan
Hasanuddin W.S.
Sastra Indonesia di Mancannegara
• Sejalan dengan perubahan dan perkembangan zaman
yang semakin jauh dari semangat jajah-menjajah maka
tampaklah pertumbuhan pusat-pusat pengkajian
kebudayaan Indonesia di manca- Negara: Cina, Korea,
jerman, dan lain-lain.
• Kegiatan mereka dapat dipandang sebagai pendorong
dan pemacu perkembangan studi sastra di Indonesia.
Artinya, kalau di luar negeri pun berkembang stadi
sastra Indonesia, seharusnya perkembangan di dalam
negeri semakin mapan.
Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)
• Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tidak mungkin
ditinggalkan dalam pembicaraan sastra Indonesia
yang pada tahun 1970-an boleh Gubernur DKI
Jakarta Ali Sadikin pada 3 Juni 1968, terdiri atas
25 orang seniman-budayawan terkemuka.
• Tujuannya
adalah
murumuskan
konsep
pembangunan budaya yang memberi ruang gerak
leluasa bagi seniman untuk menyuarakan
pencerahan bangsa.
• Sementara itu, Hadiah Sastra untuk buku sastra (novel,
kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan esai) yang
dinilaiterbaik pada tahun yang bersangkutan telah menikmati
juga oleh sejumlah sastrawan, antara lain tercatat sebagai
berikut:
1. Budi Drama dengan novel Olenka.
2. Dami N. Toda dengan buku esai Hamba-Hamba Kebudayaan
(1984).
3. Danarto dengan karyanya Adam Ma’rifat.
4. Supardi Djoko Damono dengan buku puisi Perahu Kertas.
5. Sitor Situmorang derngan buku Peta Perjalanan.
6. Subagio Sastrowardoyo dengan buku Sastra Hindia Belanda
dan Kita.
7. Sutardji Calzoum Bachri dengan buku Amuk (tahun
1976/1977).
8. YB Mangunwijaya dengan buku Sastra dan Religiositas
(1983).
Sastra popular
• Sastra populer adalah sastra yang populer pada masanya
dan banyak pembacanya, khususnya pembaca di kalangan
remaja. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan
kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra
populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra
serius (Nurgiantoro, 1998:18).
• Sebutan sastra populer mulai merebak setelah tahun 70-an.
Sering pula sastra yang terbit setelah itu dan mempunyai
fungsi hiburan belaka, walaupun bermutu kurang baik,
tetap dinamakan sebagai sastra populer atau sastra pop
(Kayam, 1981: 82).
• Sastra populer adalah semacam sastra yang dikategorikan
sebagai sastra hiburan dan komersial. Kategori hiburan dan
komersial ini disangkutkan pada selera orang banyak.
• Karya sastra Habiburrahman dapat dikatakan sastra
populer islam karena mengandung nilai-nilai keislaman
yang kental.
• Beberapa karya populernya yang telah terbit antara
lain,
• Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005),
Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), AyatAyat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah
Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta
Bertasbih (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta
Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam
Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007).
Kritik dan Esai
• Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Depdikbud, 1997 : 531 ), disebutkan kritik adalah
kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai
uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap
sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
• Sedangkan esai adalah karangan prosa yang
membahas suatu masalah secara sepintas lalu
dari sudut pandang pribadi penulisnya
(Depdikbud, 1997: 270 ).
• H.B. Jasin mengemukakan bahwa kritik kesusastraan adalah
pertimbangan baik atau buruk suatu hasil kesusastraan.
Pertimbangan itu disertai dengan alasan mengenai isi dan
bentuk karya sastra.
• Widyamartaya dan Sudiati (2004 : 117) berpendapat bahwa
kritik sastra adalah pengamatan yang teliti, perbandingan
yang tepat, dan pertimbangan yang adil terhadap baikburuknya kualitas, nilai, kebenaran suatu karya sastra.
• Memberikan kritik dan esai dapat bermanfaat untuk
memberikan panduan yang memadai kepada pembaca
tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis karya
tersebut akan memperleh masukan, terutama tentang
kelemahannya.
Prinsip dalam menyusun kritik dan
esai,
1.
2.
3.
4.
Pokok persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas dan hasil ulasannya harus
memberikan keterangan atau memperlihatkan sebab musabab yang berkaitan
dengan suatu peristiwa yang nyata. Jadi yang terpenting bukan apa yang diulas,
tetapi bagaimana cara penulis memberikan ulasannya.
Pendekatan yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan
pendekatan faktual atau imajinatif? Pendekatan faktual maksudnya mendekati
pokok persoalan berdasarkan fakta dan datanya sebagaimana diserap
pancaindra. Pendekatan imajinatif maksudnya mendekati pokok persoalan
berdasarkan apa yang dibayangkan atau diangankan.
Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang
nyata dan objektif. Penulis tidak bleh mengubah fakta untuk mendukung
pandangannya. Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar,
harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan
kebenarannya.
Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat
dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
fungsi kritik sastra
1. Membina dan mengembangkan sastra.
2. Pembinaan apresiasi sastra.
3. Menunjang dan mengembangkan ilmu
sastra.
Sejarah Esai
• Esai mulai dikenal pada tahun 1500-an dimana seorang
filsuf Perancis, Montaigne, menulis sebuah buku yang
mencantumkan beberapa anekdot dan observasinya.
Buku pertamanya ini diterbitkan pada tahun 1580 yang
berjudul Essais yang berarti attempts atau usaha.
• Montaigne menulis beberapa cerita dalam buku ini dan
menyatakan bahwa bukunya diterbitkan berdasarkan
pendapat pribadinya. Esai ini, berdasarkan pengakuan
Montaigne, bertujuan mengekspresikan pandangannya
tentang kehidupan.
