kemendag - Kadin Indonesia

Report
STRATEGI PENGAWASAN PASAR BERAS JAGUNG KEDELAI
FGD IV Bidang Pemasaran dan Distribusi
Jakarta, 27 Nopember 2014
1
KERANGKA KEBIJAKAN BARANG KEBUTUHAN POKOK DAN BARANG PENTING
- PASAL 26 UNDANG-UNDANG PERDAGANGAN
 Menjamin ketersediaan
 Stabilisasi harga
 Kebijakan harga
 Pengelolaan stok dan logistik
 Pengaturan ekspor impor
 Menugaskan BUMN
Sedang Disusun
Regulasi (berupa
Perpres dan
Permendag) yang
mengatur
mengenai Barang
Kebutuhan Pokok
dan Barang
Strategis
 Anggaran APBN
 Sumber Dana Lainnya
2
LANDASAN KEBIJAKAN STABILISASI HARGA
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan :
a. Pasal 26 ayat 3 UU No.7/2014 tentang Perdagangan “Dalam
menjamin pasokan dan Stabilisasi Harga Barang Kebutuhan
Pokok dan Barang Penting, Menteri menetapkan kebijakan harga,
pengelolaan stok dan logistik, serta pengelolaan Ekspor dan
Impor”.
b. Pasal 88 Ayat 1 dan 2 No.7/2014 tentang Perdagangan “Menteri,
Gubernur, dan Bupati/Walikota berkewajiban menyelenggarakan
Sistem Informasi Perdagangan yang terintegrasi dengan sistem
informasi Kementerian atau Lembaga Pemerintah non
Kementerian untuk penetapan kebijakan dan pengendalian
perdagangan.
2. Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Pangan:
Pasal 55 disebutkan bahwa “Pemerintah wajib melakukan
Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Pokok di tingkat
Produsen dan Konsumen”.
3
3
KERANGKA
KETAHANAN PANGAN
Kualitas, keamanan
pangan dan pola
konsumsi
(Food Security)
STANDARISASI
DIVERSIFIKASI
pasokan dan
harga
Stabilitas
(Stability)
Participation
Assets
Keterjangkauan
(Accessibility)
SARANA
DISTRIBUSI
&PASAR
INFRA
STRUKTUR
Pasar
Gudang
Pusat
Distribusi
Jalan
Pelabuhan
Bandara
Terminal
Jembatan
Rel kereta
Monitoring /
Pengawasan
Levers
produksi
impor
ekspor
cadangan
pangan
Ketersediaan
(Availability)
LOGISTIK
Sarana Distribusi dan
Pasar  Kemendag
Infrastruktur
 PU,
Kemenhub, Kementerian
Kelautan dan Perikanan
Insentif, perluasan
lahan dan irigasi
© 2014 DIRJEN PDN
Lembaga Penyangga
Pangan (Saat ini Bulog :
Beras)
4
Key Points - BERAS
1. Pulau Jawa merupakan penyumbang terbesar produksi padi di Indonesia. Sejak
swasembada beras tahun 1984, sumbangan Pulau Jawa tidak pernah kurang dari 50
persen dari total produksi nasional, meskipun terdapat kecenderungan terus menurun;
2. Tahun 2014, sentra produksi padi nasional masih dikuasai oleh wilayah Jawa yaitu Jawa
Timur (12.101.747 ton), Jawa Barat (11.149.743) ton, Jawa Tengah (9.518.245) ton,
dan Sulawesi Selatan (5.438.795 ton), selainnya produksi masing-masing propinsi
berada di bawah 5 juta ton;
3. Selama kurun waktu tahun 1999 s/d 2014, Pemerintah telah melakukan kebijakan
impor untuk pemenuhan Buffer Stok beras Pemerintah di BULOG, dengan rata-rata
berkisar 3,3% dari total supply nasional, sehingga kebutuhan DN telah dipasok dari
produksi DN sekitar 96,7 %, yang menurut FAO bila sudah terpenuhi 90% dari DN
dapat dikatakan swasembada beras.
4. Proses distribusi beras di Indonesia sendiri dilakukan dengan dua cara yaitu melalui
Bulog dan mekanisme pasar. Bulog hanya menguasai sekitar 10 persen market share
beras, sedangkan sisanya melalui mekanisme pasar;
5. Harga rata-rata beras medium pada minggu IV 2014 Rp 9.181/kg mengalami kenaikan
sedikit demi sedikit 1,15% dibandingkan minggu sebelumnya Rp 9.077/kg, dikarenakan
panen tinggal sedikit dimana masa tanam mundur dari Nopember ke Desember 2014
akibat kekeringan di beberapa sentra produksi sehingga diperikrakan akan terjadi
masa paceklik bulan Desember 2014 s/d akhir Maret/awal April 2015.
5
RANTAI PASOK BERAS
DI PASAR INDUK BERAS CIPINANG – DKI JAKARTA DARI JAWA BARAT
Supermarket
Harga IR 64 II =
Rp.13.000/kg
Biaya Transportasi
Rp.100/kg
Petani
Pengepul/
Pengumpul
Harga GKP =
4.500/kg
Harga GKP =
Rp.4.700/kg
Biaya logistik dalam kota
Maksimal Rp.80/kg
Penggilingan
PIBC
Harga GKG
(sebelum dipoles) =
Rp.5.400/kg
Harga IR 64 II =
Rp.8.400
(kw medium)
Harga Beras
(setelah dipoles) =
Rp.8.100/kg
Pasar Rakyat
Jabodetabek
Harga IR 64 II =
Rp.9.400/kg
Antar Pulau/Pasar
Induk Daerah
Harga IR 64 II =
Rp.10.500/kg
Biaya logistik luar kota/antar pulau:
Biaya susut
Batam, Bangka & Palembang Rp.600/kg ; Medan Rp 700/kg
Konversi
Transport Rp. 100/kg
6
Key Points - KEDELAI
1. Produksi kedelai dalam negeri pada tahun 2014 diperkirakan sebesar 892.602 ton naik
14% disbanding tahun 2013 sebesar 779.992 ton. Sementara impor kedelai pada tahun
2014 sudah mencapai 1,44 juta ton, sedangkan pada tahun 2013 sebesar 1,78 juta ton.
2. Ketergantungan terhadap kedelai impor masih tinggi akibat terbatasnya produksi
dalam negeri. Kebutuhan kedelai nasional/tahun diperkirakan sebesar 2,2 juta ton
dimana produksi kedelai dalam negeri hanya dapat mencukupi 1/3 kebutuhan
nasional, sisanya 2/3 kebutuhan nasional sebesar dipenuhi dari impor yang sebagian
besar berasal dari Amerika Serikat.
3. Perkembangan dan fluktuasi harga kedelai di pasar internasional akan mempengaruhi
harga pasar dalam negeri khususnya tingkat harga di pengrajin, selain juga secara
psikologis mempengaruhi harga di petani.
4. Kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton dimana konsumsi secara tidak
langsung (olahan) sebesar 99%, untuk Pengrajin 1,85 juta ton (83,7%), Industri Kecap
dan Tauco 325.220 ton (14,7%), Industri Benih 25.843 ton (1,2%) dan Industri Pakan
8.319 ton (0,4%);
5. Harga rata-rata di pasar eceran untuk kedelai impor pada minggu IV 2014 Rp
11.283/kg mengalami kenaikan 0,14% dibandingkan minggu sebelumnya Rp
11.268/kg, sementara harga kedelai lokal minggu IV 2014 Rp 10.929/kg mengalami
kenaikan 0,39% dibandingkan minggu sebelumnya Rp 10.886/kg.