Tipe-tipe Esai
Ada enam tipe esai, yaitu:
• Esai kritik
• Esai reflektif.
• Esai pribadi
• Esai cukilan watak
• Esai tajuk.
• Esai deskriptif.
Ciri-ciri Esai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Berbentuk prosa
Singkat
Memiliki gaya pembeda
Selalu tidak utuh
Memenuhi keutuhan penulisan.
Mempunyai nada pribadi atau bersifat
personal,
Langkah-langkah membuat Esai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Tentukan topik Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak
lagi memiliki kebebasan untuk memilih.
Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda. Tujuan dari
pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda
dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.
Tuliskan esai anda dalam kalimat yang singkat dan jelas. Suatu
pernyataan esai mencerminkan isi esai dan poin penting yang
akan disampaikan oleh pengarangnya.
Tuliskan tubuh esai anda: Mulailah dengan poin-poin penting
kemudian buatlah beberapa sub topik dan kembangkan sub topik
yang telah anda buat.
Buatlah paragraf pertama (pendahuluan).
Tuliskan kesimpulan.
Teliti kembali tulisan anda.
Pakar Sastra
Peta kepengarangan:
1. Antologi Biografi pengarang sastra Indonesia l920_1950 (Anita K.
Rustapa dkk.,1997)
2. Antologi Biografi Tiga puluh pengarang sastra Indonesia Modern
(Atisah, 2002),
3. Bibliografi Sastra Indonesia (pamusuk Eneste, 2001)
4. Baku Pintar Sastra Indonesia (pamusuk Eneste, 200i1),
5. Leksikon Kesusastraan Indonesia Moderz (pamusuk Eneste,1990),
6. Leksikon Seniman Jawa Tbngah: Edisi I (Anggoro Suprapto,1996),
7. Pengantar Novel Indonesia (Jakob Sumardjo, 1991),
8. Ringkasan dan ulasan Nover Indonesia (Maman S. Mahayana dkk.,
1992).
Data-data ringkas pakar sastra
Abdul Hadi W.M (kelahiran Sumenep, Madura, Vlllurlli1946) memperoleh
pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (I964L967), Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (1968-1971), dan Pusat
Pengkajian Ilmu Kemanusiaan Universitas Sains Malaysia hingga memperoleh M.A.
dan Ph.D. (1992 dan 1996).
Pernah menjadi redaktur tabloid Gema Mahasiswa (Universitas Gadjah Mada),
mingguan Mahasiswa Indonesia, majalah Budaya Jaya, pengasuh rubrik
kebudayaan "Dialog" Berita Buana, staf ahli Bagian Pernaskahan Balai Pustaka,
Ketua Komite Sasta Dewan Kesenian Jakarta, Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan
sejak 1998 menjadi dosen tetap Universitas Paramadina-Mulya Jakarta, dosen luar
biasa Fakultas'Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan dosen Pascasarjana Program
Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta. Karyanya yang terkenal:
Laut Belum Pasang (1971), Potret Paniang Seorang Penguniung Pantai Sanur
(I975), Meditasi (1976), tergantung pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin
(1982), Pembawa Matahari (2002), dan Madura, Luang Prabhang (2006). Pernah
menerima penghargaan darl, Horison (1969), Dewan Kesenian Jakarta (1978),
Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1979), Hadiah Sastra ASEAN
(1985), Yayasan Buku Utama (2001), dan Hadiah Mastera (2003).
• Ahmad Tohari (kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948)
terkenal dengan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang
Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986). Karyanya
yang lain: novel Di Kaki Bukit Cibalak (1986), Kubah (1995), Lingkar
Tanah Lingkar Air (1995), Bekisar Merah (1993), Belantik (2001),
Orang-Orang Proyek (2002),kumpulan cerpen Senyum Karyamin
(1989) dan Nyanyian Malam (2000). Kepengarangannya telah
dibahas Yudiono K.S.dalam Ahmad Tohari: Karya dan Dunianya
(2003).
• Putu Wijaya (kelahiran Tabanan, Bali, 11 April I9M) dikenal sebagai
pengarang yang produktif dan sering mendapat hadiah sayernbara
mengarang. Kepengarangannya telah dibahas Th Sri Rahayu
Prihatmi dalam disertasi di UI (1993) dan dalam buku Karya-Karya
PutuWijaya Perjalanan Pencarian Diri (2001). Pada mulanya ia
terkenal dengan novel Bila Malam Bertamhah Malam (1971),
kemudian Telegram (1972), Pabrik (1977), Stasiun (1977), dan
belasan novel dan drama.
Bacaan Terpilih
• Dari Bibriografi sastra Indonesia (Eneste,2001a) tercatat
203 judul buku kumpulan cerpen, 253 judul buku novel,
672 judul buku puisi, dan 95 judur drama terbitan tahun
1967-1997.
Kumpulan Cerpen:
• Adam Ma'rifat (Danarto, 1992)
• Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (pilihan Kompas, 1997)
• Bom (Putu ) Wijaya, 1978
• Senyum Karyamin (Ahmad Tohari, l989)
• Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya (Umar Kayam,
1986)
Kumpulan Novel:
• Anak Tanah Air ( Ajip Rosidi, 1985)
• Bila Malam Bertambah Malam (Putu Wijaya, l97l)
• Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer, 1980)
• Burung-Burung Manyar (Y.B. Mangunwijaya, 1981)
• Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis, 1975)
• Dll.
Kumpulan puisi:
• Abad yang Berlari (Afrizal Malna, 1984)
• Asmaradana (Goenawan Mohamad, 1992)
• Bangsat (Darmanto Jatman, 1974)
• Dll.
Daftar Pustaka
Yudiono K.S.,pengantar sejarah sastra
indonesia.Grasindo:Jakarta.2007
TERIMAKASIH

similar documents