7
RANTAI PASOK KEDELAI
Importir
Distributor
- Biaya transportasi:
Rp. 100 –150/kg
- KOPTI
- Toko
- Biaya transportasi ke
KOPTI: Rp. 100/kg (DKI
dan Banten), Rp 150/kg
(Bogor), Rp 200/kg
(Bandung)
- Biaya Overhead: Rp
125/kg
- Resiko susut: Rp 50/kg
- Operasional: Rp 50/kg
Pengrajin
(Produksi
Tahu/Tempe)
Tempe: Rp 4.500/papan (5 ons)
Tahu Jambe: Rp 500 /biji
Tahu super jumbo: Rp 2.200/biji
Pengecer di
Pasar
Tempe: Rp 5.500/papan (5 ons)
Tahu Jambe: Rp 600 /biji
Tahu super jumbo: Rp 3.000/biji
Konsumen di
pasar
8
Key Points – JAGUNG
1. Tahun 2014, pulau Jawa masih merupakan penyumbang terbesar produksi jagung di
Indonesia, yaitu Jawa Timur (5.773.348 ton), Jawa Tengah (2.970.043 ton) dan Jawa
Barat (1.026.635 ton). Sedangkan di luar Jawa yang terbesar adalah Lampung
(1.801.556 ton), Sulawesi Selatan (1.367.829 ton) dan Sumatera Utara (1.347.124 ton)
serta daerah lainnya berproduksi di bawah 1 juta ton;
2. Rata-rata kebutuhan jagung dalam negeri untuk industri pakan ternak sekitar 57%,
sisanya sekitar 34% untuk pangan dan 9% untuk kebutuhan industri lainnya. Produksi
jagung pada tahun 2014 sebesar 18.548.872 ton dan impor s/d Agustus mencapai 2,2
juta ton. Sedangkan pada tahun 2013 produksi sebesar 18.511.853 ton sedangkan
impor mencapai sebesar 4 juta ton;
3. Kontribusi jagung sebagai bahan pakan ternak sangat besar, dimana untuk
memproduksi 1 ton pakan Ayam Petelur/Layer, dibutuhkan 50 - 55 % jagung, 12 - 15%
SBM (Soy Bean Meal)/(Bungkil Kedelai), 3 - 5% MBM (Meat & Bone Meal)/(Tepung
Daging dan Tulang), 10 - 12% Dedak Katul serta sekitar 13% Bahan tambahan lainnya;
4. Harga rata-rata di pasar eceran untuk jagung pipilan pada minggu IV 2014 Rp 6.352/kg
mengalami kenaikan 0,15% dibandingkan minggu sebelumnya Rp 6.342/kg
9
RANTAI PASOK JAGUNG
Importir
Petani/
Produsen
Pedagang
Pengumpul
Pedagang
Besar
Perusahaan
Pakan
Pasar Eceran
Pedagang
Antar
Pulau/Daerah
Peternak
Mitra/Mandiri
10
KONSUMSI BERAS NASIONAL  Demand Masih Tinggi
1954 
Pemenuhan pangan pokok seperti beras baru mencapai 53,5%,
sisanya dipenuhi dari Ubi Kayu (22,26%), Jagung (18,9%) dan Kentang
(4,99%).
1987  Pola konsumsi pangan pokok sudah bergeser luar biasa (setelah 33
thn)  beras 81,1%, ubi kayu 10,02% dan jagung 7,82%  seiring
dengan pencapaian swasembada beras tahun 1984.
1999  Jagung tinggal 3,1%, ubi kayu 8,83%
Sumber : BPS, Kementan
Sekarang 
 Pangsa non beras dalam pola konsumsi pangan pokok nyaris
hilang, kontribusi konsumsi terigu semakin meningkat pesat
 konsumsi terigu 17 kg/kap/tahun.
 Harga beras umum cenderung meningkat karena pangsa
pasarnya cenderung meningkat dan akan berdampak kepada
inflasi yang cukup signifikan, sedangkan harga beras
medium/termurah cenderung menurun karena pangsa
pasarnya cenderung menurun.
11
PERTUMBUHAN POPULASI  PENINGKATAN KONSUMSI
Jumlah penduduk dunia sudah lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1950 dan
akan bertambah 2-3 milyar lagi pada 2050  dan mereka akan
membutuhkan banyak konsumsi.
Global Population Trends 1700-2050
Year
Life
Expectancy
Total Fertility
Rate
Population
Population
Growth
Population
<15
Population
>65
At birth
Births per
women
Billions
%/year
%of pop
% of pop
1700
27
6.0
0.68
0.50
36
4
1800
27
6.0
0.98
0.51
36
4
1900
30
5.2
1.65
0.56
35
4
1950
47
5.0
2.25
1.80
34
5
2000
65
2.7
6.07
1.22
30
7
2050
74
2.0
8.92
0.33
20
16
2100
81
2.0
9.46
0.04
18
21
Ronald Lee. “The Demographic Transition: Three Centuries of Fundamental Change”
12
PROYEKSI PERMINTAAN BEBERAPA JENIS PANGAN UNTUK
KONSUMSI RUMAH TANGGA (KG/KAP/TAHUN)
Komoditas
2013
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
Beras
80,1
76,5
73,2
70,0
66,9
63,9
61,1
58,4
Terigu
3,9
4,3
4,8
5,3
5,8
6,4
7,1
7,9
Daging sapi
0,5
0,4
0,4
0,4
0,4
0,4
0,3
0,3
Daging ayam
5,1
5,6
6,1
6,7
7,3
8,0
8,7
9,5
Telur
8,1
8,9
9,7
10,7
11,7
12,8
14,0
15,3
Kedelai
6,1
6,2
6,3
6,5
6,6
6,7
6,8
6,9
Gula pasir
7,5
8,7
7,7
9,0
7,9
9,3
8,2
9,6
8,5
9,8
8,7
10,2
9,0
10,5
9,3
10,8
Minyak goreng
Sumber : BPS diolah Pusjak PDN, BP2KP
Sampai tahun 2020
 Ada indikasi akan terjadi peningkatan konsumsi per kapita, seperti untuk terigu, telur
ayam, daging ayam, kedelai dan minyak goreng
 Konsumsi beras diperkirakan akan terus menurun yang dipicu penurunan konsumsi
oleh kelas berpendapatan menengah dan kaya.
 Ada indikasi bahwa konsumsi per kapita untuk daging sapi juga mengalami penurunan,
padahal tingkat konsumsi per kapita masih sangat rendah.
13
RUANG LINGKUP PENGAWASAN
Barang
dan/atau Jasa
Yang Beredar
Di Pasar
Barang
dan/atau Jasa
Yang Dilarang
Beredar Di
Pasar
Standar, Label,
Klausula Baku,
Pelayanan
Purna Jual,
Cara Menjual
dan
Pengiklanan
Hanya Dapat
Didistribusikan
Sesuai Dengan
Ketentuan
Peraturan
Perundangundangan
Barang
dan/atau Jasa
Yang Diatur
Tata Niaganya
Perdagangan
Barang-Barang
Dalam
Pengawasan
Distribusi
Wajib Memenuhi Ketentuan Peraturan Perundangundangan Yang Berlaku
 Hanya komoditi beras yang diatur tata niaga ekspor
dan impornya serta pendistribusian oleh BULOG
untuk Operasi Pasar dan Raskin.
 Komoditi Jagung dan Kedelai tidak diatur eksporimpor dan distribusinya.
14
KEWENANGAN PENGAWASAN
PEMERINTAH
MASYARAKAT
Menteri
Teknis/Pimpi
nan Lembaga
Pemerintah
Non
Departemen
(LPND)
KOORDINASI
Bupati/
Walikota
(Pelaksana)
Menteri
Perdagangan
sebagai
Menteri Teknis
dan
Koordinator
(Dirjen SPK)
Gubernur
(Koordinator
/ Pelaksana)
LEMBAGA
PERLINDUNGAN
KONSUMEN SWADAYA
MASYARAKAT
(LPKSM)
Dilakukan hanya
terhadap barang dan
atau jasa yang beredar
di pasar
15
15
REGULASI :
INTERVENSI LANGSUNG
1. Kebijakan stabilisasi harga dan menjaga stok beras
Pemerintah
melalui
pengaturan
Penggunaan
Cadangan Beras (CBP) untuk Stabilisasi Harga,
pengaturan Impor dan Ekspor Beras, melalui
Permendag No. 4/2012 ttg Penggunaan CBP untuk
Stabilisasi Harga, dan Permendag 19/2014 jo No.
06/2012 jo No. 12/2008 ttg Ketentuan Impor dan
Ekspor Beras.
2. Kebijakan untuk menjaga ketersediaan kedelai di
dalam negeri dan memberikan insentif bagi petani
kedelai dengan cara menjaga harga kedelai di tingkat
petani melalui Permendag 52/2013 tentang
Pengamanan Harga Kedelai di Tingkat Petani dan
Penyaluran Kedelai di Tingkat Pengrajin Tahu/Tempe,
yang ditindaklanjuti dengan penetapan Harga
Pembelian Kedelai Petani (HBP) setiap 3 (tiga) bulan
secara periodik.
3
2
1
B
A
16
KEBIJAKAN PENGENDALIAN IMPOR PANGAN
1.
2.
Mengutamakan Pencapaian Surplus Pangan Pokok
Dalam Negeri merupakan amanat UU No. 18/2012
tentang Pangan pasal 36
 Impor pilihan terakhir untuk menjaga ketahanan
pangan
Dilakukan hanya untuk menutupi kekurangan dan
memelihara cadangan dalam rangka pengendalian
harga dan kebutuhan darurat.
 Tidak Menggerogoti Pasar Pangan Pokok Produksi
Dalam Negeri (Volume Impor, Waktu dan Bea Masuk
Diatur Pemerintah)
Tidak menyebabkan guncangan harga yang diterima
petani
Pengendalian impor merupakan amanat dari UU No.
7/2014 pasal 26
 Pengendalian impor tidak dimaksudkan untuk
melarang impor, akan tetapi bertujuan untuk menjaga
keseimbangan antara pasokan dan permintaan barang
kebutuhan pokok dan barang strategis
17
REGULASI:
INTERVENSI TIDAK LANGSUNG
1. Percepatan koordinasi dengan seluruh pemangku
kepentingan lintas instansi dan asosiasi/pelaku usaha
terkait secara intensif menghadapi Hari Besar Keagamaan
Nasional (HBKN).
2. Proyeksi perkembangan pasokan lokal dan harga 3 bulan
kedepan – untuk mengetahui kemampuan pasok yang
dibutuhkan sesuai dinamika pasar.
3. Pemanfaatan infrastruktur dan sarana logistik yang dikuasai
oleh negara.
4. Pemanfaatan dan memobilisasi sarana dan prasarana
distribusi untuk menurunkan disparitas harga.
5. Prioritisasi/perlakuan khusus angkutan barang kebutuhan
pokok menjelang HBKN.
6. Pengelolaan ekspor – impor :
‒ Manajemen importasi saat terjadi defisit pasokan
‒ Manajemen eksportasi saat terjadi surplus pasokan
18
18
INTERVENSI TIDAK LANGSUNG :
SISTEM PEMANTAUAN PASAR KEBUTUHAN POKOK (SP2KP)
 Menyediakan informasi yang akurat dan mutakhir
tentang barang kebutuhan pokok untuk dianalisis
lebih lanjut menjadi rekomendasi pengambilan
keputusan kebijakan stabilisasi harga;
 Memberikan notifikasi (alert) kepada pimpinan
Kementerian
Perdagangan,
jika
terjadi
ketidakstabilan/lonjakan harga dan peningkatan
disparitas harga bahan pokok antar wilayah,
kelangkaan pasokan, atau kekurangan stok
 Sistem tersebut dapat diakses melalui alamat
website www.ews.kemendag.go.id
© 2014 DIRJEN PDN
12
19
STRATEGI
HARGA –TERKINI
3.3
STRATEGISTABILISASI
DATA DAN INFORMASI
Lokasi dan Pasar
Pantauan
 34 Ibukota
Propinsi
165 lokasi pasar
Pengumpulan Harga
Bapok di Pasar
Pantauan Tingkat
provinsi dan Kab/Kota
(15 pasar volunteer)
MEKANISME PEMANTAUAN
SP2KP
Rekomendasi Kebijakan :
• Penetapan Kebijakan Impor
• Penetapan Harga Patokan Petani (HPP) Gula Kristal Putih
(GKP) – Harga Pembelian Kedelai Petani (HBP) – Harga
Referensi
• Operasi Pasar Beras oleh Bulog – OP oleh swasta
Komoditi yang
dipantau
1.Beras
2.Gula
3.Minyak Goreng
4.Daging Sapi
5.Daging Ayam
6.Telur Ayam
7.Tepung Terigu
8. Kedelai
9. Susu
10.Jagung
11.Cabai
12.Bawang
13.Ikan
14. Garam
© 2014 DIRJEN PDN
Pelaporan
Perkembangan Harga
Bapok Secara Periodik
(Harian, Mingguan,
Bulanan)
Pengiriman Harga
Bapok secara online
ke Website
SP2KP Melalui
Mobile & Website
Application
Analisa Perkembangan
Harga (Provinsi ,
Komoditas, Disparitas &
Pergerakan Harga)
Harga Bapok
Tercatat dan
dipublikasikan
Pada Webiste
SP2KP
(ews.kemendag.g
o.id)
Verifikasi Harga
Bapok Oleh
Petugas Ditjen
PDN
20
20
TERIMA KASIH
www.kemendag.go.id
21

similar documents